Connect with us

Telaah

Two Distant Strangers: Rasisme dan Satire yang Menolak Tunduk

Published

on


Beruntung Two Distant Strangers (2021) masuk gelembung rekomendasi tontonan saya belakangan ini. Saya langsung “mengeksekusinya” tanpa pikir panjang. Setidaknya karena dua alasan: Pertama, film ini adalah film pendek 32 menit yang bisa ditonton sekali duduk. Kedua, Two Distant Strangers masuk nominasi Oscar tahun ini dan saya kira memang pantas mendapatkannya.

Film ini dibuka dengan sekuen apik yang menyorot riuhnya Kota New York dengan segala aktivitas di dalamnya. Lalu tibalah pada adegan seekor anjing yang mendapati mangkok makanannya kosong. Si anjing mencari-cari tuannya yang pergi entah ke mana.

Namanya Jeter. Anjing abu-abu yang sedang lapar itu adalah rekan satu apartemen Carter James. Seorang pemuda kulit hitam yang saban hari bekerja sebagai desainer grafis. Pendapatan James bisa dibilang lumayan dari hasil menggambar. Komiknya sedang banyak diminati pasar. Tapi siapa peduli dengan timbunan uang James? Jeter hanya butuh semangkuk dry food seperti biasanya.

Tapi hari itu James belum pulang. Dia baru terbangun di ranjang asing, bersama seorang gadis. James bangkit dan bergegas pulang karena teringat Jeter. Saat keluar dari apartemen si gadis, dia bertemu dengan polisi kulit putih yang mencegatnya. Si polisi menyanyainya soal rokok James yang dicurigainya sebagai ganja. Ditambah, James menjatuhkan segebok uang hasil menggambarnya. Si polisi tampak tak percaya kalau James adalah pemuda kelas menengah urban baik-baik yang sedang beruntung. Hanya karena kulitnya hitam, dia dicurigai tanpa bukti.

James menolak tasnya digeledah. Dia merasa polisi tak punya hak menggeledah properti pribadinya. James melawan. Tapi dia dilumpuhkan hingga tersungkur ke tanah. Si polisi mencengkeram leher dan tangannya. Dua polisi lain tiba-tiba datang membantu rekannya tersebut. James tak berdaya dan hanya bisa berkata lirih, “I can’t breathe. I can’t breathe. Get off me!

James mati. Dia kehabisan napas. Si polisi kebingungan. Dia tak mengira hari itu akan membunuh seorang sipil yang tak berdaya. Atau, barangkali, itu hanya kebingungan fiktif sebab si polisi seperti tak peduli kondisi orang yang dia cengkeram lehernya tanpa ampun. Tiada yang tahu.

Dan ya, adegan tersebut adalah satire atas kasus pembunuhan Geogre Floyd pada Mei 2020 lalu. Floyd dibunuh oleh polisi kulit putih dengan dugaan sinisme berdasarkan ras. Setelah kematiannya, gelombang protes menghantam Amerika Serikat. Kampanye #BlackLivesMatter kembali menggema di negeri Paman Sam, bahkan sampai internasional. Gerakan sosial berskala masif tersebut menyuarakan penolakan atas rasisme dan brutalitas polisi, khususnya terhadap warga kulit hitam.

Perlu diketahui, Travon Free menulis naskah Two Distant Strangers dua bulan setelah kematian Floyd.

Kembali pada film. Usut punya usut, James ternyata tidak mati. Dia tersadar lagi dan terbangun di ranjang yang sama, bersama perempuan yang sama, dan di waktu yang sama. Dia mengulangi hari itu sama persis: keluar apartemen si gadis, bertemu si polisi, berseteru, dan terbunuh. Setiap James mati, dia otomatis kembali terbangun dari tidur. Begitu terus berulang-ulang sampai percobaannya yang ke-100 kali.

Kita barangkali tidak asing dengan genre fiksi ilmiah semacam ini. Berbeda dengan time travel, film yang berputar-putar pada sebuah waktu seperti ini biasa disebut time loop. Time loop adalah perangkat alur cerita dalam karya fiksi yang membuat karakternya mengulang-ulang waktu yang sama dan biasanya mencoba untuk memutusnya. Kita bisa menjumpai time loop di film Amerika Serikat lain seperti Happy Death Day (2017) yang menegangkan atau di sinema Korea Selatan seperti A Day (2017) yang sangat emosional.

Two Distant Strangers sendiri adalah film time loop terbaik di antara film-film serupa lain yang pernah saya tonton. Film arahan Travon Free dan Martin Desmond Roe ini mempunyai daya dukung teknis yang luar biasa. Sinematografi dan departemen artistik yang ditampilan sejak awal film terasa sangat memanjakan mata. Belum lagi isu yang diangkat sangat relevan dan perlu diarusutamakan, terutama bagi penoton Amerika, dan lebih khusus lagi bagi polisi Amerika yang mempunyai masalah rasisme sejak lama.

Di sisi lain, dua hal yang membuat saya kagum pada film ini adalah ide dan semangat yang diusungnya. Two Distant Strangers merangkai setiap babaknya yang berlapis-lapis dengan cerita dan cara-cara kreatif. Di beberapa bagian saya dibuat kagum karena tawaran ide yang sering tak terpikirkan. Selain itu, dialog-dialognya terasa jujur dan apa adanya, seperti obrolan antarkawan di tempat tongkrongan.

Pada dasarnya, Two Distant Strangers membawa semangat untuk tidak menyerah dalam melawan rasisme. “Tak peduli berapa lama pun, atau berapa kali, bagaimanapun caranya aku akan pulang ke anjingku,” kata James.

Di satu sisi, ucapan James adalah satire atas rentannya keselamatan warga kulit hitam di Amerika Serikat akibat stigma dan rasisme. Namun di sisi lain, film ini sekaligus memposisikan warga kulit hitam sebagai orang-orang yang pantang menyerah melawan rasisme. Film ini disajikan bukan untuk membuat penontonnya berbondong-bondong mengasihani. Sebaliknya, Two Distant Strangers menolak tunduk sebagai pertunjukan para penyintas yang tak berdaya, dan mendorong siapa pun untuk menentang ketidakadilan primordial tersebut, “tak peduli berapa lama pun, atau berapa kali, dan bagaimanapun caranya.”

Jujur saja, film ini membuat saya tertawa dan kagum di banyak adegan, serta membuat saya menangis seperti bayi di akhir cerita. Mengesankan!



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telaah

Melihat Aksi Terorisme di Sistem Pendidikan di Indonesia

Published

on

By


Dua aksi ekstremisme yang terjadi terakhir ini, menjadi sebuah refleksi bersama. Apakah apakah Pengarusutamaan Gender sudah dilaksanakan dengan baik dalam penangggulangan ekstremisme. Baik untuk pencegahan atau penanganan ekstremisme. Asumsi perempuan sebagai kelompok tidak berdisa menjadi peluang perempuan untuk terlibat jauh dalam agenda ekstremisme. Apalagi ada banyak aksi bom bunuh diri yang mengikutsertakan perempuan.

Pada 2018 lalu,  terdapat dua orang perempuan muda yang berencana masuk ke dalam Mako Brimob membawakan makanan dan dukungan kepada napi terorisme. Dari tangan Siska polisi menyita sebuah gunting yang akan digunakan untuk menyerang polisi. Keduanya memiliki latarbelakang pendidika yang cukup baik. Dita Siska Ia bekerja sebagai Guru Tajwid di Pondok Dauhrul Ulum, Cilacap. Siska Nurazizah merupakan mahasiswa semester 6 di UPI.

Pada 2021 saat ini, perempuan menjadi aktor dari ekstremisme. Dua kejadian ini, menjadi gambaran adanya pergerakan dan perkembangan perempuan yang mulai berani untuk menjadi barisan paling depan dalam aksi ekstremisme. Ke depan, dalam dipastikan akan semakin banyak para perempuan yang terlibat dalam aksi ekstremisme.

Bercermin pada pengalaman pribadi saya, radikalisme sudah masuk sejak lama ke dalam institusi pendidikan. Praktek radikalisme masuk ke dalam lembaga pendidikan, bukan hanya menginternalisasi para siswa, tetapi para guru dan lainnya di lembaga pendidikan. Adapun gejala awal anak-anak di dunia pendidikan yang mulai terindikasi radikalisme seperti menolak mengikuti upacara, mengikuti pelajaran PKN dan agama, mulai memusuhi kelompok yang berbeda.

Gejala awal ini, cenderung diabaikan dan dianggap sebagai hal yang tidak serius. Di sisi lain, dalam dunia pendidikan selama ini ada banyak sekolah yang berbasis identitas agama, menutup pegalaman langsung berinteraksi dengan kelompok yang berbeda. Sehingga, secara tidak langsung membentuk dan menciptakan segregasi sosial. Lebih jauh, praktek homeschooling belakang menjadi media radikalisasi pada anak-anak bagi orangtua yang memiliki pikiran radikalis kekerasan.

Dalam dunia pendidikan sendiri, diakui atau tidak, sekolah yang menanamkan nilai kritis mulai redup. Apalagi saat ini, mulai merebaknya budaya instan dalam beragama. Hal ini menandakan jika tingkat literasi di masyarakat hingga pemahaman agama yang tekstual menjadi penyebab suburnya paham radikalisme di Indonesia.

Kelemahan system pendidikan agama menjadi salah satu faktor tumbuhnya radikalisme di Indonesia. Pendidikan agama di Indonesia terutama, kurangnya menekan pada nilai moral. Mulai dari kasih sayang, cinta, toleransi, tenggang rasa hingga saling menghormati perbedaan pendapat dan kepercayaan agama. Tanpa mengabaikan nilai-nilai teologis, nilai-nilai moral dapat menciptakan nilai harmonis. Hal ini perlu didorong melalui pendidikan agama. Bagaimana caranya menanamkannya kepada anak didik?

Sebenarnya sangat mudah ditanamkan kepada anak didik. Seandaikan para peserta didik saling mengenal satu sama lain. Mulai dari agama, etnik dan budaya yang berbeda. Saya sempat membaca sebuah buku tentang bagaimana orang-orang Austaralia saling mengenal budaya masing-masing. Di sekolah dalam beberapa kali waktu, harus membawa benda atau yang mencerminkan asal mereka. Bahkan, para guru mengajarkan saling berbagi makanan ketika makan siang.

Sikap menghargai agama-agama lain atau para penganut agama lain, dapat ditumbuhkan bisa dengan mengadakan pelajaran perbandingan agama atau dengan kata lain sejarah agama-agama. Sebenarnya, usulan ini sempat terjadi pada 1980-an yang dimasukan ke dalam kurikulum sekolah. Sayangnya, usulan ini ditentang oleh kelompok muslim dengan alasan merusak dan melemahkan iman para peserta didik.

Seandainya hal ini akan dilakukan, pendekatan apoligetis dan polemis hatus dihindari karena pendekatan semacam ini tidak mendatangkan pemahaman yang benar tentang agama-agama lain. Pendekatan tersebut hanya menimbulkan kesalahpahaman tentang agama-agama yang dipelajari. Pemahaman yang benar tentang agama-agama lain dapat menumbuhkan sikap saling menghargai. Seandainya melakukan pendekatan yang salah, sikap yang akan muncul sikap saling membendi dan memusuhi agama lain.

Media sosial menjadi ruang yang memperparah penyebaran tafsir agama yang malah cendrung mengarah kepada konservatif. Wajah media sosial telah berganti menjadi konsep berpikir otoritas pada sebuah keilmuan yang tidak lagi bersandarkan pada kedalaman keilmuan seseorang. Melainkan pada jumlah follower.

 



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Dari Ustadz Somad & Yahya Waloni, Kenapa Wacana Hidup Bersama Agama Lain kok Dianggap Masalah?

Published

on

By


Ustadz Somad dengan beberapa pertanyaan dan Yahya Waloni dengan kontroversi beragamanya membuat kita bertanya, kenapa wacana hidup bersama agama lain seolah-olah berat dilakukan?Dalam esai kali ini saya akan mengulas wacana anti-hidup homogen di Indonesia yang disebarluaskan lewat narasi Agama. Kita semua mengetahui bahwa tatanan kehidupan yang heterogen di Indonesia memiliki sejarah panjang.

Jika dulu hidup heterogen diganggu oleh kekuatan politik dan militer, maka jika kita geser ke media sosial malah mendapati pemandangan yang berbeda. “Sulap” algoritma yang mengajak untuk bergaul dengan orang yang serupa dengan kita justru cukup laku. Sehingga narasi homogenitas telah merasuki kehidupan kita secara tidak kita sadari.

Bahkan, kita cukup sering berjumpa dengan tawaran wacana hidup eksklusif di linimasa media sosial kita. Wacana tersebut didedahkan para oknum otoritas Agama. Peran otoritas tersebut cukup vital dalam menentukan keberhasilan resepsi narasi tersebut di masyarakat. Hal ini disebabkan emosi keberagamaan yang mereka mengasong masih cukup ampuh menggerakan masyarakat untuk hidup homogen.

Adapun pesan atau wacana homogen di media sosial diantaranya didedahkan lewat narasi dakwah kebencian atau kecurigaan pada identitas liyan. Beberapa tahun terakhir ini kita tentu merasakan distribusi sangat massif atas wacana tersebut di publik Indonesia.

Namun sebelum lebih jauh, rasanya kita perlu mengulik pengalaman Pandji Pragiwaksono, seorang komika, yang pernah mendapati narasi kebencian di khutbah Jumat. Dari sana kita bisa melihat lebih luas bagaimana dinamika wacana kebencian atas identitaa yang lain tersebar lewat bantuan teknologi.

Kala itu Pandji mengikuti salat Jumat yang diisi dengan khutbah yang provokatif. Di mana sang Khatib menyebutkan bahwa, “di sekitar masjid ini ada orang-orang kafir yang akan dibakar dalam neraka”. Jelas saja Pandji menyayangkan perkataan tersebut bisa keluar dari seorang otoritas agama yang tidak sensitif lingkungan, karna ucapannya yang diperlantang TOA tersebut kemungkinan didengar oleh warga perumahan tersebut, yang mayoritas diisi oleh warga keturunan Tionghoa.

Ketika ujaran kebencian, sebagaimana pengalaman Pandji, muncul di ruang publik digital maka siapapun dapat mengonsumsinya, termasuk  mereka dari identitas yang berbeda. Terlebih saat ujaran tersebut telah diperlantang lewat TOA masjid, maka tentu bukan lagi milik pemeluk agama itu sendiri, namun telah menjadi wacana publik.

Sebaliknya, kebanyakan otoritas agama masih beralasan pada penyampaian ajaran tersebut di wadah yang privat, padahal hal yang jarang diperhatikan adalah konsekuensi atas pendedahannya di ruang publik. Perdebatan kemudian dilanjutkan soal ruang publik di ranah digital atau kebenaran ajaran agama masing-masing.

Namun untuk memperjelas di mana letak persoalan di pengalaman Pandji di atas, sebaiknya kita mengulik kembali pengalaman buruk di Pilkada DKI Jakarta kemarin. Saat itu politik identitas di Jakarta sedang mengalami gelombang pasang. Akibatnya, ketika polemik politik yang beririsan dengan kebencian terhadap identitas lain yang memakai narasi agama, kebanyakan otoritas malah mencuci tangan atas persoalan pelik tersebut.

Sayangnya, keadaan tersebut semakin pelik ketika pembahasan terkait agama atau kepercayaan sering diajarkan, baik di ceramah atau khutbah, dengan cara yang kurang elok, bahkan malah mengeraskan atau memanaskan polemik atau dendam yang sebelumnya hadir akibat berbagai ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik. Untuk lebih memahami persoalan ini lebih dalam, saya memberikan dua contoh pernyataan kurang pantas terkait agama lain yang disampaikan oleh otoritas agama, yaitu pernyataan ustadz Yahya Waloni tentang “Kursi Gereja” dan kasus “Salib” yang disampaikan Ustadz Abdus Samad.

Sebelumnya saya sangat menyayangkan saya menyayangkan pernyataan kedua otoritas tersebut. Hal ini juga membuktikan mereka tidak memiliki sensitivitas kesetaraan maka sudah seharusnya menghentikan tertawa tersebut karna hanya memupuk kebencian terhadap identitas liyan atas nama agama. Selain itu, kedua pernyataan itu disambut tawa lepas dari jemaah yang menyimaknya.

Kasus ustadz Yahya Waloni cukup menyita perhatian netizen, sebab pernyataannya sebenarnya cukup aneh. Permintaan ustadz Yahya Waloni untuk mengganti kursi yang dipakai karna dianggap bagian dari gereja. Jelas permintaan ustadz Yahya Waloni tersebut tidak bisa dianggap remeh, sebab dalam pernyataan seperti itu jelas menanamkan kecurigaan dan kebencian lewat keberadaan benda-benda yang dianggap milik agama lain.

Kedua, pernyataan UAS terkait Salib yang bermasalah terjadi pada salah satu ceramahnya di Pekanbaru. Dalam pernyataan tersebut UAS mengaitkan Salib dengan jin yang dianggap membahayakan bagi kaum muslim. UAS kemudian mengaitkan logo yang terpasang di mobil ambulan, yakni palang merah, termasuk yang berbahaya. Oleh sebab itu, UAS menyarankan kepada kita untuk menjauhi simbol-simbol tersebut.

Dari dua pernyataan kita bisa mengetahui bahwa relasi antar agama masih dijaga dengan menumbuhkan rasa saling curiga. Selain itu, otoritas agama kita juga masih kurang dalam memiliki sensitivitas atas potensi bahaya ekstrimisme atas nama agama. Sebab, gesekan antar kelompok yang terjadi sering disebabkan oleh provokasi yang dijejalkan terus menerus oleh para otoritas tersebut, walau dilakukan secara tidak sadar.

Dalam buku Poso, Dave McRae, akademisi asal Australia, menjelaskan bahwa salah satu penyebab terjadi konflik kekerasan terlama di Indonesia adalah segregasi tempat tinggal dan narasi penuh kecurigaan yang beredar di dua kelompok yang bertikai. Jadi, jika kita belajar dari tragedi tersebut, maka kondisi sosial kehidupan di tempat tinggal mono-identitas, ditambah persoalan media sosial tentu masyarakat kita berada dalam kerentanan untuk terjadi konflik horisontal.

Selain itu, setelah beberapa kali keruihan isu agama di media sosial kita diwarnai dengan retaknya relasi antar kelompok atau identitas lain di kehidupan nyata, tentu harus menjadikan kita perlu waspada atas potensi tersebut. Namun, jika kita berkaca pada kasus Pandji dan Pilkada DKI Jakarta maka para otoritas yang terlibat dalam pendedahan kecurigaan dan kebencian pada kelompok lain sangat cair.

Nama-nama yang tenar selama ini, seperti Habib Rizieq Shihab, Habib Bahar bin Smith, Ustadz Sugi Nur, hanya sedikit dari otoritas yang menyuarakan wacana tersebut. Masih banyak otoritas lain yang secara tidak sadar malah memupuk imaji negatif pada kelompok lain atau identitas yang liyan.

Namun, mayoritas kelompok otoritas kedua ini sebenarnya sangat sadar akan bahaya atas perilaku mereka. Sayangnya, mereka mungkin tidak melihat pengerasan identitas yang dipupuk lewat provokasi sebagai sebuah masalah. Sebab, tidak sedikit dari segregasi identitas yang mereka bangun tersebut “dipelihara” dengan terus menumbuhkan rasa saling curiga dan tidak percaya.

Walau sekarang di tengah esklasi politik belum terlalu panas, penyudutan terhadap identitas tertentu masih saja terjadi, walau dalam kadar yang turun naik. Di titik inilah, otoritas agama, terutama dari kalangan Islam reaksioner, mengambil kesempatan untuk mengipasi konflik horisontal demi mengambil keuntungan di sana.

 

Fatahallahu alaihi futuh al-arifin



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Titik Temu Agama dan Ilmu: Catatan Pendek Soal Buku Prof. Akh Minhaji

Published

on

By


Menurut pandangan Minhaji, modernitas sebagai puncak prestasi bangunan ilmu ala Barat dinilai telah mendegradasi moral dan menjauhkan manusia dari agama, khususnya Islam. Sifat bangunan ilmu ala Barat yang melulu harus empiris, testable dan falsifiable telah menjadi standar akademik diberbagai kampus dan menjadi ‘cara pandang’ manusia modern di berbagai belahan dunia. Hal ini, menurut Minhaji, menggeser paradigma ilmu ala Islam yang bersifat ‘wahyu-plus-Allah-oriented’, yang cakupan dimensinya merentang dari mulai hal materil maupun non-materil.

Dengan kata lain, “paradigma ilmu tidak lagi dibangun atas dasar al-Qur’an dan Sunnah Nabi, tapi lebih merujuk pola pikir Barat-Modern-Sekuler” kata Minhaji (hlm.ix), “buku ini hadir untuk menggugah perhatian khalayak agar mencegah bangsa ini terjerumus pada lembah kesesatan yang lebih dalam” sambungnya (hlm.ix). Soal kesesatan, Minhaji menuding langsung pada maksim Karl Marx yang masyhur: “Agama adalah Candu” sebagai puncaknya.

Minhaji melihat bahwa, perguruan tinggi di Timur Tengah lebih berorientasi pada doktrin, sedangkan perguruan tinggi di Barat lebih pada metodologi. Dalam konteks inilah Minhaji menaruh harapan pada perguruan tinggi di Indonesia agar menjadi center of excellent, yang diprediksi dapat menjadi rujukan bagi masyarakat lokal dan internasional di kemudian hari bila mereka hendak mencari ‘doktrin sekaligus metode.’

Berangkat dari konteks itu, dan berdasar pada semangat ‘benturan peradaban Barat-Timur’ ala Hutington, Minhaji menyajikan analisis dan konsep pemikiran, baik filosofis maupun semi-praktis, soal bagaimana hal itu bisa dan seharusnya diterapkan pada kosmos keilmuan Islam umumnya, dan pada perguruan tinggi Islam khususnya.

***

Akan tetapi, buku terbitan SUKA Press tahun 2017 yang setebal 193 halaman ini memiliki beberapa masalah mendasar.

Pertama, buku ini belum memberikan evaluasi historis yang ketat soal dinamika atmosfer sosiologi pengetahuan di masing-masing daerah. Misalnya, Minhaji hanya berhenti pada klaim bahwa berpisahnya antara ilmu dan agama di Barat pada masa pencerahan (Aufklarung) adalah buruk, sedangkan integrasi ilmu dan agama di Timur (atau Islam) adalah baik―tanpa menguraikan implikasi di berbagai lapisan, baik itu lapisan teoritik, metodologis ataupun praktis dari sebuah bangunan ilmu yang disinggungnya.

Sementara itu, pertimbangan soal: mengapa scientific revolution terjadi di Barat; konteks masyarakat seperti apa yang melatar belakanginya; mengapa tragedi Galileo menjadi trauma tersendiri bagi Barat; apa implikasinya terhadap bangunan Ilmu ala Barat; dan bagaimana dinamika hubungan ilmu pengetahuan, masyarakat dan institusi agama di daerah Timur, tidak terasa dalam dialektika argumen dan analisa dalam buku ini. Sehingga, pada beberapa kesimpulan yang dibuatnya kurang bercorak sintesis.

Kedua, ‘Indonesia’ sebagai atmosfer sosiologi pengetahuan juga luput dari pertimbangan buku ini. Negara dunia ketiga umumnya punya corak dan sejarah ilmu pengetahuan yang berbeda dengan dunia Barat ataupun Timur Tengah. Di Indonesia, indigenous knowledge telah menjadi tulang punggung peradaban bagi berbagai suku dan etnis sejak lama. Namun saat kolonialisme hadir, indigenous knowledge terkubur dan tergantikan oleh bangunan ilmu modern Barat.

Baru kemudian di era presiden Soeharto, ilmu sosial modern ‘dijinakkan’ untuk melayani pembangunan ekonomi-industrialis dan mempertahankan kuasa politik rezim Orde Baru. Spektrum evaluasi ilmu sosial yang mulanya mencakup studi deskriptif-informatif, historis-interpretatif dan kritis-emansipatoris, disempitkan hanya sebatas deskriptif-informatif agar segala kebijakan Orde Baru mendapat ‘pembenaran’ yang seakan ilmiah dan terhindar dari kritik ataupun gonjang-ganjing akibat dua jenis studi di sampingnya.

Dampaknya, kampus-kampus umum di Indonesia pada masa itu cenderung berada di ketiak rezim Soeharto dan corak studinya lebih simpati terhadap studi deskriptif-informatif dibanding dua jenis studi lainnya. Hal ini masih terasa sampai sekarang, meski pengaruhnya kini semakin memudar, dan upaya untuk merestorasi rentang spektrum ilmu sosial telah digalakkan. Beberapa nama kunci dalam upaya ini misalnya, Ignas Kleden, Vedi Hadiz, Daniel Dhakidae, dan yang baru-baru ini naik panggung, Airlangga Pribadi Kusman.

Lalu, apakah perguruan tinggi agama Islam (PTAI) di Indonesia juga mengalami nasib intelektual yang serupa? Dan seperti apa posisi PTAI dalam relasi kuasa di masa Orde Baru dan di masa kini? Dua pertanyaan ini mendasar untuk dituntaskan lebih dulu sebelum merumuskan harapan dan formulasi PTAI di Indonesia sebagai ‘pusat doktrin dan metode’, agar bias-bias ideologis di belakangnya yang mungkin dapat menyebabkan distorsi metodologis dapat diinterogasi.

Namun diskusi dua soal itu kurang mendapat minat di lingkup PTAI umumnya, dan di kalangan intelektual profetik di Indonesia khususnya, dibanding diskusi soal integrasi Barat-Islam ataupun soal Islam-vs-Barat.

Dalam buku ini, sumber literatur Barat dan literatur Timur modern sangat dominan―dan nyaris tidak ada literatur Indonesia selain karya Kuntowijoyo, Nurcholis Madjid dan Harun Nasution yang dikutip. Terlebih lagi, sayangnya, di lokus literatur Barat, buku ini hanya bermain pada kutipan-kutipan yang bersifat testimonial dari beberapa komentator yang senada dengan semangat benturan peradaban ala Hutington, tanpa menunjukkan sejauh apa batas pengecualian yang dimaksud oleh komentator yang dikutipnya.

Sebaliknya, arsitek-arsitek utama bangunan Ilmu Barat, seperti Francis Bacon, Karl Popper, Lingkaran Wina ataupun Lingkaran Frankfurt justru tidak mendapat ulasan, evaluasi ataupun kritik sama sekali, karena memang tidak dikutip―kecuali Thomas Kuhn.

Di lokus literatur Timur, Kuntowijoyo (rasionalisasi teks agama) dan Ismail Raji Faruqi (islamisasi ilmu pengetahuan) memberikan warna yang dominan bagi corak gugatan buku ini terhadap bangunan Ilmu ala Barat―di samping pengaruh dari pemikir lain seperti Mohammad Arkoun dan Ali Syariati.

Komposisi literatur yang demikian, meninggalkan jejak bahwa argumen-argumen Barat dan Timur yang diimpor buku ini terputus dari pusaran debat ilmu sosial yang tengah berlangsung di Indonesia, dan nampak tak ada ruang bagi prospek perkembangan indigenous knowledge.

Ini agak paradoksal, sebab pada satu sisi, Islam di Indonesia dikenal sangat merawat kebinekaan hubungan sosial, namun di lain sisi, apakah telah dibarengi dengan merawat kebinekaan indigenous knowledge? Pertimbangan ini penting sebagai bentuk komitmen hidup di Indonesia.

Dari situ kemudian dapat ditanyakan, apakah rumusan integrasi ilmu dan agama ini juga sama-sama terjerembab pada proyek ‘dekolonisasi’ ilmu pengetahuan yang ahistoris sebagaimana yang dulu dialami oleh ilmu sosial di Indonesia saat baru diimpor dari Amerika di masa-masa awal Orde Baru? Biar waktu yang menjawabnya.

Masalah yang ketiga adalah, absennya kontekstualisasi pemikiran-pemikiran yang dikutip. Titik keberangkatan argumen yang menempatkan positivisme, empirisme dan rasionalisme Barat sebagai reduksi atas dimensi non-materil agama, sangat memikat untuk mengutip pemikir-pemikir kontroversial seperti Marx, Nietzsche, Camus, dan sejenisnya sebagai penegas antagoni Barat terhadap agama, tanpa secara proporsional menyebutkan pengaruh konteks pemikiran, irisan, kontribusi ataupun batas-batas pengecualian pemikiran mereka terhadap kehidupan manusia umumnya, dan terhadap bangunan ilmu pengetahuan khususnya.

Implikasinya, bangunan ilmu pengetahuan alternatif yang hendak dirancang oleh buku ini beresiko mengabaikan variasi-variasi fenomena empiris yang melibatkan unsur-unsur yang ditentang ataupun yang dibelanya. Misalnya, materialisme Marx dan nilai-nilai Islam. Kalau buku ini hanya mengakui bahwa materialisme adalah musuh Islam, maka, fenomena berkelindannya kapitalisme dengan agama di kasus Ahok-212, dan fenomena materialisasi agama Islam sebagai bentuk asuransi privilese sosial-ekonomi oleh kelompok Hijrah, akan tak terhimpun.

Pada titik ini, muncul peluang sikap yang inkonsisten, antara arsitektur bangunan yang telah didesainnya, dan klaim prestasi temuannya ketika berada di tataran praktik. Seseorang dapat mudah mengklaim atas signifikansi penelitian yang mengungkap, misalnya, bagaimana gerakan Islam transnasional bermain ekonomi politik dan hegemoni ideologi melalui kanal-kanal waralaba ataupun lewat kanal artefak kebudayaan seperti konten media sosial, hanya karena penelitian ini selaras dengan misi patriot Islam Nusantara yang dianutnya, meski di tataran konseptual ia tak bersepakat dengan teori ataupun paradigma yang digunakan penelitian itu.

Sementara itu, disaat yang sama, bangunan ilmu pengetahuan alternatif yang digagas buku ini juga mudah diretas. Seorang anggota gerakan Islam transnasional dapat dengan enteng mengatakan bahwa penelitian itu tidak Islami karena instrument yang digunakannya berasal dari materialisme Marx―sesuatu yang konon by design bertentangan dengan Islam. Dengan kata lain, apa yang digagas dalam buku ini punya potensi untuk menjadi bumerang.

Masalah yang keempat, ialah luputnya memperhitungkan sumbangan paradigma ataupun teori dari bangunan ilmu ala Barat yang digugatnya atas kehidupan manusia umumnya, dan kehidupan agama khususnya. Hal yang sangat terasa adalah adanya gugatan yang melompat dari positivism-empiris ala Barat ke dimensi ilahiyah agama. Dua aras tersebut semata dipertentangkan karena positivis-empiris ala Barat tak mengakui hal-hal yang gaib, tanpa melihat variasi-variasi paradigma yang ada di antara keduanya, dan bagaimana masing-masing dari itu membatasi diri satu-sama lain.

Teori kritis milik Madzhab Frankfurt misalnya. Karena asalnya yang merupakan turunan dari Marxisme, maka disebut oleh buku ini bahwa Teori kritis sebagai paradigma anti-kemapanan yang otomatis anti-agama (hlm. 144). Padahal, tanpa adanya teori kritis, atau paradigma kritis, manipulasi kesadaran yang mengatas-namakan agama tak mungkin bisa dibongkar. Manfaat teori kritis tentu semakin terasa di tengah situasi banjir pelintiran dan kebohongan di Internet.

***

Upaya membangun bangunan ilmu alternatif dapat terjerembab pada tendensi ‘mengukuhkan tirani mayoritas’ kalau nilai-nilai partisan yang dikedepankannya justru malah melonggarkan keketatan ilmiah, baik itu ketat dalam proses pembangunannya, proses penelaahan pemikiran terdahulu, ataupun proses perhitungan konsekuensi teoritik ataupun praktis atas bangunan yang hendak diciptanya. Resiko ini dapat semakin besar kalau kelahirannya hanya dibidani oleh iklim tautologis, sementara iklim keketatan berlogika masih belum mapan, dan iklim kritis/jujur terhadap pikiran sendiri masih belum diminati.

Di Islam, ada dua prinsip utama mencari ilmu: “lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan”  dan “pungutlah hikmah (insight) di mana pun hikmah itu ditemukan.” Di Barat, orang kenalnya “saya bisa salah, anda mungkin bisa benar. Maka, mari diskusikan bersama.”



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved