Connect with us

Kalam

Jika Waktu Sholat Tiba, Tinggalkanlah Urusan Dunia!

Published

on



loading…

Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. Demikian firman Allah dalam Surah An-Nisa’ Ayat 103. Jika waktu sholat tiba maka tinggalkanlah urusan dunia.

Diriwayatkan bahwa siapa yang memelihara sholat fardhu 5 waktu dan menyempurnakannya, maka sholatnya akan datang dalam keadaan putih berseri-seri. Ia (sholat) berkata: “Semoga Allah memeliharamu sebagaimana engkau memeliharaku.”

Baca Juga: Jangan Lewat di Depan Orang yang Sholat, Ini Ancamannya

Dalam Kitab An-Nashoihud Diniyah karya ulama besar Yaman Al-Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad (wafat 1132 H/1712 Masehi) disebutkan, orang yang tidak menyempurnakan sholat, maka sholatnya keluar dalam keadaan hitam kelam. Ia (sholat) akan berkata: “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau menyia-nyiakanku.”

Kemudian sholat itu dilipat seperti baju usang yang dilipat, lalu dipukulkan ke wajahnya. Dalam hadits disebutkan: ‘Sesungguhnya sholat itu merupakan ketenangan, sikap tunduk dan sikap khusyu’.

Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat seorang lelaki yang sedang sholat mempermainkan jenggotnya, beliau berkata: “Andaikata hati orang ini khusyu’ niscaya anggota-anggota tubuhnya juga khusyu’.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabuut: 45)

Di ayat lain, Allah berfirman:



Berita Selengkapnya

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalam

Agar Sholat Tarawih Terasa Mudah dan Banjir Pahala

Published

on

By



loading…

Di malam-malam Ramadhan ini, melaksanakan sholat tarawih sangat dianjurkan dan akan mendapat banyak pahala . Nah muslimah, agar sholat tarawih ini terasa mudah ada beberapa tips yang bisa kita lakukan.

Ustadz Yulian Purnama memberikan tips agar sholat tarwih terasa mudah dan mendapat banjir pahala. Berikut tipsnya:

1. Niat shalat tarawih itu cukup di hati. Niat itu sangat mudah, tidak ada lafal niat khusus yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ataupun para sahabat.

Baca juga: Tidur Qailullah, Sunnah Rasulullah yang Banyak Manfaatnya

2. Shalat tarawih tidak memiliki batasan rakaat tertentu. Mayoritas shalat tarawih dan shalat malam Nabi adalah 11 rakaat (8 rakaat + 3 witir), namun boleh lebih dari itu. Dan boleh juga kurang dari 11 rakaat, karena tidak ada batasan tertentu.

3. Shalat tarawih itu lebih utama dikerjakan secara berjama’ah, namun boleh juga dikerjakan sendirian. Boleh menambah shalat malam sendirian setelah tarawih dan witir berjamaah.

4. Shalat tarawih boleh dikerjakan setelah isya langsung, boleh ada jeda dulu, dan boleh diakhirkan hingga tengah malam atau akhir malam.

5. Shalat tarawih lebih utama dikerjakan dua rakaat salam. Namun boleh juga dikerjakan empat rakaat satu salam.

Baca juga: Mengajak Anak Berlatih dan Belajar Puasa

6. Shalat witir lebih utama dikerjakan dua rakaat salam, lalu satu rakaat. Namun boleh juga dikerjakan tiga rakaat satu salam.

7. Dianjurkan membaca surat yang panjang ketika tarawih, namun tidak harus. Bacalah surat-surat yang sesuai kemampuan.

8. Bagi yang hafalannya sedikit, boleh membaca surat yang sama diulang pada rakaat yang berbeda.

9. Yang tidak punya hafalan sama sekali kecuali Al Fatihah, maka boleh membaca dari mushaf.

10. Anak laki-laki yang sudah mumayyiz boleh menjadi imam dari orang tuanya

Baca juga: Jangan Diabaikan, Ini Adab Orang Tua Terhadap Anak

11. Tidak ada bacaan khusus di antara shalat tarawih ataupun setelahnya, yang dibaca bersama-sama, ini adalah perkara yang diada-adakan.

12. Tidak ada bacaan khusus setelah shalat witir yang dibaca bersama-sama, ini adalah perkara yang diada-adakan. Terdapat doa setelah witir yang shahih dari Nabi, namun hukum membacanya sunnah (tidak wajib), dan dibaca sendiri-sendiri.

13. Ceramah tarawih bukan bagian dari shalat tarawih, dan memang tidak ada perintah ataupun anjurannya. Jadi tidak mengapa jika tidak ada.

14. Tidak perlu membaca niat puasa bersama-sama setelah shalat witir, karena ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ataupun para sahabat. Dan niat itu sangat mudah, cukup di hati tidak perlu dilafalkan.



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Kalam

Ramadhan Ini, Masjid Pertama RI Berdiri di Kanada

Published

on

By



loading…

TORONTO Faisal Nasution
Kontributor KORAN SINDO
Toronto, Kanada

Masyarakat muslim Indonesia di Kanada sedang berupaya mendirikan masjid dan gedung pusat keislaman yang juga tempat mengenalkan budaya Indonesia. Saat ini proses akuisisi gedung yang akan diberi nama Istiqlal Islamic Center of Toronto (IICT) itu sedang berlangsung dan Insya Allah akan direalisasikan Ramadhan ini.

Ketua Dewan IICT Subhan Bushar mengatakan, proses akuisisi gedung bekas gereja itu sudah berjalan lebih dari sekitar 60% dan panitia sudah menerima donasi dari masyarakat muslim di Kanada dan Amerika Utara maupun Tanah Air sekitar Rp4 miliar. Adapun dana yang dibutuhkan lagi sekitar Rp3 miliar.

“Harga bangunan itu kalau dirupiahkan sekitar Rp7 miliar dan harus dibayarkan paling lama 29 April 2021 nanti, atau 17 Ramadhan 1442 Hijriah. Kita berharap dukungan para donatur memaksimalkan keberkahan bulan suci Ramadhan menyisihkan rezekinya untuk melengkapi kekurangan dana itu,” katanya di Toronto, Kanada, kemarin.

Dukungan dari pemerintah Indonesia, terutama Presiden Joko Widodo juga sangat diharapkan di samping bank-bank syariah untuk mewujudkan masjid Indonesia pertama di Kanada itu. IICT nantinya akan menjadi salah satu ujung tombak mengenalkan syiar Islam Indonesia yang dikenal di seantero dunia sebagai umat yang menjunjung tinggi ketertiban, ramah dan gemar menolong.

Di pusat keislaman ini juga akan dijadikan tempat pendidikan yang dilengkapi dengan perpustakaan, kegiatan pemberdayaan ekonomi umat, dan berbagai pelatihan. “Tentunya bahasa pengantarnya adalah Bahasa Indonesia agar anak-anak Indonesia di sini yang merupakan generasi kedua dan ketiga tetap fasih menggunakan bahasa ibunya,” tambah dia.

Pria yang merupakan ahli perminyakan itu mengungkapkan, nama Istiqlal dipilih karena mengingatkan dengan masjid agung di Indonesia. Selain itu, hanya Indonesia yang menjadikan Istiqlal menjadi nama masjid.

Masjid yang memiliki dua lantai ini bisa menampung 200 orang jamaah. Lantai satu yaitu hall akan dijadikan tempat sholat dan lantai dasar menjadi tempat serbaguna, yakni belajar mengaji, kegiatan sosial dan budaya.

Setelah menjadi pusat keislaman nanti, bangunan eks gereja ini juga tidak akan banyak diubah karena sudah sesuai dengan bentuk yang dibutuhkan, seperti fasilitas kantor, perpustakaan dan dapur. Bentuk bangunan di luar juga akan dibiarkan sebagaimana bentuk aslinya sesuai dengan zoning worship place.

“Kita sangat bersyukur karena setelah kita lakukan pengungkuran, gedung ini tepat mengarah ke Kakbah sehingga kita tidak perlu mengubah arah tempat sholat dan tempat imam ke kiblat. Tinggal menggelar karpet saja,” imbuhnya pula.

Subhan mengungkapkan, keberadaan masjid komunitas Indonesia menjadi cita-cita masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Islam Indonesia Toronto (MIIT) yang digulirkan 35 tahun lalu itu. Proses panjang dan berbagai kendala dihadapi, mulai masalah dana hingga internal membuat proyek ini beberapa kali terhenti. Barulah pada 2020 pengurus MIIT bergerak lagi dan menjajaki beberapa tempat yang akan dijadikan masjid.

Sebenarnya pencarian diarahkan ke Kota Mississauga karena paling banyak masyarakat muslim Indonesia berdiam di kota yang masuk dalam Great Toronto Area (GTA). Namun, dari berbagai tempat yang didatangi, dipilihlah bangunan eks United Church of Canada itu yang berada di Kota Georgetown, sekitar 30 menit dari Mississauga.

Dalam penawaran pertama Desember tahun lalu IICT kalah kerena harga yang diajukan lebih rendah dari pihak lain. Lalu mereka cari gedung komersial lain dan kembali kalah saat penawaran. Tanpa diduga, akhir Februari lalu, pihak agen bangunan eks gereja itu menghubungi kembali dan menanyakan apakah IICT masih berminat.

“Langsung kita adakan pembicaraan dan Alhamdulillah ternyata mereka menurunkan harga cukup besar karena tahu kita akan menjadikan gedung itu sebagai tempat ibadah pula. Canada Church juga menyetujui dan mendukung upaya kita,” tutur dia.

Sementara itu, Ustaz Adi Hidayat mendukung inisiasi pendirian masjid pertama di Kanada itu. Dia mengajak umat Islam berlomba untuk berpartisipasi menanamkan saham terbaik jariahnya.

“Sehingga saat hisab nanti ada suara-suara dari belahan dunia lain yang menyebutkan kita punya amal soleh di dalamnya. Jika kita bisa memberikan Rp30.000 dengan 100.000 orang, tercukupilah pelunasan masjid itu,” katanya dalam video yang di-share-nya di Youtube, beberapa hari lalu.

Baca Juga: Masjid Sheikh Zayed Solo Replika di Abu Dhabi Mulai Dibangun

(rhs)



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Kalam

Al-Quran Menghargai Bahasa dan Keragamannya

Published

on

By



loading…

DALAM Buku Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, M Quraish Shihab menulis bahwa Al-Quran menegaskan dalam surat Al-Rum (30) :

“Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, adalah penciptaan langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu, dan warna kulitmu …”

Baca juga: Wawasan Kebangsaan Dalam Al-Quran (3): Pengelompokan Berdasarkan Keturunan

Al-Quran demikian menghargai bahasa dan keragamannya, bahkan mengakui penggunaan bahasa lisan yang beragam.

Perlu ditandaskan bahwa dalam konteks pembicaraan tentang paham kebangsaan, Al-Quran amat menghargai bahasa, sampai-sampai seperti yang disabdakan Nabi SAW:

Al-Quran diturunkan dalam tujuh bahasa (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad dengan riwayat yang berbeda-beda tetapi dengan makna yang sama).

Pengertian “tujuh bahasa” antara lain adalah, tujuh dialek. Menurut sekian keterangan, ayat-ayat Al-Quran diturunkan dengan dialek suku Quraisy, tetapi dialek ini –ketika Al-Quran turun– belum populer untuk seluruh anggota masyarakat. Sehingga apabila ada yang mengeluh tentang sulitnya pengucapan atau pengertian makna kata yang digunakan oleh ayat tertentu, Allah menurunkan wahyu lagi yang berbeda kata-katanya agar menjadi mudah dibaca dan dimengerti. Sebagai contoh dalam Al-Quran surat Al-Dukhan (44): 43-44 yang berbunyi, “Inna syajarat al-zaqqum tha’amul atsim, pernah diturunkan dengan mengganti kata atsim dengan fajir, kemudian turun lagi dengan kata al-laim. Setelah bahasa suku Quraisy populer di kalangan seluruh masyarakat, maka atas inisiatif Utsman bin Affan (khalifah ketiga) bacaan disatukan kembali sebagaimana tercantum dalam mushaf yang dibaca dewasa ini.

Baca juga: Wawasan Kebangsaan Dalam Al-Quran (2): Persatuan Bukan Penyatuan

Pengertian lain dari hadis tersebut adalah Al-Quran menggunakan kosa kata dari tujuh (baca: banyak) bahasa, seperti bahasa Romawi, Persia, dan Ibrani, misalnya kata-kata: zamharir, sijjil, qirthas, kafur, dan lain-lain.

Menurut Quraish untuk menghargai perbedaan bahasa dan dialek, Nabi SAW tidak jarang menggunakan dialek mitra bicaranya. Semua itu menunjukkan betapa Al-Quran dan Nabi SAW sangat menghargai keragaman bahasa dan dialek.

“Bukankah seperti yang dikemukakan tadi, Allah menjadikan keragaman itu bukti keesaan dan kemahakuasaan-Nya?” tutur Quraish.

Nah, bagaimana kaitan bahasa dan kebangsaan? Tadi telah dikemukakan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir berkaitan dengan Salman, Bilal, dan Suhaib.

Pada hakikatnya, bahasa memang bukan digunakan sekadar untuk menyampaikan tujuan pembicaraan dan yang diucapkan oleh lidah. Bukankah sering seseorang berbicara dengan dirinya sendiri? Bukankah ada pula yang berpikir dengan suara keras. Kalimat-kalimat yang dipikirkan dan didendangkan itu merupakan upaya menyatakan pikiran dan perasaan seseorang? Di sini bahasa merupakan jembatan penyalur perasaan dan pikiran.

Karena itu pula kesatuan bahasa mendukung kesatuan pikiran. Masyarakat yang memelihara bahasanya dapat memeliara identitasnya, sekaligus menjadi bukti keberadaannya. Itulah sebabnya mengapa para penjajah sering berusaha menghapus bahasa anak negeri yang dijajahnya dengan bahasa sang penjajah.

Baca juga: Wawasan Kebangsaan Dalam Al-Quran (1): Apakah Sya’b, Qaum, atau Ummah?

Al-Quran menuntut setiap pembicara agar hanya mengucapkan hal yang diyakini, dirasakan, serta sesuai dengan kenyataan. Karena itu, tidak jarang Kitab Suci ini menggunakan kata qala atau yaqulu (dia berkata, dalam arti meyakini), seperti misalnya dalam surat Al-Baqarah (2): 116:

Mereka berkata, “Allah mengambil anak”. Mahasuci Allah, dengan arti mereka meyakini bahwa Allah mempunyai anak.

Salah satu sifat Ibadur Rahman (hamba-hamba Allah yang baik) yang dijelaskan dalam surat Al-Furqan (25): 65 adalah:

Mereka yang berkata, “Jauhkanlah siksa jahanam dari kami”. Sesungguhnya azab-Nya adalah kebinasaan yang kekal



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved