Connect with us

Budaya

Inilah 6 Nasehat Syekh Ahmad Mahmod Syarif untuk Para Pencari Ilmu

Published

on


Menuntut atau mencari ilmu, tidak sekedar masuk sekolah, belajar, ujian, lalu mendapat ijazah. Banyak yang harus kita perhatikan ketika menuntut ilmu, apalagi ketika kita menuntut ilmu agama.

Salah satu syekh Al-Azhar, Syekh Ahmad Mahmod Syarif beberapa waktu lalu menasihati para mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Al-Azhar dengan 6 perkara.

Yang pertama:

علوم الشريعة نورينتقل بين الصدور

“Ilmu itu cahaya yang berpindah dari hati ke hati.”

Penuntut ilmu harus belajar ilmu agama secara talaqqi yaitu dengan belajar langsung dari syekh atau gurunya. Mengingat bahwa, wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah Saw melalui Jibril As menggunakan metode talaqqi (penyampaian secara langsung). Maka barangsiapa yang tidak memiliki guru, maka syaitanlah gurunya.

 

Yang kedua:

أن نتلقى بمنهج صحيح

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Talaqqi (belajar) dengan manhaj yang shohih.”

Karena شيخ بلا منهج لا شيء ومنهج بلا شيخ لا شيء. Atau Syekh (guru) tanpa metode tidak ada apa-apanya dan metode tanpa syekh (guru) tak ada apa-apanya.

 

Yang ketiga:

لابد للطالب أن يتفرغ في العلم تفريغ الوقت

“Penuntut ilmu harus menggunakan waktunya untuk ilmu.”

“Singkirkan apa yang mengganggu belajar kamu di Mesir ini,” saran salah satu Syekh Al-Azhar ini.

Yang keempat:

أن تكون عندك مكتبة تساعدك على طلب العلم

“Kamu harus punya perpustakaan yang membantumu dalam menuntut ilmu.”

Yang dimaksud maktabah disini adalah kitab atau buku. Beliau mengisahkan bahwa dirinya menyisihkan uangnya setiap hari untuk membeli buku. Bahkan ia tak masalah berjalan kaki pulang pergi, dan menyimpan uang transportasinya untuk membeli buku.

Yang kelima:

حسن الخلق و التصوف

“Berakhlak baik dan beradab.”

Karena keempat hal tersebut tidak akan sempurna dengan akhlak yang baik. Beliau Menambahkan

لوحفظت كل كتب الدنيا وحفظت متن لوح المحفوظ عند الله وأنت قليل الأدب، لن تنجو في الدنيا والآخرة

Apabila Kamu telah menghafal isi kitab-kitab di dunia dan isi lauhil Mahfudz, tapi tidak memiliki akhlak/adab yang baik, maka kamu tidak akan pernah sukses dunia dan akhirat

Yang keenam:

العبرة أن تعلم و تعمل

Poinnya adalah, bukan sebanyak apa pelajaran yang kamu hafal, bukan sebanyak apa penghargaan yang kamu raih, bukan sebanyak apa titel yang kamu dapatkan, bukan sebanyak apa buku yang kamu miliki dan koleksi di rumah, dan bukan sebanyak apa kamu membaca, tetapi intinya adalah apa yang kamu pelajari dapat kamu praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Arebbe: Tradisi Masyarakat Madura Menyambut Ramadhan

Published

on

By


Praktik keagamaan di Madura cukup variatif, mulai dari praktik ibadah maupun sosial. Sebagian besar praktik keagamaan tersebut lahir bersandingan dengan tradisi sebagai media untuk melangsungkan ritual, ibadah, dan sosial. Tradisi itu sendiri berarti “diteruskan” atau “kebiasaan”. Dengan pengertian yang sederhana tradisi merupakan suatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat.

Keberadaan tradisi merupakan suatu hal yang selalu melekat pada diri manusia dan masyarakat, sekaligus tidak dapat terlepas dari nilai-nilai keagamaan. Khaziq dalam bukunya berjudul Islam dan Budaya Lokal, mengatakan bahwa praktik Agama akan selalu bersamaan dan berinteraksi dengan sebuah tradisi. Salah satunya adalah tradisi arebbe di kalangan masyarakat Madura. Arebbe merupakan istilah bahasa madura yang berarti memberi, yakni memberi sesuatu kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan ridha dari Allah swt. dengan kata lain bahwa istilah arebbe  merupakan penjabaran dari shadaqah yaitu suatu amal yang diyakini akan mengalirkan pahala dari Allah, mendatangkan keberkahan hidup, serta dijauhi dari bala dan musibah. Sebagian masyarakat Madura juga meyakini bahwa arebbe merupakan media untuk menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal, sebagaimana shadaqah dipahami juga bisa diniatkan pahalanya untuk orang-orang yang telah meninggal.

Arebbe Ditinjau dari Segi Waktu

Secara umum tradisi arebbe tidak terikat dengan waktu, tetapi secara khusus masyarakat Madura melakukan rebbe setiap malam jumat. Dengan kata lain bahwa melakukan rebbe setiap haripun tidak menjadi masalah. Maka tidak heran jika seseorang melaksanakan rebbe sesuai hari kelahiran orang yang meninggal. “rebbeih bengatoanah e malam katerbi’ennah” laksanakanlah rebbe untuk sesepuh di malam kelahirannya, begitulah anjuran para ulama Madura yang selalu tergiang-giang dalam benak seorang generasi pelestari tradisi arebbe, guna melaksanakan rebbe  yang pahalanya dihadiahkan pada sesepuh dan keluarga yang telah meninggal.

Selain rebbe juga lumrah diletarikan dalam keseharian masyarakat, juga terdapat bulan khusus dimana masyarakat Madura melaksanakannya secara serentak selama sebulan penuh dan mereka menyebutnya dengan sebutan bulan rebbe. Madura sendiri memiliki istilah dalam penyebutan terhadap Bulan-bulan hijriyah, seperti: sorah, sappar, molod, rasol, mandilawwal, mandilakhir, rejjeb, rebbe, pasah, sabhel, ellak/takepek, rerajhe. Salah satu dari dua belas bulan tersebut terdapat bulan rebbe  tepatnya yaitu bulan sya’ban.

Bulan rebbe atau sya’ban merupakan bulan pintu menuju bulan suci ramadhan, pada bulan inilah banyak kalangan orang-orang Madura malaksanakan tradisi arebbe. Dengan itu orang Madura memberi istilah bulan sya’ban dengan sebutan bulan rebbe karena pada bulan ini banyak orang Madura melaksanakan rebbe mulai sejak awal bulan hingga menjelang ramadhan. Terutama pada tanggal 15 sya’ban yang disebut dengan nisfus sya’ban dan tanggal terakhir dari bulan sya’ban. Pada tanggal-tanggal tersebut secara serentak semua masyarakat melaksanakan tradisi arebbe.

Arebbe sebagai Media Transfer Pahala

“arebbe ghinikah ama’na shadaqa le’, karnah hakekat shadaqa engghi areng pareng dhe’ ghetatanggeh dengan maksod sadhekanah se sobung omor” (arebbe itu bermakna shadaqah dek, karena hakekat dari shadaqah ialah memberi kepada tetangnga-tetangga dengan maksud tujuan shadaqahnya orang yang sudah meninggal.) ujar salah satu tokoh muda ketua Fatayat NU di Pamekasan. Shadaqah  berbeda  dengan  bentuk  amal  ibadah  lainnya  yang  mempunyai seperangkat aturan dan syarat-syarat bagi orang yang melakukannya, masyarakat bebas  melakukan  shadaqah  sesuai  dengan  kemampuan masing-masing  individu,  tetapi  pahala  yang  diberikan  tidak  kalah  besar  dengan  ibadah lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga (perkara) : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.” Dilaksanakannya Arebbe oleh masyarakat Madura, menurut beberapa informan yang ditemui bahwasanya tradisi Arebbe ini  sebagai  bentuk  untuk  mendoakan  keluarga  yang  sudah  meninggal. Ditambahkan  oleh  informan  lain  yaitu  Kyai Syukron Bahrian Syakh,  ketua  Yayasan Darussalam Asy-Syafie,  bahwasannya tradisi Arebbe ini  sebagai  bentuk  doa  serta  shadaqah yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal.

Arebbe sebagai Ajang Silaturrahmi

Tradisi muncul karena pikiran dan perbuatan manusia yang terus menerus, arebbe yang erat hubungannya dengan masyarakat memiliki makna sebagai ajang silaturrahmi, dapat dilihat pada bulan rebbe (syawal) masyarakat Madura beramai-ramai silaturrahmi dan saling mengantarkan makanan antar keluarga dan tetangga. Silaturrahmi secara definisi adalah hubungan kekerabatan, berupa hubungan kasih sayang, tolong-menolong, dan berbuat baik. Sebagaimana Iman An-nawawi mengartikan silaturahmi dengan berbuat baik kepada kerabat sesuai dengan kondisi orang yang menyambung dan disambung, bisa dengan harta, dengan bantuan, dengan berkunjung, mengucapkan salam, dan sebagainya.

Dalam tradisi arebbe terdapat serah terima makanan antar warga, sehingga tak salah jika kesannya seperti tukar-menukar makanan antar warga suatu kampung atau desa, dengan maksud saling  menyapa, saling berbagi, dan saling meminta maaf. Ketika nisfus sya’ban masyarakat berbondong-bondong menghadiri masjid terdekat dengan membawa makanan-makanan, disanalah melakukan doa bersama serta ngaji yasin bersama dan dilanjut dengan makan bareng dari apa yang telah dibawanya. Disitulah tradisi arebbe bermakna sebagai ajang silaturrahmi antar sesama dengan tujuan mempererat tali persaudaraan.

Arebbe sebagai Bentuk Birrul Walidain

Dalam tradisi arebbe terdapat makna tidak tampak  dari  tindakan  yang  dilakukan  sehingga  masyarakat  tidak menyadarinya bahwa yang diekspresikan merupakan suatu hal terpenting yaitu birrul walidain. Bentuk ­penghormatan pada sesepuh yang sudah wafat ialah dengan cara mendoakannya, dan orang madura merealisasikannya dengan tradisi arebbe. “dhu’a’ aghi reng sepponah tor rebbeih” maksud ungkapan orang Madura ini merupakan anjuran bagi anak agar selalu mendoakan orang tua dan sesepuh serta melakukan rebbe guna menghadiahkan pahalanya bagi yang telah wafat. Salah satu penerapan birrul walidain adalah taat kepada orang tua, senantiasa mendoakan kedua orang tua baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Tradisi arebbe  merupakan bentuk mendoakan orang tua yang telah wafat, maka arebbe  juga dapat dimaknai sebagai bentuk birrul walidain.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Dhugdheran: Dari Pasar Malam hingga Arak-Arakan

Published

on

By


Setiap wilayah di nusantara pasti memiliki adat dan tradisi tertentu. Tak terkecuali di wilayah kota Semarang yang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah. Salah satu tradisi yang dimiliki kota Semarang yaitu upacara tradisi dhugdheran yang rutin diselenggarakan setahun sekali.

Tradisi dhugdheran diadakan untuk menyambut datangnya awal bulan Ramadan. Dhugdheran pertama kali digagas oleh Bupati R.M.T.A Purbaningrat yang diselenggarakan sejak abad 19, yakni pada tahun 1880-an. Menurut Narasumber yang saya wawancarai, Bapak Muhaimin (anggota Jamaah Peduli Dhugdhèr), kemunculan tradisi ini sengaja diciptakan oleh pemerintahan pada masa itu untuk menetapkan awal bulan Ramadan.

Dhugdhèran berasal dari kata “dhug” yaitu suara bedug yang dipukul dan “dhèr” dari suara meriam yang dibunyikan. Tradisi dhugdhèran diawali dengan pasar malam yang digelar selama satu bulan penuh sebelum awal bulan Ramadan. Puncak tradisi dhugdhèran ditandai dengan prosesi arak-arakan, prosesi pemukulan bedug disusul dengan penyulutan meriam yang dilaksanakan di hari terakhir bulan Sya’ban (penanggalan Hijriyah) atau bulan Ruwah (penanggalan Jawa) sebagai tanda dimulai bulan Ramadan keesokan harinya.

Sebelum dinamakan dhugdhèran, penetapan awal Ramadan di Semarang terdapat dua cara. Pertama yaitu rukyat (pengamatan terhadap posisi bulan) dan kedua yaitu hisab (perhitungan atau perkiraan). Bupati Semarang pada saat itu memutuskan untuk menengahi pendapat dari para Ulama dengan mengadakan kegiatan pengumuman awal bulan Ramadan yang diselenggarakan pada tanggal 29 Sya’ban.

Sebelum dimulainya pengumuman, Bupati mengutus petugas khusus untuk melakukan rukyat, yakni mengamati posisi bulan apakah sudah tampak seperti bulan sabit atau belum. Setelah petugas melakukan rukyat, kemudian melaporkan hasil rukyat kepada para Ulama yang telah berkumpul di Masjid Kauman (halaqah).

Susunan kegiatan halaqah (pertemuan para Ulama) yang dilaksanakan di masjid di antaranya: petugas disumpah bahwa apa yang dilihat dan dilaporkannya benar, kemudian melaporkan kepada para Ulama yang nantinya akan disetujui oleh para Ulama. Selanjutnya petugas

menyampaikan laporan kepada Bupati di Kanjengan, yang berada tak jauh dari Masjid Kauman. Kanjengan yakni tempat tinggal sekaligus kantor Kanjeng Bupati, yang pada saat itu memimpin pemerintahan.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

 

Pada saat petugas melapor ke Bupati, keadaan di Masjid Kauman dibunyikan beduk yang suaranya terdengar seperti ‘dhug-dhug-dhug’, dan di Kanjengan dibunyikan suara meriam yang terdengar seperti ‘dhèr-dhèr-dhèr’. Terdapat versi lain yang tertulis juga bahwa, beduk dipukul oleh Bupati Semarang, bersamaan dengan petugas tentara Hindia Belanda (VOC) yang diminta membunyikan meriam sebanyak 3 kali.

Setelah petugas melaporkan hasil rukyat kepada Bupati, Bupati mengumumkan hasilnya di alun-alun yang terletak di depan Kanjengan. Rangkaian kegiatan tersebut pada awalnya dilaksanakan pada malam hari setelah Magrib. Bupati mengadakan kegiatan tersebut karena merasa bahwa masyarakat membutuhkan kepastian mengenai kapan datangnya awal bulan Ramadan. Melalui bunyi beduk dan meriam yang bersahut-sahutan, kegiatan pengumuman tersebut disebutlah dhugdhèr dengan ditambahi akhiran ‘–an’ menjadi dhugdhèran.

Kegiatan ini selain sebagai penanda awal bulan Ramadan juga sebagai ajang pengumpulan massa. Kegiatan tersebut cukup menyita perhatian masyarakat yang menunggu di alun-alun, sehingga banyak masyarakat akhirnya berjualan pada keramaian tersebut. Pedagang-pedagang tersebut semakin lama semakin banyak, sehingga keramaian berubah menjadi pasar malam yang pada awalnya disebut mêgêngan. Mêgêngan berasal dari kata muagêng yang bermakna tamu agêng (tamu besar). Artinya, para pedagang yang berjualan pada keramaian tersebut bersiap untuk menyambut tamu besar yang dimaksud yaitu bulan Ramadan.

Pedagang-pedagang tersebut menjual berbagai macam barang dari bahan gerabah seperti celengan dan mainan anak, dan juga menjual makanan. Salah satu barang yang khas dijual pada mêgêngan yaitu warak ngêndhog. Kegiatan mêgêngan pada awalnya berada di alun-alun, namun kemudian berpindah-pindah tempat, dan pada akhirnya bertempat di depan Masjid Kauman dan sekitarnya.

Terdapat perubahan pada pelaksanaan dhugdhèran dalam beberapa periode. Perubahan tersebut diperkirakan mendapat pengaruh politik dari pemerintah yang berkuasa. Pasca kemerdekaan, prosesi rukyat yang seharusnya dilaksanakan oleh petugas menjadi ditiadakan. Hal tersebut ditiadakan karena menunggu hasil sidang isbat yang disampaikan oleh Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama), karena yang berhak menetapkan awal masuknya bulan Ramadan adalah pemerintah pusat.

Sekitar tahun 1960 terdapat agenda penataan wilayah, yakni Semarang yang awalnya kabupaten berubah menjadi kotamadya, sehingga Kanjengan dirobohkan. Lantaran Kanjengan ditiadakan, pusat pemerintahan berpindah di Balai Kota yang terletak 2 kilometer ke arah barat daya dari Kanjengan semula. Dengan berpindahnya pusat pemerintahan, berpindah pula tempat pelaksanaan upacara tradisi dhugdhèran menjadi di Balai Kota dan berlangsung selama 30 tahun di sana.

Pasar malam dhugdhèran (mêgêngan) juga berpindah tidak lagi di Alun-alun dan di sekitar Masjid Kauman, namun bertempat di depan Pasar Johar. Pada periode tahun 1960-1981 pembunyian meriam diganti menjadi bom udara, kemudian pada tahun 1982 bom udara dirasa berbahaya dan diganti dengan sirene.

Pada tahun 1983, kegiatan dhugdhèran yang pada awalnya hanya pasar malam dan prosesi pengumuman, ditambah dengan agenda arak-arakan. Kegiatan arak-arakan dilaksanakan sore hari dengan mengarak warak ngêndhog yang biasa dijual di mêgêngan dengan ukuran besar. Pada prosesi arak-arakan dhugdhèran, Wali Kota yang sedang menjabat diarak dengan berperan sebagai R.M.T.A. Purbaningrat. Ihwal tersebut memungkinkan bahwa masyarakat dan pemerintah tetap ingin mengingat Aryo Purbaningrat sebagai sosok yang mencetuskan kegiatan dhugdhèran, dan diharapkan kegiatan tersebut dapat dilaksanakan terus menerus. Arak-arakan diikuti oleh perwakilan dari siswa-siswi dari TK hingga SMA, serta perwakilan tiap kecamatan.

Pada tahun 1995 bertepatan dengan pencanangan Tahun Kunjungan Wisata Indonesia yang bertema ulang tahun emas (50 tahun) Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, agenda dhugdhèran ditambah dengan Festival Warak Ngêndhok pada pagi hari sebelum sorenya diadakan arak-arakan.

Kegiatan dhugdhèran terus berlangsung hingga pada tahun 2004 atas inisiatif Jamaah Peduli Dhugdhèr, kegiatan dhugdhèran kembali bertempat di Masjid Kauman baik pada perhelatan pasar malamnya maupun arak-arakan. Tahun 2006, atas prakarsa dari Gubernur Mardiyanto (yang menjabat pada saat itu) prosesi arak-arakan diperluas hingga ke Masjid Agung Jawa Tengah. Tak lupa prosesi halaqah, pengumuman, dan penyulutan beduk serta meriam dilaksanakan di sana.

Karena masyarakat lebih tertarik dhugdhèran dilaksanakan di Masjid Agung, maka dibuatlah acara tambahan yakni pembagian Air suci Alqur’an mulai tahun 2007. Pada tahun 2010 ditambah dengan acara pembagian Roti Ganjel Rel. Acara ‘Andum Ganjel Rel’ itu menurut Muhaimin berasal dari Kerata Basa. Yang artinya adalah “ojo ngganjel, tapi rela”. Apabila kita mulai

memasuki bulan Ramadan, dalam hati jangan ada yang mengganjal, tetapi harus rela. Rela yang berarti ridho, legawa, jangan sampai ada yang menganggu pikiran dan hati, karena sebentar lagi berpuasa.

Sejak awal kemunculannya hingga tahun 2019, dhugdhèran rutin diselenggarakan untuk menandai masuknya awal bulan Ramadan. Mengutip Radcliffe Brown, bahwa fungsi dari kegiatan yang selalu berulang seperti sebuah acara keagamaan merupakan bagian dari proses kehidupan sosial sebagai sumbangan bagi kerekatan sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa dhugdhèran yang dilakukan secara berulang akan menjadi suatu kebiasaan, adat tradisi, dan secara tidak langsung menjadi perekat dalam kehidupan masyarakat.

Dhugdhèran menjadi salah satu peristiwa budaya pada kota lain juga identik dengan peristiwa budaya tertentu, seperti di yang secara tidak langsung menautkan pada ciri khas kota Semarang, di mana Surakarta dan Yogyakarta yang memiliki tradisi Sêkaten. Pada Sekaten terdapat kegiatan upacara yang bersifat sakral, tetapi juga ada rangkaian pasar malam yang bersifat sekuler dan hiburan. Mirip halnya dengan dhugdhèran yang memiliki pasar malam yang bersifat hiburan, namun juga terdapat prosesi dhugdhèran yang bersifat suci karena terkait pada penandaan awal puasa Ramadan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam di kota Semarang.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Filosofi Qing Ming, Nyadran dalam Tradisi Tionghoa

Published

on

By


Tidak hanya kelompok Islam tradisional, etnis Tionghoa juga memiliki ritual nyadran. Nyadran dalam tradisi Tionghoa mengacu pada ritual Qing Ming atau Cheng Beng dalam dialek Hokkian. Mirip dengan nyadran ala umat Islam tradisional, dalam Qing Ming komunitas Tionghoa melakukan ziarah ke makam leluhur bersama-sama. Jika nyadran biasanya dilakukan pada akhir bulan Ruwah atau Sya’ban menjelang datangnya bulan Ramadan menurut kalender hijriah, Qing Ming dilakukan secara serentak setiap tahun pada hari pertama masa matahari kelima dalam kalender Cina atau saat dimulainya musim semi. Tahun ini, Qing Ming jatuh pada 5 April.

Qing Ming menjadi salah satu ritual penting bahkan hari libur nasional di beberapa negara seperti Tiongkok, Taiwan, Hongkong, dan Makau. Selain berziarah dan membersihkan makam, saat Qing Ming, komunitas Tionghoa juga mendoakan leluhur mereka dan memberikan persembahan. Persembahan biasanya mencakup hidangan makanan tradisional, pembakaran dupa dan kertas sembahyang .

Menurut Scott (2007), untuk makanan, keluarga biasanya menyiapkan daging babi panggang, ayam, kue, tiga cangkir teh, dan tiga cangkir anggur. Di makam, makanan-makanan tersebut dipersembahkan terlebih dahulu kepada leluhur baru kemudian dikonsumsi oleh keluarga di tempat. Selain itu, pihak keluarga juga menyediakan uang tiruan dan replika benda-benda seperti rumah, furnitur, kendaraan, bahkan pembantu dan lain-lain.

Uang tiruan dan replika tersebut akan yang dikirim kepada arwah dengan cara dibakar. Hal ini sejalan dengan konsep persembahan dalam Qing Ming yaitu pemindahan makanan, uang, dan barang, dari yang hidup ke yang mati. Sebagai sebuah ritual Qing Ming mengandung semesta filosofi dari tradisi Tionghoa yang menarik untuk dicermati.

Jiwa (soul) menjadi filosofi penting yang mendasari tradisi Qing Ming. Sebagaimana ditulis Berling (1992), sejak zaman kuno orang Tionghoa memiliki gagasan tentang dua jiwa: (1) hun (hun soul), yang bersemayam di papan nama leluhur (ancestral tablet) untuk menerima penghormatan dari keturunan, namun sesungguhnya berada atau dikembalikan ke surga; dan (2) p’o (p’o soul), yang seiring dengan kematian dan pembusukan jasadnya dikembalikan ke bumi. Jiwa yang kedua ini bersemayam di makam, dan apabila dibuat marah, diganggu, atau dianiaya, bisa menjadi hantu, setan, atau wujud yang lain.

Mayoritas orang Tionghoa merasa memiliki kewajiban moral dan agama yang kuat untuk menjaga kontak pribadi dengan leluhur. Tidak saja melalui papan nama leluhur, tetapi juga dengan menjaga kehadiran di kuburan atau menziarahi jiwa p’o. Banyak di antara mereka yang percaya bahwa kepuasan dan kebahagiaan jiwa-jiwa leluhur di dalam makam sangat penting untuk keberhasilan keluarga: kesuburan tanah mereka, kelahiran anak yang sehat, kesejahteraan ternak mereka, keberhasilan usaha besar, dan lain lain. Sehingga, Qing Ming diyakini tidak saja berfungsi memberi penghormatan kepada leluhur tetapi juga dapat memberi timbal balik secara tidak langsung kepada keluarga yang masih hidup.

Surga dan Neraka

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Filosofi penting berikutnya adalah tentang surga dan neraka. Menurut Scott (2007), dalam tradisi Tionghoa, batas antara kehidupan dan kematian relatif tipis. Kehidupan setelah kematian diartikan tak ubahnya bagai kehidupan di dunia. Oleh karena itu, isu terpenting dalam kehidupan baik di dunia maupun di akhirat pada dasarnya sama: kesehatan dan kesejahteraan. Bagaimana mereka memastikan dan mempertahankan vitalitas dalam kehidupan ini dan seterusnya.

Berling (1992) menyebutkan bahwa setelah akulturasi Buddha dengan Tao dan agama rakyat (folk religion) dalam tradisi Tiongkok, surga dan neraka dipandang sebagai dunia nyata di alam roh. Surga dibayangkan sebagai birokrasi yang mirip dengan birokrasi kekaisaran di bumi. Surga, seperti istana kekaisaran, mengawasi aktivitas manusia di bumi, dan bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban. Doa manusia memohon bantuan seringkali dalam bentuk permohonan resmi kepada para tentara surga.

Ketika seseorang meninggal, ia akan menghadapi awal perjalanan yang akan menentukan perannya di dunia akhir. Oleh karena itu para kerabat yang hidup menyediakan semua fasilitas untuk menyokong kebutuhan di dunia yang lain itu: makanan, uang, rumah, kendaraan dalam bentuk replika dari kertas yang dikirimkan dengan cara dibakar. Meski terbuat dari kertas replika namun benda-benda tersebut dipercaya punya arti penting di akhirat.

Menurut catatan sejarah, pada zaman dahulu beberapa penguasa Tiongkok bahkan dimakamkan bersama kuda, pembantu, dan harta bendanya. Penggunaan replika kertas mulai muncul pada masa Dinasti Song (960-1279).

Tatanan sosial atau li, adalah konsep inti yang ditekankan oleh Konfusius. Untuk menjalin hubungan yang baik antar manusia, setiap orang memiliki peran masing-masing yang telah diatur.

Jika setiap orang dapat mematuhi li atau aturan perilaku tersebut dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan statusnya, maka akan tercipta harmoni dalam masyarakat. Konfusius, sebagaimana disitir Liu (2004) berkata, “Jika ayah adalah ayah, anak laki-laki adalah anak laki-laki, kakak laki-laki adalah kakak laki-laki, suami adalah suami, dan istri adalah istri, maka keluarga dalam keadaan yang benar. Saat semua keluarga berada dalam urutan yang benar, semua akan baik-baik saja dengan dunia.” Qing Ming menjadi ritual penting sebagai bagian dari li, untuk menciptakan tatanan sosial yang harmonis termasuk dalam keluarga atau garis keturunan.

 



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved