Connect with us

Ibadah

Tulisan Arab Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad dan Hukumnya

Published

on


Bacaan Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad bukan hal yang baru bagi kita sebagai muslim. Ungkapan tersebut adalah sholawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini bahkan ditekankan dalam Al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 56:

   إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab: 56).

Dalam sebuah hadis nabi disebutkan teks lengkap bacaan sholawat sebagai berikut:

قَالَ : إِذَا أَنْتُمْ صَلَّيْتُمْ عَلَيَّ فَقُولُوا : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda: “Ketika kalian membaca shalawat kepadaku, maka ucapkanlah: “Ya allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya karena engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Penyayang Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya karena engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Penyayang.” (H.R al-Bayhaqi)

Teks lengkap sholawat: Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad

Dari hadis di atas, maka bisa disimpulkan bahwa teks lengkap sholawat adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma sholli ala muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ala ali sayyidina muhammad kama shallaita ala Ibrahima wa ‘ala ali Ibrahim. Wa Barik ala Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ala ali Muhammad. Kama barakta ala Ibrahima wa ala ali Ibrahim. Innaka hamidun majid.

Baca juga: Doa Naik Pesawat

Dalam teks tersebut memang tidak disebutkan kata sayyidina, namun kita diperkenankan untuk menambahkannya sebagai bentuk ta’dhim kepada Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS.

Sedangkan teks singkat sholawat adalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى  سيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad

Ragam Hukum Membaca Shalawat

Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H) menyebutkan bahwa para ulama tidak satu kata dalam memberikan hukum membaca shalawat. Ibn Ḥajar membagi perdebatan hukum shalawat ini menjadi sepuluh kelompok (lihat: Ibn Ḥajar al-Asqalânî, Fatḥ al-Bârî Syarḥ Shaḥiḥ al-Bukharî, (Beirut: Dâr al-Fikr, T.T), j. 11, h. 152.)

Kelompok pertama menyatakan bahwa hukum membaca shalawat adalah sunnah. Salah satu ulama yang mendukung pendapat ini adalah Ibn Jarir at-Thabari. At-Thabari menyebutkan bahwa pendapat ini sudah menjadi kesepakatan para ulama.

Kedua, pendapat yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib tanpa ada batasan apa pun. Salah satu pendukung pendapat ini adalah Ibn al-Qishar.

Ketiga, pendapat Abu Bakr al-Razi, salah satu ulama Hanafiyah, dan Ibn Ḥazm yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib, sebagaimana wajibnya kalimat tauhid, yang harus diucapkan pada waktu melakukan shalat wajib dan shalat sunnah. Pendapat ini juga didukung oleh al-Qurthubi dan Ibn ʽAthiyyah.

Keempat, pendapat Imam al-Syafiʽi dan para pengikutnya, yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib, namun hanya pada waktu duduk di akhir shalat (duduk tahiyyat akhir), antara ucapan tasyahud dan salam.

Kelima, pendapat al-Syaʽbi dan Ishaq ibn Rahawaih, yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib pada saat tasyahud shalat.

Keenam, pendapat Abu Jaʽfar al-Baqir yang menyatakan bahwa hukum shalawat adalah wajib pada saat shalat tanpa batasan. Sehingga dalam pendapat ini shalawat bisa dibaca kapanpun, asalkan dalam keadaan shalat.

Ketujuh, pendapat Abu Bakr bin Bukair, ulama Malikiyyah, yang menyebutkan bahwa diwajibkan memperbanyak shalawat tanpa batasan jumlah.

Kedelapan, pendapat Imam al-Thahawi, Ibn ʽAraby, al-Zamakhsyari dan beberapa ulama lain, yang menyebutkan bahwa diharuskan membaca shalawat (allahumma sholli ala sayyidina muhammad) saat nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan, ini sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi saat ada yang menyebut nama Rasulullah kita diharuskan untuk membaca shalawat.

Baca juga: Ini Cara Bershalawat Kepada Nabi

Kesembilan, pendapat al-Zamakhsyari, yang menyebutkan bahwa wajib membaca shalawat satu kali di setiap majelis, walaupun dalam majelis itu, kita sering menyebut nama Rasulullah berulang-ulang.

Kesepuluh, membaca shalawat diwajibkan dalam setiap doa yang kita panjatkan, hal ini juga disebutkan oleh al-Zamakhsyarî.   Perbedaan pendapat ini dipengaruhi oleh hadits-hadits yang dijadikan sebagai rujukan. Al-Ityûbi (l. 1366 H) misalnya, menyebutkan bahwa ia lebih menguatkan pendapat yang kedelapan (wajib saat disebutkan nama Rasulullah) karena didukung oleh sebuah hadits riwayat Abu Hurairah.  (AN)



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ibadah

Khutbah Jumat: Islam itu Berbasis Etika dan Kemaslahatan, Bukan Kerusakan

Published

on

By


Khutbah Jumat Pertama: Islam berbasis etika dan kemaslahatan, bukan kerusakan

الْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ،ـ أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْم: كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Maasyiral Muslimin Hafidzakumullah

Akhir-akhir ini  kita membaca berita di banyak media yang mengulas beberapa peristiwa terror yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Terror ini menargetkan tempat-tempat peribadatan, gedung-gedung peradilan dan markas kepolisian. Mirisnya terror ini menggunakan agama sebagai justifikasi bagi semua aksi-aksinya. Kenapa seorang mahasiswi dengan bangganya ingin masuk surga dengan cara membunuh sesama manusia? Kenapa seorang suami istri yang ingin masuk surga caranya ialah dengan mengebom dan membinasakan manusia?

Jelas di sini, akal atau nalar sudah tidak lagi bekerja. Yang ada dalam benak mereka hanyalah kebencian-kebencian terhadap kelompok selain mereka. Mereka anggap manusia selain kalangan mereka sebagai kaum kafir yang layak dibunuh. Sungguh ironis, masa iya masuk surga bisa tercapai dengan menumpahkan darah seperti itu? Ini jelas tindakan yang tidak menggunakan akal atau pemikiran.

Kata Ali bin Abi Thalib, laa diina liman laa aqla lahu (tidak akan dikategorikan sebagai orang beragama, orang yang tidak menggunakan akalnya).  Sahabat Nabi ini menegaskan bahwa beragama itu perlu akal, perlu pikiran, bukan semata-mata, soal perasaan, apalagi kebencian.

Baca juga: Teks Khutbah Jumat: Cinta dan kasih Islam untuk Seluruh Alam

Lalu apa pengertian akal? Dan bagaimana menggunakan akal dalam beragama? Al-Quran dalam berbagai ayatnya selalu menganjurkan kita untuk menggunakan akal dan pikiran kita dalam memahami peristiwa di sekeliling kita?

Akal dalam bahasa Arab terepresentasikan dalam kata aqal. Dalam Lisan al-Arab karya Ibnu al-Manzhur, aql didefinisikan sebagai:

العقل: الحجر والنهى، ضد الحمق، والعاقل هو الجامع لأمره ورأيه، مأخوذ من عقلت البعير إذا جمعت قوائمه….العاقل من يحبس نفسه ويردها عن هواها، أخذ من قولهم اعتقل لسانه إذا حبس ومنع الكلام…وسمي العقل عقلا لأنه يعقل صاحبه عن التورط في المهالك أي يحبسه

Aql” ialah daya untuk menahan dan mencegah. “Aql” lawan dari “dungu”. Orang yang berakal disebut sebagai aaqil yang berarti orang yang mampu mengumpulkan pandangan dan pendapatnya. Arti seperti ini disimpulkan dari ungkapan: “aku mengikat (aqaltu) unta jika aku kumpulkan tali-talinya”…orang yang berakal ialah orang yang mampu menahan keinginan diri dan menghindari dari memperturut hawa nafsu. Dalam bahasa Arab ada ungkapan i’taqalat lisanuhu yang artinya “lidahnya terikat jika ia tertahan dan tidak bisa bicara..”. Disebut akal juga karena aql dapat mengikat pemiliknya dari terjerumus ke dalam kehancuran. Artinya akal dapat menahan diri pemiliknya dari terlibat dalam kerusakan.”

Sampai di sini kita melihat bahwa penggunaan aql dalam bahasa Arab sangat mempertimbangkan pertimbangan moral, yakni mencegah dari memperturut hawa nafsu. Kata yang bersinonim dengan aql ialah nuha, yang merupakan jamak dari nahiyyah. Sedangkan nahiyyah, kata Ibnu al-Manzhur dalam Lisan al-Arab ialah “yang mencegah dari kejelekan” (nahiyyah tanha an al-qabih). Kata lain yang bersinonim dengan aql ialah al-hijaa yang dalam Lisan al-Arab diartikan sebagai “mengerti akan kesalahan-kesalahan” (at-Tafathun ilal maghalith aw al-aghalith). Sampai di sini kita tidak menemukan pengertian aqal sebagai “mengetahui sebab-akibat.”

Kata lain yang semakna dengan aql ialah adz-dzhihn. Kata ini meski mengandung arti “pemahaman” namun masih memiliki fitur makna moral. Ibnu al-Mandzhur menjelaskan bahwa dzhihn artinya terungkap dari ungkapan dzahanani ‘an kadza (ia memahamkan aku dari perbuatan jelek ini) yang artinya alhaanii (membuatku lupa tentang perbuatan ini). Dzhihn dalam Lisan al-Arab juga dapat berarti daya (al-quwwah).

Dalam Al-Quran kita temukan banyak sekali ayat-ayat yang mengandung kata aql. Kendati dalam Al-Quran aql tidak disebut dalam bentuk kata bendanya, aql dalam bentuk kata kerjanya menunjukkan arti kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana jalan petunjuk dan mana jalan kesesatan. Kecaman Al-Quran untuk orang-orang musyrik karena mereka tidak mampu membedakan mana jalan petunjuk dan mana jalan kesesatan dan itu artinya la ya’qilun (mereka tidak berakal).

Ini menunjukkan bahwa akal dalam Al-Quran digunakan sebagai cara kita memahami pengetahuan dan meningkatkan pengetahuan, semua itu digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan. Lalu apa yang dilakukan oleh sebagian dari kita yang tidak menggunakan akalnya dalam beragama dan terjerumus ke dalam terorisme tentunya mereka tidak memahami makna Al-Quran tentang peranan akal itu sendiri.

Jelasnya, tidak disebut sebagai orang beragama jika seseorang tidak menggunakan akalnya. Dan akal di sini, ialah sejauh mana kita mengerahkan kemampuan pikir kita untuk memilih kebaikan yang harus kita turuti dan menghindarkan diri dari keburukan dan memperturut hawa nafsu.

Sejarah membuktikan bahwa ilmu pengetahuan Arab yang hidup sampai saat ini yang meliputi fikih, usul fikih, kalam, filsafat dan tasawwuf  semuanya digerakan oleh standar etika dan moral, pertimbangan baik dan buruk.

Fikih merupakan ilmu yang digunakan untuk kebutuhan mengetahui halal dan haramnya sesuatu. Tasawwuf ialah ilmu yang digunakan untuk menapaki jalan mana yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah dan jalan mana yang dapat menjauhkan kita darinya (maqamat wa ahwal). Ilmu kalam juga demikian. Ilmu ini digunakan untuk menilai keyakinan yang sesat dan keyakinan yang benar soal sifat, Dzat dan af’al Allah. Ilmu-ilmu ini diproduk berdasarkan pertimbangan moral.

Baca juga: Khutbah Jumat Singkat: Jihad yang Sering Disalahfahami

Jadi ilmu pengetahuan dalam Islam sangat didasarkan pada pertimbangan moral, termasuk pengetahuan agama kita, harus didasarkan pada akal berbasis akhlak ini.

Jadi, tindak kekerasan apa pun yang mengatasnamakan agama jelas bukan bagian dari agama, karena pelakunya tidak pernah mempertimbangkan baik dan buruk, maslahat atau tidak maslahat. Yang dipertimbangkannya hanya emosi belaka, dan emosi bukanlah akal, beragama dengan emosi bukanlah beragama.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Jumat II: Islam berbasis etika dan kemaslahatan, bukan kerusakan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْم: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

(AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Ibadah

Kumpulan Doa-doa Ramadhan – Islami[dot]co

Published

on

By


Kumpulan doa-doa Ramadhan ini dibaca pada bulan puasa, sebulan penuh.

Ramadhan tidak lengkap rasanya tanpa ibadah. Hari-hari Ramadhan memang disiapkan Allah SWT untuk mendulang pahala dengan memperbanyak ibadah. Salah satu bentuk ibadah adalah berdoa, memohon kepada Allah SWT selama bulan Ramadhan penuh. Berikut kumpulan doa-doa Ramadhan yang bisa kamu baca selama bulan puasa.

Doa Menyambut Bulan Ramadhan 1

اللهم أهله علينا بالأمن والإيمان والسلامة والاسلام والعافية المجللة ودفع الأسقام والعون على الصلاة والصيام وتلاوة القرأن وتدبره .. اللهم سلمنا لرمضان وسلمه لنا وتسلمه منا متقبلأ حتى ينقضي وقد غفرت لنا ورحمتنا وعفوت عنا

Allahumma ahillahu ‘alaina bil amni wal imani was salamati wal islami wal ‘afiyatil mujallalati wa difa’il asqomi wal ‘auni ‘alash sholati wash shiyami wa tilawatil qur’ani wa tadbirih. Allahumma sallimnaa liromadhona, wasallamahu lanaa, wa sallamahu minna hatta yanqadhi wa qad ghofarta lanaa warahmatunaa wa ‘afawta ‘annaa.

Ya Allah, pertemukan bulan ini dengan kami dalam keadaan aman, iman, keselamatan, Islam, sehat yang prima, kebal dari penyakit, dan pertolongan untuk salat, puasa, dan membaca Al-Qur’an. Ya Allah, serahkan kami pada Ramadhan ini. Serahkan Ramadhan pada kami. Selamatkan Ramadhan darikami. Hingga selesai bulan Ramadhan sedang Engkau telah mengampuni kami, Engkau telah merahmati kami, dan Engkau memaafkan kami.

Sumber: Al-Hafidz Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyqa 51/186

Baca juga: Sayyidah Fatimah Az-Zahra Biasa Baca Doa Ini Hari Rabu

Doa Menyambut Bulan Ramadhan 2

اللهم سلمنا لرمضان وسلمه لنا وتسلمه منا متقبلأ

Allahumma sallimna liramadhan, wa sallim ramadhana lana, wa tasallamhu minna mutaqabbalan.

Ya Allah, sampaikan kami dengan selamat ke Ramadhan, sampaikan Ramadhan kepada kami, dan terimalah amal kami di bulan Ramadhan.

Doa Menyambut Bulan Ramadhan 3

اللهم أهله علينا باليمن والإيمان والسلامة والإسلام

Allaahumma ahlilhu ‘alainaa bilyumni wal imaani was salaamati wal islaam, rabbii wa rabbukallaah.

Ya Allah, terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.

Doa/Wirid Selama Ramadhan 1

َأشهد َأن لآ إله إلا االله َأستغفر االله ونسألك رضاك والجنة ونعوذ بك من النار

Ashadu alla ilaha illallah, astaghfirullah, nas’aluk’l-jannata wa na`audhu bika min an-nar

Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. Dan aku memohon ampun pada Allah. Serta memohon surga Allah dan dijauhkan dari api neraka (dibaca 3 kali).

Allahumma innaka ‘afuwwun karimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (3 kali). Ya Kariim

Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Maha Mulia, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku (dibaca 3 kali).

Habib Umar bin Hafiz mengatakan bahwa ulama di Tarim, Yaman, selalu membaca doa ini selama bulan Ramadhan.

Sumber: Habib Umar bin Hafiz

Terkait kumpulan doa Ramadhan ini. Aplikasi Kesan telah mengumpulkan secara khusus dalam satu buku dan bisa kamu download di sini.



Sumber Berita

Continue Reading

Ibadah

Shalat Tarawih di Rumah atau Masjid? Prof. Quraish Shihab: Pilihlah yang Mudah dan Tidak Berbahaya

Published

on

By


Di antara ibadah yang dianjurkan di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih. Seperti dijelaskan Prof. Quraish Shihab, istilah tarawih sebetulnya tidak dikenal pada masa Nabi. Meskipun secara praktik sudah ada. Dulu disebut dengan istilah shalat malam atau qiyamul lail. Rasulullah melakukan shalat malam bulan Ramadhan beberapa kali di masjid, dan sisanya di rumah.

Setelah Rasulullah Wafat, Umar bin Khattab memutuskan untuk mengadakan shalat tarawih di masjid dengan menunjuk Ubay bin Kaab sebagai imam. Dalam sebuah riwayat disebutkan jumlah rakaat shalatnya 20 rakaat.

Tarawih secara bahasa artinya istirahat. Orang pada masa dulu istirahat sebentar setelah salam sebelum melanjutkan shalat berikutnya. Dari sejarah dan makna tarawih ini, kita bisa memahami bahwa Nabi Muhammad, Sahabat, dan ulama terdahulu, melakukan shalat malam dalam waktu yang lama. Ini menunjukkan keseriusan mereka dalam mendirikan malam Ramadhan. Saking lama dan melelahkan, mereka istirahat setelah dua atau empat rakaat.

Pada masa pandemi seperti ini, sebagian kita mungkin ada yang bertanya, lebih baik shalat di masjid atau di rumah? Sebab kebanyakan masjid saat ini sudah mengadakan shalat tarawih dengan menerapkan procedural protokol kesehatan, untuk meminimalisir penularan Covid-19. Meskipun demikian, sebagian orang mungkin ada yang masih ragu, merasa kurang aman, atau karena sibuk bekerja, sehingga tidak bisa ikut shalat tarawih di masjid.

Dalam program Shihab dan Shihab, ketika ditanya tentang lebih baik shalat di rumah atau di masjid, Prof. Quraish Shihab mengatakan, “Pilihlah apa yang mudah, bahkan kita sekarang, pilih mana yang tidak berbahaya.”

Intinya, shalat tarawih tidak wajib di masjid. Bahkan, Rasulullah sendiri, melaksanakan sebagian shalat tarawih di masjid. Kalaupun kita mau shalat di masjid, tetap harus mematuhi protokol kesehatan, karena menghindar dari bahaya dan penyakit juga bagian dari ajaran agama. Kalaupun tidak mampu dan tidak bisa ke masjid, kita bisa melakukan shalat tarawih sendirian ataupun berjamaah di rumah.

“Jadi sebenarnya shalat di rumah, shalat tarawih di rumah itu, adalah salah satu alternatif yang diberikan oleh agama. Bahkan, ada hadis yang dinilai shahih oleh sementara ulama, bahwa mereka yang shalat dua rakaat, setelah shalat isya shalat sunnah rakaat, maka itu dia sudah dapat dinilai melakukan shalat malam,” Jelas Prof. Quraish Shihab.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved