Connect with us

Ibadah

Adab Ziarah Kubur Menurut Imam al-Ghazali

Published

on


Imam al-Ghazali menjelaskan beberapa adab ziarah kubur dalam salah satu karyanya, Ikhya’ Ulumiddin.

Perbedaan ulama tentang hukum ziarah kubur serta serangkaian ritual yang terdapat di dalamnya akan selalu bergulir. Walaupun ikhtilaf  (perbedaan pendapat) itu telah ada bahkan sudah tuntas sebelum kita lahir. Perbedaan itu pun akan terus mengemuka seiring adanya proses pencarian dan penyampaian ilmu pengetahuan.

Perlu kita fahami, sumber hukum yang dijadikan landasan dalam berpijak tetaplah sama, akan tetapi karena perbedaan dalam memahami teks yang dijadikan sumber–dan mungkin saja–perbedaan proses pengambilan hukum, kesimpulan hukum yang dihasilkan pun turut berbeda.

Masalah ziarah kubur ini ternyata tidak luput dari pandangan Imam Abu Hamid al-Ghazali. Namun, beliau tidak larut membahas perbedaan hukumnya semata, melainkan juga mengungkap adab ziarah kubur yang perlu diperhatikan.

Menurut al-Ghazali, ziarah kubur kaum muslimin memiliki faidah, salah satunya sebagai pembelajaran bagi masa depan manusia, juga sebagai pengingat bahwa semua manusia akan kembali kepada-Nya.

Berikut adab ziarah kubur yang perlu diperhatikan para penziarah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin:

  1. Dianjurkan berdiri atau duduk dengan membelakangi kiblat

Hal ini dilakukan supaya antara mayit maupun orang yang berziarah dapat saling berhadapan. Jika jenazah yang dikunjungi menghadap arah kiblat, maka yang berziarah perlu membelakangi kiblat agar dapat berhadap-hadapan. Pendapat ini tentu dapat diterima, karena sangat tidak sopan apabila seorang tamu tidak berkenan menatap wajah tuan rumah.

  1. Mengucapkan salam sebagai doa keselamatan untuk penghuni makam

Imam al-Ghazali mengutip penuturan Imam Nafi’ bahwa perilaku ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Ibnu Umar ketika menziarahi makam ayahnya. Ia mengucapkan salam untuk Rasulullah, Khalifah Abu Bakar, dan ayahnya: Umar bin Khatab. Selain itu, dikutip pula kaul Abi Umamah bahwa Anas bin Malik juga melakukan hal demikian ketika menziarahi makam Nabi Muhammad SAW.

Diceritakan oleh Ibnu Abi Malikah, Rasulullah SAW bersabda:

زُوْرُوا مَوْتَاكُمْ وَسَلِّمُوا عَلَيْهِمْ فَإِنَّ لَكُمْ فِيْهِمْ عِبْرَةٌ

“Ziarahilah mayit-mayit kalian dan ucapkanlah salam atas mereka. Karena mereka adalah ibrah (pelajaran) bagi kalian semua.”

  1. Tidak perlu menyentuh, mengusap, dan mencium makam maupun batu nisan orang yang diziarahi.

Alasannya, karena hal itu menyerupai perilaku orang-orang Nasrani ketika mengunjungi makam kelompok mereka. Memang melakukan hal tersebut tidak lantas menjadikan pelakunya sebagai orang kafir, akan tetapi patut diperhatikan untuk berhati-hati.

  1. Mendoakan mayit yang diziarahi secara khusus, dan kaum muslimin secara umum.

Untuk mendukung hal ini, Imam al-Ghazali mengutip hadis Nabi yang menjelaskan bahwa orang yang telah meninggal itu layaknya orang tenggelam yang menanti pertolongan dari orang yang hidup melalui doa-doanya.

Baca juga: Kalau Orang Tua Sudah Meninggal, Amalkan Ini Pada Hari Jum’at

Diceritakan juga kisah tentang Basyar bin Ismail an-Najrani yang pernah memimpikan Sayyidah Rabi’ah al-Adawiyyah. Dalam mimpi itu, Sayyidah Rabi’ah menuturkan, doa orang mukmin yang masih hidup untuk orang yang telah meninggal itu di akhirat diberikan layaknya hidangan dalam baki bercahaya yang ditutup dengan kain sutra.

  1. Membacakan ayat Al-Qur’an di dekat makam orang yang diziarahi.

Imam Ahmad bin Hanbal memang pernah menyatakan, perilaku tersebut merupakan perbuatan bid’ah, konteksnya saat itu beliau melihat orang yang membaca ayat Al-Qur’an di pekuburan. Akan tetapi setelah mendengar penjelasan Ibnu Qudamah, yang mengutip wasiat Ibnu Umar agar muslim membaca ayat Al-Qur’an saat ziarah kubur, Imam Ahmad bin Hanbal lantas menarik kembali fatwa bid’ah-nya.

  1. Memuji mayit, tidak mengatakan sesuatu selain kebaikan mayit.

Memuji mayit dan menceritakan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan oleh mayit merupakan bagian dari kesaksian orang yang masih hidup kepada orang yang telah meninggal. Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan bahwa Allah menerima kesaksian dari dari orang yang masih hidup kepada orang yang telah meninggal.

Baca juga: Tidak Bisa Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan Karena Corona, Ini Amalan yang Bisa Dilakukan di Rumah

Di antaranya adalah kisah dari Anas bin Malik, ketika dua kali jenazah melewati rombongan Rasulullah, lantas orang-orang memberikan pujian untuk orang pertama, dan cacian untuk orang kedua. Setelah itu Rasulullah menimpali “wajabat”. Ketika Umar menanyakan hal tersebut, Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّ هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةَ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارَ. وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللهِ فِي الأَرْضِ.

“Orang ini engkau pujikan padanya kebaikan, maka ia mendapatkan surga. Dan orang ini kalian pujikan padanya keburukan, maka ia mendapatkan neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di bumi.” (H.R. Bukhari & Muslim)

  1. Berziarah pada hari Jumat.

Penjelasan ini didasarkan pada pendapat para ulama: ketika hari Jumat tiba, arwah yang telah meninggal bertemu dan berkumpul bersama kelompoknya sembari menikmati hidangan doa yang diberikan oleh keluarga mayit. Sang mayit pun mengetahui apabila ada orang yang menziarahi makamnya berkat keutamaan hari Jumat yang dijanjikan oleh Allah Swt.

Itu lah serangkaian adab ziarah kubur yang disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali. Semoga bisa kita amalkan. (AN)

Wallahu a’lam bish shawab.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ibadah

Hati-hati, Agama Juga Bisa Menyebabkan Sombong, Ini Penjelasan Ustadz Arrazy Hasyim

Published

on

By


Sombong perbuatan yang sangat dibenci dalam agama. Manusia tidak pantas untuk sombong. Hanya Tuhan yang layak sombong. Tuhan punya segalanya, mampu dan bebas melakukan apapun. Sementara manusia tidak punya kuasa untuk melakukan kecuali atas izin Allah SWT.

Segala hal yang bisa mengarah pada kesombongan harus dijauhi. Makanya, Islam melarang untuk terlalu sering memuji orang lain, karena itu bisa membuat yang bersangkutan lupa diri dan memunculkan rasa sombong dalam dirinya.

Ustadz Arrazy Hasyim dalam pengajiannya mengulas perihal sombong ini panjang lebar. Siapapun itu bisa terjerumus pada sifat ini, termasuk ulama sekalipun. Amal kebaikan yang didasari kesombong tidak bernilai di hadapan Allah SWT. Yang membuat orang sombong itu, kata Ustadz Arrazy, secara umum ada dua: agama dan dunia.

Agama juga bisa membuat orang sombong, biasanya ini menimpa orang berilmu dan orang beramal. Orang yang merasa pintar ilmu agama harus hati-hati, lupa sedikit, muncul rasa sombong dalam hati, ilmu yang diajarkan dan dimilikinya tidak bernilai di mata Allah SWT. Begitu pun orang beramal, seringkali orang yang rajin beramal merasa paling taat dan shaleh di dunia ini. Hingga akhirnya, dia menilai rendah orang lain, dan mempertontonkan ibadahnya kepada banyak orang.

Ustadz Arrazy berpesan, “mohon maaf gelar pak haji bikin sombong, kalau bisa di skip aja. Kalau orang panggil kita pak haji ngak apa-apa, tapi kita ngak perlu maksa orang lain. Prinsipnya, segala hal yang bisa membawa kepada kesombongan mesti dihindari dan dijauhi hari-hari, sebelum rasa sombong itu menguasai hati.

Sementara penyebab sombong dari urusan dunia sangatlah banyak. Misalnya, keturunan, kecantikan, kekuatan, harta, pengikut banyak, dan lain-lain. Orang yang dilahirkan dari keturunan mulia mestinya harus menjaga diri agar tetap rendah hati dan tidak sombong. Begitupun orang yang diberi karunia wajah cantik dan tampan, tidak ada yang perlu disombong, toh pada akhirnya seluruh wajah manusia ini akan menua pada waktunya. Begitu pula  orang yang diberi jabatan, kekuatan, dan pengikut yang banyak. Sadari bahwa apa yang kita miliki dan peroleh saat ini adalah karena kasih sayang Tuhan.





Sumber Berita

Continue Reading

Ibadah

Teks Khutbah Idul Adha di Rumah: Bersyukur agar Bebas dari Insecure

Published

on

By


Jika kita bersyukur, dengan izin Allah SWT, kita akan terbebas dari insecure. Teks Khutbah Idul Adha di rumah berikut ini akan menjelaskan secara lebih detail tentang bersyukur dan cara melakukannya dalam Al-Quran.

Teks Khutbah Idul Adha di rumah bersyukur: khutbah pertama

الله أَكبَرُ ٩x لاإله إلا الله الله أَكبَرُ، الله أَكبَرُ ولله الحمد

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ  بُكْرَةً وَأَصِيلًا ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَكْرَمَ مَنْ اِتَّقَى بِمَحَبَّتِهِ وَأَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِهِ وَعَذَابِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَالدِّيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ،
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ الله وَخَيْرِ خَلْقِهِ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِهِ، أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin, jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan oleh Allah ta’ala.

Al-Quran menyebut kata syukur dan derivasinya sebanyak 75 kali, sebagai gambaran bahwa syukur merupakan hal yang penting dalam ajaran Islam. Ada 2 kata perintah syukur berbentuk mufrad dan ada 5 kata perintah bersyukur berbentuk jama’, yang artinya kita bersyukur atas apapun yang kita terima sebagai individu dan sebagai kolektif umat manusia.

Al-Quran merekam beberapa tokoh yang disebut sebagai sosok syakur atau orang yang banyak bersyukur. Dalam surah al-Isra ayat 3, Nabi Nuh disebut banyak bersyukur walaupun ratusan tahun berdakwah selalu mendapat cibiran dan hinaan (QS. Al- ‘Ankabut ayat 14 dan Nuh ayat 1-28). Nabi Dawud banyak bersyukur sebelum dan setelah dirinya menjadi raja (QS. Al-Baqarah ayat 251 dan Saba’ ayat 13). Nabi Ibrahim yang mendapat tentangan keras dalam berdakwah dari ayahnya sendiri dan sempat dihukum bakar oleh raja, juga mendapat label manusia yang banyak bersyukur (QS. Alnahl ayat 120-123).

Kita bersyukur atas kemudahan hidup dan hambatan hidup yang membuat kita kuat. Kita bersyukur atas nikmat yang kita terima dan musibah yang menimpa yang membuat tersadar saat lalai. Kita bersyukur atas apa yang kita miliki dan tidak kita miliki. Kita bersyukur atas ampunan dan maaf dari Allah saat kita beristighfar dan bertaubat. Kita bersyukur atas surga yang dijanjikan kepada hamba-hamba Allah yang baik dan pandai bersyukur.

 

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.

Setidaknya tiga kali Al-Quran bertanya mengapa manusia enggan bersyukur (QS. Yasin ayat 35 dan 73, al-Waqi’ah ayat 70), dan dalam 9 ayat Al-Quran menyatakan bahwa hanya ada sedikit orang yang bersyukur (QS. Al-Baqarah ayat 243, al-A’raf ayat 10 dan 17, Yunus ayat 60, Yusuf ayat 38, al-Mukminun ayat 78, al-Sajdah ayat 9, an-Naml ayat 73, dan Saba’ ayat 13). Mari kita evaluasi diri apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur.

 

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.

Secara sederhana, syukur artinya menggunakan segala potensi diri untuk memeroleh keridhaan dan rasa senang dari pihak yang memberikan kenikmatan. Dengan lisan, kita ucapkan alhamdulillah dan terima kasih. Dengan anggota tubuh kita nampakkan gestur tubuh yang positif. Pemberian dan kenikmatan yang kita terima, kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Ketika syukur kita tunaikan, maka kenikmatan akan terasa nikmat (QS. AlNaml ayat 40 dan Luqman ayat 120), dan anugerah akan bertambah (QS. Ibrahim ayat 7).

Namun, tanpa syukur bisa jadi kenikmatan tidak terasa nikmat. Anugerah yang ada di tangan, bisa tidak nampak sebab pandangan kita tertuju kepada kenikmatan yang ada di tangan orang lain.

 

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.

Salah satu dampak yang ada akibat dari tidak bersyukur adalah perasaan insecure. Nikmat tidak lagi terasa nikmat. Psikis dan mental akan diliputi perasaan galau dan penuh takut. Mengapa hal ini terjadi? Sebab kita tidak bisa terhubung dengan Allah akibat lalai bersyukur. Kita repot memikirkan masalah yang besar, padahal kekuasaan Allah jauh lebih besar. Kita bingung menghadapi banyaknya masalah, padahal Allah memiliki jalan keluar yang tidak terbatas. Bisa jadi kita lupa bahwa Allah selalu ada dan bisa ditemui siapapun, kapanpun, dan di manapun. Namun kita lalai akan semua ini, sebab kita lalai bersyukur kepada-Nya.

 

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.

Insecure sebagai akibat dari lupa syukur dalam bahasa Al-Quran disebut khawf dan huznKhawf bisa dimaknai perasaan takut terhadap apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, sementara huzn adalah kesedihan dan penyesalan terhadap apa yang sudah terjadi di masa lampau. Al-Quran menyebut kata khawf dan derivasinya sebanyak 124 kali, serta menyebut kata huzn dan derivasinya sebanyak 42 kali. Ini menunjukkan bahwa khawf dan huzn merupakan hal penting yang harus disikapi oleh manusia.

Walaupun keduanya merupakan sifat kodrati yang pasti dimiliki oleh tiap orang, namun jika tidak dikelola dengan baik kedua sifat ini bisa meniadakan kebahagiaan kita. Al-Quran menyebut “la khawf ‘alayhim wa la hum yahzanun” yang artinya mereka tidak akan khawf dan huzn sebanyak 5 kali. Al-Quran memberikan pedoman untuk selamat dari dua sifat ini berupa iman dan amal shaleh (QS. Al-Maidah ayat 69), taat aturan (QS. Al-Baqarah ayat 83), proaktif untuk memperbaiki diri dan orang lain (QS. Al-An’am ayat 48), takwa (QS. Al-A’raf ayat 35), dan istiqamah (QS. Al-Ahqaf ayat 13).

 

Ma’asyiral muslimin, jamaah shalat Jumat, rahimakumullah.

Alkisah ada seorang ibu, yang tiap hari selalu nampak murung. Ia memiliki dua anak yang bekerja di pinggiran kota. Seorang yang tinggal di dekat rumahnya bertanya kenapa si ibu selalu bersedih.

“Anak pertama saya memiliki usaha loundry, dan adiknya penjual jas hujan,” Jawab si ibu.

“Jika cuaca cerah, saya teringat bahwa tidak ada orang yang mau membeli jas hujan. Sementara jika cuaca mendung, saya khawatir jemuran anak saya tidak kering,” terang si Ibu.

Tetangganya tersenyum dan berkata, “Saat cuaca cerah, ibu ingat anak yang membuka usaha loundry. Jemurannya akan cepat kering. Sementara saat hujan atau mendung, ibu ingat anak yang menjual jas hujan.”

Bahagia dan tidak, kita bisa memutuskannya. Dalam kondisi pandemik, ada orang yang memilih bersabar dan bahagia, namun ada juga yang memilih untuk galau dan menyalahkan orang lain. Nabi Muhammad menyatakan dirinya kagum terhadap umat Islam yang saat mendapat nikmat mau bersyukur, dan saat mendapat musibah mau bersabar. Syukur dan sabar adalah sebuah sikap yang dipuji oleh Allah dan membawa kebahagiaan untuk hamba-Nya.

Semoga Allah ta’ala senantiasa membimbing langkah kita untuk selalu bersyukur, khususnya di masa pandemi seperti saat ini. Amiin ya rabbal’alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

***

Teks Khutbah Jumat bersyukur: Khutbah kedua

الله أَكبَرُ ٩x لاإله إلا الله الله أَكبَرُ، الله أَكبَرُ ولله الحمد

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ  بُكْرَةً وَأَصِيلًا ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ لله وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَهُ، اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلاِنْسِ وَالْبَشَرِ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَمَّا بعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا الله تَعَالىَ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوْا عَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ أيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ في ِالْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ، اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبَلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ.

 

Teks khutbah Idul Adha di rumah ini sebelumnya merupakan teks Khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh penulis  di Masjid Al-Firdaus Foresta BSD. Telah diedit oleh redaksi sebelum dimuat ulang di Islamidotco. (AN)





Sumber Berita

Continue Reading

Ibadah

Masa PPKM Darurat, Ini Tata Cara Shalat Idul Adha di Rumah

Published

on

By


Dalam situasi normal, shalat Idul Adha memang dianjurkan berjamaah di masjid atau di lapangan terbuka, sekaligus sebagai syiar. Tetapi dalam situasi PPKM Darurat seperti saat ini, khususnya bagi zona merah, shalat Idul Adha di ruamh adalah lebih utama.

Lalu bagaimana tata cara shalat Idul Adha di rumah?

Pelaksanaan: tata cara shalat idul adha di rumah bisa dilakukan dengan beberapa cara. Jika sendirian, maka cukup dengan melaksanakan shalat dua rakaat saja tanpa khutbah, namun jika berjamaah, maka dianjurkan dengan khutbah.

Waktu Pelaksanaan

Menurut para ulama, shalat Idul Adha bisa dilaksanakan pada saat setelah matahari terbit, namun yang lebih utama adalah menunggu sampai matahari seujung tombak, atau jika diukur dengan waktu shalat, maka sesuai dengan waktu shalat dhuha.

Bacaan Bilal

Shalat Idul Adha dilaksanakan tanpa adzan dan iqamah. Jika dilaksanakan secara berjamaah di rumah, maka bisa dimulai dengan mengucapkan “as-sholatu jami’ah”. Atau bisa juga dengan membaca bacaan bilal berikut ini:

صَلُّوْا سُنَّةَ لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةَ رَحِمَكُمُ اللهُ

“Shollu sunnata li ‘idil fitri rak’ataini jami’ah rahimakumullah”

Jika shalat sendiri, maka bisa langsung dimulai tanpa bacaan bilal.

Niat Shalat Idul Adha di Rumah

Niat shalat idul fitri sebagai berikut:

أُصَلِّي  سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًاإِمَامًا) لِلهِ تَعَــــالَى

“Usholli sunnata li’idil adha rak’ataini (ma’muman/imaman) lillahi ta’ala

Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”

Bacaan niat dilafalkan dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram.

Jumlah Bacaan Takbir

Setelah takbiratul ihram, membaca takbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada rakaat kedua. Di sela-sela takbir dianjurkan untuk membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhanallahi wal hamdulillahi wa la ilaha illallah wallahu akbar

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”

Membaca Alfatihah dan surat pendek

Setelah takbir terakhir dalam setiap rakaat, maka dilanjutkan membaca Surat al-Fatihah dan membaca surat pendek. Disunnahkan membaca surat sabbihisma di rakaat pertama, dan al-ghasiyah di rakaat kedua. Jika tidak hafal, maka boleh membaca surat pendek yang lain.

Setelah bacaan surat pendek, maka dilanjutkan gerakan dan bacaan sesuai shalat pada umumnya, begitu juga pada rakaat kedua.

Setelah salam, kemudian khutbah Idul Adha, jika shalat Idul Adha dilakukan berjamaah di rumah.

Wallahu a’lam. (AN)





Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved

VERIFIED & SECURED
BY: R3
SSL Valid: Jun 21, 2021 - Sep 19, 2021