Connect with us

Feature

Perempuan Hamil dan Bekerja itu Berat, Apalagi Saat Pandemi, Bagaimana Melindunginya?

Published

on


Baru-baru ini,  sahabat sejak masa kecil mengeluhkan betapa sulitnya harus pergi bekerja di masa pandemi ketika hamil. Saat ini ia memasuki kehamilan trimester keduanya. Keluhan itu bahkan telah ia utarakan sejak awal kehamilannya: tidak bisa makan karena seringkali berujung mual hebat hingga muntah, merasa tidak sehat tapi tak ada penyakit kecuali kehamilan itu, tidak nyaman atau sedih tapi sulit untuk diceritakan atau dikeluhkan karena hal itu dianggap hal yang biasa. Kejadian-kejadian itu  kerap ia alami bahkan ketika dekat dengan suaminya, atau di tengah keluarga, atau di kantor.

Pengalaman hamil tentu akan menjadi memori yang sangat lekat bagi perempuan. Ketika saya hamil tiga tahun lalu, saya mengalami masa-masa terberat karena gangguan kehamilan.  Saya tidak boleh turun dari tempat tidur karena cenderung mengalami pendarahan. Ketika itu saya masih belum berkantor di Rumah KitaB. Karena keluhan-keluhan itu sekitar tiga minggu saya absen dari kantor. Setelah merasa kuat dan kembali ke kantor, waktu bekerja sering saya habiskan berbaring di dalam ruang menyusui karena saya dilarang dokter duduk dalam jangka waktu lama. Beruntung  saat itu saya bekerja di sebuah kantor untuk perlindungan anak, sehingga hak saya sebagai perempuan bekerja yang sedang mengandung sangat dilindungi.

Dalam keadaan dunia yang “normal” pun, kehamilan itu berat.  Al-Qur’an surat Lukman ayat 14 disebutkan: “Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Al-Qur’an menyebutkan bahwa perempuan hamil berada dalam kondisi lemah yang bertambah-tambah. Ibu Lies Marcoes, Direktur Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB), kerap kali menjelaskannya sebagai “berat di atas berat” dan “sulit di atas sulit” untuk menjelaskan betapa beratnya kehamilan itu.

Sahabat saya ini bekerja di sebuah instansi di bilangan Jakarta. Setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan, setiap pekan ia wajib masuk kantor secara bergiliran; satu hari di rumah, satu hari di kantor, begitu seterusnya. Bahkan akhir tahun lalu, ia masuk kantor hampir setiap hari karena banyaknya deadline pekerjaan akhir tahun.

Sebuah riset yang dilakukan oleh dosen Universitas Indonesia, Kanti Pertiwi, pada 96 perempuan pekerja usia 20-50 tahun sepanjang Juni-Agustus 2020 menunjukkan bahwa informan perempuan merasakan tekanan dari kebijakan kantornya yang maskulin selama pandemi. Tolak ukur produktivitas dan beban kerja tidak mengalami penyesuaian meskipun pandemi.

Selain lansia, orang dengan penyakit penyerta, dan tenaga medis, perempuan hamil termasuk ke dalam kelompok rentan terhadap Covid-19. Kehamilan sendiri sudah mengandung risiko. Ditambah dengan adanya pandemi, seorang perempuan hamil menjadi semakin rentan terhadap Covid-19.

Kebijakan kantor yang tidak sensitif gender menganggap seolah-olah keadaan seorang perempuan hamil adalah sama dengan pekerja lainnya. Ketika perempuan mengalami hambatan bekerja karena kehamilannya, hambatan itu harus ditanggulangi sendiri karena tidak ada upaya untuk memperbaiki atau mengakomodasi kebutuhannya. Muncul juga anggapan perempuan hamil tidak bisa seproduktif kolega lainnya karena “kesalahannya” sendiri atas keadaannya. Perempuan sendirilah  yang harus menanggung risiko untuk bisa catch up dengan kolega lainnya. Cara pandang ini telah mengabaikan hak yang paling dasar yang dilindungi baik oleh agama maupun oleh Undang-Undang Kesehatan.

Padahal, adalah kewajiban perusahaan atau instansi terkait untuk melindungi, atau setidaknya mengakomodasi kebutuhan para perempuan hamil yang aktif bekerja.

Pertama, perusahaan bisa memberikan fleksibilitas kepada karyawan atau staf perempuan yang sedang hamil untuk mengurangi jadwal “piket”nya untuk masuk kantor guna meminimalisasi kontak dengan banyak orang tanpa harus mengurangi kewajibannya dalam bekerja. Ini berarti  perusahaan atau instansi mengeluarkan kebijakan bahwa perempuan hamil bisa bekerja dari rumah sepanjang kehamilannya. Terutama jika kantor berada pada gedung tertutup yang tidak memungkinkan protokol VDJ yang maksimal (ventilasi, durasi, dan jarak), karena risiko Covid-19 tidak hanya ada pada sang ibu, tetapi juga pada sang bayi. Dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak jelas ditegaskan bahwa anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang, sementara definisi anak adalah seseorang di bawah 18 tahun, termasuk yang berada dalam kandungan. Ini artinya, perempuan hamil berhak mendapatkan perlindungan maksimal atas keselamatan janinnya, termasuk oleh perusahaan/instansi tempat ia bekerja, karena haknya dilindungi oleh negara.

Kedua, mengakomodasi kebutuhan perempuan hamil jika ia tetap harus masuk kantor. Memang, tidak semua jenis pekerjaan dapat dikerjakan dari rumah. Beberapa pekerjaan, teruma yang berhubungan dengan sektor jasa, membutuhkan kehadiran fisik pekerja di tempat kerjanya. Akan tetapi, banyak cara yang dapat dilakukan untuk melindungi perempuan hamil selama ia bertugas. Misalnya, dengan memberikannya ia akses pada ruangan privat agar dapat beristirahat ketika lelah atau mengalami mual hebat. Dalam keadaan khusus, misalnya ketika kehamilan seorang perempuan mengalami risiko tinggi—entah risiko perdarahan dan lainnya—perusahaan dapat mengurangi beban atau jam kerjanya, atau menggunakan hak cuti sakitnya.

Ketiga, hak perempuan dilindungi dalam pasal 82 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan untuk mendapatkan paid maternity leave selama 3 bulan. Artinya, ia dibayar penuh selama cuti hamil dan melahirkan. Bahkan, beberapa perusahaan di Indonesia telah menerapkan cuti 6 bulan bagi perempuan yang melahirkan untuk mendukung ASI eksklusif.

Masalahnya, tidak semua perusahaan atau tempat kerja memiliki perspektif yang sama. Hasil analisis situasi perempuan bekerja yang dilakukan Rumah KitaB pada Agustus-September 2020 lalu di Bandung misalnya, menemukan sebuah perusahaan yang sama sekali tidak memberikan hak cuti bagi perempuan, baik cuti haid, hamil, maupun melahirkan. Sehingga, para pekerja perempuan yang hamil terpaksa harus mengundurkan diri sebelum melahirkan karena haknya untuk tetap bekerja pasca melahirkan tidak terpenuhi.

Pada akhirnya tulisan ini ingin menekankan bahwa, dalam kondisi dunia yang “normal” pun, kehamilan sudah berat. Bisakah terbayangkah bagaimana beratnya hamil dalam kondisi krisis wabah global? Ini adalah kewajiban perusahaan, lembaga, dan negara untuk melindungi kelompok rentan Covid-19, tak terkecuali perempuan hamil yang bekerja. Kebijakan tempat kerja dan pemimpin perempuan yang memahami pengalaman unik perempuan adalah salah satu kunci untuk mendukung agar perempuan dapat terus berpartisipasi di ruang publik, apapun kondisinya [].

*Tulisan ini sebelumnya dimuat di RumahKitaB, dimuat ulang atas persetujuan redaksi



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Feature

Toleransi di Pulau Buru Kepri: Islam dan Konghucu Bahu Membahu Bersatu

Published

on

By


Pulau Buru merupakan pulau kecil yang terletak di Kepri (Kepulauan Riau), dekat dengan Batam. Jarak tempuh naik kapal ferri dari Batam ke Pulau Buru sekitar 3 jam. Tidak lantas sampai, perlu transit terlebih dahulu di Tanjung Balai Karimun. Dilanjutkan dengan naik kapal kecil menuju Pulau Buru. dibutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke pulau ini.

Ada sesuatu yang menarik ketika berbicara tentang daerah-daerah di Kepulauan Riau, salah satunya Pulau Buru. Penduduk Pulau Buru menganut dua agama, yaitu Islam dan Konghucu. Masyarakat yang beragama Islam di Pulau Buru menganut kebudayaan Melayu, sedangkan agama Konghucu masih tetap konsisten dengan kebudayaannya.

Dua agama ini bagaikan dua jendela yang saling berdampingan, dan dilestarikan sejak dulu oleh masyarakat terdahulu. Selama ini tidak pernah ada konflik atau bom bunuh diri yang menerpa. Semuanya terlihat aman, nyaman, tentram, dan damai. Mereka saling membutuhkan satu sama lain, masyarakat Islam membutuhkan orang-orang Konghucu karena mereka memiliki warung atau kedai yang menyedikan bahan pokok pangan sehari-hari.

Baca juga: Raja Aisyah binti Sulaiman Menunjukkan Fakta, Perempuan Bisa Jadi Apa Saja

Sedangkan orang-orang Konghucu membutuhkan muslim karena kepandaiannya membuat masakan. Sehingga tidak ada lagi sekat jasmani antar dua agama di Pulau Buru. Walaupun demikian, batin muslim di Pulau Buru tetap pada keyakinnya yaitu Iman dan Takwa kepada Allah Saw. Begitu pula orang-orang Konghucu, dalam beribadah mereka tidak pernah mengusik satu sama lain.

Kedua pemeluk agama tersebut bukan hanya memiliki persamaan dalam dunia perdagangan saja, namun juga berkebun, nelayan, serta berternak. Mereka saling bahu membahu membentuk rotasi kehidupan, tidak ada yang membuat keributan dengan mengatas namakan agama “Jihad Fi Sabilillah”. Guru-guru di sekolah pun tidak perlu bersusah payah memberikan pemahaman atau wawasan toleransi pada siswa siswi, karena mereka sudah menanamkannya.

Secara teori, sikap toleransi diartikan sebagai sikap saling menghargai setiap perbedaan, baik dalam bidang keagamaan, sosial, ekonomi, atau kebudayaan. Sikap toleransi tersebut sudah ditanamkan pada masyarakat Pulau Buru pada jenjang pendidikan. Mereka sudah terbiasa dalam menghargai dan menghormati antar perbedaan agama, ras, dan suku.

Baca juga: Hak Sipil Kaum Minoritas: Sebuah Renungan

Dengan hal ini, sikap toleransi merupakan etika menghormati berbagai perbedaan yang ada di dalam lingkungan sekitar. Dengan sikap toleransi, rasa kasih sayang dan saling membantu akan tumbuh antar sesama manusia. Walaupun adanya perbedaan ras, suku, agama, kulit, dan lain sebagainya. Seperti yang diterapkan di Pulau Buru ini, walaupun kecil tetapi jiwa akan menghargai setiap perbedaan mereka junjung tinggi. Karena mereka tahu, bahwa kenyamanan itu memiliki lingkungan yang damai. (AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Ngobrol dengan Frater Katolik: Bom Makasar Momentum untuk Memperkuat Toleransi Kita

Published

on

By


Suatu sore selepas pristiwa bom di Makasar, lini masa Twitter saya riuh. Ada akun anonim yang menganggap bahwa kekerasan seperti itu adalah ajaran Islam yang sebenarnya, sembari melampirkan tangkapan layar suatu ayat Al-Quran beserta terjemahannya.

Saya baca, cuplikan ayat tersebut memang menyebutkan peperangan dan semacamnya. Namun tunggu dulu, ayat tersebut tidak serta merta bisa dipahami hanya dengan membaca terjemahannya, bukan? Ada asbabun nuzul, ada konteks dan peristiwa yang mengiringi turunnya ayat itu.

Beberapa akun lain pun mencoba menjelaskan maksud ayat itu. Namun tetap saja. Akun anonim ini mental, sedikitpun tidak mau menerima penjelasan. Dari profilnya, saya tidak melihat afiliasi apapun dari akun tak dikenal itu. Tidak ada agama, afiliasi politik atau semacamnya.

Walau demikian, celotehan akun ini membuat kepala saya melayang, membayangkan bagaimana perasaan umat agama lain yang membaca ayat dan terjemahan Al-Quran itu secara mentah-mentah, ditambah kejadian-kejadian terorisme atas nama agama yang berulang mendera mereka. Apalagi jika mereka sama sekali tidak memiliki teman dekat atau tetangga muslim yang baik dan berempati kepada mereka. Mungkin ini lah benih-benih islamophobia berawal. Saya pun akhirnya memahami presepsi orang-orang di luar sana tentang muslim. Orang-orang yang mendengar teriakan-teriakan ‘kafir’, ‘halal darahnya’, dan semacamnya dari ‘Toa’ ustadz serampangan yang mendengung ke arah rumah mereka.

Baca juga: Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar dan Sentimen Keagamaan yang Menyelimutinya

Mereka mungkin akan bertanya-tanya, “Katanya “Islam itu rahmat, mengasihi, menyangi’, lalu mereka ini Islam yang mana?” Jika mereka bertanya demikian, bagaimana jadinya toleransi kita?

Saya buru-buru mengirim pesan instan ke kolega saya, seorang frater Katolik yang tempo hari magang di kantor saya, Amadea namanya. Ia juga beberapa kali menulis di Islamidotco. “Bung, hari Kamis besok, kosong?” Tak lama, sang frater membalas, “Kalau sore ada ibadah, bung.”

Saya paham maksudnya. Sebagai seorang frater, pekerjaan utamanya adalah melayani umatnya. Apalagi hari itu adalah salah satu di antara hari-hari penting, yaitu hari Tri Suci. Dia pasti akan sibuk hingga hari Minggunya.

Baca juga: Bom Bunuh Diri Makassar Adalah Bukti Tidak Seimbangnya Ilmu dan Cinta

Jadwal pun kita sepakati bersama, hari Kamis siang, sebelum ia melaksanakan ibadahnya. Saya merasa penting untuk ngobrol dengannya. Saya penasaran dengan perasaannya setelah kejadian bom di Makasar, apalagi pristiwa keji itu berlangsung menjelang hari-hari suci bagi mereka. Saya khawatir mereka tidak nyaman dan tidak merasa aman saat beribadah.

“Bagaimana kabarnya, bung? Sehat dan Aman?” Itu lah pertanyaan awal saya saat memulai percakapan pada waktu yang telah kami sepakati.

“Puji Tuhan, bung, semuanya aman,” jawabnya.

Saya yakin, walaupun ia berkata demikian. Ia pasti memiliki kekhawatiran. Amadea pun mengakui itu. Pada awalnya ia merasa khawatir dengan situasi saat itu. Namun kekhawatiran itu mulai memudar saat melihat banyak dukungan dari berbagai kalangan untuk umat Kristiani, termasuk dari umat muslim.

Amadea juga terharu dengan ungkapan yang disampaikan oleh Mentri Agama Yaqut Cholil Qaumas saat menemui uskup agung selepas kejadian di Makasar.

Kami bersama umat Katolik, kami bersama umat Kristiani, jangan takut!” ungkap Amadea menirukan kata-kata Gus Menteri. Kalimat itu lah yang membuatnya terharu, bahwa ia sebagai umat Kristiani tidak lah sendiri. Semua kelompok berbondong-bondong mendukung dan menguatkannya.

Hal ini lah yang membuatnya sadar dan membuang jauh-jauh kekhawatiran yang hinggap di benak kepalanya. Rasanya tidak ada gunanya khawatir jika semua saudara sebangsa mendukung dan menguatkan. Baginya, ini menjadi sebuah momentum dan harapan untuk menguatkan toleransi kita.

“Khawatir pasti ada, bung. Namun yang paling penting untuk disorot adalah harapan kita,” ungkap alumni STF Driyakara Jakarta ini.

Mendengar jawaban itu saya sedikit tenang. Namun saya merasa perlu mengeluarkan pertanyaan yang lebih penting, yaitu: Bagaimana presepsinya kepada muslim setelah kejadian bom di Makasar? Karena saya yakin, kejadian ini bukan pertama kalinya bagi umat Kristiani. Mereka telah mengalami ancaman bom berkali-kali. Justru saya khawatir, kejadian ini meneguhkan sebagian umat agama lain bahwa muslim memang benar-benar kejam.

Amadea menjawabnya dengan jawaban yang menarik. Ia meyakini bahwa banyak orang yang mulai kritis dan tidak asal menggeneralisir. Menurutnya, memang ada kelompok teroris yang mengaitkan diri mereka dengan Islam. Namun, ia meyakini bahwa kekerasan, bom dan sebagainya bukanlah ajaran Islam yang sebenarnya. Pasalnya ia bertemu dengan banyak muslim yang tidak seperti pelaku teroris itu. Pangalamannya berinteraksi dengan  saya dan teman-teman muslim saya yang lain nampaknya mempengaruhi itu.

Ia membuktikan bahwa saat ada pristiwa bom, misalnya. Umat muslim berbondong-bondong mendukung dan simpati dengan para korban. Berbeda jika umat Muslim malah lebih banyak mendukung pelaku pengeboman.

“Itu lah yang membuat saya yakin,” tuturnya.

Dengan pristiwa ini, menurut Amadea, kita semakin menguatkan toleransi kita, bukan hanya sesama umat Kristiani, tetapi juga dengan umat agama lain, termasuk umat muslim.

“Bagi saya justru masa depan toleransi ini semakin cerah. PR kita bagaimana agar kejadian ini tidak terulang kembali,” harap Amadea.

Saya juga meminta kepada Amadea agar menceritakan pengalamannya saat berinteraksi dengan kita kepada teman-teman Kristiani yang lain. Lebih-lebih kepada saudara-saudara Kristiani dan juga umat agama lain yang sama sekali belum pernah berinteraksi dengan muslim. Agar kekhawatiran dan ketakutan mereka dengan stigma muslim bisa direduksi. (AN)





Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Satu Hari di Wasini, Kenya, Penduduk yang Ingin Mengunjungi Indonesia

Published

on

By


Saya tiba-tiba teringat tentang Wasini, sebuah pulau kecil di Kenya, Afrika Timur. Pulau tersebut terletak di tengah laut yang bisa dijangkau dari pelabuhan dekat desa Shimoni. Kunjungan saya dan rombongan saat itu untuk menghabiskan senja setelah seharian melakukan study tour di goa ‘Slavery’ Shimoni, goa yang digunakan kesultanan Oman dan penjajah Inggris untuk mengurung warga Kenya yang akan diperbudak.

Dihuni oleh sekitar 2000 orang, pulau ini memang terbilang mungil. Sayangnya, saya tidak bisa menjelajah lebih jauh akibat miskomunikasi antara panitia penyelenggara acara touring dengan penduduk setempat. Padahal salah satu episode yang saya nantikan ketika berkunjung ke Kenya adalah belajar dengan warga secara langsung.

Meski demikian, sekelumit informasi yang saya dapat sangat berkesan. Pulau ini merupakan pulau dampingan PBB dalam pengentasan kemiskinan, khususnya pemberdayaan perempuan. Selain itu, PBB melalui UNDP mengadakan program konservasi lingkungan. Wasini merupakan pulau dengan keragaman koral, spesies ikan, dan penyu. Tercatat ada 65 jenis koral, 25 spesies ikan, dan 5 penyu. Keindahan itu terancam akibat eksploitasi berlebihan.

Saya tidak tahu apakah menyebut Wasini sebagai pulau terisolir itu tepat. Yang jelas untuk menuju ke sana harus menggunakan perahu khusus. Sekitar 15 menit perjalanan air dari pelabuhan Shimoni. Saya langsung disambut dengan gugusan pohon baobab, pohon yang pertama kali saya lihat di film ‘Lion King’.

Ketika menyentuh pasir pantai beberapa warga langsung menawari ikan. Penduduk Wasini memang sebagian bekerja sebagai nelayan. Namun rombongan kami memiliki tujuan untuk menuju ke tempat yang kami sama sekali tidak diberitahu. Kami hanya menelusuri perkampungan yang rumahnya tersusun dari bebatuan karang. Atapnya menggunakan sebagian seng dan rumbia. Jalanan yang cukup kecil dilapisi dengan bebatuan.

“Wah, indahnya,” begitu seru salah satu rombongan melihat hambaran tanah lapang dengan susunan batu yang begitu rapi. Konon, batu-batu itu memang tersusun seperti itu. Jika sedang pasang, lokasi yang kami lihat sebagian akan tenggelam. Saya langsung ingin mengabadikan pemandangan itu.

“Stop, stop!” teriak salah seorang dari jarak yang sangat dekat. Ia menjelaskan bahwa kawasan itu tidak boleh difoto. Kami tanya mengapa? Ternyata kami belum membayar ‘tiket’ masuk ke pulau ini. Sehingga kami tidak berhak mengakses apapun. Agenda ‘belajar’ pada perempuan Wasini pun belum diagendakan sama sekali.

Kami pun tak bisa berlama-lama karena hari semakin gelap. Dengan membawa kekecewaan, kami berjalan gontai untuk kembali ke pelabuhan. Di salah satu sudut jalan kami menemukan lokasi pemakaman. Kami bertanya, makam siapa ini? Makam-makam yang kami lihat seperti makam muslim di Indonesia. Insting sarkub pun muncul. Apalagi saat pemandu kami menjelaskan bahwa makam itu adalah  makam ‘sesepuh’  yang cukup dihormati. Beberapa peserta touring pun langsung bersila dan membacakan tahlil.

Setelahnya kami melewati sebuah masjid yang usianya cukup tua. Di sana tertulis tahun 1701. Menurut cerita masjid itu termasuk masjid tertua di Kenya. Dibangun oleh para ‘wali’ yang menyebar Islam di kawasan Afrika Timur. Beberapa mendiami pulau Wasini yang keturunannya beranak pinak hingga hari ini.

Di sebelah masjid terlihat tiga pria dewasa sedang nongkrong. Entah mengapa saya melihat pandangan yang kurang bersahabat. Kami pun mengucapkan salam, ‘Assalamualaikum.’ Ajaib, raut wajah ketiganya berubah menjadi sangat hangat, bahkan memanggil kami untuk mendekat.
“Kalian muslim?”

“Iya, benar.”

“Selamat datang di kampung kami, saudara. Kalian berasal dari mana?”

“Indonesia”

“Wah, jauh sekali, ya. Saya sangat suka dengan Indonesia.”

“Anda pernah berada di sana?”

“Belum. Tapi saya ingin sekali mengunjungi Indonesia.”

Percakapan kami mengalir. Bahkan si bapak secara suka rela berkisah tenyang pulau Wasini, tentang masjid tertua, tentang makam pendiri yang dimakamkan di pohon baobab tertua di sana. “Silakan kalau mau berziarah makam berada di sana,” ujarnya sembari menunjuk satu lokasi.

Sementara itu pemandu kami sudah berkali-kali melihat jam. Langit pun semakin gelap. Ia memberi kode agar kami segera naik kapal. Saya dan beberapa anggota rombongan pun undur diri dan ‘mengajak’ mereka untuk mengunjungi Indonesia satu hari nanti.

“Come on.”

“Wait, for minutes.”

Kami berdiri di depan pemakaman yang dikelilingi pagar. Saya lupa namanya, yang jelas waktu itu kami mengirimkan Al-Fatihah kepada sang ‘penemu’ pulau itu. Setelah selesai kami langsung menuju kapal. Beberapa rombongan yang lebih dahulu ‘memarahi’ kami karena terlalu lama.

Ya, sedikit dimarahi tidak apa-apa. Karena justru percakapan singkat itu yang membuat saya terkesan dengan pulau ini. Rasa kangen saya untuk tahlilan dan mengirim doa di makam bisa tersalurkan saat hari terakhir kunjungan di Kenya.

 

Yogyakarta, 25 Maret 2021.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved