Connect with us

IT

Startup Indonesia Sabet Juara Satu di Hannover Messe 2021

Published

on



Teknologi – Perjuangan Bayu Nugroho akhirnya membuahkan hasil. Setelah tiga tahun berjuang menolong petani akhirnya Bayu berhasil menjadi pemenang pertama Hermes Award kategori Startup pada tahun 2020. Dimenangkan tahun 2020, namun pemberian piala dan hadiah diberikan pada seremoni pembukaan Hannover Messe 2021.

Hannover Messe 2021 digelar 12-16 April 2021 secara virtual. Dalam ajang ini, Indonesia tampil dalam platform digital expo, conference, dan networking. Kontribusi eksibitor terbesar berasal dari 65 perusahaan besar, 63 perusahaan startup, 14 BUMN, 8 kawasan industri, 4 kementerian dan lembaga, serta dua asosiasi industri.

Serangkaian kegiatan yang meliputi digitalisasi presentasi produk, konferensi dengan beragam tema, hingga business matchmaking berbasis perangkat lunak diharapkan mampu menciptakan peluang nvestasi, kerja sama industri dan kesepakatan bisnis.

Salah satu agenda ajang ini adalah Hermes Award. Ini merupakan kompetisi yang terbuka bagi seluruh perusahaan yang menjadi exhibitor dalam Hannover Messe. Untuk pertama kalinya Hannover Messe menggelar Hermes Startup Award bagi perusahaan dengan usia di bawah 5 tahun. Kategori penilaian di antaranya tingkat inovasi teknologi, dampak bagi sektor industri, ekonomi dan masyarakat.

Dalam ajang ini, Dewan Juri yang diketuai Reimund Neugebauer, Presiden Pusat Penelitian Frauenhofer-Gesellschaft memilih startup PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB) asal Indonesia, yang memiliki konsep Smart Farming 4.0, sebagai pemenang pertama Hermes Award kategori Startup pada tahun 2020.

Atas kemenangannya itu, Bayu dan tim berhak mendapat tropi maupun hadiah uang senilai kurang lebih 10.000 euro.

Menurut Neugebauer, startup adalah pemicu inovasi yang sebenarnya, sebagai jembatan antara riset dan industri, startup dengan cepat mengubah penemuan dan teknolgi baru lalu membawanya ke pasar,” terangnya.

Ia mengaku senang bisa mengetahui MSMB, sebuah perusahaan yang menggunakan solusi AI untuk mengatasi beragam permasalahan, termasuk keamanan pangan hingga efisiensi penggunakan pupuk dan sumber daya lainnya.

Sejak resmi menjadi startup pada tahun 2018, MSMB langsung menang di ajang startup core dari Kementerian Perindustrian. MSMB pun diikutsertakan dalam berbagai lomba dan award di seluruh dunia.

Hermes Award bukanlah penghargaan dunia pertama yang diterima Bayu dan tim. Pada ajang Asia Smart App Awards yang digelar di Hong Kong, 2019, aplikasi yang dinamai RiTx Bertani ini berhasil meraih “Certificate of Merit”.

Awal Pengembangan Aplikasi

Sejak tahun 1980, banyak petani mengalami gagal tanam, gagal panen, serta penurunan produktivitas lahan. Pada tahun itu, perubahan iklim mulai terasa dampaknya.

Selidik punya selidik, ternyata masalah utamanya adalah informasi terhadap cuaca yang tidak sampai menyentuh level desa, terutama para pengelola lahan.

Infomasi utama selalu didapatkan dari BMKG dan beberapa aplikasi cuaca. Informasi ini pun hanya sampai pada level kecamatan. Padahal, menurut dosen Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini, dengan jarak 2 hingga 3 kilometer saja, cuaca bisa berbeda.

Dari situ Bayu memutar otak untuk bisa membantu petani. Sebab, banyak petani saat ini belum mengerti tentang perubahan iklim. Contohnya, bila petani ditanya tentang musim hujan yang berkepanjangan, mereka selalu berpendapat hal itu adalah hal yang biasa. Atau paling banter mereka akan bilang itu salah musim.

Akhirnya Bayu dan timnya merancang teknologi sensor untuk cuaca dan tanah pada 2018. Sensor yang mengambil data real time ini berperan sebagai alat pengumpul data, mulai dari data cuaca, hujan, suhu, kelembaban, kekuatan angin dan arah mata angin.

Dari data tersebut, Bayu mengembangkan algoritma yang dapat membantu menerjemahkan data menjadi informasi yang mudah dipahami oleh petani. “Hasil algoritma tadi dikaitkan dengan pertumbuhan komoditas yang sedang ditanam oleh petani,” kata lulusan Universitas Iwate, Jepang itu.

Informasi yang sudah terkumpul itu awalnya dikirim kepada ketua kelompok petani dengan menggunakan pesan singkat SMS. Ternyata informasi tersebut sangat bermanfaat untuk menghindari gagal tanam dan gagal panen, sehingga produktivitas pertanian pun meningkat.

“Dari 8 ton padi per hektare menjadi 12 ton per hektare,” kata pendiri startup PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB) itu.

Pada tahun 2018 itu juga Bayu akhirnya membuat startup dan mengembangkan aplikasi untuk gawai pintar. Ada dua sensor yang ia ciptakan. Pertama, sensor cuaca dan tanah. Sebelum memasang sensor ini, Bayu dan timnya mengumpulkan data yang mencakup kebiasaan petani setempat, jenis pupuk yang digunakan, jumlah dosis yang diberikan, serta waktu pemupukan. Semua data dimasukan dalam variabel, yang nantinya akan menjadi bahan rekomendasi bagi petani.

Dengan sensor itu dapat diketahui berapa banyak lagi pupuk yang harus ditambahkan, sehingga petani hanya memberikan pupuk sesuai dengan kekurangannya. Bayu mengaku, mereka memberikan rekomendasi tergantung kearifan lokal daerah tersebut. Di beberapa kasus seperti lahan pertanian bawang merah, penggunaan pupuk bahkan dapat direduksi hingga 50 persen. Saat pupuk langka, teknologi ini bisa sangat menguntungkan para petani.

Sensor ciptaan Bayu ini dapat menangkap data dalam radius 100 hektare untuk lahan hamparan. Namun, untuk lahan bentuk teras atau bukit, sensor yang dibutuhkan lebih banyak. Pemasangan sensor pun harus melalui prosedur pemeriksaan jenis tanah, sehingga tidak bisa dipasang secara sembarangan.

Kedua, sensor debit air di saluran irigasi. “Sensor ini menghitung debit di saluran tersier yang masuk lahan itu berapa, kita cocokan dengan fase pertumbuhannya. Misalnya pada padi. Pada fase awal, membutuhkan banyak air, dan saat mendekati musim panen, sebaiknya tidak dialiri air karena akan mempengaruhi kualitas panen,” paparnya.

Teknologi sensor cuaca dan tanah ini membutuhkan dana sekitar Rp 30 juta. Dana sebesar itu sudah mencakup aplikasi, algoritma, rekomendasi, dan notifikasi. Harga ini lebih murah dibandingkan dengan sensor lain yang harganya mencapai seratus juta rupiah. Itu pun biasanya konsumen hanya mendapatkan data mentah.

Bayu mengklaim sensor ini dapat bertahan sekitar dua tahun. Tantangannya hanya pencurian atau dirusak anak-anak yang bermain di sawah.

Bayu menjelaskan RiTx Bertani merupakan aplikasi berbasis android yang digunakan petani untuk melakukan pencatatan kegiatan bertani. Pencatatan kegiatan bertani ini penting untuk memastikan petani menerapkan Good Agricultural Practices (GAP).

GAP sendiri merupakan praktik budi daya tanaman yang baik, benar dan tepat mulai dari persiapan sebelum masa tanam hingga penanganan produk pascapanen. Penerapan GAP, memastikan prinsip telusur-balik (traceability) terhadap produk hasil panen dapat tercapai. Hal ini menjamin keamanan produk hasil panen tersebut untuk dikonsumsi.

Berbasis Internet of Things (IoT), RiTx Bertani juga terintegrasi dengan teknologi sensor tanah dan cuaca yang terpasang di lahan.

Melalui data yang terekam, kata Bayu, petani akan langsung mendapatkan rekomendasi kegiatan bertani yang lebih presisi melalui aplikasi. Ketidaktahuan petani akan pentingnya menjaga kelestarian jangka panjang, kata dia, menjadi salah satu persoalan krusial di sektor pertanian. Petani sering kali menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan dalam kegiatan bertani.

“Dengan pertanian cerdas seperti ini tentunya tak hanya membantu petani, namun juga memastikan kegiatan petani di lahan tidak merusak lingkungan,” jelasnya.

Tak hanya itu, jika muncul gejala serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di lahan, petani juga bisa langsung berkonsultasi dengan ahli pertanian menggunakan aplikasi RiTx Bertani ini.

Aplikasi ini turut dilengkapi dengan chatbot pertanian dan smart speaker. Pengembangan aplikasi ini juga didukung empat kementerian, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Komunikasi dan Informasi, serta Kementerian Desa dan PDT.

Saat ini sudah ada 115 sensor yang dipasang di berbagai lahan di seluruh indonesia. Sensor terjauh dipasang di Manokwari, Papua untuk tanaman padi. “Sensor ini untuk semua komoditas, dapat diset untuk komoditas apa saja, yang berpengaruh pada hasil rekomendasinya. Survei, sosialisasi dan rekomendasi itu sangat penting,” ujar doktor di bidang agro klimatologi dan perubahan iklim tersebut.

Komoditas yang menggunakan sensor ini mencakup padi, jagung, bawang merah, kopi dari Sumatra Utara, temu lawak dari Sukabumi, cabai, dan kedelai.

Petani Milenial

Menurut Bayu, MSMB dibantu oleh sekitar 50 hingga 60 pekerja. Dari 60an pekerja itu, 10 di antaranya adalah ahli di bidang sensor. Namun untuk mengadakan pelatihan bagi kelompok petani, MSMB bekerja sama dengan kementerian pertanian setempat. Dalam setiap pelatihan, Bayu selalu mensyaratkan dua hal, yakni petani wajib mengikutsertakan anggota keluarga seperti anak, cucu atau keponakan mereka.

Mengapa anak atau cucu dilibatkan? Bayu beralasan, petani sekarang kebanyakan berusia di atas 50 tahun.

“Mereka kebanyakan tidak update dengan teknologi smartphone. Pasti ada anggota keluarga yang mengerti penggunakaan internet yang terhubung dengan smartphone,” ujarnya.

Itu pula yang mendorongnya mengajukan syarat kedua, yakni melibatkan kelompok Karang Taruna setempat. Pelibatan Karang Taruna ini dilakukan karena Bayu punya misi yakni mengembangkan minat anak-anak muda untuk terjun ke dunia pertanian.

“Saya ingin menunjukkan pada mereka bahwa pertanian masa kini sudah menggunakan teknologi,” bebernya.

Di beberapa lokasi, banyak anak muda yang mulai terjun ke dunia pertanian meski mereka juga memiliki pekerjaan sampingan yaitu menjadi pengemudi ojek online.

“Di situlah app kami juga sering memberi pengingat atau reminder seperti besok cerah, baik untuk pemupukan lahan. Untuk itu, mereka istirahat sebagai pengemudi ojek untuk memupuk lahannya,” papar Bayu.

Sejauh ini, kata Bayu, MSMB tengah menjalankan sekitar 115 proyek pertanian di seluruh Indonesia yang melibatkan sekitar 15.000 petani. Petanu generasi tua, kata Bayu, selalu beranggapan mereka harus selalu berada di lahan, padahal tidak.

“Dengan teknologi aplikasi ini, generasi petani muda bisa membagi waktunya dengan lebih efektif,” pungkasnya.


Photo Credit: HANNOVER MESSE Digital Edition, 12 – 17 April 2021. GETTY/Metrology

 

Didik Fitrianto
Latest posts by Didik Fitrianto (see all)





Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IT

Perkuat Sinyal Deteksi Dini Tsunami BPPT Siapkan 3 Alat Canggih yang Dilengkapi Sinergi Pentahelix

Published

on

By





Teknologi – Indonesia berada di zona “Ring of fire”, Jalur yang dilalui pertemuan lempeng inilah yang menjadi zona rawan gempa di Indonesia. melihat hal tersebutdan belajar dari histori bencana yang terjadi di indonesia. Pemerintah melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan sistem peringatan dini tsunami atau yang lebih dikenal dengan Indonesia Tsunami Early Warning System atau Teknologi InaTEWS.

“Indonesia Tsunami Early Warning System atau Teknologi InaTEWS mengunakan pengembangan sistem peringatan bencana berbasis teknologi tersebut mengunakan berbagai instrumen sesuai dengan kebutuhan lokasi, seperti Teknologi Buoy (InaBuoy), Teknologi Kabel Optik Bawah Laut (InaCBT – Cable Based Tsunameter), Teknologi Coastal Acoustic Tomografi (InaCAT), hingga Pemodelan berbasis Kecerdasan Artifisial,” hal itu di ungkapkan oleh Kepala BPPT Hammam Riza dalam Media Gathering yang bertemakan Teknologi Deteksi Tsunami Berbasis Buoy, Kabel Serat Optik, dan Akustik Tomografi, Selasa (8/6).

Ia juga menjelaskan BPPT sejak Tahun 2019 telah membangun tiga teknologi tersebut dalam rangka mendukung InaTEWS Nasional BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Sensor tsunami dari InaTEWS BPPT dapat mengirimkan data secara berkesinambungan kepada BMKG dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk kemudian disebarluaskan kepada masyarakat sebagai upaya mitigasi bencana tsunami di Indonesia.

Untuk menunjang hal tersebut BPPT telah menyusun grand design peta jalan teknologi mitigasi dengan mengoperasikan InaBuoy di 13 lokasi, InaCBT di 7 lokasi, InaCAT di 3 lokasi dan didukung dengan pengolahan kecerdasan artifisial. Semua Teknologi InaTEWS ditargetkan akan beroperasi penuh pada tahun 2024, tambah Hammam.

Sejumlah peristiwa bencana alam seperti bencana besar di Tahun 2018 yang menerpa Lombok, Palu, dan Selat Sunda menjadi pengalaman berharga bagi semua pihak dalam memperingatkan datangnya bencana sedini mungkin.


Photo Credit : Kepala BPPT Hammam Riza (berbaaju putih) dalam Media Gathering yang bertemakan Teknologi Deteksi Tsunami Berbasis Buoy, Kabel Serat Optik, dan Akustik Tomografi, Selasa (8/6)/Doc/ist


 

Atti K.





Sumber Berita

Continue Reading

IT

Perkuat Sinyal Deteksi Dini Tsunami, BPPT Siapkan Pentahelix

Published

on

By





Teknologi – Indonesia berada di zona “Ring of fire”, Jalur yang dilalui pertemuan lempeng inilah yang menjadi zona rawan gempa di Indonesia. melihat hal tersebutdan belajar dari histori bencana yang terjadi di indonesia. Pemerintah melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan sistem peringatan dini tsunami atau yang lebih dikenal dengan Indonesia Tsunami Early Warning System atau Teknologi InaTEWS.

“Indonesia Tsunami Early Warning System atau Teknologi InaTEWS mengunakan pengembangan sistem peringatan bencana berbasis teknologi tersebut mengunakan berbagai instrumen sesuai dengan kebutuhan lokasi, seperti Teknologi Buoy (InaBuoy), Teknologi Kabel Optik Bawah Laut (InaCBT – Cable Based Tsunameter), Teknologi Coastal Acoustic Tomografi (InaCAT), hingga Pemodelan berbasis Kecerdasan Artifisial,” hal itu di ungkapkan oleh Kepala BPPT Hammam Riza dalam Media Gathering yang bertemakan Teknologi Deteksi Tsunami Berbasis Buoy, Kabel Serat Optik, dan Akustik Tomografi, Selasa (8/6).

Ia juga menjelaskan BPPT sejak Tahun 2019 telah membangun tiga teknologi tersebut dalam rangka mendukung InaTEWS Nasional BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Sensor tsunami dari InaTEWS BPPT dapat mengirimkan data secara berkesinambungan kepada BMKG dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk kemudian disebarluaskan kepada masyarakat sebagai upaya mitigasi bencana tsunami di Indonesia.

Untuk menunjang hal tersebut BPPT telah menyusun grand design peta jalan teknologi mitigasi dengan mengoperasikan InaBuoy di 13 lokasi, InaCBT di 7 lokasi, InaCAT di 3 lokasi dan didukung dengan pengolahan kecerdasan artifisial. Semua Teknologi InaTEWS ditargetkan akan beroperasi penuh pada tahun 2024, tambah Hammam.

Sejumlah peristiwa bencana alam seperti bencana besar di Tahun 2018 yang menerpa Lombok, Palu, dan Selat Sunda menjadi pengalaman berharga bagi semua pihak dalam memperingatkan datangnya bencana sedini mungkin.


Photo Credit : Kepala BPPT Hammam Riza (berbaaju putih) dalam Media Gathering yang bertemakan Teknologi Deteksi Tsunami Berbasis Buoy, Kabel Serat Optik, dan Akustik Tomografi, Selasa (8/6)/Doc/ist

 

Atti K.





Sumber Berita

Continue Reading

IT

Kominfo Ajak WSIS Kembangkan Masyarakat Digital

Published

on

By




Teknologi – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengajak delegasi dari Azerbaijan, Bangladesh, Bulgaria, Chili, Ghana, Guinea, Yordania, Rumania, dan Thailand, serta ITU, UNESCO, UNDP, UNCTAD dan delegasi lain untuk meningkatkan komitmen dalam mengembangkan masyarakat digital. Upaya itu dilakukan dengan memperkuat tiga sektor yakni infrastruktur digital, ekonomi digital, dan masyarakat digital.

“Antusiasme delegasi dari berbagai belahan dunia menandakan komitmen untuk mencapai masyarakat digital. Di mana setiap orang dapat berkreasi, mengakses, memanfaatkan dan berbagi informasi, baik di platform offline maupun online,” jelas Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo Mira Tayyiba dalam Minesterial Round Table WSIS Forum 2021, dari Jakarta, Rabu (19/5/2021).

Mewakili Menkominfo Johnny G. Plate, Sekjen Mira Tayyiba menegaskan komitmen membangun masyarakat digital memiliki kontribusi penting dalam pemulihan pascapandemi COVID-19. Sekjen Kementerian Kominfo menyontohkan upaya Indonesia dalam melakukan percepatan pemulihan dengan menyeimbangkan kebijakan kesehatan dan ekonomi, untuk yang hasilnya cukup menjanjikan.

“Beberapa indikator menunjukkan peningkatkan optimisme Indonesia dalam pengelolaan COVID-19 dan pemulihan ekonomi. Untuk tingkat kasus aktif tercatat 5,2%, lebih rendah dari global tingkat 11,09% dan tingkat pemulihan 92% lebih tinggi dari tingkat global 86,83%,” paparnya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik, Sekjen Mira menyatakan kondisi perekonomian Indonesia mulai membaik pada kuartal pertama 2021 ini.

“Ditutup pada pertumbuhan -0,74% tahun ke tahun, jika dibandingkan dengan -2.19% tahun-ke-tahun di Q4 tahun 2020,” paparnya.

Dalam acara itu, Sekjen Kementerian Kominfo menjelaskan Pemerintah Indonesia telah melakukan program vaksinasi COVID-19 paling awal. Melalui program vaksinasi, Pemerintah Indonesia akan membangun bangsa yang kuat dan siap menghadapi tantangan potensial di tahun-tahun mendatang.

“Sejak Januari 2021, kami telah meluncurkannya tiga dari empat fase vaksinasi massal. Pada hari ini, 13.8 juta orang telah divaksinasi dari 181,5 juta penerima yang ditargetkan,” paparnya.

Dalam acara itu, sesuai arahan Menkominfo, Sekjen Mira mendorong diskusi antardelegasi fokus pada upaya dan pengembangan insiatif dalam mengatasi masalah multidimensi berkaitan dengan teknologi digital.

“Mempertimbangkan masalah multi-dimensi digital, saya juga menantikan diskusi yang memperkaya diantara semua para pemangku kepentingan hadir di Forum ini,” ungkapnya.

Perkuat Tiga Sektor Digital

Dalam forum itu, Sekjen Mira Tayyiba memaparkan fokus pengembangan teknologi digital di Indonesia sebagai penopang percepatan pemulihan perekonomian dan penanggulangan pandemi COVID-19. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital menjadi perhatian serius Pemerintah Indonesia.

“Di saat sektor lain terdampak wabah virus Corona, sektor TIK mengalami peningkatan kumulatif ke kumuatif sebesar 10,58% pada tahun 2020. Sementara pada kuartal pertama 2021 bertumbuh pada 8,72% tahun-ke-tahun. Perekonomian Indonesia membaik pada kuartal pertama 2021 ini, ditutup pada pertumbuhan -0,74% tahun ke tahun, jika dibandingkan dengan -2.19% tahun-ke-tahun di Q4 tahun 2020,” paparnya.

Berkaca pada kondisi itu, Sekjen Kementerian Kominfo memaparkan adanya potensi pemanfaatan teknologi digital yang terus meningkat dan membuat Pemerintah Indonesia optimistis dengan potensi digital yang sangat besar.

“Kami akan bisa mampu mengatasi krisis saat ini dan bangkit kembali lebih kuat,” tegasnya.

Sekjen Mira menyatakan saat ini Pemerintah Indonesia fokus melaksanakan percepatan transformasi digital.

“Peta Jalan Digital Indonesia ini untuk memberikan pedoman strategis bagi pemerintah untuk berubah menjadi sepenuhnya terhubung ke dalam masyarakat digital melalui empat sektor yang meliputi: infrastruktur digital, tata kelola digital, digital ekonomi, dan masyarakat digital,” tuturnya.

Sekjen Kementerian Kominfo menyoroti sektor infrastruktur digital, ekonomi digital dan masyarakat digital yang diharapkan menjadi penopang pemulihan ekonomi pascapandemi.

“Pada sektor infrastruktur digital, Indonesia terus mengupayakan jangkauan Internet yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih tangguh, melalui penyebaran serat optik, tautan gelombang mikro, dan satelit teknologi,” tuturnya.

Sementara di sektor ekonomi digital, Pemerintah Indonesia berupaya untuk terus meningkat kapabilitas digital di sektor prioritas untuk mendorong produktivitas, pertumbuhan berbasis inovasi. “Sambil mengintensifkan teknologi digital dalam bisnis dan startup. Ini termasuk memfasilitasi 30 juta UMKM untuk bergabung secara digital pada tahun 2024,” jelas Sekjen Mira.

Pada sektor masyarakat digital, Sekjen Kementerian Kominfo mengatakan Pemerintah Indonesia terus berusaha untuk mempertajam keterampilan talenta digital bangsa melalui penyediaan pelatihan keterampilan digital untuk 100.000 profesional dan melakukan pemberian sertifikasi kebijakan digital kepada 300 pembuat kebijakan senior di sektor publik maupun swasta.

“Sehubungan dengan hal ini, saya juga ingin mengingat bahwa Gerakan Nasional Literasi Digital sendiri dianugerahi sebagai salah satu Pemenang WSIS tahun lalu. Nilai-nilai SIBERKREASI terletak pada peran literasi digital, yang penting dalam mendorong masyarakat untuk menggunakan internet dengan cara yang aman dan produktif,” tegasnya.

Sekjen Mira menjelaskan, Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi ini menerapkan empat pilar utama sebagai kurikulumnya yang mencakup etika digital, keamanan digital, keterampilan digital, dan digital budaya.

“Untuk tahun 2021, Siberkreasi menargetkan 12,4 juta unit orang-orang dengan pembinaan literasi digital yang memadai dan diharapkan jumlahnya akan semakin terakumulasi menjadi 100 juta orang di tahun-tahun mendatang.” tuturnya.

Adapun tujuan diselenggarakannya forum ini adalah sebagai pedoman TIK untuk masyarakat dan ekonomi yang Inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.


Photo Credit: Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate. ANTARA/Galih Pradipta

 

Koes Anindya
Latest posts by Koes Anindya (see all)





Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved