Tradisi Lebaran Masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi - Bagyanews.com
Connect with us

Budaya

Tradisi Lebaran Masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi

Published

on



Seperti apakah tradisi Lebaran atau Idul Fitri di Arab Saudi? Adakah persamaan dan perbedaan antara Lebaran di Arab Saudi dan Indonesia? Pula, apakah tradisi Lebaran sama atau beda di kalangan kaum Syiah dan Sunnah (sebutan warga Saudi untuk kelompok Sunni) di Arab Saudi?

Tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang yang menganggap masyarakat muslim Arab Saudi itu “kering” dalam menjalankan tradisi Lebaran karena adanya asumsi “Salafisme–Wahabisme” yang berwatak puritan dan kurang ramah dengan aneka ragam aspek tradisi dan budaya lokal, ternyata faktanya tidak demikian.

Warga Saudi tidak melulu pengikut “Wahabi” (saya pakai tanda kutip karena warga Saudi umumnya tidak menyukai sebutan yang bernuansa peyoratif ini. Mereka lebih suka disebut Hanbali atau Salafi). Banyak dari mereka yang mengikuti tradisi Sunni non-Wahabi atau bahkan Syiah.

Perayaan Lebaran di Arab Saudi juga berlangsung sangat meriah dan khidmat penuh dengan taburan budaya dan tradisi lokal yang sudah mereka wariskan dan praktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad. 

Tentu saja saat ini (sejak tahun lalu), karena Covid-19, suasana Lebaran jadi lain karena sebagian besar dirayakan secara daring. Jadi, tidak semeriah saat sebelum pandemi.

Menariknya, baik masyarakat Sunni maupun warga Syiah yang berjumlah sekitar 15 persen dari total penduduk Arab Saudi yang mencapai sekitar 32 juta jiwa memiliki tradisi perayaan Lebaran yang kurang lebih sama. Yang membedakan di antara keduanya, antara lain, adalah ritual salat Idul Fitri. 

Di kalangan masyarakat Syiah Saudi – populasi mereka mayoritas tersebar di Ahsa, Qatif, Saihat dan kawasan lain di Provinsi Ash-Sharqiyah – salat Id diiringi dengan dua khutbah setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan teks khusus yang ditujukan untuk Imam Hussein (putra Ali bin Abi Talib) dan kemudian doa untuk Imam Mahdi. Keduanya merupakan figur yang sangat penting bagi masyarakat Syiah.  

Berikut ini sejumlah persamaan tradisi Lebaran di kalangan masyarakat Sunni dan Syiah di Arab Saudi seperti dituturkan oleh sejumlah informan, baik kolega maupun murid-murid saya yang berasal dari dua komunitas tersebut. Lagi, ini adalah tradisi perayaan Lebaran di masa normal sebelum pandemi. 

Di antara persamaannya, antara lain, tradisi mudik. Sejak 1970an dan terutama 1980an ketika era “pembangunanisme” dan industrialisasi booming di Arab Saudi akibat meroketnya harga minyak di pasaran dunia, banyak masyarakat yang semula tinggal di daerah pinggiran kemudian pindah ke kota-kota besar seperti Riyadh, Jeddah, Dammam, Jubail dan lain sebagainya untuk mencari pekerjaan di perusahan-perusahaan. Urbanisasi menjadi tak terelakkan karena pemerintah, kalangan industri, dan pelaku usaha membutuhkan banyak tenaga kerja. Karena laki-laki usia produktif terbatas, mereka bahkan mendatangkan para pekerja dari berbagai negara. 

Pelan tapi pasti, akhirnya banyak warga Saudi yang tinggal di kota-kota berpisah dengan anggota keluarga utama mereka di desa-desa. Karena itulah, Lebaran (selain Idul Adha) menjadi momen penting untuk mudik ke kampung halaman merayakan bersama anggota keluarga lain atau teman lama. Lebaran kemudian menjadi “ajang reuni” bagi mereka.   

Persamaan berikutnya adalah “tradisi idiyah”, yaitu pemberian sejumlah uang receh ke anak-anak biasanya sekitar 5 atau 10 Riyal (SR 1 = Rp. 4.000). Anak-anak sudah tahu tradisi ini. Karena itu setiap lebaran mereka keliling dari rumah ke rumah untuk minta “idiyah” ini.

“Ada bahkan anak-anak yang kadang bisa mengumpulkan uang hingga SR 1.000,” kata temanku Haytham Alhubaithi.

Bukan hanya anak-anak, bagi anggota keluarga yang mampu atau yang sudah bekerja, mereka juga memberi uang ke anggota keluarga yang belum bekerja atau kepada nenek mereka. Tentu saja bukan SR 10, melainkan SR 100 atau SR 200 tergantung kemampuan dan kerelaan. 

Kemudian, baik masyarakat Sunni maupun Syiah, setelah salat Subuh dan sebelum salat Id, mereka biasanya mandi terlebih dahulu. Tujuannya tentu saja supaya tubuh bersih untuk menyambut “hari kemenangan”. Setelah mandi, sekeluarga kemudian berangkat ke masjid untuk menunaikan salat Id dan mendengarkan khutbah Id. 

Tak lupa mereka memakai pakaian tradisional yang baru seperti jubah / gamis (thub) lengkap dengan kain penutup kepala (disebut ghutrah, shimag, kufiyah dlsb) dan tali hitam pengikatnya (iqal). Perempuan juga mengenakan aneka ragam pakaian (abaya) baru. Uang yang dikeluarkan untuk membeli pakaian perempuan ini jauh lebih banyak (karena harganya lebih mahal) ketimbang laki. Sering mereka pesan atau “berburu” pakaian jauh hari sebelum Ramadan, baik dari Arab Saudi sendiri maupun dari Luar Negeri. 

Perlu diingat, hanya laki-laki yang salat Id di masjid. Sementara perempuan tetap di rumah. Kaum perempuan tidak dilarang salat Id di masjid tetapi menurut tradisi mereka (yang dipengaruhi oleh sejumlah teks hadis), perempuan melaksanakan salat di rumah. 

Saat saya tanya alasan kenapa perempuan salat Id di rumah? Mahdi Almabruk menjelaskan, “Karena perlu ada orang yang tetap menjaga rumah sambil menyiapkan aneka makanan dan minuman untuk menjamu tamu-tamu yang datang saat Lebaran.” 

Sebetulnya bukan hanya salat Id, salat-salat yang lain pun, perempuan melakukannya di rumah. Meski demikian, masjid-masjid biasanya juga menyediakan ruang khusus (di atas atau samping) atau, kalau tidak, alat pembatas khusus (biasanya terbuat dari kayu yang dipasang roda sehingga bisa digeser-geser). 

Selain mempersiapkan hidangan Lebaran, baik untuk sarapan, makan siang, atau jamuan para tamu, peremuan juga (biasanya nenek atau ibu) membakar dupa, baik yang berbentuk serbuk (bukhur atau bakhur) maupun yang potongan-potongan kecil (oud). Tujuannya bukan untuk “mengundang setan” tetapi agar ruangan menjadi wangi. 

Setelah menunaikan salat Id, para jamaah kemudian saling berjabat tangan, berpelukan, saling sapa, dan mengucapkan “minal aidin wal faizin”, “id mubarak”, dan lain sebagainya. Ada masjid yang juga menyediakan makanan ringan untuk jamaah. Ini biasanya diorganisir oleh pihak pengurus atau takmir masjid. Kalau di kampungku, jamaah yang membawa aneka makanan (umumnya kupat, lontong, daging ayam, tempe, dan lain-lain) ke masjid. 

Lalu, setelah prosesi salat Id selesai, mereka berziarah ke makam (maqbarah) untuk membacakan sejumlah surat pendek dari Al-Qur’an (seperti al-Fatihah) pada anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. Meskipun umumnya laki-laki yang berziarah, perempuan juga tidak dilarang melakukannya.

Dari tempat pemakaman, mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk sarapan dengan menu seperti biasanya sebelum bulan Ramadan, yaitu kebdah, ful, adas dlsb. Rumah-rumah mereka biasanya didesain secara terpisah untuk laki, perempuan, dan tamu, semuanya ada dinding pembatas. 

Jika menu sarapan itu cukup sederhana, tidak halnya dengan menu makan siang. Untuk makan siang, mereka biasanya memotong domba yang dagingnya nanti dimakan dengan nasi. Berapa domba yang dipotong tergantung kemampuan masing-masing serta tergantung jumlah keluarga besar mereka. Kenapa domba dan bukan ayam?

Menurut mereka, daging ayam, lantaran harganya murah, dianggap tidak “mengorangkan” atau “menghargai” tamu-tamu yang datang yang biasanya berjumlah cukup banyak, selain menjadi simbol “kepelitan” atau “kekikiran”. 

Jadi daging domba adalah lambang “kemurahan” atau “kedermawanan”, selain respek terhadap para tamu. Tradisi “potong domba” ini, seperti ditulis oleh sejumlah antropolog (misalnya, Donald Cole dalam Nomads of the Nomads: The Al Murrah Bedouin of the Empty Quarter) sebetulnya juga merupakan bagian dari kultur lama masyarakat Arab Badui pastoralis-nomad yang dikenal dermawan (Jawa: “loman”) pada tamu atau orang lain sehingga ada ungkapan populer: meskipun seadainya mereka hanya mempunyai seekor domba, maka domba itu akan dipotong untuk disuguhkan pada tamu.

Kini, karena pandemi, mereka tidak bisa merayakan Lebaran seperti biasanya. Tidak lagi bisa ramai-ramai ke masjid karena banyak masjid yang membatasi jamaah. Tidak lagi bisa ramai-ramai mudik. Tidak bisa lagi saling bersalaman dan berpelukan. Yang anak-anak tidak bisa lagi berburu uang receh. Semua dibatasi oleh pemerintah. Hanya perkumpulan dengan jumlah tertentu saja yang dibolehkan.

Akhirnya, sebagian besar tradisi atau kebiasaan Lebaran dirayakan secara daring. Meski demikian, mereka tetap bisa bergembira, saling sapa, dan saling canda untuk merayakan “hari kemenangan” ini, meskipun hanya di dunia maya.  



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Seni Boga Warisan Keraton Jogja

Published

on

By



Restoran itu bernama Bale Raos. Lokasinya tidak jauh dari tempat wisata keraton. Hanya sekira 500 meter saja. Tepatnya di Jalan Magangan Kulon 1, Keraton Jogjakarta. Restoran itu milik GKR Pembayun, putri sulung Sultan Hamengku Buwono X.

Bale Raos termasuk restoran istimewa karena menyajikan pelbagai menu kegemaran raja-raja Jogjakarta. Menu-menu yang ditawarkan di antaranya: Bebek Suwar-suwir, Prawan Kenes, Manuk Nom, Soup Timlo, dan Roti Jok, serta banyak lainnya.

Tak hanya menunya, suasananya juga istimewa. Bangunannya bercorak joglo. Interiornya bergaya klasik. Hiburannya berupa kesenian tradisional Jawa seperti gamelan, tari-tarian gaya Jogja, dan atraksi seni lain khas keraton.

Selain Bale Raos, ada Gadri Resto yang juga menyajikan menu-menu khas keraton. Restoran ini milik BRAy Nuraida Joyokusumo, istri dari GBPH Joyokusumo—adik kandung Sri Sultan Hamengku Buwono X. Gadri Resto berlokasi di sebelah barat keraton. Tepatnya di Jalan Rotowijayan 5, Keraton Jogjakarta.

Menu-menu yang disajikan di Gadri Resto jugas khas Keraton Jogja seperti Nasi Blawong, Gurame Lombok Ketok, Manuk Nom, Urip-urip Gurame, Prawan Kenes, Beer Jawa, dan banyak lagi.

Selain menunya, suasana Gadri Resto juga tak kalah istimewa. Bersuasanakan keraton. Bangunannya berarsitektur Jawa. Dilengkapi museum yang menyimpan banyak benda pusaka dan cacatan sejarah tentang keluarga sultan.

Harus diakui bahwa sebagai (salah satu) episentrum budaya, keraton (Jogjakarta) banyak menyumbangkan kekayaan budaya, tak terkecuali seni boga (kuliner). Seni boga ala keraton ini perlu terus digali. Agar bisa dikembangkan dan diabadikan sebagai khazanah pusaka bangsa.

Salah satu buku yang—boleh dibilang—cukup otoritatif dan bisa dijadikan referensi seni boga warisan Keraton Jogjakarta adalah sebuah buku berjudul Warisan Kuliner Keraton Yogyakarta. Buku karya BRAy Nuraida Joyokusumo ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Kehadiran buku ini menjadikan pelbagai menu khas keraton dapat diakses dan di-recook oleh masyarakat. Karena menu hidangan favorit para sultan Keraton Jogjakarta ternyata tak selalu berupa hidangan mewah. Sebaliknya, acapkali justru nampak sangat merakyat.

Seperti yang dinyatakan penulisnya, biarpun resep-resep hidangan (di buku) ini diperuntukkan bagi sultan Keraton Yogyakarta, ternyata kombinasi bahan dan cita rasanya sangat membumi, hingga bisa disajikan di masa sekarang sebagai menu sehari-hari keluarga atau menu khusus di saat istimewa.

Faktanya memang demikian. Sebutlah hidangan Sayur Bobor Bayam yang sangat khas dan populer bagi warga Jogjakarta. Dalam buku Ngelencer ke Yogyakarta, Resep Khas dan Unik dari Keraton, Pasar Beringharjo, dan Sekitarnya (2017), Chef Vindex Tengker menyebutkan bahwa hidangan berkuah santan bernama Sayur Bobor itu adalah kegemaran Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Sayur itu biasa dikonsumsi bersama Gembrot dan Sapitan Lidah.

Tidak hanya Sri Sultan Hamengku Buwono VII, Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga gemar dengan Sayur Bobor Bayam. Murdijati Garjito dan Amaliah dalam buku Menu Istimewa Keraton Kesultanan Yogyakarta, Masakan Favorit Para Bangsawan (2008) menyebutkan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono IX gemar sekali memasak aneka jenis masakan yang menjadi kegemarannya, lalu disantap bersama keluarga.

Diceritakan, pada tahun 1956-1962, saat beliau masih menjabat Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap Sabtu siang sekira pukul 13.00 dan Minggu sore sekira pukul 18.00, beliau selalu bepergian bersama keluarga ke Pesanggrahan Ngeksigondo di Kaliurang untuk memasak. Beliau memasak sendiri menu pilihan kesebelas putra-putrinya. Salah satunya adalah Sayur Bobor Komplit, yaitu sayur bobor yang dilengkapi dengan Gembrot dan Sambal Jenggot.

Sebagaimana pula yang dinyatakan BRAy Nuraida Joyokusumo dalam Warisan Kuliner Keraton Yogyakarta, sekalipun sederhana, kelengkapan penyajiannya memang sedikit berbeda dari yang di luar keraton. Pelengkap yang “wajib ada” saat sang raja minta disajikan Sayur Bobor adalah Bacem Tahu, Tempe, dan Kepala Ayam, serta tak boleh terlupa Sambal Jenggot yang terbuat dari parutan kelapa.

Menu-menu hidangan lainnya dari keraton yang tak kalah merakyat antara lain: Gudeg, Bakmi Jawa, Orak-arik, Sayur Kothok Terong, Garang Asem, Mangut Lele, Sayur Lodeh, dan Jangan Menir. Yang disebut terakhir adalah hidangan yang juga sangat merakyat. Dalam bahasa Jawa, “jangan” berarti sayur. Jangan Menir terbuat dari bayam dan jagung muda. Biasa disajikan bersama Bacem Tempe, Tahu, dan Kepala Ayam sebagaimana Sayur Bobor.

Selain hidangan yang merakyat, khazanah seni boga Keraton Jogjakarta juga diwarnai menu-menu khas dan unik. Seperti Dendeng Suwir, Tanggar, dan Semur Piyik (favorit Sri Sultan Hamengku Buwono VII); Dendeng Age, Sate Telur, dan Gangsiran (favorit Sri Sultan Hamengku Buwono VIII); serta Dendeng Ragi, Bistik Edan, dan Urip-urip Lele (favorit Sri Sultan Hamengku Buwono IX).

Menu-menu lainnya ada yang mengandung nilai filosofis Jawa yang tinggi dan (hanya) hadir dalam acara tertentu. Antara lain Nasi Golong dan Nasi Blawong.

Nasi Golong atau “sekul golong” adalah hidangan yang terdiri dari nasi, Jangan Menir, Pecel Ayam, telur, dan Trancam. Disebut Nasi Golong karena nasinya dibentuk bulat dalam penyajiannya. Bentuk bulat (golong) memuat makna kebulatan tekad bila menginginkan sesuatu atau agar rezeki yang datang bergolong-golong atau bergulung-gulung (melimpah ruah).

Jangan Menir atau yang biasa juga disebut Jangan Bening mengandung makna kebersihan hati dan pikiran dalam menjalani hidup. Sedangkan Pecel Ayam dan Trancam mengandung makna bersatunya jiwa manusia dengan alam.

Menurut Chef Vindex Tengker, dalam tradisi Jawa, Nasi Golong biasa disajikan pada waktu diadakan hajatan besar, atau sajian pembuka sebelum memulai hajatan besar.

Adapun Nasi Blawong adalah sajian khas keraton yang memiliki makna mencapai keselamatan. Nasi Blawong terdiri dari nasi dengan rasa gurih dan aroma rempah yang kuat, Baceman Ayam, Lombok Kethok, Telur Pindang, dan Rempeyek Teri.

Nasi Blawong biasa disajikan pada acara spesial keraton yang sifatnya sakral. Yaitu, hidangan ini hanya bisa dijumpai pada upacara ulang tahun Sultan dan tanggal Sultan bertahta. Sejak dari Sultan pertama hingga Sultan yang sekarang bertahta.

Hanya saja, pada perkembangannya, Nasi Blawong mulai diperkenalkan kepada khalayak. Namun, meski sudah diperkenalkan kepada masyarakat, Nasi Blawong tetap disajikan dalam jumlah yang sangat terbatas. Resep otentiknya pun masih dijaga kerahasiaannya. Tujuannya, tak lain untuk menjaga eksklusifitasnya sebagai hidangan khusus para raja.

 



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Nun: Mengenal Nama-Nama Besar yang Memakai Huruf Nun

Published

on

By



Siapakah an-Nun? Pikiran kita akan tertuju pada tiga nama besar, Dzun Nun (dalam Surat al-Anbiya’), Nun awal Surat Al-Qalam, dan Dzun Nun Al-Misri. Siapakah mereka dan mengapa dijuluki dengan Nun?

Dzun Nun adalah laqab (julukan) yang disematkan Al-Qur’an pada Nabi Yunus, nama ini terdapat dalam surat Al-Anbiya’, Ayat 87. Nabi Yunus dengan kisahnya yang berada di atas perahu yang terombang ambing oleh hempasan angin. Kapal yang kelebihan muatan, dan untuk mengurangi muatan kapal, undian pun menjadi jalan terakhhir, nama siapa yang keluar, ia harus melompat ke laut.

Tiga kali diundi, nama yang keluar sama, Nabi Yunus. Maka sang Nabi ini pun dipaksa melompat ke laut, kemudian al-haut (ikan paus) menelannya. Ikan paus inilah yang juga dikenal dengan “An-Nun”.

Nabi Yunus dijuluki dengan Dzun Nun, pemilik ikan paus, karena dia pernah ditelannya (iltaqama) cukup lama berada di dalamnya, dan setelah beberapa lama dimuntahkan kembali. Ikan tersebut membawa Nabi Yunus ke dasar laut, berhari-hari ia berada di dalamnya (40 hari, menurut Ibnu Katsir). Intensitas dengan ikan yang cukup lama, dengan pertaubatan Nabi Yunus pada Allah di dalamnya, keakraban inilah yang mungkin membawanya pada julukan tersebut. Dzun Nun.

***
Selain Dzun Nun yang disematkan pada Nabi Yunus. Dalam Al-Qur’an terdapat kata “Nun”, yaitu pada awal surat Al-Qalam, surat ke 68.

نۤۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا یَسۡطُرُون

“Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan”

Nun, ulama berbeda pendapat dalam memahami dan memberikan arti kata ini. Dalam Almerja, Nun adalah nama surat Al-Qur’an seperti nama-nama surat lainnya, Shad, Ha Mim, Ya Sin, Alif Lam Mim dan huruf lainnya yang serupa. Ada pula yang berpendapat Nun adalah Ikan paus yang berada di muka bumi (lautan) demikian menurut Ibnu Abbas, Muqatil dan Mujahid. Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas berpendapat bahwa Huruf Nun adalah di salah satu huruf Al-Rahman.

Menurut Al-Dahak, Qatadah dan Al-Hasan, Nun dalam Surat Al-Qalam adalah Dawat (tempat tinta). Sedangkan dalam riwayat lain, ia adalah papan yang terbuat dari cahaya. Nun adalah sungai di surga, kemudian Allah berkata pada sungai tersebut “Kun Midadan”, jadilah tinta. Kemudian sungai itu membeku, warnanya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu (syahd), kemudian Allah perintahkan pada al-Qalam, “Uktub, tulislah”, kemudian pena itu menulis apa yang ada dan yang wujud sampai pada hari kiamat, demikian kata Abi Ja’far.

Pula, ia dikatakan sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, Nun, Ikan Paus sebagai tanda-tanda kuasa Allah yang diciptakan dari air, tetapi bila ia telah berpisah dengan air, ia tidak akan bertahan hidup. Sebagaimana hewan darat, yang bila kemasukan air (tenggelam), ia juga akan mati.

Dan dari Ayat ini, inspirasi berdirinya Pondok Pesantren Darun Nun yang berada di daerah Malang Indonesia. Nun dengan berbagai rahasianya, dan Nun dengan berbagai falsafahnya, dan Nun sebagai rupa tempat tinta (ن) untuk menuliskan kebaikan-kebaikanNya.

***
Nun berikutnya, adalah Dzun Nun Al-Misri. Ulama yang sangat masyhur. Namanya sampai hari ini masih termaktub dalam kalbu umat Islam. Ia ditulis apik dalam sejarah sufi. Nama lengkap beliau adalah Thawbān b. Ibrāhīm al-Miṣrī, yang juga dikenal dengan Abu Fayd. Tokoh sufi abad ke 9. Secara harfiyah, Dzun Nun, pemilik ikan paus, sahabat ikan paus, atau penguasa ikan paus. Atau pula pemilik huruf Nun. Beliau dikenal sebagai seorang sufi yang memperkenalkan tentang Al-Ma’rifah secara sistematis (ilmiy munadzdham).

Tentang julukan Dzun Nun yang disematkan kepada beliau, terdapat banyak kisah, dii antaranya, sebagaimana yang dituturkan Dr. Yahya Abu Maati dalam Biografi Dzun Nun (dalam Al-Ahram), “Ada seorang perempuan yang mendatangi Dzun Nun sambil menangis, ia mengadukan kejadian tersebut padanya, bahwa anaknya ditelan buaya di pinggiran sungai Nil. Kemudian Dzun Nun berdoa, “Ya Allah tampakkan buaya itu” tiba-tiba buaya itu datang, dan kemudian anak tersebut dikeluarkan dari dalam perut buaya dalam keadaan sehat dan selamat. Dari kisah ini, nama Dzun Nun disematkan sebagaimana ta’bir kisah keajaiban Nabi Yunus yang keluar dari Ikan Paus. Allahu’alam Bishawab.
Di antara pesan Dzun nun;

«كيف أفرح بعملى وذنوبى مزدحمة، أم كيف أفرح بعملى وعاقبتى مبهمة؟!»

****

Nun tentang membuka pintu-pintu rahasia ketuhanan. Nun sebagai lambang pintu rahasia, demikian menurut Ibnu Arabi. Sebuah pintu menuju taubat dan kasih tuhan.

Malang, 4 September 2021



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Sega Pager dan Kearifan Lokal

Published

on

By



Minggu (19/1/2020), sekira dua bulan sebelum negeri ini dilanda pagebluk Covid-19, komunitas Car Free Night (CFN) Desa Bugel, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menghelat acara Festival Sega Pager. Acara yang baru pertama kali dihelat itu, dihadiri orang nomor satu di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. 

Kehadiran Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo itu sukses menjadi daya tarik. Pengunjung menyemut. Tanah lapang di kompleks Perumahan Citra Griya Indah Desa Bugel—tempat acara dihelat, penuh sesak oleh warga yang antusias menyambut kehadiran dan menyimak pidato Ganjar Pranowo.

Dalam kesempatan itu, Ganjar Pranowo mengajak masyarakat mengembangkan kuliner Sega Pager. Salah satunya, dengan  cara menyesuaikan model penyajian yang lebih modern. Sehingga orang bisa menikmati Sega Pager sesuai kelasnya.

Menu Sarapan

Sega Pager adalah hidangan pagi hari khas Godong, Grobogan, Jawa Tengah. “Sega” berarti nasi. “Pager” berarti pagar. Sega Pager berarti nasi pagar. Sega Pager adalah nasi yang diberi urap sayur, disiram saus sambal kacang, kemudian diberi topping biji petai cina (pethet) rebus dan uyah goreng.

Bila hanya melihat fotonya, banyak yang mengira, Sega Pager adalah Nasi Pecel. Padahal beda. Perbedaan keduanya terletak pada komposisi dan taste-nya. Komposisi dan taste Sega Pager lebih kompleks dibanding Nasi Pecel.

Sayuran yang dipakai urap pada Sega Pager adalah dedaunan dari tanaman yang dahulu biasa digunakan oleh warga untuk pagar hidup atau tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah. Dari sinilah, nama Sega Pager diperoleh.

Sayuran yang biasa dibuat sebagai urap untuk Sega Pager adalah daun mlanding muda, daun kenikir, daun beluntas, daun ketela pohung, daun lembayung, dan daun pepaya. Plus satu lagi, yaitu keplek (kulit buah mlanding muda), yang membuat Sega Pager menjadi khas dan sedap.

Adapun uyah goreng adalah istilah untuk menyebut serundeng versi asin-gurih. Terbuat dari kelapa yang diparut, dibumbui, kemudian disangrai. Uyah goreng ini juga menyumbang taste Sega Pager menjadi kian khas.

Otentisitas Penyajian

Ciri unik Sega Pager juga terletak pada cara penyajiannya. Sejak dulu hingga sekarang, hampir di semua lapak yang menjual Sega Pager, masih konsisten mempertahankan cara penyajian otentik dengan menggunakan pincuk dari daun pisang dan sendoknya berupa suru yang juga terbuat dari daun pisang.

Sebuah penyajian dan cara makan otentik orang Jawa yang menjadikan cita rasa Sega Pager menjadi kian nyamleng sebagai menu sarapan di pagi hari. Sega Pager bisa disantap dengan rempeyek,  kerupuk, atau dengan aneka gorengan seperti bakwan, mendoan, dan tahu susur. Minumnya, teh hangat.

Sejarah Sega Pager

Dulu, Sega Pager lebih populer dengan sebutan “Sega Janganan”. Pada perkembangannya, nama “Sega Pager” lebih populer. Barangkali karena dirasa lebih unik dan branded. Sehingga dari sisi nama, Sega Pager lebih punya daya pikat dan memantik penasaran.

Sejarah asal-usul Sega Pager sendiri sejauh ini tidak jelas. Siapa yang mencetuskan pertama kali, masih gelap. Hanya saja, beberapa narasumber menyebutkan, konon Sega Pager telah ada sejak 1970-an. Versi lain menyebutkan 1960-an.

Sebagai kuliner khas Kecamatan Godong, Sega Pager awalnya hanya bisa dijumpai di tiga desa yang letaknya memang berdekatan, yaitu Desa Ketitang, Desa Bugel, dan Desa Godong.  Di ketiga desa itu, terdapat beberapa nama yang disebut-sebut sebagai pelopor Sega Pager, yaitu: Mbah Tur (Ketitang), Mbah Sin (Bugel), dan Mbah Nyampen (Godong).

Ketiga pelopor Sega Pager tersebut sudah meninggal dunia. Dan penjual Sega Pager yang ada sekarang adalah generasi penerus dengan kisaran masa tempuh berjualan antara 10 hingga 20-an tahun. Ada juga pendatang baru yang menjajal peruntungan dengan berjualan Sega Pager. Di antaranya, berjualan setelah diadakannya Festival Sega Pager.

Memang, sejak digelar Festival Sega Pager yang dihadiri Ganjar Pranowo, citra Sega Pager menjadi semakin moncer. Sejak saat itu, penjual Sega Pager tidak lagi hanya bisa dijumpai di tiga desa tersebut, tapi sudah merambah ke desa dan kecamatan lain. Bahkan hingga ke kabupaten lain, di antaranya Demak dan Kudus.

Kearifan Lokal

Fenomena kuliner berbasis lokal seperti Sega Pager memang jamak dijumpai di Indonesia. Fenomena itu menunjukkan bahwa kuliner tradisional khas Indonesia bukan saja bersifat provinsial, tetapi bahkan bersifat terroir (karakteristik lokal).

Sega Pager adalah ekspresi otentik kearifan lokal (local wisdom) masyarakat dalam memanfaatkan potensi alam di sekitarnya. Pada era kemunculan awal Sega Pager, yaitu era 1960-an dan 1970-an, mengingatkan pada pekarangan rumah yang umum dijadikan sebagai tempat menanam aneka tanaman yang digunakan untuk kebutuhan pangan keluarga. Di samping untuk sumber ekonomi.

Seperti yang dinyatakan Andreas Maryoto dalam buku Jejak Pangan: Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan (2009), pada masa lalu pekarangan lebih berfungsi sebagai basis pangan rumah tangga dibandingkan sebagai sumber ekonomi. Hasil pekarangan baru dijual ke pasar bila sebuah keluarga membutuhkan pangan lain atau alat-alat rumah tangga yang tidak bisa dibuat sendiri.

Selain pekarangan, pada masa-masa itu jamak dijumpai “pagar hidup”, yaitu konsep pagar rumah yang terbuat dari tanaman tertentu seperti beluntas dan katuk. Kedua tanaman itu bisa dijadikan sumber pangan, yaitu daun mudanya bisa dijadikan urap dan lalapan.

Nampaknya, potensi lokal berbasis pekarangan itulah yang dimanfaatkan secara genial oleh sebagian masyarakat Godong tempo dulu. Potensi tanaman di pekarangan diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi hidangan rakyat yang khas dan digemari, yang kini dikenal dengan nama Sega Janganan atau Sega Pager.

Sebuah kreatifitas leluhur yang layak diapresiasi. Sega Pager adalah kuliner pusaka warisan leluhur yang musti dilestarikan.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved