Connect with us

Perjalanan

Mengenang Goethe di Weimar

Published

on

Dengan penduduk sejumlah kira-kira 65 ribu jiwa, Weimar bukan termasuk kota besar. Pun bukan kota yang luas. Kedua alasan tersebut tak menghalangi Weimar untuk menjadi kota budaya mencengangkan. Ia ditahbiskan sebagai Ibukota Budaya Eropa tahun 1999. Tak kalah dengan kota-kota besar Eropa seperti Paris, Amsterdam, Athena, Stockholm, yang juga pernah ketiban sampur Ibukota Budaya Eropa.

Saya dan keluarga mengunjungi Weimar di negara bagian Thuringia, Jerman, pada musim panas tahun pandemi. Lockdown di Jerman mulai longgar. Jumlah kasus di pertengahan tahun sangat berkurang. Protokol kesehatan tetap diberlakukan. Terutama jika kita memasuki ruangan tertutup.

Kota Weimar, yang di abad 18-19 berpenduduk hanya 6 ribu-an jiwa, adalah kota para intelektual Jerman. Memikat orang-orang seperti Christoph Martin Wieland (1733-1813), Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832), Johann Cristoph Friedrich Schiller (1759-1805), Johann Gottfried Herder (1744-1803). Zaman kehidupan para penyair dan pemikir itu di Weimar dikenal sebagai Weimarer Klasik. Masa dimana karya-karya literatur hebat dan mendunia penulis Jerman dihasilkan. Atas andil merekalah Weimar diganjar sebagai kota warisan budaya Unesco tahun 1998.

Goethe yang menghabiskan lebih dari separuh usianya di Weimar, datang kemari tahun 1775 memenuhi undangan pangeran Carl August von Sachsen-Weimar-Eisenach. Seorang bangsawan yang tak terlalu luas daerah kekuasaannya. Di Weimar, selain aktif menulis, Goethe memiliki berbagai karir politik: menteri keuangan, kepala perpustakaan, pemimpin teater, hingga peneliti.

Setengah harian kami berjalan kaki mengunjungi beberapa tempat yang akrab dengan Goethe. Weimar kota ramah pejalan kaki. Objek-objek wisata utamanya lumayan berdekatan. Pagi-pagi kami sudah memarkir kendaraan di spot parkir bawah tanah di samping Taman Park an der Ilm. Destinasi pertama kami adalah Perpustakaan Anna Amalia, di ujung taman.

Di masa pandemi, saya sebenarnya menghindari masuk ke dalam ruangan tertutup.  Tetapi saya kecualikan perpustakaan ini. Tempat ini sudah lama sekali ingin saya datangi. Sebuah perpustakaan yang digadang-gadang sebagai salah satu perpustakaan terindah di Jerman. Siapa tak penasaran dibuatnya? Antrian sudah panjang ketika kami sampai di depan gedung perpustakaan. Antrian rapi dan jaga jarak.

Sekira sejam menunggu, petugas mempersilakan kami berempat masuk. Ibu petugas mengarahkan kami ke tempat disinfeksi tangan, meminta kami mengisi formulir sebelum menunjukkan konter pembelian tiket. Ruangan perpustakaan utama berada di lantai 2. Ibu petugas berikutnya menunjukkan alas kaki tebal yang harus kami pakai. Lantai  kayu perpustakaan sudah ratusan tahun umurnya. Harus dijaga dengan baik. Ruangan utama perpustakaan sungguh istimewa. Terdiri dari 3 lantai. Namun kami hanya boleh berdiam di aula utama.

Kabar kecantikan interior perpustakaan dibangun tahun 1691 memang bukan isapan jempol belaka. Mulai dari dindingnya yang didominasi warna putih berhias warna emas, lantai kayu kunonya yang licin, penataan ruangan yang didominasi lengkungan dan dihubungkan pintu terbuka berbentuk busur, dekorasi berupa patung-patung dan lukisan, hingga koleksi buku-buku kunonya yang tak boleh disentuh pengunjung biasa. Semua istimewa. Untuk bisa membaca naskah kuno berjumlah sekitar 40 puluh ribu judul, perlu izin khusus. Biasanya diperuntukkan bagi para peneliti. Goethe mengepalai perpustakaan ini dari tahun 1797-1832. Beliau memastikan perpustakaan Anna Amalia memperoleh buku-buku bermutu, memperbaiki birokrasi dan melakukan renovasi.

Dari perpustakaan, kami menyeberang ke ruangan terbuka Platz der Demokratie. Di tengahnya berdiri monumen patung berkuda Carl-August. Bangsawan Jerman masa silam sering digambarkan sedang menunggang kuda. Kami menuruni jalan di tepi Park an der Ilm untuk berfoto di depan Stadtschloss (Istana) Weimar. Sebuah kompleks bangunan yang rasanya terdiri dari tiga bagian berbeda. Terdepan berfasad abu-abu. Sebuah menara batu, setengah ke atas berwarna hitam di bagian tengah, dan sebuah bangunan lebih luas di bagian kanan. Setelah terbakar tahun 1744, Goethe membantu perencanaan renovasi di tahun 1789. Di tempat inilah para bangsawan Weimar berkumpul. Sejak tahun 1923 kompleks bangunan ini berfungsi sebagai museum.

Cuaca hari yang cerah dan hangat hari itu menjadikan pusat Weimar ramai. Saya jatuh cinta pada kota ini. Tidak terlalu besar, nyaman,  pohon-pohon rindang tumbuh di tepian jalan, dan berasa sekali hasrat mereka terhadap dunia literasi dan budaya. Banyak saya jumpai toko-toko buku ramai didatangi orang. Beberapa bagian kota sedang direnovasi. Melewati bekas rumah dan museum Friedrich Schiller, kami sampai di tempat terbuka berisi Monumen Goethe-Schiller.

Persahabatan dua penyair besar Jerman bermula tahun 1794. Goethe tidak menyembunyikan kekagumannya pada Schiller. Yang disebutnya sebagai jenius literatur terhebat di zamannya. Goethe merasa, hanya Schiller yang mampu memahami cita rasa karya seni dan sastra miliknya. Goethe dan Schiller saling berkirim surat, bekerja sama menerbitkan majalah literatur: Die Horen, bahkan menciptakan gubahan berdua. Ketika Schiller meninggal dunia di usia 45 tahun akibat radang paru-paru, Goethe merasa separuh dirinya ikut pergi.

Dua patung Goethe dan Schiller berdiri tegak di depan gedung teater Weimar. Adalah pematung Ernst Rietschel pembuatnya. Tangan kiri Goethe menyentuh pundah Schiller, tangan kanan memegang mahkota daun. Kedua patung memandang ke arah berbeda. Para turis, termasuk saya bergantian berfoto dengan latar belakang monumen.

Rumah Goethe, beralamat di Frauenplan, berjarak kira-kira 400 meter dari monumen. Setengah abad lamanya Goethe mukim di sana. Di dalam bangunan tiga lantai berdinding warna kuning. Mulanya sebagai penyewa, hingga Carl August menghadiahkan bangunan tersebut pada Goethe. Di sanalah ia tinggal bersama keluarga dan para asisten. Mebel, memorabilia, alat-alat rumah tangga dipamerkan sehingga pengunjung bisa membayangkan gaya hidup Goethe di masa silam.

Lewat tengah hari, kami berjalan ke arah selatan. Ke sebuah kompleks pekuburan. Dari luar terlihat seperti sebuah taman raksasa dikelilingi tembok lumayan tinggi.  Pekuburan kuno untuk warga dan kaum bangsawan Weimar. DI tempat inilah banyak sosok penting dalam sejarah menempati peristirahatan terakhirnya. Termasuk Goete, Schiller, dan Carl August. Mereka bertiga beristirahat di dalam sebuah gedung tersendiri, Fuerstengruft.

Menyeberangi jalan, melewati gedung Universitas Bauhaus Weimar, kami kembali ke Taman Park an der Ilm. Taman ini berada di tepian sungai Ilm. Tempat ini sungguh nyaman buat rekreasi. Pohonnya rindang, bunga-bunganya terawat rapi dan bersih. Orang jogging, berjalan-jalan sendiri atau bersama rombongan, mempraktikkan yoga, bermain musik, membaca buku, atau sekadar duduk-duduk beralas rumput.

Sebelum kembali ke tempat parkir, kami sempatkan sekali lagi menengok satu monumen sederhana sepi pengunjung. Monumen Goethe-Hafiz.

Goethe mengenal karya penyair Persia Shamsuddin Muhammad Hafiz dari Shiraz (kira-kira 1320-1389) di usianya ke 65. Setelah meminta Joseph von Hammer menerjemahkan karya Hafiz, Divan. Membaca Divan, Goethe merasa dirinya menembus batas waktu, geografis, agama, dan budaya. Ia rasakan kedekatan dengan penyair muslim Persia dari abad 14 tersebut, menganggap Hafiz sebagai kembaran jiwanya. Menginspirasi dan membangkitkan semangat Goethe menggubah West-Eastern Divan saat usianya sudah tidak muda.

Representasi bagi Hafiz dan Goethe digambarkan melalui dua kursi batu granit berukuran besar, mirip singgasana. Diresmikan tahun 2000 oleh mantan presiden Jerman Johannes Rau dan mantan presiden Iran, Mohammad Khatami. Kedua kursi berdiri saling berhadapan. Sama besar, sama tinggi. Keduanya berdiri di atas sebuah lempengan perunggu persegi, permukaannya bermotif bintang. Bagian tengah lempengan berhias sebuah gazal dari Divan karya Hafiz dalam bahasa Persia. Sedangnya di belakang kedua kursi kita bisa membaca potongan syair gubahan Goethe dari West-Eastern Divan, dalam bahasa Jerman.

Kedua kursi berhadapan tersebut bisa jadi merupakan simbol komunikasi antar budaya dan agama, toleransi budaya, serta pemahaman antar bangsa. Di satu sisi Hafiz, seorang muslim dari dunia timur. Di sisi lain Goethe, seorang kristiani dari barat. Keduanya berdiri sama tinggi. Seperti petikan karya Goethe: Barangsiapa mengenal diri dan orang lain, akan juga mengenali, bahwa timur dan barat, tak akan terpisahkan.

Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perjalanan

Kisah Petualangan George Quinn Menziarahi Makam Wali Nyentrik di Tanah Jawa

Published

on

By


“Bapak tahu kalimah syahadat, kan?” “Tahu.” “Dalam bahasa Arab?” “Ya.” “Lantas mengapa tidak Bapak ucapkan? Mengapa Bapak tidak pindah agama saja?”

Kutipan dialog ini merupakan pembuka dalam bab pertama yang mengulas pengalaman ziarah sang penulis di Makam Sunan Kalijaga.

Permintaannya blak-blakan, tetapi ramah. Tutur George Quinn, penulis buku Wali Berandal Tanah Jawa ini mengomentari kisahnya sendiri saat diajak masuk Islam oleh sesama peziarah.

Buku berjudul asli “Bandit saints of Java: How Java’s Eccentric Saints are Challenging Fundamentalist Islam in Modern Indonesia” ini ditulis oleh seorang dosen senior di Australian National University (ANU) kelahiran Te Kuiti, New Zealand. Dalam menuliskan buku ini ia melakukan riset cukup (sangat) lama.  Penulis yang fasih berbahasa Indonesia dan Jaw aini berkeliling dari satu makam ke makam lainnya. Dari satu kota ke kota lainnya. Ia tidak hanya menceritakan saat berziarah dan mewawancari juru kunci (kuncen) makam yang ia ziarahi, melainkan juga mengisahkan pengalamannya saat naik dan turun bus umum. Ia menumpahkannya dengan sangat rinci, mengalir, dan enak di baca. Misalnya saat ia naik Bus dari Surabaya menuju Sumenep berikut ini:

Pada Oktober 2015, saya naik bus di terminal Bungurasih Surabaya, berharap-harap bisa selamat menempuh empat sampai lima jam perjalanan yang berguncang-guncang ke Sumenep. Saya mendapat tempat duduk tepat di belakang kursi sopir. Di bawah, mesin diesel bergetar lirih. Bus baru berangkat ketika penumpang sudah penuh.  

Pedagang asongan berjalan mondar-mandir di Lorong bus, meletakkan barang dagangan di pangkuan penumpang, lalu dengan sabar mengambilnya Kembali beberapa menit kemudian. Satu paket kaus kaki laki-laki jatuh di atas lutut saya, diikuti songkot “taqiyah” (kopiah?) putih, dan bungkusan kecil berisi kacang. Saya biarkan, dan beberapa saat kemudian, barang-barang itu menghilang.

Konten Buku

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Review atas buku ini yang ditulis secara akademik dan dimuat di sejumlah jurnal terkemuka sudah cukup banyak. Sekurangnya ada yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang diulas dalam jurnal Studia Islamika, bahasa Inggris oleh Tim Hannigan di asianreviewofbooks.com, dan bahasa Prancis oleh peneliti-Indonesianis kawakan asal Prancis Henri Chambert-Loir yang dimuat dalam Archipel. Kendati demikian, perbincangan atas buku yang edisi bahasa Indonesianya baru saja terbit ini saya kira akan terus dilakukan.

Sebagaimana anak judul yang disematkan penulisnya dalam judul aslinya “Bandit saints of Java: How Java’s Eccentric Saints are Challenging Fundamentalist Islam in Modern Indonesia”, hampir semua tinjauan atas buku tersebut mengurai sisi bagaimana tradisi ziarah yang telah mengakar di dalam masyarakat Jawa terus berkembang bahkan terus menguat, yang alih-alih tergerus oleh kelompok Islamisme yang cukup marak belakangan ini.

Oleh karena itu, dalam artikel yang ditulis oleh Endi Aulia Garadian, yang dimuat dalam jurnal Studia Islamika misalnya, saya hampir-hampir tidak menemukan kritik yang mempertanyakan ulang isi buku ini. Pertanyaan mendasar yang layak diajukan adalah misalnya apa definisi wali yang dimaksud dalam buku ini? Jika yang dimaksud wali nyentrik atau berandal adalah orang-orang yang memiliki masa silam sebagai perampok, lalu mengapa dan atas dasar apa (keberandalan yang mana) ia memasukkan nama Mbah Priok dalam buku ini, misalnya?

Buku ini terdiri dari sepuluh bab utama ditambah prolog dan epilog oleh penulisnya sendiri. Bagian prolog ini sepertinya dimaksudkan untuk memberikan kerangka atas keseluruhan buku ini. Hal ini tercermin dari judul yang dipilih dalam pembukaan buku ini: Nusantara dalam Jagad Batin Jawa. Ia membukanya dengan kisah ziarahnya ke salah satu gunung yang ramai diziarahi masyarakat jawa yang sekaligus cukup mistis: Gunung Lawu.

Ia mengisahkan bahwa perjalanan ziarahnya ke Gunung Lawu dilakukannya pada tahun 2001. Tepatnya pada malam 1 Muharram (Jawa: Suro). Gunung Lawu pada malam hari tanggal tersebut, menurutnya, dipenuhi oleh para peziarah laki-laki dan perempuan. “Saya perkirakan, antara 5000 sampai 10.000 orang”, tulisnya.

George Quinn megawali lembaran isi buku ini dengan mengajak para pembaca menelusuri ritual ziarah di makam Sunan Kalijaga. Mungkin penempatan ulasan Raden Mas Said di awal pembahasan buku ini bukan kebetulan dan tanpa alasan. Penulisnya ingin meneguhkan bahwa buku Wali Berandal Tanah Jawa ini dimulai dengan mengulas Sang Berandal Lhokajaya, sebutan lain Sunan Kalijaga.

Dari Sunan Kalijaga, ia kemudian mengulas Sunan Bonang. Ia lalu bergeser ke Kediri dengan menyajikan kisah ziarahnya ke petilasan Jayabaya dan “legenda” hubungannya dengan Syekh Washil Kediri. Dari Kediri ia pindah ke Makam Ki Ageng Balak, Solo. Kemudian ke Tegal dengan menziarahi Sunan Panggung yang lalu dilanjutkan kisahnya saat menziarahi Makam Mbah Priok di ibukota Jakarta. Seusai mengisahkan pernak-pernik Makam Mbah Priok beserta penuturan tragedi tahun 2010 yang sempat menghebohkan negeri ini ihwal kerusuhan saat rencana penggusuran makam tersebut, ia pindah menuturkan kunjungannya ke wali penjaga Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Baik saat Mbah Maridjan masih hidup maupun ziarahnya ke Makamnya. Ia berpetualang bukan hanya di Jawa sebagaimana judul bukunya, melainkan hingga ke Asta Tinggi Sumenep.

Rentangan masa hidup antar satu tokoh dengan tokoh lainnya yang dibahas dalam buku ini juga sangat panjang. Dari petilasan Jayabaya dan Syekh Washil Setono Gedong (abad 13) hingga Mbah Maridjan yang paling belakangan (abad 20 atau 21). Saya sendiri tiak menemukan penjelasan mengapa yang dipilih adalah orang-orang tersebut? Tak hanya itu, George Quinn juga memasukkan sejumlah petilasan-petilasan tokoh yang secara historis sebenarnya susah ditemukan sisi “kewalian”-nya seperti petilasan Jayabaya misalnya. Apa benang merah yang menghubungkan dan mengaitkan satu tokoh/makam dengan lainnya dan kemudian ia simpulkan buku ini dengan judul “Wali Berandal tanah Jawa?”

Jika saya boleh mereka-reka, mungkin yang dimaksud Wali Berandal oleh George Quinn dalam buku ini adalah sejumlah tempat ziarah yang dikeramatkan oleh sejumlah Muslim Jawa. Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa di tengah arus purifikasi ajaran agama yang digelorakan oleh sebagian kelompok Muslim di tanah air ini tidak akan mampu menandingi kehadiran Islam toleran, adaptif dan asimilatif yang dilakukan sebagian masyarakat Jawa yang ditandai dengan terus berkembangnya tradisi ziarah dari tahun ke tahun.

Ala kulli hal, buku ini sangat unik dan menarik. Di satu sisi bisa dijadikan semacam “travel guide”, di sisi lain bernilai akademik karena selain melakukan wawancara mendalam ala etnografi juga sarat dengan rujukan-rujukan akademik.



Sumber Berita

Continue Reading

Perjalanan

Alamut Castle: Tempat Lahirnya Istilah Assasin

Published

on

By


Iran mempunyai banyak sekali peninggalan yang berupa kastil lengkap dengan bentengnya. Ini dapat dimaklumi karena di wilayah ini pernah berdiri beberapa kerajaan yang silih berganti. Mereka perlu membangun kastil sebagai upaya pertahanan dan pemerintahan. Dan salah satu benteng yang menyita perhatian adalah Alamut Castle.

Alamut ini adalah salah satu benteng yang legendaris. Alamut Castle bahkan menjadi latar cerita dalam film garapan sutradara Amerika yang berjudul Prince of Persia. Yang membuatnya menarik adalah Alamut Castle mempunyai hubungan dengan istilah assasin yang digunakan hingga saat ini.

Cerita itu pula yang mendorong saya untuk mengunjungi Alamut Castle. Kebetulan, tempatnya bisa ditempuh dalam satu hari perjalanan pulang-pergi dari Tehran. Benteng ini terletak di Alamut region yang termasuk ke dalam wilayah provinsi Qazvin. Jaraknya sekitar 200 km dari Tehran.

Tehran-Qazvin saya menumpang bus yang berlangsung selama 2 jam. Setelah mencapai Qazvin, perjalanan dilanjutkan bisa dengan taksi yang langsung menuju Alamut atau angkutan umum yang akan mengantarkankan kita sampai kota Moallem Kelayeh. Dari sana, kita dapat menggunakan jasa taksi untuk sampai di Alamut. Perjalanan Qazvin-Alamut kurang lebih 2,5 jam.

Alamut Castle ini letaknya di atas bukit dan sekarang hanya tinggal reruntuhannya saja. Namun, sisa-sisa benteng yang kokoh masih nampak dengan jelas. Untuk mencapainya, kita harus berjalan kaki menuju puncak bukit. Dari atas, kita dapat melihat keadaan sekitar yang didominasi oleh pegunungan berbatu dengan leluasa.

Kata Alamut sendiri dalam bahasa lokal berarti sarang elang. Ini merujuk pada letaknya yang terpencil sendiri di atas bukit layaknya elang yang sedang mengintai. Posisi seperti itu memudahkan penjaga untuk memantau ancaman yang mungkin datang dari luar.

Benteng Alamut ini berdiri pertama tahun 865 M di bawah penguasa Justanid yang bernama Wahsudan ibn Marzuban yang merupakan penganut Syiah Zaidiyah. Namun, pada tahun 1090 M, kekuasaan benteng ini berpindah kepada Hasan Sabbah yang beraliran Syi’ah Ismaiiliyah.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Hasan Sabbah menjadi pemimpin pertama yang menandakan dimulainya sejarah baru Alamut di bawah kekuasaan Nizari Isma’ili. Ia hidup pada zaman dinasti Seljuk yang menguasai wilayah Persia. Ia menjadikan benteng di atas bukit sebagai bentuk perlawanan dan pertahanan diri untuk menghindari kekuasaan Seljuk. Oleh karena itu, ia dan warga yang berada di dalam benteng bisa terbebas dari Dinasti Seljuk dan dapat membentuk pemerintahan sendiri.

Sudah berulang kali utusan dari dinasti Seljuk mencoba untuk menembus benteng ini. Nizam al-Muluk sebagai Perdana Menteri Seljuk memerintahkan para pasukannya untuk menangkap Hasan Sabbah karena dianggap sebagai pemberontak. Namun, usaha tersebut masih menemui jalan buntu karena kokohnya benteng. Hal ini membuat Hasan Sabbah semakin percaya diri dengan kekuasaannya dalam benteng Alamut.

Selain itu, di dalam kastil Alamut Hasan Sabbah juga ternyata mengembangkan ilmu pengetahuan dengan mendatangkan ilmuwan dari berbagai bidang. Sebut saja, Nasiruddin al-Tusi adalah salah satu ilmuwan bidang astronomi yang pernah mengajar di sini.

Perdebatan teologi Ismaili juga menjadi bahasan pokok di sana. Bahkan, untuk mendorong tumbuhnya keilmuan, ia mendirikan perpustakaan yang cukup lengkap koleksinya di dalam kastil ini. Sayang, perpustakaan tersebut dihancurkan oleh pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1282 yang sekaligus menandakan berakhirnya kekuasaan Nizari Isma’ili.

Dalam taktik politik, kerajaan yang berpusat di Alamut ini mencetuskan istilah assasin. Assasin adalah pasukan militer khusus yang sangat terlatih. Mereka ditugaskan untuk menyingkirkan lawan-lawan politik atau tokoh-tokoh terkemuka. Yang menjadi ciri khas pasukan ini adalah metode membunuhnya yang sunyi-senyap. Mereka sangat pandai menyelinap masuk ke  wilayah musuh yang diakhiri dengan pembunuhan.

Salah satu korbannya adalah Nizam al-Muluk, sang wazir atau perdana menteri dinasti Seljuk. Ia meninggal oleh pasukan assasin yang pelakunya tidak diketahui. Sekarang, pasukan ini mungkin dapat disebut sebagai intelejen. Benteng Alamut dengan kisah assasinnya telah sangat melegenda. Istilah assasin hingga sekarang sering digunakan yang merujuk pada kesamaan metode dengan pasukan Isma’ili dalam membunuh lawan politik.

Alamut dengan bumbu kisahnya yang melegenda patut untuk dijadikan destinasi kunjungan. Walaupun sekarang tinggal reruntuhannya saja, setidaknya kita dapat napak tilas perjalanan sejarah yang terkait dengan Islam dan kekuasaan.

 



Sumber Berita

Continue Reading

Perjalanan

David dan Goliat Pernah Bersekutu di Dubrovnik

Published

on

By


Nyaris tak ada tempat sepi di Dubrovnik, kala musim panas. Orang hilir mudik di trotoar. Semakin menuju kota tua, kendaraan semakin padat. Kami sempat kaget menghadapi kenyataan, bahwa tarif parkir per jam di sebuah aula parkir tertutup dekat pusat kota tidak murah. Sebelum akhirnya memutuskan berputar haluan, mencari tarif parkir lebih bersahabat, meski harus ke pinggiran kota, dua kilometeran jaraknya dari tembok kota tua.

Ini kali kedua kami mengunjungi salah satu kota tempat syuting King’s Landing di serial populer The Games of Thrones (GoT). Mungkin karena kami pertama kali datang di musim dingin, sedangkan musim panas adalah waktu liburan utama warga Eropa. Saat itu, belum ada tanda-tanda pagebluk bakal memberi ujian berat bagi dunia.

Kerumunan wisatawan sudah mulai terlihat di Amerling Fountain, menjelang masuk Gerbang Pila. Tidak sedikit orang berdiri menawarkan berbagai macam tur. Tur kayaking di laut, walking tour keliling kota tua, dan tentu saja, tur mengunjungi lokasi-lokasi syuting GoT. Kami pilih irit. Keliling kota mandiri berbekal gmaps. Bila kita berjalan ke arah laut, tepat di atas Teluk Kolorina, kita bisa mencuri pandang pemandangan tembok tebal dan benteng kota tua yang berdiri gagah di atas tebing.

Kota ini mulai tumbuh pada abad ketujuh masehi. Para pengungsi Epidaurum, 10 km di selatan Dubrovnik mulai mendiami wilayah ini setelah terusir dari asalnya. Sedikit demi sedikit, mereka membangunnya sebagai sebuah kota, diberi nama Ragusa. Pendatang juga mulai mendiami wilayah ini. Lokasinya strategis di tepi Lautan Adriatik membuat Ragusa berkembang cepat dan makmur. Sasaran empuk bagi penyerang. Bangsa Arab datang di abad 9, Makedonia di abad 10. Dan di abad 12, salah satu bangsa penguasa Lautan Mediterania, Venesia, tertarik menduduki Ragusa.

Venesia adalah Goliat bagi Ragusa yang saat itu ditinggali banyak kaum intelektual. Mereka menginginkan otonomi, punya negara sendiri, dan terutama ingin perdamaian. Tak mungkin melawan Venesia dengan kekuatan senjata, taktik lain harus digunakan.  Diplomasi, membayar upeti, hingga menyuap dilakukan. Penguasa Ragusa berhasil meyakinkan bangsa-bangsa di sekitarnya: Slavia, Eropa, Byzantium, bahwa Ragusa adalah titik perdagangan dan pelabuhan penting yang harus dilindungi. Tak hanya berhasil menghindarkan Venesia untuk menguasainya, melalui kapal-kapal besar yang menyinggahinya setiap hari, kemakmuran Ragusa bertambah. Sehingga mampu membangun benteng pertahan kuat di sekeliling negeri.

Sekitar abad 15, waktu Turki Utsmani, sang Goliat baru mulai menunjukkan gigi-ginya di Eropa dan Lautan Mediterania, negara Ragusa salah satu yang pertama menjalin hubungan diplomatik dengannya. Ragusa menjadi perantara perdagangan antara negeri timur dan barat, sekligus menguatkan posisi perekonomiannya. Sewaktu Turki Utsmani menguasai Semenanjung Balkan, Ragusa mengambil posisi netral, membayar upeti, biar tetap bebas merdeka. Sebagian muslim Bosnia pergi berhaji lewat pelabuhan Ragusa. Pada abad 16, berpenduduk sekitar 35 ribu jiwa, Ragusa adalah kekuatan perdagangan terbesar ketiga di dunia, dengan 160 kapal dagang. Ilmu pengetahuan dan budaya berkembang pesat di negara mini ini.

Akan tetapi, bintang Ragusa redup semenjak abad 17. Inggris, Perancis, dan Belanda aktif mengambil bagian dalam perdagangan laut. Dengan armada lebih banyak serta lebih moderen. Semakin sedikit kapal singgah di Pelabuhan Ragusa. Ragusa tak punya alternatif lain untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Apalagi gempa bumi dasyat tahun 1667 meluluhlantakkan sebagian besar isi kota. Menyisakan hanya setengah penduduk saat itu. Ragusa kehilangan otonomi sebagai negara merdeka saat Perancis di bawah Napoleon menguasainya. Ragusa jadi bagian Propinsi Illyria. Sejak tahun 1921 namanya berganti sebagai Dubrovnik, berbendera Kroasia. Kemakmuran kembali melanda. Kali ini, dari para wisatawan. Kapal-kapal besar kembali singgah. Kapal pesiar dari belahan lain dunia.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sebagai kota wisata, Dubrovnik memang menawan. Klasik, elegan, bersih, dibangun di atas tebing setinggi 37 meter. Tidak salah bila dijadikan tempat syuting film atau serial. Setelah perang besar Eropa di Balkan tahun 1990-an, sebagian besar bangunan tuanya sudha kembali diperbaiki. Dubrovnik masuk dalam daftar budaya dunia Unesco sejak tahun 1979.

Butuh lebih dari satu hari untuk menjelajahi isi Dubrovnik. Dua tiga hari setidaknya.  Kecuali jika hanya sekadar lewat jantung kota tua. Sediakan pula stamina prima. Interiornya tidak didesain bagi kendaraan, apalagi kendaraan bermotor. Padahal kontur kota tuanya turun naik tajam, butuh tenaga ekstra. Di musim panas, membawa persediaan air minum lebih banyak, bukanlah ide buruk.

Benteng dan cincin tembok kota tua sepanjang hampir 2 km adalah destinasi utama Dubrovnik. Pada masa silam, di luar tembok dikelilingi parit lebar. Kota ini memiliki 5 benteng dan 16 menara. Tiga di antaranya berada di sepanjang cincin kota tua: Minceta, Bokar, Ivan. Benteng Lovrjenak di barat, Revelin di timur. Minceta di bagian utara, bertugas melindungi serangan musuh dari dataran tinggi. Mereka semua simbol pertahanan Dubrovnik. Cincin kota tua bagaikan open air museum, dikunjungi orang sepanjang tahun. Saking lebarnya, orang leluasa berjalan di atas tembok.

Terdapat tiga pintu masuk utama kota tua Dubrovnik. Melalui Gerbang Pila di barat, Vrata od Buze (Gerbang Buze) di utara, atau dari Gerbang Ploce, arah pelabuhan lama di timur. Antara Gerbang Pila dan pelabuhan lama membentang Jalan Stradun. Jalan primer kota tua, dibuat sejak abad 11. Jika kita memasuki kota tua dari Gerbang Pila, kita akan segera bertemu pancuran air minum Onofrio’s fountain. di musim panas, orang berkerumun di sekitar pancuran air. Mengisi botol-botol minuman mereka atau membasahi kepala sambil cuci muka. Mereka ngadem sambil duduk-duduk di bawah bayang-bayang menara jam. Air pancurannya dingin menyegarkan. Gratis lagi.

Di sekitar pancuran dan sepanjang Jalan Stradun pula kita bisa menyaksikan banyak orang berpakaian tradisional. Street performers memamerkan berbagai keahlian. Bermain musik jadul, menyanyi, menari, menjadi patung manusia berkostum unik. Di kedua sisi Jalan Stradun berdiri bangunan-bangunan batu alami 3-4 tingkat. Bentuknya dan warnanya mirip-mirip. Lantai dasar dimanfaatkan sebagai tempat usaha: kafe, rumah makan, toko, atau kantor. Sedangkan lantai atas sepertinya dipakai sebagai tempat tinggal. Di sela-sela bangunan kami temukan gang-gang jauh lebih sempit.

Bila kita mengambil gang arah utara, makan kita akan ketemu tangga-tangga menanjak tinggi. Ke selatan, ke arah lautan. Menyusuri gang-gang sempit selebar 1-2 meter di Dubrovnik tak kalah mengasyikkan. Semakin kita menjauhi Jalan Stradun, semakin sedikit kita ketemu keramaian dan tempat-tempat usaha. Sebagai gantinya, kita disuguhi kawasan permukiman penduduk setempat. Mereka menata pot-pot tanaman bunga dan buah mepet dengan tembok rumah. Sedikit mendongak, balkon-balkon mini muncul di depan pintu kayu. Kadang malah ada cucian sedang dijemur di gantungan antara dua bangunan. Mereka bahkan punya lapangan sepak bola dan bola basket mini tepat di sisi Benteng Minceta. Satu dua kafe terbuka mini akan menyapa kita. Tempat istirahat sejenak, sembari menyeruput kopi atau jus jeruk atau delima merah yang diperas langsung dari buah segar.

Berjalan ke arah Gerbang Ploce, kami bertemu perairan terbuka. Sumber kemakmuran masa silam Dubrovnik, Pelabuhan Lama (Stara Luka). Menempati teluk kecil di ujung kota tua. Sekarang hanya boat dan yacht kecil bersandar di sana. Serta perahu angkutan ke Pulau Lokrum. Kapal-kapal besar bersandar di pelabuhan baru,  ke arah barat laut dekat tempat kami memarkir mobil. Ketika berjalan menyusuri pelabuhan hingga ke belakang Museum Maritim, kami mendapatkan kejutan.

Meski nyaris tidak ada pantai berpasir putih di dekat sini, malahan berupa tebing batu, walau tidak terlalu tinggi, kami melihat orang banyak menggelar tikar atau handuk untuk berjemur, sesekali nyemplung ke laut. Air lautnya bening, dan cuaca panas, sepertinya berendam di laut segar juga.

Di Bar Buza, kami ketemu yang lebih seru lagi. Jalan masuk ke bar ini adalah pintu sempit di tembok kota tua. Bar Buza berada di atas tebing tinggi dan curam. Datang kemari, orang ndak mesti duduk dan memesan sesuatu. Seperti kami. Yang mampir sebab ingin menyaksikan atraksi adu nyali para turis yang dikenal sebagai cliff jumping. Orang-orang merangkak naik, merayapi tepian tebing dengan tangan kosong. Setinggi mungkin. Sebelum melompat, terjun ke arah laut. Byurrrrrr.

Oh ya, di pusat kota Dubrovnik terdapat sebuah masjid di bawah naungan Komunitas Islam Kroasia. Tepatnya di Jalan Ulica Miha Pracata. Sekilas seperti sebuah gedung apartemen biasa. Masjid ini tidak bisa didatangi setiap waktu. Ada jam bukanya, tertera di tembok depan. Ia terdiri dari beberapa lantai. Memiliki ruang sholat dan ruang belajar bagi saudara muslim di sana.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved