Connect with us

Ibadah

Shalat Tidak Khusyuk, Apakah Masih Bisa Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar?

Published

on


Suatu hari, rumah Sayidina Ali bin Abi Thalib RA. terbakar. Saat itu, beliau sedang sujud dalam keadaan shalat. Orang-orang berteriak memperingatinya, “Api,…api,… wahai menantu Rasulullah, ada api!” Tapi beliau tidak juga mengangkat kepalanya dari sujud. Saat rampung mendirikan shalat dengan khusyuk, beliau diberitahu bahwa tadi saat sujud sudah diperingatkan ada kebakaran. Beliau menjawab, “Api neraka membuatku lupa dengan api kebakaran tadi.”

Kisah yang diceritakan dalam Risalat al-Asror itu merupakan satu dari berbagai cerita para salafus shalih tentang kekhusyukan waktu shalat. Sulit bagi kebanyakan kaum muslim mencapai derajat kekhusyukan seperti itu. Bahkan, untuk sekedar khusyuk saat shalat dalam definisi paling minimal pun sulitnya bukan main. Padahal, banyak sekali faedah yang di dapatkan dari shalat dengan khusyuk. Lalu, bagaimana dengan orang yang masih belum bisa khusyuk saat shalat, apakah  berarti ia tidak mendapatkan faedah shalat? Misalnya mencegah kemungkaran.

Baca juga: Kisah Murid Sombong yang Tak Bisa Naik Tingkat

Dalam fikih mazhab Syafi’i, khusyuk saat shalat dihukumi sunah, tapi merupakan sunah terpenting. Karena tanpa khusyuk, pahala shalat bisa tidak didapatkan. Khusyuk sendiri didefinisikan Ibnu Hajar Al-Haitami sebagai kehadiran hati dan tenangnya anggota badan saat shalat. Sementara dalam I’anat ath-Thalibin disebutkan, khusyuk bisa didapatkan bagi musholi (orang yang shalat) dengan cara menghadirkan diri dalam shalat seolah-olah dia sedang berhadapan dengan Raja dari segala raja yang maha mengetahui segala rahasia, dan secara intim berbicara pada Raja tersebut.

Dalam menjelaskan keutamaan khusyuk saat shalat, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyertakan hadis Nabi berikut. Rasulullah SAW. bersabda :

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ الله إلا بعداً

Artinya : Orang yang shalatnya tidak dapat mencegahnya dari kejahatan dan kemungkaran, maka tidak bertambah apapun baginya dari Allah, selain (bahwa antara ia dan Allah jaraknya semakin bertambah) jauh. (HR. Ath-Thabrani, dengan sanad shahih).

Dengan menyertakan hadis ini, secara tidak langsung Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa salah satu keutamaan atau faedah dari khusyuk saat shalat adalah shalatnya dapat mencegah dari perbuatan jahat dan mungkar. Lalu bagaimana dengan orang yang masih belum bisa khusyuk?

Ulama’ bersepakat bahwa shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.  Hal ini secara jelas dinash oleh Allah SWT. dalam Al-Qur’an. Allah SWT. berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 45 :

أُتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ، إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya : Bacalah (wahai Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an)yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaanya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut (29) : 45).

Dari ayat ini pula, para ulama’ berbeda pendapat dalam menjelaskan bagaimana bentuk pencegahan shalat dari kedua hal tersebut. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah shalat dengan khusyuk. Karena dengan kehadiran hati dan ketenangan badan saat shalat, seorang musholi kemudian akan sadar untuk menjauhi perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana yang disebut dalam hadits yang dikutip Imam Al-Ghazali di atas.

Imam Ar-Razy dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib menambahkan, bahwa ilustrasinya orang yang shalat seperti orang yang khidmah pada Raja dengan loyal, sehingga ia mendapatkan tempat istimewa di sisi Rajanya. Kemudian ia melihat sesama hamba Raja yang mencoba membuatnya meninggalkan sang Raja dengan iming-iming yang tidak bisa diharapkan. Maka apakah orang yang loyal tersebut bersedia mengkhianati Raja? Tentu tidak. Hamba yang loyal itu ibarat orang yang shalat, sedangkan sesama hamba yang merayunya adalah setan, dan pengkhianatan itu seperti melakukan perbuatan keji dan mungkar yang dilarang Allah SWT. Ilustrasi Imam Ar-Razy ini sebangun maknanya dengan pencapaian khusyuk menurut Syaikh Abu Bakar Syatho dalam I’anat ath-Thalibin yang dikutip di atas.

Baca juga: Gus Baha: Shalat Tidak Khusyuk di Tengah Kerja? Shalatmu Sendiri Itu Bentuk Khusyuk!

Namun banyak juga ulama’ yang mengatakan, yang dimaksud shalat dalam QS. Al-Ankabut ayat 45 adalah shalat secara mutlak, tidak mensyaratkan adanya kekhusyukan. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana Sahabat Ibnu Abbas RA. menafsiri ayat ini dengan mengatakan :

فِي الصَّلَاةِ مُنْتَهًى وَمُزْدَجَرٌ عَنْ مَعَاصِي اللَّهِ

Artinya : Dalam shalat terkandung pencegah dari berbagai maksiat kepada Allah.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Imam Ath-Thabari, shalat membatasi musholi dari perbuatan yang mengarah pada hal keji, karena dengan melakukan dan menyibukkan diri dengan shalat, maka dengan begitu terputuslah peluang untuk menyibukkan diri dengan perbuatan mungkar. Dalam hal ini, Imam Ar-Razy dalam menafsiri ayat yang sama, mengilustrasikan seorang musholi memakai pakaian terbaik setiap shalat yang bisa melindungi hati, yaitu libas at-taqwa (pakaian ketakwaan). Pakaian ini lah yang melindungi dari segala kotoran-kotoran berupa perbuatan keji dan mungkar. Dengan semakin diulang-ulangnya shalat, maka semakin langgeng pula pelindung tersebut bagi musholi.

Dari berbagai keterangan di atas bisa disimpulkan, shalat secara mutlak dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar bagi orang yang melakukanya, dan bagi orang yang belum bisa khusyuk masih tetap terbuka kemungkinan dapat mencegah dari perbuatan buruk dengan shalatnya. Meskipun begitu, sudah seyogyanya bagi seorang muslim untuk meningkatkan kualitas ibadahnya pada Allah SWT.

Sebagaimana pencapaian lain, khusyuk pun bisa dilakukan dengan proses dan berbagai usaha.  Kalau memang masih belum bisa khusyuk, hendaknya seorang muslim terus mendirikan shalat dan belajar untuk beribadah dengan khusyuk. Karena kalau shalat diibaratkan seperti pakaian ketakwaan yang bisa melindungi perbuatan keji dan mungkar, maka sungguh beda kualitasnya antara pakaian ketakwaan dari shalat yang khusyuk dengan yang tidak khusyuk. Dengan begitu, insya Allah tanpa perlu diragukan lagi, shalat kita akan mencegah kita dari berbuat keji dan mungkar. (AN)

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

 

Refrensi :

Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, juz 1, (Beirut : Dar al-Ma’rifah).

Syaikh Abu Abdillah Muhammad Fakhr ad-Din Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib : At-Tafsir Al-Kabir, juz 25, (Beirut : Dar Ihya’ at-Turats al-Arabiy, 1420 H.).

Imam Abu Ja’far Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, juz. 18, (Muassasah ar-Risalah, 2000 M.).

Syaikh Abu Bakar Syatho, I’anah ath-Thalibin ‘ala Halli Alfadzi Fath al-Mu’in, juz. 1, (Dar al-Fikr, 1997 M.).

Syaikh Abu al-Abbas Syihabuddin ibnu Hajar Al-Haitamy, Minhaj al-Qowim Syar Al-Muqoddimah Al-Hadhramiyyah, (Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2000 M.).

Sayid Muhammad bin Alawiy bin Abbas Al-Maliky, Risalah al-Asror fi ash-Shalat wa az-Zakat wa ash-Shaum wa al-Hajj, (Dar ath-Thaba’ah Kali Kondang, tanpa tahun).



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ibadah

Khutbah Jumat: Para Sahabat Nabi Ternyata Kaya Raya dan Giat Bekerja

Published

on

By


Semangat zuhud bukan berarti tidak mau bekerja dan tidak boleh kaya raya. Para sahabat buktinya ada yang giat bekerja dan kaya raya. Tapi tidak menjadikan dunia dalam hatinya.

Khutbah Jumat I: Para Sahabat Nabi Ternyata Kaya Raya dan Giat Bekerja

الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ جَعَلَ التّقْوَى خَيْرَ الزَّادِ وَاللِّبَاسِ وَأَمَرَنَا أَنْ نتَزَوَّدَ بِهَ لِيوْم الحِسَابِ وَبِالْعِبَادَةِ لَهُ إِظْهَارًا لِلشُّكْرِ عَلى جَمِيْعِ الْمَصَالِحِ وَالْمَنَافِعِ الّتِي خَلَقَهَا لِجَمِيْعِ عِبَادِهِ. اَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ رَبُّ النَّاسِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَوْصُوْفُ بِأَكْمَلِ صِفَاتِ النَّاسِ وَالْمُصْطَفَى لِإِرْشَادِ أُمَّتِهِ لِمَا يَرْضَاه رَبُّهُ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وسَلّمْ تَسليمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Hadirin sidang Jumat Hafidzakumullah!

Ada informasi menarik yang disampaikan al-Mas’udi dalam kitabnya Muruj al-Dzahab terkait harta kekayaan para sahabat Rasulullah SAW. Zubair bin Al-Awaam paska wafatnya meninggalkan 59. 800.000 dirham. Dan konon katanya, beliau memiliki seribu budak, seribu kuda, sebelas rumah megah, ratusan hektar tanah dan perkebunan yang tersebar di Madinah, Basrah, Kufah, Fustat dan Iskandariyah. Selain itu, beliau juga seorang saudagar.

Abdurrahman bin Auf, awal berhijrah ke Madinah tidak memiliki harta sepeserpun. Namun tak lama kemudian, beliau menjadi orang paling kaya se-Madinah. Menjelang akhir hidupnya, beliau mewasiatkan agar sebagian hartanya dibagikan kepada 100 ahli Badar yang masih hidup. Masing-masing mendapat jatah 400 dinar. Selain itu, beliau juga memiliki seribu budak yang telah dibebaskan, seribu onta, seratus kuda, tiga ribu domba yang digembalakan di Baqi’.

Zaid bin Tsabit meninggalkan 300 ribu dinar serta ratusan ton emas dan perak. Ibnu Mas’ud, selain memiliki 50 budak dan hewan ternak, meninggalkan 9 ribu ton (mitsqal) emas dan beberapa rumah megah di pelosok-pelosok Irak. Al-Khabab bin al-Irts, sahabat Rasul SAW yang terkenal miskin, di akhir hidupnya mewasiatkan untuk membagi-bagi sisa hartanya yang berjumlah 40 ribu dinar.

Hadirin sidang Jumat Hafidzakumullah!

Fakta ini menunjukan bahwa para sahabat adalah orang-orang kaya. Kekayaan tersebut tentu didapatkan bukan dengan bermalas-malasan dalam bekerja. Mereka memiliki etos kerja yang professional dengan hasil yang bermutu tinggi. Ini dapat dilihat dari harta kekayaan mereka yang melimpah. Saking melimpahnya harta kekayaan mereka dan terbiasa dengan kemewahan bahkan sampai-sampai ada sahabat yang gatal-gatal ketika memakai kain biasa. Karena itu Ia meminta izin kepada Rasul untuk memakai kain sutera agar tidak gatal. Lantas rasul pun mengizinkannya. Nama sahabat itu tak lain adalah Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat terkaya di Madinah.

Namun, kekayaan mereka tidak lantas membuat mereka lupa akan akhirat. Mereka hidup zuhud. Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa “Zuhud tersimpul dalam dua kalimat dalam Alquran, supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu (QS 57:23). Orang yang tidak bersedih karena kehilangan sesuatu darinya dan tidak bersuka ria karena apa yang dimilikinya, itulah orang yang zuhud.” Dari tafsir yang dikemukakan Ali bin Abi Thalib tersebut, kita dapat melihat dua ciri orang yang zuhud dalam pandangan Allah.

Pertama, “zahid tidak menggantungkan kebahagiaan hidupnya pada apa yang dimilikinya.” Zuhud adalah pola hidup menjadi. Zahid tidak memperoleh kebahagiaan dari pemilikan. Para sahabat Rasul SAW tidaklah membuang semua yang dimilikinya, tetapi mereka menggunakan semuanya itu untuk mengembangkan dirinya. Kebahagiannya tidak terletak pada benda-benda mati, tetapi pada peningkatan kualitas hidupnya.

Kedua, “Kebahagiaan seorang zahid tidak lagi terletak pada hal-hal yang duniawi, tetapi pada dataran ruhani.” Kedewasaan kepribadian jiwa kita terletak pada sejauh mana kecenderungan kita pada hal-hal yang ruhani. Makin tinggi tingkat kepribadian kita, makin ruhani sifat kesenangannya. Dua prinsip inilah yang dipegang para sahabat, sehingga mereka masih tetap bekerja dan ada yang kaya raya.

Hadirin sidang Jumat Hafidzakumullah!

Al-Ghazali menegaskan zuhud itu menghilangkan keterikatan hati dengan dunia, namun bukan berarti menghilangkannya. As-Syadzili, pendiri tarikat sufi As-Syadziliyah, dalam setiap doanya selalu meminta kepada Allah, “Ya Allah luaskanlah rizkiku di dunia dan janganlah ia mengahalangiku dari akhirat, jadikanlah hartaku pada genggaman tanganku dan jangan sampai ia menguasai hatiku.”

Hadirin sidang Jumat Hafidzakumullah!

Kembali kepada etos kerja dan  semangat untuk hidup zuhud seperti yang kita perbincangkan tadi, poin yang penting untuk saya sampaikan di sini ialah bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini haruslah dilandasi kepada sesuatu yang nilainya sakral, yaitu Allah SWT, Tuhan kita. Dengan semangat ini, amalan duniawi apapun, mencari rizki apapun tentu, semangatnya karena Allah SWT. Dari sinilah, seorang muslim harus beretos kerja berlandaskan kepada semangat karena Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah Jumat II: Para Sahabat Nabi Ternyata Kaya Raya dan Giat Bekerja

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحًمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ اْلقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ  وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Baca juga teks khutbah Jumat yang lain di sini.



Sumber Berita

Continue Reading

Ibadah

Sering Lupa? Biasakan Baca Shalawat Ini

Published

on

By


Lupa memang tabiat manusia. Tidak ada orang yang tidak pernah lupa. Sesekali lupa masih bisa ditolerir. Tapi kalau lupa terus-menerus dan keseringan ini bisa menjadi masalah. Apalagi kalau berurusan dengan orang lain. Kalau suka lupa, baiknya tidak mendiamkan dan membiarkan, tapi berusaha untuk mencari solusi agar lupa tidak keterusan. Misalnya, membuat catatan pekerjaan, janji, dan urusan penting lainnya.

Sayyid Ahmad bin Idris memberikan solusi bagi orang yang suka lupa. Di antara solusi yang beliau berikan adalah dengan memperbanyak baca shalawat. Namanya shalawat Mudzhib al-Nisyan, penghilang lupa. Shalawat ini dibaca sehari sebanyak 100x. Keterangan ini terdapat dalam Miftahu Mafatihis Samawati wal Ardhil Makhzunahkarya Syekh Shalih al-Ja’fari. Redakasi shalawatnya sebagai berikut:

اللهم صل وسلم وبارك على مولانا محمد وعلى آله النور المذهب للنسيان بنوره في كل لمحة ونفس وعدد ما وسعه علم الله

Allohumma sholli wa sallim wa barik ‘ala mawlana muhammadin wa ‘ala alihii al-nuril mudzhibi lin nisyani binurihi fi kulli lamhatin wa nafasin ‘adada ma wasi’ahu ‘ilmullah.

Artinya:

“Ya Allah, berilah rahmat, salam dan keberkahan untuk tuan kami, Nabi Muhammad serta keluarganya, yang mempunyai cahaya yang dapat menghilangkan lupa dengan cahayanya pada setiap kerlipan mata dan nafas seluas ilmu Allah.”

Semoga dengan membiasakan baca shalawat di atas, kita dihindari dari sifat pelupa dan dikaranui ingatan yang kuat.

 

 

 



Sumber Berita

Continue Reading

Ibadah

Khutbah Jumat: Memelihara dan Memakmurkan lingkungan

Published

on

By


Khutbah Jumat I: Memelihara dan Memakmurkan lingkungan

اَلْحَمدُ للهِ الَّذِى اَمَرَناَ بِاتِّبَاعِ اْلحَقِّ ِفى كُلِّ اُمُرٍ, أَشْهَدُاَنْ لاَاِلٰهَ اِلاَّالله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهَادَةً عَبْدٍشَكُوْرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِه وَصَحْبِهِ عَلىَ مَمَرِّالدُّهُوْرِ. ﴿أَمَّا بَعْدُ﴾ فَيَا عِبَادَ اللهِ. إِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah,

Subhanallah, Allah telah membentangkan bumi yang sangat luas dengan tumbuh-tumbuhan yang menghijau ranau berkemilau. Diciptakannya Laut yang biru beserta seluruh ekosistem di dalamnya. Gunung-gunung, batu, air dan udara, semua itu merupakan sumber daya alam karunia Tuhan. Manusia diberikan mandat untuk memeliharanya dengan cara mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam tersebut berdasarkan azas kelestarian untuk mencapai kemakmuran yang dapat memenuhi kebutuhan sekarang dan generasi yang akan datang.

Namun kenyataan berbicara lain, bahwa alam ini mengalami kerusakan yang cukup parah, baik di daratan, lautan maupun udara yang mengakibatkan malapetaka bagi manusia. Kerusakan itu disebabkan oleh ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab yang hanya mementingkan ambisi pribadi tanpa mempedulikan kelestarian alam. Untuk itu perlu ditumbuhkan kesadaran untuk mencintai alam serta lingkungan sekitar. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat al-Hijr ayat 19-20 :

وَاْلاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَسِىَ وَاَنْبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ سَيْئٍ مَوْزُوْنٍ. وَجَعَلْنَالَكُمْ فِيْهَا مَعٰيِسَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرٰزِقِيْنَ.

“Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu yang menurut ukuran. Dan kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup. Dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.”

 

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah,

Ayat ini memberikan gambaran bahwa betapa banyak fasilitas yang telah Allah sediakan bagi manusia untuk dipergunakan bagi kebutuhan hidupnya, dengan catatan haruslah dengan kedasadaran menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.

Allah menghamparkan bumi beserta seluruh isinya sebagai sumber kehidupan. Dijadikannya gunung-gunung dengan iklim yang cocok untuk pertanian, laut dijadikan sebagai sumber pencarian sang nelayan. Begitupula dengan sungai-sungai yang mengalir, tumbuh-tumbuhan bahkan hewan diciptakan Allah untuk kesejahteraan umat manusia. Sepantasnya manusia bersyukur dengan semua karunia yang Allah berikan.

Adalah suatu kenyataan, bahwa keadaan lingkungan alam di negeri kita ini sudah mengalami kerusakan yang sangat parah dan mengkhawatirkan, karena ulah perbuatan manusia. Kalaulah keadaan alam ini dirusak terus menerus maka kehancuran tinggal menunggu waktunya saja.

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah,

Coba kita renungkan!! selama kurang lebih lima tahun belakangan ini, musibah apa yang tidak menimpa negeri kita?!. Gelombang besar bernama tsunami sudah pernah terjadi, banjir bandang nyaris setiap tahun kita alami, tanah longsor dan banjir lumpur pun belum selesai kita tangani, kekeringan dan kebakaran seolah saling menjemput dan beriringan. Gunung berapi yang terbatuk dan memuntahkan lahar, mengirim batu dan pasir yang mematikan, seolah-olah sepakat untuk bergolak bersama di seluruh Indonesia.

Belum lagi global warming (pemanasan global) yang bagaikan monster yang siap menerkam kita setiap saat. Efek global warming diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan seperti; naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas kejadian alam yang ekstrim (saat kita yang di Sumatera berjuang menghadapi hujan dan banjir, di pulau Jawa justru kewalahan melawan panas). Akibat lain ialah terpengaruhnya hasil pertanian, punahnya berbagai jenis hewan, serta mengganggu kesehatan manusia. Ini bukan Tuhan sedang mengombral murka, ini tentang manusia dan perilakunya. Udara kita kotor, sungai kita tercemar, hutan kita gundul, siapa dalang dari semua ini kalau bukan manusia.

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah,

Bagi umat Islam, ajaran untuk tidak berbuat kerusakan pada alam, memelihara lingkungan, berbuat yang terbaik buat umat manusia, menjadi ajaran yang sangat dijunjung tinggi. Diriwayatkan oleh Thabrani, Nabi SAW bersabda yang artinya:

يَرْحَمُ مَنْ فىِ اْلاَرْضِ وَيَرْحَمُ مَنْ فىِ السَّمَاءِ

Sayangilah apa yang ada di bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh yang ada di langit (Allah SWT)”

Begitu pula UU No. 41 Tahun 1999 tentang melestarikan hutan sudah ada, tapi kenapa masih saja merusak alam ini? Hal ini disebabkan karena adanya kelompok manusia yang memiliki sifat rakus, ingin cepat kaya, ditambah lagi dengan kurangnya pemahaman dan kesadaran terhadap nilai-nilai agama dalam kehidupannya sehingga enak saja merampok kekayaan alam.

Ma’asyiral Muslimin Hafidzakumullah,

Kerusakan alam yang terjadi seperti sekarang ini ternyata juga pernah terjadi pada zaman dahulu yakni pada kaum Nabi Tsamut. Oleh karena itu, Islam menyuruh kita belajar dari sejarah, karena dari sejarah itu dapat diperoleh gambaran bagaimana umat terdahulu berinteraksi dengan alam, bagaimana ganjaran Allah terhadap orang yang zalim dan membangkang kepada-Nya.

Bagi orang yang suka berbuat zholim dan membangkang kepada Allah, hendaknya menyadari bahwa betapa besar nikmat yang telah Allah berikan, maka adalah wajib mensyukuri nikmat itu dalam berbagai bentuk, seperti memanifestasikan dalam bentuk memelihara dan memakmurkan alam. Tidakkah seyogyanya manusia belajar dari masa lalu? Tapi ternyata manusia lupa dengan sejarah, hal ini seperti disebutkan dalam al-Qur’an surat Hud ayat 61 berikut ini:

وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Sholeh, Sholeh berkata : “Hai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya)”

 

Hadirin Jama’ah Jum’at Yang dirahmati Allah.

Dalam ayat tadi, Allah SWT menjelaskan bahwa, setelah manusia berkembang biak di atas bumi, mereka diserahi tugas oleh Allah untuk memakmurkannya sebagai ungkapan dari rasa syukur atas anugerah dan karunia dari pada-Nya. Dalam ayat tadi secara jelas Allah berfirman وَاسْتَعْمَرَكُمْ (dan menjadikan kamu pemakmurnya), artinya bahwa alam beserta segala isinya hendaklah dipelihara dan dijaga kelestariannya. Bagaimana caranya?

Yaitu menghentikan segala bentuk ekploitasi alam, baik itu berupa penebangan hutan secara liar alias illegal logging, penambangan emas tanpa izin (PETI), menangkap ikan dengan cara meracuni air sungai. Kemudian lakukan reboisasi, singkirkan sifat rakus dari dalam hati melalui pemahaman secara utuh terhadap ajaran agama. Kepada orang tua, tokoh masyarakat, ulama dan para pemimpin hendaklah memberikan peringatan kepada keluarga dan masyarakat akan pentingnya memelihara alam, dan yang paling penting kepada penegak hukum, tegakkan hukum yang sebenar-benarnya, berikan sanksi hukum yang tegas.

Hadirin Jama’ah Jum’at Yang Berbahagia.

Bila kita telah terlanjur berbuat kezholiman dan kerusakan, sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Oleh karena itu dalam ayat tadi Allah juga memerintahkan   فاَسْتَغْفِرُوْهُ(bertaubatlah kamu). Bila kita bertaubat kemudian diiringi dengan amal sholeh dalam konteks ini yaitu memakmurkan dan memelihara alam, maka Insya Allah alam nan indah ini akan terjaga kelestariannya sehingga apa yang kita nikmati saat ini juga akan dinikmati oleh anak cucu kita dikemudian hari karena alam nan indah ini adalah titipan anak cucu kita bukan warisan dari nenek moyang. Oleh karena itu seyogyanya kita mewariskan mata air bukan air mata.

باَرَكَ اللهُ ِلى وَلَكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَ يَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّاوَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.

Khutbah Jumat II: Memelihara dan Memakmurkan lingkungan

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحًمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ اْلقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ  وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Baca juga teks khutbah Jumat yang lain. (AN)

 

Oleh: Ustadz Abdul Aziz, M.Hum.

 



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved