Connect with us

News

MOU Kolaborasi Dilakukan Usai Lebaran

Published

on

Proses Kolaborasi Antar Coach Sumber Daya Manusia, S.S Budi Raharjo, MM dan Bagya Mulyanto MM.

MATRANEWS.id – PT Usaha Konvergensi Media (UKM) ajak penulis dan motivator untuk bisa menulis. Majalah Trend Peristiwa (MATRA), komit untuk menjalin kerja sama dengan para motivator dan coach yang berkaitan sumber daya manusia.

Seperti diketahui, Joko Widodo meyakini infrastruktur yang sudah dibangun besar-besaran di periode pertama pemerintahannya sudah cukup bagi Indonesia untuk bisa bersaing dengan negara lain. “Kini, kita bergeser ke pembangunan SDM,” kata Presiden Jokowi.

Pembangunan SDM menjadi prioritas Jokowi. Maka, majalah Matra yang dulu dikenal dengan majalah pria ini telah memberikan pelatihan menulis, bagaimana menulis itu mudah. Para pesertanya adalah pelaku komunikasi atau organik humas di BUMN itu, semacam Telkom.

Jika selama ini pelatihan sumber daya manusia di beberapa BUMN, termasuk membantu Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam pembuatan in house magazine Sinar BNN. Telah berhubungan dan memberi pendampingan, dalam penulisan features dan investigasi.

“Untuk kali ini, kami akan merealisasikan program densus digital, dalam kaitan pendidikan information communication technology,” ujar S.S Budi Raharjo, Pemred Matra yang juga CEO majalah Eksekutif.

Pria yang kerap dipanggil Jojo ini menyebut, dalam hal ini Asosiasi Media Digital sudah support dan sedang menyiapkan silabusnya.

Ini salah satunya, adalah jembatan untuk merealisasikan hal itu. Jadi dalam konteks, membangun nilai-nilai agar kondisi masyarakat lebih baik.

“Kolaborasi ini tak bisa terhindarkan,” kata Bagya Mulyanto, coach yang sedang menyiapkan web yang menginspirasi dan membuat semua bahagia, Bagyanews.com. Intinya adalah untuk meningkatkan skill kita dan knowledge kita,” pria asal Karanganyar ini memaparkan.

“Setelah lebaran, MOU kerjasama akan dilakukan. Sekarang ini, baru penjajakan, pendahuluan. Istilahnya baru DP, down payment,” kata Bagya, sosok yang suka guyon ini menyebut pertemuan Senin, 20 Mei 2019 menjadi tonggak sejarah membentuk manusia hebat dan visi ke depan di era digital.

“Ya, ini merupakan refleksi personal, semoga bisa mencerahkan juga untuk bangsa ini,” ujar alumnus Universitas Jenderal Sudirman. Bagya yang kelahiran 9 Oktober 1968, merupakan Magister Manajemen dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Bagya Mulyanto pernah menjabat sebagai Asdep Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN sejak tahun 2015. Pada 11 Desember 2017 menjabat Direktur Utama PTPN 8, dan terhitung pada tanggal 10 Oktober 2018, sosok ini ditugaskan menjadi Direktur SDM dan Umum Perum BULOG.

baca juga: majalah MATRA edisi cetak — klik ini —

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

MELONGOK DIRI, MENEMU ILAHI – – SastraMagz.com

Published

on

By

banner 300250


Djoko Saryono *

Teks adalah tenunan kisah dan berita-pikiran yang galibnya dijaga akal dan atau hati. Pada dasarnya ia otonom dan mandiri. Kendati tak terpisahkan, namun ia tak selalu dan melulu bergantung pada penulisnya, apalagi orang lain – pembaca awam ataupun orang ahli. Beda dengan tuturan atau omongan yang hidup dalam dunia kegaduhan banyak orang, teks lebih memilih hidup dalam dunia kebeningan, ketenangan, keheningan, kekhusyukan, bahkan kesenyapan yang bermakna. Justru di situlah teks dapat terus hidup berbiak, melintasi waktu dan zaman. Seolah memiliki kaki, ia bergerak dan berderap hingga jauh sekali, menyapa sekian banyak anak manusia sebagai subjek pembaca, penafsir dan atau penggubah.

Tak heran, teks-teks yang agung, indah, bermakna dan berguna bagi kehidupan manusia senantiasa awet, bahkan langgeng, melintasi zaman dan gugusan kebudayaan dan peradaban manusia. Teks-teks yang bernas, elok, dan memukau selalu dicari, dibaca, ditafsirkan, digali, dan didulang oleh banyak orang. Begitulah, setiap teks yang mencahayakan keagungan, keindahan, kecemerlangan, dan kegemilangan akan selalu digali, ditafsir, dirujuk, dan diteladani oleh banyak orang dari pelbagai lintasan zaman dan budaya berbeda.

Tentulah semua sepakat bahwa semua itu telah dibuktikan oleh teks al-Asmaul al-Husna atau kerap dieja Asmaul Husna. Teks Asmaul Husna adalah sebuah kisah dan berita-pikiran menakjubkan tentang nama-nama Allah yang agung, indah, cemerlang, dan gemilang yang perlu diketahui dan dijaga oleh setiap muslim. Jelaslah ia bukan pulungan atau comotan gagasan atau pikiran orang lain; jelas pula ia juga bukan jahitan gagasan atau pikiran orang lain. Ia adalah sebuah teks ilahiah atau religius yang orisinal dan otentik yang tiada duanya yang berhulu sekaligus bermuara pada kitab suci. Tak heran, teks tersebut mampu bergerak dan berderap melintasi masa-masa yang mengagungkannya dan menyepelekannya; menyapa sekian banyak generasi manusia yang berhasrat mengkhatamkan kisah dan berita-pikiran di dalamnya, sekian banyak anak manusia yang justru hendak melupakan, bahkan meninggalkannya. Ini semua lantaran horison harapan tiap anak manusia berbeda-beda dalam melihat teks Asmaul Husna.

Tak ayal, dalam sepanjang keberadaannya hingga sekarang, teks Asmaul Husna dirujuk dan dipedomani sekaligus dilupakan dan ditinggalkan oleh anak manusia; diawetkan dan diabadikan sekaligus dicoba dilupakan dan ditinggalkan. Tapi, kita tahu, teks adalah dunia keberaksaraan, yang tak gampang dilupakan, juga tak gampang dihilangkan atau dilenyapkan oleh siapapun makhluk. Telah terbukti, dunia keberaksaraan menjadi tempat berkubu dan bertiwikrama teks. Dengan gamblang sekarang kita melihat teks Asmaul Husna selalu bertiwikrama: kian lama kian membesar, menjelma beribu-ribu, bahkan berjuta teks. Ini membuktikan ia benar-benar awet, bahkan langgeng.

Kenapa sebuah teks dapat awet atau langgeng? Sebuah teks dapat awet atau langgeng lantaran keterbukaan teks itu. Ketertutupan sebuah teks hanya mengakibatkan kematian teks. Kita tahu, teks Asmaul Husna adalah sebuah teks terbuka, bukan tertutup. Sebagai teks terbuka, ia selalu siap dan bebas dibaca dan ditafsirkan, bahkan dirujuk dan dipedomani untuk berbagai-bagai kepentingan atau maksud, mulai penyembuhan sampai dengan puitik-estetik. Hingga sekarang, sudah barang tentu, telah ada beribu-ribu hasil pembacaan dan penafsiran teks Asmaul Husna.

Kumpulan puisi religius Tadjudin Nur bertajuk Senandung Sanubari ini adalah sebuah hasil pembacaan dan penafsiran terhadap bentuk, isi, dan fungsi teks Asmaul Husna. Kumpulan puisi religius Tadjudin Nur ini telah menjadikan teks Asmaul Husna sebagai rujukan dan pedoman tunggal puitika/estetika: teks Asmaul Husna adalah lautan yang diciduk puitika/estetikanya oleh Tadjudin untuk menghasilkan puisi-puisi dalam teks Senandung Sanubari. Kumpulan puisi ini tak lain adalah teks penerimaan puitis/estetis atas teks Asmaul Husna. Teks penerimaan puitis/estetis ini bisa menjadi energi kehidupan baru bagi teks Asmaul Husna pada satu sisi dan pada sisi lain teks Asmaul Husna menjadi energi utama kehidupan teks Senandung Sanubari. Begitulah, teks Asmaul Husna dan teks Senandung Sanubari senantiasa bersama menari-nari dalam permainan teks.

Kenapa teks Asmaul Husna awet atau langgeng dalam permainan teks yang terus-menerus dan malah melahirkan teks penerimaan yang demikian banyak, di antaranya teks Senandung Sanubari karya Tadjudin Nur ini? Pertama-tama, sebab ia teks religius atau ilahiah yang menyelamatkan kelangsungan hidup anak manusia yang membeberkan bukan saja keagungan dan keindahan nama-nama Allah, tetapi juga memberitahukan janji keselamatan manusia bilamana menjaga Asmaul Husna. Maka, tak heran, manusia senantiasa lebur atau sirna dalam pukau Asmaul Husna.

Tadjudin Nur adalah anak manusia yang juga lebur atau sirna dalam pukau Asmaul Husna yang kemudian menggerakkan pikir, hati, dan tangannya untuk menggubah teks Senandung Sanubari. Kedua, sebagai teks ilahiah yang bersumbu keagungan dan keindahan nama Allah, ia sungguh menyegarkan, menggugah, memberdayakan, dan bahkan mentransformasikan diri pembaca. Tadjudin Nur adalah anak manusia yang menikmati kesegaran, ketergugahan, keberdayaan, dan daya transformasi Asmaul Husna sehingga mampu menorehkan puisi-puisi dalam Senandung Sanubari. Selain itu, ketiga, teks Asmaul Husna ditenun dengan halus dan mulus sekaligus penuh-kuasa sehingga mampu memancarkan keagungan dan keindahan asma-asma Allah: tenunan kata-kata, kalimat-kalimat, dan gaya-gaya tutur yang hidup-bertenaga, cerdas-berdaya, dan membimbing pembaca untuk berdiam berlama-lama dalam teks.

Kuasa kata-kata, kalimat-kalimat, dan gaya-gaya tutur yang ada di dalam teks Asmaul Husna demikian otentik, orisinal, ekspresif, dan inspiratif sehingga mampu menggiring atau menggerakkan orang untuk bertindak menyusuri jalan-jalan kebenaran, keagungan, dan keindahan hingga tiba di palung diri. Tadjudin Nur pun mendulang hal tersebut secara total sehingga teks Senandung Sanubari gubahannya ini memanifestasikan puitika/estetika Asmaul Husna. Tegasnya, kumpulan puisi Senandung Sanubari ini berwajah puitika/estetika Asmaul Husna.

Puitika/estetika Asmaul Husna adalah puitika/estetika ketauhidan yang bersendikan ketuhanan dan kemanusiaan. Tak heran, puisi-puisi Tadjudin dalam teks Senandung Sanubari ini menyeru kepada pembacanya untuk melakukan perjalanan spiritual atau religius dan melakukan penelusuran jalan-jalan ketuhanan dengan cara membatinkan dan menghayatkan keagungan dan keindahan asma-asma Allah dalam diri manusia sekaligus mewujudkan dan menyosokkan tindakan-tindakan kemanusiaan dalam hidup bersama manusia.

Perjalanan ketuhanan beserta tindakan kemanusiaan tersebut harus dilakukan dengan penuh kelapangan, keriangan, dan kebahagiaan, bukan keterpaksaan, kesenduan, dan kesedihan. Sebagaimana tersurat jelas dalam judul kumpulan puisi ini, yaitu Senandung Sanubari, perjalanan ketuhanan beserta tindakan kemanusiaan itu perlu dilakukan dengan bersenandung yang keluar dari hati sanubari setiap anak manusia: senandung keagungan dan keindahan asma Allah, bukan teriakan-teriakan dan serapah-serapah kasar disertai acungan senjata dan kata-kata berbisa. Perjalanan ketuhanan beserta tindakan kemanusiaan itu akan berujung atau berakhir pada diri sanubari manusia sebab Tuhan ada di dalam diri sanubari manusia yang telah sempurna kemanusiaannya, bukan taman-taman indah buatan manusia, gedung-gedung megah ciptaan manusia, dan permainan menawan karya manusia.

Itulah sebabnya, demikian pesan pokok teks Senandung Sanubari, manusia yang telah menemukan Tuhan atau menemu ilahi adalah manusia yang telah mampu menghuni palung sanubarinya sendiri dan dari situ selalu mampu menyenandungkan keagungan dan keindahan asma Allah. Di sinilah kita menemukan sebuah tesis: manusia yang telah mampu melongok diri sanubari sendiri niscaya menemu ilahi; manusia senantiasa bersama Tuhan dan Tuhan senantiasa bersama manusia. Dalam istilah spiritualitas Jawa, inilah wujud warongka manjing curiga (curiga manjing warongka), bungkus bertemu isi (isi bertemu bungkus).

Teks Senandung Sanubari tampaknya hendak mewartakan kepada pembaca bahwa puitika/estetika Asmaul Husna bersumbu pada keselarasan, kebersatuan, dan keleburan, bukan bersumbu pada kekacauan, keretakan, dan keberjarakan antara teks spiritual/religius dan manusia yang mencerap dan mencecap pengalaman puitik/estetik. Dengan keselarasan, kebersatuan dan keleburan hati sanubari dengan objek puitik/estetik berupa keagungan dan keindahan ilahi, maka hati sanubari pembaca dengan tulus selalu mampu menyenandungkan keagungan dan keindahan ilahi.

Hati sanubari Tadjudin Nur juga telah selaras, bersatu, dan lebur dengan Asmaul Husna sehingga dia mampu menyenandungkan keagungan dan keindahan ilahi dalam teks puisi Senandung Sanubari ini. Tak mungkin Tadjudin Nur mampu menggubah teks Senandung Sanubari bilamana hati sanubarinya masih kacau, retak, dan berjarak dengan Asmaul Husna. Jadi, puitika/estetika Asmaul Husna yang dipraktikkan Tadjudin Nur merupakan sebuah puitika/estetika holistik (utuh) antara subjek dan objek puitik/estetik.

Sejalan dengan itu, dapat dikatakan, teks Senandung Sanubari adalah candi puitika/estetika Asmaul Husna yang ditawarkan oleh Tadjudin Nur kepada dunia puisi Indonesia. Tentu saja, harus diakui bahwa dalam dunia puisi Indonesia, Tadjudin Nur dengan teks Senandung Sanubari hanyalah salah seorang, bukan satu-satunya orang, yang memperkaya taman puitika/estetika Asmaul Husna. Sebelumnya telah ada berbagai penyair dengan teks Asmaul Husna masing-masing yang mengisi dan memenuhi taman puitika/estetika Asmaul Husna, di antaranya Emha Ainun Najib dengan 99 Nama Tuhanku.

Sekalipun demikian, Tadjudin Nur dengan teks Senandung Sanubarinya telah memberi arti penting puitika/estetika Asmaul Husna dalam dunia puisi Indonesia di tengah perkembangan puisi Indonesia yang kian beragam. Oleh karena itu, selamat kepada Tadjudin Nur yang telah mengumumkan teks puisi Senandung Sanubari kepada publik sastra. Semoga Allah memberkahi, semoga pembaca dapat mencecap keagungan dan keindahan ilahi yang disenandungkan Tadjudin Nur, bahkan mandi cahaya keagungan dan keindahan ilahi. Sekian. Allah Mahaagung dan Mahaindah dan puisi selalu dicinta Allah karena mencahayakan keagungan dan keindahan. Terima kasih.
***


*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.



Sumber Berita

Continue Reading

News

Jayati Seni ing Tlatah Jenggala – – SastraMagz.com

Published

on

By

banner 300250


Ribut Wijoto
beritajatim.com, 9 April 2021

“Dalam prasasti Ngantang (tahun 1135), ada dituliskan istilah ‘Panjalu jayati’, artinya Panjalu (Kediri) menang. Istilah itu menjadi simbol kemenangan Panjalu atas Jenggala. Nah, kita usung momentum tersebut untuk spirit pemajuan seni di Sidoarjo”.

Kalimat beraroma seni dan sejarah itu dilontarkan oleh Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo. Yaitu, saya sendiri.

Ada banyak versi dari sejarah perseteruan antara Jenggala – Panjalu. Dua kerajaan hasil pembelahan Kerajaan Kahuripan yang dilakukan Raja Airlangga dan Mpu Sendok sebagai pelaksananya, konon dipisahkan oleh Sungai Berantas. Dua kerajaan bersaudara, bersaing, berseteru, dan perang.

Pada prasasti Turun Hyang II (tahun 1044) dijelaskan raja pertama Jenggala adalah Mapanji Garasakan alias Sri Maharaja Mapanji Garasakan. Dalam prasasti itu diterangkan bahwa Mapanji Garasakan menetapkan desa Turun Turun Hyang sebagai sima swantantra atau perdikan karena membantu Jenggala melawan Panjalu. Lalu di prasasti Malenga (tahun 1052), anugerah yang sama diberikan Mapanji Garasakan kepada desa Malenga. Sebab desa Malenga membantu Jenggala mengalahkan Raja Tanjung, seorang raja yang menjadi bawahan Panjalu.

Raja Jenggala selanjutnya Alanjung Ahyes alias Sri Maharaja Mapanji Alanjung Ahyes. Pada prasasti Banjaran (tahun 1052) dijelaskan, Alanjung Ahyes berhasil memukul musuh berkat bantuan pemuka desa Banjaran.

Raja berikutnya Samarotsaha alias Sri Maharaja Rake Halu Pu Juru Sri Samarotsaha. Keberadaan Raja Samarotsaha tertulis di prasasti Sumengka (tahun 1059) tentang penetapan desa Sumengka sebagai sima swatantra.

Setelah raja-raja itu, Panjalu menang dan Jenggala kalah. Panjalu jayati. Kita tidak tahu bagaimana proses kemenangan itu terjadi. Yang kita tahu, saat ini, sulit ditemukan jejak-jejak peninggalan dari Kerajaan Jenggala.

Termasuk di Sidoarjo, wilayah yang konon menjadi pusat kota Jenggala. Ada yang bilang, perang zaman itu, pihak yang menang akan menghapuskan pihak yang kalah. Seperti sopir pribadi yang membersihkan bercak-bercak di kaca mobil milik juragannya.

Selain perkara keluarga, sebuah versi lain menyebutkan, sengketa Jenggala – Panjalu adalah urusan kesejahteraan. Jenggala lebih makmur dibanding Panjalu. Sebab Jenggala memiliki sumber perekonomian berupa pelabuhan Porong. Kemakmuran Jenggala membuat Panjalu ingin merebut pelabuhan Porong. Panjalu jayati. Akhirnya Panjalu menang.

Kemenangan yang (mungkin karena bermula dari perseteruan sesama saudara) terus berputar-putar di kepala para petinggi kerajaan dan masyarakat. Ia menjelma kenangan indah, mimpi, ataupun trauma. Selanjutnya lahirlah kisah-kisah Panji. Kisah petualangan melodrama sekaligus patriotik antara Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji beserta tokoh-tokoh lain yang karakteristik.

Kita melihat sesuatu yang unik dari perseteruan Jenggala – Panjalu. Sebuah perseteruan yang lantas melahirkan karya seni (kisah-kisah Panji). Jayati Seni ing Tlatah Jenggala. Maka, kali ini, momentum histori tersebut kemudian digenggam kembali untuk spirit pemajuan seni di Sidoarjo.

Komite Sastra dan Komite Seni Tradisi Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) mengundang tokoh-tokoh sastra Jawa dan seni tradisi untuk mengekspresikan citra estetiknya. Citra estetik yang di dalamnya terkandung pemikiran dan pandangan atas dunia. Juga wujud keintiman transendensi, hubungan manusia dengan penciptanya.

Kita undang Suharmono Kasiyun. Tokoh yang sudah dua kali meraih Penghargaan Rancage ini bakal membacakan gurit alias puisi berbahasa Jawa. Kita undang pula Widodo Basuki untuk membaca gurit. Dia tokoh yang senantiasa mengembangkan tradisi sastra Jawa, termasuk melalui majalah Jaya Baya. Lalu Leres Budi Santoso bakal membaca cerkak, cerita cekak. Lalu dua anak muda yang dikomandani oleh Joko Susilo, yaitu Eko Pristianto dan Muhammad Sigit Herdianto.

Dari barisan seni tradisi, kita undang Faruq Abdillah. Seorang pambiwara yang bakal menyajikan adat tradisi kemanten. Puguh Widodo yang bakal melantunkan tembang macapat. Teman-teman di Cemandi Art Sedati yang bakal membawakan gending. Juga Ki Anthony Setiawan dengan lakon wayang Dewa Ruci.

Di Sidoarjo, sastra Jawa dan seni tradisi diminati oleh segala usia. Maka, acara ini bakal dibuka dan ditutup oleh sajian karawitan dari para pelajar SMPN 1 Porong. Mereka sekaligus mengiringi tembang Marikangen dari Regita, finalis The Voice Kids Indonesia asal Sidoarjo.

Acara bakal dipandu oleh Robert Bayoned. Tokoh muda yang gondrong, energik, dan mbeling. Dia saat ini sedang getol mendirikan Ludruk Baladda di Sidoarjo. Upaya dia untuk mengulang suksesnya mendirikan Ludruk Luntas di Surabaya.

Jayati Seni ing Tlatah Jenggala. Kita berharap momentum tidak hanya berhenti pada acara bertitel ‘Pertunjukan Sastra Jawa vs Seni Tradisi’ di Dekesda Art Center, Jl Erlangga No 67 Sidoarjo, Minggu (11 April 2021), pukul 14.00 – 16.00 WIB. Pemajuan seni adalah sesuatu yang hidup. Terus bergerak dari hari ke hari. Entah sampai kapan dan entah sampai di mana.
***


*) Ribut Wijoto, lahir di Tulungagung, 23 Maret 1974. Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), anggota Teater Gapus, Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP), Bengkel Muda Surabaya (BMS), wartawan media online beritajatim.com, dan penjual buku bekas. Pernah mengeditori buku puisi ‘Ayang-Ayang’ (Gapus Press, 2003), ‘Ijinkan Aku Mencintaimu’ (Gapus Press, 2006), ‘Menguak Tanah Kering’ (Kumpulan puisi bersama Teater Gapus, 2001), ‘Permohonan Hijau, Antologi Penyair Jawa Timur’ (Festival Seni Surabaya, 2003), ‘Rumah Pasir’ (Festival Seni Surabaya, 2008), buku puisi ‘Pertemuan Penyair Jawa Timur’ (Disbudpar Jatim, 2009), ‘Wong Kampung’ (Festival Seni Surabaya, 2010), ‘Tenung Tujulayar’ (Gerilya Sastra, DK Jatim, 2014), mengeditori belasan buku puisi yang diterbitkan ‘Halte Sastra’ (DKS, 2009-2015), mengeditori buku puisi ‘Majelis Sastra Urban’ (DKS, 2018-2020), ‘Dan Di Genggaman Ini, Mengalir Sihir’ (BMS, 2019), ‘Di Tepi Jalan Pantura’ (Forum Sastra Maritim, 2020), dan beberapa buku puisi lain.



Sumber Berita

Continue Reading

News

Puisi, Perjalanan, dan Identitas Diri yang Terkoyak – – SastraMagz.com

Published

on

By

banner 300250


Junaidi Khab *
Radar Surabaya, 4 Feb 2018

Di lingkungan Yogyakarta, gerakan literasi dan kultur hingga seni mendapat lahan empuk untuk terus hidup dan berkembang. Itu digawangi dari beberapa pecinta litarasi, bukan serta-merta penggerakknya secara dominan dari kalangan masyarakat Yogyakarta sendiri. Tetapi, mereka datang dari beberapa daerah yang hidup merantau di Yogyakarta untuk berjuang dan saling bertemu dengan sesama pecinta literasi. Dari peradaban satu visi dan misi ini, lahirlah Yogyakarta sebagai kota pendidikan, seni, budaya, dan literasi selain memang Yogyakarta kentara dengan ciri khas budaya dan tradisi masyarakatnya.

Terlebih setelah kehadiran kelompok penerbit Sastra Pejuangan (SP) dan Basabasi yang dinaungi oleh DIVA Press Yogyakarta, gerakan literasi dan kesusastraan semakin menyala dan diminati di Yogyakarta hingga ke beberapa daerah di Jawa. Dua lini penerbit ini – SP dan Basabasi – merupakan garda terdepan di Yogyarkarta dalam menerbitkan karya-karya sastra seperti kumpulan cerpen dan esai, novel, dan khususnya antologi puisi. Inisiatif CEO DIVA Press Yogyakarta – Edi Mulyono – perlu kiranya kita dukung guna menggerakkan literasi masyarakat di Indonesia.

Pada Senin, 22 Mei 2017 sekitar pukul 19:00 WIB, sastra Basabasi kembali me-launching antologi puisi karya Bernando J. Sujibto berjudul Rumbalara Perjalanan yang dibanding oleh Muhammad Al Fayyadl lulusan master (Prancis) di Kafe Blandongan, Sorowajan Yogyakarta. Antologi puisi tersebut lahir sebagai anak sastra Bernando yang lahir di Turki saat dia menempuh perjalanan pendidikan magister di Timur Tengah. Hal itu menjadi sesuatu yang sangat istimewa, karena puisi-puisi yang disajikan di dalamnya – tentu – memiliki aroma khas yang berbeda dengan puisi-puisi yang lahir di nusantara dari rahim imaji para penulis dalam negeri lainnya. Lebih dari itu, puisi memiliki nilai tersendiri untuk dibaca, dipahami, dan direnungkan dalam kehidupan.

Akhmad Taufiq (2016) dalam pengantar bukunya menyatakan bahwa puisi baginya merupakan suatu bentuk penghadiran peristiwa melalui proses imajinatif dengan sentuhan estetika; sehingga realitas dengan segala kompleksitasnya mampu diungkapkan menggunakan gaya dan pengucapan yang sesuai lingkungan historisnya. Oleh karena itu, melalui bahasa, puisi tidak jauh dengan realitas, sekaligus dengan sentuhan historitas itu mampu menjadi penanda sejarah tersendiri dengan segala aspek estetiknya. Bernando telah berhasil merealisasikannya saat melakukan rihlah akademik ke Turki. Dari perjalannya itu, dia bisa membawa rupa dan warna beribu makna dalam bait-bait puisinya.

Perjalanan sebagai Rumah

Seperti dikatakan oleh Muhammad Al Fayyadl bahwa perjalanan ke Istanbul yang dilakukan oleh Bernando dengan cara berbeda. Puisi Bernando lahir dari perjalanannya saat ke Istanbul. Puisi kadang mengecoh. Penyair seakan singgah di suatu tempat secara menyeluruh. Dari goresan penanya, Bernando seakan sudah mengingat seluruh lekuk tempat yang pernah dijalani atau dilewati. Secara dominan, Bernando menuliskan puisinya melalui kekuatan visual.

Revolusi perjalanan Bernando cukup kompilatif dalam meramu anak-anak puisinya. Status kelahiran puisi sangat menentukan ketika dibesarkan di kota-kota berpengaruh. Sebut saja di Turki dari kumpulan puisi Bernando ini. Kita tentu tidak dapat memungkiri kehebatan Bernando yang berdarah Madura dan menempuh perjalanan pendidikannya di Yogyakarta hingga ke Turki. Lalu, dia melahirkan anak-anak puisi yang dikandungnya selama berjalan di luar negeri. Sebuah prestise yang cukup hebat dan membanggakan. Rumbalara, nama suatu tempat, yaitu rumah khas suku Aborigin. Kata Fayyadl, bagi Bernando perjalanan merupakan rumah kehidupan seperti Rumbalara.

Bernando menyebut Rumbalara sebagai pelangi: pelangi perjalanan. Dalam perjalanan selalu menyuguhkan keindahan tersendiri bagi masing-masing individu. Perjalanan sebagai pilihan dan proses. Dia tidak bisa diam untuk tidak tahu. Penyair itu penuh dengan tipuan puisi sebagai racun-racun rasa kehidupan yang melenakan dan mengheningkan batin. Suatu tempat akan menjadi imajinasi yang mampu melahirkan bait-bait puisi.

Sebelum melakukan perjalanan untuk melahirkan puisi, Bernando melakukan beberapa hal: Pertama, dia mempelajari suatu objek tujuan yang akan ditempati kelahiran puisinya. Kedua, dia memerhatikan kehidupan sosial objeknya. Ketiga, dia melihat dan memahami artefak-artefak peninggalan yang masih ada. Jauh lebih rinci menurutnya, bahwa membaca sebuah puisi akan sia-sia kecuali memerhatikan simbol-simbol dan metafor yang disajikan di dalamnya oleh penyair sendiri.

Puisi dan Sudut Pandang

Dalam persoalan menulis puisi, sebenarnya tak ada unsur intrinsik seperti dalam menulis cerpen atau novel. Tetapi, Bernando dalam puisi-puisinya masih menggunakan sudut pandang tertentu. Misalkan sudut pandang dalam penulisan puisi Bernando: dia menjadi orang pertama atau dia menjadi objek puisi itu sendiri yang memainkan metafor dan diksi-diksi. Kata Bernando, sudut pandang sebenarnya tak begitu penting dalam puisi, tetapi hal itu juga menjadi penentu dalam memosisikan para pembaca. Sehingga, estetika puisi yang dihasilkan oleh penyair bisa dinikmati sedemikian rupa: tidak monoton.

Misalkan antologi puisi yang ditulis oleh penghuni lapas Wirogunan berjudul Suara-Suara dari Wirogunan (2016) yang menggambarkan perihal situasi monoton yang dirasakan oleh para penghuni lapas dalam penjara. Kumpulan puisi ini merupakan salah satu karya yang juga perlu diapresiasi, karena ditulis oleh para penghuni lapas dengan bimbingan penyair Iman Budhi Santosa, Jati Suryono, Budi Sarjono, dan Ons Untoro.

Berbeda dengan karya Gratiagusti Chananya Rompas dalam antologi puisinya Kota Ini Kembang Api (2016) yang menggunakan dua sudut pandang: penulis sebagai orang pertama dan orang ketiga. Antologi puisi ini kiranya tak jauh berbeda dengan cara Bernando mengilustrasikan imajinasi putiknya dalam perjalanan yang dianggap sebagai rumahnya sendiri.

Para penyair dan penulis seperti halnya Bernando akan menjadi kuli abjad demi perjalanan hidupnya dengan menganggap perjalanan itu sebagai rumahnya sendiri. Ukiran para penyair kiranya akan menggugah masyarakat pembaca jika bisa memiliki negative capability, yaitu kemampuan penyair dalam mengabadikan suatu peristiwa agar tetap utuh saat terulang kembali seperti saat pertama kali dijumpai. Segala kompleksitas perjalanan hidup akan mudah dibaca dan dijadikan sebagai cermin bening kehidupan melalui puisi yang diukir oleh penyair menggunakan kanvas diksi bahasa dan kata-katanya. Lumrahnya, puisi lahir akibat identitas diri yang merasa terkoyak oleh rasa.
***

*) Penulis adalah Akademisi asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Menetap di Yogyakarta.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved