Connect with us

Kilas Balik

Pesantren dan Kurikulum Madrasah Diniyah

Published

on


Secara harfiyah, madrasah bermakna tempat belajar alias sekolahan sedangkan diniyah bermakna keagamaan. Maka, frasa madrasah diniyah adalah sekolah keagamaan. Belakangan, terutama karena kedua kata tersebut diderivasi dari bahasa Arab—yang mana Islam berasal dari sana, makna madrasah mengalami penyempitan. Tanpa menyebut kata diniyah, madrasah berarti tempat belajar yang identik dan hanya mengurus pendidikan keagamaan. 

Jadi, apa maksud “diniyah” jika disandingkan dengan kata “madrasah”, menjadi “madrasah diniyah”? Bukankah dalam madrasah sudah terkandung makna diniyah? Dan jika ia betul ada, seperti apa prototipe kurikulumnya?

Dalam Islam, model pendidikan yang tersistem dan terlembagakan sudah muncul sejak dulu. Salah satunya adalah Madrasah Nidhomiyah era Al-Ghazali di Baghdad. Lebih jauh lagi, kita bisa mengacu kepada Universitas Al-Azhar di Kairo sebagai universitas pertama di muka bumi. Tapi, seperti apa kurikulum dan visi-misi kedua lembaga pendidikan itu pada awal mula didirikan? Kita harus tahu.

Terkait definisi ini, kita membedakan antara ilmu agama dengan ilmu non-agama. Kategorisasi pun bermunculan. Dari salah satu lektur pesantren, kita juga mengenal pemilahan disiplin ilmu yang sangat simpel, misalnya tauhid untuk keimanan; fikih untuk amal keseharian; kesehatan/pengobatan untuk kebutuhan jasmani agar bisa tetap belajar. Nah, apakah kesehatan/pengobatan—yang notabene ‘dinaturalisasi’ menjadi kedokteran itu—merupakan ilmu keagamaan alias diniyah? Jika kita telah bisa menjawab pertanyaan ini, maka pertanyaan tingkat lanjutnya adalah; seperti apakah kira-kira kurikulum ilmu-ilmu keislaman ideal yang mestinya diajarkan di madrasah-madrasah sebagaimana ia diterapkan oleh kaum salaf hingga ulama-ulama abad pertengahan yang melahirkan pada penemu, ilmuwan, mujaddid, hingga pakar-pakar yang polymath dan polyglot?

Dalam kata pengantar untuk buku Alwi Shihab, “Islam Inklusif”, Gus Dur menyatakan, bahwa Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi mengusulkan jawaban (untuk pertanyaan di atas) dalam wujud karya bertajuk kitab “Itmam ad-Dirayah” (li Qurra’ An-Nuqayah). Kitab tersebut merupakan anotasi atas kitab “Annuqayah” yang juga ditulis sendiri oleh As-Suyuthi. Adapun isinya mencakup 14 disiplin ilmu, yaitu: 1. Ushuluddin, 2. Tafsir, 3. Hadis, 4. Ushul Fikih, 5. Faraid, 6. Nahwu, 7. Tashrif, 8. Khath, 9. Ma’ani, 10. Bayan, 11. Badi’ (nomor 6-11 berkaitan dengan sintaksis, kaligrafi, dan gaya bahasa), 12. Tasyrih (anatomi), 13. Thib (pengobatan/kedokteran), dan 14. Tasawuf. Kitab ini sangat kecil, ringkas, hanya sejenis modul atau buku pengantar saja dan mungkin karena itulah ia jarang diperbincangkan. 

Saat ini, di banyak pesantren, kurikulum pendidikan menjadi masalah yang tidak kelar-kelar dibahas. Apabila ada pembahasan terkait kurikulum, maka pembahasan tersebut tak jauh dari pembahasan seputar mengganti mata pelajaran A dengan pelajaran B, atau mencarikan guru pengganti di bidang tertentu dengan guru yang lebih berkompeten di bidang itu. Beberapa pesantren modern membuat kurikulum sendiri, tidak berafiliasi pada Kemenag dan/atau Kemendiknas. Harapan dari itu adalah agar materi pelajaran yang diajarkan benar-benar sesuai dengan visi-misi pondok pesantrennya. Mereka membuat dan mengajukan muadalah (penyetaraan), tapi itupun harus berjibaku dengan persoalan berat nan rumit, yaitu legalisasi, sebab jika tidak sesuai dengan “kurikulum resmi”, pemerintah tidak akan melegalisasi, tidak  memberikan izin mengeluarkan ijazah. 

Belum selesai yang satu, masalah berikutnya muncul lagi: sebagian orang masih menganggap ijazah seperti itu sebagai ijazah yang “tidak-begitu-resmi”, misalnya karena hanya dapat digunakan untuk masuk ke perguruan tinggi atau sekolah tingkat lanjut, tapi tidak dapat digunakan secara bebas sebagai syarat lamaran pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar/umum, dan ini prinsip bagi kebanyakan orang. Sementara pondok salaf—yang tidak menerbitkan ijazah muadalah; sebagian lagi bahkan tidak menerapkan sistem kelas, melainkan masih model bandongan/sorogan yang pada hari ini jumlahnya dapat dihitung dengan jari—lebih leluasa menentukan kurikulumnya.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada umumnya, pondok pesantren yang lembaga pendidikan umum/formalnya berafiliasi kepada Kemenag, yang meskipun materi pelajarannya sudah dijatah oleh Negara, masih merancang tambahan mata pelajaran khusus, seperti nahwu, sarraf, arudl, dll. Materi pelajaran ke-tata-bahasa-araban seperti ini tidak terdapat pada kurikulum umum. Dengan demikian, jatah belajar santri harus dibebani oleh muatan dimaksud. Akibatnya, waktu belajar untuk pelajaran yang lain jelas akan berkurang karena jatah mereka belajar efektif di kelas hanyalah sekitar ¼ dari 24 jam yang tersedia. Satu-satunya cara agar tetap dapat memaksimalkan waktu belajar adalah dengan mengurangi jatah jam tidur dan bermain. 

Artikel ini muncul saat status Ida Fitri melintas di laman Facebook, 10 Maret 2021 yang lalu: “Kalau sekolah umum saja gagal menghasilkan sosok semacam Ibn Sina dalam 75 tahun terakhir, kenapa saya bermimpi pesantren bisa?” Saya tidak bisa menjawab ini, tapi sedikitnya bisa menduga salah satu penyebab terbesar kegagalan itu: di samping karena tidak memiliki konsep kurikulum yang mumpuni, juga terlalu banyaknya waktu terbuang untuk kegiatan yang memang dirancang menghabiskan waktu, seperti nonton video orang makan bakso yang telah ditonton lebih dari 100 juta kali itu, atau sejenisnya.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kilas Balik

Hassan bin Tsabit: Penyair Andalan Rasulullah

Published

on

By



Nabi hidup dimana semarak sastra arab menemukan puncaknya. Pada waktu itu menjadi seorang penyair adalah idaman setiap orang. Sebab tinggi atau tidaknya posisi seseorang di hadapan kaumnya adalah tergantung syair-syair yang berkembang. Semakin hebat membikin syair semakin hebat pula di hadapan masyarakat. Jika pun tak bisa, maka mereka biasanya menyewa penyair untuk memuji dirinya atau komunitasnya.

Syair pada waktu itu bukan hanya sebagai seni tetapi ia juga menjadi identitas sosial. Bahkan ia bisa menjadi media untuk memuji diri sendiri dan menyerang musuh. Tiap ada perang antar suku, sebelum duel berlangsung biasanya ada pembacaan syair antar satu kelompok dengan kelompok lain. al-Qur’an dihadirkan untuk menghapus kedigdayaan itu. Disebut bahwa tidak ada satupun penyair papan atas yang bisa menandingi sastra al-Quran.

Namun demikian, meski rasul sudah memiliki bekal al-Qur’an sebagai mukjizat, beliau memiliki penyair andalan yang bernama Hassan bin Tsabit. Nama lengkapnya adalah Hassan bin Tsabit bin Munzir bin Haram bin Amr bin Zaid Munat bin Adiy bin Amr bin Malik al-Najjar al-Anshari. Nama panggilannya adalah Abu al-Walid.

Hassan disebut-sebut sebagai penyair andalan nabi. Itu semua diakui sendiri oleh istri nabi, Aisyah. Dulu orang-orang Quraish menghancurkan personal dan marwah nabi dengan penyair-penyair. Penyair itu bertugas menyerang nabi dengan syair-syairnya. Mereka di antaranya adalah Abdullah bin al-Zibakra, Abu Sufyan bin al-Haris bin Abdul Mutthalib, Amr bin al-Ash, Dhirar bin al-Khattab.

Melihat tingkah mereka, yang terus-terusan menyerang nabi, seseorang mengadu kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka mengadu sekalian meminta bersedia membalas cacian mereka. Ali kemudian mengiyakan tetapi dengan syarat ia harus mendapat izin dari nabi. Setelah disampaikan pada nabi ternya beliau tidak memberi izin. Merespons itu, sahabat ada yang komentar:

“Apakah kita hanya akan menolong nabi dengan pedang-pedang kita? apakah kita tidak mau menolong beliau dengan lisan-lisan kita?”.

Dari kejauhan, seorang laki-laki berkata:

“Biar aku saja yang melakukan itu (membela nabi dengan lisan)”, ujar laki-laki yang belakangan diketahui bernama Hassan bin Tsabit.

Tetapi setelah itu tidak bermakna Hassan langsung menghajar balik mereka. Rasul masih keberatan. Aspek keberatan nabi adalah bagaimana mungkin kita akan menghajar mereka dengan syair-syair Hassan sementara nabi adalah bagian dari mereka. Bukankah Abu Sufyan masih anak paman nabi?

Solusinya sekarang ada di Abu Bakar. Ia laki-laki paling tahu nasab manusia pada waktu itu. Hassan mendatangi Abu Bakar dan mendata siapa saja yang akan dihajar balik. Abu Bakar kemudian merekomendasikan beberapa orang dan melarang beberapa orang.

Selain Hassan bin Tsabit, ada dua nama lagi dari kaum Anshar yang bertugas menghajar balik serangan syair kaum kafir. Dua orang itu adalah Kaab bin Malik dan Abdullah bin Rawahah. Sekiranya Hassan dan Kaab menghajar mereka tentang kejadian-kejadian dan fenomena-fenomena maka Abdullah bin Rawahah menghajar mereka dengan syair berisi konten kekafiran mereka dan tuhan mereka yang tak bisa mendengar dan memberi kemanfataan.

Rasulullah senantiasa mensupport Hassan. Beberapa kali ia didoakan secara khusus oleh nabi. Misal doa nabi, “Hajarlah mereka kaum Quraish dengan syair-syairmu, Jibril selalu bersamamu”. Suatu waktu Umar bin Khattab melihat Hassan bin Tsabit bersyair di mesjid. Ia kemudian menegur Hassan. Tahu ditegur oleh Umar, ia menjawab:

“Aku pernah bersyair di mesjid dan di sana ada orang yang lebih baik dari kamu (yakni Nabi  Muhammad Saw.)”.

Banyak pujian beberapa tokoh sahabat atas keahlian Hassan. Tampak ia adalah contoh bahwa membela agama bukan hanya dengan perang fisik, tetapi dengan apapun yang kiranya bisa memberi manfaat pada agama, salah satunya dengan keahlian bersastra.[]



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Al-Thufail bin Amr al-Daush: Sahabat yang Didoakan Oleh Nabi

Published

on

By



Ya Allah! Jadikanlah padanya ‘tanda-tanda’ yang bisa menolongnya untuk apa yang telah niatkan untuk kebaikan,” itulah doa dari Nabi Muhammad Saw. untuk al-Thufail bin Amr al-Daush, seorang pimpinan suka Daus di era Jahiliyah. Dia juga dikenal sebagai orang memiliki kemuliaan dan keutamaan di hadapan kaumnya. Suka membantu, ramah kepada sesama dan yang penting ia kerap memberi pertolongan kesalamatan pada kaum Daush.

Di samping itu semua, al-Thufail seorang penyuka sastra. Ia penyair yang kata-katanya bisa menghipnotis siapapun. Ketika menjelaskan sesuatu ia begitu fasih, begitu aksiomatis dan sulit dibantah.

Suatu waktu ia mendatangi Mekkah. Sesampainya di Mekkah, sebagai seorang kepala suku, ia disambut dengan gegap gempita. Disediakan rumah terbaik dan makanan terbaik. Para pembesar Quraish mula-mula mengabari ia seputar kontroversi yang terjadi di Mekkah akhir-akhir ini. mereka menyebut Nabi Muhammad sebagai sosok yang merusak kebersamaan, menimbulkan perpecahan dan lain sebagainya.

Tak lupa juga, kaum Qurasih itu mewanti-wanti atau lebih tepat menakut-nakuti al-Thufail. Menurut mereka jika info nabi sampai ke kaum Daush, maka posisi al-Thufail sebagai kepala suku terancam. Al-Thufail sebagai tamu hanya diam dan manggut. Ia tidak begitu percaya terhadap apa yang disampaikan mereka.

Keesokan harinya, al-Thufail pergi ke Kakbah. Ia ke sana untuk beribadah dan mengambil berkah dari patung-patung yang ada di sekitar Kakbah. Di tengah aktivitasnya, ia melihat nabi sedang melaksanakan ibadah, yaitu salat. Herannya, sebut al-Thufail, salat yang dilakukan nabi berbeda dengan salat yang ia kenal selama ini. hal itulah yang membuat dia takjub penasaran.

Dari jarak dekat, ia mendengarkan nabi berbicara. Dalam hatinya, ia bergumam bahwa laki-laki ini bukan orang biasa. Perkataannya indah dan menggetarkan jiwa. Ia begitu terpana dengan bahasa lisan dan tubuh nabi. Selepas itu, ia membuntuti nabi hingga ke kediaman beliau. Di rumah nabi, ia akhirnya dipersilahkan masuk ke dalam.

Kepada nabi, ia menceritakan apa yang disampaikan oleh pembesar kaum Quraish kepadanya. Ia meminta klarifikasi dan konfirmasi. Setelah nabi menyimak curhatnya, nabi kemudian berkata dengan perkataan terbaik dan membacakannya surat al-Ikhlas dan al-Falaq. Mendengar dua surat itu, al-Thufail tak bisa menutupi kekagumannya pada nabi dan pada agama yang dibawa nabi. Selama hidup bahkan dalam dunia sastra yang menjadi keahliannya, ia tak pernah mendengar perkataan terbaik seperti yang dikatakan nabi tadi.

Tanpa menunggu lama, ia akhirnya membentangkan tangannya untuk memeluk Islam. Setelah masuk Islam, ia tak segera pulang. Ia tetap tinggal di Mekkah untuk mempelajari Islam dan al-Quran. Setelah dirasa cukup, ia akhirnya izin pamit kepada nabi dan meminta restu untuk mendakwahkan Islam kepada kaumnya.

Namun, sebelum ia benar-benar pulang, ia meminta doa dari nabi agar ia diberi sesuatu yang bisa dijadikan hujjah bagi kaumnya. Kemudian nabi mendoakannya. Ketika ia pulang, ia baru sadar bahwa “sesuatu” yang diberikan nabi adalah cahaya yang ada di keningnya. Melihat itu ia takut dan berdoa kepada Allah agar cahaya itu dipindah ke sebuah cemeti miliknya. Dan berpindahlah cahaya yang terang benderang itu. Cemeti yang bersinar menjadi milik al-Thufail.

Mula-mula ia mengajak ayahnya sendiri untuk masuk Islam. Tak menunggu waktu lama, sang ayah kemudian mengikuti ajakannya. Selang berapa hari, ia kemudian mengajak suku Daush. Namun jauh panggang dari api tak ada yang merespons ajakannya kecuali Abu Hurairah, sahabat yang fenomal itu.

Melihat fenomena itu, ia mengajak Abu Hurairah ke Mekkah untuk curhat pada nabi. Al-Thufail menyebut suku Daush sudah dikuasai nafsu keduniaan. Mereka tak satupun tersentuh dengan keimanan. Mendengar curhatan al-Thufail, nabi berwudu dan kemudian mengangkat tangannya ke langit. Awalnya Abu Hurairah takut, khawatir nabi mendoakan kehancuran buat kaum Daush. Ternyata nabi mendoakan mereka agar diberi kelembutan hati untuk menerima Islam.[]



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Pesantren Era Mataram Islam – Kilas Balik

Published

on

By



Lembaga pendidikan tertua yang mengajarkan keilmuan di bumi Nusantara dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren atau yang lebih familiar dengan sebutan Lembaga Islam Tradisional. Sebutan tradisional mengandung arti bahwa lembaga ini sudah hidup sejak ratusan tahun yang lalu dan telah menjadi bagian dari kehidupan umat, serta telah mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan perjalanan kerajaan atau kekuasaan.

Bagi Marx Woodward penerimaan masyarakat Nusantara terhadap Islam tidak terlepas dari peran keraton dan raja. Sehingga praktik Islam yang ada di Nusantara bukanlah hasil dari pengaruh kebudayaan Hindu-Budha, tetapi murni intrepretasi umat muslim terhadap pokok ajaran Islam sesuai konteks kebudayaan Nusantara yang memiliki identitas yang khas (Marx Woodward, 2006:4). Dengan begitu proses islamisasi yang dilakukan oleh para ulama dan lembaga formalnya disokong oleh penguasa setempat dalam hal ini raja yang langsung turun tangan untuk menyebarkan ajaran agama Islam.

Raden Mas Jatmika atau yang populer dikenal sebagai Sultan Agung (1613-1645), seorang raja besar yang berperan dalam proses pelestarian pendidikan dan penguatan nilai-nilai Islam dengan mengakulturasikan dengan kebudayaan setempat. Dalam panggung sejarah pendidikan pesantren, raden Mas Jatmika termaksud salah seorang pelopor pendidikan model pesantren. Ajaran Islam kemudian disebarkan dengan mengakulturasikan kebudayaan lama dan peninggalan tradisi Hindu-Budha dengan berbagai saranan dan fasilitas dari istana.

Kita lihat misalnya, Grebeg (garebeg) disesuaikan dengan hari raya Idhul Fitri dan Mualid Nabi, Gamelan Sekaten yang dibunyikan pada Garebeg Maulud, atas perintah Sultan Agung kemudian dipukul setiap menjelang shalat lima waktu, dan yang paling mutakhir dalam ilmu Astrologi adalah penanggalan Jawa yang memadukan antara penggalan Saka (Hindu) dengan pengaggalan Islam (Hijriyah). Tahun baru ini disusun berdasarkan perhitungan bulan sesuai dengan pranata mangsa atau musim panen tanam masyarakat setempat.

Tidak hanya itu, Sultan Agung juga memerintahkan bawahnya untuk membangun masjid gehde di setiap ibukota kabupaten sebagai induk dari semua masjid yang ada di kampung-kampung, dan disetiap ibukota distrik didirkan sebuah masjid kawedanan (kecamatan), dan disetiap desa dibangun mushola atau masjid desa yang dikepalai oleh modin (kaum) dengan 4 orag pembantunya. Dari tingkat kaum ini, sultan memerintahkan untuk mendirikan pesantren yang disertai pendopo di setiap kampung, sebagai tempat bertemunya modin dan pembantunya dengan rakyat kapan saja agar lebih leluasa termaksud mengajarkan al-Quran dan semua ajaran agama Islam.

Perlu diketahui bersama, berawal dari pendidikan lokal model pesantren ini kemudian warga mengenal dan memeluk Islam secara massal, serta dipraktikan dalam kehidupan masyarakat secara luas. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Sultan Agung pasca runtuhnya Majapaht akbiat Perang Paregreg (1404-1406) jauh hari sudah diterapkan oleh penyebar Islam awal di Nusantara yang kemudian dilegal formalkan oleh Walisanga.

Era Mataram Islam wali dan ulama memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap jalannya pemerintahan dan keputusan raja, sebagaimana pengaruh agamawan Hindu-Budha pada masa pra-Islam. Aguk Irawan menandaskan bahwa pada masa pra-Islam seluruh etika sosial-politik masyarakat Nusantara berada di bawah pengaruh agamawan Hindu-Budha, maka pada masa Islam seluruh etika sosial-politik berada di bawah pengaruh pesantren (ulama dan wali) (Aguk Irawan, 2020:137). Ini menandakan bahwa pesantern mempunyai pengarauh yang begitu besar baik di luar tembok keraton maupun di dalam tembok keraton.

Bahkan, karya sastra keraton sangat bercorak islami, kita lihat misalnya Serat Tajuh Salatin (Mahkota Para Sultan) berisi niali-nilai etika Islam, seperti keadilan, kasih sayang, dan pedoman dalam penerinatahan. Kemudian Serat Surya Raja, yang mengisahkan kedudukan Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga sebagai guru rohani dari pendiri Dinasti Mataram, yang juga menyinggung tentang keutamaan ilmu dan lembaga pendidikan atau pesantren diungkapkan dengan kiasan-kiasaan ngelmu. Masih banyak karya sastra yang lain seperti Serat babad Giri, Suluk Wringin Sungsang, Serat Babad Tembayat yang itu dipelajari di dalam tembok keraton.

Perlu kita pahami bersama bahwa pesantren dan keraton adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Adanya keraton Mataram Islam merupakan amanah para wali terutama Suan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam. Untuk itu keraton dan pesantren dalam sisi nasab dan peran dalam membentuk watak dan karakter Islam-lokal tidak terpisahkan. Sebab itu, keraton tidak pernah meninggalkan pesantren, bahkan pada saat keraton tidak mampu melawan kaum kolonial misalnya justru pesantern dengan keberaniannya mengambil alih peran tersebut.

Keharmonisan pesantren dan keraton mencapai puncaknya pasca Perang Diponegoro (1825-1830). Para ulama memilih menjauh dari istana karena tidak puas dengan dominasi penjajah yang merangsek terlalu dalam ke jantung keraton dalam urusan pemerintahan raja-raja di Jawa. Menjauhnya para ulama dari keraton kemudian berdampak dengan munculnya pesantren-pesantren di pulau Jawa dan Madura. Walaupun demikian, kedua elemen ini tidak bisa terpisahkan dalam proses akulturasi ajaran Islam yang di bawah naungan pesantren dengan kearifan lokal yang dikembangkan oleh keraton.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved