Connect with us

Kilas Balik

Polemik Ulama dan Khalifah (7): Syekh Izzuddin bin Abdissalam dan Sultan Asraf

Published

on


Syekh Izzudin bin Abdissalam adalah sosok penyeru kebaikan dan pencegah kepada kemungkaran, serta tidak takut hinaan karena Allah Swt sebagaimana diriwayatkan oleh al-Katbi dalam Wafayatul A’yan. Namun perbedaan pemikiran dalam bab fikih dan teologi terkait dengan hal yang sifatnya dzanni pernah menjadikan Izzudin bin Abdissalam berkonfrontasi dengan pemerintah pada awaktu itu yaitu pada masa Sultan al-Asraf.

Abdul Aziz al-Badri dalam karyanya Al-Islam baina al-Ulama wa al-hukkam menjelaskan bahwa salah satu sebab Izzudin bin Abdissalam berpolemik dengan penguasa adalah perbedaan pemikiran dalam masalah fikih dan teologi yang disandarkan kepada nash yang dzanni.  Di mana pada waktu itu beliau mempunyai pendapat yang berbeda dengan Sultan Al-Asyraf mengenai masalah hakikat Al-Qur’an, dan tema tersebut waktu itu merupakan salah satu tema bermasalah yang menyebabkan fitnah sangat besar di kalangan kaum muslimin.

Beberapa orang mengetahui bahwa pendapat Izuudin bin Abdissalam berbeda dengan Sultan, sehingga mereka sengaja mengajukan pertanyaan tersebut kepada Izzuddin bin Abdissalam. Dan ternyata jawaban dari pertanyaan tersebut akan disampaikan kepada sang raja. Saat orang-orang itu menghadap, beliau berkata; “permintaan untuk menulis fatwa mengenai masalah ini adalah ujian bagiku, demi Allah aku hanya akan menulis pendapat yang benar.”

Izzudin bin Abdissalam kemudian menulis kitab, “Milhatul I’tiqod.” Dan kitab tersebut dibaca oleh Sultan Asyraf. Ternyata kitab tersebut membuat Sultan marah, lalu menuliskan jawaban dari kitab tersebut. Dan setelah jawaban sampai kepada Izzuddin bin Abdissalam, ternyata jawaban dari Sultan diminta untuk dikembalikan. Sontak hal tersebut membuat sultan marah besar, dan akhirnya mengutus perdana menterinya yang bernama Al-Ghoroz untuk mendatangi Izzuddin dan memberitahukan tiga keputusan yang diberlakukan bagi beliau, yaitu; larangan memberikan fatwa, tidak boleh bertemu dengan siapapun dan tidak boleh keluar rumah.

Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Al-Ghoroz, Izzuddin bin Abdissalam berkata, “Wahai Ghoroz, 3 ketetapan itu adalah nikmat yang sangat besar dari Allah kepadaku, yang wajib disyukuri selamanya. Aku memberikan fatwa secara suka rela dan sebenarnya aku tidak menyukainya karena aku berkeyakinan bahwa seorang mufti berada ditepi neraka jahannam, jika saja bukan karena aku meyakini bahwa tugas ini merupakan kewajiban dari Allah yang harus aku emban dimasa ini tentu aku tak akan mengerjakannya, dan sekarang aku telah memiliki udzur untuk tidak melaksanakan tugas tersebut dan aku terbebas dari tanggunganku, jadi aku patut berucap Alhamdulillah.”

Namun ketika dipenjara Izzudin bin Abdissalam, justru hal tersebut dianggap sebagai keberuntungan, kesempatan untuk menghabiskan waktu beribadah kepada Allah, dan menerimanya dengan senang. Bahkan Izzudin bin Abdissalam ingin memberikan mahkota kepada Ghoroz, andai mempunyai mahkota. Izzudin menerima surat yang dibawakan oleh Ghoroz dengan gembira, dan menghadiahi sajadahnya untuk dipakai sholat. Setelah Izzudin bin Abdissalam menyerahkan sajadahnya, Ghoroz kembali keistana untuk menghadap sultan dan menyampaikan semua yang dikatakan Izzuddin bin Abdissalam. Mendengar cerita dari Ghoroz, sang raja berkata kepada orang-orang yang hadir disitu, “coba katakana kepadaku, apa yang harus aku lakukan kepada dia, lelaki ini menganggap hukuman sebagai nikmat.”

Akhirnya keadaan yang menimpa Izzuddin bin Abdissalam di dengar oleh Jamaluddin Al-Hushoiri yang merupakan seorang ulama pembesar madzhab Hanafi di masa itu. Jamaluddin kemudian menghadap kepada sultan Al-Asyraf dan berkata kepadanya, “Apa yang terjadi antara anda dan Ibnu Abdissalam. Orang ini adalah seorang lelaki yang jika saja dia berada di negeri India atau berada diujung dunia, sudah sepantasnya bagi seorang sultan untuk pergi menghadap kepadanya, dan memintanya untuk tinggal dinegerinya agar negerinya bertambah berkah, dan agar negerinya berbangga karena ada seorang ulama’ besar yang tinggal dinegeri itu.”

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mendengar ucapan tersebut, Sultan berkata, “Saya memiliki tulisan fatwanya mengenai masalah aqidah, juga satu tulisan lagi yang ditulis sebagai jawaban atas satu pertanyaan.” Lalu sultan memperlihatkan kedua tulisan tersebut. Jamaluddin kemudian membacanya dari awal sampai akhir, dan setelah membacanya Jamaluddin berkata, “Ini adalah i’tiqod dan keyakinan semua orang Islam dan merupakan syi’ar orang-orang sholih, semua yang tertulis disitu adalah benar.”

Mendengar pernyataan dari Jamaluddin, sang Sultan mengakui kesalahannya dan berucap, “Kami memohon ampun pada Allah atas segala yang telah terjadi dan kami akan membayar kesalahan kami dengan memberikan haknya.” Setelah kejadian itu, Sultan meminta maaf kepada Izzuddin bin Abdissalam. Dan sejak saat itu, sang Sultan menuruti semua fatwa beliau dan meminta pertimbangan beliau sebelum mengambil keputusan.

Setelah Sultan al-Asraf meninggal, polemikpun berganti dengan pemimpin yang menggantikannya yaitu Sultan Isma’il. Di mana Izzudin bin Abdissalam menentang kebijakan Sultan yang bersekongkol dengan tentara Salib dalam melawan Sultan Najmuddin Ayyub yang berkuasa di Mesir. Pada saat itu tentara Salib bersedia membantu Sultan Isma’il, namun dengan syarat diberi benteng yang sebelumnya dikuasai kaum Muslim kepada tentara Salib.

Ketika tentara salib masuk Damaskus untuk membeli alat perang, orang-orang pun datang ke Izzudin bin Abdissalam dan menanyakan perihal hukum menjual senjata kepada para musuh yang bersekongkol dengan Sultan Isma’il. Izzuddin bin Abdissalam lalu berkata, “Diharamkan bagi kalian menjual pedang alat-alat perang kepada mereka, sebab kalian telah yakin bahwa mereka akan menggunakannya untuk memerangi saudara-saudara kalian sendiri yang sama-sama beragama Islam.” Fatwa yang dikeluarkan oleh Izzudin bin Abdissalam ternyata membuat sang raja marah besar padanya, namun Izzuddin bin Abdissalam tak memperdulikan hal tersebut sebab bagi beliau memang fatwa itulah yang seharusnya diberikan.

Polemik dengan Sultan Isma’il pun tidak hanya berhenti di situ. Tepatnya pada Rabi’ul Awal 637 H, Izzudin bin Abdissalam menjadi khatib Jum’at di Masjid Jami’ Umawi. Dan pada saat menjadi khatib beliau menghilangkan beberapa hal yang beliau anggap sebagai perbuatan bid’ah, seperti menggunakan kalimat-kalimat yang diperindah yang terlalu dipaksakan dan pujian kepada para sultan. Pujian-pujian kepada sultan yang biasanya diucapkan ketika khutbah beliau ganti dengan do’a untuk mereka, bahkan juga kritikan.

Selain memberikan fatwa yang sangat berani, ketika khutbah Izzudin bin Abdissalam juga menyindir sang sultan dalam khutbahnya yang disampaikan di Masjid Jami’ Umayyah. Beliau mengucapkan do’a tidak seperti biasanya, beliau berdo’a;

اللهم أبرم لهذه الأمة أمرا رشدا تعز فيه وليك وتذل به عدوك ويعمل فيه بطاعتك وينهى فيه عن معصيتك

Artinya, “Ya Allah, kuatkanlah umat ini dengan aturan yang benar, yang akan memuliakan kekasihMu dan merendahkan musuhMu, mengamalkan ketaatan kepadaMu dan mencegah berbuat maksiat kepadaMU.”

Namun ketika beliau menyampaikan khutbah, sang sultan sedang berada di luar Damaskus. Kemudian ada yang memberitahu tentang khutbah dan doa Izzudin bin Abdissalam, dan Sultan semakin marah karena do’a itu jelas-jelas menyindirnya. Sultan pun langsung mengeluarkan keputusan untuk memberhentikan Izzudin bin Abdissalam sebagai khatib, dan menghukumnya dengan hukuman tahanan. Namun setelah Sultan kembali ke Damaskus atas berbagai pertimbangan,  dia memutuskan untuk melepaskan Izzuddin bin Abdissalam.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kilas Balik

Pesantren dan Kurikulum Madrasah Diniyah

Published

on

By


Secara harfiyah, madrasah bermakna tempat belajar alias sekolahan sedangkan diniyah bermakna keagamaan. Maka, frasa madrasah diniyah adalah sekolah keagamaan. Belakangan, terutama karena kedua kata tersebut diderivasi dari bahasa Arab—yang mana Islam berasal dari sana, makna madrasah mengalami penyempitan. Tanpa menyebut kata diniyah, madrasah berarti tempat belajar yang identik dan hanya mengurus pendidikan keagamaan. 

Jadi, apa maksud “diniyah” jika disandingkan dengan kata “madrasah”, menjadi “madrasah diniyah”? Bukankah dalam madrasah sudah terkandung makna diniyah? Dan jika ia betul ada, seperti apa prototipe kurikulumnya?

Dalam Islam, model pendidikan yang tersistem dan terlembagakan sudah muncul sejak dulu. Salah satunya adalah Madrasah Nidhomiyah era Al-Ghazali di Baghdad. Lebih jauh lagi, kita bisa mengacu kepada Universitas Al-Azhar di Kairo sebagai universitas pertama di muka bumi. Tapi, seperti apa kurikulum dan visi-misi kedua lembaga pendidikan itu pada awal mula didirikan? Kita harus tahu.

Terkait definisi ini, kita membedakan antara ilmu agama dengan ilmu non-agama. Kategorisasi pun bermunculan. Dari salah satu lektur pesantren, kita juga mengenal pemilahan disiplin ilmu yang sangat simpel, misalnya tauhid untuk keimanan; fikih untuk amal keseharian; kesehatan/pengobatan untuk kebutuhan jasmani agar bisa tetap belajar. Nah, apakah kesehatan/pengobatan—yang notabene ‘dinaturalisasi’ menjadi kedokteran itu—merupakan ilmu keagamaan alias diniyah? Jika kita telah bisa menjawab pertanyaan ini, maka pertanyaan tingkat lanjutnya adalah; seperti apakah kira-kira kurikulum ilmu-ilmu keislaman ideal yang mestinya diajarkan di madrasah-madrasah sebagaimana ia diterapkan oleh kaum salaf hingga ulama-ulama abad pertengahan yang melahirkan pada penemu, ilmuwan, mujaddid, hingga pakar-pakar yang polymath dan polyglot?

Dalam kata pengantar untuk buku Alwi Shihab, “Islam Inklusif”, Gus Dur menyatakan, bahwa Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi mengusulkan jawaban (untuk pertanyaan di atas) dalam wujud karya bertajuk kitab “Itmam ad-Dirayah” (li Qurra’ An-Nuqayah). Kitab tersebut merupakan anotasi atas kitab “Annuqayah” yang juga ditulis sendiri oleh As-Suyuthi. Adapun isinya mencakup 14 disiplin ilmu, yaitu: 1. Ushuluddin, 2. Tafsir, 3. Hadis, 4. Ushul Fikih, 5. Faraid, 6. Nahwu, 7. Tashrif, 8. Khath, 9. Ma’ani, 10. Bayan, 11. Badi’ (nomor 6-11 berkaitan dengan sintaksis, kaligrafi, dan gaya bahasa), 12. Tasyrih (anatomi), 13. Thib (pengobatan/kedokteran), dan 14. Tasawuf. Kitab ini sangat kecil, ringkas, hanya sejenis modul atau buku pengantar saja dan mungkin karena itulah ia jarang diperbincangkan. 

Saat ini, di banyak pesantren, kurikulum pendidikan menjadi masalah yang tidak kelar-kelar dibahas. Apabila ada pembahasan terkait kurikulum, maka pembahasan tersebut tak jauh dari pembahasan seputar mengganti mata pelajaran A dengan pelajaran B, atau mencarikan guru pengganti di bidang tertentu dengan guru yang lebih berkompeten di bidang itu. Beberapa pesantren modern membuat kurikulum sendiri, tidak berafiliasi pada Kemenag dan/atau Kemendiknas. Harapan dari itu adalah agar materi pelajaran yang diajarkan benar-benar sesuai dengan visi-misi pondok pesantrennya. Mereka membuat dan mengajukan muadalah (penyetaraan), tapi itupun harus berjibaku dengan persoalan berat nan rumit, yaitu legalisasi, sebab jika tidak sesuai dengan “kurikulum resmi”, pemerintah tidak akan melegalisasi, tidak  memberikan izin mengeluarkan ijazah. 

Belum selesai yang satu, masalah berikutnya muncul lagi: sebagian orang masih menganggap ijazah seperti itu sebagai ijazah yang “tidak-begitu-resmi”, misalnya karena hanya dapat digunakan untuk masuk ke perguruan tinggi atau sekolah tingkat lanjut, tapi tidak dapat digunakan secara bebas sebagai syarat lamaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar/umum, dan ini prinsip bagi kebanyakan orang. Sementara pondok salaf—yang tidak menerbitkan ijazah muadalah; sebagian lagi bahkan tidak menerapkan sistem kelas, melainkan masih model bandongan/sorogan yang pada hari ini jumlahnya dapat dihitung dengan jari—lebih leluasa menentukan kurikulumnya.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada umumnya, pondok pesantren yang lembaga pendidikan umum/formalnya berafiliasi kepada Kemenag, yang meskipun materi pelajarannya sudah dijatah oleh Negara, masih merancang tambahan mata pelajaran khusus, seperti nahwu, sarraf, arudl, dll. Materi pelajaran ke-tata-bahasa-araban seperti ini tidak terdapat pada kurikulum umum. Dengan demikian, jatah belajar santri harus dibebani oleh muatan dimaksud. Akibatnya, waktu belajar untuk pelajaran yang lain jelas akan berkurang karena jatah mereka belajar efektif di kelas hanyalah sekitar ¼ dari 24 jam yang tersedia. Satu-satunya cara agar tetap dapat memaksimalkan waktu belajar adalah dengan mengurangi jatah jam tidur dan bermain. 

Artikel ini muncul saat status Ida Fitri melintas di laman Facebook, 10 Maret 2021 yang lalu: “Kalau sekolah umum saja gagal menghasilkan sosok semacam Ibn Sina dalam 75 tahun terakhir, kenapa saya bermimpi pesantren bisa?” Saya tidak bisa menjawab ini, tapi sedikitnya bisa menduga salah satu penyebab terbesar kegagalan itu: di samping karena tidak memiliki konsep kurikulum yang mumpuni, juga terlalu banyaknya waktu terbuang untuk kegiatan yang memang dirancang menghabiskan waktu, seperti nonton video orang makan bakso yang telah ditonton lebih dari 100 juta kali itu, atau sejenisnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Awal Mula Kehadiran Islam di Bolaang Mongondow

Published

on

By


Bagaimana Islam hadir dan berkembang menjadi agama mayoritas masyarakat Bolaang Mongondow, termasuk perbincangan yang menarik untuk dibahas. Sebab masih banyak misteri di dalamnya.

Masifnya penyebaran Islam di Bolaang Mongondow bisa dibilang dimulai pada awal abad 19 M. Sebelumnya, sejak akhir abad 17 M, raja berserta keluarga dan rakyatnya beragama Kristen. Hal ini bisa dilihat pada nama raja-raja Bolaang Mongondow–setelah masa Raja Loloda Mokoagow–menggambarkan nama pemeluk Kristen, semisal Jacobus Manoppo, Fransiscus Manoppo, dan lainnya.

Namun demikian sebagaimana dijelaskan Seven Kosel dalam The History of Islam in Bolaang Mongondow, bahwa saat itu: there was no fuctioning Christian congregation… (tidak ada pemfungsian jamaat Kristiani). Dan juga: the interior population is heathen (masyarakat pedalaman [yang bukan di pesisir] tidak memeluk agama Kristen). Saat itu, ritual-ritual agama tradisional Bolaang Mongondow masih sangat melekat di masyarakat.

Hingga masuk abad 19 M, Islam mulai tersebar secara masif di Bolaang Mongondow. Ini ditandai dengan meningkatnya jumlah pedagang Muslim Arab dan Bugis yang datang, bahkan sampai ada yang menetap dan kawin dengan masyarakat setempat. Selain itu, berbagai jaringan ulama juga semakin masif dalam menjalankan dakwah Islam di Bolaang Mongondow.

Di Lipung Simboy Tagadan (sekarang Kelurahan Motoboi Kecil), jaringan ulama dari Gorontalo, yang disebut Tim 9 sebab jumlah mereka ada 9 orang yang dikepalai oleh Imam Tueko, gerakan dakwah mereka semakin masif, sehingga sudah ada kelompok masyarakat setempat yang memeluk Islam.

Diceritakan kalau Raja Jakobus Manuel Manoppo (1833-1858) menghadiri pagelaran seni ke-Islaman yang diselenggarakan oleh Tim 9. Waktu itu, beliau terpikat dengan anaknya Imam Tueko yang bernama Kilingo. Kilingo merupakan muslimah yang fasih membaca al-Qur’an dan merdu suaranya saat melantunkan qasidah (lagu religi ala Gorontalo).

Raja pun melamar Kilingo, dan itu tentu disambut baik oleh ayahnya, Imam Tueko. Namun, sebelum raja menikahi putrinya, syarat awal yang diajukan Imam Tueko adalah raja harus masuk Islam. Hal itu disanggupi oleh raja hingga dirinya pun menjadi seorang mualaf.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Setelah raja masuk Islam, keluarga dan rakyatnya juga ikut memeluk Islam. Hal ini tentu berdampak pada semakin masifnya penyebaran Islam di Bolaang Mongondow. Di masa raja-raja selanjutnya penyebaran Islam terus mengalami kemajuan.

Proses itu berlangsung pada 19 M, sehingga anggapan umum bahwa penyebaran Islam mulai masif di Bolaang Mongondow adalah di abad ini. Namun, jauh sebelumnya Bolaang Mongondow sudah mulai bersentuhan dengan Islam. Menurut beberapa catatan bahwa Sultan Hairun yang memerintah Tarnate di abad 16 M pernah mengirimkan utusan untuk menyebarkan Islam di daerah ini.

Dalam buku Dinamika Islamisasi di Bolaang Mongondow Raya, Sulawesi Utara, Abad ke-17-20, disusun Hamri Manoppo, dkk., dijelaskan kalau Punu’ Busisi (punu’ setara makna dengan raja) telah di-Islamkan oleh seorang utusan dari Tidore bernama Kaicil Guzarate. Namun, beliau kemudian memilih untuk keluar dari Islam dan masuk Kristen.

Selain itu, beberapa sumber menyebutkan bahwa Raja Loloda Mokoagow (1653-1693) yang menjadi Raja Bolaang Mongondow pada abad 17 M juga telah memeluk Islam berkat kedekatannya dengan Sultan Tarnate. Jadi, bisa dikatakan kalau raja pertama yang memeluk Islam di Bolaang Mongondow bukanlah Raja Jakobus Manuel Manoppo, melainkan Raja Loloda Mokoagow.

Terkait Punu’ Busisi sekalipun benar beliau telah di-Islamkan, namun juga dijelaskan bahwa kemudian memilih untuk keluar dari Islam. Sehingga menurut saya Raja Loloda Mokoagow yang lebih tepat disebut sebagai raja muslim pertama di Bolaang Mongondow. Terlepas dari beberapa sumber yang menyebutkan bahwa ke-Islamannya hanya formalitas diplomasi antara Bolaang dan Tarnate, dan juga beliau tidak mengembangkan dakwah di lingkungan istana dan masyarakat, sehingga Islam tidak berkembang bahkan setelah periodenya Kristenisasi menjadi masif di daerah ini.

Dari sini bisa diasumsikan bahwa persentuhan Islam dan Bolaang Mongondow sudah dimulai sejak abad 16-17 M. Kemudian penyebaran Islam mulai masif di abad 19 M, dan terus mengalami perkembangan.

Selain itu, perlu diingat juga bahwa sebelum masifnya penyebaran Islam pada 19 M, berbagai upaya penyebaran Islam sudah berlangsung. Sehingga telah ada beberapa kelompok masyarakat muslim. Bahkan kalau mencermati dari data Pietermaat yang dikutip Seven Kosel: …for some headmen who follow the teaching of Mohammed…. (sudah ada beberapa kepala kampung yang memeluk ajaran Muhammad).

Di kawasan utara Bolaang Mongondow sebagaimana penjelasan Donald Qomaidiansyah Tungkagi dalam Islam di Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara: Dinamika Islamisasi di Kerajaan Kaidipang Besar dan Bintauna Abad ke-17-19 M, bahwa Raja Kaidipang yang pertama masuk Islam adalah Raja Waladin Korompot (1779-1817), serta di Bintauna raja muslim pertama adalah Raja Patilima (Datunsolang) yang penobatannya dilakukan di Tarnate pada 1783.

Sehingga bisa disimpulkan, kalau sebelum awal abad 19 M, di Bolaang Mongondow sudah ada tempat yang lebih dulu menjadi wilayah dakwah, dan telah ada orang Mongondow yang masuk Islam. Kemudian, gerakan Islamisasi di Bolaang Mongondow semakin memuncak pada awal abad 19 M. Dan terus berkembang hingga Islam menjadi agama mayoritas di Bolaang Mongondow.



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Sejarah Wabah Amwas di Suriah

Published

on

By


Dunia Islam pernah dilanda wabah parah. Wabah yang terjadi jauh sebelum Covid-19 di abad ini, bahkan sebelum Wabah Hitam (Black Death) pada abad ke-14 yang menghebohkan Eropa. Kita sering mendengarnya dengan istilah Wabah Tha’un. Meskipun sebenarnya kalau kita kupas secara literal, tha’un (طاعون) sendiri berarti wabah dalam bahasa Arab.

Dalam sejarahnya, Wabah Tha’un merupakan Wabah Amwas yang terjadi di Syam (sekarang Suriah) pada abad ke-7. Tepatnya sekitar tahun 638 Masehi atau 17 Hijriah, ketika tampuk tertinggi kekuasaan Islam dipegang oleh Khalifah Umar bin Khattab. Pada saat Wabah Amwas terjadi, Umar bin Khattab baru sekitar empat tahun menjabat sebagai khalifah, sedangkan Syam baru saja memasuki tahap akhir penakhlukan oleh kekhalifahan Islam dari tangan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).

Karena persebarannya yang “terbatas”, Wabah Amwas masih belum bisa disebut sebagai pandemi, melainkan epidemi. Menurut Michael W. Dols, dalam artikelnya “Plague in Early Islamic History”, wabah ini pada mulanya hanya tersebar di seputar Syam, namun belakangan merembet hingga ke Irak dan Mesir. Epidemi Amwas juga menyebabkan sekitar 25.000 tentara muslim meninggal dunia.

Dols menyebut bahwa wabah ini disebabkan oleh tikus yang terinfeksi penyakit. Gerombolan tikus tersebut menyerang kota karena tertarik dengan cadangan makanan yang ada. Di sisi lain, pada saat itu Syam sedang dilanda kelaparan, sehingga membuat imun para warganya menurun. Meski belum ada catatan sejarah yang memastikan bentuk penyakitnya, namun jika melihat penyebab Wabah Amwas yang mirip Wabah Hitam, kemungkinan wabah ini membawa penyakit pes (sampar) yang diakibatkan oleh hewan pengerat seperti tikus.
Wabah Amwas merupakan latar belakang dari kisah populer tentang Umar bin Khattab yang “menghindari takdir”. Alkisah, Khalifah Umar beserta rombongannya melakukan perjalanan ke Syam. Dia memerintahkan Abu Ubaidah, panglima perang yang ditempatkan di Syam, untuk pindah ke Madinah dan menghindari wabah. Namun Abu Ubaidah menolak karena tidak ingin menghindari takdirnya dan tidak mau meninggalkan pasukannya.

Penolakan Abu Ubaidah tersebut membuat Khalifah Umar mendatangi Syam untuk meninjau keadaan dan bermusyawarah. Di sebuah tempat bernama Sargh, dia bertemu dengan Abu Ubaidah dan para sahabat lainnya, seperti Abdurrahman bin Auf dan Abdullah bin Abbas. Di sana Khalifah Umar menggelar musyawarah dengan para sahabat dari kaum Muhajirin, Anshar, dan Quraish untuk menentukan sikap kaum muslim terhadap wabah.

Ketika Umar memanggil orang-orang Muhajirin pertama, mereka berdebat panjang. Lalu dia ganti memanggil kaum Anshar untuk bermusyawarah, namun mereka juga kembali berdebat seperti sebelumnya. Musyawarah tersebut belum menemukan titik temu. Akhirnya Umar memanggil para pembesar Quraish untuk bermusyawarah dan menemukan sebuah titik terang. “Menurut kami, engkau harus mengevakuasi orang-orang itu, dan jangan biarkan mereka mendatangi wabah ini,” kata salah seorang pembesar Quraish. Umar menyetujuinya.

Kemudian Abu Ubaidah mempertanyakan kembali, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah ini lari dari takdir Allah?”

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Benar,” jawab Umar. “Ini lari atau berpaling dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Tidakkah engkau melihat, seandainya saja engkau memiliki unta dan lewat di suatu lembah, lalu menemukan dua tempat untuk untamu; yang pertama subur dan yang kedua gersang. Bukankah engkau akan memelihara unta itu di tempat yang subur? Itulah takdir Allah. Demikian juga apabila engkau memeliharanya di tempat yang gersang, itu juga takdir Allah.”

Umar bin Khattab beserta rombongannya kemudian kembali ke Madinah untuk meninggalkan wabah. Mereka semua selamat. Sedangkan Abu Ubaidah meninggal dunia ketika berada dalam perjalanan bersama pasukannya di Syam. Posisi Abu Ubaidah lalu digantikan oleh Muadz bin Jabal yang tak lama berselang juga meninggal karena wabah. Muadz bin Jabal meninggal di usia yang masih sangat muda, yaitu 33 tahun. Wabah Amwas sendiri mulai mereda pada tahun 639 Masehi atau 18 Hijriah, atau setahun setelahnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved