Connect with us

Telaah

Lone-Wolf Teroris dan Narasi Islamisme Jihadis Merebut Hati Kelompok Milenial

Published

on


Tidak seperti yang dilakukan oleh sepasang pengantin di Makassar yang berjejaring dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), aksi Zakiyah Aini di Jakarta dilakukan oleh seorang diri atau lebih dikenal sebagai lone-wolf terrorist, yakni “aksi atau tindakan yang dilakukan atas kemauan sendiri tanpa adanya perintah dari—atau bahkan memiliki hubungan dengan—organisasi tertentu”.

Terbitan terbaru dari Pusat Pengkajian Islam, Demokrasi dan Perdamaian (Puspidep) Narasi Ekstremisme Keagamaan di Indonesia: Latar Pendidikan dan Agensi Individual (2021) menyatakan bahwa latar belakang pendidikan agama tidak menjadi satu-satunya faktor yang menyebabkan seseorang menjadi radikal, tetapi ada faktor lain yang menjadi pemicunya. Faktor struktural seperti kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan turut mendorong seseorang untuk mencari jalan yang dianggap mampu mewadahi aspirasi mereka. Pengalaman sebagai korban ketidakadilan, diskriminasi atau marginalisasi yang menyebabkan seseorang kurang mendapat akses terhadap sumber-sumber ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, dan politik juga turut berperan dalam mengantarkan individu pada gerakan radikal, terutama kaum muda yang masih berproses dalam pencarian jati diri (Puspidep, 13-14). Dalam kondisi seperti itu, ideologi Islamisme radikal, seperti ISIS, kemudian dijadikan sebagai kerangka berpikir yang dianggap mampu menyelesaikan berbagai persoalan hidup yang dihadapi.

Sementara itu, Elis Zuliati dalam tulisannya Countering Terrorist Narratives: Winning the Hearts dan Minds of Indonesian Millenials (2018) mengatakan bahwa ISIS benar-benar menyadari dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi terutama sosial media untuk mempengaruhi dan merekrut generasi muda. Mereka melakukan penelitian yang memadai dan mengumpulkan data terkait ketidakadilan yang terjadi di berbagai negara di dunia; mempelajari psikologi milenial yang sedang mencari jati diri, mengalami kegalauan tentang identitas dan membutuhkan tempat untuk aktualisasi diri. Kebiasaan anak-anak muda yang suka bermain game online juga tidak luput dari pengamatan mereka. ISIS juga merekrut videographer, teknisi, dan para ahli di sejumlah bidang untuk memproduksi konten-konten di media sosial sembari mengajarkan keahlian yang mereka miliki kepada anggota yang lain. Internet dan media sosial benar-benar digunakan sebagai ladang ‘jihad’ bagi gerakan ini.

Narasi Islamisme Jihadis

ISIS mempropagandakan narasi tunggal tentang tatanan dunia baru yang penuh kedamaian dan keadilan: menawarkan kepuasan lahir dan batin bagi para pengikutnya, menjanjikan sebuah identitas dan kebermaknaan dalam hidup yang diimpikan oleh umat Islam. Negara Islam yang dibayangkan adalah sebuah tatanan dunia di mana tidak ada aturan lain selain hukum Allah. Sebuah negara yang menjanjikan kejayaan Islam, yang penuh dengan kemakmuran ekonomi, solidaritas sosial berdasarkan ukhuwah islamiyah, dan jaminan kebahagiaan dunia dan akhirat. Apakah Anda tidak tertarik?

Apalah artinya cita-cita jika tidak diperjuangkan? Untuk mewujudkan negara Islam yang dibayangkan itu maka mau tidak mau harus ditempuh dengan melaksanakan jihad. Jihad adalah cara, bukan tujuan. Jihad, bagi mereka, adalah seni kematian. Mati di jalan jihad adalah suatu kemuliaan, akan diganjar dengan masuk surga, sebagai bagian dari para syuhada, dan narasi yang populer tentang jihad ini yaitu akan mendapatkan 72 bidadari.

Hasan Al-Banna dalam Risalat al-Jihad sebagaimana dikutip Bassam Tibi menulis:

Ada sebagian Muslim yang disesatkan oleh pandangan bahwa memerangi musuh adalah jihad kecil dibandingkan dengan jihad melawan hawa nafsu yang merupakan jihad besar… pandangan ini merupakan kekeliruan nyata ihwal pentingnya pertempuran fisik (qital) sebagai hakikat jihad. Peringkatnya setelah syahadat. Jihad artinya membunuh dan terbunuh di jalan Allah. Wahai saudara, Allah memberikan nikmat di dunia ini dan juga di surga bagi umat yang menguasai seni kematian, dan tahu bagaimana cara mati secara bermartabat. Sadarilah.. kematian tidak bisa dihindari, dan itu hanya terjadi satu kali

Jihad dalam pengertian seperti ini, lanjut Tibi, tidak mencerminkan ‘kebangkitan Islam’ melainkan penafsiran baru yang sangat berbeda dengan yang dipahami oleh para ulama klasik. Jihad seolah mennjadi ajaran yang  menawarkan sensasi yang penuh petualangan yang dicari oleh anak-anak muda untuk membuktikan kelelakian dan komitmen mereka terhadap Islam. Para pelakunya ibarat Avengers yang bertugas dengan misi menyelamatkan dunia dan umat Islam yang terdzalimi.

Doktrin takfir (yakni klaim dan tindakan pengafiran) tidak hanya ditujukan kepada non-Muslim, tetapi juga kepada umat Islam yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Siapa saja yang menggunakan hukum selain hukum Allah, maka akan dihukumi taghut. Praktik demokrasi, Pancasila, dan NKRI adalah praktik taghut yang harus diperangi. Walaupun sasaran pengafiran ini sangat luas, seperti ditulis dalam penelitian Puspidep, rerata yang menjadi sasaran target mereka adalah negara beserta aparaturnya, terutama polisi. Aksi teror yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir biasanya ditujukan kepada gereja, kantor polisi, termasuk masjid yang berada di dalam lingkungan kepolisian. Selain itu, mereka juga tidak sudi lagi mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh negara termasuk Pemilu.

Teror sebagai Tindakan Politik

Seperti yang saya tulis di awal tulisan ini bahwa jihad adalah cara, bukan tujuan. Tujuan utama mereka adalah membangun tatanan dunia baru dan ‘umat yang dibayangkan’ sebagai negara Islam dan atau khilafah. Dengan demikian, tindakan teror atau yang mereka sebut sebagai perang suci, jihad, atau qital, tidak lain adalah tindakan politik dalam rangka meraih cita-cita tersebut. Mereka meyakini bahwa Islam adalah agama dan negara (din wa daulah) dan Islam sebagai solusi (al-Islam huwa al-Haal) atas ketidakberdayaan umat Islam hari ini. Oleh karenanya, Islam harus ditegakkan secara kaffah (paripurna) baik dalam politik, sosial, ekonomi, dan bidang kehidupan lainnya.

Bassam Tibi dalam bukunya, Islam dan Islamisme, telah menjelaskan secara gamblang perkara ini. Menurutnya, apa yang dimaksud dengan syariat Islam, negara Islam, dan jihad dari kelompok Islamisme Jihadis merupakan penafsiran baru atas ajaran-ajaran Islam. Lebih tepatnya, mereka menafsirkan istilah-istilah tersebut dalam rangka meraih kekuasaan politik. Penafsiran tentang jihad seperti di atas, misalnya, tidak hanya berbeda dengan penafsiran yang dilakukan oleh para ulama periode klasik, tetapi juga tidak memiliki landasan dalam sejarah Islam.  Ide tentang negara Islam tidak lain adalah tradisi baru yang muncul pada era modern. Gagasan tersebut, dalam banyak hal, merupakan upaya merespons dan menawarkan alternatif dari konsep negara-bangsa yang dianut oleh hampir seluruh negara di dunia hari ini.

Melawan dengan Narasi

Narasi kalangan Islamisme Jihadis sangat memesona apalagi bagi kalangan milenial. Mereka bergerak atas dasar ideologi, yang tanpa dibayar pun, mereka akan terus mempromosikan dan mempropagandakannya. Sementara itu, dalam rangka melawan narasi ini, saya kira tidak cukup hanya dengan mengandalkan upaya counter-terorism yang lebih banyak dilakukan by project baik oleh negara, LSM, lembaga think-thank dan sebagainya. Pada 2016 lalu, misalnya, Cisform, sebuah lembaga think-thank di Yogyakarta membuat film animasi “Si Gun Pingin Jihad” sebagai upaya membendung narasi keislaman yang bercorak ekstrem. Hal ini merupakan inovasi yang menarik untuk menggaet perhatian kalangan milenial. Hanya saja, produksi film animasi seperti ini juga berhenti beriringan dengan tidak adanya pendanaan dari sponsor. Sementara itu, kalangan Islamisme Jihadis terus menerus memproduksi konten-konten mereka dengan menggunakan sumber daya yang mumpuni. Bisa jadi, mereka lebih ‘smart’ dalam menarik simpati generasi muda ketimbang upaya counter-terorism oleh negara selama ini.

Narasi tentang wasatiyah Islam dan moderasi kini dipercaya sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi problem ini. Dan kita semua memiliki tugas untuk turut mendukung upaya ini. Namun demikian, jika kita melihat kenyataan di jagat internet dan media sosial, narasi tentang wasatiyah Islam justru lebih banyak dilakukan oleh aktor-aktor non-negara. Beberapa website seperti NU.or.id, Islami.co, Alif.id, dan Ibtimes.id,misalnya, dalam beberapa tahun terakhir bahkan telah mampu bersaing dengan website lain yang dikelola oleh kelompok-kelompok Islam yang sebagiannya menyebarkan narasi ekstremisme. Hal serupa juga dilakukan di platform semisal Youtube, Instagram, dan Facebook oleh anak-anak muda yang secara konsisten mengunggah ceramah/pengajian dari ulama-ulama moderat seperti Gus Baha. Pertanyaannya, sejauh mana negara menyadari hal ini? Tentang keberadaan aktor non-negara yang setiap hari ‘berjihad’ memproduksi konten-konten yang sesuai dengan tujuan moderasi beragama yang dicita-citakan oleh penyelenggara negara ini. Mereka tidak hanya memproduksi konten, tetapi juga membangun jejaring, berinovasi, merangkul dan memunculkan tunas-tunas baru yang siap bertarung dan berlaga di medan perang media sosial.

Mungkin selama ini upaya mereka nampak biasa-biasa saja, tetapi jika suatu hari karena kondisi tertentu mereka berhenti melakukan dakwah jurnalistiknya, kita baru akan menyadari betapa pentingnya mereka dalam merawat demokrasi, menebar toleransi, dan menjaga kebhinekaan yang menjadi anugrah bagi negeri ini.

 



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telaah

Two Distant Strangers: Rasisme dan Satire yang Menolak Tunduk

Published

on

By


Beruntung Two Distant Strangers (2021) masuk gelembung rekomendasi tontonan saya belakangan ini. Saya langsung “mengeksekusinya” tanpa pikir panjang. Setidaknya karena dua alasan: Pertama, film ini adalah film pendek 32 menit yang bisa ditonton sekali duduk. Kedua, Two Distant Strangers masuk nominasi Oscar tahun ini dan saya kira memang pantas mendapatkannya.

Film ini dibuka dengan sekuen apik yang menyorot riuhnya Kota New York dengan segala aktivitas di dalamnya. Lalu tibalah pada adegan seekor anjing yang mendapati mangkok makanannya kosong. Si anjing mencari-cari tuannya yang pergi entah ke mana.

Namanya Jeter. Anjing abu-abu yang sedang lapar itu adalah rekan satu apartemen Carter James. Seorang pemuda kulit hitam yang saban hari bekerja sebagai desainer grafis. Pendapatan James bisa dibilang lumayan dari hasil menggambar. Komiknya sedang banyak diminati pasar. Tapi siapa peduli dengan timbunan uang James? Jeter hanya butuh semangkuk dry food seperti biasanya.

Tapi hari itu James belum pulang. Dia baru terbangun di ranjang asing, bersama seorang gadis. James bangkit dan bergegas pulang karena teringat Jeter. Saat keluar dari apartemen si gadis, dia bertemu dengan polisi kulit putih yang mencegatnya. Si polisi menyanyainya soal rokok James yang dicurigainya sebagai ganja. Ditambah, James menjatuhkan segebok uang hasil menggambarnya. Si polisi tampak tak percaya kalau James adalah pemuda kelas menengah urban baik-baik yang sedang beruntung. Hanya karena kulitnya hitam, dia dicurigai tanpa bukti.

James menolak tasnya digeledah. Dia merasa polisi tak punya hak menggeledah properti pribadinya. James melawan. Tapi dia dilumpuhkan hingga tersungkur ke tanah. Si polisi mencengkeram leher dan tangannya. Dua polisi lain tiba-tiba datang membantu rekannya tersebut. James tak berdaya dan hanya bisa berkata lirih, “I can’t breathe. I can’t breathe. Get off me!

James mati. Dia kehabisan napas. Si polisi kebingungan. Dia tak mengira hari itu akan membunuh seorang sipil yang tak berdaya. Atau, barangkali, itu hanya kebingungan fiktif sebab si polisi seperti tak peduli kondisi orang yang dia cengkeram lehernya tanpa ampun. Tiada yang tahu.

Dan ya, adegan tersebut adalah satire atas kasus pembunuhan Geogre Floyd pada Mei 2020 lalu. Floyd dibunuh oleh polisi kulit putih dengan dugaan sinisme berdasarkan ras. Setelah kematiannya, gelombang protes menghantam Amerika Serikat. Kampanye #BlackLivesMatter kembali menggema di negeri Paman Sam, bahkan sampai internasional. Gerakan sosial berskala masif tersebut menyuarakan penolakan atas rasisme dan brutalitas polisi, khususnya terhadap warga kulit hitam.

Perlu diketahui, Travon Free menulis naskah Two Distant Strangers dua bulan setelah kematian Floyd.

Kembali pada film. Usut punya usut, James ternyata tidak mati. Dia tersadar lagi dan terbangun di ranjang yang sama, bersama perempuan yang sama, dan di waktu yang sama. Dia mengulangi hari itu sama persis: keluar apartemen si gadis, bertemu si polisi, berseteru, dan terbunuh. Setiap James mati, dia otomatis kembali terbangun dari tidur. Begitu terus berulang-ulang sampai percobaannya yang ke-100 kali.

Kita barangkali tidak asing dengan genre fiksi ilmiah semacam ini. Berbeda dengan time travel, film yang berputar-putar pada sebuah waktu seperti ini biasa disebut time loop. Time loop adalah perangkat alur cerita dalam karya fiksi yang membuat karakternya mengulang-ulang waktu yang sama dan biasanya mencoba untuk memutusnya. Kita bisa menjumpai time loop di film Amerika Serikat lain seperti Happy Death Day (2017) yang menegangkan atau di sinema Korea Selatan seperti A Day (2017) yang sangat emosional.

Two Distant Strangers sendiri adalah film time loop terbaik di antara film-film serupa lain yang pernah saya tonton. Film arahan Travon Free dan Martin Desmond Roe ini mempunyai daya dukung teknis yang luar biasa. Sinematografi dan departemen artistik yang ditampilan sejak awal film terasa sangat memanjakan mata. Belum lagi isu yang diangkat sangat relevan dan perlu diarusutamakan, terutama bagi penoton Amerika, dan lebih khusus lagi bagi polisi Amerika yang mempunyai masalah rasisme sejak lama.

Di sisi lain, dua hal yang membuat saya kagum pada film ini adalah ide dan semangat yang diusungnya. Two Distant Strangers merangkai setiap babaknya yang berlapis-lapis dengan cerita dan cara-cara kreatif. Di beberapa bagian saya dibuat kagum karena tawaran ide yang sering tak terpikirkan. Selain itu, dialog-dialognya terasa jujur dan apa adanya, seperti obrolan antarkawan di tempat tongkrongan.

Pada dasarnya, Two Distant Strangers membawa semangat untuk tidak menyerah dalam melawan rasisme. “Tak peduli berapa lama pun, atau berapa kali, bagaimanapun caranya aku akan pulang ke anjingku,” kata James.

Di satu sisi, ucapan James adalah satire atas rentannya keselamatan warga kulit hitam di Amerika Serikat akibat stigma dan rasisme. Namun di sisi lain, film ini sekaligus memposisikan warga kulit hitam sebagai orang-orang yang pantang menyerah melawan rasisme. Film ini disajikan bukan untuk membuat penontonnya berbondong-bondong mengasihani. Sebaliknya, Two Distant Strangers menolak tunduk sebagai pertunjukan para penyintas yang tak berdaya, dan mendorong siapa pun untuk menentang ketidakadilan primordial tersebut, “tak peduli berapa lama pun, atau berapa kali, dan bagaimanapun caranya.”

Jujur saja, film ini membuat saya tertawa dan kagum di banyak adegan, serta membuat saya menangis seperti bayi di akhir cerita. Mengesankan!



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Yahya Waloni dan Kursi Keras Ustaz Mualaf

Published

on

By


Rasa-rasanya, tiada kata yang pantas untuk menggambarkan Yahya Waloni selain “keras”. Baru-baru ini, ia kembali viral karena sebuah potongan video yang menunjukkan bagaimana tingkah Waloni ketika berada di tengah-tengah ceramah, lalu tiba-tiba meminta kursi penceramah diganti, hanya karena kursi awal disebut Yahya Waloni sebagai “kursi Kristen”.

Belum selesai di situ, usai kursi ceramahnya diganti, Yahya Waloni juga mengibaratkan bahwa Islam itu adalah keras, dan oleh karenanya ia lebih menyukai kursi yang lebih keras, bukan kursi yang empuk dan memanjakan seperti “kursi Kristen” itu.

Sikap “keras”nya tersebut tampak cukup berbahaya jika ditarik ke dalam ruang sosial yang lebih luas, karena bisa jadi orang-orang non-Islam akan mengasosiasikan para penceramah Islam sebagai pihak yang sangat anti terhadap Kristen. Ibarat kata, sentimen berlebihan yang ditunjukkan Yahya Waloni sangat berpeluang mengganggu stabilitas hubungan antara Islam-Kristen di Indonesia.

Tidak sekali ini saja, sebelumnya, ia terhitung rajin menghiasi warta-warta media sosial dengan sikap-sikapnya yang justru tidak mewakili ajaran Islam yang, ironisnya, sedang ia dakwahkan. Dari mulai mengajak seorang jamaah ribut sampai menantang berkelahi, tersinggung dengan panitia karena microphone yang bermasalah, sampai cerita dengan bangga menabrak (secara sengaja) seekor anjing di jalanan. Ya, anjing, salah satu binatang yang dalam versi kisah Ashabul Kahfi termasuk binatang yang ada di surga Allah, kelak. Herannya, jama’ah macam apa yang masih setia menggandrungi dan menikmati ceramah-ceramah sentimental semacam ini?

Jika mengacu pada aspek sosial, ada banyak argumentasi yang bisa menunjukkan bahwa perilaku “ustadz” mualaf ini tidak patut dilakukan, bukan hanya bagi seorang penceramah, namun bagi semua umat Islam sekalipun. Aspek sosial, misalnya, bagaimana perasaan para pengrajin mebel yang telah bersusah payah membuat kursi-kursi nyaman, mereka barangkali merasa terhormat karena kursi tersebut hendak diletakkan di rumah Allah, digunakan untuk ceramah, namun hanya karena “ucapan” Yahya Waloni, kebanggaan mereka jadi terganggu.

Barangkali, ta’mir-ta’mir masjid itu sudah memesan kursi yang empuk, agar sang penceramah tetap duduk dengan nyaman sehingga tidak kelelahan ketika berbicara berjam-jam, namun niat baik itu seakan dirusak oleh justifikasi “kursi Kristen” Yahya Waloni. Lagipula, jika hendak diperhatikan, kursi-kursi yang ada di gereja justru berbentuk bangku kayu panjang yang keras juga. Bangku kayu panjang tersebut disusun dengan rapi sehingga bisa memuat jemaat yang banyak ketika melakukan peribadatan.

Pun jika hendak memaksa adanya kursi Islam, sebenarnya dalam ber-Islam, kursi justru kurang mendapat peran yang signifikan. Rasulullah selalu berdiri di mimbar atau duduk lesehan bersama sahabat jika hendak berdiskusi atau mendakwahkan Islam. Jika benar-benar hendak merefleksikan Islam, Waloni harusnya meminta sajadah saja, dan duduk di lantai berdasar sajadah tersebut.

Melihat dari sisi transendental, yang berkutat pada dalil-dalil keagamaan, Waloni mungkin tidak mengetahui adanya QS. al-An’am: 108.

وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan

Pesan Allah tersebut secara nyata bertentangan dengan tipikal dan gaya ceramah Waloni. Ia masih saja membawa sentimen terhadap agama lamanya. Jika memang memaksakan untuk ceramah dan mendakwahkan Islam, Waloni harusnya lebih berfokus terhadap kisah bagaimana ia menemukan kesejukan dalam Islam, bagaimana agama barunya mengubah hidup dan pola pikirnya, bagaimana Islam membawanya ke jalan damai, sehingga para jama’ah semakin yakin bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin, bukan malah menyinggung dan mencela agama lamanya. Untuk apa kita menjelek-jelekkan agama orang lain, toh manusia tidak mempunyai kuasa untuk menilai keyakinan seseorang. Ceramah-ceramah semacam ini malah cenderung bersifat provokatif yang diarahkan untuk membenci agama-agama tertentu. Pertanyaan saya lalu begini, bagaimana output Islam yang diimajinasikan oleh Waloni? Islam yang baik secara vertikal, namun bobrok secara horizontal?

Misi tersebut selain tidak merepresentasikan Islam, juga sangat mustahil dicapai. Bagaimana kita bisa menciptakan hubungan baik dengan Allah tanpa membina hubungan yang baik terlebih dahulu di antara ciptaan-Nya. Allah telah berfirman dalam QS. al-Kahfi: 29,

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”

Kebenaran yang hakiki itu berasal dari Allah, kita sebagai manusia tidak mempunyai otoritas, bahkan hak, untuk menghakimi siapa benar siapa salah. Bahkan Allah pun, sudah memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih beriman atau memilih kafir. Lalu mengapa masih ada hamba Allah yang justru mensegmentasi sebuah kursi berdasarkan agama. Ya Allah, maafkan hambamu yang satu ini.



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Yuni Shara dan Upaya Pendisiplinan Tubuh Perempuan

Published

on

By


Kasus penghujatan Yuni Shara di media sosial menunjukkan betapa tidak sehatnya iklim internet Indonesia. Tidak hanya itu, hinaan dan body shaming yang diterima Yuni Shara nyatanya juga berasal dari sesama perempuan. Kapan perempuan dapat memperoleh posisi mapan di masyarakat, kalau sesama perempuan saja saling hujat?

Hujatan tersebut diterima Yuni Shara ketika ia mengepos fotonya mengenakan Ulos Batak dengan atasan terbuka. Komentar negatif yang disampaikan warganet terbentang dari hinaan fisik, hujatan agamis, bentuk tubuh (body shaming), usia (age shaming), diejek keriput, nenek-nenek, dan lain sebagainya.

Melihat deretan hinaan yang dilancarkan kepada Yuni Shara di atas, wajar saja jika warganet Indonesia dikategorikan sebagai warganet paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Laporan terbaru dari Digital Civility Index (DCI) besutan Microsoft bahkan menempatkan posisi Indonesia di urutan ke-29 dari 32 negara. Artinya, tingkat kesopanan digital Indonesia tergolong dalam deretan paling rendah di dunia.

Psikologi Berbusana ala Perempuan

Busana Ulos Batak dikenakan Yuni Shara yang dipadukan dengan atasan terbuka memang menampakkan keawetmudaan penyanyi papan atas tersebut. Tahun ini, usia Yuni Shara akan menjadi 49 tahun Juni nanti. Sementara, cara berpakaian cukup terbuka itulah yang diserang habis-habisan oleh warganet di Instagram.

Hujatan verbal terhadap cara berpakaian perempuan sebenarnya sudah diteliti oleh Jaimie Arona Krems dari Oklahoma State University tahun lalu. Hasil penelitiannya yang dimuat di Jurnal Social Psychological and Personality Science menjelaskan bahwa pada diri perempuan, terbangun jiwa kompetisi untuk tampil lebih menarik. Perempuan lain yang mengenakan pakaian modis dan dirasa lebih cantik akan cenderung diserang secara agresif oleh sesama perempuan, terutama dari yang tak dikenal.

Tak jarang, sering kali dalam suatu komunitas perempuan, jika tak ada kehadiran laki-laki, biasanya para perempuan akan berpakaian lebih sederhana dan tidak bertujuan menarik perhatian orang lain, menurut Arona Krems. Tujuannya agar menghindari celaan dari sesama perempuan yang cenderung menohok dan mencari-cari kejelekan orang lain.

Jika dilihat dari kasus Yuni Shara, orang-orang yang menghujat artis tersebut adalah perempuan yang cenderung sama usianya. Karena itulah, Yuni Shara pun menjawab komentar ketika ia disebut sebagai nenek-nenek karena tubuhnya dianggap tidak kencang lagi. Yuni pun membalas halus dengan ucapan “semoga awet muda” kepada pengomentar tersebut.

Hujatan atas Tubuh Perempuan dan Pelampiasan Terselubung

Hinaan yang dialami oleh Yuni Shara adalah salah satu dari banyak kasus body shaming atas perempuan. Survei yang dilakukan ZAP Beauty Index 2020 menunjukkan bahwa 62 persen perempuan Indonesia pernah dihujat atau dihina karena bentuk tubuhnya.

Wajar saja, masyarakat seolah mengagung-agungkan kecantikan dan bentuk tubuh sempurna bagi perempuan. Usia tua, seperti yang dialami Yuni Shara, seolah bencana yang tak ingin diterima. Kulit keriput, tak lagi kencang, ketidakbugaran, rambut beruban, dan bentuk-bentuk gejala penuaan merupakan hal memalukan. Bagi sebagian orang, mereka menjadikan gejala penuaan tersebut sebagai lelucon atau hinaan kepada orang lain, seperti yang dialami Yuni Shara.

Jika yang melakukannya adalah sesama perempuan atau orang dengan usia nyaris sama dengan Yuni, maka hujatan itu bisa dilihat sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri dalam bentuk pelampiasan (displacement). Artinya, ia sebenarnya tidak suka dengan dirinya sendiri, namun malah melampiaskannya dengan orang lain.

Dalam contoh kehidupan sehari-hari, seseorang bisa jadi dimarahi bosnya di kantor, namun karena aturan sosial tidak memungkinkan seseorang untuk balik marah ke bosnya, maka ketika ia pulang ke rumah, ia pun memarahi anaknya sebagai pelampiasan emosi tersebut.

Sementara itu, berkat internet, seseorang dapat saja melampiaskan banyak hal melalui komentar negatif dalam bentuk hujatan, hinaan, rasa tidak suka, dan sebagainya kepada siapa pun, termasuk tokoh publik di media sosial.

Pelampiasan itu dirasa masuk akal karena orang yang dihina-hina kemungkinan besar tidak akan bisa membalasnya di dunia nyata. Dalam kasus Yuni Shara, penyanyi ini bahkan tidak membalas hinaan tersebut di internet.

Mungkin, ada benarnya ungkapan bahwa jika seseorang menunjuk kekurangan orang lain, sebenarnya ia tidak sadar bahwa sisa jarinya sedang menunjuk dirinya sendiri.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved