Merebahkan Tiang Ayu, Pertanda Berakhirnya Erau : Tradisi – Bagyanews.com
Connect with us

Indonesia Kaya

Merebahkan Tiang Ayu, Pertanda Berakhirnya Erau : Tradisi

Published

on

Merebahkan Tiang Ayu, Pertanda Berakhirnya Erau


Merebahkan tiang ayu merupakan prosesi sakral terakhir yang menandai berakhirnya perhelatan tahunan Erau. Pada prosesi ini, pusaka Sangkoh Piatu (Tiang Ayu) yang selama tujuh hari dan tujuh malam didirikan di tengah Ruang Stinggil (Siti Hinggil), Keraton Kutai, kembali direbahkan pada posisinya semula.

Ritual merebahkan tiang ayu diselenggarakan saat matahari mulai meninggi di ufuk timur, sekitar jam 10 pagi. Menjelang upacara, para pangkon laki (abdi dalem pria) dan pangkon bini (abdi dalem wanita) mulai duduk berjajar di sayap kanan dan sayap kiri Ruang Stinggil. Di tengah ruangan, Sultan dan para kerabat kesultanan berjajar menghadap ke Sangkoh Piatu. Dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) duduk di sisi kanan dan kiri dari susunan tambak karang yang dilapisi selembar kasur kuning, tempat pembaringan Sangkoh Piatu.

Setelah Sultan hadir di ruangan, prosesi pun dimulai. Empat orang kerabat Kesultanan berjajar di sisi Sangkoh Piatu. Selanjutnya, Sangkoh Piatu digoyangkan sebanyak tiga kali, seperti menggoyangkan batang pohon untuk menumbangkannya. Setelah itu, barulah Sangkoh Piatu direbahkan di atas kasur.

Setelah Sangkoh Piatu rebah, dewa melaksanakan ritual tepong tawar di sekeliling Sangkoh Piatu. Kemudian, dewa melakukan besawai dan membawa tepong tawar ke hadapan Sultan. Selanjutnya, dilakukan ritual tepong tawar kepada Sultan.

Pada ritual tersebut, air tepong tawar diusapkan pada punggung tangan, dahi, kepala, lutut, dan betis Sultan. Sultan kemudian mengusapkan air kembang ke kedua kelopak matanya, menyapu wajah dan kepalanya. Ritual yang sama dilakukan kepada Putra Mahkota, kerabat-kerabat Kesultanan, serta tamu kehormatan. Ritual ini secara simbolis menutup perayaan Erau tahun tersebut.

Selepas prosesi merebahkan tiang ayu, segenap kerabat Kesultanan, dewa, belian, serta para pangkon memberikan selamat dan sembah hormat kepada Sultan dan Putra Mahkota atas terlaksananya Erau. Perayaan ritual berusia sekitar 700 tahun ini pun berakhir dengan rasa syukur ke hadirat Sang Pencipta. [Ardee/IndonesiaKaya]



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved