Connect with us

Kalam

Islam Pinggirkan Perempuan? Begini Jawaban Gus Baha

Published

on



loading…

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang populer dipanggul Gus Baha mengungkap bahwa dalam banyak literatur, perempuan dibahas beberapa kali. Termasuk di dalam Al-Quran , pembahasan tentang perempuan yang paling masyhur adalah dalam Surat Maryam .

“Karena itu keliru jika Islam dituduh meminggirkan perempuan, pasalnya dalam Al-Qur’an saja terdapat surat yang ‘bintangnya’ adalah perempuan,” papar Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini saat menjelaskan nubuwwah atau anugerah sebagian dari perempuan dalam ceramahnya pada acara peringatan hari lahir kelima Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Mubalighah (JP3M), belum lama ini. Acara berlangsung di Pondok Pesantren Darussalam Gabungan Semarang, Jawa Tengah.

Baca juga: Ibadah Senang, Gus Baha Bilang Tertawa Kencang Itu Juga Ibadah

“Sayyidah Khadijah Kubro , istri Nabi Muhammad SAW adalah perempuan yang memiliki peran luar biasa dan dicatat sejarah serta tidak akan dilupakan pengetahuannya tentang bukti-bukti kenabian,” terang Gus Baha.

Lebih jauh ia menyampaikan, andaikan sejarah mencatat tentang siapa orang pertama yang beriman, secara mutlak–tidak melihat kelompok dan golongan–pasti yang muncul adalah nama perempuan, yakni Sayyidah Khadijah Kubro.

“Maka para ulama mengatakan, andaikan tarikh (sejarah) menulis awwalu man amana mutlaqan itu yang menang Sayyidah Khadijah, bukan Abu Bakar ash-Shidiq . Ini keunggulan perempuan,” imbuhnya.

Baca juga: Gus Baha Dinobatkan sebagai Dai of The Year 2020 oleh ADDAI

Tahu Kenabian
Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad SAW, Sayyidah Khadijah banyak membaca referensi yang didokumentasikan oleh pamannya sendiri Waraqah bin Naufal .

“Semua alamat kenabian ada di sana,” terang kiai asal Rembang, Jawa Tengah ini.

Gus Baha kemudian menceritakan kisah Sayyidah Khadijah yang mengetahui kriteria calon nabi, di antaranya diperlakukan khusus oleh alam.



Berita Selengkapnya

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalam

8 Sunnah-sunnah Puasa Ramadhan, Yuk Kita Amalkan!

Published

on

By



loading…

Secara bahasa puasa (ash-shoum) bermakna menahan. Kata ini berasal dari kata “shooma, yashuumu dan shouman wa shiyaaman“. Secara istilah puasa adalah menahan diri pada siang hari dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan niat ibadah sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Pengajar Rumah Fiqih Ustaz Ahmad Zarkasih Lc dalam “Buku Saku Ramadhan” menjelaskan 8 sunnah-sunnah puasa Ramadhan. Di dalam hadis disebutkan bahwa puasa Ramadhan merupakan salah satu tiang agama: “Islam dibangun atas lima, syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, pergi haji dan puasa Ramadhan”. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: 13 Hal Tentang Puasa Ramadhan yang Wajib Diketahui Umat Islam

Adapun keutamaan mengamalkan Sunnah Nabi akan mendapat ganjaran sebagai sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم berikut:

من أحيا سنتي فقد أحبني ومن أحبني كان معي في الجنة

“Barang siapa yang menghidupkan sunnahku maka dia telah mencintaiku, barang siapa yang mencintaiku maka dia akan bersamaku di surga”. (HR at-Tirmidzi)

Beliau juga bersabda: “Barangsiapa berpegang teguh kepada sunnahku ketika rusaknya ummatku, maka baginya pahala seratus orang mati syahid.” (HR. Al-Baihaqi)

Berikut 8 Sunnah Puasa Ramadhan

1. Makan Sahur
Para ulama telah sepakat tentang sunnahnya sahur untuk puasa. Meski demikian, tanpa sahur pun puasa tetap boleh.Karena dalam sahur itu ada barokah, sebagaimana riwayat dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda: “Makan sahurlah, karena sahur itu berkah”. (HR Bukhari dan Muslim)

Makan sahur tetap disunnahkan walau tidak terlalu banyak. Bahkan kesunnahan sahur tetap berlaku meski hanya dengan segelas air putih saja. Dari Abi Said al-Khudri: “Sahur itu barakah maka jangan tinggalkan meski hanya dengan seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.” (HR Ahmad)

2. Mengakhirkan Sahur
Disunnahkan untuk mengakhirkan makan sahur hingga mendekati waktu shubuh. Dari Abu Zar Al-Ghifari dengan riwayat marfu’, “Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan buka puasa dan mengakhirkan sahur.” (HR. Ahmad)

Praktek makan sahur yang dilakukan oleh Rasulullah justru berlombalomba dengan datangnya waktu fajar. Rasulullah telah menegaskan bahwa makan sahur memiliki banyak hikmah, salah satunya agar puasa kita di siang harinya menjadi semakin tahan dan kuat. “Mintalah bantuan dengan menyantap makan sahur agar kuat puasa di siang hari. Dan mintalah bantuan dengan tidur sejenak siang agar kuat shalat malam.” (HR. Ibnu Majah)

3. Menyegerakan Berbuka
Disunnahkan dalam berbuka puasa untuk mentakjil atau menyegerakan berbuka sebelum sholat Maghrib. Meski hanya dengan seteguk air atau sebutir kurma. Dari Sahl bin Saad bahwa Nabi bersabda, “Umatku masih dalam kebaikan selama-mendahulukan berbuka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kesunnahan ini tentu sangat penting untuk digarisbawahi. Ternyata meskipun sholat Maghrib itu sedikit sekali waktunya, namun tetap saja lebih diutamakan bagi yang berpuasa untuk berbuka terlebih dahulu, dan bukan mendahulukan shalat Maghrib.

4. Memberi Makan Orang Berbuka
Memberi makan bagi orang yang berbuka puasa sangat dianjurkan karena balasannya sebesar pahala orang yang diberi makan itu tanpa dikurangi. Bahkan meski hanya memberi sebutir kurma atau seteguk air putih saja. Tapi lebih utama bila dapat memberi makanan yang cukup dan bisa mengenyangkan perutnya. Sabda Rasulullah: “Siapa yang memberi makan (saat berbuka) untuk orang yang puasa, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang diberi makannya itu tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya”. (HR At-Tirmizi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaemah)

5. Membaca Al-Qur’an
Disunnahkan bagi orang yang sedang berpuasa, khususnya puasa Ramadhan, untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Dasarnya adalah hadits shahih berikut: “Jibril ‘alaihissalam mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم pada tiap malam bulan Ramadhan dan mengajarkannya Al-Qur’an. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

6. Memperbanyak Sedekah
Memperbanyak sedekah sangat disunnahkan saat kita sedang berpuasa, termasuk memberi keluasan belanja pada keluarga, berbuat ihsan kepada famili dan kerabat serta memperbanyak sedekah. Adalah Rasulullah orang yang paling bagus dalam kebajikan. Dan menjadi paling baik saat bulan Ramadhan ketika Jibril mendatanginya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم itu orang yang sangat murah dengan sumbangan. Namun saat beliau paling bermurah adalah di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Menjaga Lidah dan Anggota Tubuh
Disunnahkan untuk meninggalkan semua perkataan kotor dan keji serta perkataan yang membawa kepada kefasikan dan kejahatan. Termasuk di dalamnya adalah ghibah (bergunjing), namimah (mengadu domba), dusta dan kebohongan. Meski tidak sampai membatalkan puasanya, namun pahalanya hilang di sisi Allah.



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Kalam

Mengajak Anak Berlatih dan Belajar Puasa

Published

on

By



loading…

Melatih anak kecil yang belum mukallaf (baligh) untuk turut beribadah bersama kaum muslimin , merupakan sebuah keteledanan yang harus kita lakukan. Salah satu ibadah tersebut adalah puasa.

Baca juga: Belajar dari Kemuliaan Keluarga Imran

Dalil melatih mereka untuk berpuasa yakni dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz; dia berkata, “Rasulullah mengutus untuk mengumumkan pada pagi hari asyura’ di wilayah kaum Anshar yang berada di sekitar kota Madinah.

من كان أصبح صائما فليتمّ صومه ومن كان أصبح مفطرا فليتمّ بقية يومه

‘Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, hendaklah menyelesaikannya. Barang siapa yang tidak berpuasa (sudah sarapan), hendaknya menahan (makan dan minum) sampai selesai.’ Setelah adanya pengumuman itu, kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa . Kami juga mengajak mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga; Kunci Meraih Derajat Takwa di Bulan Ramadhan, Rajin Baca Al-Qur’an

Apa yang harus dilakukan untuk mereka berlatih puasa ini? Sebenarnya, kita tidak perlu takut anak kekurangan gizi gara-gara berpuasa sehari penuh. Yang penting kita mengetahui bagaimana tips, untuk melatih anak-anak ini mau berpuasa. Salah satunya adalah menyediakan menu sahur yang bergizi serta iftar yang bernutrisi.

Jangan asal enak tapi tak sehat. Jangan pula asal kenyang tapi miskin kandungan gizi. Seimbangkan menu sahur dan buka puasanya: nasi dan lauk pauk (sayur, ikan, tempe, tahu, ayam, atau daging), susu, kurma, serta pilihan makanan dan minuman sehat-bernutrisi lainnya. Insyaallah raga anak tidak akan sengsara.

Baca juga: Bolehkah Perempuan Haid Berlama-lama di Masjid?

Dirangkum dari berbagai sumber, ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua khususnya seorang ibu untuk melatih anak berpuasa, yakni:

1. Latih secara bertahap

Berpuasa memerlukan kesiapan fisik dan mental. Jika ingin melatih anak kecil berpuasa, lakukan secara bertahap. Misalnya jika orang tua berpuasa senin dan kamis, anak bisa diajak serta. Uji coba dengan puasa ”beduk”. Jika anak masih kuat, lanjutkan puasanya hingga penuh sehari.

Baca juga: Jejak Batavia Noord, Stasiun Pertama dan Tertua Cikal Bakal Pengembangan Jalur KRL Jakarta-Bogor

2.Beri motivasi

Agar anak semangat berpuasa, maka berikan kalimat motivasi sesering mungkin. Misalnya, ”Enak ya puasa.” ”Allah sayang orang Islam yang rajin puasa.” ”Kita puasa supaya dapat banyak pahala. Kalau pahala tambah banyak, insyaAllah kita bisa masuk surga. Di surga itu enak, banyak teman yang baik-baik.”

3. Sajikan makanan kegemaran sang anak

Terutama pada saat berbuka atau sahur mereka. Ketika menyiapkan hidangan tersebut, sampaikan kepadanya, ”Insyaallah kita makan ini kalau berbuka puasa nanti.” Ketika berbuka, motivasi anak dengan nikmatnya berbuka setelah berjuang berpuasa sehari penuh, ”Alhamdulillah, enak ya kita bisa buka puasa. Masyaallah, anak Ummi hebat! Kapan-kapan insyaallah kita puasa lagi ya.”

Baca juga: Bertemu PPP, PKS Belum Terlalu Yakin dengan Poros Islam?

4. Tidurkan anak lebih awal agar mau bangun sahur



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Kalam

Belajar dari Kemuliaan Keluarga Imran

Published

on

By



loading…

Keluarga adalah madrasah iman yang paling utama. Ada sebuah potret istimewa sebuah keluarga yang dicantumkan dalam Al-Qur’an, yakni keluarga Imran. Sampai-sampai Allah memberinya kehormatan menjadi salah satu nama surat, yang hanya 114 nama ini. Nama surat tersebut surat Ali Imran. Lantas apa keistimewaan keluarga Imran?

Baca juga: Kunci Meraih Derajat Takwa di Bulan Ramadhan, Rajin Baca Al-Qur’an

Sosok Imran sebenarnya bukanlah seorang nabi apalagi rasul. Namun Allah Subhanahu wa ta’ala memujinya lewat sebuah ayat dan menyandingkannya dengan nama dan keluarga nabi . Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّاللَّهَاصْطَفَىآَدَمَوَنُوحًاوَآَلَإِبْرَاهِيمَوَآَلَعِمْرَانَعَلَىالْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).” (QS Ali Imran: 33)

Baca juga: Bolehkah Perempuan Haid Berlama-lama di Masjid?

Dalam tafsir Ibnu Katsir, Imran dan istrinya adalah hamba yang senantiasa tekun beribadah. Mengawali pendidikan anaknya sejak dalam kandungan. Ketika istri Imran hamil, ia telah berdoa dan menadzarkan anaknya menjadi hamba yang sholeh yang mengabdi kepada Allah, secara khusus akan berkhidmat kepada Baitul Maqdis. Nadzar keluarga Imran ini menunjukkan tingginya cita-cita untuk melahirkan generasi berkualitas, dengan senantiasa memohon kepada Allah agar generasi yang akan dilahirkan benar-benar menjadi hamba Allah yang sholeh.

Maka doa sejak mengandung anak menjadi senjata yang sangat ampuh, untuk melangitkan harapan. Untuk itu ia berkata, seperti yang disebutkan firman-Nya: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ali Imran: 35)

Baca juga: Inilah Kebaikan dalam Menyegerakan Berbuka Puasa

Muslimah, seorang ibu hendaknya memperhatikan sisi ruhiyah ketika ia mengandung. Jangan hanya sibuk memikirkan hal duniawi saja, misalnya persiapan melahirkan atau dari sisi kesehatannya. Meskipun tentu saja hal tersebut harus tetap mendapatkan perhatian. Namun hal yang pertama dan utama adalah bagaimana pendidikan dari segi ruhiyah dan itu dilakukan sejak dalam kandungan.

Istri Imran telah melakukan pendidikan dalam kandungan, walau suaminya (Imran) meninggal ketika hamil. Lalu pendidikan itu berlanjut tatkala istri Imran melahirkan, ia berdoa, “Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran: 36).

Baca juga: Soal Reshuffle Kabinet, Menkominfo: Itu Domain Presiden

Istri Imran adalah potret bagaimana ibu senantiasa memohon kepada Allah penjagaan kepada anaknya. Potret ini mengisyaratkan bahwa disetiap fase hamil dan melahirkan hendaknya senantiasa memohon kepada Allah, dan tentu saja Allah akan menerima hal yang baik. Mengawali setiap fase dengan niat dan cara yang baik dan melangitkan harapan tersebut kepada Allah, maka Allah akan menerimanya, bahkan terlibat dalam proses pertumbuhannya.

Baca juga: Permintaan Daging Sapi Asal Australia Kian Meningkat Saat Ramadan

Allah mengirimkan Zakaria untuk memeliharanya, disebabkan ayahnya, Imran telah meninggal. Bukan hanya itu, Allah pun senantiasa melimpahkan rezekinya dengan makanan yang Allah kirimkan kepada Maryam. “Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab, dia dapati makanan disisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, darimana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberikan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali Imran: 37)

Baca juga: Berduka, Biden Perintahkan Pengibaran Bendera Setengah Tiang

Keistimewaan keluarga Imran tak berakhir sampai di situ. Maryam, wanita suci dipilih oleh Allah untuk menjadi ibu seorang nabi. Ternyata keistimewaan keluarga ini tak hanya sampai pada anaknya, namun semakin meningkat kualitas generasinya hingga ke cucunya, yakni Nabi Isa ‘Alahissalam. Doa dan madrasah iman yang dilakukan oleh Imran dan istrinya berujung pada lahirnya seorang nabi.

Muslimah, dari keluarga Imran ini kita bisa belajar. Bagaimana kualitas seorang anak sangat ditentukan oleh peran orang tua. Proses pendidikan yang dilakukan orang tua kepada anaknya menjadi kunci utama kualitas seseorang.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim)

Baca juga: Gempar Pesta Dugem di Resto Milik Ketua DPRD Palopo, Polisi Bungkam

Wallahu A’lam

(wid)



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved