Connect with us

Feature

Inspirasi Gerakan #SalingJaga di Jawa Timur, Ketika Lintas Iman Bergandengan Tangan Membantu Korban Covid-19

Published

on


Jika tidak ada virus Covid-19 barangkali Cahyono sudah bisa membelikan sepatu buat anaknya ketika masuk sekolah. Tapi, bagaimana bisa membeli sepatu baru, untuk makan sehari-hari saja ia harus memutar otak lebih keras lagi. Sejak 6 bulan lalu, bakso tusuk yang biasa ia jajakan di depan salah satu sekolah di Jakarta Timur tutup. Sekolah diliburkan, pandemi membuat segala rencananya kisut. Tidak ada lagi anak-anak yang berjejalan, merajuk dan berebutan jajanan dalam gerobak warna biru muda yang selama dua tahun terakhir membuatnya berani menyewa rumah petakan ukuran 3×8, sebuah tempat tinggal yang bagi Cahyono sudah cukup layak untuk keluarga kecilnya.

“Memang kondisinya lagi sulit, Mas. Ditambah lagi Corona,” tuturnya. “Untung 25 ribu perhari saja sekarang sudah Alhamdulillah,” imbuhnya seraya memasukkan 10 biji bakso tusuk ke dalam plastik kecil berwarna terang setelah dibumbui saos dan sedikit sambal.

Saya duduk di samping gerobak motor miliknya. Ia bercerita, sebelum pandemi, paling tidak ia masih bisa mengantongi 100 ribu hingga 125 ribu per hari, tapi sejak bulan Maret segalanya terjun bebas. Ia pun kebingungan dan sempat pulang kampung.

“Ternyata, masih banyak orang baik di sekitar kita ya. Saya juga dapat bingkisan. Yang paling bagus itu itu dari Pak Gus Dur,” tambahnya.

Cahyono menyebut ‘Pak Gus Dur’ sembari tersenyum. Kami tertawa.  Hari itu, saya menyaksikan dari dekat perjuangan seorang bapak yang dengan tulus tetap bekerja di tengah virus yang bisa kapan saja menyerangnya. Harapannya cukup sederhana: ia bisa bertahan dan virus segera pergi agar ia bisa bekerja seperti biasanya.  Dan ia tidak sendiri.

Ada jutaan orang lain di negeri ini yang mengalami keadaan nyaris serupa; modyar dalam pendapatan, rentan dalam kesehatan. Dua perkara itu adalah tanda hanya sepersekian jengkal saja dari jurang bernama kematian. Tapi, sekali lagi, untung saja masih ada orang-orang baik.

Berjarak 771,8 Kilometer dari tempat kami bercakap-cakap, tepatnya di kota Surabaya, Jawa Timur, Yuska Harimurti (45 th) sedang memilah-milah kira-kira siapa yang cocok diberi bantuan. Badannya gempal, perawakannya menggemaskan, rambutnya tipis dan tertutup oleh peci hitam yang seolah selalu lekat di kepalanya, tubuhnya terbalut rompi berwarna coklat dengan bertuliskan GUSDURian.

Yuska adalah seorang muslim dan aktif di Jaringan GUSDURians. Lembaga ini adalah organisasi yang menaungi komunitas-komunitas dan individu yang terinspirasi dari almarhum Presiden Keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan melakukan banyak sekali kerja-kerja kemanusiaan dengan menggunakan prinsip-prinsip yang diajarkan Gus Dur seperti keadilan, kesetaraan dan lain-lain. Yuska adalah salah satu koordinator di Komunitas Gusdurian di Jawa Timur  atau yang biasa dikenal dengan Gerakan GUSDURian Suroboyo (Gerdu Suroboyo).

Yuska Harimurti (berbaju biru) ketika memberikan bantuan ke warga yang terdampak covid di Surabaya

Di komunitas ini pula, Yuska bersama teman-temannya di Gerdu Suroboyo biasa berkolaborasi dengan komunitas lintas Iman, suku dan organisasi-organisasi di kota pahlawan itu guna menebarkan toleransi dan menolak segala hal provokasi yang kerap memakai agama sebagai bahan bakarnya.

Ia juga saat ini diberi amnah utuk memimpin Gerakan kemanusiaan GUSDURIAN Peduli di Surabaya dan menjadikannya sebagai salah satu posko #SalingJaga Ketika Covid-19 yang paling aktif menyebarkan kebaikan dan bantuan kepada mereka yang terdampak secara langsung pandemi ini.

Agama adalah kekuatan untuk Berbagi

Yuska pun mengisahkan bagaimana Gerakan kemanusiaan GUSDURIan Peduli mendapatkan sambutan yang luar biasa Ketika pertama kali mengumumkan akan membuat gerakan kemanusiaan mereka yang terdampak Covid-19. Katanya, ada banyak sekali orang ingin berbagi, tapi terkadang tidak tahu caranya. Ada juga yang sudah tahu caranya, tapi takut tidak bisa menyalurkan bantuannya dengan tepat. Namun, ada yang lebih nahas lagi, mereka yang hendak memberi bantuan jadi takut karena agamanya berbeda. Apakah agama justru menjadi penghalang ketika ingin berbuat kebaikan?

Hal itulah yang membuat Yuska terkadang tidak habis pikir. Padahal, harusnya, agama adalah inspirasi untuk berbuat kebaikan. Pandemi Covid-19 meluluhlantakkan kehidupan banyak orang dan agama bisa jadi inspirasi untuk saling bersama #SalingJaga dan membantu saudara-saudara kita yang kesusahan. Menurut Yuska, kerja-kerja lintas Iman, agama dan suku justru membuat gerakan kemanusiaan jadi kuat.

“Kerja-kerja gerakan lintas Iman lewat gerakan kemanusian GUSDURian Peduli Sangat siginifikan di kota kami. Ketika awal dikabari, respon dan kepedulian teman-teman ini luar biasa.   Mulai dari peminjaman tempat, pesan kepedulian di medsos. Tak lama, 1-2 hari setelah itu, bantuan datang ,” tuturnya berbinar mengingat teman-temannya.

Kelompok lintas iman ini, katanya, percaya kepada dirinya, komunitasnya dan mereka melakukan kerja-kerja kemanusiaan ini meskipun berbeda secara agama/kepercayaan. Terkadang, hal ini membuat terenyuh.

Kebaikan dan kolaborasi antar Iman ini datang dengan cepat. Tercatat, pada awal-awal  pandemi, bulan Maret 2020, Gerakan Lintas Iman GUSDURian Peduli di Jawa Timur sudah mendistribusikan 7.320 paket sembako dan dibagikan ke banyak sekali mereka yang terdampak, mulai dari pedagang asongan hingga ojek online. Kini, sudah ratusan ribu paket yang sudah terkirimkan dan terus bertambah.

“Trust (kepercayaan) yang membuat teman-teman lintas Iman begitu percaya pada Gerakan kemanusiaan. Apalagi, di GUSDURian peduli tidak hanya satu agama/suku saja. Di posko pun sama, ada teman-teman Tionghoa, katolik, kristen, bahkan kadang dari beda-beda Gereja. Dari Konghuchu, Budha juga ikut,” imbuhnya.

Yuska mengabari saya untuk berbincang dengan salah seorang sahabatnya bernama Richard Susanto. Richard adalah relawan dan kerap bersama Yuska ‘mblakrak’ keliling dan kolaborasi dengan lintas iman di Jawa Timur. Salah satunya ketika memberikan bantuan ke Pesantren di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

“Saya lagi bagi-bagi nasi bungkus, Mas,” jawabnya via pesan singkat.

Richard (50 th) adalah seorang Tionghoa dan aktif di Perhimpunan Tionghoa Indonesia (INTI) cabang Surabaya. Perawakannya tinggi, badannya sedikit kurus dan  berkacamata. Meski dihalangi kacamata, tampak sekali ia sosok yang jernih, sorot matanya teduh ketika melihat segala sesuatu, apalagi ia kerap menerbitkan senyum. Saya curiga, jangan-jangan, ia adalah sosok artis Andi Lau van Surabaya yang saya lihat di film-film mandarin yang saya nonton-nonton beberapa tahun lalu? Buru-buru saya menghilangkan imajinasi itu karena 16 jam usai Richard membalas pesan saya yang singkat itu, akhirnya kami saling bertukar pesan.

“Sejak awal kami punya komitmen bekerjasama dengan Kelompok Gusdurian ini (meskipun berbeda kepercayaan dengan kami-red). Kami melihat bahwa teman-teman ini menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, tanpa membeda-bedakan,” katanya.

Ketika lintas iman ikut bergandengan tangan. Ini salah satu buktinya di Surabaya, ketika berbagi dari Vihara (Sumber Foto: FB Yuska)

Nilai kemanusiaan yang dikatakan Richard membuat kita bertanya, apakah agama bisa jadi inspirasi untuk saling berkolaborasi dalam kebaikan? Apalagi, tampaknya, Covid-19 seperti jaring erat yang membuat masyarakat seperti sukar untuk keluar dari jerat kemiskinan ini. Sedang kan vaksin, anda tahu, masih begitu jauh untuk direngkuh.

Kolaborasi ini, seperti kata Richard, adalah sesuatu yang sangat bagus dan mampu membuat gerakan kemanusiaan jadi besar. Bahkan, jika ada yang gerak an serupa seperti GUSDURian peduli dan melibatkan lintas iman, organisasi, suku bahkan agama, ia tidak segan untuk ikut di dalamnya. “Pasti saya akan bergabung dan akan mengajak komunitas/kelompok-kelompok lain nya,” tutupnya.

Saat ini sendiri, sebagai contoh, lewat gerakan gerakan #SalingJaga GUSDURian Peduli yang kolaborasi dengan Gerakan Islam Cinta sudah menghimpun donasi dari publik dengan jumlah yang cukup besar. Tercatat di platform kitabisa.com gerakan yang didukung oleh lintas iman, suku, agama dan profesi ini telah berhasil menghimpun dana Rp 5.828.182.426 (Lima Milyar delapan ratus juta dua ratus delapan juta serratus delapan pulah dua ribu rupiah) yang berhasil dikumpulkan dari sebanyak 37494 donatur secara daring sejak Maret.  

Angka donasi itu memang terus naik, dukungan senantiasa mengalir dan sepertinya tampak kian membesar. Tapi jika dibandingkan dengan angka kemiskinan yang kian merangsek, pengangguran yang terus bertambah dan korban berjatihan akibat virus yang seolah enggan ber henti ini, jumlah itu tentu saja masih belum memadai. Butuh lebih banyak lagi, lagi dan lagi.

“Pengangguran karena COVID-19 saja sudah mencapai 2,56 juta orang,” tutur Suharso Monoarfa, kepala Bappenas, akhir tahun 2020 kemarin.  

Meski begitu, gerakan ini tidak akan berhenti dan terus menghimpun diri, menggandeng mereka-mereka yang peduli, apa pun agama, suku maupun pilihan politiknya. Saat ini saja, sudah ada ribuan relawan yang tergabung, 67 posko GUSDURian peduli juga tersebar di pelbagai kota di seluruh Indonesia, termasuk di luar negeri, dan sudah ribuan paket donasi diberikan untuk mereka yang terdampak pandemi secara langsung.

Kebaikan itu Menular

Yuska kerap menitikkan air mata ketika melihat kebaikan teman-temannya ini untuk menolong orang, sekalipun kepada mereka yang berbeda. Ia kerap mencontohkan, di Jawa Timur ketika akan mendistribuskan bantuan donasi, mobil-mobil yang dipakai  berasal dari teman-teman Tionghoa. Untuk tempat, tak jarang juga dari Kristen, Budha dan lain-lain. Begitu pula sebaliknya.

Semuanya seolah jadi satu, bekerja bersama untuk #SalingJaga tanpa ada saling curiga. Semua atas satu kata: kemanusiaan.

“Mereka ini, para teman-teman lintas Iman ini, percaya kepada kami. Padahal kami muslim. Apa tidak ada prasangka? Tidak. Penghormatan mereka kepada Gus Dur juga dahsyat,” papar Yuska.

Ingatan Yuska terbentang kepada sosok Gus Dur. Jika tidak karena beliau, mungkin ia tidak akan tahu bagaimana kebaikan manusia dan agama-agama ternyata bisa menjadi inspirasi di dalamnya. Perkenalannya dengan lintas iman selama ini, pergumulan Yuska dengan GUSDURian Peduli dengan pelbagai donasi ini, telah mengingatkannya akan petuah lawas sosok yang dikaguminya itu.

“Tidak penting apa pun Agama atau Sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu,” kata Gus Dur.

Bagi Yuska, Richard dan semua relawan dalam gerakan kemanusiaan lintas Iman di GUSDURian peduli ini, kebaikan itu justru dari lahir agama,  meskipun agama itu kerap berbeda dari kita. Kebaikan ini senantiasa  menular dan agama bisa dijadikan inspirasi untuk terus berbuat kebaikan.[]

 

*Artikel ini hasil kerjasama Islami.co dan PUSAD Paramadina. 



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Feature

Toleransi di Pulau Buru Kepri: Islam dan Konghucu Bahu Membahu Bersatu

Published

on

By


Pulau Buru merupakan pulau kecil yang terletak di Kepri (Kepulauan Riau), dekat dengan Batam. Jarak tempuh naik kapal ferri dari Batam ke Pulau Buru sekitar 3 jam. Tidak lantas sampai, perlu transit terlebih dahulu di Tanjung Balai Karimun. Dilanjutkan dengan naik kapal kecil menuju Pulau Buru. dibutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke pulau ini.

Ada sesuatu yang menarik ketika berbicara tentang daerah-daerah di Kepulauan Riau, salah satunya Pulau Buru. Penduduk Pulau Buru menganut dua agama, yaitu Islam dan Konghucu. Masyarakat yang beragama Islam di Pulau Buru menganut kebudayaan Melayu, sedangkan agama Konghucu masih tetap konsisten dengan kebudayaannya.

Dua agama ini bagaikan dua jendela yang saling berdampingan, dan dilestarikan sejak dulu oleh masyarakat terdahulu. Selama ini tidak pernah ada konflik atau bom bunuh diri yang menerpa. Semuanya terlihat aman, nyaman, tentram, dan damai. Mereka saling membutuhkan satu sama lain, masyarakat Islam membutuhkan orang-orang Konghucu karena mereka memiliki warung atau kedai yang menyedikan bahan pokok pangan sehari-hari.

Baca juga: Raja Aisyah binti Sulaiman Menunjukkan Fakta, Perempuan Bisa Jadi Apa Saja

Sedangkan orang-orang Konghucu membutuhkan muslim karena kepandaiannya membuat masakan. Sehingga tidak ada lagi sekat jasmani antar dua agama di Pulau Buru. Walaupun demikian, batin muslim di Pulau Buru tetap pada keyakinnya yaitu Iman dan Takwa kepada Allah Saw. Begitu pula orang-orang Konghucu, dalam beribadah mereka tidak pernah mengusik satu sama lain.

Kedua pemeluk agama tersebut bukan hanya memiliki persamaan dalam dunia perdagangan saja, namun juga berkebun, nelayan, serta berternak. Mereka saling bahu membahu membentuk rotasi kehidupan, tidak ada yang membuat keributan dengan mengatas namakan agama “Jihad Fi Sabilillah”. Guru-guru di sekolah pun tidak perlu bersusah payah memberikan pemahaman atau wawasan toleransi pada siswa siswi, karena mereka sudah menanamkannya.

Secara teori, sikap toleransi diartikan sebagai sikap saling menghargai setiap perbedaan, baik dalam bidang keagamaan, sosial, ekonomi, atau kebudayaan. Sikap toleransi tersebut sudah ditanamkan pada masyarakat Pulau Buru pada jenjang pendidikan. Mereka sudah terbiasa dalam menghargai dan menghormati antar perbedaan agama, ras, dan suku.

Baca juga: Hak Sipil Kaum Minoritas: Sebuah Renungan

Dengan hal ini, sikap toleransi merupakan etika menghormati berbagai perbedaan yang ada di dalam lingkungan sekitar. Dengan sikap toleransi, rasa kasih sayang dan saling membantu akan tumbuh antar sesama manusia. Walaupun adanya perbedaan ras, suku, agama, kulit, dan lain sebagainya. Seperti yang diterapkan di Pulau Buru ini, walaupun kecil tetapi jiwa akan menghargai setiap perbedaan mereka junjung tinggi. Karena mereka tahu, bahwa kenyamanan itu memiliki lingkungan yang damai. (AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Ngobrol dengan Frater Katolik: Bom Makasar Momentum untuk Memperkuat Toleransi Kita

Published

on

By


Suatu sore selepas pristiwa bom di Makasar, lini masa Twitter saya riuh. Ada akun anonim yang menganggap bahwa kekerasan seperti itu adalah ajaran Islam yang sebenarnya, sembari melampirkan tangkapan layar suatu ayat Al-Quran beserta terjemahannya.

Saya baca, cuplikan ayat tersebut memang menyebutkan peperangan dan semacamnya. Namun tunggu dulu, ayat tersebut tidak serta merta bisa dipahami hanya dengan membaca terjemahannya, bukan? Ada asbabun nuzul, ada konteks dan peristiwa yang mengiringi turunnya ayat itu.

Beberapa akun lain pun mencoba menjelaskan maksud ayat itu. Namun tetap saja. Akun anonim ini mental, sedikitpun tidak mau menerima penjelasan. Dari profilnya, saya tidak melihat afiliasi apapun dari akun tak dikenal itu. Tidak ada agama, afiliasi politik atau semacamnya.

Walau demikian, celotehan akun ini membuat kepala saya melayang, membayangkan bagaimana perasaan umat agama lain yang membaca ayat dan terjemahan Al-Quran itu secara mentah-mentah, ditambah kejadian-kejadian terorisme atas nama agama yang berulang mendera mereka. Apalagi jika mereka sama sekali tidak memiliki teman dekat atau tetangga muslim yang baik dan berempati kepada mereka. Mungkin ini lah benih-benih islamophobia berawal. Saya pun akhirnya memahami presepsi orang-orang di luar sana tentang muslim. Orang-orang yang mendengar teriakan-teriakan ‘kafir’, ‘halal darahnya’, dan semacamnya dari ‘Toa’ ustadz serampangan yang mendengung ke arah rumah mereka.

Baca juga: Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar dan Sentimen Keagamaan yang Menyelimutinya

Mereka mungkin akan bertanya-tanya, “Katanya “Islam itu rahmat, mengasihi, menyangi’, lalu mereka ini Islam yang mana?” Jika mereka bertanya demikian, bagaimana jadinya toleransi kita?

Saya buru-buru mengirim pesan instan ke kolega saya, seorang frater Katolik yang tempo hari magang di kantor saya, Amadea namanya. Ia juga beberapa kali menulis di Islamidotco. “Bung, hari Kamis besok, kosong?” Tak lama, sang frater membalas, “Kalau sore ada ibadah, bung.”

Saya paham maksudnya. Sebagai seorang frater, pekerjaan utamanya adalah melayani umatnya. Apalagi hari itu adalah salah satu di antara hari-hari penting, yaitu hari Tri Suci. Dia pasti akan sibuk hingga hari Minggunya.

Baca juga: Bom Bunuh Diri Makassar Adalah Bukti Tidak Seimbangnya Ilmu dan Cinta

Jadwal pun kita sepakati bersama, hari Kamis siang, sebelum ia melaksanakan ibadahnya. Saya merasa penting untuk ngobrol dengannya. Saya penasaran dengan perasaannya setelah kejadian bom di Makasar, apalagi pristiwa keji itu berlangsung menjelang hari-hari suci bagi mereka. Saya khawatir mereka tidak nyaman dan tidak merasa aman saat beribadah.

“Bagaimana kabarnya, bung? Sehat dan Aman?” Itu lah pertanyaan awal saya saat memulai percakapan pada waktu yang telah kami sepakati.

“Puji Tuhan, bung, semuanya aman,” jawabnya.

Saya yakin, walaupun ia berkata demikian. Ia pasti memiliki kekhawatiran. Amadea pun mengakui itu. Pada awalnya ia merasa khawatir dengan situasi saat itu. Namun kekhawatiran itu mulai memudar saat melihat banyak dukungan dari berbagai kalangan untuk umat Kristiani, termasuk dari umat muslim.

Amadea juga terharu dengan ungkapan yang disampaikan oleh Mentri Agama Yaqut Cholil Qaumas saat menemui uskup agung selepas kejadian di Makasar.

Kami bersama umat Katolik, kami bersama umat Kristiani, jangan takut!” ungkap Amadea menirukan kata-kata Gus Menteri. Kalimat itu lah yang membuatnya terharu, bahwa ia sebagai umat Kristiani tidak lah sendiri. Semua kelompok berbondong-bondong mendukung dan menguatkannya.

Hal ini lah yang membuatnya sadar dan membuang jauh-jauh kekhawatiran yang hinggap di benak kepalanya. Rasanya tidak ada gunanya khawatir jika semua saudara sebangsa mendukung dan menguatkan. Baginya, ini menjadi sebuah momentum dan harapan untuk menguatkan toleransi kita.

“Khawatir pasti ada, bung. Namun yang paling penting untuk disorot adalah harapan kita,” ungkap alumni STF Driyakara Jakarta ini.

Mendengar jawaban itu saya sedikit tenang. Namun saya merasa perlu mengeluarkan pertanyaan yang lebih penting, yaitu: Bagaimana presepsinya kepada muslim setelah kejadian bom di Makasar? Karena saya yakin, kejadian ini bukan pertama kalinya bagi umat Kristiani. Mereka telah mengalami ancaman bom berkali-kali. Justru saya khawatir, kejadian ini meneguhkan sebagian umat agama lain bahwa muslim memang benar-benar kejam.

Amadea menjawabnya dengan jawaban yang menarik. Ia meyakini bahwa banyak orang yang mulai kritis dan tidak asal menggeneralisir. Menurutnya, memang ada kelompok teroris yang mengaitkan diri mereka dengan Islam. Namun, ia meyakini bahwa kekerasan, bom dan sebagainya bukanlah ajaran Islam yang sebenarnya. Pasalnya ia bertemu dengan banyak muslim yang tidak seperti pelaku teroris itu. Pangalamannya berinteraksi dengan  saya dan teman-teman muslim saya yang lain nampaknya mempengaruhi itu.

Ia membuktikan bahwa saat ada pristiwa bom, misalnya. Umat muslim berbondong-bondong mendukung dan simpati dengan para korban. Berbeda jika umat Muslim malah lebih banyak mendukung pelaku pengeboman.

“Itu lah yang membuat saya yakin,” tuturnya.

Dengan pristiwa ini, menurut Amadea, kita semakin menguatkan toleransi kita, bukan hanya sesama umat Kristiani, tetapi juga dengan umat agama lain, termasuk umat muslim.

“Bagi saya justru masa depan toleransi ini semakin cerah. PR kita bagaimana agar kejadian ini tidak terulang kembali,” harap Amadea.

Saya juga meminta kepada Amadea agar menceritakan pengalamannya saat berinteraksi dengan kita kepada teman-teman Kristiani yang lain. Lebih-lebih kepada saudara-saudara Kristiani dan juga umat agama lain yang sama sekali belum pernah berinteraksi dengan muslim. Agar kekhawatiran dan ketakutan mereka dengan stigma muslim bisa direduksi. (AN)





Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Satu Hari di Wasini, Kenya, Penduduk yang Ingin Mengunjungi Indonesia

Published

on

By


Saya tiba-tiba teringat tentang Wasini, sebuah pulau kecil di Kenya, Afrika Timur. Pulau tersebut terletak di tengah laut yang bisa dijangkau dari pelabuhan dekat desa Shimoni. Kunjungan saya dan rombongan saat itu untuk menghabiskan senja setelah seharian melakukan study tour di goa ‘Slavery’ Shimoni, goa yang digunakan kesultanan Oman dan penjajah Inggris untuk mengurung warga Kenya yang akan diperbudak.

Dihuni oleh sekitar 2000 orang, pulau ini memang terbilang mungil. Sayangnya, saya tidak bisa menjelajah lebih jauh akibat miskomunikasi antara panitia penyelenggara acara touring dengan penduduk setempat. Padahal salah satu episode yang saya nantikan ketika berkunjung ke Kenya adalah belajar dengan warga secara langsung.

Meski demikian, sekelumit informasi yang saya dapat sangat berkesan. Pulau ini merupakan pulau dampingan PBB dalam pengentasan kemiskinan, khususnya pemberdayaan perempuan. Selain itu, PBB melalui UNDP mengadakan program konservasi lingkungan. Wasini merupakan pulau dengan keragaman koral, spesies ikan, dan penyu. Tercatat ada 65 jenis koral, 25 spesies ikan, dan 5 penyu. Keindahan itu terancam akibat eksploitasi berlebihan.

Saya tidak tahu apakah menyebut Wasini sebagai pulau terisolir itu tepat. Yang jelas untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu khusus. Sekitar 15 menit perjalanan air dari pelabuhan Shimoni. Saya langsung disambut dengan gugusan pohon baobab, pohon yang pertama kali saya lihat di film ‘Lion King’.

Ketika menyentuh pasir pantai beberapa warga langsung menawari ikan. Penduduk Wasini memang sebagian bekerja sebagai nelayan. Namun rombongan kami memiliki tujuan untuk menuju ke tempat yang kami sama sekali tidak diberitahu. Kami hanya menelusuri perkampungan yang rumahnya tersusun dari bebatuan karang. Atapnya menggunakan sebagian seng dan rumbia. Jalanan yang cukup kecil dilapisi dengan bebatuan.

“Wah, indahnya,” begitu seru salah satu rombongan melihat hambaran tanah lapang dengan susunan batu yang begitu rapi. Konon, batu-batu itu memang tersusun seperti itu. Jika sedang pasang, lokasi yang kami lihat sebagian akan tenggelam. Saya langsung ingin mengabadikan pemandangan itu.

“Stop, stop!” teriak salah seorang dari jarak yang sangat dekat. Ia menjelaskan bahwa kawasan itu tidak boleh difoto. Kami tanya mengapa? Ternyata kami belum membayar ‘tiket’ masuk ke pulau ini. Sehingga kami tidak berhak mengakses apapun. Agenda ‘belajar’ pada perempuan Wasini pun belum diagendakan sama sekali.

Kami pun tak bisa berlama-lama karena hari semakin gelap. Dengan membawa kekecewaan, kami berjalan gontai untuk kembali ke pelabuhan. Di salah satu sudut jalan kami menemukan lokasi pemakaman. Kami bertanya, makam siapa ini? Makam-makam yang kami lihat seperti makam muslim di Indonesia. Insting sarkub pun muncul. Apalagi saat pemandu kami menjelaskan bahwa makam itu adalah  makam ‘sesepuh’  yang cukup dihormati. Beberapa peserta touring pun langsung bersila dan membacakan tahlil.

Setelahnya kami melewati sebuah masjid yang usianya cukup tua. Di sana tertulis tahun 1701. Menurut cerita masjid itu termasuk masjid tertua di Kenya. Dibangun oleh para ‘wali’ yang menyebar Islam di kawasan Afrika Timur. Beberapa mendiami pulau Wasini yang keturunannya beranak pinak hingga hari ini.

Di sebelah masjid terlihat tiga pria dewasa sedang nongkrong. Entah mengapa saya melihat pandangan yang kurang bersahabat. Kami pun mengucapkan salam, ‘Assalamualaikum.’ Ajaib, raut wajah ketiganya berubah menjadi sangat hangat, bahkan memanggil kami untuk mendekat.
“Kalian muslim?”

“Iya, benar.”

“Selamat datang di kampung kami, saudara. Kalian berasal dari mana?”

“Indonesia”

“Wah, jauh sekali, ya. Saya sangat suka dengan Indonesia.”

“Anda pernah berada di sana?”

“Belum. Tapi saya ingin sekali mengunjungi Indonesia.”

Percakapan kami mengalir. Bahkan si bapak secara suka rela berkisah tenyang pulau Wasini, tentang masjid tertua, tentang makam pendiri yang dimakamkan di pohon baobab tertua di sana. “Silakan kalau mau berziarah makam berada di sana,” ujarnya sembari menunjuk satu lokasi.

Sementara itu pemandu kami sudah berkali-kali melihat jam. Langit pun semakin gelap. Ia memberi kode agar kami segera naik kapal. Saya dan beberapa anggota rombongan pun undur diri dan ‘mengajak’ mereka untuk mengunjungi Indonesia satu hari nanti.

“Come on.”

“Wait, for minutes.”

Kami berdiri di depan pemakaman yang dikelilingi pagar. Saya lupa namanya, yang jelas waktu itu kami mengirimkan Al-Fatihah kepada sang ‘penemu’ pulau itu. Setelah selesai kami langsung menuju kapal. Beberapa rombongan yang lebih dahulu ‘memarahi’ kami karena terlalu lama.

Ya, sedikit dimarahi tidak apa-apa. Karena justru percakapan singkat itu yang membuat saya terkesan dengan pulau ini. Rasa kangen saya untuk tahlilan dan mengirim doa di makam bisa tersalurkan saat hari terakhir kunjungan di Kenya.

 

Yogyakarta, 25 Maret 2021.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved