Connect with us

Telaah

Kontroversi Larangan Memakai Cadar dan Burkak Bagi Perempuan Muslim di Swis

Published

on


Awal Maret ini, Swis resmi mengeluarkan aturan baru melarang penggunaan burkak dan cadar di tempat publik bagi perempuan muslim. Aturan baru ini mengundang kontroversi serta dinilai melanggar HAM. Putusan ini lahir usai pemungutan suara dari referendum pada Sabtu (7/3/2021) dengan selisih tipis: 51.2% yang menyetujui dan 48.8% yang menolak larangan ini. Dalih pemungutan suara sebenarnya tidak langsung menyasar pada ajaran Islam, namun dinyatakan bertujuan untuk mencegah aksi kriminal yang lazimnya menggunakan penutup wajah atau aksi vandalisme publik lainnya.

Artinya, segala bentuk penutup wajah yang digunakan di lokasi publik dilarang, termasuk juga burkak dan cadar. Tetapi, jika berkaitan dengan kegiatan budaya, festival, ritual di rumah ibadah, atau pertujukan seni, maka penggunaan penutup wajah tetap diperbolehkan.

Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Swis menilai negatif perempuan bercadar atau mengenakan burkak. Penilaian negatif ini tentunya tidak lahir dari ruang kosong. Sebagai misal, terdapat sentimen terhadap istri-istri dan perempuan yang diduga pelaku teroris karena sebagian besar mengenakan cadar atau burkak. Kendati sebagian pelaku teroris sebenarnya tidak berafiliasi dengan Islam, namun tumbuhnya fobia Islam di negara-negara Barat punya pengaruh negatif mengenai sentimen terhadap simbol-simbol Islam.

Survei yang dilakukan Wadah Pemikir (Think Tank) Pew Research Center merilis mengenai persepsi warga Barat terhadap Islam yang rata-rata 60% memiliki penilaian buruk dan negatif (generally bad), terutama usai kekerasan akibat penanyangan karikatur Nabi Muhammad SAW di Prancis. Rupanya, kejadian yang terjadi di Prancis memiliki gaung ke negara-negara Eropa lainnya. Swis termasuk ke jajaran negara yang menganggap ajaran Islam bertentangan dengan nilai-nilai kebebasan masyarakatnya.

Salah satu penjelasan mengenai aturan ini disampaikan oleh pemerintah Swis: “Penutup wajah seperti cadar, demikian juga burkak adalah simbol penindasan terhadap perempuan. Hal ini tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Swis.”

Secara sederhana, penyataan bahwa cadar dan burkak adalah simbol penindasan terhadap perempuan merupakan pernyataan yang cacat logika. Jika seorang perempuan dengan kesadarannya ingin mengenakan cadar, lalu dilarang oleh aturan negara, bukankah aturan negara tersebut adalah penindasan terhadap kebebasan penduduknya.

Selain itu, mengenakan cadar atau burkak tidak melanggar hak dan kebebasan orang lain. Kendati banyak istri atau perempuan teroris mengenakan cadar atau burkak, bukan berarti semua orang yang mengenakan cadar atau burkak punya kecenderungan menjadi teroris. Penyataan menggeneralisasi terhadap kasus ini merupakan cacat logika yang lain.

Kasus ini menjadi menarik karena mirip dengan yang pernah disidangkan di Mahkamah Hak Asasi Manusia Eropa pada Juli 2014 mengenai kasus pelarangan burkak dan cadar di Prancis. Hasilnya, persoalan ini diserahkan ke diskresi negara bersangkutan. Istilahnya adalah margin of appreciation yang menjustifikasi pelarangan cadar dan burkak.

Azis Anwar Fachrudin pernah menuliskan analogi menarik dengan membandingkannya dengan aturan pencatatan pernikahan. Nikah sirri memang secara agama sah jika rukun-syaratnya terpenuhi, namun negara boleh melarangnya karena potensi mudaratnya lebih besar daripada tidak tercatat secara legal oleh negara. Secara tidak langsung, Azis mengisyaratkan bahwa suatu negara bisa jadi melarang penggunaan penutup wajah (termasuk cadar atau burkak) dan alasannya diterima jika memang potensi mudaratnya lebih besar. Lagi pula, aturan cadar dan burkak pun adalah perkara khilafiyah di kalangan umat Islam.

Pendapat yang diutarakan di atas memang masuk akal, namun hal itu bukanlah keputusan final yang tak bisa ditawar lagi. Bagaimanapun juga aturan diskresi terhadap suatu negara menuai perdebatan publik. Bahkan, ketika Mahkamah Hak Asasi Manusia Eropa menyidangkan kasus pelarangan cadar di Prancis, dua juri dalam sidang tersebut mengutarakan ketidaksetujuannya. Alasannya, pelarangan cadar atau burkak melanggar hak privasi, hak kesadaran, dan hak beragama individu.

Dalam Uraian “Burqa: Human Right or Human Wrong“, Farinaz Zamani Ashni dan Paula Gerber merinci alasan pelarangan cadar dan burkak telah melanggar HAM. Dua penulis ini membandingkan aturan tersebut dengan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights/ICCPR). Dua ayat (ayat 2 dan ayat 18) dalam perjanjian internasional ini telah dilanggar dalam aturan pelarangan pemakaian cadar dan burkak.

Selain itu, pelarangan cadar dan burkak juga melanggar perjanjian internasional yang lain, yaitu Konvensi Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women/CEDAW). Ayat 2 dalam konvensi tersebut menyatakan bahwa perempuan memiliki hak penuh atas busana yang mereka kenakan dan punya kebebasan dalam menjalankan agama yang dianutnya.

Komite HAK PBB juga terang-terangan menentang pelarangan cadar dan burkak di Swis ini. “Justifikasi yang tidak jelas tentang pemakaian penutup wajah yang dapat jadi ancaman keselamatan, kesehatan, atau hak orang lain, tidak dapat dianggap sebagai alasan yang sah untuk pembatasan legal terhadap kebebasan beragama,” tulis komite HAM PBB melalui pernyataan persnya.

Aturan pelarangan cadar dan burkak jelas-jelas menunjukkan penguatan fobia Islam di negara-negara Barat, khususnya Swis. Tentunya, segala jenis fobia merupakan gejala buruk, jika tak tertangani dapat melahirkan rangkaian tindak diskriminatif kepada objek fobia itu sendiri. Dalam hal ini, umat Islam menjadi korban atas sentimen dan persepsi negatif tersebut.

Jika putusan ini benar-benar diterapkan, maka Swis akan mengikuti jejak negara-negara yang sudah lebih dahulu melarang penggunaan cadar dan burkak, seperti Austria, Belgia, Denmark, Belanda, dan Prancis.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telaah

Two Distant Strangers: Rasisme dan Satire yang Menolak Tunduk

Published

on

By


Beruntung Two Distant Strangers (2021) masuk gelembung rekomendasi tontonan saya belakangan ini. Saya langsung “mengeksekusinya” tanpa pikir panjang. Setidaknya karena dua alasan: Pertama, film ini adalah film pendek 32 menit yang bisa ditonton sekali duduk. Kedua, Two Distant Strangers masuk nominasi Oscar tahun ini dan saya kira memang pantas mendapatkannya.

Film ini dibuka dengan sekuen apik yang menyorot riuhnya Kota New York dengan segala aktivitas di dalamnya. Lalu tibalah pada adegan seekor anjing yang mendapati mangkok makanannya kosong. Si anjing mencari-cari tuannya yang pergi entah ke mana.

Namanya Jeter. Anjing abu-abu yang sedang lapar itu adalah rekan satu apartemen Carter James. Seorang pemuda kulit hitam yang saban hari bekerja sebagai desainer grafis. Pendapatan James bisa dibilang lumayan dari hasil menggambar. Komiknya sedang banyak diminati pasar. Tapi siapa peduli dengan timbunan uang James? Jeter hanya butuh semangkuk dry food seperti biasanya.

Tapi hari itu James belum pulang. Dia baru terbangun di ranjang asing, bersama seorang gadis. James bangkit dan bergegas pulang karena teringat Jeter. Saat keluar dari apartemen si gadis, dia bertemu dengan polisi kulit putih yang mencegatnya. Si polisi menyanyainya soal rokok James yang dicurigainya sebagai ganja. Ditambah, James menjatuhkan segebok uang hasil menggambarnya. Si polisi tampak tak percaya kalau James adalah pemuda kelas menengah urban baik-baik yang sedang beruntung. Hanya karena kulitnya hitam, dia dicurigai tanpa bukti.

James menolak tasnya digeledah. Dia merasa polisi tak punya hak menggeledah properti pribadinya. James melawan. Tapi dia dilumpuhkan hingga tersungkur ke tanah. Si polisi mencengkeram leher dan tangannya. Dua polisi lain tiba-tiba datang membantu rekannya tersebut. James tak berdaya dan hanya bisa berkata lirih, “I can’t breathe. I can’t breathe. Get off me!

James mati. Dia kehabisan napas. Si polisi kebingungan. Dia tak mengira hari itu akan membunuh seorang sipil yang tak berdaya. Atau, barangkali, itu hanya kebingungan fiktif sebab si polisi seperti tak peduli kondisi orang yang dia cengkeram lehernya tanpa ampun. Tiada yang tahu.

Dan ya, adegan tersebut adalah satire atas kasus pembunuhan Geogre Floyd pada Mei 2020 lalu. Floyd dibunuh oleh polisi kulit putih dengan dugaan sinisme berdasarkan ras. Setelah kematiannya, gelombang protes menghantam Amerika Serikat. Kampanye #BlackLivesMatter kembali menggema di negeri Paman Sam, bahkan sampai internasional. Gerakan sosial berskala masif tersebut menyuarakan penolakan atas rasisme dan brutalitas polisi, khususnya terhadap warga kulit hitam.

Perlu diketahui, Travon Free menulis naskah Two Distant Strangers dua bulan setelah kematian Floyd.

Kembali pada film. Usut punya usut, James ternyata tidak mati. Dia tersadar lagi dan terbangun di ranjang yang sama, bersama perempuan yang sama, dan di waktu yang sama. Dia mengulangi hari itu sama persis: keluar apartemen si gadis, bertemu si polisi, berseteru, dan terbunuh. Setiap James mati, dia otomatis kembali terbangun dari tidur. Begitu terus berulang-ulang sampai percobaannya yang ke-100 kali.

Kita barangkali tidak asing dengan genre fiksi ilmiah semacam ini. Berbeda dengan time travel, film yang berputar-putar pada sebuah waktu seperti ini biasa disebut time loop. Time loop adalah perangkat alur cerita dalam karya fiksi yang membuat karakternya mengulang-ulang waktu yang sama dan biasanya mencoba untuk memutusnya. Kita bisa menjumpai time loop di film Amerika Serikat lain seperti Happy Death Day (2017) yang menegangkan atau di sinema Korea Selatan seperti A Day (2017) yang sangat emosional.

Two Distant Strangers sendiri adalah film time loop terbaik di antara film-film serupa lain yang pernah saya tonton. Film arahan Travon Free dan Martin Desmond Roe ini mempunyai daya dukung teknis yang luar biasa. Sinematografi dan departemen artistik yang ditampilan sejak awal film terasa sangat memanjakan mata. Belum lagi isu yang diangkat sangat relevan dan perlu diarusutamakan, terutama bagi penoton Amerika, dan lebih khusus lagi bagi polisi Amerika yang mempunyai masalah rasisme sejak lama.

Di sisi lain, dua hal yang membuat saya kagum pada film ini adalah ide dan semangat yang diusungnya. Two Distant Strangers merangkai setiap babaknya yang berlapis-lapis dengan cerita dan cara-cara kreatif. Di beberapa bagian saya dibuat kagum karena tawaran ide yang sering tak terpikirkan. Selain itu, dialog-dialognya terasa jujur dan apa adanya, seperti obrolan antarkawan di tempat tongkrongan.

Pada dasarnya, Two Distant Strangers membawa semangat untuk tidak menyerah dalam melawan rasisme. “Tak peduli berapa lama pun, atau berapa kali, bagaimanapun caranya aku akan pulang ke anjingku,” kata James.

Di satu sisi, ucapan James adalah satire atas rentannya keselamatan warga kulit hitam di Amerika Serikat akibat stigma dan rasisme. Namun di sisi lain, film ini sekaligus memposisikan warga kulit hitam sebagai orang-orang yang pantang menyerah melawan rasisme. Film ini disajikan bukan untuk membuat penontonnya berbondong-bondong mengasihani. Sebaliknya, Two Distant Strangers menolak tunduk sebagai pertunjukan para penyintas yang tak berdaya, dan mendorong siapa pun untuk menentang ketidakadilan primordial tersebut, “tak peduli berapa lama pun, atau berapa kali, dan bagaimanapun caranya.”

Jujur saja, film ini membuat saya tertawa dan kagum di banyak adegan, serta membuat saya menangis seperti bayi di akhir cerita. Mengesankan!



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Yahya Waloni dan Kursi Keras Ustaz Mualaf

Published

on

By


Rasa-rasanya, tiada kata yang pantas untuk menggambarkan Yahya Waloni selain “keras”. Baru-baru ini, ia kembali viral karena sebuah potongan video yang menunjukkan bagaimana tingkah Waloni ketika berada di tengah-tengah ceramah, lalu tiba-tiba meminta kursi penceramah diganti, hanya karena kursi awal disebut Yahya Waloni sebagai “kursi Kristen”.

Belum selesai di situ, usai kursi ceramahnya diganti, Yahya Waloni juga mengibaratkan bahwa Islam itu adalah keras, dan oleh karenanya ia lebih menyukai kursi yang lebih keras, bukan kursi yang empuk dan memanjakan seperti “kursi Kristen” itu.

Sikap “keras”nya tersebut tampak cukup berbahaya jika ditarik ke dalam ruang sosial yang lebih luas, karena bisa jadi orang-orang non-Islam akan mengasosiasikan para penceramah Islam sebagai pihak yang sangat anti terhadap Kristen. Ibarat kata, sentimen berlebihan yang ditunjukkan Yahya Waloni sangat berpeluang mengganggu stabilitas hubungan antara Islam-Kristen di Indonesia.

Tidak sekali ini saja, sebelumnya, ia terhitung rajin menghiasi warta-warta media sosial dengan sikap-sikapnya yang justru tidak mewakili ajaran Islam yang, ironisnya, sedang ia dakwahkan. Dari mulai mengajak seorang jamaah ribut sampai menantang berkelahi, tersinggung dengan panitia karena microphone yang bermasalah, sampai cerita dengan bangga menabrak (secara sengaja) seekor anjing di jalanan. Ya, anjing, salah satu binatang yang dalam versi kisah Ashabul Kahfi termasuk binatang yang ada di surga Allah, kelak. Herannya, jama’ah macam apa yang masih setia menggandrungi dan menikmati ceramah-ceramah sentimental semacam ini?

Jika mengacu pada aspek sosial, ada banyak argumentasi yang bisa menunjukkan bahwa perilaku “ustadz” mualaf ini tidak patut dilakukan, bukan hanya bagi seorang penceramah, namun bagi semua umat Islam sekalipun. Aspek sosial, misalnya, bagaimana perasaan para pengrajin mebel yang telah bersusah payah membuat kursi-kursi nyaman, mereka barangkali merasa terhormat karena kursi tersebut hendak diletakkan di rumah Allah, digunakan untuk ceramah, namun hanya karena “ucapan” Yahya Waloni, kebanggaan mereka jadi terganggu.

Barangkali, ta’mir-ta’mir masjid itu sudah memesan kursi yang empuk, agar sang penceramah tetap duduk dengan nyaman sehingga tidak kelelahan ketika berbicara berjam-jam, namun niat baik itu seakan dirusak oleh justifikasi “kursi Kristen” Yahya Waloni. Lagipula, jika hendak diperhatikan, kursi-kursi yang ada di gereja justru berbentuk bangku kayu panjang yang keras juga. Bangku kayu panjang tersebut disusun dengan rapi sehingga bisa memuat jemaat yang banyak ketika melakukan peribadatan.

Pun jika hendak memaksa adanya kursi Islam, sebenarnya dalam ber-Islam, kursi justru kurang mendapat peran yang signifikan. Rasulullah selalu berdiri di mimbar atau duduk lesehan bersama sahabat jika hendak berdiskusi atau mendakwahkan Islam. Jika benar-benar hendak merefleksikan Islam, Waloni harusnya meminta sajadah saja, dan duduk di lantai berdasar sajadah tersebut.

Melihat dari sisi transendental, yang berkutat pada dalil-dalil keagamaan, Waloni mungkin tidak mengetahui adanya QS. al-An’am: 108.

وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan

Pesan Allah tersebut secara nyata bertentangan dengan tipikal dan gaya ceramah Waloni. Ia masih saja membawa sentimen terhadap agama lamanya. Jika memang memaksakan untuk ceramah dan mendakwahkan Islam, Waloni harusnya lebih berfokus terhadap kisah bagaimana ia menemukan kesejukan dalam Islam, bagaimana agama barunya mengubah hidup dan pola pikirnya, bagaimana Islam membawanya ke jalan damai, sehingga para jama’ah semakin yakin bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin, bukan malah menyinggung dan mencela agama lamanya. Untuk apa kita menjelek-jelekkan agama orang lain, toh manusia tidak mempunyai kuasa untuk menilai keyakinan seseorang. Ceramah-ceramah semacam ini malah cenderung bersifat provokatif yang diarahkan untuk membenci agama-agama tertentu. Pertanyaan saya lalu begini, bagaimana output Islam yang diimajinasikan oleh Waloni? Islam yang baik secara vertikal, namun bobrok secara horizontal?

Misi tersebut selain tidak merepresentasikan Islam, juga sangat mustahil dicapai. Bagaimana kita bisa menciptakan hubungan baik dengan Allah tanpa membina hubungan yang baik terlebih dahulu di antara ciptaan-Nya. Allah telah berfirman dalam QS. al-Kahfi: 29,

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”

Kebenaran yang hakiki itu berasal dari Allah, kita sebagai manusia tidak mempunyai otoritas, bahkan hak, untuk menghakimi siapa benar siapa salah. Bahkan Allah pun, sudah memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih beriman atau memilih kafir. Lalu mengapa masih ada hamba Allah yang justru mensegmentasi sebuah kursi berdasarkan agama. Ya Allah, maafkan hambamu yang satu ini.



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Yuni Shara dan Upaya Pendisiplinan Tubuh Perempuan

Published

on

By


Kasus penghujatan Yuni Shara di media sosial menunjukkan betapa tidak sehatnya iklim internet Indonesia. Tidak hanya itu, hinaan dan body shaming yang diterima Yuni Shara nyatanya juga berasal dari sesama perempuan. Kapan perempuan dapat memperoleh posisi mapan di masyarakat, kalau sesama perempuan saja saling hujat?

Hujatan tersebut diterima Yuni Shara ketika ia mengepos fotonya mengenakan Ulos Batak dengan atasan terbuka. Komentar negatif yang disampaikan warganet terbentang dari hinaan fisik, hujatan agamis, bentuk tubuh (body shaming), usia (age shaming), diejek keriput, nenek-nenek, dan lain sebagainya.

Melihat deretan hinaan yang dilancarkan kepada Yuni Shara di atas, wajar saja jika warganet Indonesia dikategorikan sebagai warganet paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Laporan terbaru dari Digital Civility Index (DCI) besutan Microsoft bahkan menempatkan posisi Indonesia di urutan ke-29 dari 32 negara. Artinya, tingkat kesopanan digital Indonesia tergolong dalam deretan paling rendah di dunia.

Psikologi Berbusana ala Perempuan

Busana Ulos Batak dikenakan Yuni Shara yang dipadukan dengan atasan terbuka memang menampakkan keawetmudaan penyanyi papan atas tersebut. Tahun ini, usia Yuni Shara akan menjadi 49 tahun Juni nanti. Sementara, cara berpakaian cukup terbuka itulah yang diserang habis-habisan oleh warganet di Instagram.

Hujatan verbal terhadap cara berpakaian perempuan sebenarnya sudah diteliti oleh Jaimie Arona Krems dari Oklahoma State University tahun lalu. Hasil penelitiannya yang dimuat di Jurnal Social Psychological and Personality Science menjelaskan bahwa pada diri perempuan, terbangun jiwa kompetisi untuk tampil lebih menarik. Perempuan lain yang mengenakan pakaian modis dan dirasa lebih cantik akan cenderung diserang secara agresif oleh sesama perempuan, terutama dari yang tak dikenal.

Tak jarang, sering kali dalam suatu komunitas perempuan, jika tak ada kehadiran laki-laki, biasanya para perempuan akan berpakaian lebih sederhana dan tidak bertujuan menarik perhatian orang lain, menurut Arona Krems. Tujuannya agar menghindari celaan dari sesama perempuan yang cenderung menohok dan mencari-cari kejelekan orang lain.

Jika dilihat dari kasus Yuni Shara, orang-orang yang menghujat artis tersebut adalah perempuan yang cenderung sama usianya. Karena itulah, Yuni Shara pun menjawab komentar ketika ia disebut sebagai nenek-nenek karena tubuhnya dianggap tidak kencang lagi. Yuni pun membalas halus dengan ucapan “semoga awet muda” kepada pengomentar tersebut.

Hujatan atas Tubuh Perempuan dan Pelampiasan Terselubung

Hinaan yang dialami oleh Yuni Shara adalah salah satu dari banyak kasus body shaming atas perempuan. Survei yang dilakukan ZAP Beauty Index 2020 menunjukkan bahwa 62 persen perempuan Indonesia pernah dihujat atau dihina karena bentuk tubuhnya.

Wajar saja, masyarakat seolah mengagung-agungkan kecantikan dan bentuk tubuh sempurna bagi perempuan. Usia tua, seperti yang dialami Yuni Shara, seolah bencana yang tak ingin diterima. Kulit keriput, tak lagi kencang, ketidakbugaran, rambut beruban, dan bentuk-bentuk gejala penuaan merupakan hal memalukan. Bagi sebagian orang, mereka menjadikan gejala penuaan tersebut sebagai lelucon atau hinaan kepada orang lain, seperti yang dialami Yuni Shara.

Jika yang melakukannya adalah sesama perempuan atau orang dengan usia nyaris sama dengan Yuni, maka hujatan itu bisa dilihat sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri dalam bentuk pelampiasan (displacement). Artinya, ia sebenarnya tidak suka dengan dirinya sendiri, namun malah melampiaskannya dengan orang lain.

Dalam contoh kehidupan sehari-hari, seseorang bisa jadi dimarahi bosnya di kantor, namun karena aturan sosial tidak memungkinkan seseorang untuk balik marah ke bosnya, maka ketika ia pulang ke rumah, ia pun memarahi anaknya sebagai pelampiasan emosi tersebut.

Sementara itu, berkat internet, seseorang dapat saja melampiaskan banyak hal melalui komentar negatif dalam bentuk hujatan, hinaan, rasa tidak suka, dan sebagainya kepada siapa pun, termasuk tokoh publik di media sosial.

Pelampiasan itu dirasa masuk akal karena orang yang dihina-hina kemungkinan besar tidak akan bisa membalasnya di dunia nyata. Dalam kasus Yuni Shara, penyanyi ini bahkan tidak membalas hinaan tersebut di internet.

Mungkin, ada benarnya ungkapan bahwa jika seseorang menunjuk kekurangan orang lain, sebenarnya ia tidak sadar bahwa sisa jarinya sedang menunjuk dirinya sendiri.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved