Connect with us

Budaya

Tradisi Lebaran Masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi

Published

on



Seperti apakah tradisi Lebaran atau Idul Fitri di Arab Saudi? Adakah persamaan dan perbedaan antara Lebaran di Arab Saudi dan Indonesia? Pula, apakah tradisi Lebaran sama atau beda di kalangan kaum Syiah dan Sunnah (sebutan warga Saudi untuk kelompok Sunni) di Arab Saudi?

Tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang yang menganggap masyarakat muslim Arab Saudi itu “kering” dalam menjalankan tradisi Lebaran karena adanya asumsi “Salafisme–Wahabisme” yang berwatak puritan dan kurang ramah dengan aneka ragam aspek tradisi dan budaya lokal, ternyata faktanya tidak demikian.

Warga Saudi tidak melulu pengikut “Wahabi” (saya pakai tanda kutip karena warga Saudi umumnya tidak menyukai sebutan yang bernuansa peyoratif ini. Mereka lebih suka disebut Hanbali atau Salafi). Banyak dari mereka yang mengikuti tradisi Sunni non-Wahabi atau bahkan Syiah.

Perayaan Lebaran di Arab Saudi juga berlangsung sangat meriah dan khidmat penuh dengan taburan budaya dan tradisi lokal yang sudah mereka wariskan dan praktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad. 

Tentu saja saat ini (sejak tahun lalu), karena Covid-19, suasana Lebaran jadi lain karena sebagian besar dirayakan secara daring. Jadi, tidak semeriah saat sebelum pandemi.

Menariknya, baik masyarakat Sunni maupun warga Syiah yang berjumlah sekitar 15 persen dari total penduduk Arab Saudi yang mencapai sekitar 32 juta jiwa memiliki tradisi perayaan Lebaran yang kurang lebih sama. Yang membedakan di antara keduanya, antara lain, adalah ritual salat Idul Fitri. 

Di kalangan masyarakat Syiah Saudi – populasi mereka mayoritas tersebar di Ahsa, Qatif, Saihat dan kawasan lain di Provinsi Ash-Sharqiyah – salat Id diiringi dengan dua khutbah setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan teks khusus yang ditujukan untuk Imam Hussein (putra Ali bin Abi Talib) dan kemudian doa untuk Imam Mahdi. Keduanya merupakan figur yang sangat penting bagi masyarakat Syiah.  

Berikut ini sejumlah persamaan tradisi Lebaran di kalangan masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi seperti dituturkan oleh sejumlah informan, baik kolega maupun murid-murid saya yang berasal dari dua komunitas tersebut. Lagi, ini adalah tradisi perayaan Lebaran di masa normal sebelum pandemi. 

Di antara persamaannya, antara lain, tradisi mudik. Sejak 1970an dan terutama 1980an ketika era “pembangunanisme” dan industrialisasi booming di Arab Saudi akibat meroketnya harga minyak di pasaran dunia, banyak masyarakat yang semula tinggal di daerah pinggiran kemudian pindah ke kota-kota besar seperti Riyadh, Jeddah, Dammam, Jubail dan lain sebagainya untuk mencari pekerjaan di perusahan-perusahaan. Urbanisasi menjadi tak terelakkan karena pemerintah, kalangan industri, dan pelaku usaha membutuhkan banyak tenaga kerja. Karena laki-laki usia produktif terbatas, mereka bahkan mendatangkan para pekerja dari berbagai negara. 

Pelan tapi pasti, akhirnya banyak warga Saudi yang tinggal di kota-kota berpisah dengan anggota keluarga utama mereka di desa-desa. Karena itulah, Lebaran (selain Idul Adha) menjadi momen penting untuk mudik ke kampung halaman merayakan bersama anggota keluarga lain atau teman lama. Lebaran kemudian menjadi “ajang reuni” bagi mereka.   

Persamaan berikutnya adalah “tradisi idiyah”, yaitu pemberian sejumlah uang receh ke anak-anak biasanya sekitar 5 atau 10 Riyal (SR 1 = Rp. 4.000). Anak-anak sudah tahu tradisi ini. Karena itu setiap lebaran mereka keliling dari rumah ke rumah untuk minta “idiyah” ini.

“Ada bahkan anak-anak yang kadang bisa mengumpulkan uang hingga SR 1.000,” kata temanku Haytham Alhubaithi.

Bukan hanya anak-anak, bagi anggota keluarga yang mampu atau yang sudah bekerja, mereka juga memberi uang ke anggota keluarga yang belum bekerja atau kepada nenek mereka. Tentu saja bukan SR 10, melainkan SR 100 atau SR 200 tergantung kemampuan dan kerelaan. 

Kemudian, baik masyarakat Sunni maupun Syiah, setelah salat Subuh dan sebelum salat Id, mereka biasanya mandi terlebih dahulu. Tujuannya tentu saja supaya tubuh bersih untuk menyambut “hari kemenangan”. Setelah mandi, sekeluarga kemudian berangkat ke masjid untuk menunaikan salat Id dan mendengarkan khutbah Id. 

Tak lupa mereka memakai pakaian tradisional yang baru seperti jubah / gamis (thub) lengkap dengan kain penutup kepala (disebut ghutrah, shimag, kufiyah dlsb) dan tali hitam pengikatnya (iqal). Perempuan juga mengenakan aneka ragam pakaian (abaya) baru. Uang yang dikeluarkan untuk membeli pakaian perempuan ini jauh lebih banyak (karena harganya lebih mahal) ketimbang laki. Sering mereka pesan atau “berburu” pakaian jauh hari sebelum Ramadan, baik dari Arab Saudi sendiri maupun dari Luar Negeri. 

Perlu diingat, hanya laki-laki yang salat Id di masjid. Sementara perempuan tetap di rumah. Kaum perempuan tidak dilarang salat Id di masjid tetapi menurut tradisi mereka (yang dipengaruhi oleh sejumlah teks hadis), perempuan melaksanakan salat di rumah. 

Saat saya tanya alasan kenapa perempuan salat Id di rumah? Mahdi Almabruk menjelaskan, “Karena perlu ada orang yang tetap menjaga rumah sambil menyiapkan aneka makanan dan minuman untuk menjamu tamu-tamu yang datang saat Lebaran.” 

Sebetulnya bukan hanya salat Id, salat-salat yang lain pun, perempuan melakukannya di rumah. Meski demikian, masjid-masjid biasanya juga menyediakan ruang khusus (di atas atau samping) atau, kalau tidak, alat pembatas khusus (biasanya terbuat dari kayu yang dipasang roda sehingga bisa digeser-geser). 

Selain mempersiapkan hidangan Lebaran, baik untuk sarapan, makan siang, atau jamuan para tamu, peremuan juga (biasanya nenek atau ibu) membakar dupa, baik yang berbentuk serbuk (bukhur atau bakhur) maupun yang potongan-potongan kecil (oud). Tujuannya bukan untuk “mengundang setan” tetapi agar ruangan menjadi wangi. 

Setelah menunaikan salat Id, para jamaah kemudian saling berjabat tangan, berpelukan, saling sapa, dan mengucapkan “minal aidin wal faizin”, “id mubarak”, dan lain sebagainya. Ada masjid yang juga menyediakan makanan ringan untuk jamaah. Ini biasanya diorganisir oleh pihak pengurus atau takmir masjid. Kalau di kampungku, jamaah yang membawa aneka makanan (umumnya kupat, lontong, daging ayam, tempe, dan lain-lain) ke masjid. 

Lalu, setelah prosesi salat Id selesai, mereka berziarah ke makam (maqbarah) untuk membacakan sejumlah surat pendek dari Al-Qur’an (seperti al-Fatihah) pada anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. Meskipun umumnya laki-laki yang berziarah, perempuan juga tidak dilarang melakukannya.

Dari tempat pemakaman, mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk sarapan dengan menu seperti biasanya sebelum bulan Ramadan, yaitu kebdah, ful, adas dlsb. Rumah-rumah mereka biasanya didesain secara terpisah untuk laki, perempuan, dan tamu, semuanya ada dinding pembatas. 

Jika menu sarapan itu cukup sederhana, tidak halnya dengan menu makan siang. Untuk makan siang, mereka biasanya memotong domba yang dagingnya nanti dimakan dengan nasi. Berapa domba yang dipotong tergantung kemampuan masing-masing serta tergantung jumlah keluarga besar mereka. Kenapa domba dan bukan ayam?

Menurut mereka, daging ayam, lantaran harganya murah, dianggap tidak “mengorangkan” atau “menghargai” tamu-tamu yang datang yang biasanya berjumlah cukup banyak, selain menjadi simbol “kepelitan” atau “kekikiran”. 

Jadi daging domba adalah lambang “kemurahan” atau “kedermawanan”, selain respek terhadap para tamu. Tradisi “potong domba” ini, seperti ditulis oleh sejumlah antropolog (misalnya, Donald Cole dalam Nomads of the Nomads: The Al Murrah Bedouin of the Empty Quarter) sebetulnya juga merupakan bagian dari kultur lama masyarakat Arab Badui pastoralis-nomad yang dikenal dermawan (Jawa: “loman”) pada tamu atau orang lain sehingga ada ungkapan populer: meskipun seadainya mereka hanya mempunyai seekor domba, maka domba itu akan dipotong untuk disuguhkan pada tamu.

Kini, karena pandemi, mereka tidak bisa merayakan Lebaran seperti biasanya. Tidak lagi bisa ramai-ramai ke masjid karena banyak masjid yang membatasi jamaah. Tidak lagi bisa ramai-ramai mudik. Tidak bisa lagi saling bersalaman dan berpelukan. Yang anak-anak tidak bisa lagi berburu uang receh. Semua dibatasi oleh pemerintah. Hanya perkumpulan dengan jumlah tertentu saja yang dibolehkan.

Akhirnya, sebagian besar tradisi atau kebiasaan Lebaran dirayakan secara daring. Meski demikian, mereka tetap bisa bergembira, saling sapa, dan saling canda untuk merayakan “hari kemenangan” ini, meskipun hanya di dunia maya.  



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Adat Budaya Keumaweuh (1): Tradisi Masyarakat Aceh Jelang Kehamilan

Published

on

By



Sejarah telah mencatat bahwa masyarakat Aceh memiliki budaya adat dengan nilai-nilai religius yang identik dengan Islam. Kehidupan budaya adat Aceh dengan Islam tidak dapat dipisahkan. Harmonisasi antara adat dan Islam ini berkembang dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Masyarakat Aceh terbiasa menyesuaikan praktik agama dengan tradisi atau adat istiadat yang berlaku. Hal ini terlihat dalam kehidupan sosial budaya Aceh,  sebagai hasilnya Islam dan budaya Aceh menyatu, sehingga sukar dipisahkan.

Di sini ketentuan syariat Islam merupakan bagian dari adat atau telah diadatkan. Sebaliknya, adat merupakan bagian dari Islam, atau yang telah diislamkan.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Beragam adat Aceh tidak terlepas dari nilai-nilai syariat Islam. Tentunya dalam kaitan dengan hal tersebut, dalam masyarakat Aceh juga berlaku ketentuan bahwa adat itu ada dua yaitu, pertama ketentuan Allah Swt yang tidak berubah sepanjang masa dan kedua adat kebiasaan masyarakat berdasarkan syariat Islam.

Islam dan budaya adat Aceh menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keduanya menyatu dan berkaitan erat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Budaya adat Aceh sangat kental dengan Islam.

Budaya kerap disebut kultur,  dari bahasa Inggris culture. Budaya adalah hasil buah pikir manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan, tempat dan waktu dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan.

Budaya yang dihasilkan manusia ada yang berbentuk sekuler, marxis, atheis, materialis, sosialis, dan sebagainya. Hasil buah pikir itu menjadi adat kebiasaan yang pada akhirnya menjadi sebuah kebudayaan.

Seorang tokoh Aceh, Badruzzaman, lebih sepakat dengan istilah budaya adat Aceh, bukan budaya Aceh. Hal ini karena istilah itu memberi dampak filosofis, historis, dan sesuai dengan cita-cita kami sebagai orang Aceh.

Budaya adat Aceh mengandung nilai-nilai religius dalam bingkai syariat Islam. Jadi, nilai syariat Islam itu mutlak harus dijiwai dalam budaya adat Aceh.

Masyarakat Aceh mempunyai tamsilan adat dengon hukum lagee zat dengon sifeut. Jadi saling ada keterikatan antara adat dengan syariat, bukan seperti budaya yang dikenal dengan istilah culture pada umumnya. (Badruzzaman Ismail, Syariat Islam Menyatu dalam Budaya Adat Aceh, 2018).

Keumaweuh,  Tradisi Tujuh Bulanan

Di antara beragam tradisi budaya adat yang berkaitan dengan nilai-nilai syariat Islam, terdapat satu tradisi budaya adat Aceh yang cukup terkenal, yaitu tradisi keumaweuh.

Tradisi Keumaweuh merupakan tradisi tujuh bulanan di Aceh. Tradisi keumaweuh dilakukan pada saat seorang istri sudah memasuki tujuh bulan atau 28 minggu usia kehamilan anak yang pertama.

Tradisi keumaweuh ini sudah dilakukan secara turun-temurun zaman dulu sampai sekarang. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh khususnya keluarga suami pada saat acara keumaweuh untuk mengantarkan nasi dan buah-buahan bagi istri yang sedang hamil anak pertama.

Masyarakat Aceh sangat memprioritaskan kesehatan ibu hamil dan anak. Keduanya merupakan tumpuan harapan yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan generasi penerus di Aceh, karena itu setiap ibu hamil disambut gembira oleh keluarga suami istri dan diberikan spirit dan kondisi yang menyenangkan.

Masyarakat Aceh dapat memahami pengaruh besar psikologis ibu hamil terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungan. Dengan ini lahirlah petuah–petuah dan pantangan–pantangan yang bertujuan menjaga kehamilan terpelihara dan selamat sampai melahirkan.

Tradisi keumaweuh juga bisa dikatakan sebagai acara syukuran atau rasa syukur kepada Maha Pencipta karena diberi rezeki dengan bertambahnya anggota keluarga yang baru atau juga sang istri sedang mengandung. Namun tradisi keumaweuh hanya diadakan ketika istri mengandung anak pertama.

Sesuai Syariat Islam

Tradisi Keumaweuh dalam perspektif syariat Islam juga mempunyai pandangan spesifik. Allah Swt menciptakan manusia berpasangan, laki-laki dan perempuan. Keberadaan umat yang banyak di dunia menjadi sebuah kebanggaan baginda nabi Muhammad saw.

Islam juga memperbolehkan menikahi empat perempuan selama mampu berlaku adil dan ini sebuah isyarat untuk memperbanyak keturunan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda: “Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu dihadapan umat-umat (yang terdahulu)” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar).

Dalam hadis lain juga disebutkan: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik).

Satu kebahagian bagi mereka yang telah menikah adalah lahirnya buah hati yang menghiasi hidup mereka. Ini semua takdir dan rezeki dari sang Maha Kuasa. Saat seorang istri telah hamil, tentu ini menjadi sebuah kabar gembira dan anugerah bagi keluarganya.

Masyarakat Aceh dalam hal ini  sangat berpartisipasi menyelenggarkan upacara selamatan untuk memanjatkan doa kepada Allah Swt dengan mengharapkan keselamatan. Dalam upacara selamatan tersebut dibacakan Al-Qur’an, surat–surat tertentu, bacaan berzanji, atau tahlil.

Aceh memiliki adat-istiadat yang sangat menghargai dan memuliakan ibu hamil dan anaknya. Mendorong keluarga dan masyarakat saling bekerja sama membantu mengayomi ibu hamil.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Tradisi Peusijuek Masyarakat Aceh dalam Perspektif Syari’at Islam

Published

on

By



Salah satu daerah di penghujung barat Nusantara ini ditempati masyarakat Aceh yang merupakan daerah pertama masuk Islam ke negeri yang bernama Indonesia meskipun adanya kontroversi pendapat berkaitan dengan persoalan tersebut. Masyarakat Aceh dalam kehidupan sehari-hari segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat dan budaya tidak terlepas dari nilai-nilai Syari’at Islam.

Diantaranya seperti adanya bermacam-macam acara dan memulainya dengan doa dan sampenanya yang dikenal dengan sebutan Peusijuek. Kita mengetahui bahwa pada dasarnya Peusijuek (Tepung Tawar) merupakan salah satu adat Aceh yang tidak bisa hilang dari nenek moyang kita dulu.

Peusijuek ini biasanya dilakukan disaat ada acara di Aceh, misalkan ketika menerima tamu, membuka satu usaha, musibah, merayakan kelulusan, khitan, menempati rumah baru, menyambut dan berpergian umroh dan haji. Bahkan bagi orang Aceh, tradisi Peusijuek ini merupakan prosesi yang biasa dilakukan bahkan saat membeli kendaraan baru, namum berbeda dengan masyarakat kota yang modern sekarang Peusijuek hanya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan acara besar saja, misalnya acara perkawinan dan keberangkatan haji.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Nana Noviana dalam tulisannya berjudul “Integritas Kearifan Lokal Budaya Masyarakat Aceh dalam Tradisi Peusijuek” menyebutkan bahwa tradisi Peusijuek pada dasarnya difungsikan untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Namun fungsi Peusijeuk juga dibagi menjadi beberapa jenis di antaranya, pada upacara perkawinan, upacara tinggal di rumah baru, upacara hendak merantau, pergi haji, Peusijuek Keureubeuen (kurban) dan beragam jenis lainnya.

Di samping itu Peusijuek juga dilakukan oleh anggota masyarakat terhadap seseorang yang memperoleh keberuntungan, misalnya berhasil lulus sarjana, memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan masyarakat, memperoleh penghargaan anugerah bintang penghargaan tertinggi, Peusijuek kendaraan baru, dan peusijuek-peusijuek lainnya.

Dalam bukunya identitas Aceh dalam perspektif syariat dan adat mengemukakan bahwa makna dari tahap-tahap yang digunakan dalam Peusijuek adalah pertama membaca basmallah, kedua menaburkan beras dan padi, sifat padi itu semakin berisi semakin merunduk, maka diharapkan bagi yang di Peusijuek agar tidak sombong bila mendapat keberhasilan serta agar mendapatkan kesuburan, kemakmuran, dan semangat seperti taburan beras padi yang begitu semarak berjatuhan, ketiga menyuapi nasi ketan (bu leukat) dan menyuntingnya pada telinga sebelah kanan, dipilih nasi ketan karena mengandung zat perekat, sehingga jiwa raga yang di Peusijuek tetap berada dalam lingkungan keluarga atau kelompok masyarakatnya, Lalu yang terakhir adalah pemberian uang (teumutuep), secara filosofi Teumeutuep memiliki makna sedekah, sedangkan sedekah salah satu pilar dalam mencapai kemakmuran dalam masyarakat. (Nana Noviana, 2018)

Ada kelompok yang menyebut bahwa tradisi Peusijuek tidak mengandung nilai syari’at bahkan menyebutnya sebagai bid’ah yang harus dihindari, namun para ulama terdahulu dan endatu masyarakat Aceh lebih mengerti dan paham mengenai tradisi Peusijuek.

Di antara dalil yang dijadikan referensi Peusijuek itu saat Rasulullah Saw melakukan Peusijuek (tepung tawar) terhadap putrinya Fathimah dan Sayyidina ‘Ali ketika menikah. Kupasan ini sebagaimana dijelaskan salah seorang ulama terkenal bernama Imam Thabraniy dalam kitab al-Ma’jam Kabir berbunyi:

“Telah mengabarkan kepada kami oleh Muhammad bin ‘Abdullah al-Khazramiy, telah mengabarkan kepada kami oleh al-Hasan bin Hammad al-Khazramiy, telah mengabarkan kepada kami oleh Yahya bin Ya’la al Aslamiy, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah dari al-Hasan dari Anas bin Malik berkata ia: Telah datang Abu Bakar kepada Nabi shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka duduk ia dihadapan Nabi, lalu berkata: Ya Rasulallah! Sungguh engkau mengetahui akan menasehatiku dan kakiku dalam Islam, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (di sini Abu Bakar tergagap-pent). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu? Maka Abu Bakar menjawab: Kawinkah aku dengan Fathimah. Maka Rasulullah diam atau berpaling dari Abu Bakar.

Maka kembalilah Abu Bakar kepada ‘Umar, lalu berkata: Celakalah aku, dan Celakalah engkau. ‘Umar berkata: apa itu?. Abu Bakar menjawab: aku meminang Fathimah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka beliau berpaling daripadaku.

Maka ‘Umar berkata: tetap engkau di sini sehingga aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka aku meminta seumpama permintaan engkau, maka datanglah ‘Umar kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka duduk ia dihadapan Nabi, lalu berkata:  Ya Rasulullah! Sungguh engkau mengetahui akan menasehatiku dan kakiku dalam Islam, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (di sini ‘Umar tergagap). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu? Maka ‘Umar menjawab: Kawinkan aku dengan Fathimah. Maka Rasulullah berpaling dari ‘Umar. Maka kembalilah ‘Umar kepada Abu Bakar, lalu ‘Umar berkata: sesungguhnya Rasulullah itu menunggu perintah Allah pada urusan Fathimah.

Berangkat kami kepada ‘Ali sehingga kami perintah ‘Ali untuk meminta apa yang sudah kami minta. Berkata ‘Ali: maka keduanya datang kepadaku sedang aku berada di jalan. Maka keduanya berkata: anak (cucu) perempuan paman engkau itu engkau pinang. Maka keduanya memperhatikan aku satu pekerjaan. Maka aku berdiri sambil menarik ridakku, satu ujung di atas leherku dan satunya lagi pada bumi, sehingga aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka aku duduk dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Maka aku berkata: Ya Rasulullah! Sungguh engkau mengetahui akan kakiku dalam Islam dan menasehatiku, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (disini ‘Ali pun tergagap). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu wahai ‘Ali? Maka aku (‘Ali) menjawab: Kawinkah aku dengan Fathimah.

Maka Rasulullah berkata: dan apa yang ada bersamamu (sebagai mahar-pent)? Aku berkata: Kudaku dan baju besiku. Rasulullah berkata: adapun kuda engkau maka tidak boleh tidak bagi engkau daripadanya dan adapun baju besi engkau maka jual olehmu baju tersebut. Maka aku jual baju tersebut dengan 480 (dirham).

Maka aku membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka aku meletakkannya dalam pangkuan beliau, maka beliau menerimanya, lalu berkata: wahai Bilal! Beritahu olehmu kepada Fathimah secara baik, dan perintah olehmu akan mereka supaya mereka mempersiapkan Fathimah.

Maka Bilal membuat  Fathimah ranjang yang dijalin dengan pita, bantal dari sepotong kulit yang diisi didalamnya dengan sabut (jerami atau rumput kering), menimbuni kamar dengan pasir. Dan Rasulullah berkata, apabila Fathimah datang kepada engkau maka jangan engkau ucap apapun kepadanya sehingga aku datang akan engkau.

Maka datanglah Fathimah bersama Ummu Ayman, maka duduklah ia pada sisi kamar, dan aku pada sisi yang lain. Maka datanglah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu berkata: Di sini saudaraku. Maka berkata Ummu Ayman: saudara engkau (yakni ‘Ali) sungguh engkau kawinkan dengan putri engkau (yakni Fathimah).

Maka masuklah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan berkata kepada Fathimah: Bawalah olehmu kepadaku akan air! Maka Fathimah pun berdiri menuju kepada gelas besar di dalam kamar, maka menuangkan ke dalamnya akan air, maka dibawanya air tersebut kepada Rasulullah, maka  Rasulullah meludahi dalam air tersebut, kemudian berkata kepada Fathimah: Luruslah kamu, maka memercikkan ia akan air diantara dua dada Fathimah dan atas kepala Fathimah, kemudian berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk Fathimah dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian Rasulullah berkata kepada Fathimah, berbaliklah engkau (yakni membelakangi Rasul), maka Fathimah pun berbalik, maka Rasulullah memercikkan air diantara dua bahunya, kemudian berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk Fathimah dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian Rasulullah berkata (kepada ‘Ali); bawakan air kepadaku!, maka aku melakukan apa yang dikehendaki oleh beliau, maka aku penuhkan gelas dengan air maka aku bawa kepada Rasulullah, maka Rasulullah mengambil air itu dengan mulutnya, kemudian meludah kembali air tersebut ke dalam gelas, kemudian menuangkan ia di atas kepalaku (kepada ‘Ali), dan di antara dua dadaku, kemudian beliau berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk “Ali dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian ia berkata: Masuklah engkau wahai ‘Ali kepada keluargamu (yakni Fathimah) dengan nama Allah dan Berkat. ( kitab al-Ma’jam Kabir karangan Imam Thabraniy).

Berdasarkan kupasan di atas, tentunya tradisi masyarakat Aceh yang terkenal dengan Peusijuek bukanlah perkara bid’ah, namun mereka yang masih berprinsip sebagai bid’ah tetap mengutamakan beragam alasan untuk pembenaran terhadap bid’ah, minimal sudah di pandang sebagai budaya Aceh saja sudah cukup, tidak perlu untuk berdebat meskipun tidak mengakui sebagai bagian dari perbuatan yang pernah dilakukan baginda Nabi Muhammad SAW. Mari kita melestarikan kearifan lokal yang bernilai religi termasuk tradisi Peusijuek, sudahkah kita melakukannya? Wallahu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Kearifan Lokal Warga Dusun Pandanderek Ponorogo: Dari Slametan hingga Cara Merawat Keberagaman

Published

on

By



Dalam Atlas Wali Songo, almarhum Kiai Agus Sunyoto mengatakan bahwa agama Islam mengalami perkembangan pesat di Nusantara khususnya di Jawa dalam waktu 50 tahun. Padahal sebelumnya selama 800 tahun agama Islam tak bisa berkembang. Berdasarkan penelusurannya, Kiai Agus memberikan kesimpulan bahwa perkembangan pesat Islamisasi di Jawa ialah dari cara metode dakwah yang dibawa oleh Wali Songo.

Bagi masyarakat jawa, khususnya penganut kejawen mereka sangat mengenal Sunan Kalijaga. Bahkan jika dirunut dalam berbagai cerita yang dituturkan nama Sunan Kalijaga tak terkesampingkan. Sunan Kalijaga membawa Islam dengan “laku”, artinya, nilai-nilai Islam dituangkan ke dalam setiap perilaku termasuk dalam kesehariannya sebagai orang jawa.

Dalam merefleksikan hal ini penulis melakukan penelusuran di Dusun Pandanderek berada di Desa Winong Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo. Permulaan Babad dusun ini dimulai pada masa Simbah Arif yang makamnya ada di Dukuh Majasem Desa Madusari. Dalam perkembangan sepuluh tahun terakhir banyak perubahan  di lingkungan Dusun Pandanderek. Roda zaman terus berputar, globalisasi kian menjadi, eksistensi pun terancam terganti. Dalam perkembangan budaya dan tradisi akhir-akhir ini sangat nampak terjadinya pembaharuan secara sadar maupun tidak.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Penulis merefleksikan tradisi slametan yang masih eksis di lingkungan dusun Pandanderek. Meskipun demikian banyak sekali terjadi perubahan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Perubahan itu kini nampak dalam “berkat” yakni makanan yang disuguhkan untuk para tamu yang hadir untuk dibawa pulang. Dahulu berkat itu disuguhkan dalam makanan yang sudah siap santap sedangkan sekarang kebanyakan acara slametan sudah jarang menyuguhkan hidangan siap santap. Sebagai ganti dari hidangan siap santap tersebut diganti isinya menjadi sembako.

Demikian pula dalam tata cara penyelenggaraan slametan yang ada. Dahulu slametan prosesnya demikian rumit yang paling nampak adalah adanya sesi ngajatne. Ngajatne ialah suatu prosesi yang berisi untaian sastra jawa berisi harapan-harapan yang kini disebut doa. Proses ngajatne dipimpin oleh sesepuh. Akan dimulai dengan menyiapkan uborampe berupa macam-macam jenis makanan yang disajikan dengan tata cara tertentu. Kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan istilah istilah lebih tepatnya sanepan dari uborampe yang disiapkan. Sanepan adalah penyampaian suatu pesan dalam simbol-simbol. Misalnya yang kini masih eksis adalah apem, iwel-iwel dan ingkung. Kini proses ngajatne sudah sangat jarang ditemui kecuali pada acara-acara besar. Padahal secara filosofis pesan-pesannya sangat mendalam. Kemudian menjadi seremonial belaka lalu kini diambang kepunahan.

Begitupun pada tradisi puji-pujian yang dilaksanakan diantara adzan dan iqomat. Puji-pujian yang dilantunkan sangat beragam baik yang berbahasa arab maupun berbahasa jawa. Dalam pengamatan sepuluh tahun kebelakang puji-pujian mengalami perkembangan yang dinamis. Dahulu mulanya lebih condong dalam bahasa jawa. Hal tersebut dikarenakan agar nasihat-nasihat bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Kini puji-pujian masih eksis salah satunya di Masjid Al-Iman. Disana masih ditemui puji-pujian baik dilantunkan oleh golongan tua maupun muda. Tentunya ragamnya kini tak sebanyak dulu. Ragam puji-pujian itu diantaranya yang melegenda adalah syair Eling-Eling, yang kini sudah tak ada yang melantunkannya.

Penulis juga mengamati tata letak masjid di dusun Pandanderek. Dalam tata letak masjid kuno lokasi masjid sangat diperhatikan. Misalnya letak masjid-masjid agung diberbagai kota besar di Indonesia seperti Yogyakarta, Solo dan Demak. Masjid agung terletak satu komplek dengan area pemerintahan, pasar, dan alun-alun. Masjid mempunyai dwi fungsi bagi masyarakat sekitar terkait ibadah dan muamalah.

Di dusun Pandanderek terdapat dua masjid yakni Masjid Al-Huda dan Masjid Al-Iman. Masjid Al-Huda letaknya tepat ditengah Dusun Pandanderek. Dalam komplek masjid itu terdapat perempatan pusat, cakruk (poskamling), madrasah, warung dan rumah sesepuh. Berikut adalah gambar saat renovasi cakruk (poskamling) didepan masjid Al-Huda:

Sedangkan masjid Al-Iman berada di Jalan Nasional 3 (Ponorogo Trenggalek) berpapasan dengan jalan utama menuju Desa Ngabar Kecamatan Siman. Dalam komplek masjid Al-Iman terdapat rumah sesepuh, warung, cakruk (poskamling). Letak dari dua masjid ini menjadi sentral atas kegiatan masyarakat terutama terkait ibadah, sosial serta pusat informasi. Hal senada dengan masjid-masjid agung dikota-kota besar terutama masjid kuno di wilayah permulaan penyebaran agama islam.

Dengan menelusuri kembali sejarah terdekat dengan kita serta mengambil pola-pola kearifan para pendahulu maka kemungkinan terjadinya konflik dalam menyampaikan dakwah bisa diredupkan. Dengan begitu tidak akan mudah menyalahkan orang lain dan lebih mengutamakan penyelesaian secara seksama dengan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga peran manusia sebagai khalifah kongkrit menjadi rahmat bagi semesta raya.

Sebagai penutup penulis mengutip dua ayat yakni Tafsir Surat An-Nahl ayat 125 dan Surat Ibrahim ayat 4 dari karya KH Bisri Mustofa dalam kitab Tafsir Al-Ibriz

Siro Muhammad ngajak-ngajako marang agamane Pengeran iro kelawan hikmah lan pitutur kang bagus. Lan ladenono bantahe wong-wong kang podo bantah sarana coro kang bagus. Saktemene Pengeran iro iku pirso marang wong-wong kang sasar sangking dalan-dalane Allah. Lan pirso marang wong-wong kang oleh pituduh

Ingsun Allah ora ngutus utusan kejobo kelawan nganggo bahasane bongsone supoyo utusan mau biso ngertekake marang bongsone. (Bejo-bejone kang oleh pituduh, cilakane kang sasar). Allah ta’ala kuoso gawe sasar marang sopo bae kang dikersakake. Lan kuoso nuduhake marang sopo bae kang dikersakake. Allah ta’ala iku dzat kang menang tur wicaksono

Sekiranya tak bisa diwariskan secara eksistensi, setidaknya literasi cukup untuk menjadi saksi agar generasi kedepan tak terombang-ambing karena gengsi menyoal identitas tanpa mengetahui jati diri.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved