Connect with us

Perjalanan

David dan Goliat Pernah Bersekutu di Dubrovnik

Published

on


Nyaris tak ada tempat sepi di Dubrovnik, kala musim panas. Orang hilir mudik di trotoar. Semakin menuju kota tua, kendaraan semakin padat. Kami sempat kaget menghadapi kenyataan, bahwa tarif parkir per jam di sebuah aula parkir tertutup dekat pusat kota tidak murah. Sebelum akhirnya memutuskan berputar haluan, mencari tarif parkir lebih bersahabat, meski harus ke pinggiran kota, dua kilometeran jaraknya dari tembok kota tua.

Ini kali kedua kami mengunjungi salah satu kota tempat syuting King’s Landing di serial populer The Games of Thrones (GoT). Mungkin karena kami pertama kali datang di musim dingin, sedangkan musim panas adalah waktu liburan utama warga Eropa. Saat itu, belum ada tanda-tanda pagebluk bakal memberi ujian berat bagi dunia.

Kerumunan wisatawan sudah mulai terlihat di Amerling Fountain, menjelang masuk Gerbang Pila. Tidak sedikit orang berdiri menawarkan berbagai macam tur. Tur kayaking di laut, walking tour keliling kota tua, dan tentu saja, tur mengunjungi lokasi-lokasi syuting GoT. Kami pilih irit. Keliling kota mandiri berbekal gmaps. Bila kita berjalan ke arah laut, tepat di atas Teluk Kolorina, kita bisa mencuri pandang pemandangan tembok tebal dan benteng kota tua yang berdiri gagah di atas tebing.

Kota ini mulai tumbuh pada abad ketujuh masehi. Para pengungsi Epidaurum, 10 km di selatan Dubrovnik mulai mendiami wilayah ini setelah terusir dari asalnya. Sedikit demi sedikit, mereka membangunnya sebagai sebuah kota, diberi nama Ragusa. Pendatang juga mulai mendiami wilayah ini. Lokasinya strategis di tepi Lautan Adriatik membuat Ragusa berkembang cepat dan makmur. Sasaran empuk bagi penyerang. Bangsa Arab datang di abad 9, Makedonia di abad 10. Dan di abad 12, salah satu bangsa penguasa Lautan Mediterania, Venesia, tertarik menduduki Ragusa.

Venesia adalah Goliat bagi Ragusa yang saat itu ditinggali banyak kaum intelektual. Mereka menginginkan otonomi, punya negara sendiri, dan terutama ingin perdamaian. Tak mungkin melawan Venesia dengan kekuatan senjata, taktik lain harus digunakan.  Diplomasi, membayar upeti, hingga menyuap dilakukan. Penguasa Ragusa berhasil meyakinkan bangsa-bangsa di sekitarnya: Slavia, Eropa, Byzantium, bahwa Ragusa adalah titik perdagangan dan pelabuhan penting yang harus dilindungi. Tak hanya berhasil menghindarkan Venesia untuk menguasainya, melalui kapal-kapal besar yang menyinggahinya setiap hari, kemakmuran Ragusa bertambah. Sehingga mampu membangun benteng pertahan kuat di sekeliling negeri.

Sekitar abad 15, waktu Turki Utsmani, sang Goliat baru mulai menunjukkan gigi-ginya di Eropa dan Lautan Mediterania, negara Ragusa salah satu yang pertama menjalin hubungan diplomatik dengannya. Ragusa menjadi perantara perdagangan antara negeri timur dan barat, sekligus menguatkan posisi perekonomiannya. Sewaktu Turki Utsmani menguasai Semenanjung Balkan, Ragusa mengambil posisi netral, membayar upeti, biar tetap bebas merdeka. Sebagian muslim Bosnia pergi berhaji lewat pelabuhan Ragusa. Pada abad 16, berpenduduk sekitar 35 ribu jiwa, Ragusa adalah kekuatan perdagangan terbesar ketiga di dunia, dengan 160 kapal dagang. Ilmu pengetahuan dan budaya berkembang pesat di negara mini ini.

Akan tetapi, bintang Ragusa redup semenjak abad 17. Inggris, Perancis, dan Belanda aktif mengambil bagian dalam perdagangan laut. Dengan armada lebih banyak serta lebih moderen. Semakin sedikit kapal singgah di Pelabuhan Ragusa. Ragusa tak punya alternatif lain untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Apalagi gempa bumi dasyat tahun 1667 meluluhlantakkan sebagian besar isi kota. Menyisakan hanya setengah penduduk saat itu. Ragusa kehilangan otonomi sebagai negara merdeka saat Perancis di bawah Napoleon menguasainya. Ragusa jadi bagian Propinsi Illyria. Sejak tahun 1921 namanya berganti sebagai Dubrovnik, berbendera Kroasia. Kemakmuran kembali melanda. Kali ini, dari para wisatawan. Kapal-kapal besar kembali singgah. Kapal pesiar dari belahan lain dunia.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sebagai kota wisata, Dubrovnik memang menawan. Klasik, elegan, bersih, dibangun di atas tebing setinggi 37 meter. Tidak salah bila dijadikan tempat syuting film atau serial. Setelah perang besar Eropa di Balkan tahun 1990-an, sebagian besar bangunan tuanya sudha kembali diperbaiki. Dubrovnik masuk dalam daftar budaya dunia Unesco sejak tahun 1979.

Butuh lebih dari satu hari untuk menjelajahi isi Dubrovnik. Dua tiga hari setidaknya.  Kecuali jika hanya sekadar lewat jantung kota tua. Sediakan pula stamina prima. Interiornya tidak didesain bagi kendaraan, apalagi kendaraan bermotor. Padahal kontur kota tuanya turun naik tajam, butuh tenaga ekstra. Di musim panas, membawa persediaan air minum lebih banyak, bukanlah ide buruk.

Benteng dan cincin tembok kota tua sepanjang hampir 2 km adalah destinasi utama Dubrovnik. Pada masa silam, di luar tembok dikelilingi parit lebar. Kota ini memiliki 5 benteng dan 16 menara. Tiga di antaranya berada di sepanjang cincin kota tua: Minceta, Bokar, Ivan. Benteng Lovrjenak di barat, Revelin di timur. Minceta di bagian utara, bertugas melindungi serangan musuh dari dataran tinggi. Mereka semua simbol pertahanan Dubrovnik. Cincin kota tua bagaikan open air museum, dikunjungi orang sepanjang tahun. Saking lebarnya, orang leluasa berjalan di atas tembok.

Terdapat tiga pintu masuk utama kota tua Dubrovnik. Melalui Gerbang Pila di barat, Vrata od Buze (Gerbang Buze) di utara, atau dari Gerbang Ploce, arah pelabuhan lama di timur. Antara Gerbang Pila dan pelabuhan lama membentang Jalan Stradun. Jalan primer kota tua, dibuat sejak abad 11. Jika kita memasuki kota tua dari Gerbang Pila, kita akan segera bertemu pancuran air minum Onofrio’s fountain. di musim panas, orang berkerumun di sekitar pancuran air. Mengisi botol-botol minuman mereka atau membasahi kepala sambil cuci muka. Mereka ngadem sambil duduk-duduk di bawah bayang-bayang menara jam. Air pancurannya dingin menyegarkan. Gratis lagi.

Di sekitar pancuran dan sepanjang Jalan Stradun pula kita bisa menyaksikan banyak orang berpakaian tradisional. Street performers memamerkan berbagai keahlian. Bermain musik jadul, menyanyi, menari, menjadi patung manusia berkostum unik. Di kedua sisi Jalan Stradun berdiri bangunan-bangunan batu alami 3-4 tingkat. Bentuknya dan warnanya mirip-mirip. Lantai dasar dimanfaatkan sebagai tempat usaha: kafe, rumah makan, toko, atau kantor. Sedangkan lantai atas sepertinya dipakai sebagai tempat tinggal. Di sela-sela bangunan kami temukan gang-gang jauh lebih sempit.

Bila kita mengambil gang arah utara, makan kita akan ketemu tangga-tangga menanjak tinggi. Ke selatan, ke arah lautan. Menyusuri gang-gang sempit selebar 1-2 meter di Dubrovnik tak kalah mengasyikkan. Semakin kita menjauhi Jalan Stradun, semakin sedikit kita ketemu keramaian dan tempat-tempat usaha. Sebagai gantinya, kita disuguhi kawasan permukiman penduduk setempat. Mereka menata pot-pot tanaman bunga dan buah mepet dengan tembok rumah. Sedikit mendongak, balkon-balkon mini muncul di depan pintu kayu. Kadang malah ada cucian sedang dijemur di gantungan antara dua bangunan. Mereka bahkan punya lapangan sepak bola dan bola basket mini tepat di sisi Benteng Minceta. Satu dua kafe terbuka mini akan menyapa kita. Tempat istirahat sejenak, sembari menyeruput kopi atau jus jeruk atau delima merah yang diperas langsung dari buah segar.

Berjalan ke arah Gerbang Ploce, kami bertemu perairan terbuka. Sumber kemakmuran masa silam Dubrovnik, Pelabuhan Lama (Stara Luka). Menempati teluk kecil di ujung kota tua. Sekarang hanya boat dan yacht kecil bersandar di sana. Serta perahu angkutan ke Pulau Lokrum. Kapal-kapal besar bersandar di pelabuhan baru,  ke arah barat laut dekat tempat kami memarkir mobil. Ketika berjalan menyusuri pelabuhan hingga ke belakang Museum Maritim, kami mendapatkan kejutan.

Meski nyaris tidak ada pantai berpasir putih di dekat sini, malahan berupa tebing batu, walau tidak terlalu tinggi, kami melihat orang banyak menggelar tikar atau handuk untuk berjemur, sesekali nyemplung ke laut. Air lautnya bening, dan cuaca panas, sepertinya berendam di laut segar juga.

Di Bar Buza, kami ketemu yang lebih seru lagi. Jalan masuk ke bar ini adalah pintu sempit di tembok kota tua. Bar Buza berada di atas tebing tinggi dan curam. Datang kemari, orang ndak mesti duduk dan memesan sesuatu. Seperti kami. Yang mampir sebab ingin menyaksikan atraksi adu nyali para turis yang dikenal sebagai cliff jumping. Orang-orang merangkak naik, merayapi tepian tebing dengan tangan kosong. Setinggi mungkin. Sebelum melompat, terjun ke arah laut. Byurrrrrr.

Oh ya, di pusat kota Dubrovnik terdapat sebuah masjid di bawah naungan Komunitas Islam Kroasia. Tepatnya di Jalan Ulica Miha Pracata. Sekilas seperti sebuah gedung apartemen biasa. Masjid ini tidak bisa didatangi setiap waktu. Ada jam bukanya, tertera di tembok depan. Ia terdiri dari beberapa lantai. Memiliki ruang sholat dan ruang belajar bagi saudara muslim di sana.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perjalanan

Merawat Ingatan: Menjumpai Syekh Mansyur Ulama Karismatik Dompu

Published

on

By



Kendaraan kami hidupkan dan mulai menyusuri jalan yang berliku. Sebagaimana topografi pulau Sumbawa pada umumnya, Dompu dikelilingi oleh pengunungan yang berjejer, hampir tak ada celah. Akibatnya, kami harus melintasi punggung gunung untuk sampai di sana. Kendaraanpun tak jarang harus menghadapi tanjakan terjal dan meliuk di ujungnya mengikuti lekuk pegunungan. Di saat musim hujan datang, lereng pegunungan tampak menghijau sejauh mata memandang. Bila pagi dan sore tiba semburat rona jingga di ufuk sana kian menambah keindahan dan memanjakan mata yang memandang.

Kendaraan terus kami pacu. Beberapa kali harus melewati bekas kubangan lumpur yang mengering. Di balik keindahan bentang alam, bila musimnya tiba, hujan yang jatuh melewati lekuk pengunungan tumpah di jalanan bercampur sampah dan lumpur, menjadi banjir dan memaksa siapa saja yang melintas mengurangi laju kendaraan bahkan harus berhenti. Ini adalah fenomena alam yang tidak terputus dari ulah manusia.

Hutan yang berfungsi sebagai resapan air sejak lama telah menjadi objek ekploitasi, tepatnya kala Orde Baru mulai berkuasa aktifitas penebangan kayu telah dilakukan bahkan hingga saat ini. Ditambah lagi dengan pembukaan hutan secara besar-besaran demi penanaman jagung. Semuanya kian memperburuk situasi yang ada. Baru beberapa waktu lalu media bahkan ramai dipenuhi dengan informasi banjir bandang yang melanda wilayah ini.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bila fenomena alam semacam itu terjadi, dia tidak pandang bulu. Siapapun bisa menjadi korban, bukan hanya mereka yang jahil karena merusak alam tapi mereka yang bahkan menjaganya sekalipun. Begitulah alam bekerja, mereka yang mengeruk dan mengeksploitasinya, orang lain pun ikut celaka. Beruntung saat melakukan perjalanan ini, musim tengah mengalami transisi sehingga hujanpun mulai jarang turun. Tapi, sisa kubangan lumpur yang mengering masih terdapat di sana-sini.

Memasuki kabupaten Dompu, kami mulai mengurangi laju kendaraan hawatir jika tempat yang kami tuju, pusara Syekh Mansyur, terlewati. Karena kebingungan, kami menghentikan kendaraan di pinggir jalan, menemui beberapa warga yang sedang berkerumun untuk memeroleh informasi. Tidak sesuai harapan, mereka ternyata tak mengetahui sama sekali tokoh yang kami maksud. Bahkan hingga berulang kali kami berhenti bertanya, tak satupun memberi jawaban pasti. Mungkinkah senggang waktu yang cukup lama antara masa hidup tokoh tersebut dengan masa sekarang mengakibatkan banyak orang tak tau tentang mereka? Ya, itu bisa saja terjadi. Tapi, apakah senggang waktu itu lantas kita jadikan alasan tak mau tau tentang mereka?

Walaupun tak kunjung menemukan informasi yang pasti, kami terus menelusuri di mana Syekh Mansyur meninggalkan jejak terakhirnya. Bahkan kami sempat menaiki bukit karena mengira di sanalah makam beliau berada. Tak diduga-duga di atas bukit tersebut, kami justru menemukan makam tokoh Dompu yang lain, yakni Syekh Abdurrahman. Semoga di lain kesempatan, saya dapat menuliskan sedikit tentang siapa Syekh Abdurrahman yang kondisi makamnya memperihatinkan karena ditutupi semak belukar sampai-sampai hampir tak kelihatan.

Perjalanan berlanjut, kami meninggalkan makam tersebut dan berusaha kembali menemukan makam Syekh Mansyur. Akhirnya, setalah lama memacu kendaraan, kami menemukan orang yang tepat. Sesaat setelah kami menyapanya dan bertanya sambil tersenyum dia mengatakan, “Syekh Abdul Ghani”. “Ya betul Syekh Abdul Ghani. Dia adalah anak dari Syekh Abdul Ghani”, saya membalas. Dia lalu mengarahkan telunjuknya ke sebelah barat dan kamipun bergegas ke arah sana. Tak jauh dari sana terdapat masjid yang tidak terlalu besar, namanya Masjid Abdul Ghani. Sesuai petunjuk orang yang kami jumpai, sepertinya kami telah menemukannya. Kami merasakan rasa puas yang hebat saat melihat bagian belakang masjid. Ternyata, di sanalah pusara Syekh Masyur berada di kelilingi oleh makam-makam lain.

Syekh Masyur yang saya kunjungi kali ini merupakan anak dari Syeh Abdul Ghani Bima yang tinggal di Dompu dan melanjutkan dakwah ayahnya di sana hingga kemudian meninggal di sana. Dalam sejarahnya, Syekh Mansyur pernah dijadikan sebagai qadi (hakim) pada masa kesultanan Dompu. Dari Syekh Mansur inilah kemudian lahir Syekh Muhammad dan Syekh Mahdali atau dikenal dengan julukan Sehe Boe yang sempat saya kunjungi pusaranya beberapa waktu lalu dan berjumpa dengan salah satu putrinya. Pusara Syekh Mansyur terletak di kelurahan Potu, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat tepat di belakang sebuah masjid yang diberi nama Masjid Abdul Ghani.

Mengunjungi pusara tokoh-toko apalagi ulama semacam itu bagi saya bukan hanya mengharap barkah sebagaimana sering disampaikan. Barakah memang menurut saya tak perlu diharap-harapkan. Ibarat orang memberi tak perlulah mengharapkan imbalan.

Hal penting lainnya ialah, pusara semacam itu adalah fakta sejarah. Iya menjadi bukti bahwa dahulu pernah ada orang yang berjuang membangun sebuah wilayah terutama dalam konteks membangun jiwanya. Sebab, para ulama memang bukan hanya memoles fisik. Ia terutama membangun jiwa masyarakatnya. Pusara orang arif sebagaimana keturunan Syeh Abdul Ghani, Syekh Mansyur dan Syekh Mahdali, membawa saya melihat kembali ke masa lalu. Sebuah ingatan yang membuat saya melihat sisi lain dari daerah ini. Di tengah sikap pragmatis dan geliat pembangunan fisik yang terus digalakkan, dahulu ada orang yang pernah berjuangan dengan tulus membangun jiwa masyarakat daerah ini.

Itu sebabnya, saya terkadang merasa sangat nyaman saat mengunjungi makam orang-orang yang berpengaruh, seperti ada kepuasan spiritual tersendiri yang sulit diungkapkan. Tidak jarang, mereka yang telah terbujur kaku di dalam tanah selama puluhan bahkan ratusan tahun leblih banyak memberi pelajaran dibandingkan dengan banyak manusia dewasa ini. Ini bukan berarti saya sama sekali tak menaruh kepercayaan pada manusia moderen saat ini. Semoga perjumpaan saya dengan keturunan ulama ternama dari daerah ini menuntun saya berjumpa dengan tokoh-tokoh lainnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Perjalanan

Sejarah Benteng Nassau Banda Neira dan Saksi Kekejaman Kolonialisme

Published

on

By



Siapa yang tak mengenal benteng, benteng merupakan bangunan yang umumnya berbentuk persegi atau semacamnya. Benteng sudah ada sejak berabad-abad. Dahulu benteng digunakan untuk melindungi sebuah kerajaan dari serangan musuh. Kita bisa melihat benteng di bekas kerajaan Mataram misalnya, seperti bekas Keraton Kartasura disana masih terdapat sisa benteng yang terbuat dari batu bata atau di Keraton Surakarta.  

Benteng pernah menjadi hiburan masyarakat Indonesia era tahun 2000-an. Melalui tayangan televisi berjudul Benteng Takeshi, acara ini sempat menjadi primadona publik Nusantara. Tentu kita masih ingat acara tersebut yang biasanya ditonton bareng keluarga, teman ataupun saudara. Benteng mengingatkan kita pada kolonialisme bangsa Belanda. Di pelbagai kota Belanda membangun sebuah benteng, misal benteng Vasternburg di Surakarta, Benteng Pendem di Cilacap, Benteng  Fort Rotterdam di Makasar dan masih banyak lagi benteng-benteng bikinan Belanda.

Pada era kolonial benteng berfungsi sebagai sistem pertahanan dan juga ruang tahanan bagi kaum pribumi. Berbagai peristiwa keji pernah terjadi pada sebuah benteng milik kompeni. Tak ubahnya benteng menjelma menjadi tempat esekusi. Bagi pecinta sejarah tentunya tidak asing dengan Benteng Nassau yang berada di Banda Neira. Benteng ini pun pernah menjadi saksi kekejaman kolonialisme Belanda pada abad ke XVI.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kepulauan Banda Naira terletak di Provinsi Maluku terbentang di laut Banda, di tenggara Pulau Ambon dan di selatan Pulau Seram. Sebagian besar penduduk pulau ini bermukim di Naira.  Pada zaman dulu provinsi Maluku merupakan jalur perdagangan yang sering dilewati dan disinggahi kapal-kapal berbagai bangsa, Cina, Arab, Portugis, Inggris, dan Spayol. Kepuluan ini banyak menghasilkan komoditi rempah seperti pala, fuli, cengkeh dll.

Pada abad ke XV Portugis mulai mengirim ekspedisinya ke kepulauan rempah ini. Tujuan utama ekspedisi ini adalah untuk mencari rempah dan berniaga dengan penduduk lokal. Setelah Portugis, Spanyol kemudian menyusul dengan menguasai perdagangan di wilayah Malaka. Kepulauan Banda pun menjadi buronan bangsa Eropa berkat kekayaan rempah yang melimpah.

Pada abad ke XVI pala menjadi buruan orang Eropa, sampai-sampai harga komoditi pala tersebut setara dengan emas. Kemudian persekutuan dagang Belanda atau dikenal dengan nama Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC), mengirim ekspedisi pertamanya ke kepulauan Banda. Ekspedisi ini dipimpin oleh Verhoeven dengan tujuan dagang.  Sesampainya di Banda Verhoeven mendirikan pos dagang di pelabuhan, namun ia tidak senang dengan penduduk lokal yang lebih senang berdagang dengan Inggris dibanding dengan VOC. Akhirnya Verhoeven mengajak tokoh masyarakat setempat untuk mengadakan perjanjian. Namun ia dikhianati dan mati terbunuh bersama sebagian pengikutnya.

Abad ini benteng berperan penting bagi VOC, mereka mulai membangun Benteng Nassau sebagai upaya pertahanan dari serangan penduduk lokal dan bangsa Eropa lain. Melalui benteng ini VOC memonopoli perdagangan pala. Benteng ini juga menjadi saksi pembantaian masal yang dilakukan VOC dibawah kepemimpinan Jan Pieterzoon Coen. Puluhan tokoh Banda Neira yang dijuluki orang kaya pernah dibantai sebagai upaya Coen dalam memonopoli perdagangan pala di pulau tersebut.

Dalam buku karangan Des Alwi yang berjudul Sejarah Maluku, Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon (2005) diceritakan kekejaman Belanda terhadap rakyat Banda abad ke XVI. Pada tahun 1622 sekitar 44 orang kaya di Banda diesekusi mati oleh Jan Pieterszoon Coen. Ia menyewa ronnin (samurai Jepang) untuk mengesekusi orang kaya Banda. Kepala mereka dipenggal dan bagian tubuhnya di potong menjadi 4 bagian dan dilempar ke segala penjuru. Kepala yang telah dipenggal tersebut lalu ditancapkan diatas tiang bambu dan dipertontonkan kepada semua orang. Oarang-orang kaya tersebut mati tanpa perlawanan namun ada yang sempat berkata “Tuan-tuan, tidak adakah merasa berdosa?”.

Benteng Nassau terletak di Desa Nusantara, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Benteng ini dibangun pada tahun 1607 dibawah pimpinan Verhoeven. Sebelumnya VOC membangun benteng ini di bagian lain namun karna tanahnya amblas lalu pindah ke bekas benteng Portugis yang belum terselesaikan. Artinya benteng Nassau dibangun diatas pondasi benteng Portugis. Hingga kini benteng tersebut masih berdiri dan menyisakan tragedi.

Penaklukan Banda Naira oleh Coendiperkirakan telah memakan korban rakyat Banda sekitar 12 ribu jiwa. Hal tersebut berawal dari rempah dan pembangunan benteng yang berujung penaklukan. Benteng pernah menjadi peristiwa berdarah di negeri penuh rempah. Orang-orang yang serakah membuat benteng untuk merebut kekayaan Nusantara yang melimpah. Dari benteng kita belajar bahwa kolonialisme tak semestinya dilakukan oleh siapapun dan bangsa manapun.



Sumber Berita

Continue Reading

Perjalanan

Masjid Wadi Al Husein, Saksi Islamisasi di Thailand

Published

on

By


Masjid Wadi Al Husein adalah Salah satu peninggalan Masjid dalam sejarah penyebaran Islam di Pattani, Thailand bagian selatan. Masjid berada di desa Telok Manok, sekitar 26 kilometer dari Kota Provinsi Narathiwa.

Saya ke Pattani melalui penerbangan ke Kuala Lumpur. Dari sana terbang  ke bandara Hat Yai Propinsi Sonkla. Perjalanan selanjutnya menggunakan mobil selama 2 jam, menempuh jarak 80 km. 

Adalah Wan Husein As-Sanawi Al-Alfathoni pada tahun 1624 membangun masjid itu. Masjid ini sangat unik karena menggunakan arsitektur bergaya lokal Melayu, jauh dari pengaruh Arab dan bahkan dekat dengan model rumah gadang di Padang Sumatera Barat.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Wan Husein sendiri sebagai ulama, khas sebagai seorang pendakwah, memiliki mobilitas yang tinggi. Dia pernah pula mengembara, menyebarkan pengaruh Islam di Pulau Jawa, Madura dan Sumatera. Akhirnya menetap di desa Telok Manok Pattani Darussalam kala itu. Kisah Wan Husein terpahat apik di prasasti berupa lempengan dari Kuningan. Prasasti menggunakan aksara dan bahasa Thai, juga aksara latin berbahasa Inggris. Prasasti ini sesuatu yang masih jarang di masjid-masjid bersejarah yang ada di Indonesia.

Prasasti berbahasa Thai dan Inggris yang berkisah tentang Wan Al Husain (Foto: Abdur Rozaqi)

Masjid Wadi Al Husein kaya dengan lekuk ukiran di pinggiran atas, pintu-pintu dan dinding di dalamnya, juga mengingatkan kita pada masjid-masjid tua di Indonesia. Pola persambungan kayu juga tidak menggunakan paku, namun dengan teknik saling mengunci rapat dalam pertalian yang kokoh. Teknik ini membutuhkan tingkat persisi yang tinggi.

Arsitektur Masjid Masjid Wadi Al Husein yang bernuansa lokal ini menunjukkan pola penyebaran Islam yang sangat adaptif dengan budaya lokal di masyarakat. Arsitektur masjid ini menandakan jejak erat kebearagamaan Islam Nusantara antara Pattani Raya dengan Kepulauan lainnya di Indonesia dan sekaligus persambungan, selain tentu saja naskah-naskah dan silsilah guru.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved

VERIFIED & SECURED
BY: R3
SSL Valid: Jun 21, 2021 - Sep 19, 2021