Connect with us

Feature

Aak Abdullah Al-Kudus dan Kemanusiaan bagi Warga Kristen Korban Terorisme

Published

on


Tengah hari tanggal 19 Desember 2020, pria tegap berambut gondrong itu memandang rumah kayu bercat putih di depannya. Sesekali ia menyentuh cat yang masih berumur beberapa hari, masih belum sepenuhnya kering. Aak Abdullah Al-Kudus, nama pria gondrong itu, menatap sejenak rumah yang berukuran hanya beberapa meter itu. Sejenak dia membayangkan peristiwa teror yang terjadi beberapa minggu sebelumnya.

Belum genap satu bulan sebelum kedatangan Aak, rumah bercat putih itu berwarna legam, rata dengan tanah akibat dibakar oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Ali Kalora. Rumah itu menjadi salah satu dari enam rumah yang dibakar pada tragedi berdarah 27 November 2020. Di rumah itu pula terjadi pembunuhan keji yang menewaskan Naka dan Pedi, si pemilik rumah dan dua warga lainnya, Yasa dan Pinu, yang semuanya beragama Kristen.

Dalam catatan perjalanan Aak di situs Gusdurian.net, Aak menceritakan dengan cukup detil bagaimana kelompok teroris biadab itu membantai empat warga desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah.

Rumah Naka dan Pedi menjadi tempat pertama yang disatroni oleh kelompok teroris. Setelah membantai keduanya dengan keji, para teroris merampok semua barang di dalam rumah dan kemudian membakar rumah tersebut. Setelah rumah terbakar, mereka beralih ke rumah di sebelah kirinya yang berjarak 50 meter, menuju rumah Yasa. Di situlah para teroris membantai Yasa dan Pinu, dua korban tewas lainnya, untuk kemudian merampok barang seisi rumah tanpa membakarnya. Membayangkannya saja, saya merinding. Apalagi bagi warga seisi desa yang menyaksikannya langsung. Teroris biadab itu berhasil menebar ketakutan warga yang akhirnya berlari ke segala penjuru meninggalkan desa.

Total terdapat delapan rumah di desa Lemban Tongoa yang dibakar. Dua di antaranya milik warga Muslim. Satu rumah merupakan pos pelayanan ibadah warga desa, yang diberitakan di banyak media sebagai gereja. Empat rumah di antaranya rata dengan tanah, menyisakan empat bangunan lain yang rusak sebagian.

Aak Abdullah Al-Kudus datang ke desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah dalam rangka menyalurkan bantuan dari Gusdurian Peduli yang ia pimpin. Gusdurian Peduli merupakan lembaga filantropi Jaringan Gusdurian yang sudah ia gerakkan sejak tahun 2014. Gusdurian Peduli adalah unit kerja Jaringan GUSDURian Indonesia yang lahir untuk melanjutkan nilai-nilai perjuangan almarhum Gus Dur di ranah kemanusiaan.

Bersama dua rekannya Yuska Harimurti dan Mukhibullah Ahmad, serta dengan jaringan luas komunitas Jaringan Gusdurian di berbagai penjuru Indonesia, Aak Abdullah Al-Kudus ikut menggawangi Gusdurian Peduli yang bertujuan untuk mengelola kerja-kerja Jaringan Gusdurian Indonesia di bidang tanggap bencana, pemberdayaan sosial dan ekonomi serta pengorganisasian relawan ke seluruh Indonesia.

Pernah Difatwa Sesat Karena Menanam

Aak Abdullah Al-Kudus lahir pada 12 Oktober 1974 di Klakah, sebuah dusun permai di kaki gunung Lemongan, Lumajang Jawa Timur. Ia adalah seorang muslim dan aktif di gerakan lingkungan. Sebelum terjun mengawal gerakan filantropi Gusdurian Peduli, Aak dikenal aktif bergerak melakukan konservasi dan penghijauan gunung Lemongan yang berdiri gagah di kampung halamannya.

Gunung Lemongan merupakan penyangga ekosistem di kabupaten Lumajang dan sekitarnya. Hutan di lereng gunung Lemongan menjamin aliran pasokan air bagi mata air di sekitarnya. Bukan hanya menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat Lumajang, gunung Lemongan juga menghidupi wilayah pegunungan di Kabupaten Probolinggo di lereng utara, yaitu Kecamatan Tiris dan Krucil.

Danau-danau di lereng Lamongan juga menjadi penyupali air di lahan-lahan pertanian. Ranu Lemongan yang dikenal pula dengan sebutan Ranu Klakah – kampung halaman Aak – selama ini mampu mengairi lahan pertanian seluas 650 hektare. Mata air di danau tersebut mampu mengalirkan berkubik-kubik air minum melalui pipa-pipa milik PDAM ke masyarakat yang ada di Kecamatan Klakah dan sekitarnya.

Akan tetapi, ekosistem gunung Lemongan terancam. Tidak kurang 6.000 hektare di kawasan hijau gunung Lemongan mengalami krisis. Kondisinya saat itu gundul dan kering kerontang. Bukit dan lereng hanya ditumbuhi ilalang bak padang savana. Kawasan hijau gunung Lemongan meranggas sejak tahun 2000an akibat aksi illegal logging.

Berangkat dari keprihatinannya atas gunung Lemongan yang kian kritis, Aak mendirikan Laskar Hijau, yang memberdayakan pemuda di sekitar dusunnya untuk menjaaga kelestarian gunung Lemongan. Aak memiliki inisiatif unik dalam melakukan gerakan penghijauan tersebut. Dia menggagas peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dia gabungkan dengan gerakan penghijauan menanam pohon. Dia menyebut peringatan tersebut dengan Maulid Hijau.

Gerakan konservasi yang ditekuni Aak bukan tanpa tantangan. Bahkan datang dari kaum agamawan salah satunya dari Majelis Ulama Indonesia Lumajang. MUI Lumajang pernah memfatwa Aak sesat, karena mengaitkan maulid Nabi dengan cara yang dianggap “aneh”. Namun Aak kukuh pada pendiriannya. Dia justru makin mantap untuk mewakafkan waktu dan tenaga yang dimiliki demi konservasi gunung Lemongan.

Upaya yang dia rintis dengan tulus mendapat penghargan dari banyak pihak. Antara lain, Aak pernah meraih gelar penghargaan dari Melalui Unit Kerja Presiden Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila di tahun 2017. Aak Abdullah Al Kudus menjadi salah satu peraih penghargaan dari 72 orang penerima penghargaan dari seluruh Indonesia. Nama Aak Abdullah Al-Kudus bersanding dengan Alan Budi Kusuma, peraih medali emas bulu tangkis Olimpiade Barcelona 1992 dan Lisa Rumbeiwas, atlet Angkat Besi peraih medali perak pada Olimpiade Athena Tahun 2004.

Belajar Kemanusiaan dari Warga Lemban Tongoa

Dari perjalanan di Sigi, Aak mengaku belajar banyak dari kerukunan warga Lembon Tongoa. Tragedi pembunuhan November lalu dihembuskan oleh beberapa pihak sebagai konflik horizontal antar warga yang berbeda agama.

“Apa benar yang terjadi ini adalah perang antara Kristen dan Islam?” tanya Aak kepada kepala desa Lemban Tongoa di tengah perjalanannya di Sigi.

“Pak Kades langsung duduk tegak begitu saya tanya,” cerita Aak.

Dengan nada terkejut Pak Kades membantah,“Tidak benar itu!”

Dari informasi Kepala Desa Aak bercerita, sejak desa Lemban Tongoa ini ada, warga di sana hidup rukun. Tidak ada permusuhan karena agama. Warga hidup rukun tanpa memandang latar belakang suku dan agama.

“Dari Pak Kades pula, saya tahu kalau wilayah ini merupakan daerah transmigrasi pada tahun 1983. Sejak saat itu belum pernah sekalipun terjadi pertengkaran apalagi sampai berujung pembunuhan akibat agama maupun suku. Meskipun perbandingan antara umat Islam dan umat lainnya mencapai 40-60 persen, tapi warganya bisa hidup rukun,” papar Aak.

Di desa Lemban Tongoa terdapat banyak suku. Yang paling banyak dari suku Kaili khususnya dari sub etnis Kaili Da’a. Ada juga dari suku Kulawi, Toraja, Bugis, dan Jawa. Ketika aksi teror pembunuhan dan pembakaran terjadi pada 27 November 2020 di Dusun Lewono, semua warga naik semua ke lokasi kejadian untuk memberikan bantuan.

Solidaritas warga desa melampaui sekat agama dan kepercayaan. Aak mengingat lagi betapa warga Lemban Tongoa bergotong royong di tengah duka dan ketakutan mendalam akibat serangan

Rumah korban Pedi yang dibangun ulang. Pict by GUSDURian Peduli

teror itu.

“Bahkan saat pemakaman empat korban yang semuanya Kristen, yang menggali kuburannya adalah warga Muslim. Begitu pun ketika memasak untuk peristiwa duka ini, antara umat dari berbagai suku dan agama saling membantu.”

Situasi trauma yang menghantui berdampak pada kesejahteraan warga. Aak mengisahkan, Sejak 2017 warga di desa ini sering mengalami gangguan. Beberapa warga pernah disandera, perampokan berupa barang juga sering dilakukan oleh kelompok teroris. Kejadian 27 November 2020 itu saja yang berujung pada pembunuhan.

Menurut penelitian dari Mosintuwu Institute, pada tahun 2020 saja, kelompok teroris MIT telah merenggut sebelas nyawa warga di wilayah Sigi dan Poso, Sulawesi Tengah. Para teroris itu membunuh tidak pandang agama korbannya. Satu yang bisa dipastikan, kebanyakan dari korban kebiadaban teroris MIT berlatarbelakang petani yang memanfaatkan lahan di pinggiran hutan tempat teroris bersembunyi. Tak ayal, petani diliputi rasa khawatir akan terjadi aksi teror susulan yang sewaktu-waktu bisa mengancam nyawa mereka.

“Bahkan kebun jagung yang sudah siap panen dibiarkan terbengkalai begitu saja. Beberapa ada yang berani untuk memanen tapi mereka minta ditemani anggota Brimob yang bertugas.” Ungkap Aak.

Di tengah ketakutan warga itulah Aak terjun membawa bantuan dari Gusdurian Peduli. GUSDURian Peduli memberikan bantuan berupa 200 paket sembako berisi 5 kg beras, 2 kg gula, minyak goreng 2 liter, kecap, garam, sabun, dan masker. Atas masukan warga, Aak dan Gusdurian Peduli juga berupaya menyediakan jaringan internet di tiga titik, yaitu di Dusun Lewono, Dusun Tokelemo, dan di Balai Desa Lemban Tongoa.

Internet menjadi kebutuhan penting bagi warga desa yang letaknya terpencil ini. Ketiadaan internet membuat akses informasi dari dan ke luar desa ini terhambat. Persitiwa berdarah pada November lalu juga terlambat diantisipasi karena tidak adanya arus informasi yang cepat sampai kepada anggota Brimob dari Satgas Tinombala yang bertugas.

“Kalau saja kami segera tahu kejadian tersebut, mungkin kami masih bisa kejar teroris itu,” Sebagaimana dituturkan pimpinan prajurit di pos tersebut kepada Aak selama misi kemanusiaannya di Sigi.

Bagi Aak, perjalanannya ke Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah bukan sekadar mengantarkan bantuan dari para dermawan melalui Gusdurian Peduli. Melampaui itu, perjalanan ini adalah solidaritas kemanusiaan untuk melanjutkan inspirasi kemanusiaan yang telah diteladankan oleh Gus Dur. Mereka yang bukan saudara kita dalam keagamaan, hakikatnya adalah saudara kita dalam kemanusiaan. Terlebih sebagai seorang Muslim, Aak mantap menjalani peran sebagai Muslim untuk menebar kasih sayang bagi seluruh manusia tanpa terkecuali.

Bertepatan dengan Natal tahun 2020 lalu, Aak kembali mengenang rumah kayu sederhana bercat putih milik almarhum Naka dan Pedi, menghadirkan lagi keramahan seluruh penduduk Lemban Tongoa di ingatannya.

“Andai saja saya bisa menghubungi mereka melalui panggilan video, saya akan mengucapkan Selamat Natal bagi semua penduduk Kristiani di sana. Semoga saja saya bisa ke sana untuk mengirim hadiah Natal satu hari nanti,” pungkasnya.

___

Artikel ini kerjasama antara Islami.co dan PUSAD Paramadina



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Feature

Toleransi di Pulau Buru Kepri: Islam dan Konghucu Bahu Membahu Bersatu

Published

on

By


Pulau Buru merupakan pulau kecil yang terletak di Kepri (Kepulauan Riau), dekat dengan Batam. Jarak tempuh naik kapal ferri dari Batam ke Pulau Buru sekitar 3 jam. Tidak lantas sampai, perlu transit terlebih dahulu di Tanjung Balai Karimun. Dilanjutkan dengan naik kapal kecil menuju Pulau Buru. dibutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke pulau ini.

Ada sesuatu yang menarik ketika berbicara tentang daerah-daerah di Kepulauan Riau, salah satunya Pulau Buru. Penduduk Pulau Buru menganut dua agama, yaitu Islam dan Konghucu. Masyarakat yang beragama Islam di Pulau Buru menganut kebudayaan Melayu, sedangkan agama Konghucu masih tetap konsisten dengan kebudayaannya.

Dua agama ini bagaikan dua jendela yang saling berdampingan, dan dilestarikan sejak dulu oleh masyarakat terdahulu. Selama ini tidak pernah ada konflik atau bom bunuh diri yang menerpa. Semuanya terlihat aman, nyaman, tentram, dan damai. Mereka saling membutuhkan satu sama lain, masyarakat Islam membutuhkan orang-orang Konghucu karena mereka memiliki warung atau kedai yang menyedikan bahan pokok pangan sehari-hari.

Baca juga: Raja Aisyah binti Sulaiman Menunjukkan Fakta, Perempuan Bisa Jadi Apa Saja

Sedangkan orang-orang Konghucu membutuhkan muslim karena kepandaiannya membuat masakan. Sehingga tidak ada lagi sekat jasmani antar dua agama di Pulau Buru. Walaupun demikian, batin muslim di Pulau Buru tetap pada keyakinnya yaitu Iman dan Takwa kepada Allah Saw. Begitu pula orang-orang Konghucu, dalam beribadah mereka tidak pernah mengusik satu sama lain.

Kedua pemeluk agama tersebut bukan hanya memiliki persamaan dalam dunia perdagangan saja, namun juga berkebun, nelayan, serta berternak. Mereka saling bahu membahu membentuk rotasi kehidupan, tidak ada yang membuat keributan dengan mengatas namakan agama “Jihad Fi Sabilillah”. Guru-guru di sekolah pun tidak perlu bersusah payah memberikan pemahaman atau wawasan toleransi pada siswa siswi, karena mereka sudah menanamkannya.

Secara teori, sikap toleransi diartikan sebagai sikap saling menghargai setiap perbedaan, baik dalam bidang keagamaan, sosial, ekonomi, atau kebudayaan. Sikap toleransi tersebut sudah ditanamkan pada masyarakat Pulau Buru pada jenjang pendidikan. Mereka sudah terbiasa dalam menghargai dan menghormati antar perbedaan agama, ras, dan suku.

Baca juga: Hak Sipil Kaum Minoritas: Sebuah Renungan

Dengan hal ini, sikap toleransi merupakan etika menghormati berbagai perbedaan yang ada di dalam lingkungan sekitar. Dengan sikap toleransi, rasa kasih sayang dan saling membantu akan tumbuh antar sesama manusia. Walaupun adanya perbedaan ras, suku, agama, kulit, dan lain sebagainya. Seperti yang diterapkan di Pulau Buru ini, walaupun kecil tetapi jiwa akan menghargai setiap perbedaan mereka junjung tinggi. Karena mereka tahu, bahwa kenyamanan itu memiliki lingkungan yang damai. (AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Ngobrol dengan Frater Katolik: Bom Makasar Momentum untuk Memperkuat Toleransi Kita

Published

on

By


Suatu sore selepas pristiwa bom di Makasar, lini masa Twitter saya riuh. Ada akun anonim yang menganggap bahwa kekerasan seperti itu adalah ajaran Islam yang sebenarnya, sembari melampirkan tangkapan layar suatu ayat Al-Quran beserta terjemahannya.

Saya baca, cuplikan ayat tersebut memang menyebutkan peperangan dan semacamnya. Namun tunggu dulu, ayat tersebut tidak serta merta bisa dipahami hanya dengan membaca terjemahannya, bukan? Ada asbabun nuzul, ada konteks dan peristiwa yang mengiringi turunnya ayat itu.

Beberapa akun lain pun mencoba menjelaskan maksud ayat itu. Namun tetap saja. Akun anonim ini mental, sedikitpun tidak mau menerima penjelasan. Dari profilnya, saya tidak melihat afiliasi apapun dari akun tak dikenal itu. Tidak ada agama, afiliasi politik atau semacamnya.

Walau demikian, celotehan akun ini membuat kepala saya melayang, membayangkan bagaimana perasaan umat agama lain yang membaca ayat dan terjemahan Al-Quran itu secara mentah-mentah, ditambah kejadian-kejadian terorisme atas nama agama yang berulang mendera mereka. Apalagi jika mereka sama sekali tidak memiliki teman dekat atau tetangga muslim yang baik dan berempati kepada mereka. Mungkin ini lah benih-benih islamophobia berawal. Saya pun akhirnya memahami presepsi orang-orang di luar sana tentang muslim. Orang-orang yang mendengar teriakan-teriakan ‘kafir’, ‘halal darahnya’, dan semacamnya dari ‘Toa’ ustadz serampangan yang mendengung ke arah rumah mereka.

Baca juga: Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar dan Sentimen Keagamaan yang Menyelimutinya

Mereka mungkin akan bertanya-tanya, “Katanya “Islam itu rahmat, mengasihi, menyangi’, lalu mereka ini Islam yang mana?” Jika mereka bertanya demikian, bagaimana jadinya toleransi kita?

Saya buru-buru mengirim pesan instan ke kolega saya, seorang frater Katolik yang tempo hari magang di kantor saya, Amadea namanya. Ia juga beberapa kali menulis di Islamidotco. “Bung, hari Kamis besok, kosong?” Tak lama, sang frater membalas, “Kalau sore ada ibadah, bung.”

Saya paham maksudnya. Sebagai seorang frater, pekerjaan utamanya adalah melayani umatnya. Apalagi hari itu adalah salah satu di antara hari-hari penting, yaitu hari Tri Suci. Dia pasti akan sibuk hingga hari Minggunya.

Baca juga: Bom Bunuh Diri Makassar Adalah Bukti Tidak Seimbangnya Ilmu dan Cinta

Jadwal pun kita sepakati bersama, hari Kamis siang, sebelum ia melaksanakan ibadahnya. Saya merasa penting untuk ngobrol dengannya. Saya penasaran dengan perasaannya setelah kejadian bom di Makasar, apalagi pristiwa keji itu berlangsung menjelang hari-hari suci bagi mereka. Saya khawatir mereka tidak nyaman dan tidak merasa aman saat beribadah.

“Bagaimana kabarnya, bung? Sehat dan Aman?” Itu lah pertanyaan awal saya saat memulai percakapan pada waktu yang telah kami sepakati.

“Puji Tuhan, bung, semuanya aman,” jawabnya.

Saya yakin, walaupun ia berkata demikian. Ia pasti memiliki kekhawatiran. Amadea pun mengakui itu. Pada awalnya ia merasa khawatir dengan situasi saat itu. Namun kekhawatiran itu mulai memudar saat melihat banyak dukungan dari berbagai kalangan untuk umat Kristiani, termasuk dari umat muslim.

Amadea juga terharu dengan ungkapan yang disampaikan oleh Mentri Agama Yaqut Cholil Qaumas saat menemui uskup agung selepas kejadian di Makasar.

Kami bersama umat Katolik, kami bersama umat Kristiani, jangan takut!” ungkap Amadea menirukan kata-kata Gus Menteri. Kalimat itu lah yang membuatnya terharu, bahwa ia sebagai umat Kristiani tidak lah sendiri. Semua kelompok berbondong-bondong mendukung dan menguatkannya.

Hal ini lah yang membuatnya sadar dan membuang jauh-jauh kekhawatiran yang hinggap di benak kepalanya. Rasanya tidak ada gunanya khawatir jika semua saudara sebangsa mendukung dan menguatkan. Baginya, ini menjadi sebuah momentum dan harapan untuk menguatkan toleransi kita.

“Khawatir pasti ada, bung. Namun yang paling penting untuk disorot adalah harapan kita,” ungkap alumni STF Driyakara Jakarta ini.

Mendengar jawaban itu saya sedikit tenang. Namun saya merasa perlu mengeluarkan pertanyaan yang lebih penting, yaitu: Bagaimana presepsinya kepada muslim setelah kejadian bom di Makasar? Karena saya yakin, kejadian ini bukan pertama kalinya bagi umat Kristiani. Mereka telah mengalami ancaman bom berkali-kali. Justru saya khawatir, kejadian ini meneguhkan sebagian umat agama lain bahwa muslim memang benar-benar kejam.

Amadea menjawabnya dengan jawaban yang menarik. Ia meyakini bahwa banyak orang yang mulai kritis dan tidak asal menggeneralisir. Menurutnya, memang ada kelompok teroris yang mengaitkan diri mereka dengan Islam. Namun, ia meyakini bahwa kekerasan, bom dan sebagainya bukanlah ajaran Islam yang sebenarnya. Pasalnya ia bertemu dengan banyak muslim yang tidak seperti pelaku teroris itu. Pangalamannya berinteraksi dengan  saya dan teman-teman muslim saya yang lain nampaknya mempengaruhi itu.

Ia membuktikan bahwa saat ada pristiwa bom, misalnya. Umat muslim berbondong-bondong mendukung dan simpati dengan para korban. Berbeda jika umat Muslim malah lebih banyak mendukung pelaku pengeboman.

“Itu lah yang membuat saya yakin,” tuturnya.

Dengan pristiwa ini, menurut Amadea, kita semakin menguatkan toleransi kita, bukan hanya sesama umat Kristiani, tetapi juga dengan umat agama lain, termasuk umat muslim.

“Bagi saya justru masa depan toleransi ini semakin cerah. PR kita bagaimana agar kejadian ini tidak terulang kembali,” harap Amadea.

Saya juga meminta kepada Amadea agar menceritakan pengalamannya saat berinteraksi dengan kita kepada teman-teman Kristiani yang lain. Lebih-lebih kepada saudara-saudara Kristiani dan juga umat agama lain yang sama sekali belum pernah berinteraksi dengan muslim. Agar kekhawatiran dan ketakutan mereka dengan stigma muslim bisa direduksi. (AN)





Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Satu Hari di Wasini, Kenya, Penduduk yang Ingin Mengunjungi Indonesia

Published

on

By


Saya tiba-tiba teringat tentang Wasini, sebuah pulau kecil di Kenya, Afrika Timur. Pulau tersebut terletak di tengah laut yang bisa dijangkau dari pelabuhan dekat desa Shimoni. Kunjungan saya dan rombongan saat itu untuk menghabiskan senja setelah seharian melakukan study tour di goa ‘Slavery’ Shimoni, goa yang digunakan kesultanan Oman dan penjajah Inggris untuk mengurung warga Kenya yang akan diperbudak.

Dihuni oleh sekitar 2000 orang, pulau ini memang terbilang mungil. Sayangnya, saya tidak bisa menjelajah lebih jauh akibat miskomunikasi antara panitia penyelenggara acara touring dengan penduduk setempat. Padahal salah satu episode yang saya nantikan ketika berkunjung ke Kenya adalah belajar dengan warga secara langsung.

Meski demikian, sekelumit informasi yang saya dapat sangat berkesan. Pulau ini merupakan pulau dampingan PBB dalam pengentasan kemiskinan, khususnya pemberdayaan perempuan. Selain itu, PBB melalui UNDP mengadakan program konservasi lingkungan. Wasini merupakan pulau dengan keragaman koral, spesies ikan, dan penyu. Tercatat ada 65 jenis koral, 25 spesies ikan, dan 5 penyu. Keindahan itu terancam akibat eksploitasi berlebihan.

Saya tidak tahu apakah menyebut Wasini sebagai pulau terisolir itu tepat. Yang jelas untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu khusus. Sekitar 15 menit perjalanan air dari pelabuhan Shimoni. Saya langsung disambut dengan gugusan pohon baobab, pohon yang pertama kali saya lihat di film ‘Lion King’.

Ketika menyentuh pasir pantai beberapa warga langsung menawari ikan. Penduduk Wasini memang sebagian bekerja sebagai nelayan. Namun rombongan kami memiliki tujuan untuk menuju ke tempat yang kami sama sekali tidak diberitahu. Kami hanya menelusuri perkampungan yang rumahnya tersusun dari bebatuan karang. Atapnya menggunakan sebagian seng dan rumbia. Jalanan yang cukup kecil dilapisi dengan bebatuan.

“Wah, indahnya,” begitu seru salah satu rombongan melihat hambaran tanah lapang dengan susunan batu yang begitu rapi. Konon, batu-batu itu memang tersusun seperti itu. Jika sedang pasang, lokasi yang kami lihat sebagian akan tenggelam. Saya langsung ingin mengabadikan pemandangan itu.

“Stop, stop!” teriak salah seorang dari jarak yang sangat dekat. Ia menjelaskan bahwa kawasan itu tidak boleh difoto. Kami tanya mengapa? Ternyata kami belum membayar ‘tiket’ masuk ke pulau ini. Sehingga kami tidak berhak mengakses apapun. Agenda ‘belajar’ pada perempuan Wasini pun belum diagendakan sama sekali.

Kami pun tak bisa berlama-lama karena hari semakin gelap. Dengan membawa kekecewaan, kami berjalan gontai untuk kembali ke pelabuhan. Di salah satu sudut jalan kami menemukan lokasi pemakaman. Kami bertanya, makam siapa ini? Makam-makam yang kami lihat seperti makam muslim di Indonesia. Insting sarkub pun muncul. Apalagi saat pemandu kami menjelaskan bahwa makam itu adalah  makam ‘sesepuh’  yang cukup dihormati. Beberapa peserta touring pun langsung bersila dan membacakan tahlil.

Setelahnya kami melewati sebuah masjid yang usianya cukup tua. Di sana tertulis tahun 1701. Menurut cerita masjid itu termasuk masjid tertua di Kenya. Dibangun oleh para ‘wali’ yang menyebar Islam di kawasan Afrika Timur. Beberapa mendiami pulau Wasini yang keturunannya beranak pinak hingga hari ini.

Di sebelah masjid terlihat tiga pria dewasa sedang nongkrong. Entah mengapa saya melihat pandangan yang kurang bersahabat. Kami pun mengucapkan salam, ‘Assalamualaikum.’ Ajaib, raut wajah ketiganya berubah menjadi sangat hangat, bahkan memanggil kami untuk mendekat.
“Kalian muslim?”

“Iya, benar.”

“Selamat datang di kampung kami, saudara. Kalian berasal dari mana?”

“Indonesia”

“Wah, jauh sekali, ya. Saya sangat suka dengan Indonesia.”

“Anda pernah berada di sana?”

“Belum. Tapi saya ingin sekali mengunjungi Indonesia.”

Percakapan kami mengalir. Bahkan si bapak secara suka rela berkisah tenyang pulau Wasini, tentang masjid tertua, tentang makam pendiri yang dimakamkan di pohon baobab tertua di sana. “Silakan kalau mau berziarah makam berada di sana,” ujarnya sembari menunjuk satu lokasi.

Sementara itu pemandu kami sudah berkali-kali melihat jam. Langit pun semakin gelap. Ia memberi kode agar kami segera naik kapal. Saya dan beberapa anggota rombongan pun undur diri dan ‘mengajak’ mereka untuk mengunjungi Indonesia satu hari nanti.

“Come on.”

“Wait, for minutes.”

Kami berdiri di depan pemakaman yang dikelilingi pagar. Saya lupa namanya, yang jelas waktu itu kami mengirimkan Al-Fatihah kepada sang ‘penemu’ pulau itu. Setelah selesai kami langsung menuju kapal. Beberapa rombongan yang lebih dahulu ‘memarahi’ kami karena terlalu lama.

Ya, sedikit dimarahi tidak apa-apa. Karena justru percakapan singkat itu yang membuat saya terkesan dengan pulau ini. Rasa kangen saya untuk tahlilan dan mengirim doa di makam bisa tersalurkan saat hari terakhir kunjungan di Kenya.

 

Yogyakarta, 25 Maret 2021.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved