Connect with us

Budaya

Filosofi Qing Ming, Nyadran dalam Tradisi Tionghoa

Published

on


Tidak hanya kelompok Islam tradisional, etnis Tionghoa juga memiliki ritual nyadran. Nyadran dalam tradisi Tionghoa mengacu pada ritual Qing Ming atau Cheng Beng dalam dialek Hokkian. Mirip dengan nyadran ala umat Islam tradisional, dalam Qing Ming komunitas Tionghoa melakukan ziarah ke makam leluhur bersama-sama. Jika nyadran biasanya dilakukan pada akhir bulan Ruwah atau Sya’ban menjelang datangnya bulan Ramadan menurut kalender hijriah, Qing Ming dilakukan secara serentak setiap tahun pada hari pertama masa matahari kelima dalam kalender Cina atau saat dimulainya musim semi. Tahun ini, Qing Ming jatuh pada 5 April.

Qing Ming menjadi salah satu ritual penting bahkan hari libur nasional di beberapa negara seperti Tiongkok, Taiwan, Hongkong, dan Makau. Selain berziarah dan membersihkan makam, saat Qing Ming, komunitas Tionghoa juga mendoakan leluhur mereka dan memberikan persembahan. Persembahan biasanya mencakup hidangan makanan tradisional, pembakaran dupa dan kertas sembahyang .

Menurut Scott (2007), untuk makanan, keluarga biasanya menyiapkan daging babi panggang, ayam, kue, tiga cangkir teh, dan tiga cangkir anggur. Di makam, makanan-makanan tersebut dipersembahkan terlebih dahulu kepada leluhur baru kemudian dikonsumsi oleh keluarga di tempat. Selain itu, pihak keluarga juga menyediakan uang tiruan dan replika benda-benda seperti rumah, furnitur, kendaraan, bahkan pembantu dan lain-lain.

Uang tiruan dan replika tersebut akan yang dikirim kepada arwah dengan cara dibakar. Hal ini sejalan dengan konsep persembahan dalam Qing Ming yaitu pemindahan makanan, uang, dan barang, dari yang hidup ke yang mati. Sebagai sebuah ritual Qing Ming mengandung semesta filosofi dari tradisi Tionghoa yang menarik untuk dicermati.

Jiwa (soul) menjadi filosofi penting yang mendasari tradisi Qing Ming. Sebagaimana ditulis Berling (1992), sejak zaman kuno orang Tionghoa memiliki gagasan tentang dua jiwa: (1) hun (hun soul), yang bersemayam di papan nama leluhur (ancestral tablet) untuk menerima penghormatan dari keturunan, namun sesungguhnya berada atau dikembalikan ke surga; dan (2) p’o (p’o soul), yang seiring dengan kematian dan pembusukan jasadnya dikembalikan ke bumi. Jiwa yang kedua ini bersemayam di makam, dan apabila dibuat marah, diganggu, atau dianiaya, bisa menjadi hantu, setan, atau wujud yang lain.

Mayoritas orang Tionghoa merasa memiliki kewajiban moral dan agama yang kuat untuk menjaga kontak pribadi dengan leluhur. Tidak saja melalui papan nama leluhur, tetapi juga dengan menjaga kehadiran di kuburan atau menziarahi jiwa p’o. Banyak di antara mereka yang percaya bahwa kepuasan dan kebahagiaan jiwa-jiwa leluhur di dalam makam sangat penting untuk keberhasilan keluarga: kesuburan tanah mereka, kelahiran anak yang sehat, kesejahteraan ternak mereka, keberhasilan usaha besar, dan lain lain. Sehingga, Qing Ming diyakini tidak saja berfungsi memberi penghormatan kepada leluhur tetapi juga dapat memberi timbal balik secara tidak langsung kepada keluarga yang masih hidup.

Surga dan Neraka

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Filosofi penting berikutnya adalah tentang surga dan neraka. Menurut Scott (2007), dalam tradisi Tionghoa, batas antara kehidupan dan kematian relatif tipis. Kehidupan setelah kematian diartikan tak ubahnya bagai kehidupan di dunia. Oleh karena itu, isu terpenting dalam kehidupan baik di dunia maupun di akhirat pada dasarnya sama: kesehatan dan kesejahteraan. Bagaimana mereka memastikan dan mempertahankan vitalitas dalam kehidupan ini dan seterusnya.

Berling (1992) menyebutkan bahwa setelah akulturasi Buddha dengan Tao dan agama rakyat (folk religion) dalam tradisi Tiongkok, surga dan neraka dipandang sebagai dunia nyata di alam roh. Surga dibayangkan sebagai birokrasi yang mirip dengan birokrasi kekaisaran di bumi. Surga, seperti istana kekaisaran, mengawasi aktivitas manusia di bumi, dan bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban. Doa manusia memohon bantuan seringkali dalam bentuk permohonan resmi kepada para tentara surga.

Ketika seseorang meninggal, ia akan menghadapi awal perjalanan yang akan menentukan perannya di dunia akhir. Oleh karena itu para kerabat yang hidup menyediakan semua fasilitas untuk menyokong kebutuhan di dunia yang lain itu: makanan, uang, rumah, kendaraan dalam bentuk replika dari kertas yang dikirimkan dengan cara dibakar. Meski terbuat dari kertas replika namun benda-benda tersebut dipercaya punya arti penting di akhirat.

Menurut catatan sejarah, pada zaman dahulu beberapa penguasa Tiongkok bahkan dimakamkan bersama kuda, pembantu, dan harta bendanya. Penggunaan replika kertas mulai muncul pada masa Dinasti Song (960-1279).

Tatanan sosial atau li, adalah konsep inti yang ditekankan oleh Konfusius. Untuk menjalin hubungan yang baik antar manusia, setiap orang memiliki peran masing-masing yang telah diatur.

Jika setiap orang dapat mematuhi li atau aturan perilaku tersebut dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan statusnya, maka akan tercipta harmoni dalam masyarakat. Konfusius, sebagaimana disitir Liu (2004) berkata, “Jika ayah adalah ayah, anak laki-laki adalah anak laki-laki, kakak laki-laki adalah kakak laki-laki, suami adalah suami, dan istri adalah istri, maka keluarga dalam keadaan yang benar. Saat semua keluarga berada dalam urutan yang benar, semua akan baik-baik saja dengan dunia.” Qing Ming menjadi ritual penting sebagai bagian dari li, untuk menciptakan tatanan sosial yang harmonis termasuk dalam keluarga atau garis keturunan.

 



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Mungkinkah Islam dan Kristen Merayakan Kemenangan Bersama? Refleksi Idul Fitri dan Kenaikan Isa al-Masih

Published

on

By



Dalam satu agenda buka puasa bersama rekan-rekan kelas saya yang notabene adalah teolog Kristen, ada satu momen ketika seorang rekan saya tidak menyeduh kopi ketika saya berada di dekatnya. Dia menimbang kondisi saya yang kebetulan berpuasa dan mencoba menghargai posisiku. Sementara rekan saya lainnnya menyambar gelas kopinya yang tersisa setengah gelas sembari berkata—“mas Ahmad berpuasa harus diuji puasanya dengan cara seperti ini”—sembari melanjutkan menyeruput kopinya. “Tidak ada kemenangan tanpa peperangan mas”, tutupnya. Seketika saya teringat pepatah Latin yang berbunyi “si vis pacem, para bellum”, barangsiapa yang mengingingkan perdamaian, bersiaplah untuk perang”.

Gaya komunikasi atau gaya berdialog tersebut mungkin sulit ditemukan di tengah kondisi orang berpuasa yang gila penghargaan, yang bersiap marah atau minimal protes jika ada orang di sekitarnya yang tidak menghargainya yang sedang menjalankan puasa. Atau mungkin semua orang harus tahu bahwa dirinya sedang berpuasa. Sebagian orang melupakan bahwa puasa adalah urusan dan keputusan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan orang lain. Karena keyakinan tempatnya di hati manusia, di ruang privat.

***

Selain pandemi covid-19 yang tak kunjung usai, krisis ekologi, mudik yang dilarang, pelemahan KPK yang habis-habisan, hal yang istimewa di tahun 2021 ini adalah berjumpanya dua momentum besar dua tradisi agama Ibrahim, yakni Islam dan Kristen, momentum Idul Fitri dan Kenaikan Isa al-Masih yang jatuh pada Kamis 13 Mei. Perjumpaan hari besar kedua agama ini mungkin amat jarang terjadi, oleh sebab sistem penanggalan kedua agama ini memiliki basis yang berbeda sehingga butuh waktu lama untuk menemukan kembali momentum seperti ini lagi.

Meski tetap dalam suasana pandemi covid-19 yang makin mengganas karena kasusnya yang tak kunjung melandai ditambah dengan varian virus baru yang masuk ke Indonesia. Keadaan ini, diperparah dengan kondisi yang semakin tidak menentu ketika jalur-jalur perbatasan di beberapa daerah dikerubungi pemudik yang siap menembus barikade aparat yang berjaga-jaga untuk menyekat arus pemudik. Di kondisi seperti ini, dapat dilihat bahwa bukan Tuhan yang dapat menghentikan laju virus mematikan ini, manusialah yang bertanggungjawab atas penghentian virus ini.

Kembali pada dua momentum besar ini, Idul Fitri dan Kenaikan Yesus menjadi satu permenungan di tengah kekalutan bangsa Indonesia yang semakin hari makin sulit ditebak arahnya. Oleh karena anugerah bangsa Indonesia dikaruniai keragaman, sudah sepatutnya kita merayakan kemenangan dengan begitu semarak, paling minimal menghadirkan kemenangan serta kedamaian di relung hati kita. Menghadirkan surga di dalamnya.

Merayakan Kemenangan Idul Fitri

Bulan Ramadhan datang berulang, menyediakan tempat untuk jeda dari rutinitas. “Jagalah agar lambungmu kosong. Merintihlah bagai sebatang seruling dan sampaikan keperluanmu kepada Rabb”, seru Jalaluddin Rumi. Dalam puasa, sejatinya adalah fase pengosongan diri untuk menghadirkan Sang Ilahi di kedalaman hati, mendengar lebih jelas suara-Nya, melihat lebih jelas apa yang sejatinya menjadi perintahnya. Membentang seruan untuk mengasihi-Nya hingga mengasihi ciptaan-Nya dan segala pancaran kemuliaan-Nya di muka bumi ini.

Dengan berpuasa sejati, derajat manusia naik ke tangga-tangga spiritual. Memegang kendali nafsu, bukan dikendalikan olehnya. Menang atas segala ego angkara murka yang destruktif. Melawan musuh terbesar, yakni diri sendiri. Puncak kemenangan inilah yang kelak menjadi tujuan tertinggi dari Ramadhan yang tiap tahun datang membawa kesadaran manusia mengembara ke kawah candradimuka pelatihan pengendalian diri.

Merayakan Kemenangan Kenaikan Yesus Kristus

Pada momentum kenaikan Yesus adalah salah satu dari rangkaian kronologi Yesus, dari Natal (kelahiran), wafat (penebusan dosa), Paskah (kebangkitan) dan Kenaikan Yesus ke Surga. Dari mula Yesus yang merupakan firman Allah yang nuzul menjadi manusia hingga kenaikan-Nya dan bersatu dengan ke Allah Bapa (Rabb). Momentum kenaikan ini pula menjadi penanda bahwa karya Isa sebagai manusia sudah selesai dan berikutnya menjanjikan penolong, yakni Roh Kudus kepada para murid-murid.

Kenaikan Yesus ke surga menunjukkan kualitas kemanusiaan yang mengIlahi, menggenapi puncak pengorbanan-Nya di kayu salib. Yesus memberi teladan bahwa cinta Ilahiyat memerlukan pengorbanan paripurna. Tanpa pengorbanan, niscaya kemenangan dan damai sejahtera tak akan digapai. Dari momen ini juga, Yesus mengajak kepada semua umat manusia untuk memenangkan rasa khawatir dan takut karena akan datang penghiburan setelah kedukaan, akan ada pelangi setelah badai, senada dengan pesan al-Qur’an yang berbunyi “laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun” (mereka tidak takut dan tidak pula mereka bersedih).

Merayakan Kemenangan Bersama: Mungkinkah?

Dalam momentum berpuasa di bulan Ramadhan ini, umat Islam juga bisa melalui momentum kenaikan dalam kehidupannya. Imam Al-Ghazali memberi analogi bahwa ketika manusia terjerumus dalam hawa nafsu, maka ia turun ke tingkat hewan. Dan sewaktu ia mencegah diri dari hawa nafsu, maka ia terangkat ke tingkat malaikat. Malaikat itu dekat dengan Allah, yang perilakunya dekat dengan malaikat, berdekatlah ia dengan Allah, sebagaimana dekatnya para malaikat itu.

Pada saat yang sama, menengok peristiwa Yesus naik ke surga juga menjadi penanda bahwa karya Yesus sebagai manusia telah usai dan kembali atau pulang ke sisi Allah. Pada momen kepulangan Yesus ke sisi Allah ini dapat memberi isyarat juga kepada umat Islam bahwa fitrah atau muasal manusia adalah sisi Allah.

Yesus kembali ke Allah adalah satu momen krusial di kenaikan-Nya. Kembali ke fitrah kini tidak saja kembali suci dalam hal ini, namun juga refleksi mendalam bahwa kehidupan di dunia fana ini adalah peziarahan menuju kepada-Nya, pulang ke rumah-Nya.

Momentum Idul Fitri dan Kenaikan Yesus Kristus adalah dua momentum yang sama-sama membawa kemenangan kepada masing-masing hati yang merindukan persaudaraan umat beriman, yang merindukan Khaliknya. Momentum ini membawa kedua umat lebih rekat lagi untuk meraih kemenangan bersama-sama tanpa perlu saling mengalahkan satu dengan yang lainnya. Tanpa perlu menyalahkan yang lainnya untuk meneguhkan kebenaran sendiri.

Kemenangan rohani telah dicapai meski tetap membutuhkan perjuangan setelahnya. Kemenangan ini telah digapai pada momentum langka kali ini. Selanjutnya, kapan kemenangan atas kemiskinan, bencana ekologi, korupsi, kejahatan HAM dan bentuk kelaliman lainnya akan dicapai bersama-sama? Wallahu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Tradisi Lebaran Masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi

Published

on

By



Seperti apakah tradisi Lebaran atau Idul Fitri di Arab Saudi? Adakah persamaan dan perbedaan antara Lebaran di Arab Saudi dan Indonesia? Pula, apakah tradisi Lebaran sama atau beda di kalangan kaum Syiah dan Sunnah (sebutan warga Saudi untuk kelompok Sunni) di Arab Saudi?

Tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang yang menganggap masyarakat muslim Arab Saudi itu “kering” dalam menjalankan tradisi Lebaran karena adanya asumsi “Salafisme–Wahabisme” yang berwatak puritan dan kurang ramah dengan aneka ragam aspek tradisi dan budaya lokal, ternyata faktanya tidak demikian.

Warga Saudi tidak melulu pengikut “Wahabi” (saya pakai tanda kutip karena warga Saudi umumnya tidak menyukai sebutan yang bernuansa peyoratif ini. Mereka lebih suka disebut Hanbali atau Salafi). Banyak dari mereka yang mengikuti tradisi Sunni non-Wahabi atau bahkan Syiah.

Perayaan Lebaran di Arab Saudi juga berlangsung sangat meriah dan khidmat penuh dengan taburan budaya dan tradisi lokal yang sudah mereka wariskan dan praktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad. 

Tentu saja saat ini (sejak tahun lalu), karena Covid-19, suasana Lebaran jadi lain karena sebagian besar dirayakan secara daring. Jadi, tidak semeriah saat sebelum pandemi.

Menariknya, baik masyarakat Sunni maupun warga Syiah yang berjumlah sekitar 15 persen dari total penduduk Arab Saudi yang mencapai sekitar 32 juta jiwa memiliki tradisi perayaan Lebaran yang kurang lebih sama. Yang membedakan di antara keduanya, antara lain, adalah ritual salat Idul Fitri. 

Di kalangan masyarakat Syiah Saudi – populasi mereka mayoritas tersebar di Ahsa, Qatif, Saihat dan kawasan lain di Provinsi Ash-Sharqiyah – salat Id diiringi dengan dua khutbah setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan teks khusus yang ditujukan untuk Imam Hussein (putra Ali bin Abi Talib) dan kemudian doa untuk Imam Mahdi. Keduanya merupakan figur yang sangat penting bagi masyarakat Syiah.  

Berikut ini sejumlah persamaan tradisi Lebaran di kalangan masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi seperti dituturkan oleh sejumlah informan, baik kolega maupun murid-murid saya yang berasal dari dua komunitas tersebut. Lagi, ini adalah tradisi perayaan Lebaran di masa normal sebelum pandemi. 

Di antara persamaannya, antara lain, tradisi mudik. Sejak 1970an dan terutama 1980an ketika era “pembangunanisme” dan industrialisasi booming di Arab Saudi akibat meroketnya harga minyak di pasaran dunia, banyak masyarakat yang semula tinggal di daerah pinggiran kemudian pindah ke kota-kota besar seperti Riyadh, Jeddah, Dammam, Jubail dan lain sebagainya untuk mencari pekerjaan di perusahan-perusahaan. Urbanisasi menjadi tak terelakkan karena pemerintah, kalangan industri, dan pelaku usaha membutuhkan banyak tenaga kerja. Karena laki-laki usia produktif terbatas, mereka bahkan mendatangkan para pekerja dari berbagai negara. 

Pelan tapi pasti, akhirnya banyak warga Saudi yang tinggal di kota-kota berpisah dengan anggota keluarga utama mereka di desa-desa. Karena itulah, Lebaran (selain Idul Adha) menjadi momen penting untuk mudik ke kampung halaman merayakan bersama anggota keluarga lain atau teman lama. Lebaran kemudian menjadi “ajang reuni” bagi mereka.   

Persamaan berikutnya adalah “tradisi idiyah”, yaitu pemberian sejumlah uang receh ke anak-anak biasanya sekitar 5 atau 10 Riyal (SR 1 = Rp. 4.000). Anak-anak sudah tahu tradisi ini. Karena itu setiap lebaran mereka keliling dari rumah ke rumah untuk minta “idiyah” ini.

“Ada bahkan anak-anak yang kadang bisa mengumpulkan uang hingga SR 1.000,” kata temanku Haytham Alhubaithi.

Bukan hanya anak-anak, bagi anggota keluarga yang mampu atau yang sudah bekerja, mereka juga memberi uang ke anggota keluarga yang belum bekerja atau kepada nenek mereka. Tentu saja bukan SR 10, melainkan SR 100 atau SR 200 tergantung kemampuan dan kerelaan. 

Kemudian, baik masyarakat Sunni maupun Syiah, setelah salat Subuh dan sebelum salat Id, mereka biasanya mandi terlebih dahulu. Tujuannya tentu saja supaya tubuh bersih untuk menyambut “hari kemenangan”. Setelah mandi, sekeluarga kemudian berangkat ke masjid untuk menunaikan salat Id dan mendengarkan khutbah Id. 

Tak lupa mereka memakai pakaian tradisional yang baru seperti jubah / gamis (thub) lengkap dengan kain penutup kepala (disebut ghutrah, shimag, kufiyah dlsb) dan tali hitam pengikatnya (iqal). Perempuan juga mengenakan aneka ragam pakaian (abaya) baru. Uang yang dikeluarkan untuk membeli pakaian perempuan ini jauh lebih banyak (karena harganya lebih mahal) ketimbang laki. Sering mereka pesan atau “berburu” pakaian jauh hari sebelum Ramadan, baik dari Arab Saudi sendiri maupun dari Luar Negeri. 

Perlu diingat, hanya laki-laki yang salat Id di masjid. Sementara perempuan tetap di rumah. Kaum perempuan tidak dilarang salat Id di masjid tetapi menurut tradisi mereka (yang dipengaruhi oleh sejumlah teks hadis), perempuan melaksanakan salat di rumah. 

Saat saya tanya alasan kenapa perempuan salat Id di rumah? Mahdi Almabruk menjelaskan, “Karena perlu ada orang yang tetap menjaga rumah sambil menyiapkan aneka makanan dan minuman untuk menjamu tamu-tamu yang datang saat Lebaran.” 

Sebetulnya bukan hanya salat Id, salat-salat yang lain pun, perempuan melakukannya di rumah. Meski demikian, masjid-masjid biasanya juga menyediakan ruang khusus (di atas atau samping) atau, kalau tidak, alat pembatas khusus (biasanya terbuat dari kayu yang dipasang roda sehingga bisa digeser-geser). 

Selain mempersiapkan hidangan Lebaran, baik untuk sarapan, makan siang, atau jamuan para tamu, peremuan juga (biasanya nenek atau ibu) membakar dupa, baik yang berbentuk serbuk (bukhur atau bakhur) maupun yang potongan-potongan kecil (oud). Tujuannya bukan untuk “mengundang setan” tetapi agar ruangan menjadi wangi. 

Setelah menunaikan salat Id, para jamaah kemudian saling berjabat tangan, berpelukan, saling sapa, dan mengucapkan “minal aidin wal faizin”, “id mubarak”, dan lain sebagainya. Ada masjid yang juga menyediakan makanan ringan untuk jamaah. Ini biasanya diorganisir oleh pihak pengurus atau takmir masjid. Kalau di kampungku, jamaah yang membawa aneka makanan (umumnya kupat, lontong, daging ayam, tempe, dan lain-lain) ke masjid. 

Lalu, setelah prosesi salat Id selesai, mereka berziarah ke makam (maqbarah) untuk membacakan sejumlah surat pendek dari Al-Qur’an (seperti al-Fatihah) pada anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. Meskipun umumnya laki-laki yang berziarah, perempuan juga tidak dilarang melakukannya.

Dari tempat pemakaman, mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk sarapan dengan menu seperti biasanya sebelum bulan Ramadan, yaitu kebdah, ful, adas dlsb. Rumah-rumah mereka biasanya didesain secara terpisah untuk laki, perempuan, dan tamu, semuanya ada dinding pembatas. 

Jika menu sarapan itu cukup sederhana, tidak halnya dengan menu makan siang. Untuk makan siang, mereka biasanya memotong domba yang dagingnya nanti dimakan dengan nasi. Berapa domba yang dipotong tergantung kemampuan masing-masing serta tergantung jumlah keluarga besar mereka. Kenapa domba dan bukan ayam?

Menurut mereka, daging ayam, lantaran harganya murah, dianggap tidak “mengorangkan” atau “menghargai” tamu-tamu yang datang yang biasanya berjumlah cukup banyak, selain menjadi simbol “kepelitan” atau “kekikiran”. 

Jadi daging domba adalah lambang “kemurahan” atau “kedermawanan”, selain respek terhadap para tamu. Tradisi “potong domba” ini, seperti ditulis oleh sejumlah antropolog (misalnya, Donald Cole dalam Nomads of the Nomads: The Al Murrah Bedouin of the Empty Quarter) sebetulnya juga merupakan bagian dari kultur lama masyarakat Arab Badui pastoralis-nomad yang dikenal dermawan (Jawa: “loman”) pada tamu atau orang lain sehingga ada ungkapan populer: meskipun seadainya mereka hanya mempunyai seekor domba, maka domba itu akan dipotong untuk disuguhkan pada tamu.

Kini, karena pandemi, mereka tidak bisa merayakan Lebaran seperti biasanya. Tidak lagi bisa ramai-ramai ke masjid karena banyak masjid yang membatasi jamaah. Tidak lagi bisa ramai-ramai mudik. Tidak bisa lagi saling bersalaman dan berpelukan. Yang anak-anak tidak bisa lagi berburu uang receh. Semua dibatasi oleh pemerintah. Hanya perkumpulan dengan jumlah tertentu saja yang dibolehkan.

Akhirnya, sebagian besar tradisi atau kebiasaan Lebaran dirayakan secara daring. Meski demikian, mereka tetap bisa bergembira, saling sapa, dan saling canda untuk merayakan “hari kemenangan” ini, meskipun hanya di dunia maya.  



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Lebaran Jadilah Cahaya, Kita Jadilah Misykatnya

Published

on

By



Beberapa waktu ini saya memikirkan cahaya. Kadang sekilas, kadang cukup lama. Beberapa bulan lalu, tim Madani International Film Festival tiba pada kesimpulan bahwa tahun ini, tema festival adalah “light”. Di satu sisi, kata ini bisa berarti “cahaya”. Di sisi lain, kata ini juga bisa berarti “ringan”. 

Memang, dalam imaji kita, “cahaya” biasanya dibayangkan sebagai sesuatu yang “ringan”, melayang-layang, lincah menari atau memintas di udara. Cahaya seakan selalu melawan gravitasi. Dan memang, cahaya dan gravitasi memiliki hubungan yang kompleks di alam semesta ini, dan tuntas direnungi Einstein –teori relativitasnya yang masyhur itu berpaut dengan masalah gravitasi dan cahaya. 

Tentu saja, cahaya adalah unsur penting dalam dunia visual, dunia pandang. Cahaya memungkinkan mata melihat, karena mata melihat apa-apa yang dijatuhi cahaya. “Melihat” adalah tak lain dari membangun relasi antara kapasitas di dalam retina dengan perjalanan informasi benda-benda yang mendapat terang cahaya, melalui pantulan cahaya ke mata kita. 

Anehnya, buat saya pribadi, pikiran-pikiran dan ketertarikan pada cahaya didahului oleh ketertarikan saya pada kegelapan. Dalam sebuah adagium terkenal, sedemikian sehingga sekarang sudah seperti “truism”, atau kebenaran yang tak dipertanyakan lagi, tersebut bahwa “kegelapan adalah keadaan tiada cahaya”. Saya tak segera bisa memahami truism ini. 

Sejak kecil, kegelapan terasa lebih nyata buat saya. Saya masih mengalami hidup di Jakarta pinggiran yang kena giliran mati listrik. Ketika malam saya terbangun dalam keadaan mati listrik, kegelapan menyergap seakan secara fisik. Sebuah horor mikro. Malah, sebelum era listrik, saya masih mengalami juga era lampu semprong dan patromak. Di depan rumah petak, kebon seorang Haji Betawi dengan pohon-pohon besar –pohon pisang sarang jin, pohon mangga kwini, dan pohon kecapi nan tinggi, di samping semak-semak entah apa. Kegelapan adalah sesuatu yang lebih dominan daripada terang.

Dan memang, Al-Qur’an menyiratkan keadaan itu –minna dzulumaati ilaa ‘nuur. Dalam terjemah, “dari kegelapan menuju terang”, kata “kegelapan” tak memiliki kejelasan apakah ia jamak atau tunggal. Dalam bahasa Arab, “dzulumaat” adalah bentuk jamak dari “kegelapan”, dan “Nuur” adalah bentuk tunggal. Sebetulnya, jika kita perhatikan, dalam bahasa Indonesia pun tersirat kejamakan gelap itu –terjemah lazim, adalah “kegelapan”. Imbuhan “ke-an” menyiratkan serba-serbi, banyak hal yang berhubungan dengan kata dasar yang diapit imbuhan itu. Sedang “cahaya”, biasanya dipakai sebagai bentuk tunggal. 

Dan semasa kecil itu, saya gandrung sekali membaca rubrik kriminal di majalah Intisari. Juga rubrik kriminal di majalah Zaman. Kisah-kisah pembunuh serial, yang seringkali kejam tak terkira. Atau pembunuhan non-serial, tapi dikisahkan dengan detail sebagai drama manusia. Atau cerita-cerita detektif dari Agatha Christie, serial Imung karya Arswendo Atmowiloto yang tak tergantikan, menonton film seri detektif Mrs. Columbo, Agatha Christie’s Poirot, Alfred Hitchcock’s Present, dan Remington Steele.

Memang, banyak seri itu menutur kisah pembunuhan dengan ringan, kadang bahkan komikal. Tapi, pembunuhan hakikatnya sebuah kisah kegelapan: ada kematian, dan ada jiwa gelap sang pembunuh. 

Jelang lebaran ini, saya lanjut dengan rutin menonton film-film bergenre crime story, misteri pembunuhan, drama kejahatan. Baik yang seri, secara binge watching (menonton terus hingga habis seluruh seri relatif tanpa jeda), maupun film-film lepas untuk bioskop. Saat menulis ini, saya di tengah menonton A Confession, sebuah kisah polisi menangkap seorang pembunuh serial yang prolifik, sembari menghancurkan karirnya sendiri sebagai polisi. Dari kisah nyata. Pada saat yang sama, menonton miniseri yang masih bersambung, Mare of Eastown, dengan peran utama Kate Winslet.

Kedua film seri itu mendekati kisah pembunuhan secara realistik. A Confession bahkan berdasarkan kisah nyata, dengan cerita disusun dari pembacaan dokumen dan wawancara ekstensif seputar peristiwa yang dikisahkan. Kita bisa melihat di situ, dengan pendekatan realisme non-Hollywood, detail kronologi peristiwa. Realisme yang sama, dan cukup menyempal dari pakem film seri produksi Hollywood, juga kita lihat pada Mare of Eastown

Keduanya memusatkan perhatian pada korban, dan orang-orang yang kehilangan. Menjadi mengerikan, jika direnungi, betapa sebuah pembunuhan bisa jadi dilakukan orang di sekitar kita. Betapa gelap jiwa seseorang yang mungkin tampak normal dalam keseharian. Dan betapa tak terperi dampak kejiwaan sebuah keluarga, atau lingkungan, dari seorang yang terbunuh. 

Mungkin, itulah kenapa saya sangat gandrung pada genre detektif, drama kejahatan, dan misteri pembunuhan. Kasus-kasus dipecahkan dengan cara rasional. Deteksi, deduksi, penalaran, adalah senjata untuk memberi terang pada gelap kasus pembunuhan. Jadi, dalam hal kisah-kisah detektif, “dari kegelapan menuju terang” bisa diejawantahkan dalam drama prosedural pemecahan kasus. Tersirat di situ, semacam iman bahwa akal bisa memberi terang pada kegelapan.

Tapi, memecahkan masalah atau misteri “siapa pelakunya” adalah satu hal. Menyelami jiwa pelakunya, adalah hal lain. Menonton miniseri The Serpent tentang kisah nyata pembunuh serial dan penipu ulung, Charles Shobraj, memicu kembali rasa tak nyaman yang bikin penasaran itu. Shobraj sangat masyhur waktu saya kecil, dan saya cukup mengikuti kiprahnya sejak saya SMP. Saya penasaran, bagaimana seseorang bisa segelap itu jiwanya.

Tentu saja, tak perlu kita berada dalam situasi ekstrem itu –drama pembunuhan, untuk merasakan betapa kematian adalah kegelapan. Betapa kehilangan akibat kematian adalah sebuah kekosongan yang bagai berton-ton beratnya. Pandemi memberi itu berlipat-lipat: kematian kawan, saudara, juga kecemasan setiap kali bersentuhan dengan orang asing, atau memasukkan jari ke oxymeter kecil untuk memeriksa kadar oksigen dalam darah kita. Hidup seakan lotere, kematian –lebih dari kapan pun bagi generasi saya ke bawah– semakin akrab. Kita bak hidup dalam terowongan gelap. (O, ya, salah satu drakor pembunuhan, berjudul The Tunnel. Seakan sebuah metafor.)

Tapi, lebih dari kapan pun juga, kita semakin memberi arti pada cahaya, pada yang ringan dan terang, pada kejernihan dan rasa gayeng seperti mengambang di kolam atau air laut dalam sebuah pagi benderang yang sepi. Lebih dari kapan pun, kita jadi belajar memaknai kehilangan sebagai pengingat akan yang masih belum hilang, yang masih ada, yang masih kita punya. Itulah setitik cahaya dalam terowongan kegelapan ini: pemaknaan bahwa hidup masih berharga, baik yang telah lalu maupun masih berjalan. 

Maka, lebaran ini semoga jadi lebaran cahaya. Tidak melulu dengan berjumpa fisik atau mudik, tapi melalui pemerian nilai penuh harga pada apa yang ada dalam hidup kita, sejak kesadaran pertama membentuk kenangan kita hingga kini, di sini, di titik ini.

Lebaran, jadilah cahaya. Dan kita, jadilah misykat-nya –ceruk tempat cahaya berpadu cahaya, mewadahi percikan Cahaya Maha Cahaya, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an surah an-Nuur ayat 35. 



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved