Connect with us

Feature

Pesantren Kaliopak Gelar Haul Gus Dur, Diskusikan Inspirasi dan Aspirasi Kebudayaan Anak Muda

Published

on


Anak muda, bagaimanapun, punya peran penting untuk mewarnai dinamika kebudayaan yang hadir di tengah masyarakat kita. Apalagi di tengah kondisi Covid-19 yang hampir setahun ini mewarnai kehidupan kita semua. Dalam kondisi Covid-19 kita mau tidak mau dipaksa untuk berubah, beradaptasi dengan kondisi baru dan menemukan format-format baru, sehingga dihadapkan dengan pertanyaan bagaimana anak muda dengan kondisi budaya baru ini mempunyai aspirasi sekaligus inspirasi apa yang dapat menjadi kebudayaan kita saat ini dan ke depannya. Di tengah pembacaan seperti itulah acara Haul Gus Dur digelar berbarengan dengan Anniversary Limasan Kaliopak yang ke-11 di Aula Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Piyungan, Bantul Yogyakarta(29/12).

Acara yang dikemas dengan format sarasehan budaya ini mengumpulkan beberapa anak muda dari berbagai multidisiplin mulai dari seniman tradisi, musisi, Ilmuan, kurator pertunjukan, dan penggiat komunitas anak muda. Mereka dikumpulkan sebagai wujud kolaborasi bersama untuk sharing pengalaman di ruangnya masing-masing, merespon dinamika kebudayaan anak muda hari ini. Tercatat ada tujuh anak muda pegiat komunitas sebagai pemantik dalam diskusi kali ini.

Acara ini diawali dengan tahlil dan doa khataman Quran, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pengasuh Pondok Kaliopak, Kiai Jadul Maula. Ia menyampaikan bahwa acara ini memang digunakan untuk mendengar berbagai inpirasi dan aspirasi dari anak muda yang bergelut di ruang kreatifnya masing-masing.

“Harapannya dari forum ini kami bisa sedikit mempunyai gambaran bagaimana seharusnya anak muda merespon dinamika kebudayaan kita hari ini, sehingga dari diskusi produktif yang dihasilkan kita bersama bisa dapat menetapkan langkah-langkah apa untuk membangun gerakan kebudayaan kedepanya” Tutur Kiai Jadul Maula di awal sambutanya.

Tidak hanya itu, ia juga menyatakan bahwa terselenggaranya acara ini bukan tanpa sebab. Karena berdirinya Pesantren Kaliopak juga dibangun dari semangat anak muda. Kebetulan pada tahun 2009 saat peresmian Limasan Kaliopak bertepatan juga dengan meninggalnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sehingga dari peristiwa tersebut kami jadikan hari ini sebagai titik untuk meneruskan perjuangan-perjuangan Gus Dur di bidang kebudayaan. Selain itu pada tahun yang sama saat itu juga mengawali berdirinya Pondok Kaliopak dengan diadakannya kongres kebudayaan pesantren yang semua diinisiasi oleh anak muda.

Anak Muda dan Kebudayaan Hari ini

Dalam diskusi banyak hal yang menarik muncul, misalnya yang diungkapkan oleh Madha Soentoro, salah satu anak muda yang selama ini bergelut di bidang pengembangan budaya dan seni tradisi. Ia mengungkapkan bahwa selama ini dalam prosesnya ia kerap mengalami kekosongan dalam memproduksi sebuah karya. Kekosongan itu diakibatkan oleh gemerlap panggung dunia seni selama ini tidak benar-benar menjadi milik masyarakat luas, bahkan hanya dimiliki oleh sebagian kecil dari elit seniman.

“Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai kota seni dan budaya, yang saya lihat dan rasakan gemerlapnya budaya Yogya itu tidak benar-benar mengakar dan mengakomodasi warga Yogyakarta sendiri, terutama anak mudanya,” Tegas pemuda yang tumbuh besar di pusat kota Yogya ini.

Lebih jauh lagi, Madha juga menyampaikan bahwa keterputusan pengetahuan antara apa yang sebenarnya yang dimaksud tradisi di tengah masyarakat juga perlu mendapat perhatian. Ia sering menemukan banyak fenomena masayarakat yang gagal paham dengan tradisi yang ada, persinggungan dengan modernitas yang tidak seiring membuat masyarakat kehilangan pengetahuan terkait tradisi yang sebenarnya menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka.

Dari hal itulah akhirnya timbul gairah dan cara lain untuk mempelajari ulang apa sebenarnya esensi budaya dan seni itu sendiri. Langkah itu kemudian sejalan dengan yang Madha lakukan, dengan sering masuk kampung di pinggiran Bantul untuk melakukan pendampingan budaya dengan membuat pertunjukan seni yang mengeksplorasi dari kearifan yang ada di tengah masyarakat setempat.

Dari pengalaman masuk-masuk desa, kemudian memberdayakan masyarakat melalui kesenian, meskipun berat, intervensi sosial yang dilakukan melalui seni tradisi mampu memberikan cara pandang baru kepada masyarakat. Ia menjelaskan, seperti bagaimana mitos, folklore, adat istiadat, dan seni tradisi yang tersebar di setiap penjuru desa di Nusantara adalah modal kultural yang sekarang jarang disentuh, dan justru ditinggalkan. Padahal disitulah sebenarnya budaya baru bisa diciptakan dengan tetap tersambung dengan kultur yang sudah ada, dan tentunya karena berangkat dengan pembacaan saat ini, budaya-budaya tersebut bisa direlevansikan.

Lain cerita dengan yang diungkapkan oleh Rifqi Fairuz yang selama ini berada di balik layar sebuah portal media Islam yaitu Islami.co. Ia menceritakan bahwa media digital bisa dikatakan menjadi fakta baru dari realitas kebudayaan kita hari ini. Ia merangsek terus menerus setiap hari mewarnai kehidupan kita semua melalui informasi yang sulit untuk kita kendalikan. Disamping itu maraknya web-web baru yang mengkampanyekan narasi kebencian dan perpecahan diantara kita sebagai bangsa terutama umat muslim di Indonesia, secara sadar membuat gelisah sehingga Islami.co muncul merespon kondisi itu.

“Dalam hal ini adanya media Islami.co itu sendiri diciptakan hasil dari kegelisahan bagaimana melihat wajah Muslim Indonesia kedepannya. Sehingga ia hadir sebagai counter hegemoni dari menguatnya narasi kekerasan dan kebencian yang sekarang ini bertebaran di banyak web dan media sosial,” Tutur Rifqi Fairuz.

Sementara itu pegiat literasi dari komunitas Bawa Buku, Ainun Mutmainah, juga menarik perhatian peserta diskusi pada malam itu. Ia menceritakan prosesnya selama ini yang diawali dari rasa cintanya terhadap buku. Awalnya ia membuka rental buku di Makassar. Ide berkomunitas itu mulanya karena ia berpikiran dapat memberi insight bagi orang lainnya dari buku yang ia pinjamkan dengan bayaran yang cukup murah pada saat itu. Namun setelah kepindahanya ke Yogya niat itu bersambut dengan berkolaborasi dengan salah seorang teman hingga ia dan temannya mendirikan toko buku dengan nama Bawa Buku.

Menariknya, melalui Bawa Buku tidak digunakan sekedar hanya berjualan, namun lebih dari itu ia gunakan sebagai ruang bertemu, betukar gagasan, ide dan perhatian pada isu-isu sosial, lingkungan, dan kebudayaan. Hingga dari persinggungan dari teman-temannya itu ia dapat melakukan kegiatan-kegiatan sosial sampai masuk ke pedesaan. Bagi Ainun, anak muda hari ini mestinya lebih memperkuat kolaborasi dari berbagai lini bidang, agar saling bisa mengerti dan mengapresiasi hingga menemukan apa yang mesti dikerjakan untuk kepetingan generasi kita bersama.

Tidak kalah menariknya seperti yang diceritakan oleh Wahid kordinator program Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Soedirman Yogyakarta (MJS) yang memiliki ribuan pengikut baik di offline maupun online. Bahwa apa yang dicapai oleh MJS selama ini adalah buah dari konsistensi yang mesti dilakukan oleh anak muda hari ini. Hal ini seperti yang dilakukanya dengan progam Ngaji Filsafat yang dilakukan sejak 2013.

Membawa konten diskusi filsafat ke dalam masjid pada saat itu bisa dikatakan adalah hal baru. Ngaji Filsafat asuhan Dr. Fahrudin Faiz awalnya hanya diikuti lima sampai sepuluh orang. Akan tetapi berkat konsistensi sampai hari ini, jamaah Nagji Filsafat selalu memenuhi ruangan masjid yang besar. Bahkan melalui akun YouTube hasil dari diskusi Ngaji Filsafat, sekarang Wahid dan teman-temannya di MJS dapat menghidupi kegiatan yang ada di masjid. Hingga sekarang mereka merambah dalam berbagai progam salah satunya literasi masjid dan lain-lain.

Menurut Wahid sendiri pencapaian itu semua diraih ”bukan dari proses yang sebentar. Ada konsistensi dan kerja kreatif dari teman-teman muda yang ada di dalamnya. Dan alhamdullah bertahan sampai sekarang ini,” Tutur Wahid.

Sementara Shohifur Ridhoillahi, seorang seniman muda yang bergulat di dunia teater dan seni pertunjukan, memberi pandangan yang lebih esensial terkait anak muda. Karena ia tidak berangkat dari komunitas, ia berbicara dari pengalaman sebagai orang yang selama ini mendalami dunia teater. Ia menyampaikan bahwa modal kreativitasnya hanya tubuh. Olah tubuh inilah menurutnya sebagai basis produksi dari seorang seniman teater.

Dalam hal ini ingatan manusia sebagi entitas non materi dari manusia kini sudah dapat diringkus dalam sebuah folder internal, tidak lagi di kepala. Sehingga ingatan kini sudah dapat dibaca sebagai bentuk kerapuhan atau ketidakberdayaan manusia di satu sisi. Di sisi lain, ingatan menawarkan kemudahan transmisi data atau perpindahan informasi. Misalnya berbagai fasilitas internet seperti Google Map Wikipedia, data percakapan lainnya.

Hanya saja untuk mengakses itu semua manusia membutuhkan “kata kunci” yang tepat. Selama kata kunci tidak tepat, maka ingatan itu tidak dapat diakses. Demikianlah menurutnya manusia di era digital seperti sekarang ini berada dalam “rezim kata kunci”.

Dalam hal lain kondisi pandemi seperti sekarang ini sangat memukul dunia pertunjukan. Dunia panggung yang biasanya di topang dari kerja-kerja kolaborasi dari berbagai elemen dipaksa berhenti seketika. Semuanya dipaksa untuk tidak berkegiatan. Walaupun demikian ia berusaha keras untuk memanfaatkan waktunya untuk memperhatikan sesuatu yang selama sebelum Pandemi tidak ia perhatikan seperti misalnya, membersihkan rumah, mencabut rumput yang terlewat untuk diperhatikan. Dalam kondisi tersebut di tengah kerapuhan sistem yang ada kita dipacu untuk menemukan format-format baru agar roda kehidupan tetap berjalan.

Sedangkan pemantik lain, Argawi Kandito, menyatakan bahwa selama ini sains tidak pernah menawarkan keresahan.  Munurutnya seharusnya antara sains, agama dan budaya tidak boleh dibentur-benturkan. Ilmu pengetahuan atau sains sendiri menawarkan aspek rasional dan logika. Sedangkan budaya sendiri menawarkan nilai estetika dan kerukunan sosial. Sementara agama menawarkan aspek moral, relegius dan spiritual. Ketiga unsur tersebut merupakan unsur-unsur kesatuan dalam kehidupan manusia tidak bisa dipandang terpisah atau parsial apalagi di hadap-hadapkan.

Namun dalam realitas kehidupan dewasa ini di negara kita sering kali ketiga hal tersebut di hadap-hadapkan bahkan dibenturkan. Sementara itu di banyak negara maju, teknologi sudah berkembang begitu pesat juga liar. Hal ini bisa menjadi ancaman jika di negara kita terutama anak muda tidak cakap menanggapi itu semua. Ia mencontohkan seperti perkembangan editing genome dan bio sintetik. Tentu saja perkembangan teknologi yang masif tersebut, mau tidak mau jadi tantangan kita ke depan. Jika kita tidak menyiapkan itu semua pasti akan terjadi benturan-benturan yang keras di tengah masyarakat kita.

Lutfi Firdaus sebagai pemantik terakhir dan juga sebagai lurah Pondok Kaliopak dalam penuturanya seperti merajut dari kegelisahan tuju anak muda yang datang malam itu. Ia mengambil contoh Gus Dur yang harusnya menjadi inspirasi bagaimana gerakan kebudayaan itu bisa dirajut hingga menjadi gerakan bersama. Di lain sisi ia juga mengilustrasikan bahwa dalam sebuah bangunan hal yang terpenting itu adalah tarikan benang dan water pass. Karena tarikan benang itu sendiri yang akan menentukan ke sikuan. Sedangkan water pass untuk mengukur panjang dari sebuah bangunan.

Jika kita coba implementasikan hal tersebut dalam kehidupan bahwa sebenarnya hidup itu sudah digariskan pada sebuah bangunan yang belum wujud oleh Tuhan. Dari hal tersebutlah mestinya ketika melakukan itu semua dalam sebuah tarikan benang dan water pass-nya harus jelas. Apalagi dalam sebuah gerakan kebudayaan dari yang disampaikan temen-temen pemantik sebelumnya kita mestinya mampu menarik menjadi formasi yang agar bisa berdiri seimbang seperti bangunan. Menjalankannya dengan mengambil inspirasi dari kajeng Nabi Muhammad dan contoh jelasnya dari apa yang di lakukan oleh Gus Dur sebagai seorang pejuang kemanusiaan.

Di akhir acara, seperti disampaikan oleh moderator pada acara malam itu, diskusi diantara anak muda terkait kebudayaan yang dilakukan ini pada dasarnya bukanlah akhir tapi menjadi titik awal bagaimana anak muda inilah yang akan mewarnai kebudayaan kita kedepan. Dengan semangat kolaborasi untuk saling mengisi dan menginspirasi anak muda lain agar lebih siap menghadapi tantangan zamannya yang tentu semakin rumit dan pelik.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Feature

Toleransi di Pulau Buru Kepri: Islam dan Konghucu Bahu Membahu Bersatu

Published

on

By


Pulau Buru merupakan pulau kecil yang terletak di Kepri (Kepulauan Riau), dekat dengan Batam. Jarak tempuh naik kapal ferri dari Batam ke Pulau Buru sekitar 3 jam. Tidak lantas sampai, perlu transit terlebih dahulu di Tanjung Balai Karimun. Dilanjutkan dengan naik kapal kecil menuju Pulau Buru. dibutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke pulau ini.

Ada sesuatu yang menarik ketika berbicara tentang daerah-daerah di Kepulauan Riau, salah satunya Pulau Buru. Penduduk Pulau Buru menganut dua agama, yaitu Islam dan Konghucu. Masyarakat yang beragama Islam di Pulau Buru menganut kebudayaan Melayu, sedangkan agama Konghucu masih tetap konsisten dengan kebudayaannya.

Dua agama ini bagaikan dua jendela yang saling berdampingan, dan dilestarikan sejak dulu oleh masyarakat terdahulu. Selama ini tidak pernah ada konflik atau bom bunuh diri yang menerpa. Semuanya terlihat aman, nyaman, tentram, dan damai. Mereka saling membutuhkan satu sama lain, masyarakat Islam membutuhkan orang-orang Konghucu karena mereka memiliki warung atau kedai yang menyedikan bahan pokok pangan sehari-hari.

Baca juga: Raja Aisyah binti Sulaiman Menunjukkan Fakta, Perempuan Bisa Jadi Apa Saja

Sedangkan orang-orang Konghucu membutuhkan muslim karena kepandaiannya membuat masakan. Sehingga tidak ada lagi sekat jasmani antar dua agama di Pulau Buru. Walaupun demikian, batin muslim di Pulau Buru tetap pada keyakinnya yaitu Iman dan Takwa kepada Allah Saw. Begitu pula orang-orang Konghucu, dalam beribadah mereka tidak pernah mengusik satu sama lain.

Kedua pemeluk agama tersebut bukan hanya memiliki persamaan dalam dunia perdagangan saja, namun juga berkebun, nelayan, serta berternak. Mereka saling bahu membahu membentuk rotasi kehidupan, tidak ada yang membuat keributan dengan mengatas namakan agama “Jihad Fi Sabilillah”. Guru-guru di sekolah pun tidak perlu bersusah payah memberikan pemahaman atau wawasan toleransi pada siswa siswi, karena mereka sudah menanamkannya.

Secara teori, sikap toleransi diartikan sebagai sikap saling menghargai setiap perbedaan, baik dalam bidang keagamaan, sosial, ekonomi, atau kebudayaan. Sikap toleransi tersebut sudah ditanamkan pada masyarakat Pulau Buru pada jenjang pendidikan. Mereka sudah terbiasa dalam menghargai dan menghormati antar perbedaan agama, ras, dan suku.

Baca juga: Hak Sipil Kaum Minoritas: Sebuah Renungan

Dengan hal ini, sikap toleransi merupakan etika menghormati berbagai perbedaan yang ada di dalam lingkungan sekitar. Dengan sikap toleransi, rasa kasih sayang dan saling membantu akan tumbuh antar sesama manusia. Walaupun adanya perbedaan ras, suku, agama, kulit, dan lain sebagainya. Seperti yang diterapkan di Pulau Buru ini, walaupun kecil tetapi jiwa akan menghargai setiap perbedaan mereka junjung tinggi. Karena mereka tahu, bahwa kenyamanan itu memiliki lingkungan yang damai. (AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Ngobrol dengan Frater Katolik: Bom Makasar Momentum untuk Memperkuat Toleransi Kita

Published

on

By


Suatu sore selepas pristiwa bom di Makasar, lini masa Twitter saya riuh. Ada akun anonim yang menganggap bahwa kekerasan seperti itu adalah ajaran Islam yang sebenarnya, sembari melampirkan tangkapan layar suatu ayat Al-Quran beserta terjemahannya.

Saya baca, cuplikan ayat tersebut memang menyebutkan peperangan dan semacamnya. Namun tunggu dulu, ayat tersebut tidak serta merta bisa dipahami hanya dengan membaca terjemahannya, bukan? Ada asbabun nuzul, ada konteks dan peristiwa yang mengiringi turunnya ayat itu.

Beberapa akun lain pun mencoba menjelaskan maksud ayat itu. Namun tetap saja. Akun anonim ini mental, sedikitpun tidak mau menerima penjelasan. Dari profilnya, saya tidak melihat afiliasi apapun dari akun tak dikenal itu. Tidak ada agama, afiliasi politik atau semacamnya.

Walau demikian, celotehan akun ini membuat kepala saya melayang, membayangkan bagaimana perasaan umat agama lain yang membaca ayat dan terjemahan Al-Quran itu secara mentah-mentah, ditambah kejadian-kejadian terorisme atas nama agama yang berulang mendera mereka. Apalagi jika mereka sama sekali tidak memiliki teman dekat atau tetangga muslim yang baik dan berempati kepada mereka. Mungkin ini lah benih-benih islamophobia berawal. Saya pun akhirnya memahami presepsi orang-orang di luar sana tentang muslim. Orang-orang yang mendengar teriakan-teriakan ‘kafir’, ‘halal darahnya’, dan semacamnya dari ‘Toa’ ustadz serampangan yang mendengung ke arah rumah mereka.

Baca juga: Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar dan Sentimen Keagamaan yang Menyelimutinya

Mereka mungkin akan bertanya-tanya, “Katanya “Islam itu rahmat, mengasihi, menyangi’, lalu mereka ini Islam yang mana?” Jika mereka bertanya demikian, bagaimana jadinya toleransi kita?

Saya buru-buru mengirim pesan instan ke kolega saya, seorang frater Katolik yang tempo hari magang di kantor saya, Amadea namanya. Ia juga beberapa kali menulis di Islamidotco. “Bung, hari Kamis besok, kosong?” Tak lama, sang frater membalas, “Kalau sore ada ibadah, bung.”

Saya paham maksudnya. Sebagai seorang frater, pekerjaan utamanya adalah melayani umatnya. Apalagi hari itu adalah salah satu di antara hari-hari penting, yaitu hari Tri Suci. Dia pasti akan sibuk hingga hari Minggunya.

Baca juga: Bom Bunuh Diri Makassar Adalah Bukti Tidak Seimbangnya Ilmu dan Cinta

Jadwal pun kita sepakati bersama, hari Kamis siang, sebelum ia melaksanakan ibadahnya. Saya merasa penting untuk ngobrol dengannya. Saya penasaran dengan perasaannya setelah kejadian bom di Makasar, apalagi pristiwa keji itu berlangsung menjelang hari-hari suci bagi mereka. Saya khawatir mereka tidak nyaman dan tidak merasa aman saat beribadah.

“Bagaimana kabarnya, bung? Sehat dan Aman?” Itu lah pertanyaan awal saya saat memulai percakapan pada waktu yang telah kami sepakati.

“Puji Tuhan, bung, semuanya aman,” jawabnya.

Saya yakin, walaupun ia berkata demikian. Ia pasti memiliki kekhawatiran. Amadea pun mengakui itu. Pada awalnya ia merasa khawatir dengan situasi saat itu. Namun kekhawatiran itu mulai memudar saat melihat banyak dukungan dari berbagai kalangan untuk umat Kristiani, termasuk dari umat muslim.

Amadea juga terharu dengan ungkapan yang disampaikan oleh Mentri Agama Yaqut Cholil Qaumas saat menemui uskup agung selepas kejadian di Makasar.

Kami bersama umat Katolik, kami bersama umat Kristiani, jangan takut!” ungkap Amadea menirukan kata-kata Gus Menteri. Kalimat itu lah yang membuatnya terharu, bahwa ia sebagai umat Kristiani tidak lah sendiri. Semua kelompok berbondong-bondong mendukung dan menguatkannya.

Hal ini lah yang membuatnya sadar dan membuang jauh-jauh kekhawatiran yang hinggap di benak kepalanya. Rasanya tidak ada gunanya khawatir jika semua saudara sebangsa mendukung dan menguatkan. Baginya, ini menjadi sebuah momentum dan harapan untuk menguatkan toleransi kita.

“Khawatir pasti ada, bung. Namun yang paling penting untuk disorot adalah harapan kita,” ungkap alumni STF Driyakara Jakarta ini.

Mendengar jawaban itu saya sedikit tenang. Namun saya merasa perlu mengeluarkan pertanyaan yang lebih penting, yaitu: Bagaimana presepsinya kepada muslim setelah kejadian bom di Makasar? Karena saya yakin, kejadian ini bukan pertama kalinya bagi umat Kristiani. Mereka telah mengalami ancaman bom berkali-kali. Justru saya khawatir, kejadian ini meneguhkan sebagian umat agama lain bahwa muslim memang benar-benar kejam.

Amadea menjawabnya dengan jawaban yang menarik. Ia meyakini bahwa banyak orang yang mulai kritis dan tidak asal menggeneralisir. Menurutnya, memang ada kelompok teroris yang mengaitkan diri mereka dengan Islam. Namun, ia meyakini bahwa kekerasan, bom dan sebagainya bukanlah ajaran Islam yang sebenarnya. Pasalnya ia bertemu dengan banyak muslim yang tidak seperti pelaku teroris itu. Pangalamannya berinteraksi dengan  saya dan teman-teman muslim saya yang lain nampaknya mempengaruhi itu.

Ia membuktikan bahwa saat ada pristiwa bom, misalnya. Umat muslim berbondong-bondong mendukung dan simpati dengan para korban. Berbeda jika umat Muslim malah lebih banyak mendukung pelaku pengeboman.

“Itu lah yang membuat saya yakin,” tuturnya.

Dengan pristiwa ini, menurut Amadea, kita semakin menguatkan toleransi kita, bukan hanya sesama umat Kristiani, tetapi juga dengan umat agama lain, termasuk umat muslim.

“Bagi saya justru masa depan toleransi ini semakin cerah. PR kita bagaimana agar kejadian ini tidak terulang kembali,” harap Amadea.

Saya juga meminta kepada Amadea agar menceritakan pengalamannya saat berinteraksi dengan kita kepada teman-teman Kristiani yang lain. Lebih-lebih kepada saudara-saudara Kristiani dan juga umat agama lain yang sama sekali belum pernah berinteraksi dengan muslim. Agar kekhawatiran dan ketakutan mereka dengan stigma muslim bisa direduksi. (AN)





Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Satu Hari di Wasini, Kenya, Penduduk yang Ingin Mengunjungi Indonesia

Published

on

By


Saya tiba-tiba teringat tentang Wasini, sebuah pulau kecil di Kenya, Afrika Timur. Pulau tersebut terletak di tengah laut yang bisa dijangkau dari pelabuhan dekat desa Shimoni. Kunjungan saya dan rombongan saat itu untuk menghabiskan senja setelah seharian melakukan study tour di goa ‘Slavery’ Shimoni, goa yang digunakan kesultanan Oman dan penjajah Inggris untuk mengurung warga Kenya yang akan diperbudak.

Dihuni oleh sekitar 2000 orang, pulau ini memang terbilang mungil. Sayangnya, saya tidak bisa menjelajah lebih jauh akibat miskomunikasi antara panitia penyelenggara acara touring dengan penduduk setempat. Padahal salah satu episode yang saya nantikan ketika berkunjung ke Kenya adalah belajar dengan warga secara langsung.

Meski demikian, sekelumit informasi yang saya dapat sangat berkesan. Pulau ini merupakan pulau dampingan PBB dalam pengentasan kemiskinan, khususnya pemberdayaan perempuan. Selain itu, PBB melalui UNDP mengadakan program konservasi lingkungan. Wasini merupakan pulau dengan keragaman koral, spesies ikan, dan penyu. Tercatat ada 65 jenis koral, 25 spesies ikan, dan 5 penyu. Keindahan itu terancam akibat eksploitasi berlebihan.

Saya tidak tahu apakah menyebut Wasini sebagai pulau terisolir itu tepat. Yang jelas untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu khusus. Sekitar 15 menit perjalanan air dari pelabuhan Shimoni. Saya langsung disambut dengan gugusan pohon baobab, pohon yang pertama kali saya lihat di film ‘Lion King’.

Ketika menyentuh pasir pantai beberapa warga langsung menawari ikan. Penduduk Wasini memang sebagian bekerja sebagai nelayan. Namun rombongan kami memiliki tujuan untuk menuju ke tempat yang kami sama sekali tidak diberitahu. Kami hanya menelusuri perkampungan yang rumahnya tersusun dari bebatuan karang. Atapnya menggunakan sebagian seng dan rumbia. Jalanan yang cukup kecil dilapisi dengan bebatuan.

“Wah, indahnya,” begitu seru salah satu rombongan melihat hambaran tanah lapang dengan susunan batu yang begitu rapi. Konon, batu-batu itu memang tersusun seperti itu. Jika sedang pasang, lokasi yang kami lihat sebagian akan tenggelam. Saya langsung ingin mengabadikan pemandangan itu.

“Stop, stop!” teriak salah seorang dari jarak yang sangat dekat. Ia menjelaskan bahwa kawasan itu tidak boleh difoto. Kami tanya mengapa? Ternyata kami belum membayar ‘tiket’ masuk ke pulau ini. Sehingga kami tidak berhak mengakses apapun. Agenda ‘belajar’ pada perempuan Wasini pun belum diagendakan sama sekali.

Kami pun tak bisa berlama-lama karena hari semakin gelap. Dengan membawa kekecewaan, kami berjalan gontai untuk kembali ke pelabuhan. Di salah satu sudut jalan kami menemukan lokasi pemakaman. Kami bertanya, makam siapa ini? Makam-makam yang kami lihat seperti makam muslim di Indonesia. Insting sarkub pun muncul. Apalagi saat pemandu kami menjelaskan bahwa makam itu adalah  makam ‘sesepuh’  yang cukup dihormati. Beberapa peserta touring pun langsung bersila dan membacakan tahlil.

Setelahnya kami melewati sebuah masjid yang usianya cukup tua. Di sana tertulis tahun 1701. Menurut cerita masjid itu termasuk masjid tertua di Kenya. Dibangun oleh para ‘wali’ yang menyebar Islam di kawasan Afrika Timur. Beberapa mendiami pulau Wasini yang keturunannya beranak pinak hingga hari ini.

Di sebelah masjid terlihat tiga pria dewasa sedang nongkrong. Entah mengapa saya melihat pandangan yang kurang bersahabat. Kami pun mengucapkan salam, ‘Assalamualaikum.’ Ajaib, raut wajah ketiganya berubah menjadi sangat hangat, bahkan memanggil kami untuk mendekat.
“Kalian muslim?”

“Iya, benar.”

“Selamat datang di kampung kami, saudara. Kalian berasal dari mana?”

“Indonesia”

“Wah, jauh sekali, ya. Saya sangat suka dengan Indonesia.”

“Anda pernah berada di sana?”

“Belum. Tapi saya ingin sekali mengunjungi Indonesia.”

Percakapan kami mengalir. Bahkan si bapak secara suka rela berkisah tenyang pulau Wasini, tentang masjid tertua, tentang makam pendiri yang dimakamkan di pohon baobab tertua di sana. “Silakan kalau mau berziarah makam berada di sana,” ujarnya sembari menunjuk satu lokasi.

Sementara itu pemandu kami sudah berkali-kali melihat jam. Langit pun semakin gelap. Ia memberi kode agar kami segera naik kapal. Saya dan beberapa anggota rombongan pun undur diri dan ‘mengajak’ mereka untuk mengunjungi Indonesia satu hari nanti.

“Come on.”

“Wait, for minutes.”

Kami berdiri di depan pemakaman yang dikelilingi pagar. Saya lupa namanya, yang jelas waktu itu kami mengirimkan Al-Fatihah kepada sang ‘penemu’ pulau itu. Setelah selesai kami langsung menuju kapal. Beberapa rombongan yang lebih dahulu ‘memarahi’ kami karena terlalu lama.

Ya, sedikit dimarahi tidak apa-apa. Karena justru percakapan singkat itu yang membuat saya terkesan dengan pulau ini. Rasa kangen saya untuk tahlilan dan mengirim doa di makam bisa tersalurkan saat hari terakhir kunjungan di Kenya.

 

Yogyakarta, 25 Maret 2021.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved