Connect with us

Telaah

Kala Tren Nikah Muda Menjadi Industri, Bukan Lagi Soal Agama

Published

on


Beberapa hari lalu kita dikejutkan dengan kemunculan iklan dari sebuah perusahaan penyelenggara pernikahan, bernama Aisha Wedding. Dalam iklan tersebut, mereka menawarkan jasa penyelenggaraan perkawinan (Wedding Organizer/WO sekaligus mempromosikan kawin siri, menikah pada usia muda dan poligami.

Tawaran tersebut tersebar lewat laman (https://aishaweddings.com) juga mempropagandakan jasa pernikahan dini dan poligami dengan mengatasnamakan ajaran agama. Wacana agama, khususnya Islam, yang dianggap mendukung pembolehan perkawinan usia dini sebagai solusi “instan” menghadapi globalisasi dan pergaulan di era modern.

Budaya modern dianggap menganggu atau merusak tatanan moralitas yang ada di masyarakat. Uniknya, narasi agama kemudian dihadirkan untuk membentengi masyarakat. Padahal, selama ini tidak seluruh moralitas di masyarakat diambil dari nilai-nilai agama, namun ada budaya setempat dan dinamika kehidupan sehari-hari.

Banyak penelitian yang menyebutkan faktor terjadinya pernikahan usia dini yang dilakukan oleh anak sedang menginjak bangku Sekolah Menegah Pertama (SMP) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah ekonomi, orangtua yang malu jika anaknya menjadi perawan tua, pendidikan yang rendah, hamil di luar nikah, dan adat istiadat (perjodohan).

Dalam kasus Aisha Wedding, kita sebenarnya melihat pengingkaran atas kemaslahatan yang seharusnya melekat agama Islam. Di mana Islam berpegang pada lima prinsip (ad-dhoruriyatul khamsah): hifz an-nafs (menjaga jiwa), hifdz al-dien (menjaga agama), hifdz al-‘aql (menjaga akal), hifdz al-nasl (menjaga keturunan), dan hifdz al- maal (menjaga harta), maka narasi agama harusnya menjadi pelindung atas kehidupan anak muda secara komprehensif.

Dimulai dari menjaga keturunan (hifz nasl) yang berarti kita harus menjaga kesehatan reproduksi perempuan dan anak. Hal ini termasuk menentukan usia nikah yang tepat, menjaga jarak kelahiran, serta memperhatikan kesejahteraan anak seperti pemenuhan gizi, tumbuh kembang yang baik , pendidikan, dan lain sebagainya.

Perkawinan anak juga telah melanggar prinsip hifdz al-‘aql (menjaga akal) yakni hak anak untuk memperoleh pendidikan dan hifd nafs (menjaga jiwa) terkait tingginya angka kematian ibu yang diakibatkan oleh terlalu dininya seorang perempuan menikah. Jika membaca narasi agama yang hadir sebagai pelindung kemanusiaan di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa Aisha dan kelompok lain penganjur nikah usia dini telah mengkhianati prinsip-prinsip tersebut.

Sebab, jika kita bicara pernikahan dini, maka kesadaran kita semua seharusnya tidak berhenti pada soal menjaga seorang anak atau sebuah generasi. Namun, kita juga harus sadar bahwa agama yang hadir dalam irisan antara anak muda dan dunia modern, seharusnya bisa menjadi pelindung yang adil, bukan malah menimbulkan masalah baru.

Angka perceraian di pasangan muda yang cukup tinggi jarang sekali mendapatkan perhatian dari kalangan penyeru pernikahan muda atau usia dini. Mereka malah meresponnya dengan mengadakan berbagai pelatihan atau kursus untuk persiapan para pelaku pernikahan usia dini.

Memang, pernikahan usia dini sekarang ini mulai berubah menjadi sebuah industri yang terus berkembang. Para pelakunya menyasar kelompok anak muda usia bangku kuliah, baik secara sadar atau tidak, untuk mengarusutamakan wacana pernikahan. Lihat saja, betapa narasi ini cukup populer di bangku-bangku kuliah, bahkan sekarang mulai menjuju anak-anak sekolah tingkat menengah atas.

Nikah Muda Menjadi Industri, Bukan Lagi Soal Agama

Ada guyonan yang pernah dilemparkan seorang teman kepada saya kala dia mengomentari  soal pernikahan usia muda. Dia mengatakan bahwa tren nikah muda tidak lagi mengarusutamakan narasi agama, tapi sudah menjadi tren di kalangan anak muda.

Menurutnya, menikah di usia muda didorong (baca: di-endorse) oleh beberapa orang dewasa yang berada di lingkaran anak muda, terutama sosok yang mereka hormati, seperti guru, senior, hingga orang tua sendiri. Kondisi tersebut menambah parah ketidaksiapan anak-anak muda yang akan menjalani kehidupan yang benar-benar berbeda dari apa yang mereka jalani selama ini. Sebab, para orang dewasa tersebut hanya menjadi “biro jodoh partekelir” yang jarang sekali menyiapkan anak muda tersebut.

Menurut saya, kehadiran entitas kaya Aisha Wedding hanya sepotong dari sebuah persoalan dinamika pernikahan usia dini. Ia hanya sebuah respon dari permintaan yang mulai menggeliat membesar di masyarakat kita, yakni keinginan nikah muda di kalangan anak muda.

Jadi, menelusuri persoalan pernikahan anak muda harus dimulai dari penyadaran di masyarakat kita, terutama para orang dewasa yang masih berpendapat bahwa solusi dari problematika pergaulan anak muda di era modern dengan pernikahan. Sebab, jika ini masih beredar luas dan massif maka apapun yang kita lakukan di hilir persoalan ini hanya kesia-siaan belaka.

Sikap dari Jaringan GUSDURian atas fenomena Aisha Wedding harus diapresiasi dan disebarluaskan, di mana mereka mendukung sepenuhnya langkah Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI untuk melakukan tindakan tegas kepada semua pihak yang mengampanyekan atau menganjurkan pernikahan anak. Selain itu, mereka turut mendorong Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI untuk terus melakukan upaya pencegahan perkawinan anak di seluruh tanah air.

Mereka juga mendukung Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI untuk menegakkan UU Perlindungan Anak (UU No.23 Tahun 2002 dan UU No.35 Tahun 2014) dan UU Perkawinan (UU No.1 Tahun 1974 dan UU No.16 Tahun 2019. Saya menilai kelompok yang mendorong nilai-nilai masyarakat sipil harus kompak mendorong sikap penolakan atas perkawinan usia dini.

Terlepas dari sikap Jaringan GUSDURian di atas, ada sebuah dialog dalam sebuah film Bollywood berjudul Dangal yang patut menjadi renungan bagi kita semua. Film yang disutradarai oleh Nitesh Tiwari tersebut menceritakan sosok Mahavir Singh Phogat dengan dua anak perempuannya, Gheeta dan Babita Kumari.

Di dalam film tersebut, seorang teman dari dua anak perempuan Mahavir tersebut dikawinkan dalam usia masih bersekolah. Teman Gheeta dan Babita tersebut menyanggah protes keduanya atas perlakuan Mahavir yang mendidik anaknya untuk menjadi pegulat. Dia mengatakan, “Kalian seharusnya beruntung, sebab ayah kalian masih menganggap kalian sebagai anak, bukan sebagai beban” ujar teman mereka.

Dia menambahkan bahwa apa yang dilakukan oleh Mahavir (sang ayah) adalah untuk membekali kalian untuk menjalani masa depan, bukan secepatnya menyingkirkan kalian dalam kehidupannya untuk diserahkan kepada laki-laki yang belum tentu bisa membahagiakan kalian.

Anak-anak usia dini di Indonesia memang masih banyak dianggap sebagai bagian dari beban ekonomi dan sosial oleh sebagian masyarakat. Kondisi ini kemudian bersambut dengan berbagai narasi yang menganjurkan kepada anak-anak yang ingin terbebas dari pergaulan yang salah. Industri, seperti Aisha Wedding, melihat ini sebagai bagian peluang bisnis, untuk memfasilitasi gelombang keinginan besar untuk melaksanakan pernikahan usia dini tersebut.

Kembali ke sikap Jaringan GUSDURian, tanggung jawab atas fenomena pernikahan di usia dini harus kita tanggung bersama. Namun, mendesak pemerintah untuk lebih bersikap pro-aktif dalam menghadapi problematika pernikahan usia dini harus terus dilakukan, sebab di tengah kondisi politik citra dan identitas yang menggelora di masyarakat, permasalahan ini seringkali diabaikan begitu saja karena dianggap kurang bisa dilihat dampaknya secara nyata.

 

Fatahallahu alaina futuh al-arifin



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telaah

Kasus Zakiyah Aini adalah Gunung Es, Bisa Jadi Ada Banyak di Sekitar Rumah Kita

Published

on

By


Kasus penyerangan Zakiyah Aini menjadi fenomena yang sangat menarik, sebuah gunung es. Keterlibatan anak muda dalam agenda ekstremisme sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. 11 tahun yang lalu sempat dihebohkan jika salah mantan pengurus dan aktivis Rohis salah satu sekolah ditangkap densus-88. Dalam penangkapan pada 2011, terdapat enam di antara tujuh pelaku yang ditangkap tersebut berasal dari sekolah menengah kejuruan itu. Di antara enam orang tersebut, tiga orang masih berstatus pelajar dan tiga lainnya adalah alumnusnya.

Pelibatan anak muda dalam gerakan ekstremisme sudah berlangsung lama. Namun, fenomena Zakiyah Aini menjadi yang paling menarik. Sebab, kabarnya penanaman ideologi ekstremisme dilakukan hanya melalui sosial media. Zakiyah Aini tidak memiliki guru dalam melakukan aksinya. Hadirnya internet dan media sosial mengubah cara pandang dan bentuk terorisme di Indonesia.

Jauh sebelum kejadian Zakiyah Aini melakukan penyerangan di Mabes Polri, ISIS yang merupakan rumah dari kelompok ekstrem ini telah mengeluarkan mandat jika perempuan bisa menjadi pengantin atau martir bom bunuh diri. ISIS menggeser makna jihad yang semula jihad tandim menjadi jihad fardiah dan dhafi.Hal ini dapat diartikan jika perempuan, laki-laki dan anak-anak memiliki kewajiban yang sama untuk menjalankan amaliyah jihad.

Hal ini pun tertanam pada perempuan jika jihad adalah amalan tertinggi yang dilakukan oleh umat muslim. Keadaan ini membuat kelompok perempuan tidak lagi mendapatkan pengakuan dari kelompoknya untuk melakukan jihad. Hal yang paling menarik dari fatwa yang dikeluarkan oleh ISIS ini adanya perubahan cara pandang peran perempuan dalam kelompok ekstremisme.

Kita sama-sama mengetahui, jika ISIS memiliki karakter yang tidak konsisten dan hanya berorientasi pada hasil. Pada akhirnya, kelompok ini membuka ruang negosiasi yang sangat lebar terkait peran perempuan di ranah publik. Hal yang telah dilakukan oleh ISIS adalah tidak melarang perempuan berada di ruang public atas nama agama, pendidikan dan kesehatan.

Ruang fleksibel ini secara bertahap menjadi lebih besar karena dorongan perempuan itu sendiri. Sehingga, ketika terdapat perempuan yang dapat mengelabuhi aparat keamanan menjadi sebuah prestasi.

Baca juga: Soal Zakiyah Aini, Narasi Beragama Kita Memang bermasalah

Menurut Mia Bloom dalam buku Dying to Kill: The Allure of Suicide Terror perempuan dibanding laki-laki, mereka biasanya lebih leluasa bergerak dan tidak terlalu dicurigai oleh aparat keamanan sehingga nilai keterlibatan mereka jauh lebih tinggi dibanding nilai keterlibatan laki-laki. Apa yang dikatakan oleh Mia Bloom ini terbukti ketika Zakiyah Aini bisa dengan mudah masuk ke dalam Mabes Polri.

Hal lainnya yang menarik adalah hadirnya internet dan sosial media menjadi ruang yang lebih luas sehingga aktivitas ekstremisme tidak lagi berfokus pada aktor laki-laki. Ruang internet dan media sosial membuka potensi untuk perempuan dan anak menjadi eksekutor. Perlu diakui, ruang internet dan sosial media ini membuat proses radikalisme lebih mudah karena langsung terhubung dengan pimpinan lebih luas. Pergeseran tren ini mengubah pandangan terhdap kontruksi gender menjadi lebih fleksibel. Serta meninggalkan kekakuan cara pandang hitam-putih terhadap peran perempuan dan laki-laki.

Khususnya kasus Zakiyah Aini, propaganda romantisme kombatan perempuan disosialisasikan secara global untuk menjangkau lebih luas dan banyak orang. Hal ini pun menginspirasikan para perempuan Indonesia untuk bisa melakukan aksi serupa. Perlu diketahui, di sejumlah negara seperti Palestina, Srilangka, Chechnya, Pakistan dan negara lainnya menjadi kisah sukses perempuan kombatan.

Hal itu pula yang membuat dan menginspirasi perempuan untuk menyalurkan balas dendam. Di sosial media, cerita perempuan kombatan ini disuguhkan dengan tulisan hingga  video. Konten tersebut mampu menjawab krisis maskulin (gagalnya para laki-laki yang melakukan jihad-bunuh diri). Adanya sosial media dan internet perlu diakui telah mengubah cara rekrutmen dan propaganda yang semakin luas dan menjangkau kelompok yang ada di luar radar mereka.





Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Bagaimana Seharusnya Umat Islam Menyikapi Gempa Bumi?

Published

on

By


Islam mengajarkan kesadaran terhadap bencana alam, termasuk gempa bumi. Pemahaman fatalistik, pasrah, dan berserah diri tanpa mitigasi bencana sangat tidak dianjurkan dalam Islam.

Gempa bumi yang terjadi di Pantai Selatan Jawa Timur, Sabtu (10/4/2021) mengakibatkan kerusakan puluhan rumah di banyak kawasan di Jawa Timur, mulai dari Malang, Tulungagung, Lumajang, dan sebagainya. Guncangan gempa berskala 6 SR itu bahkan mencapai Surabaya hingga Yogyakarta.

Meskipun sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah rawan bencana, terang saja, gempa bumi nyaris selalu menimbulkan kepanikan. Padahal, jika menyadari bahwa Indonesia berada di wilayah Cincin Api, rumah geologis bagi gempa bumi dan letusan gunung berapi, maka kesiapsiagaan seharusnya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Selain pemerintah, guru dan pemuka agama setempat dituntut memberikan pemahaman konstruktif terhadap bencana alam di wilayah masing-masing. Kesadaran mitigasi becana ini amat penting, apalagi menurut BNPB, sepanjang 2020, telah terjadi sekitar 2.925 becana alam. Untuk gempa bumi sendiri, tahun lalu, telah terjadi 16 kali gempa di Indonesia.

Jika tidak ada kesadaran mitigatif terhadap bencana, maka tidak heran gempa bumi akan menelan banyak korban. Lebih parah lagi, terdapat beberapa konsepsi fatalistik terhadap gempa bumi. Pemahaman Islam yang salah, kalau tidak ditafsirkan ulang, turut berkontribusi melanggengkan sikap pasif terhadap bencana alam.

Juliana Wijaya (2019) menyebutkan bahwa orang Indonesia sering kali hanya pasrah terhadap bencana alam. Karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, pasrah dimaknai sebagai sikap berserah diri kepada Allah. Mereka bertawakal dengan pemahaman yang keliru sehingga nyaris tidak melakukan mitigasi terhadap gempa bumi.

Berbeda dengan bencana-bencana alam lainnya, misalnya banjir. Dalam Islam, banjir dapat dikategorikan sebagai musibah. Definisi musibah sendiri adalah tragedi karena ulah manusia (QS. 42:30). Masyarakat sedikit banyak menyadari bahwa banjir disebabkan karena penggundulan hutan, hilangnya daya resap tanah, kerusakan lingkungan, dan sebagainya.

Akan tetapi, gempa bumi adalah kasus lain. Dalam Islam, istilahnya adalah bala yang merupakan tragedi tanpa campur tangan manusia. Sebabnya adalah pergerakan lempeng bumi ataupun letusan gunung berapi. Sewaktu-waktu gempa dapat terjadi, belum ada cara untuk mencegahnya.

Karena itulah, Oman Fathurrahman, Guru Besar Filologi UIN Jakarta menyebutkan bahwa sering kali masyarakat tidak melakukan persiapan apa-apa menghadapi gempa bumi. Di Sunda sendiri, ujar Oman, ada istilah “kumaha engke“, yang maknanya tidak ada rencana ke depan (sebelum bencana terjadi). Usai bencana, barulah ada upaya pemulihan untuk mengevakuasi korban atau memperbaiki bangunan yang roboh karena gempa bumi.

Padahal, dalam mitigasi bencana, terdapat tiga fase yang harus dilakukan. Pertama, fase prabencana yang meliputi pencegahan, peringatan, dan persiapan. Kedua, fase respons terhadap bencana yang meliputi sikap tanggap terhadap keadaan darurat yang terjadi. Ketiga, fase pascabencana yang meliputi pemulihan hingga penyembuhan korban karena trauma. Ketimpangan salah satu dari ketiga fase di atas mengakibatkan kerugian materiel dan morel yang tak terhingga.

Dalam bencana gempa bumi, kendati belum bisa dicegah, namun risiko bencana tersebut dapat diminimalisasi melalui serangkaian upaya persiapan dan peringatan sebelum gempa bumi terjadi.

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Furqan I. Aksa (2020) bahwa Islam sendiri sudah mengatur mengenai kesadaran terhadap bencana melalui tiga konsep, yaitu pengetahuan (Al-ilmu), ikhtiar, dan tawakal.

Pertama, Islam mewajibkan umatnya untuk mencari pengetahuan (menuntut ilmu). Dalam hal kebencanaan, bagi orang yang tinggal di kawasan rawan bencana, mengetahui konsep mitigasi gempa bumi adalah suatu keharusan. Hal ini berkaitan dengan hidup-matinya individu bersangkutan (survival).

Melihat prevalensi bencana alam di Indonesia, seharusnya sudah ada integrasi pendidikan kebencanaan di kurikulum pendidikan Indonesia. Selain itu, sudah ada lagu mitigasi gempa bumi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang digubah oleh Eko Yulianto untuk anak-anak. Namun, sangat sedikit sekali sekolah atau guru yang mengajarkan lagu tersebut.

Kedua, seorang muslim harus berikhtiar dan berusaha dalam segala kondisi (QS. 13:11), termasuk dalam mitigasi gempa bumi. Teladan mitigasi bencana ini bisa dilihat dari kisah Nabi Nuh yang melakukan persiapan penuh sebelum bencana terjadi.

Kesiapsiagaan gempa bumi dapat dilakukan dengan membangun jalur evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi gempa. Selain itu, penting untuk mengedukasi anak-anak agar sadar bencana. Berbeda dengan orang dewasa yang mudah melarikan diri, anak-anak sering kali kurang paham terhadap bencana sehingga rentan menjadi korban bencana alam.

Ketiga, tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha apa-apa, melainkan menyerahkan hasil dan dampaknya kepada Allah Swt, seiring dengan usaha maksimal untuk mengurangi risiko gempa bumi tersebut.

Lebih penting lagi, kesadaran terhadap mitigasi bencana di atas, terkhusus gempa bumi, harus dipahami oleh pemangku kebijakan. Bagaimanapun juga, mereka yang memiliki anggaran dan program kerja resmi untuk mengatur kasus kebencanaan di Indonesia.

Masalahnya, menurut Hammam Riza, Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), alokasi anggaran untuk mitigasi bencana atau pencegahan dan persiapan mengurangi risiko gempa bumi tergolong minim. Sebaliknya, anggaran yang digelontorkan ketika gempa bumi sudah terjadi tercatat lebih besar.

Pemerintah menitikfokuskan pada upaya pemulihan dan restorasi sumber daya terdampak gempa bumi, alih-alih melakukan prevensi sebelum bencana terjadi. Mirisnya, ketika dilakukan pemulihan (rehabilitasi) usai gempa bumi, tak jarang tragedi itu justru dipolitisasi, mulai dari sorotan berlebih pada bantuan partai atau tokoh tententu, hingga isu karena pemimpin yang tak taat syariat.



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Catatan Eks Napiter Tentang Banyaknya Milenial Ikut Gerakan Teror, Begini Penjelasannya

Published

on

By


Bagaimana milenial bisa terjerembab gerakan teror dan ideologi ini seolah terus berkembang? Beberapa pekan lalu publik dikejutkan dengan peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan dua orang pasangan muda di Gereja Katedral Makassar. Pasangan itu baru menikah sekitar tujuh bulan ini kompak untuk mengakhiri hidupnya sebagai martir bom bunuh diri di usia yang baru 26 tahun.

Belum selesai dengan keterkejutannya, publik kembali dibuat terkejut dengan aksi seorang ZA, 26 tahun, perempuan muda usia yang melakukan aksi ightiyalat (mencari kematian) dengan menerobos Mabes Polri. Publik pun kembali dibuat bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan hingga kaum milenial hingga mereka bisa bergabung dan terlibat dengan kegiatan Extraordinary Crime seperti terorisme?

Rebel with a cause

Sebetulnya agak telat jika publik baru merasa ngeh dengan keterlibatan anak-anak muda dan kaum milenial di kancah terorisme dan organisasi teror. Dalam artikelnya tanggal 1 April 2021, dibawah judul; “Daftar Pelaku Teror Berusia Muda: Dari Usia 18 hingga 26 Tahun” detik.com memang telah merangkum beberapa nama anak-anak muda yang terlibat dalam aksi teror dan organisasi terorisme. Namun bukan berarti bahwa jumlah kaum muda yang terlibat dalam terorisme hanya sejumlah itu.

Dari pengalaman yang penulis dapatkan selama menjalani masa penahanan di Rutan Mako Brimob medio 2016-2017, penulis dapat menghitung bahwa jumlah kaum muda usia 16-30 tahun penghuni rutan Mako Brimob Kelapa Dua – Depok yang notabene terlibat dalam terorisme lebih dari 20 orang.

Mereka-mereka itu ada yang telibat dalam jaringan MIT, aksi pemboman, perencanaan pemboman, perencanaan chaos, dan lain-lain. Bahkan sebagaimana dirilis dari laman detik.com di atas, keterlibatan kaum muda di kancah terorisme telah ada sejak 12 tahun silam.

Lalu apakah yang menjadi daya tarik terorisme hingga membuat kaum muda ikhlas untuk terjun di dalamnya?

Pengamat terorisme Al Chaidar sebagaimana dilansir kompas.com, 2 April 2021, menyampaikan bahwa rendahnya pemahaman agama menjadi salah satu faktor penyebab mudahnya kaum muda milenial terpapar ajaran radikalisme dan terorisme.

Sebelumnya, dalam artikel lain di kompas.com, Pimpinan Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail juga menyampaikan bahwa ada 3 hal yang memicu orang-orang kelompok usia muda tertarik mengikuti aksi terorisme, yaitu: Pencarian jati diri dan identitas diri, cara pengekspresian diri dan sebagai dampak interaksi kaum muda dan media sosial.

Senada dengan Noor Huda Ismail, Pendiri Speak Peace Indonesia Boaz Simanjuntak dalam komunikasi onlinenya dengan penulis juga bertutur, selain sangat rentan di dunia digital, anak muda juga akan mengalami tiga tahapan proses dimana proses tersebut sangat rentan untuk terpapar faham terorisme. Tahap pertama adalah proses pencarian jati diri, proses kedua mereka juga akan melalui masa-masa kegalauan yang membutuhkan solusi dan terakhir adalah tahap kompetisi untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Pendapat para pengamat di atas memang benar. Fase-fase kehidupan yang dilalui kaum muda dapat menjadi sebab awal ketertarikan mereka pada dunia terorisme. Ditambah dengan beberapa faktor eksternal lainnya seperti dunia internet, keluarga dan lingkungan, pada akhirnya membawa mereka untuk bergabung dan direkrut oleh para teroris.

Penulis pun mengakui bahwa peran dunia digital dalam hal ini internet dalam penyebaran konten-konten intoleran, radikalisme dan terorisme sangat besar, terutama sejak kemunculan ISIS di Timur Tengah. Konten-konten kekerasan dan sadisme bertaburan di internet dan sengaja disebarkan sebagai corong propaganda dan kampanyenya.

Selain itu materi-materi narasi yang mendukung aksi terorisme tak kalah berserakannya bahkan hingga hari ini, dengan ketelitian dan kesabaran, kita masih dapat mengaksesnya di internet. Sekali lagi, internet sebagai ruang publik dunia menjadi sebuah habitat dalam penyebaran konten-konten terorisme.

Peran lingkungan terdekat juga tak kalah hebatnya. Semasa dalam tahanan, penulis pun menjumpai beberapa anak muda yang mewarisi estafeta terorisme dari orang tua dan kerabatnya. Bahkan ada juga beberapa orang yang anak dan orangtuanya sama-sama terlibat dalam terorisme. Entah orangtuanya yang tertangkap duluan, anaknya duluan, atau tertangkap bersamaan.

Sebagai contoh MS yang ditangkap Densus 88 di Poso, Sulawesi Tengah karena terlibat dalam jaringan MIT bertemu dengan ayahnya yang juga telah ditangkap karena terlibat peristiwa Thamrin. Demikian juga AD yang sama-sama dengan ayahnya terlibat dalam peristiwa pemboman Gereja Oikumene di Samarinda. Padahal waktu itu usianya baru 16 tahun.

Dari contoh di atas jelas tergambar bahwa pola pendidikan dalam rumah juga dapat menjadi ajang kaderisasi dan penanaman ideologi terorisme. Transfer ideologi dapat berlangsung dimana saja, bahkan di lingkungan terdekat semacam keluarga.

Fokus, Sinergi dan Komprehensif

Penanganan terhadap bahaya intoleransi, radikalisme dan terorisme memang membutuhkan tenaga ekstra dan melibatkan banyak pihak dari segenap elemen masyarakat, tidak hanya aparatur pemerintah. Selain itu perlu gerakan masif dan menyentuh akar rumput.

Mungkin masih bisa dibayangkan beberapa tahun silam para rekruter terorisme memasarkan ideologinya pada kalangan tertentu dan di tempat-tempat khusus seperti pondok pesantren, majelis-majelis dan masjid. Namun kini para rekruter telah merambah segala sendi masyarakat dari internet, media sosial, sekolah, instansi pemerintahan hingga door-to-door ke tiap individu dengan tanpa lagi memandang target kalangan.

BNPT sebagai lembaga koordinasi dan kepolisian sebagai aparat penegak hukum memang sebagai kunci dalam penanggulangan terorisme. Namun tugas dalam mencegah, mewaspadai bahkan menjaga keutuhan negera ini khususnya dari ancaman ideologi terorisme adalah kewajiban kita bersama sebagai anak bangsa.

Sudah saatnya kita bahu-membahu memposisikan diri kita untuk ikut serta dalam upaya penanggulangan terorisme. Dan itu bisa dimulai dengan tidak membiarkan rekan-rekan kita para milenial dan kaum muda melewati fase-fase kerentanan dalam hidupnya agar tidak terjerumus dalam terorisme.

Kita juga jangan membiarkan kaum muda untuk berdiri sendiri di tiap persimpangan hidupnya dan menghadapi tanda tanya-tanda tanya besar (uqdatul qubra) yang dapat dimanfaatkan oleh para rekruter terorisme untuk menarik simpati mereka. Bersama, kita pasti bisa. []



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved