Connect with us

Kilas Balik

Agama dan Wabah: Belajar dari Kasus Dinasti Umayyah dan Abbasiyah

Published

on


Dalam survey terakhir PEW yang melakukan riset skala global di tahun 2020 lalu, Indonesia dan negara dengan penduduk mayoritas muslim selalu menempati peringkat teratas sebagai bangsa paling relijius. Lebih spesifiknya, sebagian besar responden menempatkan agama sebagai aspek terpenting dalam hidup. Korelasi antara iman kepada Tuhan dengan nilai moralitas dianggap sejalan dan beriringan.

Dengan landasan ini, jika kausalitas keduanya tak cacat atau bahkan saling mempengaruhi, agama seyogyanya bisa mendorong negeri-negeri muslim menjadi negara maju, baik dari segi ekonomi, sosial, sains, dan bidang lainnya. Namun nyatanya, agama justru lebih sering dijadikan tameng untuk kepentingan pihak tertentu dan bahkan kerap dipolitisasi untuk mempertahankan kekuasaan.

Bahkan ketika pandemi corona berlangsung, diskursus agama masih saja terseret dalam politisasi wabah yang mengakibatkan banyak nyawa melayang karena keteledoran kalangan elit dan pengambil kebijakan. Derasnya klaim konspirasi di kalangan umat beragama yang dibarengi dengan keengganan pemerintah untuk menganggap serius isu wabah sejatinya berakar kuat dari krisis dunia islam dalam menghadapi dinamika zaman. Sempat mengalami era keemasan di abad ke-8 hingga ke-11, yang mana umat muslim berhasil menciptakan berbagai inovasi di banyak cabang ilmu, kemerosotan umat semakin menjadi-jadi ketika lingkaran relasi antara penguasa, militer, dan ulama menguat sejak awal abad ke-13.

Dulu ulama dan ilmuwan bekerja secara independen tanpa ditunggangi kepentingan penguasa. Kemerdekaan gagasan dan perbedaan pandangan tidak pernah dipersoalkan karena berefek positif terhadap pengembangan ilmu. Tidak hanya di bidang pengetahuan saja yang terus maju, perniagaan dan industri juga meningkat pesat. Namun, rupanya konflik kekuasaan jauh lebih marak terjadi dalam periode selanjutnya. Salah satu contohnya diperlihatkan di masa Khalifah al-Mu’tadhid (Dinasti Abbasiyah) yang bergejolak dengan Dinasti Umayyah. Tak hanya bertikai dengan kekerasan, al-Mu’tadhid juga sengaja melakukan politisasi ayat dan hadist untuk melindungi kepentingan pribadinya.

Merujuk pada tesis Ahmet T. Kuru melalui karyanya yang berjudul Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan Ekonomi (2019), bahkan sebelum Abbasiyah, ekspansi kuasa Dinasti Umayyah yang membabi buta melalui jalur kekerasan kemudian membentuk tradisi penaklukan militer menjadi lebih populer dalam upaya mempertahankan jabatan politik. Kondisi tersebut mau tak mau berdampak negatif pada perekonomian dunia muslim saat itu. Mayoritas ulama yang juga berprofesi sebagai pedagang dibuat kalang kabut. Pemasukan mereka pun kian tak stabil. Hal ini juga secara tidak langsung mempengaruhi kerja-kerja ilmiah mereka. Pusat pendidikan tak luput dimanfaatkan untuk memperkuat legitimasi pimpinan wilayah. Ironisnya, budaya tersebut masih bertahan hingga sekarang. Bedanya ada pada isu dan dinamika kondisi masyarakatnya.

Seperti kini, ketika virus corona merebak ke seluruh penjuru dunia, termasuk di negeri berpenduduk mayoritas muslim. Politisasi agama masih saja terjadi. Tak tanggung-tanggung, propagandanya dihubungkan dengan isu ras, serta sosial ekonomi sekaligus. Di Indonesia ajang perebutan kuasa politik menuju 2024 sudah mulai dibuka ketika corona menyerang, dari tarik ulur kebijakan hingga cara komunikasi pemerintah pusat dan daerah yang tidak sinkron menjadi pertanda bahwa bukan kesejahteraan warga yang utama, tapi justru jabatan dan reputasi elit yang dipuja-puja. Bagaimana tidak, kemampuan mengelola krisis kepala daerah selama wabah dinilai bisa menjadi insentif elektoral tinggi. Tak heran, jumlah testing Indonesia tidak semasif negara-negara padat penduduk lainnya. Selain dikarenakan oleh fasilitas yang belum memadai, keinginan pejabat publik agar kasus di daerahnya terlihat rendah, ditengarai sebagai pemicu mengapa pandemi tak kunjung usai.

Di sisi lain, agama juga kerap ditumbalkan untuk menutupi kebingungan pemerintah dalam mencari solusi. Salah satu pejabat yang mengentengkan bahaya corona bahkan dengan santai menyampaikan bahwa kita tidak perlu khawatir lantaran umat muslim sudah sering berwudhu. Padahal pernyataannya tadi hanyalah indikasi bahwa problem solving skill-nya di bidang kesehatan publik ada di bawah rata-rata.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di Saudi yang pemerintahannya bercorak otoriter, narasi solusi wabah dengan cara isolasi ala Nabi malah dikembangkan melalui kebijakan diskriminatif terhadap wilayah yang mayoritas dihuni oleh komunitas syiah di provinsi timur. Di saat yang sama, adanya wabah kemudian memperkuat legitimasi kuasa pemerintah Saudi untuk menutup jalur diplomasi kelompok Syiah ke luar negeri.

Tak hanya itu, selain memanfaatkan peluang untuk memperkuat otoritas di dalam negeri, Arab Saudi dan negara-negara timur tengah lainnya seperti Mesir dan UEA, yang dibantu China, memanfaatkan kelemahan pemerintah negeri-negeri barat dalam menangani pandemi sebagai dalil bahwa sistem autokrat jauh lebih efektif mengatasi wabah dibandingkan demokrasi. Mereka bahkan tak segan-segan menjadikan pandemi sebagai alasan untuk menerapkan strategi represif ke masyarakatnya sendiri. Harapannya, ketika monitoring publik dijalankan, mereka akan jauh lebih mudah mendeteksi riak-riak penghambat proses pelanggengan kekuasaan yang sekarang mereka miliki.

Dengan tingkat literasi dan kesadaran sains yang rendah di kalangan umat, politisasi pandemi seperti tadi acap kali tak terlalu mengusik publik. Alih-alih menjadi waspada, banyak umat islam malah jauh lebih fokus pada teori-teori konspirasi berbalut isu agama yang menyebar luas melalui media sosial. Makanya tak heran jika umat kita pun akhirnya dengan mudah terninabobokkan hanya dengan anjuran untuk selalu mengambil hikmah, terus bersyukur, dan berdoa.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kilas Balik

Penghargaan Al-Ghazali yang “Dicuri” – Kilas Balik

Published

on

By



Ivan Patrovich Pavlov, seorang dokter juga fisiolog asal Rusia yang pada awal abad 20 menggegerkan dunia. Ia menemukan teori yang dalam psikologi modern disebut: Classical Conditioning atau Pengondisian Klasik.

Classical Condotioning ialah keadaan di mana stimulus (rangsangan) buatan mampu menimbulkan respons sebagaimana stimulus alami. Ini bisa terjadi dengan mengumpulkan dua stimulus (alami dan buatan) secara terus menerus, yang pada akhirnya manusia akan merspons stimulus buatan tersebut selayaknya stimulus alami.

Sebenarnya Pavlov menemukan teori ini secara tak sengaja. Ia awalnya hanya hendak meneliti stimulus pada air liur anjing. Anjing akan memproduksi air liur ketika ada stimulus alami berupa rasa lapar. Pavlov pun penasaran, apakah memang benar hanya stimulus alami yang mendorong produksi air liur pada anjing.

Pavlov kemudian melakukan pengujian dengan membiarkan seekor anjing kelaparan lalu bersamaan dengan itu, ia membunyikan metronom (semacam alat pengatur tempo musik). Ia melakukannya terus menerus selama beberapa hari. Setelah dirasa cukup, Pavlov memberi makan anjing itu hingga kenyang. Pavlov kemudian membunyikan metronom tersebut. Mendengar itu, anjing pun secara respons memproduksi air liur. Stimulus buatan yang ditemukannya, mampu menciptakan respons sebagaimana stimulus alami. Atas temuanya itu, ia diganjar hadiah paling bergengsi dalam dunia ilmu pengetahuan (Nobel tahun 1904) (1).

Setelah Pavlov, temuan itu mengalami pengembangan-pengembangan. Di antaranya penelitian oleh Watson dan Rayner pada tahun 1920. Mereka berdua ingin memastikan apakah teori ini juga bisa dialami oleh manusia. Obvervasi ini mereka lakukan kepada seorang bayi. Penelitian kontroversial ini mereka lakukan dengan cara mencari sesuatu yang ditakuti bayi tersebut, kemudian mengalihkan ketakutan tersebut pada hal lain. Pada era sekarang, Classical Condotioning digunakan sebagai terapi terhadap pengidap phobia.

Akan tetapi, Pavlov sebenarnya bukan orang pertama yang menemukanya. Al-Ghazali lah, orang yang menemukannya kira-kira 800 tahun sebelum Pavlov lahir.

Dalam Al-Mustashfa, Al Ghazali memaparkan kelemahan-kelemahan diri manusia. Sehingga ia tak akan mampu menjangkau hakikat kebaikan dan keburukan. Salah satu kelemahanya adalah apa yang beliau sebut: سَبْقُ الْوَهْمِ إلَى الْعَكْسِ.

Beliau memaparkan bahwa anggapan manusia terhadap suatu hal, begitu dipengaruhi oleh prasangka-prasangka yang ada di dalam dirinya. Manusia akan terseret menganggap suatu hal berdasarkan sebuah keidentikkan. Padahal keindentikkan tak akan pernah menjadi kepastian akan hakikat suatu hal. Prasangka yang terbentuk dari pergumulannya dengan kehidupan, akan menutupinya dari penilaian atas suatu hal. Walaupun akal tak membenarkan penilaian tersebut.

Semisal, diri manusia akan mersepons tali-tali beraneka warna yang dilihatnya dengan menjauhinya. Sebab, bayangan pertama yang muncul dalam dirinya adalah ular-ular yang membahayakan dirinya. Begitupun diri manusia akan menolak bermalam disamping jasad tak bernyawa, padahal nyata-nyata ia tak lagi bergerak dan berbicara. Begitu rapuhnya diri manusia sehingga ia tak objektif menilai hakikat suatu hal (2).

Fakta penting ini, diungkap pada tahun 1971 oleh sarjana Muslim, Doktor Faiz al-Hajj dalam tesisnya yang berjudul : “Nadzhariyyah sabq al-wahmi ila ‘aksi ‘inda al-ghazali, ma’a muuqoronatin ‘ilmiyatin li araa’i al-falsafati al-mutaqaddimin wa an-nadzariyyat al-isyrotiyyah al-iqtironiyah al-haditsah”. Dalam tesis yang mengantarkanya meraih gelar doktoral tersebut, Dr. Faiz berkonklusi bahwa al-Ghazali telah mendahului Pavlov dalam penemuan atas Classical Condotioning(3). Sehingga al-Ghazali lah sebenarnya peraih nobel pada tahun 1904.

Fakta di atas semakin menegaskan bahwa al-Ghazali berpengaruh besar pada perkembangan pemikiran-pemikiran modern. Sebagaimana pernyataan orientalis Ernesto Renan (1822-18920), bahwa pemikiran al-Ghazali mewarnai pemikiran-pemikiran Barat pada abad pencerahan. Buktinya ialah pengaruh terhadap filsuf Prancis, Rene Decartes (1596-1650) pada pernyataaan terkenalnya : “Aku berpikir, maka aku ada”. Hal ini secara jelas ditulis al-Ghazali dalam Al-Munqidz min Adz-Dzalal bahwa beliau menyandarkan pencarian atas kebenaran dengan dasar keraguan (4).

Waba’du. Pada akhirnya, penjabaran di atas tersebut pada skala luas, semakin membuktikan bahwa turats para cendekiawan Muslim memberikan sumbangan yang besar pada pemikiran-pemikiran modern. Dan hendaknya, para pendaku kemodernan yang sebelah mata dalam memandang pesantren–sebagai basis pendidikan turats–hendaknya menundukkan kepala mereka yang terlanjur mendongak ke langit. Sedang dalam skala kecil, juga semakin membuktikan pernyataan beberapa pakar bahwa: Hujjatul Islam al-Ghazali adalah penakluk Timur dan Barat.

Referensi :
(1) Rohmah. Noer. Psikologi Pendidikan. 80-81 (Jogja: Penerbit Teras)
(2) Al Ghazali. Abu Hamid. Al Mustashfa. 79 (Beirut : Dar Al Kotob Al Ilmiyah)
(3) Al Buthiy. Muhammad Said Ramadhan. Min Al Qolbi wa Al Fikri. 33 (Damaskus : Dar Al Faqiih)
(4) Muqoddimah Al Munqidz min Adz-Dzalal dalam Majmu’ Rasaail Al Imam Ghozali. 9 ( Beirut : Dar Al Kotob Al Ilmiyah)

 



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Pesantren dan Kurikulum Madrasah Diniyah

Published

on

By


Secara harfiyah, madrasah bermakna tempat belajar alias sekolahan sedangkan diniyah bermakna keagamaan. Maka, frasa madrasah diniyah adalah sekolah keagamaan. Belakangan, terutama karena kedua kata tersebut diderivasi dari bahasa Arab—yang mana Islam berasal dari sana, makna madrasah mengalami penyempitan. Tanpa menyebut kata diniyah, madrasah berarti tempat belajar yang identik dan hanya mengurus pendidikan keagamaan. 

Jadi, apa maksud “diniyah” jika disandingkan dengan kata “madrasah”, menjadi “madrasah diniyah”? Bukankah dalam madrasah sudah terkandung makna diniyah? Dan jika ia betul ada, seperti apa prototipe kurikulumnya?

Dalam Islam, model pendidikan yang tersistem dan terlembagakan sudah muncul sejak dulu. Salah satunya adalah Madrasah Nidhomiyah era Al-Ghazali di Baghdad. Lebih jauh lagi, kita bisa mengacu kepada Universitas Al-Azhar di Kairo sebagai universitas pertama di muka bumi. Tapi, seperti apa kurikulum dan visi-misi kedua lembaga pendidikan itu pada awal mula didirikan? Kita harus tahu.

Terkait definisi ini, kita membedakan antara ilmu agama dengan ilmu non-agama. Kategorisasi pun bermunculan. Dari salah satu lektur pesantren, kita juga mengenal pemilahan disiplin ilmu yang sangat simpel, misalnya tauhid untuk keimanan; fikih untuk amal keseharian; kesehatan/pengobatan untuk kebutuhan jasmani agar bisa tetap belajar. Nah, apakah kesehatan/pengobatan—yang notabene ‘dinaturalisasi’ menjadi kedokteran itu—merupakan ilmu keagamaan alias diniyah? Jika kita telah bisa menjawab pertanyaan ini, maka pertanyaan tingkat lanjutnya adalah; seperti apakah kira-kira kurikulum ilmu-ilmu keislaman ideal yang mestinya diajarkan di madrasah-madrasah sebagaimana ia diterapkan oleh kaum salaf hingga ulama-ulama abad pertengahan yang melahirkan pada penemu, ilmuwan, mujaddid, hingga pakar-pakar yang polymath dan polyglot?

Dalam kata pengantar untuk buku Alwi Shihab, “Islam Inklusif”, Gus Dur menyatakan, bahwa Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi mengusulkan jawaban (untuk pertanyaan di atas) dalam wujud karya bertajuk kitab “Itmam ad-Dirayah” (li Qurra’ An-Nuqayah). Kitab tersebut merupakan anotasi atas kitab “Annuqayah” yang juga ditulis sendiri oleh As-Suyuthi. Adapun isinya mencakup 14 disiplin ilmu, yaitu: 1. Ushuluddin, 2. Tafsir, 3. Hadis, 4. Ushul Fikih, 5. Faraid, 6. Nahwu, 7. Tashrif, 8. Khath, 9. Ma’ani, 10. Bayan, 11. Badi’ (nomor 6-11 berkaitan dengan sintaksis, kaligrafi, dan gaya bahasa), 12. Tasyrih (anatomi), 13. Thib (pengobatan/kedokteran), dan 14. Tasawuf. Kitab ini sangat kecil, ringkas, hanya sejenis modul atau buku pengantar saja dan mungkin karena itulah ia jarang diperbincangkan. 

Saat ini, di banyak pesantren, kurikulum pendidikan menjadi masalah yang tidak kelar-kelar dibahas. Apabila ada pembahasan terkait kurikulum, maka pembahasan tersebut tak jauh dari pembahasan seputar mengganti mata pelajaran A dengan pelajaran B, atau mencarikan guru pengganti di bidang tertentu dengan guru yang lebih berkompeten di bidang itu. Beberapa pesantren modern membuat kurikulum sendiri, tidak berafiliasi pada Kemenag dan/atau Kemendiknas. Harapan dari itu adalah agar materi pelajaran yang diajarkan benar-benar sesuai dengan visi-misi pondok pesantrennya. Mereka membuat dan mengajukan muadalah (penyetaraan), tapi itupun harus berjibaku dengan persoalan berat nan rumit, yaitu legalisasi, sebab jika tidak sesuai dengan “kurikulum resmi”, pemerintah tidak akan melegalisasi, tidak  memberikan izin mengeluarkan ijazah. 

Belum selesai yang satu, masalah berikutnya muncul lagi: sebagian orang masih menganggap ijazah seperti itu sebagai ijazah yang “tidak-begitu-resmi”, misalnya karena hanya dapat digunakan untuk masuk ke perguruan tinggi atau sekolah tingkat lanjut, tapi tidak dapat digunakan secara bebas sebagai syarat lamaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar/umum, dan ini prinsip bagi kebanyakan orang. Sementara pondok salaf—yang tidak menerbitkan ijazah muadalah; sebagian lagi bahkan tidak menerapkan sistem kelas, melainkan masih model bandongan/sorogan yang pada hari ini jumlahnya dapat dihitung dengan jari—lebih leluasa menentukan kurikulumnya.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada umumnya, pondok pesantren yang lembaga pendidikan umum/formalnya berafiliasi kepada Kemenag, yang meskipun materi pelajarannya sudah dijatah oleh Negara, masih merancang tambahan mata pelajaran khusus, seperti nahwu, sarraf, arudl, dll. Materi pelajaran ke-tata-bahasa-araban seperti ini tidak terdapat pada kurikulum umum. Dengan demikian, jatah belajar santri harus dibebani oleh muatan dimaksud. Akibatnya, waktu belajar untuk pelajaran yang lain jelas akan berkurang karena jatah mereka belajar efektif di kelas hanyalah sekitar ¼ dari 24 jam yang tersedia. Satu-satunya cara agar tetap dapat memaksimalkan waktu belajar adalah dengan mengurangi jatah jam tidur dan bermain. 

Artikel ini muncul saat status Ida Fitri melintas di laman Facebook, 10 Maret 2021 yang lalu: “Kalau sekolah umum saja gagal menghasilkan sosok semacam Ibn Sina dalam 75 tahun terakhir, kenapa saya bermimpi pesantren bisa?” Saya tidak bisa menjawab ini, tapi sedikitnya bisa menduga salah satu penyebab terbesar kegagalan itu: di samping karena tidak memiliki konsep kurikulum yang mumpuni, juga terlalu banyaknya waktu terbuang untuk kegiatan yang memang dirancang menghabiskan waktu, seperti nonton video orang makan bakso yang telah ditonton lebih dari 100 juta kali itu, atau sejenisnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Awal Mula Kehadiran Islam di Bolaang Mongondow

Published

on

By


Bagaimana Islam hadir dan berkembang menjadi agama mayoritas masyarakat Bolaang Mongondow, termasuk perbincangan yang menarik untuk dibahas. Sebab masih banyak misteri di dalamnya.

Masifnya penyebaran Islam di Bolaang Mongondow bisa dibilang dimulai pada awal abad 19 M. Sebelumnya, sejak akhir abad 17 M, raja berserta keluarga dan rakyatnya beragama Kristen. Hal ini bisa dilihat pada nama raja-raja Bolaang Mongondow–setelah masa Raja Loloda Mokoagow–menggambarkan nama pemeluk Kristen, semisal Jacobus Manoppo, Fransiscus Manoppo, dan lainnya.

Namun demikian sebagaimana dijelaskan Seven Kosel dalam The History of Islam in Bolaang Mongondow, bahwa saat itu: there was no fuctioning Christian congregation… (tidak ada pemfungsian jamaat Kristiani). Dan juga: the interior population is heathen (masyarakat pedalaman [yang bukan di pesisir] tidak memeluk agama Kristen). Saat itu, ritual-ritual agama tradisional Bolaang Mongondow masih sangat melekat di masyarakat.

Hingga masuk abad 19 M, Islam mulai tersebar secara masif di Bolaang Mongondow. Ini ditandai dengan meningkatnya jumlah pedagang Muslim Arab dan Bugis yang datang, bahkan sampai ada yang menetap dan kawin dengan masyarakat setempat. Selain itu, berbagai jaringan ulama juga semakin masif dalam menjalankan dakwah Islam di Bolaang Mongondow.

Di Lipung Simboy Tagadan (sekarang Kelurahan Motoboi Kecil), jaringan ulama dari Gorontalo, yang disebut Tim 9 sebab jumlah mereka ada 9 orang yang dikepalai oleh Imam Tueko, gerakan dakwah mereka semakin masif, sehingga sudah ada kelompok masyarakat setempat yang memeluk Islam.

Diceritakan kalau Raja Jakobus Manuel Manoppo (1833-1858) menghadiri pagelaran seni ke-Islaman yang diselenggarakan oleh Tim 9. Waktu itu, beliau terpikat dengan anaknya Imam Tueko yang bernama Kilingo. Kilingo merupakan muslimah yang fasih membaca al-Qur’an dan merdu suaranya saat melantunkan qasidah (lagu religi ala Gorontalo).

Raja pun melamar Kilingo, dan itu tentu disambut baik oleh ayahnya, Imam Tueko. Namun, sebelum raja menikahi putrinya, syarat awal yang diajukan Imam Tueko adalah raja harus masuk Islam. Hal itu disanggupi oleh raja hingga dirinya pun menjadi seorang mualaf.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Setelah raja masuk Islam, keluarga dan rakyatnya juga ikut memeluk Islam. Hal ini tentu berdampak pada semakin masifnya penyebaran Islam di Bolaang Mongondow. Di masa raja-raja selanjutnya penyebaran Islam terus mengalami kemajuan.

Proses itu berlangsung pada 19 M, sehingga anggapan umum bahwa penyebaran Islam mulai masif di Bolaang Mongondow adalah di abad ini. Namun, jauh sebelumnya Bolaang Mongondow sudah mulai bersentuhan dengan Islam. Menurut beberapa catatan bahwa Sultan Hairun yang memerintah Tarnate di abad 16 M pernah mengirimkan utusan untuk menyebarkan Islam di daerah ini.

Dalam buku Dinamika Islamisasi di Bolaang Mongondow Raya, Sulawesi Utara, Abad ke-17-20, disusun Hamri Manoppo, dkk., dijelaskan kalau Punu’ Busisi (punu’ setara makna dengan raja) telah di-Islamkan oleh seorang utusan dari Tidore bernama Kaicil Guzarate. Namun, beliau kemudian memilih untuk keluar dari Islam dan masuk Kristen.

Selain itu, beberapa sumber menyebutkan bahwa Raja Loloda Mokoagow (1653-1693) yang menjadi Raja Bolaang Mongondow pada abad 17 M juga telah memeluk Islam berkat kedekatannya dengan Sultan Tarnate. Jadi, bisa dikatakan kalau raja pertama yang memeluk Islam di Bolaang Mongondow bukanlah Raja Jakobus Manuel Manoppo, melainkan Raja Loloda Mokoagow.

Terkait Punu’ Busisi sekalipun benar beliau telah di-Islamkan, namun juga dijelaskan bahwa kemudian memilih untuk keluar dari Islam. Sehingga menurut saya Raja Loloda Mokoagow yang lebih tepat disebut sebagai raja muslim pertama di Bolaang Mongondow. Terlepas dari beberapa sumber yang menyebutkan bahwa ke-Islamannya hanya formalitas diplomasi antara Bolaang dan Tarnate, dan juga beliau tidak mengembangkan dakwah di lingkungan istana dan masyarakat, sehingga Islam tidak berkembang bahkan setelah periodenya Kristenisasi menjadi masif di daerah ini.

Dari sini bisa diasumsikan bahwa persentuhan Islam dan Bolaang Mongondow sudah dimulai sejak abad 16-17 M. Kemudian penyebaran Islam mulai masif di abad 19 M, dan terus mengalami perkembangan.

Selain itu, perlu diingat juga bahwa sebelum masifnya penyebaran Islam pada 19 M, berbagai upaya penyebaran Islam sudah berlangsung. Sehingga telah ada beberapa kelompok masyarakat muslim. Bahkan kalau mencermati dari data Pietermaat yang dikutip Seven Kosel: …for some headmen who follow the teaching of Mohammed…. (sudah ada beberapa kepala kampung yang memeluk ajaran Muhammad).

Di kawasan utara Bolaang Mongondow sebagaimana penjelasan Donald Qomaidiansyah Tungkagi dalam Islam di Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara: Dinamika Islamisasi di Kerajaan Kaidipang Besar dan Bintauna Abad ke-17-19 M, bahwa Raja Kaidipang yang pertama masuk Islam adalah Raja Waladin Korompot (1779-1817), serta di Bintauna raja muslim pertama adalah Raja Patilima (Datunsolang) yang penobatannya dilakukan di Tarnate pada 1783.

Sehingga bisa disimpulkan, kalau sebelum awal abad 19 M, di Bolaang Mongondow sudah ada tempat yang lebih dulu menjadi wilayah dakwah, dan telah ada orang Mongondow yang masuk Islam. Kemudian, gerakan Islamisasi di Bolaang Mongondow semakin memuncak pada awal abad 19 M. Dan terus berkembang hingga Islam menjadi agama mayoritas di Bolaang Mongondow.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved