Connect with us

Telaah

Tiga Perempuan Ulama dari Indonesia Timur yang Jarang Kita dengar

Published

on


Adakah ulama perempuan dari Timur Indonesia? Pertanyaan ini menggelayuti pikiran saya ketika tema ulama dan perempuan mengemuka belakangan ini. Pasalnya, ketika membincang Ulama, apalagi Ulama perempuan, informasi yang kerap kita dengar adalah adalah mereka yang hidup di Pulau Jawa. Entah kenapa, kita jarang sekali membicarakan dari daerah lain, apalagi dari Timur Indonesia.

Sebelum lebih jauh membincang ulama perempuan dari Timur secara khusus, kita tampaknya harus membincang perempuan ulama. Ketika membincang mengenai tema ‘Perempuan Ulama’ itu, dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia, faktanya memang tidak terlalu banyak dibicarakan. Kata ulama dalam tradisi beragama di Indonesia, umumnya banyak literatur menematkan kata ulama kepada Kiai, Ajengan, Annaguru, Lebe dan tanpa disadari atau tidak gelar ulama disematkan. Selalu kepada laki-laki.

Kata ulama sendiri adalah jamak dari kata tunggal ‘alim’ yang berarti berilmu. Ulama dalam Al-Qur’an memberi penjelasan mengenai, makna ulama salah satunya adalah QS. Faathir;27-28, bahwa pada ayat ini, diawali dengan menggambarkan kekuasaaan Allah melalui mekanisme kehidupan nyata yang dialami oleh manusia, seperti turunnya hujan dari langit, hujan kemudian menghasilkan buah-buahan dari pohon yang subur dan beraneka ragam, begitu juga dengan ragam dan jenis binatang. Setelah menjelaskan mekanisme alam semesta, Allah SWT, dalam ayat diatas memberi makna bahwa, sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah ulama.

Ayat di atas, dalam pandangan KH. Husein Muhammad dalam bukunya berjudul “Perempuan Ulama Diatas Panggung Sejarah”, memahami konteks ayat 27-28 QS. Faatir, ulama pada ayat tersebut dimaknai sebagai orang yang memahami dan mendalami tentang hukum-hukum kehidupan alama semesta. Maka, siapapun yang dapat memahami hukum kehidupan alam semesta dan dalam hokum semesta disandarkan kepada keyakinan atas kekuasaan Allah SWT maka, apapun jenis kelaminnya dapatlah disebut sebagai ulama.

Sedangkan kata ulama dapat kita lihat pada hadits Nabi Saw yaitu Al-‘ulama waratsatul anbiya yang artinya adalah ulama itu pewaris para nabi. Prof. Dr. M. Quraish Shihab, membagi tugas ulama menurut pengertian sebagai pewaris nabi yaitu, menyampaikan ajaran nabi, menjelaskan ajaran-ajarannya, memutuskan perkara, dan memberi contoh bagi masyarakat. Melihat pengertian umum kata ulama, tidaklah disematkan pada jenis kelamin tertentu. Maka, perempuan sekalipun jika memenuhi kriteria seperti memiliki ilmu agama maupun ilmu umum, mengamalkan pada kehidupan sosio-keagaman serta menyandarkan pengetahuan yang dimiliki sebagai bentuk kekuasaan Allah Swt semata, maka perempuanpun dapat disebut sebagai ulama.

Mengenai pengertian Ulama Perempuan dan Perempuan Ulama, tulisan ini mengacu pada salah satu hasil Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang diselenggarakan pada tanggal 24-27 April tahun 2017. Kongres ini memberi pengertian mengenai, Perempuan Ulama adalah semua orang yang berjenis kelamin perempuan dan memiliki kapasitas keulamaan, baik yang memiliki perspektif keadilan gender ataupun tidak. Sedangkan, Ulama Perempuan adalah semua ulama baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki dan mengamalkan perspektif keadilan relasi laki-laki dan perempuan atau gender dan dapat mengintegrasikan dengan sumber keislaman.

Selanjutnya, tulisan ini mengambil sebuah cerita seorang perempuan di zaman Nabi Muhammad Saw dan dapat diambil sebagai salah satu sumber untuk menjelaskan perempuan ulama. Perempuan itu bernama Khaulah binti Tsa’labah yang doanya menembus langit ketujuh. Suatu ketika, ia menghadapi masalah dan ketetapan hukum persoalan itu belum ada wahyu dari Allah Swt. Hukum itulah yang biasanya dijadikan sandaran untuk menghukumi masalah yang dihadapi. Begitu pula ketiadaan hukum dari Nabi Muhammad Saw, hingga beliau hanya menjawab, Khaulah telah ditalak oleh suaminya bernama Aus bin aS-Shamit. Apalagi, talak itu, berawal dari penolakan Khaulah kepada ajakan suami yang ingin menggaulinya.

Penolakan itu berakhir dengan talak dengan mengatakan, “Bagiku engkau laksana punggung ibukku!”

Dalam tradisi Arab Jahiliyah menyamakan istri dengan punggung ibu suami adalah cara untuk menceraikan istrinya. Pada kasus Khaulah inilah kemudian muncul hukum dhihar, bermula dari doa Khaulah kepada Allah Swt, dengan lantang ia berseru, “Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu. Turunkanlah jawaban bagi masalahku ini melalui lisan Nabi-Mu!”. Atas doa yang diadukan kepada Allah, kemudan turunlah wahyu kepada nabi, yaitu ayat 1-4 dari surat Al-Mujadilah (kitab Al-Munir li Ma’alimi at-Tanzil, Syeikh Nawawi Banten).

Melalui kasus Khaulah ini, dapat disimpulkan bahwa Allah Swt tidak memandang jenis kelamin dalam urusan rahmat dan hidayah-Nya. Layaknya seorang perempuan yang beriman, bahwa Khaulah mengadukan masalah kepada Allah atas keimanan dan keyakinannya atas kekuasaaan Allah Swt. Maka, ulama yang berjenis kelamin apapun bahwa pengetahuan yang dia miliki masih semata-mata berdasar kepada keimanan dan kekuasaan Allah Swt, layaklah disematkan kata ulama pada diri siapapun.

Dengan berdasar pada hasil kongres KUPI dan salah satu kisah sahabat nabi bernama Khaulah binti Tsa’labah, tulisan ini akan berusaha menuliskan biografi perempuan ulama di Indonesia Timur.  Tulisan ini bermula dari kegelisahan dan dorongan untuk ikut serta dalam menuliskan literatur mengenai perempuan ulama di Indonesia, khususnya di Indonesia Timur yang dalam literatur sejarah Islam di nusantara. Tentu, nama-nama perempuan ulama berdasar pada pengaruhnya di masyarakat yang dianggap layak disebut ulama, dilihat dari pengetahuan yang dimiliki, sumbangsihnya atas perkembangan Islam didaerahnya masing-masing serta pengaruhnya diberbagai bidang.

Dorongan lain atas keinginan menuliskan biografi perempuan ulama di Indonesia Timur, yaitu minimnya literatur yang mengangkat sumbangsih perempuan terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Literatur yang mengulik sejarah ulama di Indonesia, masih didominasi oleh kaum laki-laki. Penting kiranya, menuliskan dan mengangkat perempuan yang layak disebut ulama dimasing-masing daerah, juga layak diketahui. Hilangnya kajian mengenai perempuan ulama dalam literatur sejarah, dapat diasumsikan karena masih menguatkan budaya patriarki di kehidupan beragama kita.

Implikasi dari budaya patriarki ini, perempuan di ranah publik masih dianggap sesuatu yang tabu dan kerja-kerja domestik tidaklah dianggap sebagai sebuah yang layak untuk diperbincangkan sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan. Tugas dapur dan sejenisnya tidak dianggap sebagai support system atas kebesaran laki-laki di ruang publik, atau kebesaran seorang ulama laki-laki diruang publik. Tidakkah kita ketahui bahwa sejak dahulu telah muncul perempuan hebat dalam sejarah Islam? Aisyah r.a sebagai istri Nabi Saw misalnya, tetaplah sebagai istri Nabi, tapi di sisi lain kita mengenal Aisyagh sebagai merupakan perempuan cerdas dan paling banyak meriwayatkan hadits nabi.

Lalu, kita pun dalam sejarah telah dikenalkan dengan Khadijah r.a yang mewakafkan hidup dan hartanya untuk kepentingan dakwah Rasulullah dan merupakan salah satu perempuan dalam sejarah Islam yang memiliki kedudukan mulia. Dari Indonesia, kita pun mengenal ulama perempuan seperti seperti Nyai. Ahmad Dahlan atau bernama Siti Walidah yang menjalani kehidupan sebagai istri dengan segala kewajibannya, di sisi lain beliau diranah publik muncul sebagai pendiri organisasi perempuan yaitu Aisyiyah dan banyak lagi contoh perempuan ulama yang tidak lupa kewajibannya sebagai istri (begitupun suami), juga memiliki kewajiban dalam mengembangkan agama Islam.

 

Tiga Biografi Perempuan Ulama Di Indonesia Timur

  1. Gurutta Aminah

Lahir pada tahun 1947 di Sengkang Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan. bernama lengkap Dra. Hj. St. Aminah Adnan, M.Ag merupakan anak kedua dari lima bersaudara, dari pasangan bapak bernama H. Adnan Shaleh dan ibunya bernama Hj. Maccaiyya Badar. Dari keturunan ibu, Gurutta Aminah memiliki hubungan erat dengan yayasan Pendidikan As’adiyah karena salah satu dari saudara ibunya yaitu H. Syamsuddin Badar tercatat sebagai mantan ketua yayasan As’adiyah. Di yayasan As’adiyah inilah Aminah kecil mengenyam pendidikan agama Islam dibawah bimbingan Hj.St. Seng, pada umur sekitar 7 tahun ia telah menghatamkan Al-Qur’an 30 Juz.

Umur 7 tahun, Aminah masuk Sekolah Rakyat pada pagi hari dan sekolah Ibtidaiyah As’adiyah pada sore hari, proses pendidikan ini dijalani selama 6 tahun terhitung pada tahun 1954-1960. Pada tahun 1960-1963 melanjutkan pendidikan di Madrasah Menengah Pertama dan merangkap di Tsanawiyah As’adiyah dan pada tahun 1963-1965 mengenyam pendidikan pada dua tempat pula, yaitu Madrasah Menengah Atas (MMA) sekaligus di Aliyah As’adiyah. Pelajaran favoritnya adalah ilmu Tajwid dan berkaitan dengan ilmu hitungan, selain itu ilmu yang dipelajari adalah Sharf, Nahwu, diajarkan langsung oleh H. Hasan Basri yaitu menantu Gurutta As’ad. Kemudian melanjutkan study di Perguruan Tinggi Islam As’adiyah jurusan Ushuluddin hingga akhirnya mendapat gelar Doktor di Universitas Muslim Indonesia (UMI) pada program study Pengkajian Islam.

Sejak di bangku Aliyah, Aminah telah diberi kepercayaan untuk mengajar kelas di bawahnya. Selain aktif dalam proses belajar mengajar, Aminah juga terhitung sejak menjadi mahasiswa aktif di organisasi, seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan aktif menjadi anggota Fatayat bidang kesenian. Pada tahun 1971, Aminah bahkan sempat menjadi calon legislatif mewakili partai NU dan ditinggalkan karena tahun 1972 diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

baca juga: 6 Cara Rasululllah Memuliakan Perempuan

Pada tahun 1972 pula, Gurutta Aminah dipercaya memimpin Madrasah Tsanawiyah putri hingga tahun 2007(Ulama Perempuan, Litbang Kemenag 2012). Tahun 2008, Gurutta beralih menjadi tenaga pengajar di STIA As’adiyah. Akan tetapi, aktivitas yang tidak pernah ditinggalkan adalah berdakwah melalui organisasi Majelis Wanita As’adiyah sebagai ketua (1983-1988), telah aktif sejak tahun 1975. Tercatat juga sebagai ketua bidang pakar organisasi Muslimat, tahun 2011-2016 serta sejak tahun 2007 telah menjadi anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Wajo.

Di pondok pesantren As’adiayah, Gurutta Aminah tercatat mengampu pelajaran kitab bernama Tanwirul Qulub. Dedikasi Gurutta Aminah dibidang pendidikan Islam dan dakwah dimasyarakat, menjadikan beliau sebagai salah satu perempuan yang disematkan kata ‘Gurutta’ sebagai gelar masyarakat Sulawesi terhadap, siapapun yang berjasa dan dipandang sebagai ulama oleh masyarakat setempat.

  1. Syarifah Sya’ddiyah Al-Habsyi

Lahir di Palu Sulawesi Tengah, pada tanggal 15 Agustus 1937. Lahir dari pasangan Sayyid Idrus bin Salim Al-Djufrie dan Intje Ami Dg. Pawindu, yang masih memiliki darah bangsawan Wajo. Berawal dari sang kakek yaitu Salim Al-Djufrie yang mempersunting salah satu puteri dari kesultanan Wajo, bernama Arung Matoa. Salim Al-Djufrie sendiri adalah ulama yang berasal dari Yaman, yang bermula dari keinginannya berkunjung ke Sengkang, Wajo di pondok pesantren As’adiyah dan itu menjadi awal-mula pertemuan antara Arung Matoa dengan Salim Al-Djufrie.

Pendidikan pertama yang diikuti oleh Syarifah Sya’diyah pada umur 12 tahun, di Madrasah Ibtidaiyah Al-Khaerat pada 1949, selama 6 tahun lamanya. Menginjak usia 18 tahun, ia melanjutkan pendidikannya di Muallimin selama 4 tahun, yaitu sejak tahun 1955 sampai 1961. Selama bertahun-tahun belajar ilmu agama, di Al-Khaerat Syarifah Sya’diyah menjadi pengajar perempuan pertama dan menjadikan Wanita Islam Al-Khaerat (WIA) sebagai wadah mendidik perempuan di Palu.

Sejak usia muda, pada umur 25 tahun Syarifah Sya’diyah telah aktif berdakwah selain tugas pokoknya sebagai pengajar di Khaerat. Ketekunan Syarifah dalam mendidik, termasuk mendidik perempuan di Palu dan mendirikan berbagai organisasi perempuan di Palu. Usia 18 tahun, Syarifah Sya’diyah dipersunting oleh Sayyid Idrus bin Husain Al-Habsyi dan melahirkan 8 orang anak.

Ketekunan Syarifah pada pendidikan agama di Al-Khaerat dan berhasil ikut serta dalam mengembangkan pendidikan, terhitung sekitar 1.700 cabang Al-Khaerat berdiri. Dibawah kepemimpinannya, organisasi Wanita Islam Al-Khaerat tersebar diseluruh daerah di Sulawesi Tenggah. Kitab yang diajarkan langsung oleh Syarifah adalah kitab Aqidah Asy’ariyah, Mazhab Syafii serta menjadi pengikut Tarekat Alawiyah (La Mansi, Jurnal Al-qalam 2016). Selain mengajar kitab kuning, Syarifah juga mengajar Bahasa Arab dengan berbagai literatur, seperti Fiqh al-Asqar, Ahlakul Baini, Kullasatun Nurul Yakin dan Matnul al-Julm. Tidak heran jika pesantren putri Al-Khaerat, Syarifah Sya’diyah dipercaya untuk memimpin lembaga pendidikan putri.

Selain aktif diyayasan Pendidikan, Syarifah juga ikut serta menggerakkan organisasi social-keagamaan di Sulawesi Tengah. Ia, aktif dalam mendakwahkan Islam di Indonesia Timur, terkhusus di Sulawesi Tengah, salah satu bentuknya adalah dengan mendirikan Yayasan Persatuan Pengajian Wanita Islam Sulawesi Tengah (YPPWI) dan yayasan ini, berhasil mendirikan Rumah Sakit Islam (RSI) yang berada di jalan Supratman, Palu. Tahun 1976 mendirikan Badan Kejasama Wanita Islam Sulawesi Tengah (BAKESWI) serta tercatat menjadi penasehat MUI provinsi Sulawesi Tengah. Atas dedikasi serta sumbangsih Syarifah terhadap perempuan dan Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan inilah, keulamaan beliau diakui oleh masyarakat serta jajaran pengurus MUI Sulawesi Selatan.

Beliau adalah salah satu perempuan ulama yang berada di Indonesia Timur, patut menjadi teladan bagi siapapun. Ditengah menguatnya budaya patriarki, ia muncul sebagai pendobrak budaya patriarki yang memposisikan perempuan sebagai mahluk kelas kedua(Angger Wiji Rahayu, Junal Permpuan 2015).

Syarifah berhasil menjadi contoh bahwa kewajiban sebagai seorang istri, tidak lantas bahwa kerja domestik membuatnya berhenti berdakwah dan menyebarkan ilmu agama yang dikuasainya, selagi keyakinannya terhadap agama dan tetap mengajarkan agama Islam sebagai sebuah tanggungjawab bagi siapapun.

  1. Tuan Guru Haji Maemunah

Bernama lengkap Maemunah, beliau dikenal dengan sebutan Tuan Guru Haji Maemunah yang lahir 12 Juni 1932 di Morella, Maluku Tengah. Sejak lahir, hingga dewasa, ulama perempuan dari timur ini tidak pernah keluar dari Morellah. Didaerah Morella inilah, Maemunah mendapatkan Pendidikan agama diberbagai tokoh, seperti H. Daud Latulanit, Karaeng Sirr, Karaeng Tabah dan juga belajar kepada suaminya bernama Haji Ali Marassabessy.

Pelajaran agama umumnya didapatkan dari keluarganya sendiri, karena pada masih kuatnya anggapan bahwa perempuan menjadi tabu jika mengenyam pendidika formal. Kuatnya budaya patriarki dilingkungan masyarakat, memuat Maemunah sedari kecil hanya belajar pendidikan non-formal dibeberapa guru/ulama.

Berdasarkan tradisi masyarakat Morella, dusun asal Muna (sapaan untuk Maemunah) yaitu dusul Iyal Uli oleh masyarakat dipercaya sebagai pengurus masjid dan tempat bagi masyarakat Morella untuk belajar ilmu agama. Latulanit adalah salah satu marga Iyal Ulil yang menjadi salah satu marga penting dalam mengajarkan ilmu agama pada masyarakat, Maemunah sebagai salah satu marga Latulanit juga turut serta secara tidak langsung berperan di dalamnya.

Setelah menikah barulah Maemunah mengikuti suaminya menuju negeri Ori untuk berdagang. Haji Ali Marasabessy adalah suami Maemunah, yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tokoh agama untuk bertanya seputar agama Islam. Pada titik inilah Maemunah juga memainkan perannya sebagai salah satu pendidik, yang mengajarkan ilmu agama bersama suaminya.

Tuan Guru Haji Maemunah dalam metode mengajar, terdiri dari dua pendekatan yaitu pendekatan formal dan praktik langsung bahwa ajaran agama dipelajari dari sumber-sumber pokok, kemudian diprakteknya Bersama dengan muridnya. Seperti contoh, Maemunah dalam mengajar murid perempuan yang pertama kali mendapat haid, ia mengajak muridnya untuk ke sungai. Disana, diajarkan langsung cara mencuci diri dari hadast besar dan mandi besar beserta doa-doanya.

Selain itu, TGH. Maemunah juga membentuk majelis dzikir yang muridnya adalah laki-laki dan perempuan. Di majelis ini, dirinya beserta murid tertentu ditunjuk untuk memimpin pengajian dimajelis ini dengan mengawali bertawassul kepada guru-guru yang membawa ajaran Islam di tanahnya. Karena sumbangsihnya terhadap pengembangan agama Islam di tanah Ori, Maemunah oleh muridnya dipanggil sebagai Tuan Guru yang dalam tradisi ulama melayu disematkan kepada seseorang yang dianggap dan diakui masyarakat keilmuan dan keulamaannya. Begitupun dengan disematkannya Tuan Guru ke nama Maemunah adalah pengakuan masyarakat dan muridnya atas keilmuan dan keulamaan, Maemunah. Pada tanggal 23 Februari 2008 di Morella, negeri tempat dilahirkan ia wafat (KH. Ali Yafie, Jejak Perjuangan Keulamaan Perempuan Indonesia, KUPI 2017).

Itulah tiga biografi ulama dari Indonesia Timur yang mungkin jarang kita dengar kiprahnya. Padahal, mereka ini adalah peletak fondasi penting keulamaan di Timur Indonesia. Mereka adalah para Muslimah intelektual yang layak untuk diteladani dan dipelajari, serta digaungkan ke publik yang lebih luas.

Tentu saja, tulisan ini hanyalah pembuka, sebuah pemantik untuk kelak menjadi sebuah penelusuran yang lebih mendalam tentang ulama-ulama perempuan dari Timur. Sebab saya percaya, begitu banyak ulama perempuan di Timur Indonesia yang  menunggu untuk dikisahkan.

*Analisis ini hasil kerja sama Islami.co dan RumahKitaB*



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telaah

Two Distant Strangers: Rasisme dan Satire yang Menolak Tunduk

Published

on

By


Beruntung Two Distant Strangers (2021) masuk gelembung rekomendasi tontonan saya belakangan ini. Saya langsung “mengeksekusinya” tanpa pikir panjang. Setidaknya karena dua alasan: Pertama, film ini adalah film pendek 32 menit yang bisa ditonton sekali duduk. Kedua, Two Distant Strangers masuk nominasi Oscar tahun ini dan saya kira memang pantas mendapatkannya.

Film ini dibuka dengan sekuen apik yang menyorot riuhnya Kota New York dengan segala aktivitas di dalamnya. Lalu tibalah pada adegan seekor anjing yang mendapati mangkok makanannya kosong. Si anjing mencari-cari tuannya yang pergi entah ke mana.

Namanya Jeter. Anjing abu-abu yang sedang lapar itu adalah rekan satu apartemen Carter James. Seorang pemuda kulit hitam yang saban hari bekerja sebagai desainer grafis. Pendapatan James bisa dibilang lumayan dari hasil menggambar. Komiknya sedang banyak diminati pasar. Tapi siapa peduli dengan timbunan uang James? Jeter hanya butuh semangkuk dry food seperti biasanya.

Tapi hari itu James belum pulang. Dia baru terbangun di ranjang asing, bersama seorang gadis. James bangkit dan bergegas pulang karena teringat Jeter. Saat keluar dari apartemen si gadis, dia bertemu dengan polisi kulit putih yang mencegatnya. Si polisi menyanyainya soal rokok James yang dicurigainya sebagai ganja. Ditambah, James menjatuhkan segebok uang hasil menggambarnya. Si polisi tampak tak percaya kalau James adalah pemuda kelas menengah urban baik-baik yang sedang beruntung. Hanya karena kulitnya hitam, dia dicurigai tanpa bukti.

James menolak tasnya digeledah. Dia merasa polisi tak punya hak menggeledah properti pribadinya. James melawan. Tapi dia dilumpuhkan hingga tersungkur ke tanah. Si polisi mencengkeram leher dan tangannya. Dua polisi lain tiba-tiba datang membantu rekannya tersebut. James tak berdaya dan hanya bisa berkata lirih, “I can’t breathe. I can’t breathe. Get off me!

James mati. Dia kehabisan napas. Si polisi kebingungan. Dia tak mengira hari itu akan membunuh seorang sipil yang tak berdaya. Atau, barangkali, itu hanya kebingungan fiktif sebab si polisi seperti tak peduli kondisi orang yang dia cengkeram lehernya tanpa ampun. Tiada yang tahu.

Dan ya, adegan tersebut adalah satire atas kasus pembunuhan Geogre Floyd pada Mei 2020 lalu. Floyd dibunuh oleh polisi kulit putih dengan dugaan sinisme berdasarkan ras. Setelah kematiannya, gelombang protes menghantam Amerika Serikat. Kampanye #BlackLivesMatter kembali menggema di negeri Paman Sam, bahkan sampai internasional. Gerakan sosial berskala masif tersebut menyuarakan penolakan atas rasisme dan brutalitas polisi, khususnya terhadap warga kulit hitam.

Perlu diketahui, Travon Free menulis naskah Two Distant Strangers dua bulan setelah kematian Floyd.

Kembali pada film. Usut punya usut, James ternyata tidak mati. Dia tersadar lagi dan terbangun di ranjang yang sama, bersama perempuan yang sama, dan di waktu yang sama. Dia mengulangi hari itu sama persis: keluar apartemen si gadis, bertemu si polisi, berseteru, dan terbunuh. Setiap James mati, dia otomatis kembali terbangun dari tidur. Begitu terus berulang-ulang sampai percobaannya yang ke-100 kali.

Kita barangkali tidak asing dengan genre fiksi ilmiah semacam ini. Berbeda dengan time travel, film yang berputar-putar pada sebuah waktu seperti ini biasa disebut time loop. Time loop adalah perangkat alur cerita dalam karya fiksi yang membuat karakternya mengulang-ulang waktu yang sama dan biasanya mencoba untuk memutusnya. Kita bisa menjumpai time loop di film Amerika Serikat lain seperti Happy Death Day (2017) yang menegangkan atau di sinema Korea Selatan seperti A Day (2017) yang sangat emosional.

Two Distant Strangers sendiri adalah film time loop terbaik di antara film-film serupa lain yang pernah saya tonton. Film arahan Travon Free dan Martin Desmond Roe ini mempunyai daya dukung teknis yang luar biasa. Sinematografi dan departemen artistik yang ditampilan sejak awal film terasa sangat memanjakan mata. Belum lagi isu yang diangkat sangat relevan dan perlu diarusutamakan, terutama bagi penoton Amerika, dan lebih khusus lagi bagi polisi Amerika yang mempunyai masalah rasisme sejak lama.

Di sisi lain, dua hal yang membuat saya kagum pada film ini adalah ide dan semangat yang diusungnya. Two Distant Strangers merangkai setiap babaknya yang berlapis-lapis dengan cerita dan cara-cara kreatif. Di beberapa bagian saya dibuat kagum karena tawaran ide yang sering tak terpikirkan. Selain itu, dialog-dialognya terasa jujur dan apa adanya, seperti obrolan antarkawan di tempat tongkrongan.

Pada dasarnya, Two Distant Strangers membawa semangat untuk tidak menyerah dalam melawan rasisme. “Tak peduli berapa lama pun, atau berapa kali, bagaimanapun caranya aku akan pulang ke anjingku,” kata James.

Di satu sisi, ucapan James adalah satire atas rentannya keselamatan warga kulit hitam di Amerika Serikat akibat stigma dan rasisme. Namun di sisi lain, film ini sekaligus memposisikan warga kulit hitam sebagai orang-orang yang pantang menyerah melawan rasisme. Film ini disajikan bukan untuk membuat penontonnya berbondong-bondong mengasihani. Sebaliknya, Two Distant Strangers menolak tunduk sebagai pertunjukan para penyintas yang tak berdaya, dan mendorong siapa pun untuk menentang ketidakadilan primordial tersebut, “tak peduli berapa lama pun, atau berapa kali, dan bagaimanapun caranya.”

Jujur saja, film ini membuat saya tertawa dan kagum di banyak adegan, serta membuat saya menangis seperti bayi di akhir cerita. Mengesankan!



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Yahya Waloni dan Kursi Keras Ustaz Mualaf

Published

on

By


Rasa-rasanya, tiada kata yang pantas untuk menggambarkan Yahya Waloni selain “keras”. Baru-baru ini, ia kembali viral karena sebuah potongan video yang menunjukkan bagaimana tingkah Waloni ketika berada di tengah-tengah ceramah, lalu tiba-tiba meminta kursi penceramah diganti, hanya karena kursi awal disebut Yahya Waloni sebagai “kursi Kristen”.

Belum selesai di situ, usai kursi ceramahnya diganti, Yahya Waloni juga mengibaratkan bahwa Islam itu adalah keras, dan oleh karenanya ia lebih menyukai kursi yang lebih keras, bukan kursi yang empuk dan memanjakan seperti “kursi Kristen” itu.

Sikap “keras”nya tersebut tampak cukup berbahaya jika ditarik ke dalam ruang sosial yang lebih luas, karena bisa jadi orang-orang non-Islam akan mengasosiasikan para penceramah Islam sebagai pihak yang sangat anti terhadap Kristen. Ibarat kata, sentimen berlebihan yang ditunjukkan Yahya Waloni sangat berpeluang mengganggu stabilitas hubungan antara Islam-Kristen di Indonesia.

Tidak sekali ini saja, sebelumnya, ia terhitung rajin menghiasi warta-warta media sosial dengan sikap-sikapnya yang justru tidak mewakili ajaran Islam yang, ironisnya, sedang ia dakwahkan. Dari mulai mengajak seorang jamaah ribut sampai menantang berkelahi, tersinggung dengan panitia karena microphone yang bermasalah, sampai cerita dengan bangga menabrak (secara sengaja) seekor anjing di jalanan. Ya, anjing, salah satu binatang yang dalam versi kisah Ashabul Kahfi termasuk binatang yang ada di surga Allah, kelak. Herannya, jama’ah macam apa yang masih setia menggandrungi dan menikmati ceramah-ceramah sentimental semacam ini?

Jika mengacu pada aspek sosial, ada banyak argumentasi yang bisa menunjukkan bahwa perilaku “ustadz” mualaf ini tidak patut dilakukan, bukan hanya bagi seorang penceramah, namun bagi semua umat Islam sekalipun. Aspek sosial, misalnya, bagaimana perasaan para pengrajin mebel yang telah bersusah payah membuat kursi-kursi nyaman, mereka barangkali merasa terhormat karena kursi tersebut hendak diletakkan di rumah Allah, digunakan untuk ceramah, namun hanya karena “ucapan” Yahya Waloni, kebanggaan mereka jadi terganggu.

Barangkali, ta’mir-ta’mir masjid itu sudah memesan kursi yang empuk, agar sang penceramah tetap duduk dengan nyaman sehingga tidak kelelahan ketika berbicara berjam-jam, namun niat baik itu seakan dirusak oleh justifikasi “kursi Kristen” Yahya Waloni. Lagipula, jika hendak diperhatikan, kursi-kursi yang ada di gereja justru berbentuk bangku kayu panjang yang keras juga. Bangku kayu panjang tersebut disusun dengan rapi sehingga bisa memuat jemaat yang banyak ketika melakukan peribadatan.

Pun jika hendak memaksa adanya kursi Islam, sebenarnya dalam ber-Islam, kursi justru kurang mendapat peran yang signifikan. Rasulullah selalu berdiri di mimbar atau duduk lesehan bersama sahabat jika hendak berdiskusi atau mendakwahkan Islam. Jika benar-benar hendak merefleksikan Islam, Waloni harusnya meminta sajadah saja, dan duduk di lantai berdasar sajadah tersebut.

Melihat dari sisi transendental, yang berkutat pada dalil-dalil keagamaan, Waloni mungkin tidak mengetahui adanya QS. al-An’am: 108.

وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan

Pesan Allah tersebut secara nyata bertentangan dengan tipikal dan gaya ceramah Waloni. Ia masih saja membawa sentimen terhadap agama lamanya. Jika memang memaksakan untuk ceramah dan mendakwahkan Islam, Waloni harusnya lebih berfokus terhadap kisah bagaimana ia menemukan kesejukan dalam Islam, bagaimana agama barunya mengubah hidup dan pola pikirnya, bagaimana Islam membawanya ke jalan damai, sehingga para jama’ah semakin yakin bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin, bukan malah menyinggung dan mencela agama lamanya. Untuk apa kita menjelek-jelekkan agama orang lain, toh manusia tidak mempunyai kuasa untuk menilai keyakinan seseorang. Ceramah-ceramah semacam ini malah cenderung bersifat provokatif yang diarahkan untuk membenci agama-agama tertentu. Pertanyaan saya lalu begini, bagaimana output Islam yang diimajinasikan oleh Waloni? Islam yang baik secara vertikal, namun bobrok secara horizontal?

Misi tersebut selain tidak merepresentasikan Islam, juga sangat mustahil dicapai. Bagaimana kita bisa menciptakan hubungan baik dengan Allah tanpa membina hubungan yang baik terlebih dahulu di antara ciptaan-Nya. Allah telah berfirman dalam QS. al-Kahfi: 29,

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”

Kebenaran yang hakiki itu berasal dari Allah, kita sebagai manusia tidak mempunyai otoritas, bahkan hak, untuk menghakimi siapa benar siapa salah. Bahkan Allah pun, sudah memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih beriman atau memilih kafir. Lalu mengapa masih ada hamba Allah yang justru mensegmentasi sebuah kursi berdasarkan agama. Ya Allah, maafkan hambamu yang satu ini.



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Yuni Shara dan Upaya Pendisiplinan Tubuh Perempuan

Published

on

By


Kasus penghujatan Yuni Shara di media sosial menunjukkan betapa tidak sehatnya iklim internet Indonesia. Tidak hanya itu, hinaan dan body shaming yang diterima Yuni Shara nyatanya juga berasal dari sesama perempuan. Kapan perempuan dapat memperoleh posisi mapan di masyarakat, kalau sesama perempuan saja saling hujat?

Hujatan tersebut diterima Yuni Shara ketika ia mengepos fotonya mengenakan Ulos Batak dengan atasan terbuka. Komentar negatif yang disampaikan warganet terbentang dari hinaan fisik, hujatan agamis, bentuk tubuh (body shaming), usia (age shaming), diejek keriput, nenek-nenek, dan lain sebagainya.

Melihat deretan hinaan yang dilancarkan kepada Yuni Shara di atas, wajar saja jika warganet Indonesia dikategorikan sebagai warganet paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Laporan terbaru dari Digital Civility Index (DCI) besutan Microsoft bahkan menempatkan posisi Indonesia di urutan ke-29 dari 32 negara. Artinya, tingkat kesopanan digital Indonesia tergolong dalam deretan paling rendah di dunia.

Psikologi Berbusana ala Perempuan

Busana Ulos Batak dikenakan Yuni Shara yang dipadukan dengan atasan terbuka memang menampakkan keawetmudaan penyanyi papan atas tersebut. Tahun ini, usia Yuni Shara akan menjadi 49 tahun Juni nanti. Sementara, cara berpakaian cukup terbuka itulah yang diserang habis-habisan oleh warganet di Instagram.

Hujatan verbal terhadap cara berpakaian perempuan sebenarnya sudah diteliti oleh Jaimie Arona Krems dari Oklahoma State University tahun lalu. Hasil penelitiannya yang dimuat di Jurnal Social Psychological and Personality Science menjelaskan bahwa pada diri perempuan, terbangun jiwa kompetisi untuk tampil lebih menarik. Perempuan lain yang mengenakan pakaian modis dan dirasa lebih cantik akan cenderung diserang secara agresif oleh sesama perempuan, terutama dari yang tak dikenal.

Tak jarang, sering kali dalam suatu komunitas perempuan, jika tak ada kehadiran laki-laki, biasanya para perempuan akan berpakaian lebih sederhana dan tidak bertujuan menarik perhatian orang lain, menurut Arona Krems. Tujuannya agar menghindari celaan dari sesama perempuan yang cenderung menohok dan mencari-cari kejelekan orang lain.

Jika dilihat dari kasus Yuni Shara, orang-orang yang menghujat artis tersebut adalah perempuan yang cenderung sama usianya. Karena itulah, Yuni Shara pun menjawab komentar ketika ia disebut sebagai nenek-nenek karena tubuhnya dianggap tidak kencang lagi. Yuni pun membalas halus dengan ucapan “semoga awet muda” kepada pengomentar tersebut.

Hujatan atas Tubuh Perempuan dan Pelampiasan Terselubung

Hinaan yang dialami oleh Yuni Shara adalah salah satu dari banyak kasus body shaming atas perempuan. Survei yang dilakukan ZAP Beauty Index 2020 menunjukkan bahwa 62 persen perempuan Indonesia pernah dihujat atau dihina karena bentuk tubuhnya.

Wajar saja, masyarakat seolah mengagung-agungkan kecantikan dan bentuk tubuh sempurna bagi perempuan. Usia tua, seperti yang dialami Yuni Shara, seolah bencana yang tak ingin diterima. Kulit keriput, tak lagi kencang, ketidakbugaran, rambut beruban, dan bentuk-bentuk gejala penuaan merupakan hal memalukan. Bagi sebagian orang, mereka menjadikan gejala penuaan tersebut sebagai lelucon atau hinaan kepada orang lain, seperti yang dialami Yuni Shara.

Jika yang melakukannya adalah sesama perempuan atau orang dengan usia nyaris sama dengan Yuni, maka hujatan itu bisa dilihat sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri dalam bentuk pelampiasan (displacement). Artinya, ia sebenarnya tidak suka dengan dirinya sendiri, namun malah melampiaskannya dengan orang lain.

Dalam contoh kehidupan sehari-hari, seseorang bisa jadi dimarahi bosnya di kantor, namun karena aturan sosial tidak memungkinkan seseorang untuk balik marah ke bosnya, maka ketika ia pulang ke rumah, ia pun memarahi anaknya sebagai pelampiasan emosi tersebut.

Sementara itu, berkat internet, seseorang dapat saja melampiaskan banyak hal melalui komentar negatif dalam bentuk hujatan, hinaan, rasa tidak suka, dan sebagainya kepada siapa pun, termasuk tokoh publik di media sosial.

Pelampiasan itu dirasa masuk akal karena orang yang dihina-hina kemungkinan besar tidak akan bisa membalasnya di dunia nyata. Dalam kasus Yuni Shara, penyanyi ini bahkan tidak membalas hinaan tersebut di internet.

Mungkin, ada benarnya ungkapan bahwa jika seseorang menunjuk kekurangan orang lain, sebenarnya ia tidak sadar bahwa sisa jarinya sedang menunjuk dirinya sendiri.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved