Connect with us

Telaah

Sudah Setahun Pandemi, Para Ustadz Kiamat-kiamatan itu Masih Aja Bilang Covid Konspirasi Penghancuran Islam

Published

on


Covid adalah alat penghancur umat Islam, begitu ujar ustadz Ihsan Tanjung yang saya simak di media sosial kemarin. Perbincangan yang menyebut Corona sebagai bagian konspirasi terhadap umat Islam sudah ramai di media sosial jauh sebelum kasus pertama di Indonesia. Sentimen Anti-Tionghoa cukup kental ketika berita terkait Covid-19 merebak di Wuhan, Tiongkok.

Ya, anda tidak salah baca. Covid adalah alat penghancur Islam, katanya. Menariknya, seiring berjalannya waktu banyak sikap dan pandangan orang yang berubah terhadap Corona. Hal ini dapat ditemui pada kalangan ustadz pro-kiamat. Ustadz Zulkifli M. Ali (Uzma) sebagai salah satu pendakwah yang getol bicara kiamat sangat memperlihatkan fenomena tersebut. Dalam ceramah-ceramah Uzma yang beredar di Youtube saja dapat dijumpai perubahan pandangan dan sikap tersebut.

Kondisi Uzma tersebut sebenarnya sangat wajar, sebab Covid-19 masih seringkali ditanggapi naik-turun oleh kebanyakan orang. WHO dan Pemerintah saja beberapa kali berubah sikap dan pandangan dalam menghadapi virus yang baru ini, mulai dari penggunaan masker hingga persoalan vaksin akhir-akhir ini.

Di awal Maret, ketika kasus pertama diumumkan Pemerintah, Uzma mengunggah konten yang memuat pernyataannya berdurasi 12 menit. Menurut Uzma di tengah zaman yang penuh kebohongan dan pemutar balikan fakta, kita (baca: umat Islam) harus mengecek ulang informasi yang diterima, terutama apabila berasal dari mereka di luar Islam.

Pernyataan penting dari Uzma di unggahan tersebut adalah virus Corona adalah bagian dari upaya balas dendam dari para jin muslim di Tiongkok, atas perlakuan jahat pemerintah dan tentara terhadap saudara-saudara muslim lain di Uighur. Ungkapan ini mungkin masih membekas di ingatan kita yang kala itu masih banyak didera kegamangan atas bencana Covid-19 ini.

Namun, Uzma berubah setelah berjalan beberapa bulan pasca kasus pertama di Indonesia. Beliau mulai mendedahkan diksi “Sabar” kepada para jemaahnya dan menjajakan beberapa produk herbal yang diklaim dapat melawan atau menyebuhkan Covid-19. Saya melihat perubahan ini, sebagaimana ustadz media sosial lain, diantaranya disebabkan alasan pragmatis, di mana kebanyakan audiens mereka, yang sebagian kelas menengah perkotaan dan kalangan terdidik, tentu memilih untuk mentaati prokes adalah pilihan yang logis.

***

Relasi antara agama dan sains tentu menjadi perdebatan yang paling krusial di tengah merebaknya isu-isu negatif terhadap perlawanan atas virus Corona. Adapun dalam persoalan relasi tersebut terdapat dua poin krusial yang perlu diulik lebih dalam, terutama jika kita ingin mengurai dinamika agama di tengah Covid-19. Pertama, kehadiran sosok ustadz yang memiliki sikap atau pandangan yang resisten terhadap anjuran dari kelompok saintis.

Sebagian otoritas agama ditengarai memiliki sikap dan pandangan tersebut. Kondisi tersebut jelas menyebabkan sebagian kekisruhan di masyarakat, karena keberterimaan warganet atas wacana yang mereka sebarkan sangatlah besar. Sebagian dari ustadz media sosial, ustadz pro-kiamat dan ulama lokal pernah mengunggah konten yang menggambarkan sikap penolakan atas berbagai protokol kesehatan (prokes).

Adapun Uzma adalah salah satu otoritas agama yang memiliki sikap mendua atau ambigu. Pada masa awal Covid-19 melanda Indonesia, beliau cukup keras menyuarakan stigma negatif yang tidak disandarkan pada fakta-fakta ilmiah. Dari narasi balas dendam jin muslim bergeser ke penghacuran umat Islam adalah sebagian wacana negatif yang lazim dalam ceramah-ceramah beliau.

Namun, sebagaimana dijelaskan di atas, seiring berjalannya waktu perubahan itu muncul dengan kehadiran berbagai komoditas barang jualan yang dianggap dapat melawan Covid-19. Diksi “bersabar” mulai dijumpai dalam beberapa ceramah Uzma, yang sembari menjajakan madu dan beberapa obat herbal.

Memang, kelahiran media sosial di tengah umat manusia telah membawa banyak perubahan. Diantaranya adalah pergeseran otoritas di ranah agama. Padahal, sebagaimana kita sadari eksistensi sosok otoritas, terlebih agama, sangat krusial untuk menjadi pemandu dalam menghadapi suasana yang tidak menentu ini.

Oleh sebab itu, kita tentu memerlukan sosok otoritas yang dapat mencerna persoalan lebih dalam dan bijak, agar tidak terjebak dalam stigma negatif yang tidak perlu, selain keberterimaannya atas ilmu pengetahuan yang tidak perlu kita ragukan. Namun, jika melihat keadaan di lapangan tentu membuat kita sedikit mengerutkan dahi karena tidak sedikit otoritas yang belum bisa menerima penuh prokes melawan Covid-19.

Apakah rendahnya keberterimaan kita atas sains hanya terjadi di kalangan otoritas? Untuk menjawab pertanyaan ini kita akan masuk ke poin kedua dalam relasi agama dan sains. Kedua, resepsi pengetahuan di kalangan umat Islam. Montgomerry Watt, sejarawan asal Inggris, pernah menuliskan persoalan resepsi umat Islam terhadap ilmu pengetahuan.

Dalam buku “Fundamentalisme dan Modernitas Dalam Islam”, Watt menulis dalam rentang sejarah Islam pasca kenabian terdapat resepsi pengetahuan yang rumit. Dia menggambarkan persoalan tersebut dengan mendedahkan sebuah cerita sejarah yang dia ragukan kebenarannya. Catatan sejarah ini ditulis oleh Edward Gibbon dalam buku Decline and Fall of the Roman Empire.

Begini ceritanya: Pada tahun 641 M, pasukan Arab berhasil menaklukkan dan menduduki Alexandria. Di kota tersebut terdapat perpustakaan yang terkenal dengan koleksi buku yang luar biasa. Selepas berhasil menguasai kota, sang jenderal pasukan menghubungi Khalifah Umar bin Khattab terkait nasib koleksi buku tersebut. Sangat disayangkan, jawaban sang khalifah Umar yang menginstruksikan untuk menyortir buku-buku tersebut dengan pertimbangan kesesuaian dengan kitab suci al-Quran, apabila isinya sesuai maka dipelihara dan disimpan, namun jika tidak maka boleh dimusnahkan.

Dari kejadian di atas, Watt melukiskan walau meragukan kebenaran cerita tersebut, namun dia percaya sikap yang dilukiskan di atas masih terjadi hingga sekarang. Dia menyebutnya dengan rasa kemandirian Islam yang ingin mempertahankan kesucian akan agama tersebut. Hal ini kemudian diikuti dengan kecurigaan terhadap segala apa yang non-islami dan keenganan untuk meminjam sesuatu dari kultur asing secara terang-terangan.

Pendapat tersebut didukung oleh Fazlur Rahman, pemikir muslim asal Pakistan, yang melihat keilmuan Islam, terutama di abad pertengahan, masih tidak dipandang sebagai suatu pencarian aktif atau dalam bahasa lain adalah umat Islam hanya memiliki minat kecil untuk mengkaji bentuk-bentuk pengetahuan, meski hal tersebut sangat berguna untuk tujuan-tujuan praktis.

Apakah kita melihat hal yang sama dalam fenomena Covid-19? Apakah iya covid itu alat penghancur Islam? Jika dijawab iya mungkin terlihat naif bagi sebagian orang. Namun, ada hal yang perlu diperhatikan adalah relasi naik-turun antara agama dan sains tentu dipengaruhi resepsi kita yang masih bermasalah atas kemajuan ilmu pengetahuan.

***

Ambigu dalam bersikap yang ditunjukan oleh Uzma berhadapan dengan Covid-19 sangat mungkin dipengaruhi objek dakwah yang cenderung percaya. Saya juga mendapatkan beberapa video yang merekam otoritas agama yang konsisten menolak prokes dengan berbagai alasan bernarasi agama.

baca juga: Covid itu anti Islam? Lha kok punya agama

Beberapa hari lalu, saya mendapati sebuah potongan video ceramah seorang pendakwah berasal dari daerah dekat dengan tempat tinggal saya. Dalam ceramah tersebut, beliau mempermasalahkan beberapa prokes yang dianggap menyalahi sunnah Rasul. Anjuran tersebut disampaikan dengan nada emosi, karena prokes dalam pandangan beliau adalah upaya penghancuran umat Islam.

Ceramah-ceramah seperti di atas masih cukup sering muncul di beranda media sosial kita. Persoalannya adalah aktivitas warganet kita atas konten itu bisa dibilang cukup tinggi. Ini tentu dikhawatirkan resepsi masyarakat kita atas informasi yang negatif tersebut dapat mengakibatkan menggiring opini resistensi mereka, sekaligus memperlambat langkah kita keluar dari pandemi.

Walau, jika melirik video-video ceramah dari Uzma dalam tiga bulan terakhir maka saya tidak bisa mendapati narasi penolakan terhadap vaksin dalam bahasa vulgar. Hal yang sama juga ditemui di beberapa ustadz medsos lainnya. Saya melihat kemungkinan alasan sikap diam ini adalah bagian dari kegamangan kita, di satu sisi masih berharap pada vaksin untuk mengakhiri pandemi, dan sisi lain masih teradapat sikap dan pendanan resisten atau tidak percaya tentang Covid-19.

Namun, hal itu belum berarti persoalan resistensi atas prokes selesai. Kita mungkin sulit untuk menghindar dari mengonsumsi berbagai hasutan untuk melawan prokes, tapi apa yang bisa kita lakukan adalah terus hidup dengan sehat dan tetap mendedahkan kepada siapapun soal perlawanan atas Corona. Termasuk urusan covid yang dianggap.. ah anti Islam ini.

Otoritas agama, seperti Uzma, masih belum beranjak jauh dari pemahaman yang bermasalah atas kehadiran sains. Buktinya, narasi agama yang dipakai oleh otoritas hingga orang biasa dalam sikap resisten atas Covid-19, memang menggambarkan imaji keterancaman dan kesucian yang lekat dalam umat. Sebuah pekerjaan rumah yang berat bagi kita.

 

Fatahallahu alaina futuh al-arifin

 





Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telaah

Two Distant Strangers: Rasisme dan Satire yang Menolak Tunduk

Published

on

By


Beruntung Two Distant Strangers (2021) masuk gelembung rekomendasi tontonan saya belakangan ini. Saya langsung “mengeksekusinya” tanpa pikir panjang. Setidaknya karena dua alasan: Pertama, film ini adalah film pendek 32 menit yang bisa ditonton sekali duduk. Kedua, Two Distant Strangers masuk nominasi Oscar tahun ini dan saya kira memang pantas mendapatkannya.

Film ini dibuka dengan sekuen apik yang menyorot riuhnya Kota New York dengan segala aktivitas di dalamnya. Lalu tibalah pada adegan seekor anjing yang mendapati mangkok makanannya kosong. Si anjing mencari-cari tuannya yang pergi entah ke mana.

Namanya Jeter. Anjing abu-abu yang sedang lapar itu adalah rekan satu apartemen Carter James. Seorang pemuda kulit hitam yang saban hari bekerja sebagai desainer grafis. Pendapatan James bisa dibilang lumayan dari hasil menggambar. Komiknya sedang banyak diminati pasar. Tapi siapa peduli dengan timbunan uang James? Jeter hanya butuh semangkuk dry food seperti biasanya.

Tapi hari itu James belum pulang. Dia baru terbangun di ranjang asing, bersama seorang gadis. James bangkit dan bergegas pulang karena teringat Jeter. Saat keluar dari apartemen si gadis, dia bertemu dengan polisi kulit putih yang mencegatnya. Si polisi menyanyainya soal rokok James yang dicurigainya sebagai ganja. Ditambah, James menjatuhkan segebok uang hasil menggambarnya. Si polisi tampak tak percaya kalau James adalah pemuda kelas menengah urban baik-baik yang sedang beruntung. Hanya karena kulitnya hitam, dia dicurigai tanpa bukti.

James menolak tasnya digeledah. Dia merasa polisi tak punya hak menggeledah properti pribadinya. James melawan. Tapi dia dilumpuhkan hingga tersungkur ke tanah. Si polisi mencengkeram leher dan tangannya. Dua polisi lain tiba-tiba datang membantu rekannya tersebut. James tak berdaya dan hanya bisa berkata lirih, “I can’t breathe. I can’t breathe. Get off me!

James mati. Dia kehabisan napas. Si polisi kebingungan. Dia tak mengira hari itu akan membunuh seorang sipil yang tak berdaya. Atau, barangkali, itu hanya kebingungan fiktif sebab si polisi seperti tak peduli kondisi orang yang dia cengkeram lehernya tanpa ampun. Tiada yang tahu.

Dan ya, adegan tersebut adalah satire atas kasus pembunuhan Geogre Floyd pada Mei 2020 lalu. Floyd dibunuh oleh polisi kulit putih dengan dugaan sinisme berdasarkan ras. Setelah kematiannya, gelombang protes menghantam Amerika Serikat. Kampanye #BlackLivesMatter kembali menggema di negeri Paman Sam, bahkan sampai internasional. Gerakan sosial berskala masif tersebut menyuarakan penolakan atas rasisme dan brutalitas polisi, khususnya terhadap warga kulit hitam.

Perlu diketahui, Travon Free menulis naskah Two Distant Strangers dua bulan setelah kematian Floyd.

Kembali pada film. Usut punya usut, James ternyata tidak mati. Dia tersadar lagi dan terbangun di ranjang yang sama, bersama perempuan yang sama, dan di waktu yang sama. Dia mengulangi hari itu sama persis: keluar apartemen si gadis, bertemu si polisi, berseteru, dan terbunuh. Setiap James mati, dia otomatis kembali terbangun dari tidur. Begitu terus berulang-ulang sampai percobaannya yang ke-100 kali.

Kita barangkali tidak asing dengan genre fiksi ilmiah semacam ini. Berbeda dengan time travel, film yang berputar-putar pada sebuah waktu seperti ini biasa disebut time loop. Time loop adalah perangkat alur cerita dalam karya fiksi yang membuat karakternya mengulang-ulang waktu yang sama dan biasanya mencoba untuk memutusnya. Kita bisa menjumpai time loop di film Amerika Serikat lain seperti Happy Death Day (2017) yang menegangkan atau di sinema Korea Selatan seperti A Day (2017) yang sangat emosional.

Two Distant Strangers sendiri adalah film time loop terbaik di antara film-film serupa lain yang pernah saya tonton. Film arahan Travon Free dan Martin Desmond Roe ini mempunyai daya dukung teknis yang luar biasa. Sinematografi dan departemen artistik yang ditampilan sejak awal film terasa sangat memanjakan mata. Belum lagi isu yang diangkat sangat relevan dan perlu diarusutamakan, terutama bagi penoton Amerika, dan lebih khusus lagi bagi polisi Amerika yang mempunyai masalah rasisme sejak lama.

Di sisi lain, dua hal yang membuat saya kagum pada film ini adalah ide dan semangat yang diusungnya. Two Distant Strangers merangkai setiap babaknya yang berlapis-lapis dengan cerita dan cara-cara kreatif. Di beberapa bagian saya dibuat kagum karena tawaran ide yang sering tak terpikirkan. Selain itu, dialog-dialognya terasa jujur dan apa adanya, seperti obrolan antarkawan di tempat tongkrongan.

Pada dasarnya, Two Distant Strangers membawa semangat untuk tidak menyerah dalam melawan rasisme. “Tak peduli berapa lama pun, atau berapa kali, bagaimanapun caranya aku akan pulang ke anjingku,” kata James.

Di satu sisi, ucapan James adalah satire atas rentannya keselamatan warga kulit hitam di Amerika Serikat akibat stigma dan rasisme. Namun di sisi lain, film ini sekaligus memposisikan warga kulit hitam sebagai orang-orang yang pantang menyerah melawan rasisme. Film ini disajikan bukan untuk membuat penontonnya berbondong-bondong mengasihani. Sebaliknya, Two Distant Strangers menolak tunduk sebagai pertunjukan para penyintas yang tak berdaya, dan mendorong siapa pun untuk menentang ketidakadilan primordial tersebut, “tak peduli berapa lama pun, atau berapa kali, dan bagaimanapun caranya.”

Jujur saja, film ini membuat saya tertawa dan kagum di banyak adegan, serta membuat saya menangis seperti bayi di akhir cerita. Mengesankan!



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Yahya Waloni dan Kursi Keras Ustaz Mualaf

Published

on

By


Rasa-rasanya, tiada kata yang pantas untuk menggambarkan Yahya Waloni selain “keras”. Baru-baru ini, ia kembali viral karena sebuah potongan video yang menunjukkan bagaimana tingkah Waloni ketika berada di tengah-tengah ceramah, lalu tiba-tiba meminta kursi penceramah diganti, hanya karena kursi awal disebut Yahya Waloni sebagai “kursi Kristen”.

Belum selesai di situ, usai kursi ceramahnya diganti, Yahya Waloni juga mengibaratkan bahwa Islam itu adalah keras, dan oleh karenanya ia lebih menyukai kursi yang lebih keras, bukan kursi yang empuk dan memanjakan seperti “kursi Kristen” itu.

Sikap “keras”nya tersebut tampak cukup berbahaya jika ditarik ke dalam ruang sosial yang lebih luas, karena bisa jadi orang-orang non-Islam akan mengasosiasikan para penceramah Islam sebagai pihak yang sangat anti terhadap Kristen. Ibarat kata, sentimen berlebihan yang ditunjukkan Yahya Waloni sangat berpeluang mengganggu stabilitas hubungan antara Islam-Kristen di Indonesia.

Tidak sekali ini saja, sebelumnya, ia terhitung rajin menghiasi warta-warta media sosial dengan sikap-sikapnya yang justru tidak mewakili ajaran Islam yang, ironisnya, sedang ia dakwahkan. Dari mulai mengajak seorang jamaah ribut sampai menantang berkelahi, tersinggung dengan panitia karena microphone yang bermasalah, sampai cerita dengan bangga menabrak (secara sengaja) seekor anjing di jalanan. Ya, anjing, salah satu binatang yang dalam versi kisah Ashabul Kahfi termasuk binatang yang ada di surga Allah, kelak. Herannya, jama’ah macam apa yang masih setia menggandrungi dan menikmati ceramah-ceramah sentimental semacam ini?

Jika mengacu pada aspek sosial, ada banyak argumentasi yang bisa menunjukkan bahwa perilaku “ustadz” mualaf ini tidak patut dilakukan, bukan hanya bagi seorang penceramah, namun bagi semua umat Islam sekalipun. Aspek sosial, misalnya, bagaimana perasaan para pengrajin mebel yang telah bersusah payah membuat kursi-kursi nyaman, mereka barangkali merasa terhormat karena kursi tersebut hendak diletakkan di rumah Allah, digunakan untuk ceramah, namun hanya karena “ucapan” Yahya Waloni, kebanggaan mereka jadi terganggu.

Barangkali, ta’mir-ta’mir masjid itu sudah memesan kursi yang empuk, agar sang penceramah tetap duduk dengan nyaman sehingga tidak kelelahan ketika berbicara berjam-jam, namun niat baik itu seakan dirusak oleh justifikasi “kursi Kristen” Yahya Waloni. Lagipula, jika hendak diperhatikan, kursi-kursi yang ada di gereja justru berbentuk bangku kayu panjang yang keras juga. Bangku kayu panjang tersebut disusun dengan rapi sehingga bisa memuat jemaat yang banyak ketika melakukan peribadatan.

Pun jika hendak memaksa adanya kursi Islam, sebenarnya dalam ber-Islam, kursi justru kurang mendapat peran yang signifikan. Rasulullah selalu berdiri di mimbar atau duduk lesehan bersama sahabat jika hendak berdiskusi atau mendakwahkan Islam. Jika benar-benar hendak merefleksikan Islam, Waloni harusnya meminta sajadah saja, dan duduk di lantai berdasar sajadah tersebut.

Melihat dari sisi transendental, yang berkutat pada dalil-dalil keagamaan, Waloni mungkin tidak mengetahui adanya QS. al-An’am: 108.

وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan

Pesan Allah tersebut secara nyata bertentangan dengan tipikal dan gaya ceramah Waloni. Ia masih saja membawa sentimen terhadap agama lamanya. Jika memang memaksakan untuk ceramah dan mendakwahkan Islam, Waloni harusnya lebih berfokus terhadap kisah bagaimana ia menemukan kesejukan dalam Islam, bagaimana agama barunya mengubah hidup dan pola pikirnya, bagaimana Islam membawanya ke jalan damai, sehingga para jama’ah semakin yakin bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin, bukan malah menyinggung dan mencela agama lamanya. Untuk apa kita menjelek-jelekkan agama orang lain, toh manusia tidak mempunyai kuasa untuk menilai keyakinan seseorang. Ceramah-ceramah semacam ini malah cenderung bersifat provokatif yang diarahkan untuk membenci agama-agama tertentu. Pertanyaan saya lalu begini, bagaimana output Islam yang diimajinasikan oleh Waloni? Islam yang baik secara vertikal, namun bobrok secara horizontal?

Misi tersebut selain tidak merepresentasikan Islam, juga sangat mustahil dicapai. Bagaimana kita bisa menciptakan hubungan baik dengan Allah tanpa membina hubungan yang baik terlebih dahulu di antara ciptaan-Nya. Allah telah berfirman dalam QS. al-Kahfi: 29,

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”

Kebenaran yang hakiki itu berasal dari Allah, kita sebagai manusia tidak mempunyai otoritas, bahkan hak, untuk menghakimi siapa benar siapa salah. Bahkan Allah pun, sudah memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih beriman atau memilih kafir. Lalu mengapa masih ada hamba Allah yang justru mensegmentasi sebuah kursi berdasarkan agama. Ya Allah, maafkan hambamu yang satu ini.



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Yuni Shara dan Upaya Pendisiplinan Tubuh Perempuan

Published

on

By


Kasus penghujatan Yuni Shara di media sosial menunjukkan betapa tidak sehatnya iklim internet Indonesia. Tidak hanya itu, hinaan dan body shaming yang diterima Yuni Shara nyatanya juga berasal dari sesama perempuan. Kapan perempuan dapat memperoleh posisi mapan di masyarakat, kalau sesama perempuan saja saling hujat?

Hujatan tersebut diterima Yuni Shara ketika ia mengepos fotonya mengenakan Ulos Batak dengan atasan terbuka. Komentar negatif yang disampaikan warganet terbentang dari hinaan fisik, hujatan agamis, bentuk tubuh (body shaming), usia (age shaming), diejek keriput, nenek-nenek, dan lain sebagainya.

Melihat deretan hinaan yang dilancarkan kepada Yuni Shara di atas, wajar saja jika warganet Indonesia dikategorikan sebagai warganet paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Laporan terbaru dari Digital Civility Index (DCI) besutan Microsoft bahkan menempatkan posisi Indonesia di urutan ke-29 dari 32 negara. Artinya, tingkat kesopanan digital Indonesia tergolong dalam deretan paling rendah di dunia.

Psikologi Berbusana ala Perempuan

Busana Ulos Batak dikenakan Yuni Shara yang dipadukan dengan atasan terbuka memang menampakkan keawetmudaan penyanyi papan atas tersebut. Tahun ini, usia Yuni Shara akan menjadi 49 tahun Juni nanti. Sementara, cara berpakaian cukup terbuka itulah yang diserang habis-habisan oleh warganet di Instagram.

Hujatan verbal terhadap cara berpakaian perempuan sebenarnya sudah diteliti oleh Jaimie Arona Krems dari Oklahoma State University tahun lalu. Hasil penelitiannya yang dimuat di Jurnal Social Psychological and Personality Science menjelaskan bahwa pada diri perempuan, terbangun jiwa kompetisi untuk tampil lebih menarik. Perempuan lain yang mengenakan pakaian modis dan dirasa lebih cantik akan cenderung diserang secara agresif oleh sesama perempuan, terutama dari yang tak dikenal.

Tak jarang, sering kali dalam suatu komunitas perempuan, jika tak ada kehadiran laki-laki, biasanya para perempuan akan berpakaian lebih sederhana dan tidak bertujuan menarik perhatian orang lain, menurut Arona Krems. Tujuannya agar menghindari celaan dari sesama perempuan yang cenderung menohok dan mencari-cari kejelekan orang lain.

Jika dilihat dari kasus Yuni Shara, orang-orang yang menghujat artis tersebut adalah perempuan yang cenderung sama usianya. Karena itulah, Yuni Shara pun menjawab komentar ketika ia disebut sebagai nenek-nenek karena tubuhnya dianggap tidak kencang lagi. Yuni pun membalas halus dengan ucapan “semoga awet muda” kepada pengomentar tersebut.

Hujatan atas Tubuh Perempuan dan Pelampiasan Terselubung

Hinaan yang dialami oleh Yuni Shara adalah salah satu dari banyak kasus body shaming atas perempuan. Survei yang dilakukan ZAP Beauty Index 2020 menunjukkan bahwa 62 persen perempuan Indonesia pernah dihujat atau dihina karena bentuk tubuhnya.

Wajar saja, masyarakat seolah mengagung-agungkan kecantikan dan bentuk tubuh sempurna bagi perempuan. Usia tua, seperti yang dialami Yuni Shara, seolah bencana yang tak ingin diterima. Kulit keriput, tak lagi kencang, ketidakbugaran, rambut beruban, dan bentuk-bentuk gejala penuaan merupakan hal memalukan. Bagi sebagian orang, mereka menjadikan gejala penuaan tersebut sebagai lelucon atau hinaan kepada orang lain, seperti yang dialami Yuni Shara.

Jika yang melakukannya adalah sesama perempuan atau orang dengan usia nyaris sama dengan Yuni, maka hujatan itu bisa dilihat sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri dalam bentuk pelampiasan (displacement). Artinya, ia sebenarnya tidak suka dengan dirinya sendiri, namun malah melampiaskannya dengan orang lain.

Dalam contoh kehidupan sehari-hari, seseorang bisa jadi dimarahi bosnya di kantor, namun karena aturan sosial tidak memungkinkan seseorang untuk balik marah ke bosnya, maka ketika ia pulang ke rumah, ia pun memarahi anaknya sebagai pelampiasan emosi tersebut.

Sementara itu, berkat internet, seseorang dapat saja melampiaskan banyak hal melalui komentar negatif dalam bentuk hujatan, hinaan, rasa tidak suka, dan sebagainya kepada siapa pun, termasuk tokoh publik di media sosial.

Pelampiasan itu dirasa masuk akal karena orang yang dihina-hina kemungkinan besar tidak akan bisa membalasnya di dunia nyata. Dalam kasus Yuni Shara, penyanyi ini bahkan tidak membalas hinaan tersebut di internet.

Mungkin, ada benarnya ungkapan bahwa jika seseorang menunjuk kekurangan orang lain, sebenarnya ia tidak sadar bahwa sisa jarinya sedang menunjuk dirinya sendiri.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved