Connect with us

Kajian

Alasan Mengapa Shalat Jumat Virtual Tidak Perlu

Published

on


Setelah mempelajari tulisan-tulisan terkait Shalat Jumat Virtual, kesimpulan saya adalah tidak perlu ada shalat Jumat virtual. Berikut ini alasannya.

Pertama, keputusan dan anjuran yang dikeluarkan Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, MUI DKI Jakarta, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), sudah cukup jelas terkait beribadah pada masa pandemi. COVID-19 sudah menjadi pengetahuan bersama dan menjadi hujjah bahwa kondisi kita saat ini memasuki fase darurat. Hal ini sudah menjadi mujma’ alaih di tingkat ilmuwan maupun agamawan. Khusus untuk shalat Jumat, bila tak bisa dilaksanakan maka bisa diganti dengan shalat Dhuhur di rumah.

Kedua, secara teknis keputusan poin nomor pertama ini mudah sekali untuk dilaksanakan siapa pun. Tidak perlu ada upaya berlebih bagi seseorang untuk melaksanakannya. Pilihannya adalah ke masjid yang melaksanakan protokol kesehatan; bila tak bisa maka cukup dengan shalat duhur di rumah. Ini sangat mudah dan praktis. Sesuai dengan kaidah:

الدين يسر ولا تكن من المنفرين

Agama itu mudah, jangan menjadi bagian orang yang membuat orang lain lari dari agama.

Ketiga, tidak ada definisi yang menjelaskan secara gamblang tentang apa itu shalat Jumat Online atau shalat Jumat virtual. Dalam tulisan Muhammad Abdullah Darraz misalnya, hanya disebutkan demikian:

“…beberapa kalangan telah juga memberikan solusi alternatif yang memungkinkan tetap dilaksanakannya shalat Jumat di tengah pandemi, yakni yang dilaksanakan dengan menggunakan media internet dan perangkat platform pertemuan online yang bisa mempertemukan antara imam dan jamaah/makmum dalam sebuah medium interaksi bersama. Dan hal ini model pelaksanaan ibadah shalat Jumat seperti ini disebut sebagai shalat Jumat online atau shalat Jumat virtual.”

Definisi ini masih rancu. Bagaimana kalau jamaah hanya menggunakan media internet, sementara redaksi di atas menggunakan diksi “dan”, bukan “atau”. Yang artinya, keduanya (media internet dan perangkat platform) menjadi syarat. Apa perbedaan antara keduanya dan apa persamaannya?

Kalau mengacu kepada definisi, internet biasanya disebut sebagai jaringan (network), bukan media internet. Yang termasuk ke media internet adalah email dan laman.

Di setiap bidang kajian, definisi yang jelas diperlukan untuk menggambarkan sebuah masalah. Tanpa definisi yang jelas, pembahasan sebuah masalah tidak pernah akan mencapai titik terang. Apalagi dalam kajian fiqih, definisi adalah hal penting karena menjadi penentu sebuah keputusan hukum. Kita bisa lihat dari perdebatan para Imam Madzhab mengenai definisi quru’. Dari definisi ini akan lahir batasan-batasan.

Ketiadaan definisi ini membuka banyak sekali peluang yang bahkan jauh dari bayangan dan tujuan utama ibadah shalat Jumat ini, yaitu berkumpul di dalam satu tempat. Bisa jadi akan membuat jamaah yang berada di tempat dan waktu yang berbeda, lantas ikut shalat Jumat virtual. Seperti Imam berada di Jakarta, tetapi makmun berada di Makassar atau Kalimantan. Padahal, ketiga daerah ini memiliki perbedaan waktu yang signifikan; Waktu Indonesia Barat (WIB) berbeda satu jam dengan Waktu Indonesia Tengah (WITA) dan dua jam dengan Waktu Indonesi Timur (WIT).

Padahal, shalat menjadi wajib ketika sudah masuk waktunya.

إن الصلاة كانت على المؤمنين كتاباً موقوتا

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. An Nisa’: 103)

Melaksanakan shalat duhur di Jakarta pada pukul 10.30 dihukumi tidak sah, karena waktu duhur di Jakarta saat ini (19 Maret 2021) adalah 12.01. Tidaklah mungkin shalat Jumat Virtual bisa dikatakan sah bila imam berada di Jakarta, sementara jamaahnya berada di Makassar; yang jarak keduanya berbeda satu jam. Makassar lebih dulu masuk duhur, sementara Jakarta belakangan. Atau imam berada di Jakarta, sementara jamaahnya berada di Maluku, yang jarak keduanya berbeda dua jam. Di Jakarta baru masuk duhur, sementara di Maluku sudah pukul 14.00. Jamaah di Maluku menunggu dua jam untuk bisa shalat Jumat virtual.

Ketiadaan definisi juga merancukan medium. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini medium untuk melalukan kegiatan virtual ada banyak sekali. Hampir semua akun di sosial media bisa melakukan siaran langsung, seperti Facebook, Twitter, Youtube, Zoom, Google, Instagram. Mau menggunakan medium yang mana? Mau menggunakan semuanya? Apakah yakin dengan kekuatan internet di Indonesia?

Menurut Hootsuite, kecepatan internet Indonesia rata-rata 20,1 Mbps, jauh di bawah rata-rata dunia yang mencapai 73,6 Mbps.

Setahun Indonesia mengalami pandemi dan mendorong kita untuk bekerja dari rumah membuat kita menyadari betapa kekuatan internet kita belum bagus-bagus amat. Sering sekali ada saja gangguan terhadap kualitas kekuatan kecepatan internet.

Keempat, shalat Jumat Virtual ini sangat elitis. Hanya mereka yang mampu mengakses internet dan memiliki kuota yang bisa mengaksesnya. Padahal, Shalat Jumat itu termasuk min khashais hadizi al-ummat (di antara keistimewaan umat ini). Untuk ibadah yang mendasar seperti shalat Jumat ini mestinya tidak boleh ada pembedaan antara yang elit dan alit.

Ketiadaan definisi yang jelas juga melahirkan kerumitan yang lain. Yaitu siapakah yang berhak untuk menjadi khatib, imam, atau jamaah Shalat Jumat Virtual ini? Apakah benar orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak keluar sama sekali dari rumah selama setahun ini, sehingga benar-benar memegang prinsip hifdzun nafs secara ketat? Bagaimana kalau ternyata jamaah atau malah khatib dan imam shalat Jumat Virtual ternyata masih bekerja di kantor dalam sebulan beberapa kali; atau ternyata istri dan anggota keluarganya sering berbelanja kebutuhan sehari-hari ke pasar? Jika demikian, maka ini kontradiksi. Untuk kegiatan duniawi tidak ketat menerapkan prinsip hifdzun nafs, sementara untuk ukhrawi malah sangat ketat dan mengambil jalan yang menyalahi ijmak.

Dua pilihan yang diberikan oleh jumhur ulama dan sudah menjadi ijmak, yaitu shalat Jumat menggunakan protokol kesehatan atau shalat duhur di rumah sebagi pengganti shalat Jumat, sudah lebih dari cukup. Siapa pun bisa dengan mudah melaksanakannya.

Jadi, dengan begitu, tidak perlu ada Shalat Jumat Virtual.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kajian

Belajar dari Perang Badar yang Berlangsung di Bulan Rumahan

Published

on

By


Di dalam Surat Al-Anfal: 41 disebutkan bahwa hari berkecamuknya Perang Badar adalah sebagai  yaumul Furqon, atau hari pembeda. Ya, ia membedakan antara dua pasukan yakni pasukan Muslimin Madinah dan Kafir Quraisy Mekkah. Pembeda antara yang haq dan bathil. Namun, untuk lebih mengetahui hal ini, seraya sebagai sarana kita untuk belajar dari sejarah, mengambil mutiara-mutiara di dalam sirah Nabi Muhammad yang penuh berkah, mari kita lihat lebih dekat perbedaan di antara kedua pasukan dan pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari sana.

Pada peristiwa Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, kita bisa mengambil garis demarkasi yang jelas antara dua pasukan yang akan bertempur. Di satu sisi, pasukan Madinah terdiri dari 313 pasukan yang berasal dari kaum Muhajirin, suku Aus dan suku Khazraj. Mereka hanya memiliki dua ekor kuda yang dimiliki oleh az-Zubair bin Awwam dan al-Miqdad ibn al-Aswad, 70 ekor unta yang ditunggangi secara bergantian, dan perlengkapan perang yang sangat minim. Di sisi lain, pasukan Mekah terdiri dari sekitar seribu tiga ratus pasukan, membawa lebih dari 100 ekor kuda, 600 baju besi, dan unta yang tidak tahu berapa jumlah persisnya. Setiap harinya, pasukan Mekah menyembelih sembilan sampai sepuluh ekor untuk untuk konsumsi di perjalanan mereka.

Di Tengah perjalanan, keluarga besar Bani Adi yang jumlahnya sekitar 300 orang memutuskan untuk kembali ke Mekah setelah mendapat kabar dari Abu Sofyan tentang keselamatan kafilahnya. Kafilah tersebut mengambil rute pantai menjauh dari intaian tentara Madinah.

Abu Sofyan adalah pemuda yang sangat cerdas dan bijaksana. Dialah pemimpin kafilah yang membawa seribu onta, beragam harta benda, dan dinar yang diperkirakan mencapai 50.000 dinar emas atau menurut catatan Quraisy Shihab berjumlah sekitar 22,75 kg emas. Abu Sofyan di tengah perjalanan tersebut merasa ada yang aneh. Dia merasa ada yang memata-matai perjalanannya. Lalu, dia menemukan kotoran onta, dan setelah melihat dan mempelajari kotoran tersebut, dia mengetahui bahwa onta tersebut, yang memakan dedaunan pohon kurna, berasal dari Madinah, tidak mungkin dari tempat lain. oleh karena itu, dia lalu mengutus Amr ibn Dhamdham Al-Ghifari untuk menyampaikan kabar tersebut ke Mekah agar mengutus bala bantuan untuk mengamankan dagangan mereka. Maka berangkatlah pasukan Mekah di bawah komando Abu Jahal.

Mendengar kabar dari Abu Sofyan agar kembali ke Mekah, Abu Jahal bin Hisyam menolak dengan tegas seraya berkata:

“Demi Allah! kami tidak akan kembali kecuali telah sampai di Badar. Kami akan berpesta, minum anggur, dihibur oleh para biduanita Arab, makan besar, biar semua orang Arab mendengar dan mengetahui kekuatan kita dan menjadi gentar karenanya”

Perkataan Abu Jahal ini diamini oleh kebanyakan dari pasukan Quraisy, dan Allah merekamnya di dalam surat Al-Anfal ayat 47:

“Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka dengan angkuh dan dengan maksud ria terhadap manusia serta menghalangi dari Jalan Allah, padahal Allah meliputi segala yang mereka kerjakan”.

Dari gambaran di atas, kita melihat dengan nyata bagaimana Abu Jahal cs merepresentasikan manusia yang bangga dan menyandarkan kesuksesan dalam perang berdasarkan materi yang mereka miliki: jumlah pasukan yang besar, aliansi, senjata, bekal, dan alat-alat perang lainnya. karena ‘kekuatan’ itu pula mereka menjadi orang-orang yang sombong dan ingin dipuji atau riya’.

Betapa dalam hidup yang singkat ini terkadang kita juga melakukan hal yang sama, bukan? Menyandarkan kesuksesan atas materi, aliansi atau jaringan pertemanan, kekayaan, dan mungkin juga gelar yang kita sandang. Membanggakannya. Padahal, bersandar kepada manusia dan segala yang melekat atasnya tidak lain adalah seperti kita bersandar pada kayu yang rapuh.

Sementara itu, tatkala pasukan Quraisyh sampai di Badar dan mulai berpesta, Nabi Muhammad masih dalam kebimbangan. Awalnya, dia tidak ada niat untuk berperang. Nabi hanya ingin menyergap, mengambil harta dari kafilah Quraisy di mana di dalamnya juga terdapat harta milik orang-orang muhajirin. Pada titik ini, Nabi bermusyawarah dengan para sahabatnya. Merundingkan apakah kita akan maju bertempur atau pulang kembali ke Madinah yang berjarak sekitar 150 kilometer.

Kalangan Muhajirin bersepakat untuk mengikuti dawuh Nabi seandainya beliau menghendaki untuk melawan musuh yang sudah ada di hadapan. Sahabat Miqdad bin Amir, dari kaum Muhajirin, berkata:

“Wahai Rasulullah, kami akan bersama engkau. Kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana Bani Israel berkata kepada Musa ‘pergi engkau sendiri bersama Rabb-mu dan berperanglah. Kami akan duduk menanti di sini saja’” Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andai kata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa memcapai tempat itu”.

Meski demikian, Nabi masih ingin mendapatkan masukan, sikap, dan pendapat dari kaum Anshar. Sebab, kaum muhajirin jumlahnya hanya sedikit, antara 83-86 orang. Sedangkan kekuatan utama pasukan Muslim berada di pihak Anshar. Pada saat inilah kita mendengarkan kata-kata luar biasa dari sahabat Sa’d bin Muadz, pemimpin kaum Anshar:

“Kami telah beriman kepadamu wahai rasulullah. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Majulah terus wahai Rasulullah. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andai engkau bersama kami terhalang lautan, lalu engkau terjun ke dalamnya, kami pun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun di antara kami yang akan mundur. Kami dikenal sebagai orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau sukai. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah”

Inilah pembeda. Orang-orang musyrik berperang untuk menunjukkan keunggulan mereka, sementara pasukan Muslim dengan visi yang sama: menaati Tuhan dan Rasulnya. Maka, di dalam perjuangan dalam bidang apapun adalah sangat penting untuk menata dan memperbarui niat. Tentu saja perlu latihan secara terus menerus untuk menjadikan Tuhan semata-mata sebagai tujuan. Namun, setidaknya, kita terus berusaha untuk melaksanakan apa-apa yang diperintahkan, dicintai, dan dianjurkan-Nya. Paling tidak, sebagaimana kata Gus Baha, setidaknya kita tidak melakukan kemaksiatan.

Pada saat perang mulai berkecamuk, hari Jumat, 17 Ramadhan tahun kedua hijrah, Nabi berdoa. Beliau keluar dari tendanya, berdiri, dan menengadah ke langit seraya berdoa:

Ya Allah laksanakan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah aku bermohon pemenuhan janji-Mu, ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini, maka engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini”

Nabi sangat gelisah. Beliau bermohon kepada Tuhan dengan sangat serius dan khusyuk sampai-sampai serban yang dipakainya jatuh ke tanah. Maka, turunlah surat al-Anfal ayat 9 yang memberikan  kabar gembira akan datangnya bala bantuan dari malaikat yang berjumlah ribuan.

Pertolongan Allah adalah satu-satunya penolong pasukan Muslimin. Peristiwa perang Badar sering diulang-ulang di dalam Al-Quran tidak untuk mengunggulkan pasukan Muslim, melainkan untuk merenungkan betapa agungnya pertolongan Allah.

Maka bukanlah engkau yang membunuh mereka, tetapi Allah yang membunuh mereka. Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar” (Al-Anfal: 17)

Inilah pembeda. Pasukan Muslim mengembalikan kemenangan mereka semata-mata atas kehendak Allah, bukan atas dasar kekuatan, strategi, dan kecerdasan mereka. Pasukan Muslim yang memercayai Tuhan dan Nabinya, tidak bersandar pada kekuatan, aliansi, harta, senjata, dan jumlah pasukan, dan meyakini kekuatan doa. Bahwa ada Tuhan yang siap menolong hamba-hambanya sebagaimana dalam firmannya dalam Al-Baqarah 186:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran

Begitulah Perang Badar. Menewaskan 70 orang Quraisy dan 70 tawanan perang. Sementara di pihak pasukan Muslim yang gugur berjumlah 14 pasukan. Perang Badar telah melambungkan nama Nabi dan umat Islam di Madinah. Mereka, umat Islam, mulai menjadi aktor yang patut diperhitungkan dalam peta politik di Madinah.



Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Belajar dari Perang Badar yang Berlangsung di Bulan Ramadhan

Published

on

By


Di dalam Surat Al-Anfal: 41 disebutkan bahwa hari berkecamuknya Perang Badar adalah sebagai  yaumul Furqon, atau hari pembeda. Ya, ia membedakan antara dua pasukan yakni pasukan Muslimin Madinah dan Kafir Quraisy Mekkah. Pembeda antara yang haq dan bathil. Namun, untuk lebih mengetahui hal ini, seraya sebagai sarana kita untuk belajar dari sejarah, mengambil mutiara-mutiara di dalam sirah Nabi Muhammad yang penuh berkah, mari kita lihat lebih dekat perbedaan di antara kedua pasukan dan pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari sana.

Pada peristiwa Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, kita bisa mengambil garis demarkasi yang jelas antara dua pasukan yang akan bertempur. Di satu sisi, pasukan Madinah terdiri dari 313 pasukan yang berasal dari kaum Muhajirin, suku Aus dan suku Khazraj. Mereka hanya memiliki dua ekor kuda yang dimiliki oleh az-Zubair bin Awwam dan al-Miqdad ibn al-Aswad, 70 ekor unta yang ditunggangi secara bergantian, dan perlengkapan perang yang sangat minim. Di sisi lain, pasukan Mekah terdiri dari sekitar seribu tiga ratus pasukan, membawa lebih dari 100 ekor kuda, 600 baju besi, dan unta yang tidak tahu berapa jumlah persisnya. Setiap harinya, pasukan Mekah menyembelih sembilan sampai sepuluh ekor untuk untuk konsumsi di perjalanan mereka.

Di Tengah perjalanan, keluarga besar Bani Adi yang jumlahnya sekitar 300 orang memutuskan untuk kembali ke Mekah setelah mendapat kabar dari Abu Sofyan tentang keselamatan kafilahnya. Kafilah tersebut mengambil rute pantai menjauh dari intaian tentara Madinah.

Abu Sofyan adalah pemuda yang sangat cerdas dan bijaksana. Dialah pemimpin kafilah yang membawa seribu onta, beragam harta benda, dan dinar yang diperkirakan mencapai 50.000 dinar emas atau menurut catatan Quraisy Shihab berjumlah sekitar 22,75 kg emas. Abu Sofyan di tengah perjalanan tersebut merasa ada yang aneh. Dia merasa ada yang memata-matai perjalanannya. Lalu, dia menemukan kotoran onta, dan setelah melihat dan mempelajari kotoran tersebut, dia mengetahui bahwa onta tersebut, yang memakan dedaunan pohon kurna, berasal dari Madinah, tidak mungkin dari tempat lain. oleh karena itu, dia lalu mengutus Amr ibn Dhamdham Al-Ghifari untuk menyampaikan kabar tersebut ke Mekah agar mengutus bala bantuan untuk mengamankan dagangan mereka. Maka berangkatlah pasukan Mekah di bawah komando Abu Jahal.

Mendengar kabar dari Abu Sofyan agar kembali ke Mekah, Abu Jahal bin Hisyam menolak dengan tegas seraya berkata:

“Demi Allah! kami tidak akan kembali kecuali telah sampai di Badar. Kami akan berpesta, minum anggur, dihibur oleh para biduanita Arab, makan besar, biar semua orang Arab mendengar dan mengetahui kekuatan kita dan menjadi gentar karenanya”

Perkataan Abu Jahal ini diamini oleh kebanyakan dari pasukan Quraisy, dan Allah merekamnya di dalam surat Al-Anfal ayat 47:

“Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka dengan angkuh dan dengan maksud ria terhadap manusia serta menghalangi dari Jalan Allah, padahal Allah meliputi segala yang mereka kerjakan”.

Dari gambaran di atas, kita melihat dengan nyata bagaimana Abu Jahal cs merepresentasikan manusia yang bangga dan menyandarkan kesuksesan dalam perang berdasarkan materi yang mereka miliki: jumlah pasukan yang besar, aliansi, senjata, bekal, dan alat-alat perang lainnya. karena ‘kekuatan’ itu pula mereka menjadi orang-orang yang sombong dan ingin dipuji atau riya’.

Betapa dalam hidup yang singkat ini terkadang kita juga melakukan hal yang sama, bukan? Menyandarkan kesuksesan atas materi, aliansi atau jaringan pertemanan, kekayaan, dan mungkin juga gelar yang kita sandang. Membanggakannya. Padahal, bersandar kepada manusia dan segala yang melekat atasnya tidak lain adalah seperti kita bersandar pada kayu yang rapuh.

Sementara itu, tatkala pasukan Quraisyh sampai di Badar dan mulai berpesta, Nabi Muhammad masih dalam kebimbangan. Awalnya, dia tidak ada niat untuk berperang. Nabi hanya ingin menyergap, mengambil harta dari kafilah Quraisy di mana di dalamnya juga terdapat harta milik orang-orang muhajirin. Pada titik ini, Nabi bermusyawarah dengan para sahabatnya. Merundingkan apakah kita akan maju bertempur atau pulang kembali ke Madinah yang berjarak sekitar 150 kilometer.

Kalangan Muhajirin bersepakat untuk mengikuti dawuh Nabi seandainya beliau menghendaki untuk melawan musuh yang sudah ada di hadapan. Sahabat Miqdad bin Amir, dari kaum Muhajirin, berkata:

“Wahai Rasulullah, kami akan bersama engkau. Kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana Bani Israel berkata kepada Musa ‘pergi engkau sendiri bersama Rabb-mu dan berperanglah. Kami akan duduk menanti di sini saja’” Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andai kata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa memcapai tempat itu”.

Meski demikian, Nabi masih ingin mendapatkan masukan, sikap, dan pendapat dari kaum Anshar. Sebab, kaum muhajirin jumlahnya hanya sedikit, antara 83-86 orang. Sedangkan kekuatan utama pasukan Muslim berada di pihak Anshar. Pada saat inilah kita mendengarkan kata-kata luar biasa dari sahabat Sa’d bin Muadz, pemimpin kaum Anshar:

“Kami telah beriman kepadamu wahai rasulullah. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Majulah terus wahai Rasulullah. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andai engkau bersama kami terhalang lautan, lalu engkau terjun ke dalamnya, kami pun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun di antara kami yang akan mundur. Kami dikenal sebagai orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau sukai. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah”

Inilah pembeda. Orang-orang musyrik berperang untuk menunjukkan keunggulan mereka, sementara pasukan Muslim dengan visi yang sama: menaati Tuhan dan Rasulnya. Maka, di dalam perjuangan dalam bidang apapun adalah sangat penting untuk menata dan memperbarui niat. Tentu saja perlu latihan secara terus menerus untuk menjadikan Tuhan semata-mata sebagai tujuan. Namun, setidaknya, kita terus berusaha untuk melaksanakan apa-apa yang diperintahkan, dicintai, dan dianjurkan-Nya. Paling tidak, sebagaimana kata Gus Baha, setidaknya kita tidak melakukan kemaksiatan.

Pada saat perang mulai berkecamuk, hari Jumat, 17 Ramadhan tahun kedua hijrah, Nabi berdoa. Beliau keluar dari tendanya, berdiri, dan menengadah ke langit seraya berdoa:

Ya Allah laksanakan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah aku bermohon pemenuhan janji-Mu, ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini, maka engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini”

Nabi sangat gelisah. Beliau bermohon kepada Tuhan dengan sangat serius dan khusyuk sampai-sampai serban yang dipakainya jatuh ke tanah. Maka, turunlah surat al-Anfal ayat 9 yang memberikan  kabar gembira akan datangnya bala bantuan dari malaikat yang berjumlah ribuan.

Pertolongan Allah adalah satu-satunya penolong pasukan Muslimin. Peristiwa perang Badar sering diulang-ulang di dalam Al-Quran tidak untuk mengunggulkan pasukan Muslim, melainkan untuk merenungkan betapa agungnya pertolongan Allah.

Maka bukanlah engkau yang membunuh mereka, tetapi Allah yang membunuh mereka. Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar” (Al-Anfal: 17)

Inilah pembeda. Pasukan Muslim mengembalikan kemenangan mereka semata-mata atas kehendak Allah, bukan atas dasar kekuatan, strategi, dan kecerdasan mereka. Pasukan Muslim yang memercayai Tuhan dan Nabinya, tidak bersandar pada kekuatan, aliansi, harta, senjata, dan jumlah pasukan, dan meyakini kekuatan doa. Bahwa ada Tuhan yang siap menolong hamba-hambanya sebagaimana dalam firmannya dalam Al-Baqarah 186:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran

Begitulah Perang Badar. Menewaskan 70 orang Quraisy dan 70 tawanan perang. Sementara di pihak pasukan Muslim yang gugur berjumlah 14 pasukan. Perang Badar telah melambungkan nama Nabi dan umat Islam di Madinah. Mereka, umat Islam, mulai menjadi aktor yang patut diperhitungkan dalam peta politik di Madinah.



Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Tafsir Surat Yusuf Ayat 78-79: Usaha Anak Nabi Ya’qub Membawa Pulang Bunyamin

Published

on

By


Saat Bunyamin terbukti mencuri, anak-anak Nabi Ya’qub pun tidak bisa lagi menyanggah tuduhan  Bunyamin  mencuri. Mereka pun mulai kebingungan bila nanti sang ayah menanyakan keberadaan Bunyamin saat mereka pulang. Lalu mereka pun mulai bernegoisasi dengan Nabi Yusuf yang mereka kenal sebagai menteri Mesir, agar tetap bisa membawa pulang Bunyamin. Allah berfirman dalam Surat Yusuf ayat 78-79:

قَالُوْا يٰٓاَيُّهَا الْعَزِيْزُ اِنَّ لَهٗٓ اَبًا شَيْخًا كَبِيْرًا فَخُذْ اَحَدَنَا مَكَانَهٗ ۚاِنَّا نَرٰىكَ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٧٨ قَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اَنْ نَّأْخُذَ اِلَّا مَنْ وَّجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهٗٓ ۙاِنَّآ اِذًا لَّظٰلِمُوْنَ

Qaaluu yaa ayyuhal ‘aziizu inna lahuu abang syaikhang kabiirang fakhudz ahadanaa makaanah. Innaa naraaka minal muhsiniin. Qaala ma’aadzallaahi annna’khudza illaa maw wajadnaa mataa’anaa ‘indahuu innaa idzal ladlaalimuun.

 Artinya:

“Mereka berkata, ‘Wahai al-Aziz, sesungguhnya dia (Bunyamin) mempunyai ayah yang sudah lanjut usia karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya. Sesungguhnya kami melihat engkau termasuk orang-orang yang selalu berbuat lebih baik.’ Dia (Yusuf) berkata, ‘Kami memohon pelindungan kepada Allah dari menahan (seseorang), kecuali siapa yang kami temukan harta kami padanya. Jika kami (berbuat) demikian, sesungguhnya kami benar-benar orang-orang zalim.’” (QS: Yusuf ayat 78-79).

Ibnu Katsir menyatakan, saat Bunyamin terbukti mencuri dan hukuman pencuri adalah dijadikan budak,  anak-anak Nabi Ya’qub beralih dari membela Bunyamin kepada mencari cara untuk tetap membawa Bunyamin pulang. Yaitu dengan menyodorkan salah seorang dari mereka untuk menggantikan Bunyamin dalam menjalani hukuman.

Anak-anak Nabi Ya’qub mengungkapkan dua hal untuk merayu Menteri Mesir agar menyetujui tawaran mereka. Pertama,  dengan menceritakan bahwa ayah mereka; yakni Nabi Ya’qub, adalah orang sudah lanjut usia. Yang tentunya amat mengharapkan pulangnya Bunyamin, dan sangat bersedih bila mengetahui Bunyamin ditahan di Mesir; Kedua, dengan mengungkapkan pandangan mereka bahwa pemerintah Mesir adalah orang-orang yang baik. Hal ini ditunjukkan oleh apa yang mereka saksikan dengan bagaimana sikap pemerintah Mesir terhadap rakyatnya, dan sikap mereka kepada anak-anak Nabi Ya’qub yang datag dari jauh dan meminta pertolongan.

Kedua hal tersebut menurut anak-anak Nabi Ya’qub dapat dijadikan pertimbangan Menteri Mesir untuk menerima tawaran mereka; menggantikan Bunyamin dengan salah satu dari saudaranya agar Bunyamin tetap bisa pulang dan menemui ayahnya.

Sayangnya Menteri Mesir menolak tawaran itu. Ia beralasan, bagaimana mungkin mereka akan menangkap orang yang tidak bersalah sebagai ganti Bunyamin? Bukankah itu sesuatu kezaliman. Mereka akhirnya tetap menangkap Bunyamin dan membiarkan anak-anak Nabi Ya’qub pulang ke rumah mereka dalam keadaan kebingungan dalam menghadap ayahnya, nantinya.

Sikap Nabi Yusuf yang Janggal

Tindakan Nabi Yusuf melakukan rekayasa agar saudara kandungnya; Bunyamin tetap tinggal di Mesir, tentunya memunculkan kejanggalan di benak pembaca kisahnya. Bagaimana bisa Nabi Yusuf yang seorang Nabi dan Rasul, membuat Bunyamin dituduh sebagai pencuri? Bukankah itu tindakan yang zalim. Dan bukankah hal itu nantinya malah akan membuat Nabi Ya’qub menjadi bersedih?

Imam Ar-Razi mencoba menjawab pertanyaan ini. Namun mungkin karena tidak ada dasar yang jelas untuk menjawab pertanyaan itu, Imam Ar-Razi hanya mengajukan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menjadi pembenar bagi tindakan Nabi Yusuf tersebut.

Kemungkinan tersebut adalah, Nabi Yusuf memang diperintah Allah agar membuat Bunyamin tetap di Mesir dan tidak mengambil salah satu anak-anak Nabi Ya’qub sebagai ganti Bunyamin. Meski hal ini terdengar aneh, tapi bukankah hal semacam itu juga pernah terjadi di antara Nabi Musa dan Nabi Khidir. Di mana Nabi Khidir diperintah Allah membunuh seorang anak, sebab Allah mengetahui bahwa kelak saat dewasa anak tersebut akan bersikap buruk dan kufur kepada Allah.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved