Connect with us

Budaya

Dhugdheran: Dari Pasar Malam hingga Arak-Arakan

Published

on


Setiap wilayah di nusantara pasti memiliki adat dan tradisi tertentu. Tak terkecuali di wilayah kota Semarang yang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah. Salah satu tradisi yang dimiliki kota Semarang yaitu upacara tradisi dhugdheran yang rutin diselenggarakan setahun sekali.

Tradisi dhugdheran diadakan untuk menyambut datangnya awal bulan Ramadan. Dhugdheran pertama kali digagas oleh Bupati R.M.T.A Purbaningrat yang diselenggarakan sejak abad 19, yakni pada tahun 1880-an. Menurut Narasumber yang saya wawancarai, Bapak Muhaimin (anggota Jamaah Peduli Dhugdhèr), kemunculan tradisi ini sengaja diciptakan oleh pemerintahan pada masa itu untuk menetapkan awal bulan Ramadan.

Dhugdhèran berasal dari kata “dhug” yaitu suara bedug yang dipukul dan “dhèr” dari suara meriam yang dibunyikan. Tradisi dhugdhèran diawali dengan pasar malam yang digelar selama satu bulan penuh sebelum awal bulan Ramadan. Puncak tradisi dhugdhèran ditandai dengan prosesi arak-arakan, prosesi pemukulan bedug disusul dengan penyulutan meriam yang dilaksanakan di hari terakhir bulan Sya’ban (penanggalan Hijriyah) atau bulan Ruwah (penanggalan Jawa) sebagai tanda dimulai bulan Ramadan keesokan harinya.

Sebelum dinamakan dhugdhèran, penetapan awal Ramadan di Semarang terdapat dua cara. Pertama yaitu rukyat (pengamatan terhadap posisi bulan) dan kedua yaitu hisab (perhitungan atau perkiraan). Bupati Semarang pada saat itu memutuskan untuk menengahi pendapat dari para Ulama dengan mengadakan kegiatan pengumuman awal bulan Ramadan yang diselenggarakan pada tanggal 29 Sya’ban.

Sebelum dimulainya pengumuman, Bupati mengutus petugas khusus untuk melakukan rukyat, yakni mengamati posisi bulan apakah sudah tampak seperti bulan sabit atau belum. Setelah petugas melakukan rukyat, kemudian melaporkan hasil rukyat kepada para Ulama yang telah berkumpul di Masjid Kauman (halaqah).

Susunan kegiatan halaqah (pertemuan para Ulama) yang dilaksanakan di masjid di antaranya: petugas disumpah bahwa apa yang dilihat dan dilaporkannya benar, kemudian melaporkan kepada para Ulama yang nantinya akan disetujui oleh para Ulama. Selanjutnya petugas

menyampaikan laporan kepada Bupati di Kanjengan, yang berada tak jauh dari Masjid Kauman. Kanjengan yakni tempat tinggal sekaligus kantor Kanjeng Bupati, yang pada saat itu memimpin pemerintahan.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

 

Pada saat petugas melapor ke Bupati, keadaan di Masjid Kauman dibunyikan beduk yang suaranya terdengar seperti ‘dhug-dhug-dhug’, dan di Kanjengan dibunyikan suara meriam yang terdengar seperti ‘dhèr-dhèr-dhèr’. Terdapat versi lain yang tertulis juga bahwa, beduk dipukul oleh Bupati Semarang, bersamaan dengan petugas tentara Hindia Belanda (VOC) yang diminta membunyikan meriam sebanyak 3 kali.

Setelah petugas melaporkan hasil rukyat kepada Bupati, Bupati mengumumkan hasilnya di alun-alun yang terletak di depan Kanjengan. Rangkaian kegiatan tersebut pada awalnya dilaksanakan pada malam hari setelah Magrib. Bupati mengadakan kegiatan tersebut karena merasa bahwa masyarakat membutuhkan kepastian mengenai kapan datangnya awal bulan Ramadan. Melalui bunyi beduk dan meriam yang bersahut-sahutan, kegiatan pengumuman tersebut disebutlah dhugdhèr dengan ditambahi akhiran ‘–an’ menjadi dhugdhèran.

Kegiatan ini selain sebagai penanda awal bulan Ramadan juga sebagai ajang pengumpulan massa. Kegiatan tersebut cukup menyita perhatian masyarakat yang menunggu di alun-alun, sehingga banyak masyarakat akhirnya berjualan pada keramaian tersebut. Pedagang-pedagang tersebut semakin lama semakin banyak, sehingga keramaian berubah menjadi pasar malam yang pada awalnya disebut mêgêngan. Mêgêngan berasal dari kata muagêng yang bermakna tamu agêng (tamu besar). Artinya, para pedagang yang berjualan pada keramaian tersebut bersiap untuk menyambut tamu besar yang dimaksud yaitu bulan Ramadan.

Pedagang-pedagang tersebut menjual berbagai macam barang dari bahan gerabah seperti celengan dan mainan anak, dan juga menjual makanan. Salah satu barang yang khas dijual pada mêgêngan yaitu warak ngêndhog. Kegiatan mêgêngan pada awalnya berada di alun-alun, namun kemudian berpindah-pindah tempat, dan pada akhirnya bertempat di depan Masjid Kauman dan sekitarnya.

Terdapat perubahan pada pelaksanaan dhugdhèran dalam beberapa periode. Perubahan tersebut diperkirakan mendapat pengaruh politik dari pemerintah yang berkuasa. Pasca kemerdekaan, prosesi rukyat yang seharusnya dilaksanakan oleh petugas menjadi ditiadakan. Hal tersebut ditiadakan karena menunggu hasil sidang isbat yang disampaikan oleh Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama), karena yang berhak menetapkan awal masuknya bulan Ramadan adalah pemerintah pusat.

Sekitar tahun 1960 terdapat agenda penataan wilayah, yakni Semarang yang awalnya kabupaten berubah menjadi kotamadya, sehingga Kanjengan dirobohkan. Lantaran Kanjengan ditiadakan, pusat pemerintahan berpindah di Balai Kota yang terletak 2 kilometer ke arah barat daya dari Kanjengan semula. Dengan berpindahnya pusat pemerintahan, berpindah pula tempat pelaksanaan upacara tradisi dhugdhèran menjadi di Balai Kota dan berlangsung selama 30 tahun di sana.

Pasar malam dhugdhèran (mêgêngan) juga berpindah tidak lagi di Alun-alun dan di sekitar Masjid Kauman, namun bertempat di depan Pasar Johar. Pada periode tahun 1960-1981 pembunyian meriam diganti menjadi bom udara, kemudian pada tahun 1982 bom udara dirasa berbahaya dan diganti dengan sirene.

Pada tahun 1983, kegiatan dhugdhèran yang pada awalnya hanya pasar malam dan prosesi pengumuman, ditambah dengan agenda arak-arakan. Kegiatan arak-arakan dilaksanakan sore hari dengan mengarak warak ngêndhog yang biasa dijual di mêgêngan dengan ukuran besar. Pada prosesi arak-arakan dhugdhèran, Wali Kota yang sedang menjabat diarak dengan berperan sebagai R.M.T.A. Purbaningrat. Ihwal tersebut memungkinkan bahwa masyarakat dan pemerintah tetap ingin mengingat Aryo Purbaningrat sebagai sosok yang mencetuskan kegiatan dhugdhèran, dan diharapkan kegiatan tersebut dapat dilaksanakan terus menerus. Arak-arakan diikuti oleh perwakilan dari siswa-siswi dari TK hingga SMA, serta perwakilan tiap kecamatan.

Pada tahun 1995 bertepatan dengan pencanangan Tahun Kunjungan Wisata Indonesia yang bertema ulang tahun emas (50 tahun) Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, agenda dhugdhèran ditambah dengan Festival Warak Ngêndhok pada pagi hari sebelum sorenya diadakan arak-arakan.

Kegiatan dhugdhèran terus berlangsung hingga pada tahun 2004 atas inisiatif Jamaah Peduli Dhugdhèr, kegiatan dhugdhèran kembali bertempat di Masjid Kauman baik pada perhelatan pasar malamnya maupun arak-arakan. Tahun 2006, atas prakarsa dari Gubernur Mardiyanto (yang menjabat pada saat itu) prosesi arak-arakan diperluas hingga ke Masjid Agung Jawa Tengah. Tak lupa prosesi halaqah, pengumuman, dan penyulutan beduk serta meriam dilaksanakan di sana.

Karena masyarakat lebih tertarik dhugdhèran dilaksanakan di Masjid Agung, maka dibuatlah acara tambahan yakni pembagian Air suci Alqur’an mulai tahun 2007. Pada tahun 2010 ditambah dengan acara pembagian Roti Ganjel Rel. Acara ‘Andum Ganjel Rel’ itu menurut Muhaimin berasal dari Kerata Basa. Yang artinya adalah “ojo ngganjel, tapi rela”. Apabila kita mulai

memasuki bulan Ramadan, dalam hati jangan ada yang mengganjal, tetapi harus rela. Rela yang berarti ridho, legawa, jangan sampai ada yang menganggu pikiran dan hati, karena sebentar lagi berpuasa.

Sejak awal kemunculannya hingga tahun 2019, dhugdhèran rutin diselenggarakan untuk menandai masuknya awal bulan Ramadan. Mengutip Radcliffe Brown, bahwa fungsi dari kegiatan yang selalu berulang seperti sebuah acara keagamaan merupakan bagian dari proses kehidupan sosial sebagai sumbangan bagi kerekatan sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa dhugdhèran yang dilakukan secara berulang akan menjadi suatu kebiasaan, adat tradisi, dan secara tidak langsung menjadi perekat dalam kehidupan masyarakat.

Dhugdhèran menjadi salah satu peristiwa budaya pada kota lain juga identik dengan peristiwa budaya tertentu, seperti di yang secara tidak langsung menautkan pada ciri khas kota Semarang, di mana Surakarta dan Yogyakarta yang memiliki tradisi Sêkaten. Pada Sekaten terdapat kegiatan upacara yang bersifat sakral, tetapi juga ada rangkaian pasar malam yang bersifat sekuler dan hiburan. Mirip halnya dengan dhugdhèran yang memiliki pasar malam yang bersifat hiburan, namun juga terdapat prosesi dhugdhèran yang bersifat suci karena terkait pada penandaan awal puasa Ramadan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam di kota Semarang.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Mungkinkah Islam dan Kristen Merayakan Kemenangan Bersama? Refleksi Idul Fitri dan Kenaikan Isa al-Masih

Published

on

By



Dalam satu agenda buka puasa bersama rekan-rekan kelas saya yang notabene adalah teolog Kristen, ada satu momen ketika seorang rekan saya tidak menyeduh kopi ketika saya berada di dekatnya. Dia menimbang kondisi saya yang kebetulan berpuasa dan mencoba menghargai posisiku. Sementara rekan saya lainnnya menyambar gelas kopinya yang tersisa setengah gelas sembari berkata—“mas Ahmad berpuasa harus diuji puasanya dengan cara seperti ini”—sembari melanjutkan menyeruput kopinya. “Tidak ada kemenangan tanpa peperangan mas”, tutupnya. Seketika saya teringat pepatah Latin yang berbunyi “si vis pacem, para bellum”, barangsiapa yang mengingingkan perdamaian, bersiaplah untuk perang”.

Gaya komunikasi atau gaya berdialog tersebut mungkin sulit ditemukan di tengah kondisi orang berpuasa yang gila penghargaan, yang bersiap marah atau minimal protes jika ada orang di sekitarnya yang tidak menghargainya yang sedang menjalankan puasa. Atau mungkin semua orang harus tahu bahwa dirinya sedang berpuasa. Sebagian orang melupakan bahwa puasa adalah urusan dan keputusan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan orang lain. Karena keyakinan tempatnya di hati manusia, di ruang privat.

***

Selain pandemi covid-19 yang tak kunjung usai, krisis ekologi, mudik yang dilarang, pelemahan KPK yang habis-habisan, hal yang istimewa di tahun 2021 ini adalah berjumpanya dua momentum besar dua tradisi agama Ibrahim, yakni Islam dan Kristen, momentum Idul Fitri dan Kenaikan Isa al-Masih yang jatuh pada Kamis 13 Mei. Perjumpaan hari besar kedua agama ini mungkin amat jarang terjadi, oleh sebab sistem penanggalan kedua agama ini memiliki basis yang berbeda sehingga butuh waktu lama untuk menemukan kembali momentum seperti ini lagi.

Meski tetap dalam suasana pandemi covid-19 yang makin mengganas karena kasusnya yang tak kunjung melandai ditambah dengan varian virus baru yang masuk ke Indonesia. Keadaan ini, diperparah dengan kondisi yang semakin tidak menentu ketika jalur-jalur perbatasan di beberapa daerah dikerubungi pemudik yang siap menembus barikade aparat yang berjaga-jaga untuk menyekat arus pemudik. Di kondisi seperti ini, dapat dilihat bahwa bukan Tuhan yang dapat menghentikan laju virus mematikan ini, manusialah yang bertanggungjawab atas penghentian virus ini.

Kembali pada dua momentum besar ini, Idul Fitri dan Kenaikan Yesus menjadi satu permenungan di tengah kekalutan bangsa Indonesia yang semakin hari makin sulit ditebak arahnya. Oleh karena anugerah bangsa Indonesia dikaruniai keragaman, sudah sepatutnya kita merayakan kemenangan dengan begitu semarak, paling minimal menghadirkan kemenangan serta kedamaian di relung hati kita. Menghadirkan surga di dalamnya.

Merayakan Kemenangan Idul Fitri

Bulan Ramadhan datang berulang, menyediakan tempat untuk jeda dari rutinitas. “Jagalah agar lambungmu kosong. Merintihlah bagai sebatang seruling dan sampaikan keperluanmu kepada Rabb”, seru Jalaluddin Rumi. Dalam puasa, sejatinya adalah fase pengosongan diri untuk menghadirkan Sang Ilahi di kedalaman hati, mendengar lebih jelas suara-Nya, melihat lebih jelas apa yang sejatinya menjadi perintahnya. Membentang seruan untuk mengasihi-Nya hingga mengasihi ciptaan-Nya dan segala pancaran kemuliaan-Nya di muka bumi ini.

Dengan berpuasa sejati, derajat manusia naik ke tangga-tangga spiritual. Memegang kendali nafsu, bukan dikendalikan olehnya. Menang atas segala ego angkara murka yang destruktif. Melawan musuh terbesar, yakni diri sendiri. Puncak kemenangan inilah yang kelak menjadi tujuan tertinggi dari Ramadhan yang tiap tahun datang membawa kesadaran manusia mengembara ke kawah candradimuka pelatihan pengendalian diri.

Merayakan Kemenangan Kenaikan Yesus Kristus

Pada momentum kenaikan Yesus adalah salah satu dari rangkaian kronologi Yesus, dari Natal (kelahiran), wafat (penebusan dosa), Paskah (kebangkitan) dan Kenaikan Yesus ke Surga. Dari mula Yesus yang merupakan firman Allah yang nuzul menjadi manusia hingga kenaikan-Nya dan bersatu dengan ke Allah Bapa (Rabb). Momentum kenaikan ini pula menjadi penanda bahwa karya Isa sebagai manusia sudah selesai dan berikutnya menjanjikan penolong, yakni Roh Kudus kepada para murid-murid.

Kenaikan Yesus ke surga menunjukkan kualitas kemanusiaan yang mengIlahi, menggenapi puncak pengorbanan-Nya di kayu salib. Yesus memberi teladan bahwa cinta Ilahiyat memerlukan pengorbanan paripurna. Tanpa pengorbanan, niscaya kemenangan dan damai sejahtera tak akan digapai. Dari momen ini juga, Yesus mengajak kepada semua umat manusia untuk memenangkan rasa khawatir dan takut karena akan datang penghiburan setelah kedukaan, akan ada pelangi setelah badai, senada dengan pesan al-Qur’an yang berbunyi “laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun” (mereka tidak takut dan tidak pula mereka bersedih).

Merayakan Kemenangan Bersama: Mungkinkah?

Dalam momentum berpuasa di bulan Ramadhan ini, umat Islam juga bisa melalui momentum kenaikan dalam kehidupannya. Imam Al-Ghazali memberi analogi bahwa ketika manusia terjerumus dalam hawa nafsu, maka ia turun ke tingkat hewan. Dan sewaktu ia mencegah diri dari hawa nafsu, maka ia terangkat ke tingkat malaikat. Malaikat itu dekat dengan Allah, yang perilakunya dekat dengan malaikat, berdekatlah ia dengan Allah, sebagaimana dekatnya para malaikat itu.

Pada saat yang sama, menengok peristiwa Yesus naik ke surga juga menjadi penanda bahwa karya Yesus sebagai manusia telah usai dan kembali atau pulang ke sisi Allah. Pada momen kepulangan Yesus ke sisi Allah ini dapat memberi isyarat juga kepada umat Islam bahwa fitrah atau muasal manusia adalah sisi Allah.

Yesus kembali ke Allah adalah satu momen krusial di kenaikan-Nya. Kembali ke fitrah kini tidak saja kembali suci dalam hal ini, namun juga refleksi mendalam bahwa kehidupan di dunia fana ini adalah peziarahan menuju kepada-Nya, pulang ke rumah-Nya.

Momentum Idul Fitri dan Kenaikan Yesus Kristus adalah dua momentum yang sama-sama membawa kemenangan kepada masing-masing hati yang merindukan persaudaraan umat beriman, yang merindukan Khaliknya. Momentum ini membawa kedua umat lebih rekat lagi untuk meraih kemenangan bersama-sama tanpa perlu saling mengalahkan satu dengan yang lainnya. Tanpa perlu menyalahkan yang lainnya untuk meneguhkan kebenaran sendiri.

Kemenangan rohani telah dicapai meski tetap membutuhkan perjuangan setelahnya. Kemenangan ini telah digapai pada momentum langka kali ini. Selanjutnya, kapan kemenangan atas kemiskinan, bencana ekologi, korupsi, kejahatan HAM dan bentuk kelaliman lainnya akan dicapai bersama-sama? Wallahu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Tradisi Lebaran Masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi

Published

on

By



Seperti apakah tradisi Lebaran atau Idul Fitri di Arab Saudi? Adakah persamaan dan perbedaan antara Lebaran di Arab Saudi dan Indonesia? Pula, apakah tradisi Lebaran sama atau beda di kalangan kaum Syiah dan Sunnah (sebutan warga Saudi untuk kelompok Sunni) di Arab Saudi?

Tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang yang menganggap masyarakat muslim Arab Saudi itu “kering” dalam menjalankan tradisi Lebaran karena adanya asumsi “Salafisme–Wahabisme” yang berwatak puritan dan kurang ramah dengan aneka ragam aspek tradisi dan budaya lokal, ternyata faktanya tidak demikian.

Warga Saudi tidak melulu pengikut “Wahabi” (saya pakai tanda kutip karena warga Saudi umumnya tidak menyukai sebutan yang bernuansa peyoratif ini. Mereka lebih suka disebut Hanbali atau Salafi). Banyak dari mereka yang mengikuti tradisi Sunni non-Wahabi atau bahkan Syiah.

Perayaan Lebaran di Arab Saudi juga berlangsung sangat meriah dan khidmat penuh dengan taburan budaya dan tradisi lokal yang sudah mereka wariskan dan praktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad. 

Tentu saja saat ini (sejak tahun lalu), karena Covid-19, suasana Lebaran jadi lain karena sebagian besar dirayakan secara daring. Jadi, tidak semeriah saat sebelum pandemi.

Menariknya, baik masyarakat Sunni maupun warga Syiah yang berjumlah sekitar 15 persen dari total penduduk Arab Saudi yang mencapai sekitar 32 juta jiwa memiliki tradisi perayaan Lebaran yang kurang lebih sama. Yang membedakan di antara keduanya, antara lain, adalah ritual salat Idul Fitri. 

Di kalangan masyarakat Syiah Saudi – populasi mereka mayoritas tersebar di Ahsa, Qatif, Saihat dan kawasan lain di Provinsi Ash-Sharqiyah – salat Id diiringi dengan dua khutbah setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan teks khusus yang ditujukan untuk Imam Hussein (putra Ali bin Abi Talib) dan kemudian doa untuk Imam Mahdi. Keduanya merupakan figur yang sangat penting bagi masyarakat Syiah.  

Berikut ini sejumlah persamaan tradisi Lebaran di kalangan masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi seperti dituturkan oleh sejumlah informan, baik kolega maupun murid-murid saya yang berasal dari dua komunitas tersebut. Lagi, ini adalah tradisi perayaan Lebaran di masa normal sebelum pandemi. 

Di antara persamaannya, antara lain, tradisi mudik. Sejak 1970an dan terutama 1980an ketika era “pembangunanisme” dan industrialisasi booming di Arab Saudi akibat meroketnya harga minyak di pasaran dunia, banyak masyarakat yang semula tinggal di daerah pinggiran kemudian pindah ke kota-kota besar seperti Riyadh, Jeddah, Dammam, Jubail dan lain sebagainya untuk mencari pekerjaan di perusahan-perusahaan. Urbanisasi menjadi tak terelakkan karena pemerintah, kalangan industri, dan pelaku usaha membutuhkan banyak tenaga kerja. Karena laki-laki usia produktif terbatas, mereka bahkan mendatangkan para pekerja dari berbagai negara. 

Pelan tapi pasti, akhirnya banyak warga Saudi yang tinggal di kota-kota berpisah dengan anggota keluarga utama mereka di desa-desa. Karena itulah, Lebaran (selain Idul Adha) menjadi momen penting untuk mudik ke kampung halaman merayakan bersama anggota keluarga lain atau teman lama. Lebaran kemudian menjadi “ajang reuni” bagi mereka.   

Persamaan berikutnya adalah “tradisi idiyah”, yaitu pemberian sejumlah uang receh ke anak-anak biasanya sekitar 5 atau 10 Riyal (SR 1 = Rp. 4.000). Anak-anak sudah tahu tradisi ini. Karena itu setiap lebaran mereka keliling dari rumah ke rumah untuk minta “idiyah” ini.

“Ada bahkan anak-anak yang kadang bisa mengumpulkan uang hingga SR 1.000,” kata temanku Haytham Alhubaithi.

Bukan hanya anak-anak, bagi anggota keluarga yang mampu atau yang sudah bekerja, mereka juga memberi uang ke anggota keluarga yang belum bekerja atau kepada nenek mereka. Tentu saja bukan SR 10, melainkan SR 100 atau SR 200 tergantung kemampuan dan kerelaan. 

Kemudian, baik masyarakat Sunni maupun Syiah, setelah salat Subuh dan sebelum salat Id, mereka biasanya mandi terlebih dahulu. Tujuannya tentu saja supaya tubuh bersih untuk menyambut “hari kemenangan”. Setelah mandi, sekeluarga kemudian berangkat ke masjid untuk menunaikan salat Id dan mendengarkan khutbah Id. 

Tak lupa mereka memakai pakaian tradisional yang baru seperti jubah / gamis (thub) lengkap dengan kain penutup kepala (disebut ghutrah, shimag, kufiyah dlsb) dan tali hitam pengikatnya (iqal). Perempuan juga mengenakan aneka ragam pakaian (abaya) baru. Uang yang dikeluarkan untuk membeli pakaian perempuan ini jauh lebih banyak (karena harganya lebih mahal) ketimbang laki. Sering mereka pesan atau “berburu” pakaian jauh hari sebelum Ramadan, baik dari Arab Saudi sendiri maupun dari Luar Negeri. 

Perlu diingat, hanya laki-laki yang salat Id di masjid. Sementara perempuan tetap di rumah. Kaum perempuan tidak dilarang salat Id di masjid tetapi menurut tradisi mereka (yang dipengaruhi oleh sejumlah teks hadis), perempuan melaksanakan salat di rumah. 

Saat saya tanya alasan kenapa perempuan salat Id di rumah? Mahdi Almabruk menjelaskan, “Karena perlu ada orang yang tetap menjaga rumah sambil menyiapkan aneka makanan dan minuman untuk menjamu tamu-tamu yang datang saat Lebaran.” 

Sebetulnya bukan hanya salat Id, salat-salat yang lain pun, perempuan melakukannya di rumah. Meski demikian, masjid-masjid biasanya juga menyediakan ruang khusus (di atas atau samping) atau, kalau tidak, alat pembatas khusus (biasanya terbuat dari kayu yang dipasang roda sehingga bisa digeser-geser). 

Selain mempersiapkan hidangan Lebaran, baik untuk sarapan, makan siang, atau jamuan para tamu, peremuan juga (biasanya nenek atau ibu) membakar dupa, baik yang berbentuk serbuk (bukhur atau bakhur) maupun yang potongan-potongan kecil (oud). Tujuannya bukan untuk “mengundang setan” tetapi agar ruangan menjadi wangi. 

Setelah menunaikan salat Id, para jamaah kemudian saling berjabat tangan, berpelukan, saling sapa, dan mengucapkan “minal aidin wal faizin”, “id mubarak”, dan lain sebagainya. Ada masjid yang juga menyediakan makanan ringan untuk jamaah. Ini biasanya diorganisir oleh pihak pengurus atau takmir masjid. Kalau di kampungku, jamaah yang membawa aneka makanan (umumnya kupat, lontong, daging ayam, tempe, dan lain-lain) ke masjid. 

Lalu, setelah prosesi salat Id selesai, mereka berziarah ke makam (maqbarah) untuk membacakan sejumlah surat pendek dari Al-Qur’an (seperti al-Fatihah) pada anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. Meskipun umumnya laki-laki yang berziarah, perempuan juga tidak dilarang melakukannya.

Dari tempat pemakaman, mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk sarapan dengan menu seperti biasanya sebelum bulan Ramadan, yaitu kebdah, ful, adas dlsb. Rumah-rumah mereka biasanya didesain secara terpisah untuk laki, perempuan, dan tamu, semuanya ada dinding pembatas. 

Jika menu sarapan itu cukup sederhana, tidak halnya dengan menu makan siang. Untuk makan siang, mereka biasanya memotong domba yang dagingnya nanti dimakan dengan nasi. Berapa domba yang dipotong tergantung kemampuan masing-masing serta tergantung jumlah keluarga besar mereka. Kenapa domba dan bukan ayam?

Menurut mereka, daging ayam, lantaran harganya murah, dianggap tidak “mengorangkan” atau “menghargai” tamu-tamu yang datang yang biasanya berjumlah cukup banyak, selain menjadi simbol “kepelitan” atau “kekikiran”. 

Jadi daging domba adalah lambang “kemurahan” atau “kedermawanan”, selain respek terhadap para tamu. Tradisi “potong domba” ini, seperti ditulis oleh sejumlah antropolog (misalnya, Donald Cole dalam Nomads of the Nomads: The Al Murrah Bedouin of the Empty Quarter) sebetulnya juga merupakan bagian dari kultur lama masyarakat Arab Badui pastoralis-nomad yang dikenal dermawan (Jawa: “loman”) pada tamu atau orang lain sehingga ada ungkapan populer: meskipun seadainya mereka hanya mempunyai seekor domba, maka domba itu akan dipotong untuk disuguhkan pada tamu.

Kini, karena pandemi, mereka tidak bisa merayakan Lebaran seperti biasanya. Tidak lagi bisa ramai-ramai ke masjid karena banyak masjid yang membatasi jamaah. Tidak lagi bisa ramai-ramai mudik. Tidak bisa lagi saling bersalaman dan berpelukan. Yang anak-anak tidak bisa lagi berburu uang receh. Semua dibatasi oleh pemerintah. Hanya perkumpulan dengan jumlah tertentu saja yang dibolehkan.

Akhirnya, sebagian besar tradisi atau kebiasaan Lebaran dirayakan secara daring. Meski demikian, mereka tetap bisa bergembira, saling sapa, dan saling canda untuk merayakan “hari kemenangan” ini, meskipun hanya di dunia maya.  



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Lebaran Jadilah Cahaya, Kita Jadilah Misykatnya

Published

on

By



Beberapa waktu ini saya memikirkan cahaya. Kadang sekilas, kadang cukup lama. Beberapa bulan lalu, tim Madani International Film Festival tiba pada kesimpulan bahwa tahun ini, tema festival adalah “light”. Di satu sisi, kata ini bisa berarti “cahaya”. Di sisi lain, kata ini juga bisa berarti “ringan”. 

Memang, dalam imaji kita, “cahaya” biasanya dibayangkan sebagai sesuatu yang “ringan”, melayang-layang, lincah menari atau memintas di udara. Cahaya seakan selalu melawan gravitasi. Dan memang, cahaya dan gravitasi memiliki hubungan yang kompleks di alam semesta ini, dan tuntas direnungi Einstein –teori relativitasnya yang masyhur itu berpaut dengan masalah gravitasi dan cahaya. 

Tentu saja, cahaya adalah unsur penting dalam dunia visual, dunia pandang. Cahaya memungkinkan mata melihat, karena mata melihat apa-apa yang dijatuhi cahaya. “Melihat” adalah tak lain dari membangun relasi antara kapasitas di dalam retina dengan perjalanan informasi benda-benda yang mendapat terang cahaya, melalui pantulan cahaya ke mata kita. 

Anehnya, buat saya pribadi, pikiran-pikiran dan ketertarikan pada cahaya didahului oleh ketertarikan saya pada kegelapan. Dalam sebuah adagium terkenal, sedemikian sehingga sekarang sudah seperti “truism”, atau kebenaran yang tak dipertanyakan lagi, tersebut bahwa “kegelapan adalah keadaan tiada cahaya”. Saya tak segera bisa memahami truism ini. 

Sejak kecil, kegelapan terasa lebih nyata buat saya. Saya masih mengalami hidup di Jakarta pinggiran yang kena giliran mati listrik. Ketika malam saya terbangun dalam keadaan mati listrik, kegelapan menyergap seakan secara fisik. Sebuah horor mikro. Malah, sebelum era listrik, saya masih mengalami juga era lampu semprong dan patromak. Di depan rumah petak, kebon seorang Haji Betawi dengan pohon-pohon besar –pohon pisang sarang jin, pohon mangga kwini, dan pohon kecapi nan tinggi, di samping semak-semak entah apa. Kegelapan adalah sesuatu yang lebih dominan daripada terang.

Dan memang, Al-Qur’an menyiratkan keadaan itu –minna dzulumaati ilaa ‘nuur. Dalam terjemah, “dari kegelapan menuju terang”, kata “kegelapan” tak memiliki kejelasan apakah ia jamak atau tunggal. Dalam bahasa Arab, “dzulumaat” adalah bentuk jamak dari “kegelapan”, dan “Nuur” adalah bentuk tunggal. Sebetulnya, jika kita perhatikan, dalam bahasa Indonesia pun tersirat kejamakan gelap itu –terjemah lazim, adalah “kegelapan”. Imbuhan “ke-an” menyiratkan serba-serbi, banyak hal yang berhubungan dengan kata dasar yang diapit imbuhan itu. Sedang “cahaya”, biasanya dipakai sebagai bentuk tunggal. 

Dan semasa kecil itu, saya gandrung sekali membaca rubrik kriminal di majalah Intisari. Juga rubrik kriminal di majalah Zaman. Kisah-kisah pembunuh serial, yang seringkali kejam tak terkira. Atau pembunuhan non-serial, tapi dikisahkan dengan detail sebagai drama manusia. Atau cerita-cerita detektif dari Agatha Christie, serial Imung karya Arswendo Atmowiloto yang tak tergantikan, menonton film seri detektif Mrs. Columbo, Agatha Christie’s Poirot, Alfred Hitchcock’s Present, dan Remington Steele.

Memang, banyak seri itu menutur kisah pembunuhan dengan ringan, kadang bahkan komikal. Tapi, pembunuhan hakikatnya sebuah kisah kegelapan: ada kematian, dan ada jiwa gelap sang pembunuh. 

Jelang lebaran ini, saya lanjut dengan rutin menonton film-film bergenre crime story, misteri pembunuhan, drama kejahatan. Baik yang seri, secara binge watching (menonton terus hingga habis seluruh seri relatif tanpa jeda), maupun film-film lepas untuk bioskop. Saat menulis ini, saya di tengah menonton A Confession, sebuah kisah polisi menangkap seorang pembunuh serial yang prolifik, sembari menghancurkan karirnya sendiri sebagai polisi. Dari kisah nyata. Pada saat yang sama, menonton miniseri yang masih bersambung, Mare of Eastown, dengan peran utama Kate Winslet.

Kedua film seri itu mendekati kisah pembunuhan secara realistik. A Confession bahkan berdasarkan kisah nyata, dengan cerita disusun dari pembacaan dokumen dan wawancara ekstensif seputar peristiwa yang dikisahkan. Kita bisa melihat di situ, dengan pendekatan realisme non-Hollywood, detail kronologi peristiwa. Realisme yang sama, dan cukup menyempal dari pakem film seri produksi Hollywood, juga kita lihat pada Mare of Eastown

Keduanya memusatkan perhatian pada korban, dan orang-orang yang kehilangan. Menjadi mengerikan, jika direnungi, betapa sebuah pembunuhan bisa jadi dilakukan orang di sekitar kita. Betapa gelap jiwa seseorang yang mungkin tampak normal dalam keseharian. Dan betapa tak terperi dampak kejiwaan sebuah keluarga, atau lingkungan, dari seorang yang terbunuh. 

Mungkin, itulah kenapa saya sangat gandrung pada genre detektif, drama kejahatan, dan misteri pembunuhan. Kasus-kasus dipecahkan dengan cara rasional. Deteksi, deduksi, penalaran, adalah senjata untuk memberi terang pada gelap kasus pembunuhan. Jadi, dalam hal kisah-kisah detektif, “dari kegelapan menuju terang” bisa diejawantahkan dalam drama prosedural pemecahan kasus. Tersirat di situ, semacam iman bahwa akal bisa memberi terang pada kegelapan.

Tapi, memecahkan masalah atau misteri “siapa pelakunya” adalah satu hal. Menyelami jiwa pelakunya, adalah hal lain. Menonton miniseri The Serpent tentang kisah nyata pembunuh serial dan penipu ulung, Charles Shobraj, memicu kembali rasa tak nyaman yang bikin penasaran itu. Shobraj sangat masyhur waktu saya kecil, dan saya cukup mengikuti kiprahnya sejak saya SMP. Saya penasaran, bagaimana seseorang bisa segelap itu jiwanya.

Tentu saja, tak perlu kita berada dalam situasi ekstrem itu –drama pembunuhan, untuk merasakan betapa kematian adalah kegelapan. Betapa kehilangan akibat kematian adalah sebuah kekosongan yang bagai berton-ton beratnya. Pandemi memberi itu berlipat-lipat: kematian kawan, saudara, juga kecemasan setiap kali bersentuhan dengan orang asing, atau memasukkan jari ke oxymeter kecil untuk memeriksa kadar oksigen dalam darah kita. Hidup seakan lotere, kematian –lebih dari kapan pun bagi generasi saya ke bawah– semakin akrab. Kita bak hidup dalam terowongan gelap. (O, ya, salah satu drakor pembunuhan, berjudul The Tunnel. Seakan sebuah metafor.)

Tapi, lebih dari kapan pun juga, kita semakin memberi arti pada cahaya, pada yang ringan dan terang, pada kejernihan dan rasa gayeng seperti mengambang di kolam atau air laut dalam sebuah pagi benderang yang sepi. Lebih dari kapan pun, kita jadi belajar memaknai kehilangan sebagai pengingat akan yang masih belum hilang, yang masih ada, yang masih kita punya. Itulah setitik cahaya dalam terowongan kegelapan ini: pemaknaan bahwa hidup masih berharga, baik yang telah lalu maupun masih berjalan. 

Maka, lebaran ini semoga jadi lebaran cahaya. Tidak melulu dengan berjumpa fisik atau mudik, tapi melalui pemerian nilai penuh harga pada apa yang ada dalam hidup kita, sejak kesadaran pertama membentuk kenangan kita hingga kini, di sini, di titik ini.

Lebaran, jadilah cahaya. Dan kita, jadilah misykat-nya –ceruk tempat cahaya berpadu cahaya, mewadahi percikan Cahaya Maha Cahaya, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an surah an-Nuur ayat 35. 



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved