Connect with us

Perjalanan

Mengenang Goethe di Weimar

Published

on

Dengan penduduk sejumlah kira-kira 65 ribu jiwa, Weimar bukan termasuk kota besar. Pun bukan kota yang luas. Kedua alasan tersebut tak menghalangi Weimar untuk menjadi kota budaya mencengangkan. Ia ditahbiskan sebagai Ibukota Budaya Eropa tahun 1999. Tak kalah dengan kota-kota besar Eropa seperti Paris, Amsterdam, Athena, Stockholm, yang juga pernah ketiban sampur Ibukota Budaya Eropa.

Saya dan keluarga mengunjungi Weimar di negara bagian Thuringia, Jerman, pada musim panas tahun pandemi. Lockdown di Jerman mulai longgar. Jumlah kasus di pertengahan tahun sangat berkurang. Protokol kesehatan tetap diberlakukan. Terutama jika kita memasuki ruangan tertutup.

Kota Weimar, yang di abad 18-19 berpenduduk hanya 6 ribu-an jiwa, adalah kota para intelektual Jerman. Memikat orang-orang seperti Christoph Martin Wieland (1733-1813), Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832), Johann Cristoph Friedrich Schiller (1759-1805), Johann Gottfried Herder (1744-1803). Zaman kehidupan para penyair dan pemikir itu di Weimar dikenal sebagai Weimarer Klasik. Masa dimana karya-karya literatur hebat dan mendunia penulis Jerman dihasilkan. Atas andil merekalah Weimar diganjar sebagai kota warisan budaya Unesco tahun 1998.

Goethe yang menghabiskan lebih dari separuh usianya di Weimar, datang kemari tahun 1775 memenuhi undangan pangeran Carl August von Sachsen-Weimar-Eisenach. Seorang bangsawan yang tak terlalu luas daerah kekuasaannya. Di Weimar, selain aktif menulis, Goethe memiliki berbagai karir politik: menteri keuangan, kepala perpustakaan, pemimpin teater, hingga peneliti.

Setengah harian kami berjalan kaki mengunjungi beberapa tempat yang akrab dengan Goethe. Weimar kota ramah pejalan kaki. Objek-objek wisata utamanya lumayan berdekatan. Pagi-pagi kami sudah memarkir kendaraan di spot parkir bawah tanah di samping Taman Park an der Ilm. Destinasi pertama kami adalah Perpustakaan Anna Amalia, di ujung taman.

Di masa pandemi, saya sebenarnya menghindari masuk ke dalam ruangan tertutup.  Tetapi saya kecualikan perpustakaan ini. Tempat ini sudah lama sekali ingin saya datangi. Sebuah perpustakaan yang digadang-gadang sebagai salah satu perpustakaan terindah di Jerman. Siapa tak penasaran dibuatnya? Antrian sudah panjang ketika kami sampai di depan gedung perpustakaan. Antrian rapi dan jaga jarak.

Sekira sejam menunggu, petugas mempersilakan kami berempat masuk. Ibu petugas mengarahkan kami ke tempat disinfeksi tangan, meminta kami mengisi formulir sebelum menunjukkan konter pembelian tiket. Ruangan perpustakaan utama berada di lantai 2. Ibu petugas berikutnya menunjukkan alas kaki tebal yang harus kami pakai. Lantai  kayu perpustakaan sudah ratusan tahun umurnya. Harus dijaga dengan baik. Ruangan utama perpustakaan sungguh istimewa. Terdiri dari 3 lantai. Namun kami hanya boleh berdiam di aula utama.

Kabar kecantikan interior perpustakaan dibangun tahun 1691 memang bukan isapan jempol belaka. Mulai dari dindingnya yang didominasi warna putih berhias warna emas, lantai kayu kunonya yang licin, penataan ruangan yang didominasi lengkungan dan dihubungkan pintu terbuka berbentuk busur, dekorasi berupa patung-patung dan lukisan, hingga koleksi buku-buku kunonya yang tak boleh disentuh pengunjung biasa. Semua istimewa. Untuk bisa membaca naskah kuno berjumlah sekitar 40 puluh ribu judul, perlu izin khusus. Biasanya diperuntukkan bagi para peneliti. Goethe mengepalai perpustakaan ini dari tahun 1797-1832. Beliau memastikan perpustakaan Anna Amalia memperoleh buku-buku bermutu, memperbaiki birokrasi dan melakukan renovasi.

Dari perpustakaan, kami menyeberang ke ruangan terbuka Platz der Demokratie. Di tengahnya berdiri monumen patung berkuda Carl-August. Bangsawan Jerman masa silam sering digambarkan sedang menunggang kuda. Kami menuruni jalan di tepi Park an der Ilm untuk berfoto di depan Stadtschloss (Istana) Weimar. Sebuah kompleks bangunan yang rasanya terdiri dari tiga bagian berbeda. Terdepan berfasad abu-abu. Sebuah menara batu, setengah ke atas berwarna hitam di bagian tengah, dan sebuah bangunan lebih luas di bagian kanan. Setelah terbakar tahun 1744, Goethe membantu perencanaan renovasi di tahun 1789. Di tempat inilah para bangsawan Weimar berkumpul. Sejak tahun 1923 kompleks bangunan ini berfungsi sebagai museum.

Cuaca hari yang cerah dan hangat hari itu menjadikan pusat Weimar ramai. Saya jatuh cinta pada kota ini. Tidak terlalu besar, nyaman,  pohon-pohon rindang tumbuh di tepian jalan, dan berasa sekali hasrat mereka terhadap dunia literasi dan budaya. Banyak saya jumpai toko-toko buku ramai didatangi orang. Beberapa bagian kota sedang direnovasi. Melewati bekas rumah dan museum Friedrich Schiller, kami sampai di tempat terbuka berisi Monumen Goethe-Schiller.

Persahabatan dua penyair besar Jerman bermula tahun 1794. Goethe tidak menyembunyikan kekagumannya pada Schiller. Yang disebutnya sebagai jenius literatur terhebat di zamannya. Goethe merasa, hanya Schiller yang mampu memahami cita rasa karya seni dan sastra miliknya. Goethe dan Schiller saling berkirim surat, bekerja sama menerbitkan majalah literatur: Die Horen, bahkan menciptakan gubahan berdua. Ketika Schiller meninggal dunia di usia 45 tahun akibat radang paru-paru, Goethe merasa separuh dirinya ikut pergi.

Dua patung Goethe dan Schiller berdiri tegak di depan gedung teater Weimar. Adalah pematung Ernst Rietschel pembuatnya. Tangan kiri Goethe menyentuh pundah Schiller, tangan kanan memegang mahkota daun. Kedua patung memandang ke arah berbeda. Para turis, termasuk saya bergantian berfoto dengan latar belakang monumen.

Rumah Goethe, beralamat di Frauenplan, berjarak kira-kira 400 meter dari monumen. Setengah abad lamanya Goethe mukim di sana. Di dalam bangunan tiga lantai berdinding warna kuning. Mulanya sebagai penyewa, hingga Carl August menghadiahkan bangunan tersebut pada Goethe. Di sanalah ia tinggal bersama keluarga dan para asisten. Mebel, memorabilia, alat-alat rumah tangga dipamerkan sehingga pengunjung bisa membayangkan gaya hidup Goethe di masa silam.

Lewat tengah hari, kami berjalan ke arah selatan. Ke sebuah kompleks pekuburan. Dari luar terlihat seperti sebuah taman raksasa dikelilingi tembok lumayan tinggi.  Pekuburan kuno untuk warga dan kaum bangsawan Weimar. DI tempat inilah banyak sosok penting dalam sejarah menempati peristirahatan terakhirnya. Termasuk Goete, Schiller, dan Carl August. Mereka bertiga beristirahat di dalam sebuah gedung tersendiri, Fuerstengruft.

Menyeberangi jalan, melewati gedung Universitas Bauhaus Weimar, kami kembali ke Taman Park an der Ilm. Taman ini berada di tepian sungai Ilm. Tempat ini sungguh nyaman buat rekreasi. Pohonnya rindang, bunga-bunganya terawat rapi dan bersih. Orang jogging, berjalan-jalan sendiri atau bersama rombongan, mempraktikkan yoga, bermain musik, membaca buku, atau sekadar duduk-duduk beralas rumput.

Sebelum kembali ke tempat parkir, kami sempatkan sekali lagi menengok satu monumen sederhana sepi pengunjung. Monumen Goethe-Hafiz.

Goethe mengenal karya penyair Persia Shamsuddin Muhammad Hafiz dari Shiraz (kira-kira 1320-1389) di usianya ke 65. Setelah meminta Joseph von Hammer menerjemahkan karya Hafiz, Divan. Membaca Divan, Goethe merasa dirinya menembus batas waktu, geografis, agama, dan budaya. Ia rasakan kedekatan dengan penyair muslim Persia dari abad 14 tersebut, menganggap Hafiz sebagai kembaran jiwanya. Menginspirasi dan membangkitkan semangat Goethe menggubah West-Eastern Divan saat usianya sudah tidak muda.

Representasi bagi Hafiz dan Goethe digambarkan melalui dua kursi batu granit berukuran besar, mirip singgasana. Diresmikan tahun 2000 oleh mantan presiden Jerman Johannes Rau dan mantan presiden Iran, Mohammad Khatami. Kedua kursi berdiri saling berhadapan. Sama besar, sama tinggi. Keduanya berdiri di atas sebuah lempengan perunggu persegi, permukaannya bermotif bintang. Bagian tengah lempengan berhias sebuah gazal dari Divan karya Hafiz dalam bahasa Persia. Sedangnya di belakang kedua kursi kita bisa membaca potongan syair gubahan Goethe dari West-Eastern Divan, dalam bahasa Jerman.

Kedua kursi berhadapan tersebut bisa jadi merupakan simbol komunikasi antar budaya dan agama, toleransi budaya, serta pemahaman antar bangsa. Di satu sisi Hafiz, seorang muslim dari dunia timur. Di sisi lain Goethe, seorang kristiani dari barat. Keduanya berdiri sama tinggi. Seperti petikan karya Goethe: Barangsiapa mengenal diri dan orang lain, akan juga mengenali, bahwa timur dan barat, tak akan terpisahkan.

Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perjalanan

Merawat Ingatan: Menjumpai Syekh Mansyur Ulama Karismatik Dompu

Published

on

By



Kendaraan kami hidupkan dan mulai menyusuri jalan yang berliku. Sebagaimana topografi pulau Sumbawa pada umumnya, Dompu dikelilingi oleh pengunungan yang berjejer, hampir tak ada celah. Akibatnya, kami harus melintasi punggung gunung untuk sampai di sana. Kendaraanpun tak jarang harus menghadapi tanjakan terjal dan meliuk di ujungnya mengikuti lekuk pegunungan. Di saat musim hujan datang, lereng pegunungan tampak menghijau sejauh mata memandang. Bila pagi dan sore tiba semburat rona jingga di ufuk sana kian menambah keindahan dan memanjakan mata yang memandang.

Kendaraan terus kami pacu. Beberapa kali harus melewati bekas kubangan lumpur yang mengering. Di balik keindahan bentang alam, bila musimnya tiba, hujan yang jatuh melewati lekuk pengunungan tumpah di jalanan bercampur sampah dan lumpur, menjadi banjir dan memaksa siapa saja yang melintas mengurangi laju kendaraan bahkan harus berhenti. Ini adalah fenomena alam yang tidak terputus dari ulah manusia.

Hutan yang berfungsi sebagai resapan air sejak lama telah menjadi objek ekploitasi, tepatnya kala Orde Baru mulai berkuasa aktifitas penebangan kayu telah dilakukan bahkan hingga saat ini. Ditambah lagi dengan pembukaan hutan secara besar-besaran demi penanaman jagung. Semuanya kian memperburuk situasi yang ada. Baru beberapa waktu lalu media bahkan ramai dipenuhi dengan informasi banjir bandang yang melanda wilayah ini.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bila fenomena alam semacam itu terjadi, dia tidak pandang bulu. Siapapun bisa menjadi korban, bukan hanya mereka yang jahil karena merusak alam tapi mereka yang bahkan menjaganya sekalipun. Begitulah alam bekerja, mereka yang mengeruk dan mengeksploitasinya, orang lain pun ikut celaka. Beruntung saat melakukan perjalanan ini, musim tengah mengalami transisi sehingga hujanpun mulai jarang turun. Tapi, sisa kubangan lumpur yang mengering masih terdapat di sana-sini.

Memasuki kabupaten Dompu, kami mulai mengurangi laju kendaraan hawatir jika tempat yang kami tuju, pusara Syekh Mansyur, terlewati. Karena kebingungan, kami menghentikan kendaraan di pinggir jalan, menemui beberapa warga yang sedang berkerumun untuk memeroleh informasi. Tidak sesuai harapan, mereka ternyata tak mengetahui sama sekali tokoh yang kami maksud. Bahkan hingga berulang kali kami berhenti bertanya, tak satupun memberi jawaban pasti. Mungkinkah senggang waktu yang cukup lama antara masa hidup tokoh tersebut dengan masa sekarang mengakibatkan banyak orang tak tau tentang mereka? Ya, itu bisa saja terjadi. Tapi, apakah senggang waktu itu lantas kita jadikan alasan tak mau tau tentang mereka?

Walaupun tak kunjung menemukan informasi yang pasti, kami terus menelusuri di mana Syekh Mansyur meninggalkan jejak terakhirnya. Bahkan kami sempat menaiki bukit karena mengira di sanalah makam beliau berada. Tak diduga-duga di atas bukit tersebut, kami justru menemukan makam tokoh Dompu yang lain, yakni Syekh Abdurrahman. Semoga di lain kesempatan, saya dapat menuliskan sedikit tentang siapa Syekh Abdurrahman yang kondisi makamnya memperihatinkan karena ditutupi semak belukar sampai-sampai hampir tak kelihatan.

Perjalanan berlanjut, kami meninggalkan makam tersebut dan berusaha kembali menemukan makam Syekh Mansyur. Akhirnya, setalah lama memacu kendaraan, kami menemukan orang yang tepat. Sesaat setelah kami menyapanya dan bertanya sambil tersenyum dia mengatakan, “Syekh Abdul Ghani”. “Ya betul Syekh Abdul Ghani. Dia adalah anak dari Syekh Abdul Ghani”, saya membalas. Dia lalu mengarahkan telunjuknya ke sebelah barat dan kamipun bergegas ke arah sana. Tak jauh dari sana terdapat masjid yang tidak terlalu besar, namanya Masjid Abdul Ghani. Sesuai petunjuk orang yang kami jumpai, sepertinya kami telah menemukannya. Kami merasakan rasa puas yang hebat saat melihat bagian belakang masjid. Ternyata, di sanalah pusara Syekh Masyur berada di kelilingi oleh makam-makam lain.

Syekh Masyur yang saya kunjungi kali ini merupakan anak dari Syeh Abdul Ghani Bima yang tinggal di Dompu dan melanjutkan dakwah ayahnya di sana hingga kemudian meninggal di sana. Dalam sejarahnya, Syekh Mansyur pernah dijadikan sebagai qadi (hakim) pada masa kesultanan Dompu. Dari Syekh Mansur inilah kemudian lahir Syekh Muhammad dan Syekh Mahdali atau dikenal dengan julukan Sehe Boe yang sempat saya kunjungi pusaranya beberapa waktu lalu dan berjumpa dengan salah satu putrinya. Pusara Syekh Mansyur terletak di kelurahan Potu, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat tepat di belakang sebuah masjid yang diberi nama Masjid Abdul Ghani.

Mengunjungi pusara tokoh-toko apalagi ulama semacam itu bagi saya bukan hanya mengharap barkah sebagaimana sering disampaikan. Barakah memang menurut saya tak perlu diharap-harapkan. Ibarat orang memberi tak perlulah mengharapkan imbalan.

Hal penting lainnya ialah, pusara semacam itu adalah fakta sejarah. Iya menjadi bukti bahwa dahulu pernah ada orang yang berjuang membangun sebuah wilayah terutama dalam konteks membangun jiwanya. Sebab, para ulama memang bukan hanya memoles fisik. Ia terutama membangun jiwa masyarakatnya. Pusara orang arif sebagaimana keturunan Syeh Abdul Ghani, Syekh Mansyur dan Syekh Mahdali, membawa saya melihat kembali ke masa lalu. Sebuah ingatan yang membuat saya melihat sisi lain dari daerah ini. Di tengah sikap pragmatis dan geliat pembangunan fisik yang terus digalakkan, dahulu ada orang yang pernah berjuangan dengan tulus membangun jiwa masyarakat daerah ini.

Itu sebabnya, saya terkadang merasa sangat nyaman saat mengunjungi makam orang-orang yang berpengaruh, seperti ada kepuasan spiritual tersendiri yang sulit diungkapkan. Tidak jarang, mereka yang telah terbujur kaku di dalam tanah selama puluhan bahkan ratusan tahun leblih banyak memberi pelajaran dibandingkan dengan banyak manusia dewasa ini. Ini bukan berarti saya sama sekali tak menaruh kepercayaan pada manusia moderen saat ini. Semoga perjumpaan saya dengan keturunan ulama ternama dari daerah ini menuntun saya berjumpa dengan tokoh-tokoh lainnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Perjalanan

Sejarah Benteng Nassau Banda Neira dan Saksi Kekejaman Kolonialisme

Published

on

By



Siapa yang tak mengenal benteng, benteng merupakan bangunan yang umumnya berbentuk persegi atau semacamnya. Benteng sudah ada sejak berabad-abad. Dahulu benteng digunakan untuk melindungi sebuah kerajaan dari serangan musuh. Kita bisa melihat benteng di bekas kerajaan Mataram misalnya, seperti bekas Keraton Kartasura disana masih terdapat sisa benteng yang terbuat dari batu bata atau di Keraton Surakarta.  

Benteng pernah menjadi hiburan masyarakat Indonesia era tahun 2000-an. Melalui tayangan televisi berjudul Benteng Takeshi, acara ini sempat menjadi primadona publik Nusantara. Tentu kita masih ingat acara tersebut yang biasanya ditonton bareng keluarga, teman ataupun saudara. Benteng mengingatkan kita pada kolonialisme bangsa Belanda. Di pelbagai kota Belanda membangun sebuah benteng, misal benteng Vasternburg di Surakarta, Benteng Pendem di Cilacap, Benteng  Fort Rotterdam di Makasar dan masih banyak lagi benteng-benteng bikinan Belanda.

Pada era kolonial benteng berfungsi sebagai sistem pertahanan dan juga ruang tahanan bagi kaum pribumi. Berbagai peristiwa keji pernah terjadi pada sebuah benteng milik kompeni. Tak ubahnya benteng menjelma menjadi tempat esekusi. Bagi pecinta sejarah tentunya tidak asing dengan Benteng Nassau yang berada di Banda Neira. Benteng ini pun pernah menjadi saksi kekejaman kolonialisme Belanda pada abad ke XVI.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kepulauan Banda Naira terletak di Provinsi Maluku terbentang di laut Banda, di tenggara Pulau Ambon dan di selatan Pulau Seram. Sebagian besar penduduk pulau ini bermukim di Naira.  Pada zaman dulu provinsi Maluku merupakan jalur perdagangan yang sering dilewati dan disinggahi kapal-kapal berbagai bangsa, Cina, Arab, Portugis, Inggris, dan Spayol. Kepuluan ini banyak menghasilkan komoditi rempah seperti pala, fuli, cengkeh dll.

Pada abad ke XV Portugis mulai mengirim ekspedisinya ke kepulauan rempah ini. Tujuan utama ekspedisi ini adalah untuk mencari rempah dan berniaga dengan penduduk lokal. Setelah Portugis, Spanyol kemudian menyusul dengan menguasai perdagangan di wilayah Malaka. Kepulauan Banda pun menjadi buronan bangsa Eropa berkat kekayaan rempah yang melimpah.

Pada abad ke XVI pala menjadi buruan orang Eropa, sampai-sampai harga komoditi pala tersebut setara dengan emas. Kemudian persekutuan dagang Belanda atau dikenal dengan nama Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC), mengirim ekspedisi pertamanya ke kepulauan Banda. Ekspedisi ini dipimpin oleh Verhoeven dengan tujuan dagang.  Sesampainya di Banda Verhoeven mendirikan pos dagang di pelabuhan, namun ia tidak senang dengan penduduk lokal yang lebih senang berdagang dengan Inggris dibanding dengan VOC. Akhirnya Verhoeven mengajak tokoh masyarakat setempat untuk mengadakan perjanjian. Namun ia dikhianati dan mati terbunuh bersama sebagian pengikutnya.

Abad ini benteng berperan penting bagi VOC, mereka mulai membangun Benteng Nassau sebagai upaya pertahanan dari serangan penduduk lokal dan bangsa Eropa lain. Melalui benteng ini VOC memonopoli perdagangan pala. Benteng ini juga menjadi saksi pembantaian masal yang dilakukan VOC dibawah kepemimpinan Jan Pieterzoon Coen. Puluhan tokoh Banda Neira yang dijuluki orang kaya pernah dibantai sebagai upaya Coen dalam memonopoli perdagangan pala di pulau tersebut.

Dalam buku karangan Des Alwi yang berjudul Sejarah Maluku, Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon (2005) diceritakan kekejaman Belanda terhadap rakyat Banda abad ke XVI. Pada tahun 1622 sekitar 44 orang kaya di Banda diesekusi mati oleh Jan Pieterszoon Coen. Ia menyewa ronnin (samurai Jepang) untuk mengesekusi orang kaya Banda. Kepala mereka dipenggal dan bagian tubuhnya di potong menjadi 4 bagian dan dilempar ke segala penjuru. Kepala yang telah dipenggal tersebut lalu ditancapkan diatas tiang bambu dan dipertontonkan kepada semua orang. Oarang-orang kaya tersebut mati tanpa perlawanan namun ada yang sempat berkata “Tuan-tuan, tidak adakah merasa berdosa?”.

Benteng Nassau terletak di Desa Nusantara, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Benteng ini dibangun pada tahun 1607 dibawah pimpinan Verhoeven. Sebelumnya VOC membangun benteng ini di bagian lain namun karna tanahnya amblas lalu pindah ke bekas benteng Portugis yang belum terselesaikan. Artinya benteng Nassau dibangun diatas pondasi benteng Portugis. Hingga kini benteng tersebut masih berdiri dan menyisakan tragedi.

Penaklukan Banda Naira oleh Coendiperkirakan telah memakan korban rakyat Banda sekitar 12 ribu jiwa. Hal tersebut berawal dari rempah dan pembangunan benteng yang berujung penaklukan. Benteng pernah menjadi peristiwa berdarah di negeri penuh rempah. Orang-orang yang serakah membuat benteng untuk merebut kekayaan Nusantara yang melimpah. Dari benteng kita belajar bahwa kolonialisme tak semestinya dilakukan oleh siapapun dan bangsa manapun.



Sumber Berita

Continue Reading

Perjalanan

Masjid Wadi Al Husein, Saksi Islamisasi di Thailand

Published

on

By


Masjid Wadi Al Husein adalah Salah satu peninggalan Masjid dalam sejarah penyebaran Islam di Pattani, Thailand bagian selatan. Masjid berada di desa Telok Manok, sekitar 26 kilometer dari Kota Provinsi Narathiwa.

Saya ke Pattani melalui penerbangan ke Kuala Lumpur. Dari sana terbang  ke bandara Hat Yai Propinsi Sonkla. Perjalanan selanjutnya menggunakan mobil selama 2 jam, menempuh jarak 80 km. 

Adalah Wan Husein As-Sanawi Al-Alfathoni pada tahun 1624 membangun masjid itu. Masjid ini sangat unik karena menggunakan arsitektur bergaya lokal Melayu, jauh dari pengaruh Arab dan bahkan dekat dengan model rumah gadang di Padang Sumatera Barat.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Wan Husein sendiri sebagai ulama, khas sebagai seorang pendakwah, memiliki mobilitas yang tinggi. Dia pernah pula mengembara, menyebarkan pengaruh Islam di Pulau Jawa, Madura dan Sumatera. Akhirnya menetap di desa Telok Manok Pattani Darussalam kala itu. Kisah Wan Husein terpahat apik di prasasti berupa lempengan dari Kuningan. Prasasti menggunakan aksara dan bahasa Thai, juga aksara latin berbahasa Inggris. Prasasti ini sesuatu yang masih jarang di masjid-masjid bersejarah yang ada di Indonesia.

Prasasti berbahasa Thai dan Inggris yang berkisah tentang Wan Al Husain (Foto: Abdur Rozaqi)

Masjid Wadi Al Husein kaya dengan lekuk ukiran di pinggiran atas, pintu-pintu dan dinding di dalamnya, juga mengingatkan kita pada masjid-masjid tua di Indonesia. Pola persambungan kayu juga tidak menggunakan paku, namun dengan teknik saling mengunci rapat dalam pertalian yang kokoh. Teknik ini membutuhkan tingkat persisi yang tinggi.

Arsitektur Masjid Masjid Wadi Al Husein yang bernuansa lokal ini menunjukkan pola penyebaran Islam yang sangat adaptif dengan budaya lokal di masyarakat. Arsitektur masjid ini menandakan jejak erat kebearagamaan Islam Nusantara antara Pattani Raya dengan Kepulauan lainnya di Indonesia dan sekaligus persambungan, selain tentu saja naskah-naskah dan silsilah guru.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved

VERIFIED & SECURED
BY: R3
SSL Valid: Jun 21, 2021 - Sep 19, 2021