Connect with us

Feature

Ngobrol dengan Frater Katolik: Bom Makasar Momentum untuk Memperkuat Toleransi Kita

Published

on


Suatu sore selepas pristiwa bom di Makasar, lini masa Twitter saya riuh. Ada akun anonim yang menganggap bahwa kekerasan seperti itu adalah ajaran Islam yang sebenarnya, sembari melampirkan tangkapan layar suatu ayat Al-Quran beserta terjemahannya.

Saya baca, cuplikan ayat tersebut memang menyebutkan peperangan dan semacamnya. Namun tunggu dulu, ayat tersebut tidak serta merta bisa dipahami hanya dengan membaca terjemahannya, bukan? Ada asbabun nuzul, ada konteks dan peristiwa yang mengiringi turunnya ayat itu.

Beberapa akun lain pun mencoba menjelaskan maksud ayat itu. Namun tetap saja. Akun anonim ini mental, sedikitpun tidak mau menerima penjelasan. Dari profilnya, saya tidak melihat afiliasi apapun dari akun tak dikenal itu. Tidak ada agama, afiliasi politik atau semacamnya.

Walau demikian, celotehan akun ini membuat kepala saya melayang, membayangkan bagaimana perasaan umat agama lain yang membaca ayat dan terjemahan Al-Quran itu secara mentah-mentah, ditambah kejadian-kejadian terorisme atas nama agama yang berulang mendera mereka. Apalagi jika mereka sama sekali tidak memiliki teman dekat atau tetangga muslim yang baik dan berempati kepada mereka. Mungkin ini lah benih-benih islamophobia berawal. Saya pun akhirnya memahami presepsi orang-orang di luar sana tentang muslim. Orang-orang yang mendengar teriakan-teriakan ‘kafir’, ‘halal darahnya’, dan semacamnya dari ‘Toa’ ustadz serampangan yang mendengung ke arah rumah mereka.

Baca juga: Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar dan Sentimen Keagamaan yang Menyelimutinya

Mereka mungkin akan bertanya-tanya, “Katanya “Islam itu rahmat, mengasihi, menyangi’, lalu mereka ini Islam yang mana?” Jika mereka bertanya demikian, bagaimana jadinya toleransi kita?

Saya buru-buru mengirim pesan instan ke kolega saya, seorang frater Katolik yang tempo hari magang di kantor saya, Amadea namanya. Ia juga beberapa kali menulis di Islamidotco. “Bung, hari Kamis besok, kosong?” Tak lama, sang frater membalas, “Kalau sore ada ibadah, bung.”

Saya paham maksudnya. Sebagai seorang frater, pekerjaan utamanya adalah melayani umatnya. Apalagi hari itu adalah salah satu di antara hari-hari penting, yaitu hari Tri Suci. Dia pasti akan sibuk hingga hari Minggunya.

Baca juga: Bom Bunuh Diri Makassar Adalah Bukti Tidak Seimbangnya Ilmu dan Cinta

Jadwal pun kita sepakati bersama, hari Kamis siang, sebelum ia melaksanakan ibadahnya. Saya merasa penting untuk ngobrol dengannya. Saya penasaran dengan perasaannya setelah kejadian bom di Makasar, apalagi pristiwa keji itu berlangsung menjelang hari-hari suci bagi mereka. Saya khawatir mereka tidak nyaman dan tidak merasa aman saat beribadah.

“Bagaimana kabarnya, bung? Sehat dan Aman?” Itu lah pertanyaan awal saya saat memulai percakapan pada waktu yang telah kami sepakati.

“Puji Tuhan, bung, semuanya aman,” jawabnya.

Saya yakin, walaupun ia berkata demikian. Ia pasti memiliki kekhawatiran. Amadea pun mengakui itu. Pada awalnya ia merasa khawatir dengan situasi saat itu. Namun kekhawatiran itu mulai memudar saat melihat banyak dukungan dari berbagai kalangan untuk umat Kristiani, termasuk dari umat muslim.

Amadea juga terharu dengan ungkapan yang disampaikan oleh Mentri Agama Yaqut Cholil Qaumas saat menemui uskup agung selepas kejadian di Makasar.

Kami bersama umat Katolik, kami bersama umat Kristiani, jangan takut!” ungkap Amadea menirukan kata-kata Gus Menteri. Kalimat itu lah yang membuatnya terharu, bahwa ia sebagai umat Kristiani tidak lah sendiri. Semua kelompok berbondong-bondong mendukung dan menguatkannya.

Hal ini lah yang membuatnya sadar dan membuang jauh-jauh kekhawatiran yang hinggap di benak kepalanya. Rasanya tidak ada gunanya khawatir jika semua saudara sebangsa mendukung dan menguatkan. Baginya, ini menjadi sebuah momentum dan harapan untuk menguatkan toleransi kita.

“Khawatir pasti ada, bung. Namun yang paling penting untuk disorot adalah harapan kita,” ungkap alumni STF Driyakara Jakarta ini.

Mendengar jawaban itu saya sedikit tenang. Namun saya merasa perlu mengeluarkan pertanyaan yang lebih penting, yaitu: Bagaimana presepsinya kepada muslim setelah kejadian bom di Makasar? Karena saya yakin, kejadian ini bukan pertama kalinya bagi umat Kristiani. Mereka telah mengalami ancaman bom berkali-kali. Justru saya khawatir, kejadian ini meneguhkan sebagian umat agama lain bahwa muslim memang benar-benar kejam.

Amadea menjawabnya dengan jawaban yang menarik. Ia meyakini bahwa banyak orang yang mulai kritis dan tidak asal menggeneralisir. Menurutnya, memang ada kelompok teroris yang mengaitkan diri mereka dengan Islam. Namun, ia meyakini bahwa kekerasan, bom dan sebagainya bukanlah ajaran Islam yang sebenarnya. Pasalnya ia bertemu dengan banyak muslim yang tidak seperti pelaku teroris itu. Pangalamannya berinteraksi dengan  saya dan teman-teman muslim saya yang lain nampaknya mempengaruhi itu.

Ia membuktikan bahwa saat ada pristiwa bom, misalnya. Umat muslim berbondong-bondong mendukung dan simpati dengan para korban. Berbeda jika umat Muslim malah lebih banyak mendukung pelaku pengeboman.

“Itu lah yang membuat saya yakin,” tuturnya.

Dengan pristiwa ini, menurut Amadea, kita semakin menguatkan toleransi kita, bukan hanya sesama umat Kristiani, tetapi juga dengan umat agama lain, termasuk umat muslim.

“Bagi saya justru masa depan toleransi ini semakin cerah. PR kita bagaimana agar kejadian ini tidak terulang kembali,” harap Amadea.

Saya juga meminta kepada Amadea agar menceritakan pengalamannya saat berinteraksi dengan kita kepada teman-teman Kristiani yang lain. Lebih-lebih kepada saudara-saudara Kristiani dan juga umat agama lain yang sama sekali belum pernah berinteraksi dengan muslim. Agar kekhawatiran dan ketakutan mereka dengan stigma muslim bisa direduksi. (AN)





Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Feature

Toleransi di Pulau Buru Kepri: Islam dan Konghucu Bahu Membahu Bersatu

Published

on

By


Pulau Buru merupakan pulau kecil yang terletak di Kepri (Kepulauan Riau), dekat dengan Batam. Jarak tempuh naik kapal ferri dari Batam ke Pulau Buru sekitar 3 jam. Tidak lantas sampai, perlu transit terlebih dahulu di Tanjung Balai Karimun. Dilanjutkan dengan naik kapal kecil menuju Pulau Buru. dibutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke pulau ini.

Ada sesuatu yang menarik ketika berbicara tentang daerah-daerah di Kepulauan Riau, salah satunya Pulau Buru. Penduduk Pulau Buru menganut dua agama, yaitu Islam dan Konghucu. Masyarakat yang beragama Islam di Pulau Buru menganut kebudayaan Melayu, sedangkan agama Konghucu masih tetap konsisten dengan kebudayaannya.

Dua agama ini bagaikan dua jendela yang saling berdampingan, dan dilestarikan sejak dulu oleh masyarakat terdahulu. Selama ini tidak pernah ada konflik atau bom bunuh diri yang menerpa. Semuanya terlihat aman, nyaman, tentram, dan damai. Mereka saling membutuhkan satu sama lain, masyarakat Islam membutuhkan orang-orang Konghucu karena mereka memiliki warung atau kedai yang menyedikan bahan pokok pangan sehari-hari.

Baca juga: Raja Aisyah binti Sulaiman Menunjukkan Fakta, Perempuan Bisa Jadi Apa Saja

Sedangkan orang-orang Konghucu membutuhkan muslim karena kepandaiannya membuat masakan. Sehingga tidak ada lagi sekat jasmani antar dua agama di Pulau Buru. Walaupun demikian, batin muslim di Pulau Buru tetap pada keyakinnya yaitu Iman dan Takwa kepada Allah Saw. Begitu pula orang-orang Konghucu, dalam beribadah mereka tidak pernah mengusik satu sama lain.

Kedua pemeluk agama tersebut bukan hanya memiliki persamaan dalam dunia perdagangan saja, namun juga berkebun, nelayan, serta berternak. Mereka saling bahu membahu membentuk rotasi kehidupan, tidak ada yang membuat keributan dengan mengatas namakan agama “Jihad Fi Sabilillah”. Guru-guru di sekolah pun tidak perlu bersusah payah memberikan pemahaman atau wawasan toleransi pada siswa siswi, karena mereka sudah menanamkannya.

Secara teori, sikap toleransi diartikan sebagai sikap saling menghargai setiap perbedaan, baik dalam bidang keagamaan, sosial, ekonomi, atau kebudayaan. Sikap toleransi tersebut sudah ditanamkan pada masyarakat Pulau Buru pada jenjang pendidikan. Mereka sudah terbiasa dalam menghargai dan menghormati antar perbedaan agama, ras, dan suku.

Baca juga: Hak Sipil Kaum Minoritas: Sebuah Renungan

Dengan hal ini, sikap toleransi merupakan etika menghormati berbagai perbedaan yang ada di dalam lingkungan sekitar. Dengan sikap toleransi, rasa kasih sayang dan saling membantu akan tumbuh antar sesama manusia. Walaupun adanya perbedaan ras, suku, agama, kulit, dan lain sebagainya. Seperti yang diterapkan di Pulau Buru ini, walaupun kecil tetapi jiwa akan menghargai setiap perbedaan mereka junjung tinggi. Karena mereka tahu, bahwa kenyamanan itu memiliki lingkungan yang damai. (AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Satu Hari di Wasini, Kenya, Penduduk yang Ingin Mengunjungi Indonesia

Published

on

By


Saya tiba-tiba teringat tentang Wasini, sebuah pulau kecil di Kenya, Afrika Timur. Pulau tersebut terletak di tengah laut yang bisa dijangkau dari pelabuhan dekat desa Shimoni. Kunjungan saya dan rombongan saat itu untuk menghabiskan senja setelah seharian melakukan study tour di goa ‘Slavery’ Shimoni, goa yang digunakan kesultanan Oman dan penjajah Inggris untuk mengurung warga Kenya yang akan diperbudak.

Dihuni oleh sekitar 2000 orang, pulau ini memang terbilang mungil. Sayangnya, saya tidak bisa menjelajah lebih jauh akibat miskomunikasi antara panitia penyelenggara acara touring dengan penduduk setempat. Padahal salah satu episode yang saya nantikan ketika berkunjung ke Kenya adalah belajar dengan warga secara langsung.

Meski demikian, sekelumit informasi yang saya dapat sangat berkesan. Pulau ini merupakan pulau dampingan PBB dalam pengentasan kemiskinan, khususnya pemberdayaan perempuan. Selain itu, PBB melalui UNDP mengadakan program konservasi lingkungan. Wasini merupakan pulau dengan keragaman koral, spesies ikan, dan penyu. Tercatat ada 65 jenis koral, 25 spesies ikan, dan 5 penyu. Keindahan itu terancam akibat eksploitasi berlebihan.

Saya tidak tahu apakah menyebut Wasini sebagai pulau terisolir itu tepat. Yang jelas untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu khusus. Sekitar 15 menit perjalanan air dari pelabuhan Shimoni. Saya langsung disambut dengan gugusan pohon baobab, pohon yang pertama kali saya lihat di film ‘Lion King’.

Ketika menyentuh pasir pantai beberapa warga langsung menawari ikan. Penduduk Wasini memang sebagian bekerja sebagai nelayan. Namun rombongan kami memiliki tujuan untuk menuju ke tempat yang kami sama sekali tidak diberitahu. Kami hanya menelusuri perkampungan yang rumahnya tersusun dari bebatuan karang. Atapnya menggunakan sebagian seng dan rumbia. Jalanan yang cukup kecil dilapisi dengan bebatuan.

“Wah, indahnya,” begitu seru salah satu rombongan melihat hambaran tanah lapang dengan susunan batu yang begitu rapi. Konon, batu-batu itu memang tersusun seperti itu. Jika sedang pasang, lokasi yang kami lihat sebagian akan tenggelam. Saya langsung ingin mengabadikan pemandangan itu.

“Stop, stop!” teriak salah seorang dari jarak yang sangat dekat. Ia menjelaskan bahwa kawasan itu tidak boleh difoto. Kami tanya mengapa? Ternyata kami belum membayar ‘tiket’ masuk ke pulau ini. Sehingga kami tidak berhak mengakses apapun. Agenda ‘belajar’ pada perempuan Wasini pun belum diagendakan sama sekali.

Kami pun tak bisa berlama-lama karena hari semakin gelap. Dengan membawa kekecewaan, kami berjalan gontai untuk kembali ke pelabuhan. Di salah satu sudut jalan kami menemukan lokasi pemakaman. Kami bertanya, makam siapa ini? Makam-makam yang kami lihat seperti makam muslim di Indonesia. Insting sarkub pun muncul. Apalagi saat pemandu kami menjelaskan bahwa makam itu adalah  makam ‘sesepuh’  yang cukup dihormati. Beberapa peserta touring pun langsung bersila dan membacakan tahlil.

Setelahnya kami melewati sebuah masjid yang usianya cukup tua. Di sana tertulis tahun 1701. Menurut cerita masjid itu termasuk masjid tertua di Kenya. Dibangun oleh para ‘wali’ yang menyebar Islam di kawasan Afrika Timur. Beberapa mendiami pulau Wasini yang keturunannya beranak pinak hingga hari ini.

Di sebelah masjid terlihat tiga pria dewasa sedang nongkrong. Entah mengapa saya melihat pandangan yang kurang bersahabat. Kami pun mengucapkan salam, ‘Assalamualaikum.’ Ajaib, raut wajah ketiganya berubah menjadi sangat hangat, bahkan memanggil kami untuk mendekat.
“Kalian muslim?”

“Iya, benar.”

“Selamat datang di kampung kami, saudara. Kalian berasal dari mana?”

“Indonesia”

“Wah, jauh sekali, ya. Saya sangat suka dengan Indonesia.”

“Anda pernah berada di sana?”

“Belum. Tapi saya ingin sekali mengunjungi Indonesia.”

Percakapan kami mengalir. Bahkan si bapak secara suka rela berkisah tenyang pulau Wasini, tentang masjid tertua, tentang makam pendiri yang dimakamkan di pohon baobab tertua di sana. “Silakan kalau mau berziarah makam berada di sana,” ujarnya sembari menunjuk satu lokasi.

Sementara itu pemandu kami sudah berkali-kali melihat jam. Langit pun semakin gelap. Ia memberi kode agar kami segera naik kapal. Saya dan beberapa anggota rombongan pun undur diri dan ‘mengajak’ mereka untuk mengunjungi Indonesia satu hari nanti.

“Come on.”

“Wait, for minutes.”

Kami berdiri di depan pemakaman yang dikelilingi pagar. Saya lupa namanya, yang jelas waktu itu kami mengirimkan Al-Fatihah kepada sang ‘penemu’ pulau itu. Setelah selesai kami langsung menuju kapal. Beberapa rombongan yang lebih dahulu ‘memarahi’ kami karena terlalu lama.

Ya, sedikit dimarahi tidak apa-apa. Karena justru percakapan singkat itu yang membuat saya terkesan dengan pulau ini. Rasa kangen saya untuk tahlilan dan mengirim doa di makam bisa tersalurkan saat hari terakhir kunjungan di Kenya.

 

Yogyakarta, 25 Maret 2021.



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Nawal El Sadaawi: Melawan Titik Nol

Published

on

By


PEREMPUAN yang duduk di lantai di depanku ini adalah wanita sejati. Suaranya memenuhi telingaku dengan kata-kata, dengan gema di sel penjara yang pintu dan jendelanya tertutup rapat. Suara itu pasti suara dia, suara Firdaus.

 

Berulang kali ia menolak permintaan wawancara oleh psikiater Nawal El Sadaawi. Firdaus sedang menunggu eksekusi hukuman mati karena membunuh seorang germo yang ingin menguasainya hidupnya. Sehari sebelum eksekusi, barulah ia bersedia menerima tamunya, dan ia meminta sang tamu duduk di lantai bersamanya.

 

Ia menjadi pelacur di Kairo, setelah lari dari kungkungan dua pria. Pertama, dari Syeikh Mahmoud, seorang suami berwajah buruk dan berperilaku menjijikkan. Dia adalah paman dari isterinya paman Firdaus, berusia 60. Firdaus tak punya pilihan. Ketika ia mencuri dengar rencana penjodohan itu oleh si paman dan isterinya — yang tak menyukai dirinya, karena itu Firdaus dimasukkan ke pesantren agar keluar dari rumah — ia mencoba melarikan diri.

 

Di jalan, ia melihat sejumlah orang yang menyeramkan mendekatinya, membuatnya segera lari, kembali ke rumah pamannya; lalu perkawinan terjadi. Si paman

tampaknya mendapat banyak uang dari “menjual” keponakannya (Firdaus tinggal bersama sang paman di Kairo setelah kedua orangtuanya yang sangat miskin meninggal di kampung).

 

Syeikh Mahmoud, yang berbadan dan bermulut bau, dengan lubang di keningnya, bukan hanya memuakkan, tapi gemar memukuli isteri yang dia anggap asetnya. Firdaus melarikan diri, dan mendapat tempat berlabuh yang baik: Bayoumi, pemilik warung kopi yang baik hati dan mengajaknya tinggal di rumahnya.

 

Tak lama kemudian Bayoumi membuka kedoknya. Ia marah ketika mendengar Firdaus ingin bekerja. Ia mengunci Firdaus di dalam rumah selama ia bekerja di warungnya. Selain sering memukul, Bayoumi suka mengundang teman-temannya dan membiarkan mereka rutin meniduri Firdaus.

 

Ia berhasil melarikan diri dari rumah Bayoumi berkat bantuan seorang tetangga. Ketika ia sedang beristirahat dan merenungi hidupnya di tepi Sungai Nil, seorang perempuan cantik berbusana mahal menyapa dan mengajaknya tinggal di rumahnya. Rumah Sharifa yang sangat ramah itu begitu mewah, membuat Firdaus bercita-cita ingin sekaya dia. Sharifa mengajarinya berdandan dengan layak, dan meyakinkan Firdaus bahwa ia cantik dan tegar.

 

Ia mendapatkan figur ibu pada Sharifa, seorang pelacur kelas atas yang segera menjual tubuh Firdaus kepada para pelanggan. Ia terkenal, dan segera berhasil mendapat banyak uang, berkat tamu-tamu kelas atas yang menjadi kliennya. Ia membeli rumah, perhiasan dan barang-barang mahal.

 

Ketika suatu hari Firdaus mendengar Sharifa bertengkar dengan Fawzy, seorang germo, memperebutkan dirinya sebagai komoditas bernilai tinggi, ia melarikan diri dan bekerja di sebuah kantor sebagai asisten (ia pelajar yang tekun dan mendapat penghargaan sebagai siswi berprestasi semasa di pesantren).

 

***

 

Kerja kantoran dijalaninya setelah ia menjual rumah dan semua barang berharga, atas saran seorang wartawan pelanggannya, yang sering menyatakan bahwa meskipun ia berduit, ia bukanlah perempuan terhormat. Si wartawan menyaraninya bekerja di tempat yang layak. Tapi segera ia merasa: kondisi kerja di kantor sebagai asisten lebih buruk daripada sebagai pelacur.

 

Ia jatuh cinta pada Ibrahim, yang menyambutnya; pemuda simpatik itu ternyata sudah bertunangan dengan puteri pemilik perusahaan. Tak lama, nasib mengusirnya dari kerja kantoran, dan melemparnya kembali ke bisnis perkelaminan. Dan ia akhirnya tahu Ibrahim tak mencintainya. Setelah ia kembali ke profesi lama, Ibrahim kerap mengunjunginya sebagai pelanggan.

 

Suatu malam germonya memaksanya melayani seorang pelanggan yang tak disukai Firdaus. Mereka bertengkar keras, sampai Firdaus membunuhnya. Tapi ia berhasil lolos dari tangan hukum berkat bantuan seorang pangeran Arab, yang menampungnya tinggal di rumahnya dan memberinya bayaran tinggi. Namun ketika mereka bertengkar, si pangeran menelepon polisi. Ia ditangkap, diadili, dan divonis hukuman gantung.

 

Kisah nyata itu difiksionalisasi dengan baik oleh El Sadaawi menjadi novel kecil yang membuat namanya mengglobal, Woman at Point Zero (1975; diterjemahkan dan diterbitkan oleh Yayasan Obor menjadi Perempuan di Titik Nol).

 

Novel itu diceritakan dari dua titik-pandang: El Sadaawi sendiri (tentu dalam versi fiksional) dan Firdaus. Ia menghimpun bahannya dari mewawancarai Firdaus di penjara, sebagai psikiater — ia dokter lulusan Universitas Kairo.

 

Dokter penjara yang yang bersimpati pada nasib Firdaus mengurus permohonan grasinya kepada presiden. Ia hanya perlu menandatangani surat-surat yang sudah disiapkan oleh si dokter, untuk meminta perubahan hukuman mati menjadi penjara seumur hidup. Firdaus menolak. Ia menegaskan ia tak takut mati. Ia justeru gembira, katanya, karena akan pergi ke suatu tempat baru — yang berbeda dari tempat yang selama ini menyiksanya seumur hidup.

 

Bagi El Sadaawi, dengan penegasan itu Firdaus telah menang dan menjadi pionir tentang keberanian. Ia bukan hanya berhasil menjadi pengendali nasibnya sendiri — hal yang sepanjang hayat tak pernah ia dapatkan — dan membuktikan diri lebih berani dibanding para lelaki hipokrit yang selama ini sok pemberani dan sok kuasa dan gemar menguasai hidup Firdaus. Hal yang paling mereka takuti justeru dihadapi dengan berani oleh Firdaus: kematian.

 

***

 

Figur Firdaus, dengan segenap tragedinya, memenuhi tipe ideal El Sadaawi tentang ketertindasan dan kemalangan abadi bagi manusia yang kebetulan berjenis perempuan — semula dalam konteks Mesir, kemudian semakin ia sadari universalitasnya. Ia sendiri mulai menyadari hal ini sejak usia enam tahun, ketika ia harus dikhitan (suatu praktik yang kemudian ditentangnya habis-habisan dengan berbagai cara, dan baru dihapuskan di Mesir pada tahun 2008; setelah 92 persen perempuan usia 15-49 mengalaminya).

 

Kesadarannya tentang rendahnya nilai perempuan makin ia rasakan empat tahun kemudian, ketika ia dipaksa menikah dengan seorang pria tua. Ia menolak. Ia bersyukur ibunya mendukung penolakannya. Tapi ia sempat mendengar wejangan dan kemarahan neneknya, yang terus membekas sepanjang hidupnya: “Nilai seorang laki-laki sama dengan 15 perempuan… perempuan cuma hama.”

 

Sejak saat itu, sejak ia berusia 10, kemarahan membakar dirinya. Semangat juang demi martabat dan harga diri perempuan seakan memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya, tanpa ampun. “Biasanya, makin tua seseorang makin lunak,” katanya. “Untuk saya, makin bertambah usia, saya makin radikal, makin marah.” Ia merasa harus semakin agresif karena dunia pun dilihatnya makin agresif.

 

Mungkin ia mendapat inspirasi awal dari ayahnya, seorang pegawai kolonialis tapi menentang kekuasaan Inggris di Mesir dan Sudan, dan dibekukan karirnya selama 10 tahun sabagai hukuman. Ia anak kedua dari sembilan bersaudara; dengan ibu dari keluarga Ottoman yang kaya. Ia, dengan kulit gelap yang dibanggakannya, menyatakan keluarganya berdarah Turki.

 

Orang-orang yang mengunjunginya heran, katanya, mengapa ia tinggal di apartemen yang sangat sederhana, diukur dari kemashuran namanya di seluruh dunia. “Kalau Anda ingin berjuang, Anda tidak mungkin bisa melakukannya dengan hidup nyaman,” katanya.

 

Ia merasa rumahnya adalah seluruh dunia, dengan diterjemahkannya sebagian besar dari 55 bukunya ke dalam 40 bahasa.

 

Ia tak henti menulis. Ia terus meneriakkan hal yang sama selama 80 tahun penuh: perempuan harus menggenggam nasibnya sendiri; mereka harus berdaulat; nilai diri mereka tak kurang setetes pun dibanding laki-laki. Ia tahu budaya patriarki membelit seluruh dunia, tanpa kecuali — dengan belitan yang sangat kokoh. Karena itu ia harus, ia wajib, berteriak tanpa putus. Jika ia berkata-kata dengan datar, suaranya tidak akan terdengar.

 

Mendapat banyak penghargaan untuk perjuangan panjangnya, termasuk sebagai salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia versi majalah Time, ia tak bisa dilunakkan, tidak bisa dibujuk, tak mempan diancam. Ketika ia diungsikan ke Amerika karena diancam bunuh oleh kelompok radikal Islam Mesir, ia tetap menulis dan tak mengurangi kelantangan suaranya dari tempat pengungsian.

 

***

 

Kata-kata, menurutnya, bukan diungkapkan demi menyenangkan hati, bukan untuk menyembunyikan luka-luka di tubuh kita, atau untuk menutupi saat-saat memalukan dalam hidup kita. “Kata-kata mungkin memang menyakitkan, memberi kita rasa sakit,” katanya. “Tapi perkataan juga mampu mendorong kita untuk mempertanyakan apa yang sudah kita terima selama ribuan tahun.”

 

Ia mendirikan dan menjadi ketua Asosiasi Solidaritas Perempuan Arab, dan pendiri Asosiasi Arab untuk Hak-hak Azasi Manusia. Media menjulukinya “Simone de Beauvoir Arab”. Tentu saja ini karena perempuan Prancis yang menjadi ikon feminisme internasional itu — yang takluk pada misoginisme pacarnya, Jean Paul Satre — lahir lebih dulu. Seandainya mereka sejaman, lebih tepat disebut De Beauvoir adalah “Nawal El Sadaawi Eropa”. Medan juang dan risiko besar yang tiap menit dihadapi El Sadaawi jauh lebih berat di negeri seterbelakang Mesir.

 

Seberat apapun risiko itu, ia tak pernah surut mengungkapkan kebenaran. Sebab ia percaya: Tidak ada yang lebih berbahaya daripada kebenaran di sebuah dunia yang penuh dusta. Ia menetapkan hati untuk menghadirkan bahaya itu.

 

“Ketika suami kedua saya meminta saya memilih antara dirinya dan tulisan saya,” katanya, “saya menjawab: saya memilih tulisan saya. Lalu kami berpisah.” Yang ia maksud adalah Sherif Hatata, penulis mashur Mesir, yang menjadi suaminya selama 46 tahun (hingga 2010) dan memberinya seorang anak (suami pertama Ahmed Helmi juga memberinya seorang anak).

 

“Bila kau hidup di sebuah dunia yang sangat tak adil, kau harus jadi pembangkang,” katanya. Inilah yang pernah harus dibayarnya dengan penjara selama tiga bulan, selain dengan cercaan dan ancaman pembunuhan.

 

Ia punya definisi sendiri tentang kecantikan: “Bagi saya, ‘cantik’ berarti alamiah, kreatif, jujur — untuk menyatakan kebenaran.” Menurutnya, yang paling menyusahkan bagi seorang perempuan ialah jika ia cantik dan pintar. “Kalau kau cantik dan bodoh, hidupmu mudah,” katanya. Ini ia katakan dalam konteks hubungan dengan pria. Laki-laki suka pada kecantikan perempuan, tapi emoh pada kepintarannya, yang membuatnya mampu menyanggah. Perempuan ideal adalah perempuan cantik yang bodoh.

 

Ia terus menulis karena baginya memori, kenangan, tak pernah lengkap. Selalu ada bagian-bagiannya yang dihapus oleh waktu. Menulis adalah cara untuk melacak bagian-bagian yang hilang itu, katanya, untuk mengembalikannya ke tempat semula, untuk membuatnya lebih utuh.

 

“Semua orang akan mati, Firdaus,” katanya. “Aku akan mati, kau pun akan mati. Yang terpenting adalah bagaimana kau menjalani hidup ini, hingga tiba saat matimu.”

 

Empatpuluh enam tahun kemudian ia membuktikan ucapannya. Ia memejamkan matanya untuk terakhir kali, di Kairo, 21 Maret 2021.

 

Tapi siapapun yang membaca ucapannya pada Firdaus tahu: Nawal El Sadaawi telah memenuhi hari-harinya yang sangat panjang, hingga Minggu itu, dengan sepenuh-penuhnya. Ia tak sudi membiarkan sehari pun berlalu tanpa menggemakan suara Firdaus. ***



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved