Connect with us

Feature

Toleransi di Pulau Buru Kepri: Islam dan Konghucu Bahu Membahu Bersatu

Published

on


Pulau Buru merupakan pulau kecil yang terletak di Kepri (Kepulauan Riau), dekat dengan Batam. Jarak tempuh naik kapal ferri dari Batam ke Pulau Buru sekitar 3 jam. Tidak lantas sampai, perlu transit terlebih dahulu di Tanjung Balai Karimun. Dilanjutkan dengan naik kapal kecil menuju Pulau Buru. dibutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke pulau ini.

Ada sesuatu yang menarik ketika berbicara tentang daerah-daerah di Kepulauan Riau, salah satunya Pulau Buru. Penduduk Pulau Buru menganut dua agama, yaitu Islam dan Konghucu. Masyarakat yang beragama Islam di Pulau Buru menganut kebudayaan Melayu, sedangkan agama Konghucu masih tetap konsisten dengan kebudayaannya.

Dua agama ini bagaikan dua jendela yang saling berdampingan, dan dilestarikan sejak dulu oleh masyarakat terdahulu. Selama ini tidak pernah ada konflik atau bom bunuh diri yang menerpa. Semuanya terlihat aman, nyaman, tentram, dan damai. Mereka saling membutuhkan satu sama lain, masyarakat Islam membutuhkan orang-orang Konghucu karena mereka memiliki warung atau kedai yang menyedikan bahan pokok pangan sehari-hari.

Baca juga: Raja Aisyah binti Sulaiman Menunjukkan Fakta, Perempuan Bisa Jadi Apa Saja

Sedangkan orang-orang Konghucu membutuhkan muslim karena kepandaiannya membuat masakan. Sehingga tidak ada lagi sekat jasmani antar dua agama di Pulau Buru. Walaupun demikian, batin muslim di Pulau Buru tetap pada keyakinnya yaitu Iman dan Takwa kepada Allah Saw. Begitu pula orang-orang Konghucu, dalam beribadah mereka tidak pernah mengusik satu sama lain.

Kedua pemeluk agama tersebut bukan hanya memiliki persamaan dalam dunia perdagangan saja, namun juga berkebun, nelayan, serta berternak. Mereka saling bahu membahu membentuk rotasi kehidupan, tidak ada yang membuat keributan dengan mengatas namakan agama “Jihad Fi Sabilillah”. Guru-guru di sekolah pun tidak perlu bersusah payah memberikan pemahaman atau wawasan toleransi pada siswa siswi, karena mereka sudah menanamkannya.

Secara teori, sikap toleransi diartikan sebagai sikap saling menghargai setiap perbedaan, baik dalam bidang keagamaan, sosial, ekonomi, atau kebudayaan. Sikap toleransi tersebut sudah ditanamkan pada masyarakat Pulau Buru pada jenjang pendidikan. Mereka sudah terbiasa dalam menghargai dan menghormati antar perbedaan agama, ras, dan suku.

Baca juga: Hak Sipil Kaum Minoritas: Sebuah Renungan

Dengan hal ini, sikap toleransi merupakan etika menghormati berbagai perbedaan yang ada di dalam lingkungan sekitar. Dengan sikap toleransi, rasa kasih sayang dan saling membantu akan tumbuh antar sesama manusia. Walaupun adanya perbedaan ras, suku, agama, kulit, dan lain sebagainya. Seperti yang diterapkan di Pulau Buru ini, walaupun kecil tetapi jiwa akan menghargai setiap perbedaan mereka junjung tinggi. Karena mereka tahu, bahwa kenyamanan itu memiliki lingkungan yang damai. (AN)



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Feature

Ramadhan di Madinah: Wajib Vaksin dan Tarawih yang Dibatasi Waktunya

Published

on

By


Madinah adalah salah satu mahkota Islam yang bersinar sepanjang sejarah. Sejak dimulainya peradaban Islam, ia menjadi hulu dari aliran ilmu. Menjadi pangkal dari setiap gerakan. Dan simbol dari keragaman yang hidup dan terus berkembang dengan caranya yang khas.

Sejarah bergulir, begitu pun manusianya. Kepemimpinan berganti warna dari satu menuju lainnya, menjaga roda takdir yang telah Allah tetapkan jauh sebelum kesadaran menjadi sumber kehidupan. Hari ini Madinah dipayungi sebuah sistem kenegaraan yang berbentuk kerajaan sambil tetap memilih Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber dalam setiap pengelolaannya.

Madinah tetaplah Madinah, selalu meninggalkan kesan berbeda pada setiap mata yang menjejaknya. Bagi mahasiswa,  terkhusus mahasiswa indonesia, madinah terasa hampir seramah lingkungan rumah. Apalagi, ketika Bulan Ramadhan mulai masuk dan mengambil bagian.

Rasanya akan sangat aneh dan tak masuk akal jika ada yang kelaparan di kota ini selama bulan Ramadhan. Pasalnya, makanan, terlepas menu ataupun jenisnya, dibagikan hampir di setiap titik keramaian. Di tepi jalan, di gerbang depan masjid, di sekitar asrama, di pedestrian tempat orang ramai berlalu-lalang. Bahkan ada yang mengetuk pintu dari satu kamar ke kamar  lain hanya untuk membagikan makanan. Itu belum dihitung dengan masjid-masjid yang menyediakan hidangan berbuka, makan malam atau sahurnya.

Muhsinin (baca: para dermawan) yang gencar mengirim orang-orangnya untuk membagikan beras, minyak, gula  dan kebutuhan rumah tangga lainnya bagi mahasiswa, terutama yang telah berkeluarga, sangat mudah ditemui di banyak tempat. Ramadhan di Madinah, mungkin hampir sama dengan kota-kota berpenduduk mayoritas muslim lainnya di dunia, selalu punya cara untuk “mengenyangkan” lahir dan batin para penduduknya.

Namun tahun ini, sudah kali kedua euforia Ramadhan dibingkai dalam suasana pandemi covid-19 yang melanda dunia. Tak terkecuali Madinah. Dari sini, banyak hal-hal yang sebenarnya bisa diceritakan. Dan sebagai salah satu Lulusan Corona yang diwisuda lewat sebuah video singkat di media sosial, rasanya sangat disayangkan jika momen Ramadhan terakhir sebagai mahasiswa strata satu di kota cahaya ini hanya dibiarkan berlalu begitu saja. Tak perlu dibahas semuanya. Kita hanya akan memilih segelintir hal yang terasa cukup unik mengingat hal itu hanya terjadi baru-baru ini, sebagai sambutan untuk bulan suci dan pandemi yang datang bergandengan tangan dalam satu momen inti.

Vaksin

Salah satu hal yang membuat Ramadhan-pandemi tahun ini berbeda dengan sebelumnya adalah vaksin. Ya, mengingat sudah lebih dari satu tahun dan akhirnya vaksin sudah mulai dikembangkan dan kelihatannya juga sudah siap digunakan tahun ini. Saudi menjadi salah satu negara yang paling serius menyikapi vaksin dan pandemi. Karena, tentu saja, sebagai tuan rumah umat muslim dunia dalam ibadah haji dan umroh setiap tahunnya, pandemi di Kerajaan Alu Suud generasi ketiga ini menjadi sangat krusial untuk ditangani.

Hal yang menarik adalah, pada awalnya baik penduduk asli maupun pendatang di negeri ini, secara umum tak terlalu mengindahkan himbauan untuk mengambil vaksin. Hal ini terlihat dari data yang dilansir oleh laman ourworldindata.org, dimana jumlah vaksin yang diberikan dari 6 Januari 2021 hingga pertengahan bulan maret hanya mencapai 2.08 juta dosis dari keseluruhan populasi saudi yang saat ini menyentuh angka 35,2 juta jiwa. Namun, hanya dalam waktu kurang dari sebulan setelah itu, angka pemberian vaksin meningkat hingga menembus  7 juta dosis. Atau lebih dari dua kali lipat dari yang telah diberikan sebelumnya. Lantas apa yang membuat kami, para penduduk maupun ekspatriat, begitu semangat mengantri berjam-jam untuk mendapatkan vaksin? Saya pribadi sebagai mahasiswa hanya mampu memikirkan satu alasan utama. Haramain (dua kota Haram: Mekkah dan Madinah).

Seperti yang kita tahu, Ramadhan tahun ini dimulai pada pertengahan April. Dan gelombang keimanan umat berikut semangat ibadah mereka juga kian naik seiring mendekatnya bulan suci. Entah untuk shalat berjamaah di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, beriktikaf, atau berziarah dan umroh. Tak seperti tahun sebelumnya, yang bahkan Masjid Nabawi saja ditutup untuk umum pada bulan Ramadhan, tahun ini kedua situs suci dibuka oleh pihak kerajaan. Tapi, apa jadinya jika kesempatan yang terbuka dan semangat yang kuat ini tiba-tiba dihadapkan pada instruksi resmi kerajaan bahwa “Hanya mereka yang telah diberi vaksin yang diijinkan menginjakkan kaki di Masjid Nabawi ataupun Masjid al-Haram.” Alhasil, sekian juta orang dalam waktu singkat berbondong-bondong menyerbu aplikasi untuk mem-booking pemberian vaksin di setiap kota. Kami sendiri mahasiswa bahkan kesulitan untuk memesannya, karena durasi pemesanan hanya  dibuka beberapa menit dan akses yang selalu ramai oleh para pengguna. Bahkan di antara kami sampai ada yang membuka jasa pemesanan vaksin bagi orang-orang yang menyerah untuk bertarung sendiri lewat aplikasi.

Vaksin menjadi syarat mutlak untuk prosesi ibadah apapun di dua situs suci tahun ini. Belakangan beberapa pelayanan publik juga mulai mensyaratkan vaksin sebelum mengajukan aplikasi. Seperti pengurusan ijazah, atau imigrasi.

Tarawih

Sewaktu di Indonesia, saya dan beberapa remaja yang sebaya punya kebiasaan yang sudah dilestarikan oleh masing-masing keluarga secara turun-temurun: mencari masjid yang shalat tarawihnya paling cepat selesai. Tapi bahkan dengan kebiasaan seperti itu, kami tak pernah menemukan tarawih yang rakaat shalatnya kurang dari delapan (sebelas rakaat ditambah witir). Malah jika dibandingkan, kadang durasi waktu tarawih yang delapan rakaat bisa sama bahkan lebih lama dari yang dua puluh; karena pada akhirnya semua bergantung pada kecepatan dan panjangnya surat-surat al-Quran yang dibawakan imam shalat.

Ketika pertama kali datang ke negri para Anshar ini, kami menemukan hal yang sama seperti di rumah: rakaat tarawih yang delapan dan dua puluh. Yang berbeda adalah, tak ada faktor kecepatan dan panjangnya surat. Karena di Masjid Nabawi kami memulai tarawih sekitar jam sembilan malam dan baru selesai sekitar jam sebelas atau setengah dua belas malam.

Namun, pandemi ternyata membawa hikmah yang unik kali ini. Karena untuk pertama kalinya selama wabah Covid, masjid-masjid dibuka untuk melaksanakan tarawih berjamaah dengan catatan, tak boleh lebih dari satu jam terhitung sejak salat isya dimulai. Ketika membaca instruksi ini, saya dan beberapa teman yang punya pengalaman senada di Indonesia saling menatap dan cengar-cengir sendiri. Tak terbayang, akan seperti apa pendeknya durasi salat tarawih nanti.

Dan benar saja, untuk mematuhi perintah raja, ternyata masjid-masjid lokal melaksanakan tarawih dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda. Mulai dari dua, empat, enam, delapan dan sepuluh (semuanya ditambah witir tiga rakaat). Haram Nabawi dan Makki sendiri melaksanakan salat tarawih sepuluh rakaat, tiga belas dengan witir. Di antara mahasiswa ada yang sempat ragu dan heran dengan panduan atau dasar yang digunakan untuk menentukan jumlah rakaat tarawih yang tak biasa ini, tapi ide itu lantas hilang seiring berjalannya tarawih yang diikuti dari hari ke hari. Jika hal seperti ini terjadi di Indonesia, mungkin akan ramai dan jadi buah bibir banyak orang. Minimal orang-orang yang berbahagia dengan menghabiskan waktunya berselancar bebas di dunia digital.

Zamzam

Bagi yang pernah berumrah ataupun haji ke tanah suci mungkin sempat mengetahui tentang air Zamzam yang berlimpah di kedua masjid Nabi ini. Beberapa jamaah bahkan ada yang sengaja mandi dengan air Zamzam yang dikumpulkan dari masjid. Begitu pula di Masjid Nabawi, Zamzam yang dikirim ratusan ribu kubik setiap harinya dibagikan dalam dispenser yang berjejer rapih di sepanjang selasar masjid. Banyak mahasiswa yang mengisi Zamzam di penghujung hari untuk dikonsumsi pribadi.

Adapun sekarang, untuk mengurangi sentuhan dan kerumunan orang, air Zamzam dikemas oleh pihak pengelola dua masjid suci dalam bentuk botol-botol cantik berukuran 330 ml dan 200 ml. Dan sama seperti sebelumnya, air ini tidak untuk diperjualbelikan sama sekali. Bahkan tak bisa didapat di luar dua masjid utama. Zamzam inilah yang menjadi salah satu daya tarik Haramain sebulan terakhir. Mengingat kemasan edisi terbatas dan juga tak disediakan berlimpah, para jamaah semakin semangat mengumpulkan zamzam ini sepulang dari salat tarawih atau tahajudnya. Ada yang berencana dibagikan untuk keluarga saat pulang ke Indonesia, ada yang hanya menyimpannya untuk diminum saat dibutuhkan tapi sepertinya lebih banyak yang tertarik karena kemasan edisi terbatas yang belum tentu akan dikeluarkan lagi tahun depan.

Bulan yang mengambang di langit subuh ini mulai melengkung tajam. Sebagian besar tubuhnya sudah termakan bayangan gelap dan hanya menyisakan sedikit bidang yang bersinar pucat di tepiannya. Al-Qur’an menggambarkannya seperti pelepah kurma tua yang merunduk begitu rendah menunggu gugur ke atas tanah. Bulan ini sudah tua, tentu saja, karena lebih dari dua pertiga harinya telah berlalu bersama waktu. Menyisakan banyak pertanyaan tentang koreksi diri yang masih begitu jauh dari kata selesai.

Sudah berapa lama mata ini melembari ayat-ayat dalam Al-Qur’an? Sudah berapa kali suara ini merampungkan kitab-Nya? Adakah hikmah yang sudah ditangkap akal ini dari ayat-ayat-Nya sejak memulai tilawah dengan basmalah di hari pertama puasa? Berapa banyak perut lapar yang berhasil ditambal dengan amal kebaikan? Adakah nafsu ini semakin lunak seiring akhir dari bulan mulia yang kian mendekat? (AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Cerita Kebaikan yang Tidak Mengenal Agama dan Mereka yang Berjuang untuk Bertahan Selama Pandemi

Published

on

By


Perawakannya tidak tinggi, mungkin sekitar 160 cm. Sebut saja namanya Parmin, pria yang mengenakan setelah kaos warna kuning dan celana pendek dengan rambutnya yang sudah beruban namun tetap bugar ini, setiap harinya mangkal di depan stasiun Jombang, Jawa Timur. Ia dan beberapa tukang becak motor lainnya dengan setia menunggu calon, meskipun seringkali tidak ada yang memakai jasa mereka karena kondisi pandemi hingga saat ini.

Siang itu, saya turun dari kereta Yogyakarta-Jombang dan sedang menunggu bus jurusan Jombang-Tuban. Seorang Pria yang lebih muda, kira-kira usia 48 tahun yang juga berprofesi sebagai tukang becak motor mempersilahkan saya untuk menunggu bus sambil berteduh di tempat mangkal; di bawah pohon yang lumayan rindang. Cukup sejuk dan teduh untuk digunakan sebagai tempat mangkal sambil menunggu para penjaja jasa Becak Motor stasisun.

Saya pun akhirnya duduk di sebuah kursi persegi dengan ditemani pak Parmin. Melihat kondisi setahun terakhir dengan kondisi pandemi, saya pun penasaran terkait bagaimana pak Parmin dan kawan-kawannya, para tukang becak motor stasiun, ini mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, terutama di masa pandemi ini.

Dengan nada bicara yang sopan dan menggunakan bahasa Jawa yang halus (kromo) ia menceritakan bagaiaman upaya yang ia lakukan untuk survive selama masa pandemi sambil menunjukkan mimik wajah yang penuh dengan penerimaan atas segala yang terjadi di hidupnya. Kurang lebih, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Parmin mengatakan:

“Ya bagaimana lagi mas, kondisinya sudah seperti ini. Apalagi ada larangan mudik dari pemerintah yang tentu ini juga jelas membuat sepi penumpang. Orang belum ada pandemi saja, penumpang tidak banyak. Kalah sama ojek online. Apalagi ada pandemi, sepi. Belum lagi ada larangan mudik dari pemerintah. ‘Poko’e rasio dijagakno’ (pokoknya tidak bisa diharapkan). Padahal rame-ramenya penumpang tuh harusnya pada saat mudik lebaran.”

Satu hal yang lebih mencengangkan lagi ialah ketika tukang becak motor stasiun yang mengaku sudah berusia 70 tahunan ini mengatakan, bahwa sebenarnya dia dan kawan-kawannya mangkal setiap hari-tidak hanya di stasiun namun berpindah-pindah tergantung situasinya-bukan untuk mencari pelanggan yang bersedia menggguanakan jasanya. Namun, lebih pada mengaharapkan kebaikan orang-orang, khususnya saat bulan Ramadhan ini, yang membagikan sedekah; entah berupa makanan, sembako, ataupun uang.

“Seringnya di stasiun, mas. Tapi terkadang juga pindah-pindah ke tempat-tempat dekat sini yang biasanya ada orang-orang baik ngasih sedekah. Tapi yang seperti itu kan tidak bisa diharapkan juga. Kalau rejeki ya pasti ada jalannya. Cuman kita ini kan juga harus berusaha untuk menemukan jalannya. Intinya harus ‘nriman’, Mas,” tambahnya.

Miris memang ketika mendengarkan cerita demikian yang bisa jadi di luar sana juga banyak parmin-parmin lain yang menjalani kehidupan serupa di tengah kondisi pandemi ini. Apalagi, pak Parmin tentu tidak mencari penghasilan hanya untuk dirinya sendiri, namun ada istri, anak, dan cucunya di rumah yang menunggu hasil dari jerih payah pak Parmin selama seharian.

Lain halnya dengan yang dialami oleh Mukiyar, tetangga saya, seorang pemuda yang tinggal di pelosok desa daerah bantaran sungai Bengawan Solo (Plandirejo) yang masih dalam wilayah kadipaten Tuban. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, Ia tinggal di desa sebelah (Bandungrejo) bersama dengan istri dan mertuanya yang berprofesi sebagai seorang pedagang di pasar tradisional “Pasar Baru Tuban.” Pada saat Razia Covid-19, para pedagang di sana, termasuk mertuanya diminta untuk melakukan test swap di tempat. Singkat cerita, mertuanya dinyatakan positif Covid-19 setelah melakukan tes PCR yang momen tersebut bertepatan beberapa hari setelag hari raya Idul Fitri tahun lalu.

Mengingat Mukiyar tinggal bersama dengan mertuanya, dan pada saat lebaran dia telah berinterkasi dengan beberapa orang, termasuk orang tuanya sendiri. Akhirnya, setelah pemerintah desa mendengar bahwa mertua Mukiyar telah dibawa ke Rumah Sakit untuk menjalani isolasi, pemerintah desa melakukan pendekatan pada Mukiyar yang kebetulan dalam beberapa hari terakhir menginap di sana. Tujuannya tidak lain adalah agar ia dan keluarganya bersedia melakukan isolasi mandiri dan tidak berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Mukiar dan keluarnya pun menuruti saran dari pemerintah desa.

Dari sini lah kemudian cerita tentang orang-orang baik dimulai. Karena Mukiyar dan keluarganya sedang melakukan isolasi mandiri di rumah, tentu hal ini sangat membatasi ruang gerak mereka, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sekedar kebutuhan untuk masak. Namun, para tetangganya yang mengerti kondisi demikian secara suka rela dan secara bergantin memberi bantuan berupa sayuran dan bumbu masak yang setiap hari mereka taruh di teras rumah Mukiyar agar bisa digunakan untuk memasak oleh Mukiyar dan keluarganya.

Lebih dari itu, para tetangga dan pengurus desa juga menunjukkan empati mereka dengan menjenguk keluarga Mukiyar. Tentu, kisanak sekalian jangan membayangkan jika prosesi menjenguknya dengan masuk ke rumah dan berbincang santai menanyakan kabar ala menjenguk orang sakit pada umumnya. Bukan begitu!

Para tetangga yang menjenguk tetap mematuhi protokol Kesehatan. Mereka berdiri di depan/samping rumah dengan jarak kisaran 3 meter, sedangkan Mukiyar dan keluargnya berada di dalam dan berdiri di balik jendela. Melalui cara ini, para tetangga dapat berbincang dengan Mukiyar atau keluarganya, walau hanya sekedar menanyakan kabar dan mengajak ngobrol santai dan sesekali bercanda untuk menghilangkan kejenuhan Mukiyar dan keluarganya selama isolasi mandiri.

Kesadaran sebagai Sesama Manusia yang Ingin Dimanusiakan

Kondisi pandemi selama setahun terakhir ini memang memberikan dampak yang sangat terasa bagi banyak kalangan tanpa memandang strata sosial, profesi, apalagi identitas. Meskipun demikian, kondisi pandemi ini pula yang kemudian memotivasi dan memunculkan banyak orang baik yang peduli pada sesama dengan memberikan bantuan kepada orang-orang seperti pak Parmin dan Mukiyar.

Kita bisa menyaksikan di media sosial, banyak orang menggalang dana untuk membantu sesama baik berupa kebutuhan pokok, uang, bahkan smarthandphone kepada anak-anak sekolah dengan latar belakang ekonomi keluarga kurang mampu yang memang membutuhkannya agar tetap bisa mengikuti kegiatan belajar via daring.

Pun demikian, kedua kisah di atas menujukkan bahwasannya dalam kondisi sesulit apapun, selalu ada orang baik yang peduli kepada sesamanya. Memang sudah menjadi fitrah manusia jika rasa empati sebagaimana disampaikan oleh Cronbach (1995) merupakan sesuatu yang bersifat being, selalu menempel pada diri setiap manusia secara kodrati. Sedangkan, Carkhuff dalam bukunya yang berjudul Helping and Human Relations (1969) bahkan mengatakan, “without empathy there is no basis for helping” (tanpa empati, tidak ada alasan mendasar untuk menolong).

Secara khusus, bagi masyarakat pedesaan yang terbiasa dengan budaya gotong royong, apa yang mereka lakukan seperti yang terjadi pada cerita Mukiyar di atas, bisa jadi adalah hal yang biasa saja. Mereka hanya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sesuai dengan norma dan etika masyarakat pedesaan yang ketika tetangganya terkena musibah, mereka akan membantu sebisanya.

Hal ini berjalan begitu saja secara natural tanpa ada yang memberi komando atau perintah. Namun, di balik itu, masyarakat pedesaan tersebut pada dasarnya telah mengekspresikan apa yang disebut oleh Emile Durkheim sebagai sebuah “solidaritas mekanik”.

Solidaritas mekanik ini menurut Durkheim banyak muncul dari kalangan masyarakat pedesaan. Mereka memiliki solidaritas yang didasarkan oleh kesadaran kolektif yang didasari oleh berbagai kesamaan. Misalnya, tinggal di wilayah, profesi kerja, atau bahkan bisa jadi sistem kepercayaan yang sama yang mana tingkat individualismenya tergolong masih rendah. Mereka ini lebih mementingkan kepentingan bersama dibandingkan dengan kepentingan individu.

Maka tidak heran, ketika Mukiyar dan keluarganya sedang menjalani isolasi mandiri, para tetangganya adengan suka rela secara bergiliran memberi bantuan.

Terkait solidaritas mekanik yang muncul dari kesadaran kolektif dan berangkat dari sebuah kesamaan, saya kira kolektifitas itu tidak hanya dibatasi oleh kesamaan yang mendasarkan pada sudut pandang sempit saja; seperti kesamaan-kesamaan yang saya sebutkan sebelumnya. Lebih dari itu, saat ini banyak orang yang telah mempunyai kesadaran akan kesamaan dengan sudut pandang yang lebih luas, yakni kesamaan sebagai sesama manusia dan makhluk Tuhan yang mampir hidup di bumi.

Selain itu, tidak bisa dipungkiri juga bahwa konteks Parmin dan Mukiyar serta orang-orang di sekitarnya merupakan masyarakat Jawa yang memiliki konstruksi budaya dan etika Jawa. Hal tersebut tentu tidak bisa dinafikan pengaruhnya sehingga menjadi wajar jika mereka dengan sukarela memberi bantuan baik kepada Parmin atau Mukiyar. Franz Magnis Suseno, yang mengelaborasi pendapat Hildred Geertz, dalam bukunya, Etika Jawa (1996) mengatakan bahwa ada dua kaidah pokok etika Jawa dalam hal pergaulan masyarakatnya yakni, prinsip kerukunan dan hormat.

Pada kasus ini, prinsip pertama merupakan prinsip yang paling sesuai untuk melihat bagaimana prilaku saling tolong menolong di antara masyarakat kita, khususnya yang tinggal di pedesaan, bisa berjalan secara natural. Karena, pinsip tersebut menghendaki adanya sebuah hubungan harmonis dalam masyarakat yang sekaligus menuntut penghapusan kepentingan-kepentingan individu yang pada perkembangannya kemudian menghasilkan sebuah prilaku yang disebut dengan gotong royong.

Prilaku gotong royong ini lah yang menurut Koentjoroningrat dalam bukunya, Atlas Etnografi Sedunia: dan Pertjontohan Etnografi Sedunia (1969) memilik tiga nilai utama yang salah satunya adalah bersedia untuk saling membantu pada sesama. Aksi saling bantu sesama, termasuk yang terjadi dalam kasus parmin dan Mukiyar, jika dilihat dari kacamata Etika Jawa tentu akan menafikan adanya perbedaan-perbedaan yang ada pada setiap individu. Karena, etika sendiri menurut Suseno adalah “keseluruhan norma dan penilaian yang digunakan oleh masyarakat untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya” dan juga merupakan prinsip moral yang melampaui batas-batas perbedaan, termasuk agama (beyond religion).

Kembali soal kesadaran kolektif yang melihat orang lain sebagai sesama manusia yang ingin “dimanusiakan”, saya melihat bahwa kesadaran ini amat penting untuk dimiliki oleh setiap individu agar tindakan baik saling membantu sesama pun akan semakin meluas dan yang terpenting berjalan dengan natural. Dalam melewati masa pandemi ini jika setiap individu memiliki kesadaran tersebut, saya meyakini bahwa efek yang terjadi karena pandemi akan lebih mudah untuk dilalui bersama.

Pak Parmin dan teman-temannya sesama tukang becak motor akan dengan mudah menemukan orang-orang baik yang bersedia memberinya bantuan meskipun sebenarnya mereka bisa jadi juga terkena dampak pandemi; termasuk bantuan yang lebih bersifat memberdayakan, yakni menggunakan jasa becak motornya. Dengan itu, paling tidak beban Parmin dan kawan-kawan, Mukiyar dan keluarganya akan terasa lebih ringan dengan adanya ekspresi kebaikan-kebaikan yang tumbuh secara natural dari orang-orang di sekililingnya berdasarkan kesamaan sebagai sesama manusia.

Akhirnya, dalam hal saling berbuat baik pada sesama, jika kesadaran yang tertanam adalah kesadaran sebagai sesama manusia yang sama-sama ingin dimanusiakan, sekat-sekat yang bersifat sektoral, kultural, atau bahkan sekat keyakinan akan menjadi hal yang tidak penting lagi untuk dipersoalkan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Gus Dur “Tidak penting apa pun Agama atau Sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”

Saya sangat meyakini itu, dan saya yakin kisanak yang sedang membaca ini juga. Karena, anda apakah kisanak sekalian bisa membayangkan sroang Parmin saat akan diberi bantuan oleh orang yang tidak dikenal, ia akan bertanya lebih dahulu kepada si pemberi, “sampeyan muslim?



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Berkenalan dengan Mesaharati, Tradisi Panggilan Sahur Khas Timur Tengah

Published

on

By


Di Timur Tengah ada tradisi unik membangunkan sahur namanya mesaharti. Tradisi ini telah berlangsung semenjak dinasti Abbasyiyah beberapa abad lalu. Mesaharati  adalah tradisi panggilan sahur khas Timur Tengah yang umurnya berabad-abad.

Pada masa lalu Maseharati adalah adalah sebuah pekerjaan. Seorang maseharati akan membawa ‘Al Tabbeil’ atau drum dengan memanggil nama keluarga masing-masing ketika dirinya lewat. Mereka tidak menuntut pembayaran, tetapi orang biasanya akan diberi hadiah di akhir Ramadhan.

Maseharati sangat dikenal di Timur Tengah seperti Mesir, Yaman hingga Arab Saudi. Seorang ,esaharati akan tampil mengenakan kostum tradisional yang saat ini bersaing dengan  kemajuan dalam teknologi.

Mesaharati menggunakan berbagai metode untuk membangunkan orang. Mereka menyanyikan lagu-lagu tradisional seperti Ya Ebadallah, wahhidullah, eshi ya nayem, wahhid Al-Razzaq. Disebutkan bahwa Mesaharati mengadopsi berbagai metode untuk memanggil orang untuk sahur, telah menjadi ikon Ramadhan di banyak negara Arab selama berabad-abad.

Dalam Sejarahnya disebutkan bahwa pekerjaan mesaharati pertama kali muncul pada masa khalifah Abbasiyah tepatnya saat diperkenalkan oleh gubernur Mesir Otbat Bin Ishaq. Disebutkan dalam catatan sejarah seorang Maseharaty berada di jalanan Kairo untuk mengingatkan masyarakat tentang waktu sahur di tahun 238 Hijriyah.

Di seluruh dunia Islam, mesaharati telah mengambil bentuk yang berbeda selama bertahun-tahun. Di Oman seorang maseharati menabuh genderang untuk membangunkan orang-orang, di Kuwait para mesaharati berbaris di jalan-jalan ditemani oleh anak-anak yang membacakan doa. Di Yaman, orang-orang mengetuk pintu orang dengan tongkat dan menyuruh mereka bangun.

Di Sudan, seorang anak menemani mesaharati, membawa lentera atau kipas angin. Dia akan memiliki sebuah buku dengan nama penduduk dan akan mengetuk pintu dengan tongkatnya, memanggil nama kepala keluarga dan memberitahunya dengan mengiakan “Ya Ebadallah, Wahhiduddayem, Ramadhan kareem.”

Di Lebanon, Suriah dan Palestina, mesaharati menggunakan peluit untuk mengingatkan umat tentang waktu sahur. Sebelum Ramadhan, dia akan mengunjungi rumah-rumah untuk mendaftarkan nama-nama penghuni dan menulis di pintu nama-nama anggota keluarga serta memanggil nama mereka pada saat sahur. Mesaharati  adalah tradisi panggilan sahur khas Timur Tengah yang umurnya berabad-abad dan saat ini dihdupkan kembali (Dari berbagai sumber)



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved