Connect with us

Budaya

Mbah Setya Setuhu dan Islam Jawa

Published

on


Islam jawa, ragam budaya tutur, manuskrip dan warisan tradisi yang ditinggalkan oleh para sepuh menunjukkan bahwa peradaban manusia, khususnya jawa adalah peradaban luhur. Islam memang datang kemudian, tetapi islam sebagai nilai menegaskan bahwa kehidupan manusia jawa adalah proses peradaban yang patut untuk ditelisik dan kenal – pahami.

Wana atau hutan menjadi tempat untuk menyepikan diri, menjadi sebuah tempat pindah (uzlah) untuk mencari jati diri. Seperti halnya legenda tentang Aji Saka dan dua muridnya; Setya dan Setuhu. Legenda ini berkembang semerbak di Malang, tepatnya di desa Patokpicis Kec. Wajak Kabupaten Malang. Dusun Kramat adalah lokasi di mana Mbah Setya dan Mbah Setuhu dipusarakan. Tepat di sebelah barat lereng Gunung Meru (Sêmeru).

Walaupun legenda lain mengatakan bahwa Aji Saka sebenarnya memiliki dua murid yaitu Dhura dan Sambadda, yang – juga sama-sama dikenal sebagai sebab di mana muncul dan ditemukannya aksara jawa. Tetapi jauh dari pada itu, legenda tetaplah legenda. Hal yang patut digaris bawahi adalah “budaya mikul duwur mêndêm jêru” agaknya menjadi hal yang paling penting.

Dusun Keramat adalah saksi di mana dua tokoh pengikut Aji Saka yang belajar tentang agama baik agama sebagai pengetahuan, tradisi atau sebagai nilai. Tutur tinular yang berkembang sampai dewasa ini adalah bentuk upaya menjaga sebuah peradaban kemanusiaan yang dibangun jauh-jauh di masa silam. Sikap peka terhadap alam, peka terhadap kondisi sosial, peka terhadap zaman dan kahanan adalah warisan penting yang tampak di dusun tersebut, secara umum warga Malang.

Artinya, diyakini atau tidak, mbah-mbah kita dulu berupaya untuk menjaga dan melestarikan sikap sadar dan dewasa dalam menghadapi wolak-walik ê jaman. Mental demikianlah yang patut diwarisi oleh generasi milenial pun generasi selanjutnya.

Jika cerita Aji Saka dulu berakar pada sorang anak yang bernama Aji dari sang Ayah bernama Bambang dan cucu dari Mbah Qurais, yang belajar di Mekkah. Saking nakalnya Aji, sampai akhirnya ia sering keluar terlebih dahulu dari masjid atau tempat ibadah (saka) yang akhirnya ia dikenal dengan Aji Saka. Sampai akhirnya ia kembali ke jawa, karena sejak kecil sudah sakti mandraguna, bahkan sudah memiliki puasa yang membuatnya weruh sak durungi winarah. Sayang pusaka itu ketinggalan di mekkah, sampai akhirnya ia memerintahkan kepada Setya untuk mengambilkan pusaka tersebut, ia berpesan agar tidak memberikannya kepada siapapun kecuali kepada Aji Saka.

Di lain pihak, karena saking lamanya Setya menuju jawa, Aji Saka memerintahkan Setuhu untuk menjemput Setya, dan siapapun yang membawa pusakanya maka, Setuhu harus merebutnya dari tangan siapapun.  Sampai akhirnya di tengah perjalanan keduanya; Setuhu dan Setya saling bertemu. Karena kukuh terhadap perintah Aji Saka, mereka akhirya saling berebut pusaka. Karena sama-sama merasa mengemban amanah. Mereka berdua sama-sama sakti. Nahasnya, mereka berdua meninggal dalam perebutan pusaka tersebut. Singkat cerita, sang Aji Saka mendengar dan mendatangi keduanya. Kemudian tersirat istilah hana caraka, data sawala, pada jayanya, magabathanga, yang akhirnya kita kenal sampai hari ini sebagai aksara jawa.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ragam legenda tentang Aji Saka adalah wujud keberpihakan bangsa Nusantara yang tentu menjunung tinggi peradaban dan budayanya. Jika Makam Mbah Setuhu dan Mbah Setya: biasa disebut Seco, adalah warisan peradaban, maka yang paling penting adalah berterima kasih karena turut serta dalam membangun peradaban kemanusiaan jawa, khususnya di daerah sekitar makam, lebih luas lagi Malang, Jawa dan Nusantara.

Budaya Tandur

Tandur, atau menanam adalah upaya untuk berkomunikasi dengan alam. Baik alam kecil (Jagad Cilik) atau alam luas (Jagad Gêdde). Masyarakat di sekitar Dusun Keramat Desa Patokpicis mayoritas adalah petani sayur. Budaya tandur, jika ditarik pada sikap sosial berarti kesadaran untuk berbagi.

Sistem nilai dalam budaya jawa selalu mengisyaratkan keluhuran tata krama, tentu hal ini juga tergambar di setiap ajaran kemanusiaan dari berbagai bangsa. Kontek kejawaan pasti memiliki karakternya sendiri.  Hal ini dapat dilacak dengan munculnya istilah seje deso mawa cara, setiap desa berbeda karakternya. Karakter yang dimaksud tentu tidak hanya dalam konteks komunikasi sosial, tetapi juga pada aspek tradisi, etika, budaya dan agamanya.

Seperti halnya pada istilah “Mikul duwur mendhem jero”, artinya adalah menghargai dan menghormati sipapun, khususnya yang berkaitan dengan dirinya. Orang tua misalnya, para leluhur. Di daerah dusun Keramat di mana Mbah Setya dan Mbah Setuhu dimakamkan, masyarakat sekitar memiliki karakteristik tertentu. Semisal yang paling Nampak adalah perihal cara berkomunikasi dan budaya sosial masyarakatnya.

Di samping budaya tandur yang sangat lekat, keramahan masyarakat dusun tersebut, dari anak kecil sampai yang sepuh menunjukkan bahwa ada dampak ajaran kinasih dari Mbah Setya dan Mbah Setuhu. Bagi yang percaya “Barokah” tentu akan melihat dengan cara pandang dan sudut pandang yang luas terhadap situasi sosial budaya di dusun tersebut. Keunikan inilah yang perlu dikenal dan pahami oleh generasi millennial. Oleh karenanya semangat menjaga dan melestarikan warisan para leluhur perlu ditumbuh kembangkan dalam sanubari generasi penerus.[]

 



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Tradisi Ramadan di Gresik Cermin Perkembangan Islam Diterima Masyarakat

Published

on

By



Sejarawan yang juga Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (PP Lesbumi NU), KH Agus Sunyoto, mengatakan dalam bulan Ramadhan di Indonesia dikenal dengan banyak tradisi yang sifatnya berlatar keagamaan yang dimulai pada 21 Ramadan.

Sebelum tanggal tersebut, hampir tidak ada kemeriahan Ramadhan yang bersifat tradisi. “Tetapi ketika mencapai tanggal 21, sudah mulai bermunculan tradisi yang dilakukan sejak zaman Walisongo. Contoh tradisi di Gresik ada malam selikur atau malam ke-21. Orang-orang bikin lampion-lampoion atau damar kurung sepanjang jalan ke makam Sunan Giri,” katanya saat mengisi Pesantren Ramadhan yang digelar virtual oleh Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Kamis (15/4).

Kiai Agus mengatakan, orang biasanya mengenal lampion-lampion sebagai bagian dari tradisi bangsa Tiongkok. Adanya pemasangan lampion ini bukan saja untuk kegiatan ziarah. Tetapi, juga saat khataman Al-Qur’an dan lainnya. Karena, sejak zaman dulu dilakukan bangsa Tiongkok yang beragama Islam.

Selain itu, kata dia, pada malam ke-23 ada tradisi kolak ayam. Ayam dimasak dengan santan, kemudian dicampur dengan daun bawang dan gula merah. Setelah itu, masakan dibagikan. Penyelenggara meminta santri untuk membagikan, kadang jumlahnya mencapai 2000 untuk berbuka puasa.

Ada lagi pada malam ke-25 atau selawe, yakni tradisi di daerah Giri. Tradisi ini dimulai untuk menghormati Raden Ali Murtadho, kakak dari Sunan Ampel. Saat pelaksanaan tradisi ini, orang beramai-ramai datang. Sampai tiba puncaknya ada peringatan pasar bandeng. Peringatan ini seperti lomba siapa yang bisa menyajikan bandeng yang terbesar, akan keluar sebagai pemenang.

Hasil dari pemeliharaan bandeng yang mencapai berat 12-15 kilogram itu dilelang. Orang berebut untuk membeli bandeng terbesar, sebagai penghargaan dengan membeli harga yang sangat tinggi. “Ini ada kaitannya dengan produk mayoritas di Gresik itu petambak,” kata penulis Atlas Walisongo ini.

Dia menceritakan, peringatan itu terjadi kerena adanya rangkaian pengembangan Islam di Giri. Berdasarkan Babad Gresik, pada saat Sunan Giri kedua yakni Zaenal Abidin atau Sunan Dalem menggantikan ayahnya, Giri diserang Adipati Raden Pramana, dengan membawa ribuan pasukan bergerak dari pedalaman ke Gresik untuk menyerang Giri. Semua penduduk melarikan diri karena ketakutan. Namun ada pasukan yang membela Sunan Giri, jumlahnya 40-an, dipimpin Panjilaras dan Panjiliris. Keempatpuluh orang itu adalah orang-orang China Muslim yang bersenjatakan bedil. Mereka menghadang pasukan Sengguru di daerah Lamongan.

“Tetapi mereka tetap kalah jumlah kemudian mundur lalu mengungsikan Sunan Giri 2 ke pedalaman, daerah Kidang Palih. Merasakan bahwa desa tersebut kehadiran Sunan Giri, penduduk dengan seadanya memberikan sambutan hidangan yang bisa dimakan oleh Sunan Giri dan pengawal-pengawalnya. Mereka rata-rata membawa ayam dan kemudian gula Jawa dan kelapa kemudian yang dimasak menjadi kolak ayam,” tutur Kiai Agus Sunyoto.

Tradisi yang dilakukan pada 23 Ramadan setiap tahun ini tidak banyak diketahui, sebagai salah satu tradisi islamisasi, betapa dulu menyebarkan Islam tidakla mudah. Demikian juga peringtan malam ke-25 Ramadan, sejatinya untuk memperingati Raden Ali Murtadho, seorang pejabat pertama Majapahit yang keduduknnya sebagai raja Pandita, atau hakim tinggi merangkap urusan Islam.

“Ini tradisi yang menandakan Islam masuk di Indonesia kemudian diterima masyarakat,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Kiai Agus Sunyoto mengatakan puasa Ramadhan adalah kesempatan bagi umat Islam untuk berjuang meraih Adam makrifat tepat saat tibanya Hari Raya Idul Fitri. Hal itu didasarkan pada puasa Ramadhan yang biasa dilakukan pelaku tasawuf.

Sejak awal puasa Ramadan, para ahli tasawuf sudah sudah menetapkan puasa mengikuti sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah, yakni saat berbuka cukup dengan tiga biji kurma dan segelas air.

Namun tidak semua orang berhasil meraih Adam makrifat terlebih masyarakat sekarang yang untuk berbuka puasa menyiapkan berbagai makanan bahkan saat acara buka bersama.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Agus Sunyoto: Puasa Ramadan Sarana Mencapai Adam Makrifat

Published

on

By



Sejarawan Agus Sunyoto mengatakan puasa Ramadhan adalah kesempatan bagi umat Islam untuk berjuang meraih Adam makrifat tepat saat tibanya Hari Raya Idul Fitri. Hal itu didasarkan pada puasa Ramadan yang biasa dilakukan pelaku tasawuf. Sejak awal puasa Ramadan, para ahli tasawuf sudah sudah menetapkan puasa mengikuti sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah, yakni saat berbuka cukup dengan tiga biji kurma dan segelas air.

“Para salik mengamalkan itu. Tidak di masyarakat sekarang (yang menyiapkan buka puasa) aneka macam makanan, kue-kue apa saja bahkan berlebihan, seperti balas dendam karena sehari nggak makan,” kata H Agus Sunyoto saat mengisi Pesantren Ramadan yang digelar virtual oleh Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Kamis(15/4).

Karena memakan tiga biji kurma dan segelas air, pada hari pertama, kedua dan seterusnya, membuat orang yang berpuasa di hari ketujuh merasa lemah pada bagian kaki, bahkan seperti lumpuh terutama di bagian lutut belakang. Kemudian pada menjelang hari keempat belas, punggung merasa seperti lumpuh.

“Ketika masuk hari ke-21 kesadaran indrawi mulai lemah, karena kesadaran pancaindra dari makanan. Makin mengurangi makan, kesadaran pancaindra menurun. Dimulai malam ke-18 atau 19, orang akan seperti melihat sesuatu yang abstrak, seolah-olah itu hal yang benar, ada bayangan-bayangan kelihatannya bukan hal yang sebenarnya, seperti ilusi. Itu kondisi pancaindra kita turun masuk malam ke-20 melihat sesuatu di balik fakta-fakta yang tidak dapat ditangkap oleh matahati,” beber penulis buku Atlas Walisongo.

Karena itu, jangan heran pada malam ke-21 orang yang sudah melaksananan cara puasa Rasulullah dapat melihat yang gaib. Termasuk malam lailatul kodar, tidak dengan mata indrawi. Puncakya pelaku puasa akan mencapai Idul Fitri, kembali kepada fitah. “Kenapa disebut kembali ke fitrah, dalam tasawuf adalah manusia sebagai keturuan adam kembali ke fitrah adam yang sejati yang pertama kali diciptakan Allah, yang disebut fitrah Adam makrifat,” terangnya.

Adam makrifat, kembali pada situasi ketika Nabi Adam mampu berbicara dengan malaikat, berkomunikasi dengan Allah SWT, dan melihat alam gaib. Allah SWT memberikan perintah langsung kepada Adam, termasuk jangan mendekati pohon khuldi, karena akan menjadi orang yang terhijab.

“Ternyata karena desakan nafsu, pohon itu tidak sekadar didekati tapi dimakan oleh Adam. Sejak itu Nabi Adam jatuh langsung terhijab tidak lagi berkomunikasi dengan Allah SWT, tidak melihat alam gaib di mana ada malaikat. Adam lalu beristighar menyesali apa yang dilakukan,” kata Ketua Lesbumi PBNU. Puasa dengan meniru Rasulullah, adalah cara yang diberikan kepada keturuan Nabi Adam untuk mencapai kembali Adam makrifat, mencapai kembali kepada Allah.

“Maka berpuasa kuncinya di situ, betapa sulitnya karena desakan-desakan nafsu dunia sehingga tradisi ini hanya dilakukan segelintir pesuluk, yang lain sudah tradisi buka bersama dan makan yang enak-enak,” ujarnya. “Sekarang kita sulit menemukan orang yang berusaha mencapai itu, karena berpikirnya materialis, tertutup oleh materi,” imbuh Agus Sunyoto.

Sebelumnya Kiai Agus Sunyoto juga mengatakan dalam bulan Ramadan di Indonesia, terutama setelah hari ke-21, dikenal penuh tradisi yang sifatnya berlatar keagamaan, dan ini suduah berlangsung selama ratusan tahun. Pada awal-awal har Ramadhan, hampir tidak ada ritual yang sifatnya tradisi, karena orang lebih sibuk melakukan amaliah puasa. Tradisi yang baru muncul adalah peringatan Nuzulul Quran, tetapi ketika mencapai tanggal 21, sudah mulai bermunculan sejak zaman Walisongo. Salah satu contohnya adalah malam selikuran, atau malam ke-21. Umat Islam membuat lampion atau damar kurung yang dipasang sepanjang jalan ke makam Sunan Giri. Orang menganggap lampion adalah tradisi China. Padahal, ini tradisi warga China Islam.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Ini Penjelasan Habib Agil Munawar Tentang Ayat Kewajiban Puasa

Published

on

By



Di dalam Al-Quran, terdapat 13 kali istilah puasa dengan beragam bentuk disebutkan. Istilah tersebut ditemukan di dalam 11 ayat yang tersebar di dalam 6 surah di dalam Al-Quran. Beberapa menggunakan kata shiyam, shaum, kata kerja (fi’il) seperti wa antashumu, kalimat perintah yakni fal yashumu, dan juga menyebut pelakunya yakni ash-shoimin dan ash-shoimaat.

Di dalam surah Al-Baqarah ditemukan di beberapa ayat. Di antaranya pada ayat 183, 184, 185, 187, dan 197. Di surah An-Nisa terdapat pada ayat 92. Al-Maidah (89 dan 95), Maryam (26), dan terdapat pula dalam surah Al-Mujadilah ayat 3.

Pakar Tafsir Al-Quran Habib Said Agil Husin Al Munawar mengatakan bahwa tidak semua ayat-ayat yang disebutkan itu bercerita tentang puasa dalam bulan Ramadhan, tetapi menjelaskan tentang puasa dalam segala konteksnya.

Namun menurutnya, ayat 183 surah Al-Baqarah yang menjadi landasan untuk berpuasa di bulan Ramadhan sangat memiliki pesan yang mendalam. Jika ayat tersebut dibedah dengan ilmu Al-Quran, katanya, bahkan juga dengan kaidah-kaidah penafsiran (qawaiduttafsir) maka akan didapati banyak pelajaran yang luar biasa.

“Allah memulai firmannya dengan Ya Ayyuhalladzina aamanuu. Di dalam ilmu Al-Quran, khususnya dalam ilmu qawaiduttafsir, kalimat itu disebut dengan istilah mukhatabat yakni arah perintah, arah larangan, dan arah dari firman Allah,” tutur Menteri Agama pada Kabinet Gotong-Royong periode 2001-2004 itu.

Ayat 183 dalam surah Al-Baqarah itu, Allah memulai firman-Nya dengan panggilan kehormatan, kedekatan, keistimewaan, kebesaran, dan keagungan kepada orang-orang yang beriman. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan sejati, murni, dan mandarah daging di dalam tubuhnya.

“Bukan iman yang hanya stempel saja, tidak demikian. Maka dari itu perintah yang Allah akan wajibkan itu didasari oleh keimanan seperti itu (sejati, murni, mandarah daging),” jelasnya dalam Pesantren Ramadhan Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Selasa (13/4) siang.

“Lalu, kutiba alaikumusshiyam. Diwajibkan atas kamu berpuasa. Kalau orang-orang pondok, kutiba itu mabni li majhul, bukan mabni lil ma’lub, diwajibkan atas kamu. Orang-orang beriman yang diwajibkan puasa. Siapa yang mewajibkan? Jawabnya tidak lain, yang mewajibkan itu adalah yang memanggil kita dengan panggilan kehormatan, kedekatan, keakraban,” imbuh Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Dari situlah, kewajiban yang diperintahkan oleh Allah disebut dengan istilah puasa yakni menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual pada waktu tertentu. Dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Jika seseorang yang menjalankan ibadah puasa berangkat dari keimanan yang murni dan sejati, maka selama perjalanan melaksanakan puasa tidak akan pernah merasakan lapar dan haus sebagaimana pada hari-hari sebelum Ramadhan.

“Biasanya, habis shalat subuh saja kita sudah merasa lapar dan langsung mencari sarapan. Tapi selama pelaksanaan ibadha puasa, kita tidak merasakan itu sama sekali,” terangnya.

Di samping itu, Allah menjelaskan bahwa puasa bukanlah ibadah yang baru melainkan sudah ada sejak dulu. Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah dalam ayat 183 surah Al-Baqarah, kamaa kutiba alalladzina min qablikum.

“Hanya tata cara puasa saja yang berbeda. Ada yang puasa, dia tidak makan daging atau yang sifatnya hewan-hewan yang berdarah. Ada yang berpuasa untuk langsing tubuhnya. Ada juga yang berpuasa semata-mata untuk kesehatan saja. Ada lagi yang berpuasa, dan bahkan sampai menjahit mulutnya untuk tidak berbicara dalam rangka menuntut sesuatu. Ini ragam dari ibadah puasa,” jelas Habib Said.

“Pertanyannya, ibadah puasa yang bagaimana yang Allah wajibkan kepada kita? Tentu ibadah puasa yang diniatkan hanya kepada Allah. Apa tujuan ibadah puasa? Tujuannya, la allakum tataqum, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Itulah jaminan dari Allah,” lanjutnya.

Orang-orang bertakwa itu adalah mereka yang memiliki kepekaan sosial. Hal ini sebagaimana penjelasan Allah dalam surat Ali Imran ayat 134. Orang-orang yang bertakwa itu adalah mereka yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah serta memaafkan kesalahan orang lain. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Dalam surat An-Nahl ayat 128 disebutkan bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Selain itu, dijelaskan pula bahwa orang yang bertakwa juga adalah orang yang diberikan wawasan oleh Allah, sebuah kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan salah.

“Hati nuraninya selalu memberikan pencerahan kepadanya, di samping Allah akan menghapuskan dosa dan kesalahannya,” jelas Habib Said.

Di ayat yang lain juga disebutkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang selalu mendapatkan kemudahan dalam segala urusan. Orang-orang yang selalu mendapatkan jalan keluar atau solusi dari berbagai permasalahan dan kesulitan yang dihadapi.

Kemudian, orang yang bertakwa adalah orang yang selalu mendapatkan karunia Allah dari jalan yang tidak terhingga, yang tidak terlintaskan sedikit pun di dalam hati dan sanubari. “Orang yang bertakwa juga adalah orang yang apabila dia melakukan kesalahan, langsung dia ucapkan astaghfirullah,” pungkasnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved