Connect with us

Budaya

Munggahan, Simbol Kebahagiaan Umat Islam Kabupaten Tegal dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Published

on


مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

“Barang siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah SWT akan mengharamkan jasadnya ke neraka.”

Barangkali hadits di atas yang termaktub dalam kitab Durrotun Nasihīn, “sohifah” tujuh, baris ke tiga dari bawah, buah karya dari Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khaubawi (w. 1224 M) begitu sangat relevan untuk menjawab tudingan bahwa tradisi munggahan tidak ada dalilnya, seperti yang kerap kali dilontarkan oleh anggota Jamiyyah Kamidalilen (JKD), sebuah kelompok yang kerap kali menanyakan “mana dalilnya?” untuk berbagai macam ibadah umat Islam, baik yang bersifat mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh selama ini.

Secara “lughowi”, “munggahan” berasal dari kata “munggah” (bahasa Jawa) yang berarti naik, sedangkan secara “istilahi”, “munggahan” dapat diartikan sebagai tradisi atau ritus sosial umat Islam Jawa dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang diisi dengan acara selametan atau kendurian, baik di masjid, mushola, atau di rumah-rumah warga sebagai simbol kebahagiaan serta kesiapan lahir batin umat Islam Jawa dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, agar derajatnya “munggah” hingga memperoleh predikat “muttaqīn”

Selain sebagai simbol kebahagiaan dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, tradisi munggahan juga dapat dijadikan sebagai media untuk bersedekah serta untuk mempererat tali silaturahmi antar umat Islam. Hal ini sesuai dengan anjuran ingkang jumeneng Nabi Muhammad saw. kepada umatnya agar senantiasa bersedekah kepada tetangga di sekitarnya. Sebagaimana hadits yang termaktub dalam kitab Sohih Muslim

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِـيْرَانَكَ

“Jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR. Muslim, no. 4758).

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Nyaris tidak ada literartur yang menjelaskan kapan pastinya tahun pertama kali disyiarkannya tradisi munggahan di pulau Jawa. Namun demikian, jika dikaji dengan pendekatan histori-etnografi, besar kemungkinan ritus atau tradisi munggahan tersebut sudah ada sejak abad ke-16 Masehi, atau tepatnya sejak berdirinya kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Gusti Sinuhun Panembahan Senapati Danang Sutawijaya (w. 1601 M).

Panembahan Senapati Danang Sutawijaya  yang mendapat lencana “senapati ing ngalaga” cum “satria kang pinunjung” — juga para Walisanga, serta raja-raja Mataram yang lain tentunya— dalam sejarahnya memang begitu terampil dalam memadupadankan antara tradisi dan inti ajaran agama Islam (manunggaling tradisi lan agami) sebagai salah satu metode dakwah penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Seperti tradisi-tradisi lainnya yang membersamai perjalanan umat Islam Jawa hingga dekade kedua abad XXI sekarang ini.

Semisal tradisi kenduri nisfu sya’ban yang diperingati setiap malam 15 bulan Sya’ban yang dibersamai dengan pembacaan surah Yasin dan juga do’a nisfu sya’ban dengan suguhan nasi tumpeng, sayur santan dan juga aneka rempah-rempahan yang merupakan simbol dari pengharapan umat Islam Jawa kepada Allah SWT agar segala amal ibadah mereka selama satu tahun menjadi catatan amal yang salih dan diterima oleh Allah SWT.

Selain tradisi kenduri nisfu’ sya’ban juga ada tradisi grebek maulid yang diperingati setiap tanggal 12 bulan Robiulawal yang merupakan simbol rasa syukur atas lahirnya ingkang jumeneng Nabi Muhammad saw, yang dikembangakan dan dilestarikan oleh kasultanan Mataram Islam hingga generasi penerusnya yaitu kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, serta tradisi-tradisi keislaman lainnya yang berjumlah ratusan tradisi yang tetap lestari hingga saat ini.

Umumnya tradisi munggahan digelar mulai dari H-7 hingga H-1 Ramadhan. Seperti yang tercermin dari tradisi munggahan yang dilakukan oleh masyarakat Islam Kabupaten Tegal yang notabene dulu adalah salah satu kadipaten  —sebelum ahirnya terpecah menjadi dua kadipaten, yaitu kadipaten Brebes yang dipimpin oleh Arya Suralaya (w. 1683 M), dan juga kadipaten Tegal yang dipimpin oleh Tumenggung Sindurejo Pranantaka (w. 1679 M) — yang berada di bawah otoritas kekuasaan kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinan susuhanan Amangkurat I yang mempunyai nama asli Raden Mas Sayidin (w. 1677 M).

Umumnya masyarakat Islam Kabupaten Tegal membagi tradisi munggahan dalam dua bentuk tatanan atau sistem. Ada yang melaksanakannya dengan menggunakan  sistem kendurian di mushola atau masjid, dan ada juga yang menggunakan sistem slametan “door to door” atau dari pintu ke pintu rumah warga secara bergantian.

Sistem munggahan dengan kendurian di masjid atau mushola misalnya, hal ini dapat kita jumpai di masjid atau mushola di berbagai desa di kabupaten Tegal, tak terkecuali di mushola Al Kamal, yang terletak di desa Kalimati yang masuk dalam wilayah administratif kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal.

Biasanya masyarakat di lingkungan mushola Al Kamal menggelar tradisi munggahan setelah mereka melaksanakan sholat isya. Sebagai simbol sedekah, umumnya masyarakat membawa nasi ponggol yang kemudian dikumpulkan di mushola yang nantinya dido’akan dan kemudian dimakan secara bersama-sama.

Makan bersama di mushola juga merupakan bagian penting dari tradisi munggahan, yang merupakan salah satu inti dari ajaran agama Islam, yaitu silaturahmi antar sesama manusia (hablum minannās).

Untuk tradisi munggahan dengan cara “door to door”, dapat kita jumpai di tengah-tengah masyarakat dukuh Jatiragas, desa Wringinjenggot, — desa yang pernah dijadikan titik pertapaan ki Gede Sebayu  (w. 1620 M) — kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.

Biasanya masyarakat dukuh Jatiragas menggelar munggahan setelah mereka melaksanakan sholat maghrib, dengan terbagi menjadi beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari sepuluh hingga lima belas kepala keluarga (KK). Walaupun terbagi atas beberapa kelompok, namun masyarakat Jatiragas tetap guyub dan rukun, serta antusias dalam merawat tradisi warisan kerajaan Mataram Islam yang usianya sudah mencapai ratusan tahun tersebut.

Berbeda dengan munggahan dengan sistem kendurian di mushola, munggahan dengan sistem “door to door” ini terbilang singkat dan padat —untuk tidak menyebut “gelisan” — karena tradisi munggahan ini hanya berlangsung paling lama 15 menit untuk satu kali tarikan munggahan di rumah sohibul munggahan. Karena isi acara munggahan ini hanya pembacaan tawassul untuk ahli kubur sohibul munggahan yang kemudian ditutup dengan do’a, serta dilanjutkan dengan pembagian berkat munggahan. Dengan demikian semalam bisa empat sampai lima rumah yang saling bergiliran menggelar tradisi munggahan.

Ada pun isi berkat munggahan ini bermacam-macam, mulai dari nasi putih, lauk pauk, buah-buahan hingga kue cukit yang disiram dengan kuah gula merah. Dalam culture masyarakat dukuh Jatiragas, kue ini juga menjadi nama lain untuk tradisi munggahan, yaitu dengan penyebutan tradisi “cukitan”.

Kue cukit yang rasanya asam dapat diartikan sebagai simbol perjalan asamnya kehidupan manusia sebelum datangnya bulan Ramadhan. Kemudian siraman kuah gula merah dapat diartikan sebagai siraman nikmat serta pahala yang dapat dipanen selama bulan Ramadhan (baca: manunggaling tradisi lan agami).

Hal ini sesuai dengan apa yang pernah diungkapan oleh Abu Bakr Al-Balkhi yang termaktub dalam kitab Lathā’iful al-Ma’arīf halaman 234 baris ke sebelas, buah karya dari Zainudin Abi Faraj Abdurrahman rohimahullāh

شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman.”

Dengan ikut melaksanakan tradisi munggahan itu artinya kita sudah ikut andil dalam menjaga, merawat, serta melestarikan tradisi warisan leluhur kita yang usianya sudah mencapai ratusan tahun tersebut.

Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan, dan umur yang panjang, hingga bisa melalui bulan Ramadhan 1442 Hijriyah ini, serta mendapat lencana “muttaqīn” dari Allah SWT. Amin ….



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Tradisi Ramadan di Gresik Cermin Perkembangan Islam Diterima Masyarakat

Published

on

By



Sejarawan yang juga Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (PP Lesbumi NU), KH Agus Sunyoto, mengatakan dalam bulan Ramadhan di Indonesia dikenal dengan banyak tradisi yang sifatnya berlatar keagamaan yang dimulai pada 21 Ramadan.

Sebelum tanggal tersebut, hampir tidak ada kemeriahan Ramadhan yang bersifat tradisi. “Tetapi ketika mencapai tanggal 21, sudah mulai bermunculan tradisi yang dilakukan sejak zaman Walisongo. Contoh tradisi di Gresik ada malam selikur atau malam ke-21. Orang-orang bikin lampion-lampoion atau damar kurung sepanjang jalan ke makam Sunan Giri,” katanya saat mengisi Pesantren Ramadhan yang digelar virtual oleh Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Kamis (15/4).

Kiai Agus mengatakan, orang biasanya mengenal lampion-lampion sebagai bagian dari tradisi bangsa Tiongkok. Adanya pemasangan lampion ini bukan saja untuk kegiatan ziarah. Tetapi, juga saat khataman Al-Qur’an dan lainnya. Karena, sejak zaman dulu dilakukan bangsa Tiongkok yang beragama Islam.

Selain itu, kata dia, pada malam ke-23 ada tradisi kolak ayam. Ayam dimasak dengan santan, kemudian dicampur dengan daun bawang dan gula merah. Setelah itu, masakan dibagikan. Penyelenggara meminta santri untuk membagikan, kadang jumlahnya mencapai 2000 untuk berbuka puasa.

Ada lagi pada malam ke-25 atau selawe, yakni tradisi di daerah Giri. Tradisi ini dimulai untuk menghormati Raden Ali Murtadho, kakak dari Sunan Ampel. Saat pelaksanaan tradisi ini, orang beramai-ramai datang. Sampai tiba puncaknya ada peringatan pasar bandeng. Peringatan ini seperti lomba siapa yang bisa menyajikan bandeng yang terbesar, akan keluar sebagai pemenang.

Hasil dari pemeliharaan bandeng yang mencapai berat 12-15 kilogram itu dilelang. Orang berebut untuk membeli bandeng terbesar, sebagai penghargaan dengan membeli harga yang sangat tinggi. “Ini ada kaitannya dengan produk mayoritas di Gresik itu petambak,” kata penulis Atlas Walisongo ini.

Dia menceritakan, peringatan itu terjadi kerena adanya rangkaian pengembangan Islam di Giri. Berdasarkan Babad Gresik, pada saat Sunan Giri kedua yakni Zaenal Abidin atau Sunan Dalem menggantikan ayahnya, Giri diserang Adipati Raden Pramana, dengan membawa ribuan pasukan bergerak dari pedalaman ke Gresik untuk menyerang Giri. Semua penduduk melarikan diri karena ketakutan. Namun ada pasukan yang membela Sunan Giri, jumlahnya 40-an, dipimpin Panjilaras dan Panjiliris. Keempatpuluh orang itu adalah orang-orang China Muslim yang bersenjatakan bedil. Mereka menghadang pasukan Sengguru di daerah Lamongan.

“Tetapi mereka tetap kalah jumlah kemudian mundur lalu mengungsikan Sunan Giri 2 ke pedalaman, daerah Kidang Palih. Merasakan bahwa desa tersebut kehadiran Sunan Giri, penduduk dengan seadanya memberikan sambutan hidangan yang bisa dimakan oleh Sunan Giri dan pengawal-pengawalnya. Mereka rata-rata membawa ayam dan kemudian gula Jawa dan kelapa kemudian yang dimasak menjadi kolak ayam,” tutur Kiai Agus Sunyoto.

Tradisi yang dilakukan pada 23 Ramadan setiap tahun ini tidak banyak diketahui, sebagai salah satu tradisi islamisasi, betapa dulu menyebarkan Islam tidakla mudah. Demikian juga peringtan malam ke-25 Ramadan, sejatinya untuk memperingati Raden Ali Murtadho, seorang pejabat pertama Majapahit yang keduduknnya sebagai raja Pandita, atau hakim tinggi merangkap urusan Islam.

“Ini tradisi yang menandakan Islam masuk di Indonesia kemudian diterima masyarakat,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Kiai Agus Sunyoto mengatakan puasa Ramadhan adalah kesempatan bagi umat Islam untuk berjuang meraih Adam makrifat tepat saat tibanya Hari Raya Idul Fitri. Hal itu didasarkan pada puasa Ramadhan yang biasa dilakukan pelaku tasawuf.

Sejak awal puasa Ramadan, para ahli tasawuf sudah sudah menetapkan puasa mengikuti sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah, yakni saat berbuka cukup dengan tiga biji kurma dan segelas air.

Namun tidak semua orang berhasil meraih Adam makrifat terlebih masyarakat sekarang yang untuk berbuka puasa menyiapkan berbagai makanan bahkan saat acara buka bersama.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Agus Sunyoto: Puasa Ramadan Sarana Mencapai Adam Makrifat

Published

on

By



Sejarawan Agus Sunyoto mengatakan puasa Ramadhan adalah kesempatan bagi umat Islam untuk berjuang meraih Adam makrifat tepat saat tibanya Hari Raya Idul Fitri. Hal itu didasarkan pada puasa Ramadan yang biasa dilakukan pelaku tasawuf. Sejak awal puasa Ramadan, para ahli tasawuf sudah sudah menetapkan puasa mengikuti sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah, yakni saat berbuka cukup dengan tiga biji kurma dan segelas air.

“Para salik mengamalkan itu. Tidak di masyarakat sekarang (yang menyiapkan buka puasa) aneka macam makanan, kue-kue apa saja bahkan berlebihan, seperti balas dendam karena sehari nggak makan,” kata H Agus Sunyoto saat mengisi Pesantren Ramadan yang digelar virtual oleh Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Kamis(15/4).

Karena memakan tiga biji kurma dan segelas air, pada hari pertama, kedua dan seterusnya, membuat orang yang berpuasa di hari ketujuh merasa lemah pada bagian kaki, bahkan seperti lumpuh terutama di bagian lutut belakang. Kemudian pada menjelang hari keempat belas, punggung merasa seperti lumpuh.

“Ketika masuk hari ke-21 kesadaran indrawi mulai lemah, karena kesadaran pancaindra dari makanan. Makin mengurangi makan, kesadaran pancaindra menurun. Dimulai malam ke-18 atau 19, orang akan seperti melihat sesuatu yang abstrak, seolah-olah itu hal yang benar, ada bayangan-bayangan kelihatannya bukan hal yang sebenarnya, seperti ilusi. Itu kondisi pancaindra kita turun masuk malam ke-20 melihat sesuatu di balik fakta-fakta yang tidak dapat ditangkap oleh matahati,” beber penulis buku Atlas Walisongo.

Karena itu, jangan heran pada malam ke-21 orang yang sudah melaksananan cara puasa Rasulullah dapat melihat yang gaib. Termasuk malam lailatul kodar, tidak dengan mata indrawi. Puncakya pelaku puasa akan mencapai Idul Fitri, kembali kepada fitah. “Kenapa disebut kembali ke fitrah, dalam tasawuf adalah manusia sebagai keturuan adam kembali ke fitrah adam yang sejati yang pertama kali diciptakan Allah, yang disebut fitrah Adam makrifat,” terangnya.

Adam makrifat, kembali pada situasi ketika Nabi Adam mampu berbicara dengan malaikat, berkomunikasi dengan Allah SWT, dan melihat alam gaib. Allah SWT memberikan perintah langsung kepada Adam, termasuk jangan mendekati pohon khuldi, karena akan menjadi orang yang terhijab.

“Ternyata karena desakan nafsu, pohon itu tidak sekadar didekati tapi dimakan oleh Adam. Sejak itu Nabi Adam jatuh langsung terhijab tidak lagi berkomunikasi dengan Allah SWT, tidak melihat alam gaib di mana ada malaikat. Adam lalu beristighar menyesali apa yang dilakukan,” kata Ketua Lesbumi PBNU. Puasa dengan meniru Rasulullah, adalah cara yang diberikan kepada keturuan Nabi Adam untuk mencapai kembali Adam makrifat, mencapai kembali kepada Allah.

“Maka berpuasa kuncinya di situ, betapa sulitnya karena desakan-desakan nafsu dunia sehingga tradisi ini hanya dilakukan segelintir pesuluk, yang lain sudah tradisi buka bersama dan makan yang enak-enak,” ujarnya. “Sekarang kita sulit menemukan orang yang berusaha mencapai itu, karena berpikirnya materialis, tertutup oleh materi,” imbuh Agus Sunyoto.

Sebelumnya Kiai Agus Sunyoto juga mengatakan dalam bulan Ramadan di Indonesia, terutama setelah hari ke-21, dikenal penuh tradisi yang sifatnya berlatar keagamaan, dan ini suduah berlangsung selama ratusan tahun. Pada awal-awal har Ramadhan, hampir tidak ada ritual yang sifatnya tradisi, karena orang lebih sibuk melakukan amaliah puasa. Tradisi yang baru muncul adalah peringatan Nuzulul Quran, tetapi ketika mencapai tanggal 21, sudah mulai bermunculan sejak zaman Walisongo. Salah satu contohnya adalah malam selikuran, atau malam ke-21. Umat Islam membuat lampion atau damar kurung yang dipasang sepanjang jalan ke makam Sunan Giri. Orang menganggap lampion adalah tradisi China. Padahal, ini tradisi warga China Islam.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Ini Penjelasan Habib Agil Munawar Tentang Ayat Kewajiban Puasa

Published

on

By



Di dalam Al-Quran, terdapat 13 kali istilah puasa dengan beragam bentuk disebutkan. Istilah tersebut ditemukan di dalam 11 ayat yang tersebar di dalam 6 surah di dalam Al-Quran. Beberapa menggunakan kata shiyam, shaum, kata kerja (fi’il) seperti wa antashumu, kalimat perintah yakni fal yashumu, dan juga menyebut pelakunya yakni ash-shoimin dan ash-shoimaat.

Di dalam surah Al-Baqarah ditemukan di beberapa ayat. Di antaranya pada ayat 183, 184, 185, 187, dan 197. Di surah An-Nisa terdapat pada ayat 92. Al-Maidah (89 dan 95), Maryam (26), dan terdapat pula dalam surah Al-Mujadilah ayat 3.

Pakar Tafsir Al-Quran Habib Said Agil Husin Al Munawar mengatakan bahwa tidak semua ayat-ayat yang disebutkan itu bercerita tentang puasa dalam bulan Ramadhan, tetapi menjelaskan tentang puasa dalam segala konteksnya.

Namun menurutnya, ayat 183 surah Al-Baqarah yang menjadi landasan untuk berpuasa di bulan Ramadhan sangat memiliki pesan yang mendalam. Jika ayat tersebut dibedah dengan ilmu Al-Quran, katanya, bahkan juga dengan kaidah-kaidah penafsiran (qawaiduttafsir) maka akan didapati banyak pelajaran yang luar biasa.

“Allah memulai firmannya dengan Ya Ayyuhalladzina aamanuu. Di dalam ilmu Al-Quran, khususnya dalam ilmu qawaiduttafsir, kalimat itu disebut dengan istilah mukhatabat yakni arah perintah, arah larangan, dan arah dari firman Allah,” tutur Menteri Agama pada Kabinet Gotong-Royong periode 2001-2004 itu.

Ayat 183 dalam surah Al-Baqarah itu, Allah memulai firman-Nya dengan panggilan kehormatan, kedekatan, keistimewaan, kebesaran, dan keagungan kepada orang-orang yang beriman. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan sejati, murni, dan mandarah daging di dalam tubuhnya.

“Bukan iman yang hanya stempel saja, tidak demikian. Maka dari itu perintah yang Allah akan wajibkan itu didasari oleh keimanan seperti itu (sejati, murni, mandarah daging),” jelasnya dalam Pesantren Ramadhan Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Selasa (13/4) siang.

“Lalu, kutiba alaikumusshiyam. Diwajibkan atas kamu berpuasa. Kalau orang-orang pondok, kutiba itu mabni li majhul, bukan mabni lil ma’lub, diwajibkan atas kamu. Orang-orang beriman yang diwajibkan puasa. Siapa yang mewajibkan? Jawabnya tidak lain, yang mewajibkan itu adalah yang memanggil kita dengan panggilan kehormatan, kedekatan, keakraban,” imbuh Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Dari situlah, kewajiban yang diperintahkan oleh Allah disebut dengan istilah puasa yakni menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual pada waktu tertentu. Dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Jika seseorang yang menjalankan ibadah puasa berangkat dari keimanan yang murni dan sejati, maka selama perjalanan melaksanakan puasa tidak akan pernah merasakan lapar dan haus sebagaimana pada hari-hari sebelum Ramadhan.

“Biasanya, habis shalat subuh saja kita sudah merasa lapar dan langsung mencari sarapan. Tapi selama pelaksanaan ibadha puasa, kita tidak merasakan itu sama sekali,” terangnya.

Di samping itu, Allah menjelaskan bahwa puasa bukanlah ibadah yang baru melainkan sudah ada sejak dulu. Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah dalam ayat 183 surah Al-Baqarah, kamaa kutiba alalladzina min qablikum.

“Hanya tata cara puasa saja yang berbeda. Ada yang puasa, dia tidak makan daging atau yang sifatnya hewan-hewan yang berdarah. Ada yang berpuasa untuk langsing tubuhnya. Ada juga yang berpuasa semata-mata untuk kesehatan saja. Ada lagi yang berpuasa, dan bahkan sampai menjahit mulutnya untuk tidak berbicara dalam rangka menuntut sesuatu. Ini ragam dari ibadah puasa,” jelas Habib Said.

“Pertanyannya, ibadah puasa yang bagaimana yang Allah wajibkan kepada kita? Tentu ibadah puasa yang diniatkan hanya kepada Allah. Apa tujuan ibadah puasa? Tujuannya, la allakum tataqum, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Itulah jaminan dari Allah,” lanjutnya.

Orang-orang bertakwa itu adalah mereka yang memiliki kepekaan sosial. Hal ini sebagaimana penjelasan Allah dalam surat Ali Imran ayat 134. Orang-orang yang bertakwa itu adalah mereka yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah serta memaafkan kesalahan orang lain. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Dalam surat An-Nahl ayat 128 disebutkan bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Selain itu, dijelaskan pula bahwa orang yang bertakwa juga adalah orang yang diberikan wawasan oleh Allah, sebuah kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan salah.

“Hati nuraninya selalu memberikan pencerahan kepadanya, di samping Allah akan menghapuskan dosa dan kesalahannya,” jelas Habib Said.

Di ayat yang lain juga disebutkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang selalu mendapatkan kemudahan dalam segala urusan. Orang-orang yang selalu mendapatkan jalan keluar atau solusi dari berbagai permasalahan dan kesulitan yang dihadapi.

Kemudian, orang yang bertakwa adalah orang yang selalu mendapatkan karunia Allah dari jalan yang tidak terhingga, yang tidak terlintaskan sedikit pun di dalam hati dan sanubari. “Orang yang bertakwa juga adalah orang yang apabila dia melakukan kesalahan, langsung dia ucapkan astaghfirullah,” pungkasnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved