Connect with us

Kajian

Belajar dari Sejarah Kelam Khawarij

Published

on


Sayyidina Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib –berarti masih saudara sepupu sama Kanjeng Nabi Saw—mengajukan diri kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk “merayu” orang-orang Khawarij agar mau kembali ke barisan Sayyidina Ali.

Wajah mereka tampak kuyu dan pucat, bekas-bekas sujud tampak pada dahi dan jubah mereka, seakan-akan tangan mereka telah melakukan pekerjaan yang sangat berat. Pakain mereka tampak kasar dan murah. Demikian Sayyidina Abdullah bin Abbas menuturkan pertemuannya dengan perwakilan kaum Khawarij –sebagaimana dinukil Dr. Musthafa Murad.

Melihat kedatangan Sayyidina Abdullah bin Abbas, mereka berkata, “Apa maksud kedatanganmu, Wahai Ibnu Abbas? Dan apakah yang kau kenakan itu?”

Sayyidina Abdullah bin Abbas berkata, “Mengapa kalian mencelaku? Sungguh aku pernah melihat pakaian Rasulullah Saw tidak lebih baik dibanding kain Yamaniah.” Lalu beliau membacakan surat Al-A’raf 32: “Katakanlah, siapa yang mengharamkan perhiasan Allah Swt yang dikeluarkan bagi hamba-hambaNya dan kebaikan dari rezeki.

Lantas beliau melanjutkan, “Aku datang atas nama sahabat Rasulullah Saw. Tidak ada seorang pun di antara kalian yang seperti mereka. Aku datang atas nama putra paman Rasulullah Saw yang tentang mereka turun ayat-ayat al-Qur’an dan mereka adalah orang yang paling memahami takwil ayat-ayat al-Qur’an. Aku datang untuk menyampaikan pesan mereka kepada kalian dan jawaban kalian untuk mereka.”

Beliau kembali melanjutkan, “Apa yang kalian benci dan kalian tuntut dari Ali?”

Mereka menjawab, “Tiga perkara.”

“Apa saja?”

Pertama, Ali telah menjadikan beberapa orang sebagai hakim untuk menyelesaikan urusan agama Allah (maksudnya, tahkim antara Sayyidina Ali dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan dalam perang Shiffin), padahal Allah Swt telah berfirman ‘Sesungguhnya hukum hanyalah milik Allah Swt.’ (QS. Az-Zukhruf 58). Kedua, Ali memerangi orang-orang namun ia tidak menawan dan tidak pula mengambil ghanimah (harta rampasan perang) dari mereka. Jika mereka yang diperangi itu kaum mukmin, berarti Ali adalah Amirul Kafirin. Jika mereka (yang diperangi) adalah kaum kafir, maka mereka halal diperangi, halal ditawan, dan harta mereka halal dirampas. Ketiga, Ali harus melengserkan diri dari jabatan Amirul Mu’minin karena ia tidak menggunakan gelar Amirul Mu’minin dalam perjanjian itu (tahkim), berarti ia adalah Amirul Kafirin.”

Sayyidina Abdullah bin Abbas berkata, “Seandainya saat ini kusampaikan dalil-dalil dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw untuk menjawab tuntutan kalian, apakah kalian akan kembali ke jalan kami?”

Mereka tegas menjawab, “Tentu saja kami akan mengikuti jalan kalian.”

Beliau lalu menjelaskan, “Pertama, kalian mengatakan bahwa Ali telah menyimpang karena menyerahkan urusan agama Allah Swt kepada manusia (hakim dalam tahkim). Ketahuilah, sesungguhnya Allah Swt berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Siapa di antara kalian membunuhnya dengan sengaja maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kalian.…’ (QS. Al-Maidah 95). Allah Swt juga berfirman mengenai perselisihan suami istri: ‘…dan jika kalian mengkhawatirkan perselisihan di antara keduanya maka utuslah hakim dari keluarganya (perempuan) dan hakim dari keluarganya (lelaki).’ (QS. An-Nisa’ 35). Allah Swt melimpahkan urusan itu untuk diputuskan oleh manusia (hakim). Jadi, kuingatkan kalian kepada Allah Swt, bukankah kalian mengetahui bahwa hukum yang berkaitan dengan darah kaum beriman dan perdamaian di antara mereka merupakan perkara yang lebih agung dibanding hukum mengenai denda orang yang membunuh buruan dan persoalan rumah tangga?”

Mereka menjawab, “Tentu saja urusan itu lebih utama dan lebih besar.”

“Apakah kalian puas dengan jawabanku dan tidak lagi menuntut urusan yang pertama ini?”

“Benar, kami puas.”

Sayyidina Abdullah bin Abbas lalu melanjutkan, “Kedua, kalian berkata bahwa Ali berperang tetapi tidak mengambil tawanan dan ghanimah. Aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian akan menawan bunda kalian sendiri, Aisyah Ra, dan menjadikannya budak? Jika menurut kalian kita boleh menawannya dan menganggapnya halal seperti tawanan lainnya, berarti kalian telah kafir. Jika menurut kalian dia bukanlah bunda kami, berarti kalian telah kafir. Kalian sungguh berada di tengah-tengah antara dua kesesatan. Apakah keteranganku ini bisa kalian terima?”

“Iya, benar, kami menerima.”

Ketiga, kalian mengatakan bahwa Ali telah melepaskan kekahlifahannya karena tidak menuliskan jabatannya sebagai Amirul Mu’minin dalam perjanjiannya. Kini akan kukatakan sesuatu yang mesti kalian ridhai. Sesungguhnya Rasulullah Saw saat berdamai dengan Abu Sufyan bin Harb dan Suhail bin Amr dalam Perjanjian Hudaibiyah bersabda, ‘Tulislah, wahai Ali, inilah perjanjian yang disetujui oleh Muhammad Rasulullah.’ Abu Sufyan dan Suhail berkata, ‘Kami tidak mengakui bahwa Engkau adalah utusan Allah. Seandainya kami mengakui, tentulah kami tak perlu berperang denganmu.’ Rasulullah Saw lalu bersabda, ‘Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku adalah utusanMu. Hapuslah tulisan tadi, wahai Ali, dan tulislah: inilah perjanjian yang disepakati oleh Muhammad bin Abdullah serta Abu Sufyan bin Harb dan Suhail bin Amr.’

Usai mendapat penjelasan jernih dan mantap dari Sayyidina Abdullah bin Abbas ini, dua ribu orang kembali ke barisan Sayyidina Ali –tetapi sebagian lainnya tetap di jalan Khawarij.

Maafkan saya telah menuliskan panjang sekali riwayat sejarah ini. Tetapi ini belum cukup. Saya akan tambahkan beberapa bagian lainnya, demi menjelentrehkan dengan seterang-terangnya.

Isyarat kemunculan kaum Khawarij ini, yang telah diramalkan oleh Rasulullah Saw sejak dulu kala (dalam riwayat Muslim), mulai menguar semenjak pihak Mu’awiyah mengajukan tahkim dengan menghentikan peperangan dan bersepakat berunding. Dari kubu Sayyidina Ali diwakili oleh sahabat terkemuka, Abu Musa Asy’ari Ra dan dari kubu Mu’awiyah diwakili Amr bin ‘Ash Ra. Ketika Al-Asy’ats bin Qais mengumukan hasil tahkim itu, Urwan bin Udzainah –salah satu pentolan Khawarij—berkata, “Mengapa kalian merundingkan urusan agama Allah Swt dengan orang-orang itu?” Inilah sumber jargon Khawarij yang amat terkenal itu: la hukma illa liLlah, tidak ada hukum kecuali hukum Allah Swt. Dua belas ribu orang kemudian memisahkan diri dari pasukan Sayyidina Ali.

Propaganda dengan segala tudingan dan caci-maki bahwa Sayyidina Ali beserta orang-orang yang terlibat dalam tahkim itu telah kafir dan siapa pun yang berada di kedua barisan mereka (jadi, yang dikafirkan bukan hanya jamaah Sayyidina Ali, tetapi juga orang-orang di barisan Mu’awiyah, sehingga yang tidak mereka sebut kafir adalah barisan diri mereka sendiri) terus digencarkan tanpa henti. Mungkin dalam kahanan hari ini bisa disebut diviralkan oleh para buzzer.

Di daerah Nahwaran, mereka berkumpul di rumah Abdullah bin Wahab al-Rasibi. Ia berkhutbah dengan berapi-api mengajak semua orang untuk zuhud serta menekankan kecintaan kepada surga dan akhirat, serta ber-amar ma’ruf nahi munkar. Kemudian, Zaid bin Hushn berkhutbah, menyeru mereka untuk melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an: ‘Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di muka bumi maka hukumilah di antara manusia dengan benar dan janganlah mengikuti hawa nafsu hingga kamu tersesat sesesat-sesatnya dari jalan Allah Swt.’ (QS. Shad 26). Juga firman Allah Swt: ‘Dan siapa yang tidak menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan Allah Swt, maka mereka adalah orang-orang kafir.’ (QS. Al-Maidah 44). Juga firmanNya: ‘Dan siapa yang tidak menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan Allah Swt, maka mereka adalah orang-orang zalim.’ (QS. Al-Maidah 45). Dan firmanNya: ‘Dan siapa yang tidak menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan Allah Swt, maka mereka adalah orang-orang fasik.’ (QS. Al-Maidah 47).

Usai mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang makin mengobarkan “rasa benar diri” begitu, Zaid bin Hushn meneruskan khutbahnya: “Lihatlah apa yang disampaikan para penyeru kalian dan para pemimpin kabilah kita! Lihatlah mereka telah mengikuti hawa nafsunya dan mengabaikan hukum Allah Swt. Mereka terus berkata dan bertindak sesuka hati mereka! Karena itu, semua orang yang beriman wajib melawan dan memerangi mereka!”

Sampai di ujung khutbah yang berkobar-kobar ini, saya (maaf kata) membayangkan para jamaah Khawarij itu memekik-mekik bergelegar meneriakkan takbir sembari mengepalkan tangan di atas kepala, menuding, meninju, dan menampar langit.

Seorang pemuka Khawarij lain bernama Abdullah bin Syajarah al-Silmi menjerit dan menangis keras, lalu berkata lantang: “Pukullah wajah dan jubah mereka dengan pedang sehingga mereka kembali mentaati Allah Yang Maha Pengasih. Jika kalian menang dan mentaati Allah Swt, maka kalian akan mendapatkan balasan sebagai orang yang taat kepadaNya dan melaksanakan perintahNya. Jika kalian gagal, maka jalan apakah yang lebih baik dibanding kembali kepada keridhaan Allah Swt dan surgaNya?!”

Imaji saya melesak lagi: takbir kembali bergemuruh bahana ke angkasa dengan kepalan-kepalan tangan ke langit dengan perasaan sedang membela agama Allah Swt.

Segala cacian dan hinaan kepada Sayyidina Ali terus berulang-ulang, bahkan tatkala beliau sedang berkhutbah Jumat.

Ibnu Jarir at-Thabari meriwayatkan, tatkala suatu hari Sayyidina Ali sedang berkhutbah, seorang Khawarij bangkit dan berkata, “Wahai Ali, kau menyerahkan urusan agama Allah Swt kepada manusia, padahal tidak ada hukum kecuali hukum Allah Swt!”

Sayyidina Ali menjawab, “Perkataan itu sungguh benar tetapi dipergunakan dengan salah.”

Di lain khutbah, seorang Khawarij dengan gesture menghina Sayyidina Ali menutup telinganya dengan jari-jarinya dan berkata sendiri dengan mengutip surat Al-Zumar 65: “Dan telah diwahyukan kepadamu dan orang-orang sebelummu jika kau bersekutu maka amalmu akan sia-sia dan kau akan menjadi orang yang merugi.

Pembelotan kaum Khawarij yang semakin meluas menjadi-jadi ini sesungguhnya telah pernah diprediksikan Kanjeng Nabi Saw jauh sebelumnya, tetapi Sayyidina Ali tidak menyangka bahwa di masanya lah ramalan itu akan terjadi.

Beliau berkata, “Wahai manusia, sungguh aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda: ‘Akan keluar dari umatku sekelompok orang yang membaca al-Qur’an tidak seperti bacaan kalian, yang shalat tidak seperti shalat kalian, dan berpuasa tidak seperti puasa kalian. Mereka membaca al-Qur’an dan menyangka bahwa al-Qur’an itu untuk mereka dan al-Qur’an mendukung mereka.’ Jika kalian mendapati orang-orang yang tidak bersandar kepada ucapan Nabi mereka, janganlah berdiam diri. Tandanya adalah di antara mereka ada seorang lelaki yang tangannya buntung dan banyak ubannya. Mereka pergi kepada Mu’awiyah dan penduduk Syiria dan mereka bertentangan dengan kalian terkait dengan keluarga dan harta kalian. Aku benar-benar berharap bahwa mereka (kaum Khawarij) adalah kaum yang dimaksudkan oleh Nabi Saw. Mereka menumpahkan darah yang haram ditumpahkan dan bersemangat merusak persatuan. Karena itu, bergeraklah kalian atas nama Allah Swt….”

Beberapa waktu berselang, pasukan Sayyidina Ali berhasil menumpas kaum Khawarij ini. Sayyidina Ali berkata kepada pasukannya, “Carilah pembuat onar di antara mereka.” Maksudnya, “seorang lelaki yang tangannya buntung dan banyak ubannya”. Beliau ikut turun tangan mencari sosok dimaksud. Beberapa waktu selang, sosok tersebut diketemukan. “Maha Benar Allah Swt dan benarlah Rasulullah Saw,” ucap Sayyidina Ali.

Jauh sebelum peristiwa Khawarij yang luas ini terjadi, pasca perang Hunain yang dimenangkan umat Islam dengan perolehan ghanimah yang amat besar, tatkala Kanjeng Rasulullah Saw sedang membagi-bagikannya, seseorang bernama Abdullah bin Dzil Khuwaisirah yang ikut berperang berkata kepada beliau Saw: “Berbuat adillah, wahai Muhammad.” Maksudnya, berbuat adil dalam membagi ghanimah sebagaimana kebiasaannya selama ini.

Betapa terkejutnya Kanjeng Nabi Saw mendengar ucapan sengak tersebut. Beliau Saw bersabda, “Sungguh aku adalah utusan Allah Swt, paling takwa kepada Allah Swt di antara kalian.

Sayyidina Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid yang mengetahui kejadian tersebut berkata kepada Kanjeng Nabi Saw, “Ijinkan kubunuh dia, wahai Rasulullah….” Kanjeng Nabi Saw mencegah dan bersabda: “Jangan. Kelak dari golongannya akan lahir golongan yang shalat kalian tidak ada apa-apanya dibanding shalat mereka, puasa kalian tidak ada apa-apanya dibanding puasa mereka; mereka membaca al-Qur’an hanya sampai tenggorokan dan agamanya lepas dari dada mereka secepat anak panah melesat dari busurnya.

Lantas, kepada Sayyidina Ali, Rasulullah Saw meramalkan kejadian yang akan terjadi kelak (sebagaimana diterakan di atas), juga ramalan perihal kesyahidannya kelak. Kanjeng Rasul Saw bersabda kepada Sayyidina Ali dalam riwayat Al-Ajiri, “Engkau akan ditebas di sini –sambil menunjuk tengkuknya—dan darahmu akan membasahi janggutmu. Orang yang melakukannya adalah orang yang paling hina. Ia sama hinanya dengan orang yang membunuh unta (Nabi Saleh As) di antara kaum Tsamud.

Lantas, pada malam 17 Ramadhan, malam itu malam Jumat, Abdurrahman bin Amr, yang juga disebut Ibnu Muljam al-Hamiri alias Abdurrahman bin Muljam, bersama Syabib bin Najdah dan Wirdan Rabab, menjalankan misinya. Ketiganya bersembunyi di jalan yang biasa dilalui Sayyidina Ali ke masjid –kejadian ini terjadi di Kufah.

Sebagaimana biasa, Sayyidina Ali keluar rumah untuk shalat Subuh sembari membangunkan orang-orang di rumah-rumah yang dilaluinya, “Shalat, shalat, shalat….” Syabib bin Najdah yang pertama kali menebaskan pedangnya ke arah Sayyidina Ali hingga terjatuh, lalu disusul tebasan Abdurrahman bin Muljam ke tengkuk beliau, sehingga darah mengalir deras membasahi tengkuknya –seperti sabda Kanjeng Nabi Saw.

Abdurrahman bin Muljam berteriak kepada Sayyidina Ali, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah Swt, bukan milikmu atau sahabat-sahabatmu!” Lalu membacakan ayat: “Dan di antara manusia ada yang menjual jiwanya demi mencari keridhaan Allah Swt dan Allah Swt Maha Lembut kepada hamba-hambaNya.” (QS. Al-Baqarah 207).

Kita bisa membayangkan betapa “heroik-merasa-benar” sekali Abdurrahman bin Muljam saat melakukan perbuatan itu. Kita bisa merasakan betapa dia amat menyangka sedang benar-benar membela marwah agama Allah Swt, keluhungan al-Qur’an, dan keagungan Kanjeng Nabi Saw tatkala menebaskan pedangnya ke tengkuk Sayyidina Ali. Ayat yang dibacanya itu diikrarkan dan ditujukan buat dirinya sendiri yang rela mati kemudian karena membunuh Sayyidina Ali sebagai “jalan tebusan demi mencari keridhaan Allah Swt dengan menjual jiwanya”.

Sungguh membuat bulu kuduk merinding!

Bersambung di sini



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kajian

Belajar dari Perang Badar yang Berlangsung di Bulan Rumahan

Published

on

By


Di dalam Surat Al-Anfal: 41 disebutkan bahwa hari berkecamuknya Perang Badar adalah sebagai  yaumul Furqon, atau hari pembeda. Ya, ia membedakan antara dua pasukan yakni pasukan Muslimin Madinah dan Kafir Quraisy Mekkah. Pembeda antara yang haq dan bathil. Namun, untuk lebih mengetahui hal ini, seraya sebagai sarana kita untuk belajar dari sejarah, mengambil mutiara-mutiara di dalam sirah Nabi Muhammad yang penuh berkah, mari kita lihat lebih dekat perbedaan di antara kedua pasukan dan pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari sana.

Pada peristiwa Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, kita bisa mengambil garis demarkasi yang jelas antara dua pasukan yang akan bertempur. Di satu sisi, pasukan Madinah terdiri dari 313 pasukan yang berasal dari kaum Muhajirin, suku Aus dan suku Khazraj. Mereka hanya memiliki dua ekor kuda yang dimiliki oleh az-Zubair bin Awwam dan al-Miqdad ibn al-Aswad, 70 ekor unta yang ditunggangi secara bergantian, dan perlengkapan perang yang sangat minim. Di sisi lain, pasukan Mekah terdiri dari sekitar seribu tiga ratus pasukan, membawa lebih dari 100 ekor kuda, 600 baju besi, dan unta yang tidak tahu berapa jumlah persisnya. Setiap harinya, pasukan Mekah menyembelih sembilan sampai sepuluh ekor untuk untuk konsumsi di perjalanan mereka.

Di Tengah perjalanan, keluarga besar Bani Adi yang jumlahnya sekitar 300 orang memutuskan untuk kembali ke Mekah setelah mendapat kabar dari Abu Sofyan tentang keselamatan kafilahnya. Kafilah tersebut mengambil rute pantai menjauh dari intaian tentara Madinah.

Abu Sofyan adalah pemuda yang sangat cerdas dan bijaksana. Dialah pemimpin kafilah yang membawa seribu onta, beragam harta benda, dan dinar yang diperkirakan mencapai 50.000 dinar emas atau menurut catatan Quraisy Shihab berjumlah sekitar 22,75 kg emas. Abu Sofyan di tengah perjalanan tersebut merasa ada yang aneh. Dia merasa ada yang memata-matai perjalanannya. Lalu, dia menemukan kotoran onta, dan setelah melihat dan mempelajari kotoran tersebut, dia mengetahui bahwa onta tersebut, yang memakan dedaunan pohon kurna, berasal dari Madinah, tidak mungkin dari tempat lain. oleh karena itu, dia lalu mengutus Amr ibn Dhamdham Al-Ghifari untuk menyampaikan kabar tersebut ke Mekah agar mengutus bala bantuan untuk mengamankan dagangan mereka. Maka berangkatlah pasukan Mekah di bawah komando Abu Jahal.

Mendengar kabar dari Abu Sofyan agar kembali ke Mekah, Abu Jahal bin Hisyam menolak dengan tegas seraya berkata:

“Demi Allah! kami tidak akan kembali kecuali telah sampai di Badar. Kami akan berpesta, minum anggur, dihibur oleh para biduanita Arab, makan besar, biar semua orang Arab mendengar dan mengetahui kekuatan kita dan menjadi gentar karenanya”

Perkataan Abu Jahal ini diamini oleh kebanyakan dari pasukan Quraisy, dan Allah merekamnya di dalam surat Al-Anfal ayat 47:

“Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka dengan angkuh dan dengan maksud ria terhadap manusia serta menghalangi dari Jalan Allah, padahal Allah meliputi segala yang mereka kerjakan”.

Dari gambaran di atas, kita melihat dengan nyata bagaimana Abu Jahal cs merepresentasikan manusia yang bangga dan menyandarkan kesuksesan dalam perang berdasarkan materi yang mereka miliki: jumlah pasukan yang besar, aliansi, senjata, bekal, dan alat-alat perang lainnya. karena ‘kekuatan’ itu pula mereka menjadi orang-orang yang sombong dan ingin dipuji atau riya’.

Betapa dalam hidup yang singkat ini terkadang kita juga melakukan hal yang sama, bukan? Menyandarkan kesuksesan atas materi, aliansi atau jaringan pertemanan, kekayaan, dan mungkin juga gelar yang kita sandang. Membanggakannya. Padahal, bersandar kepada manusia dan segala yang melekat atasnya tidak lain adalah seperti kita bersandar pada kayu yang rapuh.

Sementara itu, tatkala pasukan Quraisyh sampai di Badar dan mulai berpesta, Nabi Muhammad masih dalam kebimbangan. Awalnya, dia tidak ada niat untuk berperang. Nabi hanya ingin menyergap, mengambil harta dari kafilah Quraisy di mana di dalamnya juga terdapat harta milik orang-orang muhajirin. Pada titik ini, Nabi bermusyawarah dengan para sahabatnya. Merundingkan apakah kita akan maju bertempur atau pulang kembali ke Madinah yang berjarak sekitar 150 kilometer.

Kalangan Muhajirin bersepakat untuk mengikuti dawuh Nabi seandainya beliau menghendaki untuk melawan musuh yang sudah ada di hadapan. Sahabat Miqdad bin Amir, dari kaum Muhajirin, berkata:

“Wahai Rasulullah, kami akan bersama engkau. Kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana Bani Israel berkata kepada Musa ‘pergi engkau sendiri bersama Rabb-mu dan berperanglah. Kami akan duduk menanti di sini saja’” Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andai kata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa memcapai tempat itu”.

Meski demikian, Nabi masih ingin mendapatkan masukan, sikap, dan pendapat dari kaum Anshar. Sebab, kaum muhajirin jumlahnya hanya sedikit, antara 83-86 orang. Sedangkan kekuatan utama pasukan Muslim berada di pihak Anshar. Pada saat inilah kita mendengarkan kata-kata luar biasa dari sahabat Sa’d bin Muadz, pemimpin kaum Anshar:

“Kami telah beriman kepadamu wahai rasulullah. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Majulah terus wahai Rasulullah. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andai engkau bersama kami terhalang lautan, lalu engkau terjun ke dalamnya, kami pun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun di antara kami yang akan mundur. Kami dikenal sebagai orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau sukai. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah”

Inilah pembeda. Orang-orang musyrik berperang untuk menunjukkan keunggulan mereka, sementara pasukan Muslim dengan visi yang sama: menaati Tuhan dan Rasulnya. Maka, di dalam perjuangan dalam bidang apapun adalah sangat penting untuk menata dan memperbarui niat. Tentu saja perlu latihan secara terus menerus untuk menjadikan Tuhan semata-mata sebagai tujuan. Namun, setidaknya, kita terus berusaha untuk melaksanakan apa-apa yang diperintahkan, dicintai, dan dianjurkan-Nya. Paling tidak, sebagaimana kata Gus Baha, setidaknya kita tidak melakukan kemaksiatan.

Pada saat perang mulai berkecamuk, hari Jumat, 17 Ramadhan tahun kedua hijrah, Nabi berdoa. Beliau keluar dari tendanya, berdiri, dan menengadah ke langit seraya berdoa:

Ya Allah laksanakan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah aku bermohon pemenuhan janji-Mu, ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini, maka engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini”

Nabi sangat gelisah. Beliau bermohon kepada Tuhan dengan sangat serius dan khusyuk sampai-sampai serban yang dipakainya jatuh ke tanah. Maka, turunlah surat al-Anfal ayat 9 yang memberikan  kabar gembira akan datangnya bala bantuan dari malaikat yang berjumlah ribuan.

Pertolongan Allah adalah satu-satunya penolong pasukan Muslimin. Peristiwa perang Badar sering diulang-ulang di dalam Al-Quran tidak untuk mengunggulkan pasukan Muslim, melainkan untuk merenungkan betapa agungnya pertolongan Allah.

Maka bukanlah engkau yang membunuh mereka, tetapi Allah yang membunuh mereka. Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar” (Al-Anfal: 17)

Inilah pembeda. Pasukan Muslim mengembalikan kemenangan mereka semata-mata atas kehendak Allah, bukan atas dasar kekuatan, strategi, dan kecerdasan mereka. Pasukan Muslim yang memercayai Tuhan dan Nabinya, tidak bersandar pada kekuatan, aliansi, harta, senjata, dan jumlah pasukan, dan meyakini kekuatan doa. Bahwa ada Tuhan yang siap menolong hamba-hambanya sebagaimana dalam firmannya dalam Al-Baqarah 186:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran

Begitulah Perang Badar. Menewaskan 70 orang Quraisy dan 70 tawanan perang. Sementara di pihak pasukan Muslim yang gugur berjumlah 14 pasukan. Perang Badar telah melambungkan nama Nabi dan umat Islam di Madinah. Mereka, umat Islam, mulai menjadi aktor yang patut diperhitungkan dalam peta politik di Madinah.



Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Belajar dari Perang Badar yang Berlangsung di Bulan Ramadhan

Published

on

By


Di dalam Surat Al-Anfal: 41 disebutkan bahwa hari berkecamuknya Perang Badar adalah sebagai  yaumul Furqon, atau hari pembeda. Ya, ia membedakan antara dua pasukan yakni pasukan Muslimin Madinah dan Kafir Quraisy Mekkah. Pembeda antara yang haq dan bathil. Namun, untuk lebih mengetahui hal ini, seraya sebagai sarana kita untuk belajar dari sejarah, mengambil mutiara-mutiara di dalam sirah Nabi Muhammad yang penuh berkah, mari kita lihat lebih dekat perbedaan di antara kedua pasukan dan pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari sana.

Pada peristiwa Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, kita bisa mengambil garis demarkasi yang jelas antara dua pasukan yang akan bertempur. Di satu sisi, pasukan Madinah terdiri dari 313 pasukan yang berasal dari kaum Muhajirin, suku Aus dan suku Khazraj. Mereka hanya memiliki dua ekor kuda yang dimiliki oleh az-Zubair bin Awwam dan al-Miqdad ibn al-Aswad, 70 ekor unta yang ditunggangi secara bergantian, dan perlengkapan perang yang sangat minim. Di sisi lain, pasukan Mekah terdiri dari sekitar seribu tiga ratus pasukan, membawa lebih dari 100 ekor kuda, 600 baju besi, dan unta yang tidak tahu berapa jumlah persisnya. Setiap harinya, pasukan Mekah menyembelih sembilan sampai sepuluh ekor untuk untuk konsumsi di perjalanan mereka.

Di Tengah perjalanan, keluarga besar Bani Adi yang jumlahnya sekitar 300 orang memutuskan untuk kembali ke Mekah setelah mendapat kabar dari Abu Sofyan tentang keselamatan kafilahnya. Kafilah tersebut mengambil rute pantai menjauh dari intaian tentara Madinah.

Abu Sofyan adalah pemuda yang sangat cerdas dan bijaksana. Dialah pemimpin kafilah yang membawa seribu onta, beragam harta benda, dan dinar yang diperkirakan mencapai 50.000 dinar emas atau menurut catatan Quraisy Shihab berjumlah sekitar 22,75 kg emas. Abu Sofyan di tengah perjalanan tersebut merasa ada yang aneh. Dia merasa ada yang memata-matai perjalanannya. Lalu, dia menemukan kotoran onta, dan setelah melihat dan mempelajari kotoran tersebut, dia mengetahui bahwa onta tersebut, yang memakan dedaunan pohon kurna, berasal dari Madinah, tidak mungkin dari tempat lain. oleh karena itu, dia lalu mengutus Amr ibn Dhamdham Al-Ghifari untuk menyampaikan kabar tersebut ke Mekah agar mengutus bala bantuan untuk mengamankan dagangan mereka. Maka berangkatlah pasukan Mekah di bawah komando Abu Jahal.

Mendengar kabar dari Abu Sofyan agar kembali ke Mekah, Abu Jahal bin Hisyam menolak dengan tegas seraya berkata:

“Demi Allah! kami tidak akan kembali kecuali telah sampai di Badar. Kami akan berpesta, minum anggur, dihibur oleh para biduanita Arab, makan besar, biar semua orang Arab mendengar dan mengetahui kekuatan kita dan menjadi gentar karenanya”

Perkataan Abu Jahal ini diamini oleh kebanyakan dari pasukan Quraisy, dan Allah merekamnya di dalam surat Al-Anfal ayat 47:

“Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka dengan angkuh dan dengan maksud ria terhadap manusia serta menghalangi dari Jalan Allah, padahal Allah meliputi segala yang mereka kerjakan”.

Dari gambaran di atas, kita melihat dengan nyata bagaimana Abu Jahal cs merepresentasikan manusia yang bangga dan menyandarkan kesuksesan dalam perang berdasarkan materi yang mereka miliki: jumlah pasukan yang besar, aliansi, senjata, bekal, dan alat-alat perang lainnya. karena ‘kekuatan’ itu pula mereka menjadi orang-orang yang sombong dan ingin dipuji atau riya’.

Betapa dalam hidup yang singkat ini terkadang kita juga melakukan hal yang sama, bukan? Menyandarkan kesuksesan atas materi, aliansi atau jaringan pertemanan, kekayaan, dan mungkin juga gelar yang kita sandang. Membanggakannya. Padahal, bersandar kepada manusia dan segala yang melekat atasnya tidak lain adalah seperti kita bersandar pada kayu yang rapuh.

Sementara itu, tatkala pasukan Quraisyh sampai di Badar dan mulai berpesta, Nabi Muhammad masih dalam kebimbangan. Awalnya, dia tidak ada niat untuk berperang. Nabi hanya ingin menyergap, mengambil harta dari kafilah Quraisy di mana di dalamnya juga terdapat harta milik orang-orang muhajirin. Pada titik ini, Nabi bermusyawarah dengan para sahabatnya. Merundingkan apakah kita akan maju bertempur atau pulang kembali ke Madinah yang berjarak sekitar 150 kilometer.

Kalangan Muhajirin bersepakat untuk mengikuti dawuh Nabi seandainya beliau menghendaki untuk melawan musuh yang sudah ada di hadapan. Sahabat Miqdad bin Amir, dari kaum Muhajirin, berkata:

“Wahai Rasulullah, kami akan bersama engkau. Kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana Bani Israel berkata kepada Musa ‘pergi engkau sendiri bersama Rabb-mu dan berperanglah. Kami akan duduk menanti di sini saja’” Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andai kata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa memcapai tempat itu”.

Meski demikian, Nabi masih ingin mendapatkan masukan, sikap, dan pendapat dari kaum Anshar. Sebab, kaum muhajirin jumlahnya hanya sedikit, antara 83-86 orang. Sedangkan kekuatan utama pasukan Muslim berada di pihak Anshar. Pada saat inilah kita mendengarkan kata-kata luar biasa dari sahabat Sa’d bin Muadz, pemimpin kaum Anshar:

“Kami telah beriman kepadamu wahai rasulullah. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Majulah terus wahai Rasulullah. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andai engkau bersama kami terhalang lautan, lalu engkau terjun ke dalamnya, kami pun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun di antara kami yang akan mundur. Kami dikenal sebagai orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau sukai. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah”

Inilah pembeda. Orang-orang musyrik berperang untuk menunjukkan keunggulan mereka, sementara pasukan Muslim dengan visi yang sama: menaati Tuhan dan Rasulnya. Maka, di dalam perjuangan dalam bidang apapun adalah sangat penting untuk menata dan memperbarui niat. Tentu saja perlu latihan secara terus menerus untuk menjadikan Tuhan semata-mata sebagai tujuan. Namun, setidaknya, kita terus berusaha untuk melaksanakan apa-apa yang diperintahkan, dicintai, dan dianjurkan-Nya. Paling tidak, sebagaimana kata Gus Baha, setidaknya kita tidak melakukan kemaksiatan.

Pada saat perang mulai berkecamuk, hari Jumat, 17 Ramadhan tahun kedua hijrah, Nabi berdoa. Beliau keluar dari tendanya, berdiri, dan menengadah ke langit seraya berdoa:

Ya Allah laksanakan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah aku bermohon pemenuhan janji-Mu, ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini, maka engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini”

Nabi sangat gelisah. Beliau bermohon kepada Tuhan dengan sangat serius dan khusyuk sampai-sampai serban yang dipakainya jatuh ke tanah. Maka, turunlah surat al-Anfal ayat 9 yang memberikan  kabar gembira akan datangnya bala bantuan dari malaikat yang berjumlah ribuan.

Pertolongan Allah adalah satu-satunya penolong pasukan Muslimin. Peristiwa perang Badar sering diulang-ulang di dalam Al-Quran tidak untuk mengunggulkan pasukan Muslim, melainkan untuk merenungkan betapa agungnya pertolongan Allah.

Maka bukanlah engkau yang membunuh mereka, tetapi Allah yang membunuh mereka. Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar” (Al-Anfal: 17)

Inilah pembeda. Pasukan Muslim mengembalikan kemenangan mereka semata-mata atas kehendak Allah, bukan atas dasar kekuatan, strategi, dan kecerdasan mereka. Pasukan Muslim yang memercayai Tuhan dan Nabinya, tidak bersandar pada kekuatan, aliansi, harta, senjata, dan jumlah pasukan, dan meyakini kekuatan doa. Bahwa ada Tuhan yang siap menolong hamba-hambanya sebagaimana dalam firmannya dalam Al-Baqarah 186:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran

Begitulah Perang Badar. Menewaskan 70 orang Quraisy dan 70 tawanan perang. Sementara di pihak pasukan Muslim yang gugur berjumlah 14 pasukan. Perang Badar telah melambungkan nama Nabi dan umat Islam di Madinah. Mereka, umat Islam, mulai menjadi aktor yang patut diperhitungkan dalam peta politik di Madinah.



Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Tafsir Surat Yusuf Ayat 78-79: Usaha Anak Nabi Ya’qub Membawa Pulang Bunyamin

Published

on

By


Saat Bunyamin terbukti mencuri, anak-anak Nabi Ya’qub pun tidak bisa lagi menyanggah tuduhan  Bunyamin  mencuri. Mereka pun mulai kebingungan bila nanti sang ayah menanyakan keberadaan Bunyamin saat mereka pulang. Lalu mereka pun mulai bernegoisasi dengan Nabi Yusuf yang mereka kenal sebagai menteri Mesir, agar tetap bisa membawa pulang Bunyamin. Allah berfirman dalam Surat Yusuf ayat 78-79:

قَالُوْا يٰٓاَيُّهَا الْعَزِيْزُ اِنَّ لَهٗٓ اَبًا شَيْخًا كَبِيْرًا فَخُذْ اَحَدَنَا مَكَانَهٗ ۚاِنَّا نَرٰىكَ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٧٨ قَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اَنْ نَّأْخُذَ اِلَّا مَنْ وَّجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهٗٓ ۙاِنَّآ اِذًا لَّظٰلِمُوْنَ

Qaaluu yaa ayyuhal ‘aziizu inna lahuu abang syaikhang kabiirang fakhudz ahadanaa makaanah. Innaa naraaka minal muhsiniin. Qaala ma’aadzallaahi annna’khudza illaa maw wajadnaa mataa’anaa ‘indahuu innaa idzal ladlaalimuun.

 Artinya:

“Mereka berkata, ‘Wahai al-Aziz, sesungguhnya dia (Bunyamin) mempunyai ayah yang sudah lanjut usia karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya. Sesungguhnya kami melihat engkau termasuk orang-orang yang selalu berbuat lebih baik.’ Dia (Yusuf) berkata, ‘Kami memohon pelindungan kepada Allah dari menahan (seseorang), kecuali siapa yang kami temukan harta kami padanya. Jika kami (berbuat) demikian, sesungguhnya kami benar-benar orang-orang zalim.’” (QS: Yusuf ayat 78-79).

Ibnu Katsir menyatakan, saat Bunyamin terbukti mencuri dan hukuman pencuri adalah dijadikan budak,  anak-anak Nabi Ya’qub beralih dari membela Bunyamin kepada mencari cara untuk tetap membawa Bunyamin pulang. Yaitu dengan menyodorkan salah seorang dari mereka untuk menggantikan Bunyamin dalam menjalani hukuman.

Anak-anak Nabi Ya’qub mengungkapkan dua hal untuk merayu Menteri Mesir agar menyetujui tawaran mereka. Pertama,  dengan menceritakan bahwa ayah mereka; yakni Nabi Ya’qub, adalah orang sudah lanjut usia. Yang tentunya amat mengharapkan pulangnya Bunyamin, dan sangat bersedih bila mengetahui Bunyamin ditahan di Mesir; Kedua, dengan mengungkapkan pandangan mereka bahwa pemerintah Mesir adalah orang-orang yang baik. Hal ini ditunjukkan oleh apa yang mereka saksikan dengan bagaimana sikap pemerintah Mesir terhadap rakyatnya, dan sikap mereka kepada anak-anak Nabi Ya’qub yang datag dari jauh dan meminta pertolongan.

Kedua hal tersebut menurut anak-anak Nabi Ya’qub dapat dijadikan pertimbangan Menteri Mesir untuk menerima tawaran mereka; menggantikan Bunyamin dengan salah satu dari saudaranya agar Bunyamin tetap bisa pulang dan menemui ayahnya.

Sayangnya Menteri Mesir menolak tawaran itu. Ia beralasan, bagaimana mungkin mereka akan menangkap orang yang tidak bersalah sebagai ganti Bunyamin? Bukankah itu sesuatu kezaliman. Mereka akhirnya tetap menangkap Bunyamin dan membiarkan anak-anak Nabi Ya’qub pulang ke rumah mereka dalam keadaan kebingungan dalam menghadap ayahnya, nantinya.

Sikap Nabi Yusuf yang Janggal

Tindakan Nabi Yusuf melakukan rekayasa agar saudara kandungnya; Bunyamin tetap tinggal di Mesir, tentunya memunculkan kejanggalan di benak pembaca kisahnya. Bagaimana bisa Nabi Yusuf yang seorang Nabi dan Rasul, membuat Bunyamin dituduh sebagai pencuri? Bukankah itu tindakan yang zalim. Dan bukankah hal itu nantinya malah akan membuat Nabi Ya’qub menjadi bersedih?

Imam Ar-Razi mencoba menjawab pertanyaan ini. Namun mungkin karena tidak ada dasar yang jelas untuk menjawab pertanyaan itu, Imam Ar-Razi hanya mengajukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menjadi pembenar bagi tindakan Nabi Yusuf tersebut.

Kemungkinan tersebut adalah, Nabi Yusuf memang diperintah Allah agar membuat Bunyamin tetap di Mesir dan tidak mengambil salah satu anak-anak Nabi Ya’qub sebagai ganti Bunyamin. Meski hal ini terdengar aneh, tapi bukankah hal semacam itu juga pernah terjadi di antara Nabi Musa dan Nabi Khidir. Di mana Nabi Khidir diperintah Allah membunuh seorang anak, sebab Allah mengetahui bahwa kelak saat dewasa anak tersebut akan bersikap buruk dan kufur kepada Allah.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved