Connect with us

Kilas Balik

Polemik Ulama dan Khalifah (6): Ahmad bin Hanbal dan Tiga Khalifah Abbasiyah

Published

on


Pada masa akhir pemerintahan Al-Makmun yaitu tahun 218 H, pemerintahannya membangun sebuah pemikiran bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Ya pada masa ini, Muktazilah menjadi mazhab negara. Mereka menggunakan pemerintah untuk menyebarluaskan faham tersebut. Dan akan menjatuhkan hukuman kepada yang menentangnya. Dan pemikiran tersebut masih tetap berdiri hingga masa pemerintahan Al-Muktashim dan Al-Watsiq 234. Namun ketika Al-Mutawakil memerintah, dia menghapusnya.

Setidaknya Ahmad bin Hanbal berpolemik dengan penguasa sebanyak tiga kali, seperti yang dijelaskan oleh Abdul Aziz al-Badri dalam Al-Islam baina al-Ulama wa al-Hukkam. Pertama di masa Al-Makmun, kedua di masa Al-Mu’tashim dan terakhir di masa Al-Watsiq. Dan akar perseteruannya sama, yaitu perihal apakah Al-Qur’an itu makhluk atau bukan.

Pada masa Al-Makmun dan ketika Muktazilah menjadi mazhab negara, sebagian besar ahli fiqh dan ahli hadis diantaranya Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa Al-Qur’an bukan makhluk karena Al-Qur’an adalah Kalamullah, sedangkan perkataan bukan makhluk. Sementara ulama lain juga berusaha mengeluarkan pendapatnya sesuai dengan keyakinan mereka.

Kedekatan Muktazilah dengan Al-Makmun, dan para menterinya dapat mempengaruhi Al-Makmun agar meyakini pemikiran mereka dan menyebarkannya dengan paksa, dengan cara menetapkannya sebagai aliran resmi negara.

Beberapa cara yang digunakan oleh Al-Makmun supaya aliran Muktazilah langgeng menjadi mazhab pemerintah dan tetap berkembang adalah dengan cara melarang para ulama, ahli fikih dan hadis untuk menjalankan tugas pemerintahan dan kesaksian mereka. Kemudian melarang memberikan bantuan pemerintah kepada orang-orang yang menentangnya, walaupun mereka melakukan pengajaran, nasehat dan fatwa. Memperkeras cobaan dan hukuman, yaitu menghukum orang-orang yang menentang pendapat pemikiran Muktazilah, dengan pukulan cambuk, ditawan dengan rantai, dipenjara, dan dikirim ke liang lahat. Dan hukuman paling puncaknya adalah dipotong kepalanya.

Dan ketika Ahmad bin Hanbal tetap teguh dengan pendapatnya, Ishak bin Ibrahim yang merupakan Gubernur Baghdad mendapat perintah menghukum mereka yang tidak mau mengakui Al-Qur’an sebagai makhluk.

Al-Makmun memerintah Ishak untuk mengumpulkan para pembesar ulama Baghdad, salah satunya adalah Ahmad bin Hanbal untuk berdialog dan menguji mereka. Jawaban mereka macam-macam. Diantara mereka ada yang sepakat ada yang tidak. Mereka yang tidak sepakat adalah Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Nuh, Ubaidillah al-Qawariri, dan Sajja’adah. Mereka kemudian ditangkap, dan dimasukkan ke dalam penjara. Setelah itu, mereka diseret di depan Gubernur Baghdad untuk mengulangi pertanyaan kepada mereka.Sajja’adah menjawab sesuai keinginan pemerintah dan dibebaskan, begitu juga dengan Al-Qawariri. Namun Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh berbeda dengan mereka.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Lalu Ahmad bin Hanbal berkata, “Jika ilmu ditutup tutupi karena takut, dan orang bodoh semakin bodoh, lalu kapan kebenaran tampak?

Setelah itu mereka berdua dibawa di atas unta dalam keadaan terbelenggu untuk dihadapkan kepada Al-Makmun di Tursus.

Dalam Thabaqat Syafi’iyah, Ibnu Jauzi menceritakan bahwa ketika Ahmad bin Hanbal dibawa menghadap Al-Makmun, Ahmad bin Hanbal tidak merasa keletihan demi memperjuangkan argumennya bahwa Al-Qur’an bukanlah makhluk.

Di mana sebelumnya Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh dibawa dari Badzandon menuju Raqqah, kemudian dikeluarkan dari Raqqah dan dinaikkan perahu bersama orang yang tertangkap lainnya. Ketika sampai di Anah, Muhammad bin Nuh meninggal dunia. Setelah itu, Ahmad bin Hanbal dibawa ke Baghdad dengan keadaan terikat, setelah itu dia dibawa ke Yasiriyah dalam beberapa hari dan dipenjara di Daru Iktrit di Daar Imarah. Dan setelah itu dia dipindah ke penjara umum Darb al-Mushiliyah.

Namun ketika dipenjara, Ahmad bin Hanbal justru menganggap bahwa penjara sama dengan rumahnya. Dia juga tidak mempedulikan hukuman yang diberikan kepadanya, termasuk ketika akan dibunuh dengan pedang.

Dan jika Ahmad bin Hanbal menjawab Al-Qur’an adalah makhluk, tentu banyak orang akan mengikuti jawabannya dan menerima pemaksaan ideologi yang digencarkan oleh pemerintahan pada waktu itu. Namun jika dia tidak menjawab, maka akan banyak orang yang menolak faham tersebut. Walaupun konsekuensinya adalah dia akan dihukum mati. Namun, Al-Makmun keburu meninggal sebelum memberi hukuman mati kepada Ahmad bin Hanbal.

Di tengah jalan, terjadilah sebuah peristiwa bahwa Muhammad bin Nuh meninggal. Ahmad bin Hanbal kemudian dipenjara sellama 28 bulan dan tidak mengubah pendapatnya. Dan setiap hukuman diperberat, dia tetap tidak mau mengakui bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Bahkan ketika Ahmad bin Hanbal dibujuk oleh para suadaranya. Berbagai cara digunakan untuk membuat Ahmad bin Hanbal mengakui Al-Qur’an adalah makhluk, namun tidak ada yang berhasil.

Setelah Al-Makmun meninggal, pemerintahan pindah ke tangan Al-Mu’tashim. Di masa Al-Mu’tashim, pemikiran Al-Qur’an adalah makhluk juga masih menjadi doktrin resmi negara. Untuk menghukum Ahmad bin Hanbal, mengutus utusannya kepada Ishak untuk mengatakan kepada Ahmad bin Hanbal bahwa dirinya tidak akan dibunuh, tetapi akan terus disiksa dan dibuang ke tempat yang tidak terjangkau oleh sinar matahari.

Dan ketika bertemu dengan Ahmad bin Hanbal, Ishak membacakan surah Az-Zukhruf ayat 3. Dia kemudian berkata, “Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab, bukankan Al-Qur’an diciptakan sehingga dia makhluk?”

Mendengar ucapan Ishak, Ahmad bin Hanbal langsung membacakan surah Al-Fiil ayat 5.

Namun setelah kejadian tersebut, Ahmad bin Hanbal dibawa dengan unta dengan keadaan tubuh terikat bahkan hampir tersungkur karena tidak ada memegangi unta. Dia kemudian dibawa ke sebuah kamar kecil yang gelap yaitu ruangan penjara untuk dirinya.

Ketika pagi telah tiba, diadakanlah sebuah sidang terhadap Ahmad bin Hanbal terkait penolakannya terhadap kemakhlukan Al-Qur’an. Datanglah seorang utusan yang datang kepadanya, utusan tersebut menarik tangannya dan dibawa untuk masuk ke sebuah rumah. Ternyata di dalam rumah tersebut, ada Al-Mu’tashim dan Abi Duad yang merupakan salah seorang pembesar Muktazilah dan juga rumah tersebut dipenuhi oleh para sahabat dan keluarga khalifah.

Singkat cerita, Ahmad bin Hanbal disuruh duduk lalu ditanya oleh Al-Mu’tashim  tentang apa yang diserukan oleh Rasulullah Saw. Ahmad bin Hanbal pun menjawab bahwa Rasulullah Saw menyeru agar bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Ahmad bin Hanbal juga berkata, “sesungguhnya kakekmu Abbas bercerita bahwasanya para utusan Abdul Qais ketika menghadap Rasulullah Saw diperintahkan agar beriman kepada Allah Swt.

Tanya jawab antara mereka berdua pun berlangsung, hingga sampai Al-Mu’tashim bertanya perihal pendapat Ahmad bin Hanbal tentang Al-Qur’an. Mendapat pertanyaan dari Al-Mu’tashim, justru Ahmad bin Hanbal balik bertanya tentang apa pendapatnya tentang ilmu Allah.

Mendapat pertanyaan balik seperti itu, Al-Mu’tashim pun mengatai Ahmad bin Hanbal macam-macam. sontak Ahmad bin Hanbal menyangkal dengan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, berikan kepadaku satu ayat Al-Qur’an atau Sunnah Rasul-Nya supaya saya jelaskan maksudnya.

Mendengar ucapan Ahmad bin Hanbal, Ibn Abi Daud langsung menyahut dan berkata, “Kamu hanya mengatakan apa yang ada di dalam Kitabullah dan Sunnah rasul?

Saya akan menakwilkannya. Dan mungkin kamu lebih tahu bahwa saya akan menakwilkan dengan apa terkait dengannya.” Jawab Ahmad bin Hanbal.

Mendengat perkataan Ahmad bin Hanbal, Ibn Abi Daud pun berkata, “Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, dia sesat menyesatkan dan membawa bid’ah. Tanyakan kepada para qadhi dan fuqaha.” Al-Mu’tashim kemudian menanyakan perihal itu kepada para qadhinya dan para fuqaha. Mereka pun menjawab bahwa yang Ahmad bin Hanbal sesat menyesatkan dan membawa bid’ah.

Berbagai argumen orang-orang Al-Mu’tashim ternyata tidak ada yang bisa membantah Ahmad bin Hanbal. Hingga datanglah seseorang yang berkata dengan membaca surah Al-Anbiya ayat 2, dan orang tersebut bertanya, “bukankah itu makhluk?” dan orang tersebut dijawab dengan Ahmad bin Hanbal dengan membacakan surah Shad ayat 1.

Singkat cerita ketika Ibn Abi Daud melihat orang-orang yang melawan Ahmad bin Hanbal pada tumbang, dia marah-marah dan menyuruh mereka untuk selalu menyerang argumen Ahmad bin Hanbal sampai menang. Namun pada akhirnya, sidang tersebut dimenangi oleh Ahmad bin Hanbal.

Ketika Al-Mu’tashim menahan Abdurrahman bin Ishak, dan dijadikan satu penjara dengan Ahmad bin Hanbal. Dan Al-Mu’tashim pun berkata, “tahukah kamu seorang shalih bernama Ar-Rasyidi? Dulu dia adalah guruku, dan duduk di rumah itu. Lalu dia berbicara, dan membaca Al-Qur’an, lalu meninggalkanku dan pergi.” Ahmad bin Hanbal berkata, “saya tidak tahu, bukankah kamu juga mengetahuinya?

Kemudian Abdurrahman menjawab, “wahai Amirul Mukminin, kami telah mengetahuinya sejak tiga puluh tahun yang lalu. Dia memperlihatkan ketaatannya kepadamu, berhaji dan berjihad denganmu, sehingga mendapatkan kedudukan yang semestinya dia peroleh.

Al-Mu’tashim lalu berkata guna menyindir Ahmad bin Hanbal, “Demi Allah. Dia adalah seorang fakih dan alim. Alangkah gembiranya saya jika bisa berdampingan dengannya, untuk menolak orang-orang yang membangkang. Jika dia mendekat kepadaku, tentu saya akan membebaskannya dengan tanganku sendiri, saya bebaskan hukumannya dan saya akan naik kuda sendiri kepadanya bersama tentara saya.” Dan Al-Mu’tashim berkata sambil menoleh ke arah Ahmad bin Hanbal, “celaka kamu ya Ahmad, apa yang ingin kamu katakan?

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ahmad bin Hanbal lalu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, katakann kepadaku tentang sesuatu dari Kitabullah atau Sunnah Rasul.” Namun karena majlis sudah berlangsung lama, Al-Mu’tashim sudah lelah. Dia pun langsung bangkit, dan mengembalikan Ahmad bin Hanbal ke penjara. Tiga hari didebat berturut-turut, dan tidak mampu menjatuhkan Ahmad bin Hanbal agar mau mengakui Al-Qur’an sebagai makhluk. Al-Mu’tashim pun mulai menyerah.

Di masa Al-Mu’tashim juga, Ahmad bin Hanbal pernah dipukul sebanyak 100 kali hingga ikat tali celananya hampir melorot dan barang rahasinya hampir terlihat. Namun waktu itu Ahmad bin Hanbal menghadap ke atas sambil berdoa sehingga celananya tidak jatuh.

Setelah Ahmad bin Hanbal berhasil melalui berbagai polemik dengan para penguasa yang membuatnya disiksa berkali-kali. Orang orang yang melihatnya meluap-luap dan bersorak sorak, karena mengetahui kebenaran Imam mereka sehingga mereka semakin yakin atas kebenaran akidah mereka dan akidah yang dipegang oleh Ahmad bin Hanbal adalah benar. Bahkan sampai ada demo untuk menurunkan Al-Mu’tashim. Namun, Al-Mu’thasim tahu hal itu hingga langsung memerintahkan untuk memotong perlawanan itu.  Dan selama disiksa, ternyata Ahmad bin Hanbal tidak merasakan sakit apapun walapun tubuhnya terluka.

Dan ketika Al-Watsiq menggantikan Al-Mu’tashim, sedangkan Ahmad bin Hanbal saat itu telah berhasil memenangi pertarungan pemikiran dengan Al-Mu’tashim dan kroni-kroninya yang membuat Ahmad bin Hanbal kembali mendapat dukungan banyak orang dan banyak pengikutnya. Al-Watsiq pun mengetahui hal tersebut.

Al-Watsiq kemudian menjatuhkan hukuman kepada Ahmad bin Hanbal, karena masih belum mau mengakui Al-Qur’an sebagai makhluk. Al-Watsiq pun menjatuhkan hukuman kepadanya, tetapi bukan berupa pukulan, penjara, tekanan dan ancaman seperti yang dilakukan oleh Al-Mu’tashim. Karena cara itu justru menjadikan Ahmad bin Hanbal disenangi banyak manusia dan umat Islam. Maka dari itu, Al-Watsiq menggunakan cara lain dengan mengeluarkan larangan, “jangan membiarkan manusia berkumpul di sekellingnya dan jangan ditinggal di tempat yang dirinya tinggal di dalamnya.

Ahmad kemudian tinggal di rumahnya untuk shalat, tidak menyaksikan jenazah, dan tidak mengajar hingga Al-Watsiq meninggal. Dan Ahmad bin Hanbal pun dihukum dengan berbagai macam hukuman. Ironisnya, hukuman-hukuman itu juga dijatuhkan kepada para pengikut Ahmad bin Hanbal seperti Abu Ya’qub al-Buwaithi, Na’im bin Hammad, Ahmad bin Nashr al-Khaza’i.

 



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kilas Balik

Pesantren dan Kurikulum Madrasah Diniyah

Published

on

By


Secara harfiyah, madrasah bermakna tempat belajar alias sekolahan sedangkan diniyah bermakna keagamaan. Maka, frasa madrasah diniyah adalah sekolah keagamaan. Belakangan, terutama karena kedua kata tersebut diderivasi dari bahasa Arab—yang mana Islam berasal dari sana, makna madrasah mengalami penyempitan. Tanpa menyebut kata diniyah, madrasah berarti tempat belajar yang identik dan hanya mengurus pendidikan keagamaan. 

Jadi, apa maksud “diniyah” jika disandingkan dengan kata “madrasah”, menjadi “madrasah diniyah”? Bukankah dalam madrasah sudah terkandung makna diniyah? Dan jika ia betul ada, seperti apa prototipe kurikulumnya?

Dalam Islam, model pendidikan yang tersistem dan terlembagakan sudah muncul sejak dulu. Salah satunya adalah Madrasah Nidhomiyah era Al-Ghazali di Baghdad. Lebih jauh lagi, kita bisa mengacu kepada Universitas Al-Azhar di Kairo sebagai universitas pertama di muka bumi. Tapi, seperti apa kurikulum dan visi-misi kedua lembaga pendidikan itu pada awal mula didirikan? Kita harus tahu.

Terkait definisi ini, kita membedakan antara ilmu agama dengan ilmu non-agama. Kategorisasi pun bermunculan. Dari salah satu lektur pesantren, kita juga mengenal pemilahan disiplin ilmu yang sangat simpel, misalnya tauhid untuk keimanan; fikih untuk amal keseharian; kesehatan/pengobatan untuk kebutuhan jasmani agar bisa tetap belajar. Nah, apakah kesehatan/pengobatan—yang notabene ‘dinaturalisasi’ menjadi kedokteran itu—merupakan ilmu keagamaan alias diniyah? Jika kita telah bisa menjawab pertanyaan ini, maka pertanyaan tingkat lanjutnya adalah; seperti apakah kira-kira kurikulum ilmu-ilmu keislaman ideal yang mestinya diajarkan di madrasah-madrasah sebagaimana ia diterapkan oleh kaum salaf hingga ulama-ulama abad pertengahan yang melahirkan pada penemu, ilmuwan, mujaddid, hingga pakar-pakar yang polymath dan polyglot?

Dalam kata pengantar untuk buku Alwi Shihab, “Islam Inklusif”, Gus Dur menyatakan, bahwa Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi mengusulkan jawaban (untuk pertanyaan di atas) dalam wujud karya bertajuk kitab “Itmam ad-Dirayah” (li Qurra’ An-Nuqayah). Kitab tersebut merupakan anotasi atas kitab “Annuqayah” yang juga ditulis sendiri oleh As-Suyuthi. Adapun isinya mencakup 14 disiplin ilmu, yaitu: 1. Ushuluddin, 2. Tafsir, 3. Hadis, 4. Ushul Fikih, 5. Faraid, 6. Nahwu, 7. Tashrif, 8. Khath, 9. Ma’ani, 10. Bayan, 11. Badi’ (nomor 6-11 berkaitan dengan sintaksis, kaligrafi, dan gaya bahasa), 12. Tasyrih (anatomi), 13. Thib (pengobatan/kedokteran), dan 14. Tasawuf. Kitab ini sangat kecil, ringkas, hanya sejenis modul atau buku pengantar saja dan mungkin karena itulah ia jarang diperbincangkan. 

Saat ini, di banyak pesantren, kurikulum pendidikan menjadi masalah yang tidak kelar-kelar dibahas. Apabila ada pembahasan terkait kurikulum, maka pembahasan tersebut tak jauh dari pembahasan seputar mengganti mata pelajaran A dengan pelajaran B, atau mencarikan guru pengganti di bidang tertentu dengan guru yang lebih berkompeten di bidang itu. Beberapa pesantren modern membuat kurikulum sendiri, tidak berafiliasi pada Kemenag dan/atau Kemendiknas. Harapan dari itu adalah agar materi pelajaran yang diajarkan benar-benar sesuai dengan visi-misi pondok pesantrennya. Mereka membuat dan mengajukan muadalah (penyetaraan), tapi itupun harus berjibaku dengan persoalan berat nan rumit, yaitu legalisasi, sebab jika tidak sesuai dengan “kurikulum resmi”, pemerintah tidak akan melegalisasi, tidak  memberikan izin mengeluarkan ijazah. 

Belum selesai yang satu, masalah berikutnya muncul lagi: sebagian orang masih menganggap ijazah seperti itu sebagai ijazah yang “tidak-begitu-resmi”, misalnya karena hanya dapat digunakan untuk masuk ke perguruan tinggi atau sekolah tingkat lanjut, tapi tidak dapat digunakan secara bebas sebagai syarat lamaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar/umum, dan ini prinsip bagi kebanyakan orang. Sementara pondok salaf—yang tidak menerbitkan ijazah muadalah; sebagian lagi bahkan tidak menerapkan sistem kelas, melainkan masih model bandongan/sorogan yang pada hari ini jumlahnya dapat dihitung dengan jari—lebih leluasa menentukan kurikulumnya.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada umumnya, pondok pesantren yang lembaga pendidikan umum/formalnya berafiliasi kepada Kemenag, yang meskipun materi pelajarannya sudah dijatah oleh Negara, masih merancang tambahan mata pelajaran khusus, seperti nahwu, sarraf, arudl, dll. Materi pelajaran ke-tata-bahasa-araban seperti ini tidak terdapat pada kurikulum umum. Dengan demikian, jatah belajar santri harus dibebani oleh muatan dimaksud. Akibatnya, waktu belajar untuk pelajaran yang lain jelas akan berkurang karena jatah mereka belajar efektif di kelas hanyalah sekitar ¼ dari 24 jam yang tersedia. Satu-satunya cara agar tetap dapat memaksimalkan waktu belajar adalah dengan mengurangi jatah jam tidur dan bermain. 

Artikel ini muncul saat status Ida Fitri melintas di laman Facebook, 10 Maret 2021 yang lalu: “Kalau sekolah umum saja gagal menghasilkan sosok semacam Ibn Sina dalam 75 tahun terakhir, kenapa saya bermimpi pesantren bisa?” Saya tidak bisa menjawab ini, tapi sedikitnya bisa menduga salah satu penyebab terbesar kegagalan itu: di samping karena tidak memiliki konsep kurikulum yang mumpuni, juga terlalu banyaknya waktu terbuang untuk kegiatan yang memang dirancang menghabiskan waktu, seperti nonton video orang makan bakso yang telah ditonton lebih dari 100 juta kali itu, atau sejenisnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Awal Mula Kehadiran Islam di Bolaang Mongondow

Published

on

By


Bagaimana Islam hadir dan berkembang menjadi agama mayoritas masyarakat Bolaang Mongondow, termasuk perbincangan yang menarik untuk dibahas. Sebab masih banyak misteri di dalamnya.

Masifnya penyebaran Islam di Bolaang Mongondow bisa dibilang dimulai pada awal abad 19 M. Sebelumnya, sejak akhir abad 17 M, raja berserta keluarga dan rakyatnya beragama Kristen. Hal ini bisa dilihat pada nama raja-raja Bolaang Mongondow–setelah masa Raja Loloda Mokoagow–menggambarkan nama pemeluk Kristen, semisal Jacobus Manoppo, Fransiscus Manoppo, dan lainnya.

Namun demikian sebagaimana dijelaskan Seven Kosel dalam The History of Islam in Bolaang Mongondow, bahwa saat itu: there was no fuctioning Christian congregation… (tidak ada pemfungsian jamaat Kristiani). Dan juga: the interior population is heathen (masyarakat pedalaman [yang bukan di pesisir] tidak memeluk agama Kristen). Saat itu, ritual-ritual agama tradisional Bolaang Mongondow masih sangat melekat di masyarakat.

Hingga masuk abad 19 M, Islam mulai tersebar secara masif di Bolaang Mongondow. Ini ditandai dengan meningkatnya jumlah pedagang Muslim Arab dan Bugis yang datang, bahkan sampai ada yang menetap dan kawin dengan masyarakat setempat. Selain itu, berbagai jaringan ulama juga semakin masif dalam menjalankan dakwah Islam di Bolaang Mongondow.

Di Lipung Simboy Tagadan (sekarang Kelurahan Motoboi Kecil), jaringan ulama dari Gorontalo, yang disebut Tim 9 sebab jumlah mereka ada 9 orang yang dikepalai oleh Imam Tueko, gerakan dakwah mereka semakin masif, sehingga sudah ada kelompok masyarakat setempat yang memeluk Islam.

Diceritakan kalau Raja Jakobus Manuel Manoppo (1833-1858) menghadiri pagelaran seni ke-Islaman yang diselenggarakan oleh Tim 9. Waktu itu, beliau terpikat dengan anaknya Imam Tueko yang bernama Kilingo. Kilingo merupakan muslimah yang fasih membaca al-Qur’an dan merdu suaranya saat melantunkan qasidah (lagu religi ala Gorontalo).

Raja pun melamar Kilingo, dan itu tentu disambut baik oleh ayahnya, Imam Tueko. Namun, sebelum raja menikahi putrinya, syarat awal yang diajukan Imam Tueko adalah raja harus masuk Islam. Hal itu disanggupi oleh raja hingga dirinya pun menjadi seorang mualaf.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Setelah raja masuk Islam, keluarga dan rakyatnya juga ikut memeluk Islam. Hal ini tentu berdampak pada semakin masifnya penyebaran Islam di Bolaang Mongondow. Di masa raja-raja selanjutnya penyebaran Islam terus mengalami kemajuan.

Proses itu berlangsung pada 19 M, sehingga anggapan umum bahwa penyebaran Islam mulai masif di Bolaang Mongondow adalah di abad ini. Namun, jauh sebelumnya Bolaang Mongondow sudah mulai bersentuhan dengan Islam. Menurut beberapa catatan bahwa Sultan Hairun yang memerintah Tarnate di abad 16 M pernah mengirimkan utusan untuk menyebarkan Islam di daerah ini.

Dalam buku Dinamika Islamisasi di Bolaang Mongondow Raya, Sulawesi Utara, Abad ke-17-20, disusun Hamri Manoppo, dkk., dijelaskan kalau Punu’ Busisi (punu’ setara makna dengan raja) telah di-Islamkan oleh seorang utusan dari Tidore bernama Kaicil Guzarate. Namun, beliau kemudian memilih untuk keluar dari Islam dan masuk Kristen.

Selain itu, beberapa sumber menyebutkan bahwa Raja Loloda Mokoagow (1653-1693) yang menjadi Raja Bolaang Mongondow pada abad 17 M juga telah memeluk Islam berkat kedekatannya dengan Sultan Tarnate. Jadi, bisa dikatakan kalau raja pertama yang memeluk Islam di Bolaang Mongondow bukanlah Raja Jakobus Manuel Manoppo, melainkan Raja Loloda Mokoagow.

Terkait Punu’ Busisi sekalipun benar beliau telah di-Islamkan, namun juga dijelaskan bahwa kemudian memilih untuk keluar dari Islam. Sehingga menurut saya Raja Loloda Mokoagow yang lebih tepat disebut sebagai raja muslim pertama di Bolaang Mongondow. Terlepas dari beberapa sumber yang menyebutkan bahwa ke-Islamannya hanya formalitas diplomasi antara Bolaang dan Tarnate, dan juga beliau tidak mengembangkan dakwah di lingkungan istana dan masyarakat, sehingga Islam tidak berkembang bahkan setelah periodenya Kristenisasi menjadi masif di daerah ini.

Dari sini bisa diasumsikan bahwa persentuhan Islam dan Bolaang Mongondow sudah dimulai sejak abad 16-17 M. Kemudian penyebaran Islam mulai masif di abad 19 M, dan terus mengalami perkembangan.

Selain itu, perlu diingat juga bahwa sebelum masifnya penyebaran Islam pada 19 M, berbagai upaya penyebaran Islam sudah berlangsung. Sehingga telah ada beberapa kelompok masyarakat muslim. Bahkan kalau mencermati dari data Pietermaat yang dikutip Seven Kosel: …for some headmen who follow the teaching of Mohammed…. (sudah ada beberapa kepala kampung yang memeluk ajaran Muhammad).

Di kawasan utara Bolaang Mongondow sebagaimana penjelasan Donald Qomaidiansyah Tungkagi dalam Islam di Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara: Dinamika Islamisasi di Kerajaan Kaidipang Besar dan Bintauna Abad ke-17-19 M, bahwa Raja Kaidipang yang pertama masuk Islam adalah Raja Waladin Korompot (1779-1817), serta di Bintauna raja muslim pertama adalah Raja Patilima (Datunsolang) yang penobatannya dilakukan di Tarnate pada 1783.

Sehingga bisa disimpulkan, kalau sebelum awal abad 19 M, di Bolaang Mongondow sudah ada tempat yang lebih dulu menjadi wilayah dakwah, dan telah ada orang Mongondow yang masuk Islam. Kemudian, gerakan Islamisasi di Bolaang Mongondow semakin memuncak pada awal abad 19 M. Dan terus berkembang hingga Islam menjadi agama mayoritas di Bolaang Mongondow.



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Sejarah Wabah Amwas di Suriah

Published

on

By


Dunia Islam pernah dilanda wabah parah. Wabah yang terjadi jauh sebelum Covid-19 di abad ini, bahkan sebelum Wabah Hitam (Black Death) pada abad ke-14 yang menghebohkan Eropa. Kita sering mendengarnya dengan istilah Wabah Tha’un. Meskipun sebenarnya kalau kita kupas secara literal, tha’un (طاعون) sendiri berarti wabah dalam bahasa Arab.

Dalam sejarahnya, Wabah Tha’un merupakan Wabah Amwas yang terjadi di Syam (sekarang Suriah) pada abad ke-7. Tepatnya sekitar tahun 638 Masehi atau 17 Hijriah, ketika tampuk tertinggi kekuasaan Islam dipegang oleh Khalifah Umar bin Khattab. Pada saat Wabah Amwas terjadi, Umar bin Khattab baru sekitar empat tahun menjabat sebagai khalifah, sedangkan Syam baru saja memasuki tahap akhir penakhlukan oleh kekhalifahan Islam dari tangan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).

Karena persebarannya yang “terbatas”, Wabah Amwas masih belum bisa disebut sebagai pandemi, melainkan epidemi. Menurut Michael W. Dols, dalam artikelnya “Plague in Early Islamic History”, wabah ini pada mulanya hanya tersebar di seputar Syam, namun belakangan merembet hingga ke Irak dan Mesir. Epidemi Amwas juga menyebabkan sekitar 25.000 tentara muslim meninggal dunia.

Dols menyebut bahwa wabah ini disebabkan oleh tikus yang terinfeksi penyakit. Gerombolan tikus tersebut menyerang kota karena tertarik dengan cadangan makanan yang ada. Di sisi lain, pada saat itu Syam sedang dilanda kelaparan, sehingga membuat imun para warganya menurun. Meski belum ada catatan sejarah yang memastikan bentuk penyakitnya, namun jika melihat penyebab Wabah Amwas yang mirip Wabah Hitam, kemungkinan wabah ini membawa penyakit pes (sampar) yang diakibatkan oleh hewan pengerat seperti tikus.
Wabah Amwas merupakan latar belakang dari kisah populer tentang Umar bin Khattab yang “menghindari takdir”. Alkisah, Khalifah Umar beserta rombongannya melakukan perjalanan ke Syam. Dia memerintahkan Abu Ubaidah, panglima perang yang ditempatkan di Syam, untuk pindah ke Madinah dan menghindari wabah. Namun Abu Ubaidah menolak karena tidak ingin menghindari takdirnya dan tidak mau meninggalkan pasukannya.

Penolakan Abu Ubaidah tersebut membuat Khalifah Umar mendatangi Syam untuk meninjau keadaan dan bermusyawarah. Di sebuah tempat bernama Sargh, dia bertemu dengan Abu Ubaidah dan para sahabat lainnya, seperti Abdurrahman bin Auf dan Abdullah bin Abbas. Di sana Khalifah Umar menggelar musyawarah dengan para sahabat dari kaum Muhajirin, Anshar, dan Quraish untuk menentukan sikap kaum muslim terhadap wabah.

Ketika Umar memanggil orang-orang Muhajirin pertama, mereka berdebat panjang. Lalu dia ganti memanggil kaum Anshar untuk bermusyawarah, namun mereka juga kembali berdebat seperti sebelumnya. Musyawarah tersebut belum menemukan titik temu. Akhirnya Umar memanggil para pembesar Quraish untuk bermusyawarah dan menemukan sebuah titik terang. “Menurut kami, engkau harus mengevakuasi orang-orang itu, dan jangan biarkan mereka mendatangi wabah ini,” kata salah seorang pembesar Quraish. Umar menyetujuinya.

Kemudian Abu Ubaidah mempertanyakan kembali, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah ini lari dari takdir Allah?”

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Benar,” jawab Umar. “Ini lari atau berpaling dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Tidakkah engkau melihat, seandainya saja engkau memiliki unta dan lewat di suatu lembah, lalu menemukan dua tempat untuk untamu; yang pertama subur dan yang kedua gersang. Bukankah engkau akan memelihara unta itu di tempat yang subur? Itulah takdir Allah. Demikian juga apabila engkau memeliharanya di tempat yang gersang, itu juga takdir Allah.”

Umar bin Khattab beserta rombongannya kemudian kembali ke Madinah untuk meninggalkan wabah. Mereka semua selamat. Sedangkan Abu Ubaidah meninggal dunia ketika berada dalam perjalanan bersama pasukannya di Syam. Posisi Abu Ubaidah lalu digantikan oleh Muadz bin Jabal yang tak lama berselang juga meninggal karena wabah. Muadz bin Jabal meninggal di usia yang masih sangat muda, yaitu 33 tahun. Wabah Amwas sendiri mulai mereda pada tahun 639 Masehi atau 18 Hijriah, atau setahun setelahnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved