Happy Old Year: Minimalisme dan Seni Merelakan – Bagyanews.com
Connect with us

Telaah

Happy Old Year: Minimalisme dan Seni Merelakan

Published

on

Happy Old Year: Minimalisme dan Seni Merelakan

[ad_1]

Jika disuruh memilih, apa film terbaik yang pernah saya tonton sepanjang tahun 2020, tentu saya akan memilih Happy Old Year. Film ini sebenarnya rilis setahun sebelumnya, tapi saya baru berkesempatan menontonnya tahun lalu. Satu dari segelintir film bagus yang saya tonton selama lockdown, selain Mudik (2019), katakanlah, kalau harus menyebut film bagus dalam negeri.

Happy Old Year bercerita tentang seorang perempuan yang ingin mengubah rumahnya menjadi kantor minimalis. Karena itulah dia harus menyingkirkan semua barang-barang di rumahnya. Barang-barang yang sebenarnya mudah dipindahkan, tapi menjadi sulit karena berbagai kenangan yang harus ikut dilupakan.

Salah satu masterpiece sinema Thailand ini digarap oleh Nawapol Thamrongrattanarit, sutradara yang mempunyai sentuhan sinematografi khas dalam film-filmnya. Sementara itu pemeran utamanya jatuh pada Chutimon Chuengcharoensukying, alias Aokbab. Kita barangkali tidak akan asing dengan Aokbab kalau pernah menonton akting memukaunya di film Bad Genius (2017).

Harus saya akui, duet Nawapol sebagai penulis naskah sekaligus pengarah film dan Aokbab sebagai pemeran utama adalah mimpi buruk bagi saingan film-film Thailand lainnya. Tidak heran, film ini melenggang menuju Oscars mewakili Thailand dalam kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Sayangnya, ia gagal masuk nominasi. Happy Old Year harus tunduk pada lima film internasional lain seperti Another Round (Denmark) dan Quo Vadis, Aida? (Bosnia dan Herzegovina).

Dalam film ini, Aokbab memerankan karakter Jean. Di rumahnya, ia tinggal bersama ibu dan adik laki-lakinya, Jay. Mereka tinggal dalam hunian dua lantai yang sebenarnya cukup lapang, tapi menjadi terlihat sempit karena dipenuhi perkakas yang menumpuk. Jean juga mempunyai seorang sahabat yang menemaninya mengumpulkan inspirasi untuk calon kantor minimalisnya.

Perlu diketahui, minimalisme yang diusung film ini tidak berkiblat pada Marie Kondo yang populer itu. Meski demikian, konsultan tata ruang asal Jepang tersebut tetap dimunculkan dengan cara yang halus. Marie dihadirkan lewat rasa penasaran Jay untuk mulai belajar tentang minimalisme. Ia membaca buku Marie dan menonton video-videonya.

Sebagai permulaan, Jean mengawali aksinya dengan memborong kantong sampah di swalayan. Dia mengajak Jay untuk membereskan isi rumah dengan iming-iming akan membuatkan studio untuknya. Jean menemukan banyak benda lawas peninggalan masa lalu: majalah, kaset VCD, telpon genggam kuno, pemutar video VHS, dan rapornya saat masih sekolah. Dia hanya melihatnya sekilas, lalu memasukkannya ke tas sampah.

Terlihat mudah memang. Tapi percayalah, tidak semua barang dapat dibuang semudah itu. Beberapa barang sering kali menyimpan kenangan yang terlampau besar untuk disingkirkan. Jean memang membuang sebagian barang-barangnya. Sebagian lagi dia jual pada tukang loak dan kolektor barang antik. Tapi sisanya, barang-barang pemberian orang lain itu, ia putuskan untuk mengembalikannya karena suatu alasan. Perempuan yang sering lekat dengan kaos putih itu mengembalikan anting, vinyl, kontrabas, hingga kamera analog pada orang-orang yang pernah mengisi kisah hidupnya.

Pada titik inilah, Happy Old Year menuangkan aspek dramanya. Film ini menggabungkan dialog emosional, konflik, dan romantisme masa lalu menjadi satu arus yang begitu menghanyutkan. Jean dihadapkan pada perdebatan dengan ibunya, ingatan pada sang ayah, pertengkaran dengan sahabatnya, atau pertemuan kembali dengan mantan pacarnya. Dia dipaksa masuk ke mesin waktu untuk mengingat berbagai memori yang sudah terlupa, atau sekadar menggali berbagai hal yang belum selesai di masa lalu.

Pertemuan dengan Aim, mantan pacar Jean, saya kira adalah babak terbaik dari film ini. Salah satu babak yang membuat penontonnya perlu berpikir lagi tentang kerelaan, perasaan bersalah, dan egoisme. Relasi dua karakter ini dibuat sangat abu-abu, sehingga sulit untuk menebak emosi apa yang seharusnya dikeluarkan. Belum lagi isi dari dialog-dialognya yang sangat dalam.

Happy Old Year dibagi menjadi enam babak, lengkap dengan konfliknya masing-masing. Pembabakan di dalamnya lebih terasa seperti membaca buku pengembangan diri dengan judul “How to” di sampulnya. Film ini memberi tips bagaimana langkah-langkah untuk berbenah. Entah itu berarti membenahi rumah atau membenahi kisah hidup kita sendiri.

“Gaya minimalis ibarat filosofi Buddha. Intinya merelakan,” kata Jean dalam pembukaan film. Bagi Buddha, kemelekatan memang menjadi sumber penderitaan setiap orang. Film ini, sejatinya telah menggabungkan dua tema berlainan, tapi memiliki muara yang sama. Di satu sisi dia mengenalkan konsep minimalisme sebagai gaya hidup manusia modern, dan di sisi lain dia mengajarkan konsep kerelaan yang berusia ratusan tahun. Di sini, kita bisa menikmati kisah yang menyentuh, visual artistik, dan pelajaran hidup yang substantif dalam satu karya sinematik.

Di Indonesia, film yang cukup dekat dengan tema ini adalah Toko Barang Mantan (2020) arahan Viva Westi. Bedanya, film tersebut lebih banyak berfokus pada romansa Tristan (Reza Rahadian) si pemilik toko, denggan mantannya Laras (Marsha Timothy). Sedangkan kesakralan atas kenangan di masa lalu rasanya tenggelam oleh bit-bit humornya yang klise. Saya kira masih terlalu jauh untuk bisa sampai pada level naskah dan visual Happy Old Year.

Terlebih, di departemen teknis, Happy Old Year sama sekali tak bisa diragukan. Sebagai film yang membicarakan minimalisme, Nawapol tahu betul apa yang harus dia lakukan. Pengambilan gambar ruang minimalisnya sangat subtil dan detail. Tak melulu presisi memang, tapi secara visual selalu bisa dinikmati. Komposisi pengambilan gambar long shot dan close up diatur sedemikian rapi menyesuaikan adegan-adegan emosionalnya. Selain itu, pemilihan music scoring untuk mengiringi setiap adegan terasa sederhana dan bersahaja.

Saya kira film ini bisa dinikmati oleh penikmat film genre apa pun. Karena mau bagaimanapun, kerelaan adalah masalah semua orang. Minimalisme mungkin hanyalah salah satu cara yang dipakai film ini untuk menyampaikan pesannya agar relevan. Kita barangkali mempunyai cara masing-masing. Tapi soal kerelaan, ini perkara serius. Setidaknya, Happy Old Year bisa memberi satu perspektif yang menarik.

[ad_2]

Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved