Connect with us

Indonesia Kaya

Opera Jawa : Selendang Merah

Published

on


Didukung oleh Djarum Apresiasi Budaya dan disutradarai oleh Garin Nugroho, Opera Jawa Selendang Merah yang berlangsung di Solo tanggal 7 April 2013 dan juga di Jakarta tanggal 13 – 14 April 2013 mengusung kesederhanaan yang bersahaja dan elegan. Dengan dialog yang tidak terlalu banyak, pertunjukan ini lebih berpegang pada narasi, mimik wajah, gestur tubuh, serta tembang-tembang yang dibawakan para pelakon.

Beragam budaya bercampur baur di dalam pergelaran ini. Musik yang diaransemen oleh Rahayu Supanggah merupakan harmonisasi dari bermacam-macam musik di Indonesia, mulai dari gamelan Jawa, Karawitan, sampai musik Bali. Perpaduan beragam jenis musik tersebut juga didukung dengan koreografi oleh Anggono Kusumo dan Danang Pamungkas. Nuansa koreografi Jawa yang lembut, pelan dan bersahaja juga dipadu dengan berbagai jenis tarian lainnya, mulai dari tari Bali, tari Jawa Timur, sampai Ballet.

Kisah dimulai dengan ditangkapnya seekor monyet oleh kelompok ledhek yang dipimpin oleh Tuan Ledhek. Hanoman, si monyet, kemudian dilatih secara kejam untuk suguhan penonton. Melihat penyiksaan yang dilakukan Tuan Ledhek dan anggota kelompok lainnya terhadap Hanoman, timbul rasa belas kasihan Sri Ledhek, istri Tuan Ledhek yang juga penari tayub. Tanpa sadar, rasa belas kasihan Sri Ledhek terhadap Hanoman berubah menjadi rasa cinta.

Suatu hari, kelompok Ledhek melewati sebuah desa yang sedang dilanda musibah. Ladang-ladang mereka diserbu sekelompok binatang yang dipimpin oleh monyet-monyet. Pemimpin desa tersebut meminta kelompok Ledhek untuk melakukan upacara tolak bala yang melibatkan Sri Ledhek dan monyet. Hanoman menolak untuk melakukan tari tolak bala karena merasa manusia-manusia itu sendirilah yang mendatangkan musibah tersebut.

Deangan cambukan, Tuan Ledhek memaksa Hanoman untuk menari. Akhirnya, dengan disertai cambukan Tuan Ledhek, Hanoman berpasangan dengan Sri Ledhek melakukan tari tolak bala tersebut. Di tengah-tengah ritual tersebut, Hanoman mengalami tiwikrama, sebuah pencerahan. Ia merasa dirinya bukan hanya sekedar monyet, tapi seperti Hanoman yang seorang manusia dan dewa. Ia berbalik menantang Tuan Ledhek dan bertarung dengannya.

Walau dengan unsur tradisional yang kuat, Opera Jawa Selendang merah sukses menggugah ribuan penonton baik di Jakarta maupun Solo. Empat pertunjukan yang disuguhkan selalu dipadati penonton dari berbagai kalangan dan usia. Ini adalah bukti bahwa dengan kualitas yang tinggi, pertunjukan tradisional masih dapat memenangkan hati banyak masyarakat modern dan membuka pintu untuk budaya-budaya tradisional lainnya. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Indonesia Kaya

Pentas Pembacaan Dramatik Landung Simatupang Baca Babad Diponegoro”

Published

on

By


November 2011, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) menerbitkan terjemahan Parakitri T. Simbolon dari karya sejarawan Inggris Peter Carey, Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 (The Power of Prophecy, Prince Dipanagara and the end of an old order in Java, 1785-1855), dalam tiga jilid. Dalam prakata edisi pertama buku asli yang terjemahannya disertakan dalam  buku terbitan KPG itu Peter Carey, mengacu pada Perang Jawa dan Pangeran Diponegoro, antara lain menulis:

“Bagi orang Jawa, perang lima tahun ini berdampak sangat luas: mungkin inilah pertama kali pemberontakan pecah di lingkungan salah satu keraton Jawa tengah-selatan yang pokok masalahnya terletak lebih pada kesulitan ekonomi daripada ambisi kekuasaan seorang kerabat keraton. Munculnya seorang pemimpin yang sangat berwibawa seperti Pangeran Diponegoro (1785-1855), yang menyebut dirinya Ratu Adil Jawa, berdaya guna menghimpun beraneka ragam unsur masyarakat di bawah panji tunggal Islam-Jawa. Aneka pengharapan yang meluas akan penyelamatan Ratu Adil memukau jiwa para petani dan meningkatkan rasa tidak puas ekonomi, yang sudah menumpuk sejak awal abad kesembilan belas. Wawasan perang suci (perang sabil), penggambaran yang akrab dikenal dalam ceritera wayang kulit, dan rasa-birasa asali Jawa berupa kerinduan mendalam terhadap tatanan lama yang adiluhung – yang diperikan oleh Diponegoro sebagai “memulihkan keluhuran agama Islam di seluruh Jawa” – semuanya membantu terbentuknya suatu jati diri bersama di kalangan pengikut sang Pangeran”.

Tanggal 23 Juni tahun ini UNESCO, organisasi PBB untuk pendidikan, keilmuan dan kebudayaan, menetapkan Babad Diponegoro sebagai bagian dari “ingatan kolektif dunia” (international Memory of the World).  Babad Diponegoro adalah karya tulis otobiografis Pangeran Diponegoro yang beliau gubah tahun 1831-1832 dalam pengasingan di Manado, Sulawesi Utara. Catatan UNESCO mengenai Babad Diponegoro antara lain berbunyi,

“Ini catatan pribadi seorang tokoh kunci dalam sejarah Indonesia modern. Ini juga merupakan otobiografi pertama dalam kesusastraan Jawa modern, dan menunjukkan kepekaan luar biasa terhadap berbagai keadaan dan pengalaman setempat”.

Terkait dengan ulasan Peter Carey dalam bukunya, di antara sekian ratus sumber tertulis lain, Babad Diponegoro merupakan salah satu sumber acuan terpenting.

Pergelaran pembacaan Sang Pangeran di Keresidenan oleh Landung Simatupang yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini didorong oleh kehendak menyatakan syukur dan penghargaan sehubungan dengan dua peristiwa budaya penting berupa penerbitan buku dan penetapan UNESCO tersebut. Tetapi tentu saja yang melatarbelakangi syukur dan penghargaan atas dua hal itu itu tak lain ialah penghormatan yang tinggi terhadap ketokohan Pangeran Diponegoro.

Bahan bacaan dalam pergelaran kali ini terutama diambil dari Jilid 2 buku Kuasa Ramalan, khususnya Bab XII yang bertajuk “Derita yang Tak Terpikul”, dengan fokus pada penangkapan Pangeran Diponegoro sebelum beliau dibawa ke Semarang, lalu Batavia (Jakarta), kemudian ke pengasingan di Manado, Sulawesi Utara. Sumber lain adalah Babad Diponegoro yang ditulis dalam gagrak (genre) puisi Jawa untuk ditembangkan.

Pergelaran dilaksanakan di pendapa ex-keresidenan Kedu di Magelang, tempat peristiwa bersejarah yang dikisahkan terjadi sekitar 183 tahun silam. Dalam hal ini pergelaran Sang Pangeran di Keresidenan mewujudkan upaya menyegarkan ingatan bersama tentang nilai historis warisan fisik yang sepatutnya dirawat lebih serius demi tanggung jawab terhadap generasi-generasi mendatang.

Pergelaran pembacaan oleh Landung Simatupang bertajuk Sang Pangeran dengan bahan bersumber pada Kuasa Ramalan dan Babad Diponegoro ini juga akan dilaksanakan sekurangnya di tiga kota lain : Yogyakarta, Jakarta, Makassar, dengan menampilkan babakan berbeda-beda dari sejarah Perang Jawa dan biografi Sang Pangeran.

Jadwal kegiatan adalah :

24 November 2013 bertempat di Kantor Bakorwil II Magelang
4 Januari 2014 bertempat di Monumen Sasana Wiratama Yogyakarta
10 Mei 2014 bertempat di Museum Fatahiilah Jakarta
17 Juni 2014 bertempat di Benteng Fort Rotterdam Makassar

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi panitia, Ina Prihaksiwi 0818 266 035



Sumber Berita

Continue Reading

Indonesia Kaya

Galang Budaya Nusantara II – Indonesia Kaya

Published

on

By


Berawal dari keinginan untuk mempelajari seni dan budaya Indonesia, berdirilah sebuah sanggar yang berbasis tarian tradisional, Gema Citra Nusantara (GCN) pada tahun 2004. Keberadaan sanggar tari GCN sudah terdaftar di Dinas Kebudayan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta di bawah asuhan Ibu Mira Marina Arismunandar. Sanggar Gema Citra Nusantara beralamat di Jl. KH.M. Naim II No. 3D, Jakarta Selatan 12150, Indonesia. Komunitas ini aktif sebagai peserta dan pengisi acara dalam berbagai festival, event dan misi kebudayaan yang diselenggarakan oleh KBRI, KJRI dan berbagai organisasi kebudayaan yang ada di luar negeri.

Sanggar Gema Citra Nusantara aktif dalam melestarikan seni dan budaya tradisional Indonesia, bahkan berharap agar dapat terus mengembangkannya hingga seni dan budaya tradisional Indonesia dapat selalu dicintai dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam usaha mengembangkan dan melestarikan kebudayaan tradisi serta menanamkan rasa cinta pada nilai budaya luhur, Sanggar Gema Citra Nusantara akan mengadakan kegiatan Galang Budaya Nusantara II.

Galang Budaya Nusantara II yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation kali ini akan mempelajari dan memperdalam seni dan budaya tradsi daerah yang ada di Indonesia. Seperti kita ketahui, bahwa seni dan budaya tradisi khususnya di Jakarta dan sekitarnya sudah mulai kurang diminati oleh masyarakat khususnya para remaja. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dan pengaruh budaya barat yang cukup kuat di kalangan masyarakat. Diharapkan kegiatan ini dapat bermanfaat khususnya di kalangan generasi muda agar seni dan budaya tradisi kita tetap utuh dan semakin dicintai oleh masyarakat Indonesia umumnya.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat mengunjungi  www.gcn-indonesia.org

Atau silahkan menghubungi panitia :

E-mail : gemacitranusantara@yahoo.com

Andini : +62 815 1110 8099



Sumber Berita

Continue Reading

Indonesia Kaya

Suluk Maleman “Para Nasar dan Kejujuran Indonesia”

Published

on

By


Suluk Maleman adalah acara rutin bulanan yang dirancang sebagai ajang untuk silaturrahim pikiran, mengaji masalah-masalah yang dihadapi bangsa, baik di tingkat lokal maupun nasional. Acara ini sejak awal digagas sebagai oase untuk merekatkan kembali ikatan kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebangsaan, yang selama ini cenderung cerai berai.

Tema Suluk Maleman kali ini adalah Para Nasar dan Kejujuran Indonesia. Tema ini diangkat karena masalah korupsi tampaknya sudah menjadi momok besar bagi eksistensi bangsa ini. Banyak yang meyakini bahwa masalah utamanya adalah mulai meredupnya kejujuran dalam kehidupan kita sebagai sebuah bangsa. Kejujuran mulai tersingkir dari pergaulan sehari-hari. Orang seolah dipaksa berlomba untuk saling meyakinkan kebenaran ungkapan ‘jujur ajur’, jujur hancur. Tapi bisa juga dilihat bahwa masalah utamanya justru bukan pada kejujuran itu sendiri, tapi pada amanah, pada kepercayaan. Persoalan dasar inilah yang akan coba diangkat dalam Suluk Maleman kali ini.

Kegiatan yang juga didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 15 Nopember 2013, mulai pukul 19.30 WIB, bertempat di Rumah Adab Indonesia Mulia, Jalan P. Diponegoro No 94, Pati.

Siaran langsung : PAS 101,0 FM
Live Streaming : www.pasfmpati.com dan www.paspati.co.id
Siara Tunda : Aswaja TV, Setiap Ahad dan Selasa jam 22.00 sampai 01.00

Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi panitia di nomor telp. : 0823 2491 1157



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved