Connect with us

Budaya

Sejarah dan Makna Filosofis Tradisi Kupatan

Published

on



Beberapa masyarakat Jawa tidak bisa lepas dari ritual slametan karena termasuk jantungnya agama Jawa. Slametan adalah upacara makan bersama setelah diawali dengan doa-doa, yang bertujuan untuk menciptakan keadaan sejahtera, aman, dan terbebas dari gangguan makhluk lain. Sehingga keadaan yang diharapkan adalah selamet, baik bagi yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal.

Menurut Clifford Geertz (seorang antropolog dari Amerika Serikat), kupatan adalah tradisi slametan kecil yang dilaksanakan pada hari ketujuh bulan Syawal. Hanya mereka yang memiliki anak kecil dan telah meninggal saja, yang dianjurkan untuk mengadakan slametan ini. Hal ini tentu mencakup hampir semua orang yang telah berkeluarga di Jawa, walaupun kenyataannya slametan ini tidak sering diadakan. Menurut Geertz, tradisi ini umumnya banyak dilaksanakan oleh masyarakat Jawa Abangan.

Lebaran ketupat atau tradisi kupatan diangkat dari tradisi pemujaan Dewi Sri (Dewi pertanian dan kesuburan, pelindung kelahiran dan kehidupan, kekayaan dan kemakmuran). Ia adalah Dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris. Ia dimuliakan sejak masa kerajaan kuno seperti Majapahit dan Pajajaran. Namun dikemudian hari, terjadi desakralisasi dan demitologisasi. Dewi Sri tak lagi dipuja sebagai dewa padi atau kesuburan, tapi hanya dijadikan lambang yang direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang bermakna ucapan syukur kepada Tuhan.

Namun, Dewi Sri tetap dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Beberapa keraton di Indonesia, seperti Cirebon, Ubud, Surakarta, dan Yogyakarta tetap melestarikan tradisi ini. Sebagai contoh upacara slametan atau syukuran panen di Jawa disebut Sekaten atau Grebeg Mulud yang juga berbarengan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. Dalam upacara ritual semacam itu, ketupat menjadi bagian dari sesaji, seperti yang terjadi dalam upacara adat di Bali. Beberapa masyarakat Jawa sering menggantung ketupat pada pintu masuk rumah sebagai semacam jimat atau penolak bala.

Ada pula sumber lain yang berpendapat bahwa tradisi kupatan di tanah Jawa sudah ada sejak zaman Hindu dan Budha yang diaplikasikan dalam bentuk sesajen. Hal tersebut bertujuan agar arwah manusia yang meninggal dunia dalam masa bayi bisa tenang. Maka, di dalam tradisi Jawa kuno, kupatan itu sama dengan hari raya kecil atau hari raya untuk ritual arwah-arwah anak kecil.

Tradisi kupatan dalam Islam merupakan akulturasi budaya pada masa Walisongo dan pemerintahan Demak. Sunan Kalijaga memasukkan ketupat, simbol yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat, dalam perayaan lebaran ketupat, perayaan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri dan enam hari berpuasa Syawal.

Menurut H.J. de Graaf (sejarawan Belanda yang menulis sejarah Jawa), ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. Ia menduga bahwa kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Zastrouw Al-Ngatawi menegaskan bahwa tradisi kupatan merupakan bentuk dari sublimasi dari ajaran islam dalam tradisi masyarakat Nusantara. Hal ini merupakan cara walisongo untuk mengenalkan ajaran Islam mengenai cara bersyukur kepada Allah Swt, bersedekah, dan saling menjalin silaturrahim. Para walisongo menjadikan tradisi kupatan sebagai media untuk meyebarkan syi’ar agama.

Dalam tradisi tersebut, diadakan upacara yang perlengkapannya menggunakan ketan, kolak, apem yang diberi wadah pisang yang dibentuk sedemikian rupa yang disebut takir. Setiap bagian dari upacara tersebut memiliki makna filosofis yang merupakan dasar dari ajaran agama. Ketan merupakan simbol yang diambil dari kata “khatam” (selesai) melakukan ibadah, takir dari kata “dzikir”, dan apem dari kata afwan yang berarti ampunan dari dosa.

Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Ungkapan ini memberikan isyarat bahwa semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan kepada sesama. Sedangkan janur atau daun kelapa yang membungkus ketupat merupakan kependekan dari kata “jatining nur” (hati nurani). Sedangkan beras yang dimasukkan dalam anyaman ketupat menggambarkan nafsu duniawi.

Dengan demikian, bentuk ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani. Tradisi kupatan ini berfungsi sebagai pengingat agar manusia mengakui kesalahan masing-masing, kemudian rela untuk saling memaafkan. Orang yang bertamu akan disuguhi ketupat pada hari lebaran dan diharuskan memakannya sebagai pertanda sudah rela dan saling memaafkan. Perilaku ini diharapkan dapat menjadikan kehidupan masyarakat yang damai, tenang dan tentram. 

Ketupat memiliki dua bentuk. Bentuk segi empat dan segi lima. Bentuk segi empat mencerminkan prinsip “kiblat papat lima pancer” yang bermakna bahwa kemana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah. Kiblat papat lima pancer ini, dapat juga diartikan sebagai empat macam nafsu manusia, yaitu amarah (nafsu emosional), aluamah (nafsu untuk memuaskan rasa lapar), supiah (nafsu untuk memiliki suatu yang indah), dan muthmainnah (nafsu untuk memaksa diri). Keempat nafsu ini yang ditaklukkan selama berpuasa.

Jadi dengan memakan ketupat disimbolkan sudah mampu menaklukkan keempat nafsu tersebut. Sebagian masyarakat juga memaknai rumitnya anyaman bungkus ketupat mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia. Sedangkan warna putih ketupat ketika dibelah dua mencerminkan kebersihan dan kesucian setelah memohon ampun dari kesalahan. Beras sebagai isi ketupat diharapkan menjadi lambang kemakmuran setelah hari raya.

Sedangkan ketupat yang berbentuk segi lima, mempunyai arti “barang limo rak keno ucul” (ada lima hal yang tidak boleh lepas), yaitu: sembahyang lima waktu: Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Ngisa’. Kemudian, salah satu lauk dalam hidangan ketupat adalah kerupuk. Makna dari kerupuk itu adalah “ketumpuk-tumpuk”. Apa artinya?

Artinya, kesalah-kesalahan di masa lalu yang telah tertupuk-tumpuk tersebut bisa terhapus dengan saling memaafkan satu dengan lainnya. Orang Jawa, khususnya yang beragama Islam, jika paham betul dengan kejawaan, hatinya akan legowo serta bisa memaklumi dan memaafkan kesalahan-kesalahan bagi orang yang minta maaf. Wallahu A’lam



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Adat Budaya Keumaweuh (1): Tradisi Masyarakat Aceh Jelang Kehamilan

Published

on

By



Sejarah telah mencatat bahwa masyarakat Aceh memiliki budaya adat dengan nilai-nilai religius yang identik dengan Islam. Kehidupan budaya adat Aceh dengan Islam tidak dapat dipisahkan. Harmonisasi antara adat dan Islam ini berkembang dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Masyarakat Aceh terbiasa menyesuaikan praktik agama dengan tradisi atau adat istiadat yang berlaku. Hal ini terlihat dalam kehidupan sosial budaya Aceh,  sebagai hasilnya Islam dan budaya Aceh menyatu, sehingga sukar dipisahkan.

Di sini ketentuan syariat Islam merupakan bagian dari adat atau telah diadatkan. Sebaliknya, adat merupakan bagian dari Islam, atau yang telah diislamkan.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Beragam adat Aceh tidak terlepas dari nilai-nilai syariat Islam. Tentunya dalam kaitan dengan hal tersebut, dalam masyarakat Aceh juga berlaku ketentuan bahwa adat itu ada dua yaitu, pertama ketentuan Allah Swt yang tidak berubah sepanjang masa dan kedua adat kebiasaan masyarakat berdasarkan syariat Islam.

Islam dan budaya adat Aceh menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keduanya menyatu dan berkaitan erat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Budaya adat Aceh sangat kental dengan Islam.

Budaya kerap disebut kultur,  dari bahasa Inggris culture. Budaya adalah hasil buah pikir manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan, tempat dan waktu dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan.

Budaya yang dihasilkan manusia ada yang berbentuk sekuler, marxis, atheis, materialis, sosialis, dan sebagainya. Hasil buah pikir itu menjadi adat kebiasaan yang pada akhirnya menjadi sebuah kebudayaan.

Seorang tokoh Aceh, Badruzzaman, lebih sepakat dengan istilah budaya adat Aceh, bukan budaya Aceh. Hal ini karena istilah itu memberi dampak filosofis, historis, dan sesuai dengan cita-cita kami sebagai orang Aceh.

Budaya adat Aceh mengandung nilai-nilai religius dalam bingkai syariat Islam. Jadi, nilai syariat Islam itu mutlak harus dijiwai dalam budaya adat Aceh.

Masyarakat Aceh mempunyai tamsilan adat dengon hukum lagee zat dengon sifeut. Jadi saling ada keterikatan antara adat dengan syariat, bukan seperti budaya yang dikenal dengan istilah culture pada umumnya. (Badruzzaman Ismail, Syariat Islam Menyatu dalam Budaya Adat Aceh, 2018).

Keumaweuh,  Tradisi Tujuh Bulanan

Di antara beragam tradisi budaya adat yang berkaitan dengan nilai-nilai syariat Islam, terdapat satu tradisi budaya adat Aceh yang cukup terkenal, yaitu tradisi keumaweuh.

Tradisi Keumaweuh merupakan tradisi tujuh bulanan di Aceh. Tradisi keumaweuh dilakukan pada saat seorang istri sudah memasuki tujuh bulan atau 28 minggu usia kehamilan anak yang pertama.

Tradisi keumaweuh ini sudah dilakukan secara turun-temurun zaman dulu sampai sekarang. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh khususnya keluarga suami pada saat acara keumaweuh untuk mengantarkan nasi dan buah-buahan bagi istri yang sedang hamil anak pertama.

Masyarakat Aceh sangat memprioritaskan kesehatan ibu hamil dan anak. Keduanya merupakan tumpuan harapan yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan generasi penerus di Aceh, karena itu setiap ibu hamil disambut gembira oleh keluarga suami istri dan diberikan spirit dan kondisi yang menyenangkan.

Masyarakat Aceh dapat memahami pengaruh besar psikologis ibu hamil terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungan. Dengan ini lahirlah petuah–petuah dan pantangan–pantangan yang bertujuan menjaga kehamilan terpelihara dan selamat sampai melahirkan.

Tradisi keumaweuh juga bisa dikatakan sebagai acara syukuran atau rasa syukur kepada Maha Pencipta karena diberi rezeki dengan bertambahnya anggota keluarga yang baru atau juga sang istri sedang mengandung. Namun tradisi keumaweuh hanya diadakan ketika istri mengandung anak pertama.

Sesuai Syariat Islam

Tradisi Keumaweuh dalam perspektif syariat Islam juga mempunyai pandangan spesifik. Allah Swt menciptakan manusia berpasangan, laki-laki dan perempuan. Keberadaan umat yang banyak di dunia menjadi sebuah kebanggaan baginda nabi Muhammad saw.

Islam juga memperbolehkan menikahi empat perempuan selama mampu berlaku adil dan ini sebuah isyarat untuk memperbanyak keturunan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda: “Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu dihadapan umat-umat (yang terdahulu)” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar).

Dalam hadis lain juga disebutkan: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik).

Satu kebahagian bagi mereka yang telah menikah adalah lahirnya buah hati yang menghiasi hidup mereka. Ini semua takdir dan rezeki dari sang Maha Kuasa. Saat seorang istri telah hamil, tentu ini menjadi sebuah kabar gembira dan anugerah bagi keluarganya.

Masyarakat Aceh dalam hal ini  sangat berpartisipasi menyelenggarkan upacara selamatan untuk memanjatkan doa kepada Allah Swt dengan mengharapkan keselamatan. Dalam upacara selamatan tersebut dibacakan Al-Qur’an, surat–surat tertentu, bacaan berzanji, atau tahlil.

Aceh memiliki adat-istiadat yang sangat menghargai dan memuliakan ibu hamil dan anaknya. Mendorong keluarga dan masyarakat saling bekerja sama membantu mengayomi ibu hamil.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Tradisi Peusijuek Masyarakat Aceh dalam Perspektif Syari’at Islam

Published

on

By



Salah satu daerah di penghujung barat Nusantara ini ditempati masyarakat Aceh yang merupakan daerah pertama masuk Islam ke negeri yang bernama Indonesia meskipun adanya kontroversi pendapat berkaitan dengan persoalan tersebut. Masyarakat Aceh dalam kehidupan sehari-hari segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat dan budaya tidak terlepas dari nilai-nilai Syari’at Islam.

Diantaranya seperti adanya bermacam-macam acara dan memulainya dengan doa dan sampenanya yang dikenal dengan sebutan Peusijuek. Kita mengetahui bahwa pada dasarnya Peusijuek (Tepung Tawar) merupakan salah satu adat Aceh yang tidak bisa hilang dari nenek moyang kita dulu.

Peusijuek ini biasanya dilakukan disaat ada acara di Aceh, misalkan ketika menerima tamu, membuka satu usaha, musibah, merayakan kelulusan, khitan, menempati rumah baru, menyambut dan berpergian umroh dan haji. Bahkan bagi orang Aceh, tradisi Peusijuek ini merupakan prosesi yang biasa dilakukan bahkan saat membeli kendaraan baru, namum berbeda dengan masyarakat kota yang modern sekarang Peusijuek hanya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan acara besar saja, misalnya acara perkawinan dan keberangkatan haji.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Nana Noviana dalam tulisannya berjudul “Integritas Kearifan Lokal Budaya Masyarakat Aceh dalam Tradisi Peusijuek” menyebutkan bahwa tradisi Peusijuek pada dasarnya difungsikan untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Namun fungsi Peusijeuk juga dibagi menjadi beberapa jenis di antaranya, pada upacara perkawinan, upacara tinggal di rumah baru, upacara hendak merantau, pergi haji, Peusijuek Keureubeuen (kurban) dan beragam jenis lainnya.

Di samping itu Peusijuek juga dilakukan oleh anggota masyarakat terhadap seseorang yang memperoleh keberuntungan, misalnya berhasil lulus sarjana, memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan masyarakat, memperoleh penghargaan anugerah bintang penghargaan tertinggi, Peusijuek kendaraan baru, dan peusijuek-peusijuek lainnya.

Dalam bukunya identitas Aceh dalam perspektif syariat dan adat mengemukakan bahwa makna dari tahap-tahap yang digunakan dalam Peusijuek adalah pertama membaca basmallah, kedua menaburkan beras dan padi, sifat padi itu semakin berisi semakin merunduk, maka diharapkan bagi yang di Peusijuek agar tidak sombong bila mendapat keberhasilan serta agar mendapatkan kesuburan, kemakmuran, dan semangat seperti taburan beras padi yang begitu semarak berjatuhan, ketiga menyuapi nasi ketan (bu leukat) dan menyuntingnya pada telinga sebelah kanan, dipilih nasi ketan karena mengandung zat perekat, sehingga jiwa raga yang di Peusijuek tetap berada dalam lingkungan keluarga atau kelompok masyarakatnya, Lalu yang terakhir adalah pemberian uang (teumutuep), secara filosofi Teumeutuep memiliki makna sedekah, sedangkan sedekah salah satu pilar dalam mencapai kemakmuran dalam masyarakat. (Nana Noviana, 2018)

Ada kelompok yang menyebut bahwa tradisi Peusijuek tidak mengandung nilai syari’at bahkan menyebutnya sebagai bid’ah yang harus dihindari, namun para ulama terdahulu dan endatu masyarakat Aceh lebih mengerti dan paham mengenai tradisi Peusijuek.

Di antara dalil yang dijadikan referensi Peusijuek itu saat Rasulullah Saw melakukan Peusijuek (tepung tawar) terhadap putrinya Fathimah dan Sayyidina ‘Ali ketika menikah. Kupasan ini sebagaimana dijelaskan salah seorang ulama terkenal bernama Imam Thabraniy dalam kitab al-Ma’jam Kabir berbunyi:

“Telah mengabarkan kepada kami oleh Muhammad bin ‘Abdullah al-Khazramiy, telah mengabarkan kepada kami oleh al-Hasan bin Hammad al-Khazramiy, telah mengabarkan kepada kami oleh Yahya bin Ya’la al Aslamiy, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah dari al-Hasan dari Anas bin Malik berkata ia: Telah datang Abu Bakar kepada Nabi shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka duduk ia dihadapan Nabi, lalu berkata: Ya Rasulallah! Sungguh engkau mengetahui akan menasehatiku dan kakiku dalam Islam, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (di sini Abu Bakar tergagap-pent). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu? Maka Abu Bakar menjawab: Kawinkah aku dengan Fathimah. Maka Rasulullah diam atau berpaling dari Abu Bakar.

Maka kembalilah Abu Bakar kepada ‘Umar, lalu berkata: Celakalah aku, dan Celakalah engkau. ‘Umar berkata: apa itu?. Abu Bakar menjawab: aku meminang Fathimah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka beliau berpaling daripadaku.

Maka ‘Umar berkata: tetap engkau di sini sehingga aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka aku meminta seumpama permintaan engkau, maka datanglah ‘Umar kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka duduk ia dihadapan Nabi, lalu berkata:  Ya Rasulullah! Sungguh engkau mengetahui akan menasehatiku dan kakiku dalam Islam, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (di sini ‘Umar tergagap). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu? Maka ‘Umar menjawab: Kawinkan aku dengan Fathimah. Maka Rasulullah berpaling dari ‘Umar. Maka kembalilah ‘Umar kepada Abu Bakar, lalu ‘Umar berkata: sesungguhnya Rasulullah itu menunggu perintah Allah pada urusan Fathimah.

Berangkat kami kepada ‘Ali sehingga kami perintah ‘Ali untuk meminta apa yang sudah kami minta. Berkata ‘Ali: maka keduanya datang kepadaku sedang aku berada di jalan. Maka keduanya berkata: anak (cucu) perempuan paman engkau itu engkau pinang. Maka keduanya memperhatikan aku satu pekerjaan. Maka aku berdiri sambil menarik ridakku, satu ujung di atas leherku dan satunya lagi pada bumi, sehingga aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka aku duduk dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Maka aku berkata: Ya Rasulullah! Sungguh engkau mengetahui akan kakiku dalam Islam dan menasehatiku, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (disini ‘Ali pun tergagap). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu wahai ‘Ali? Maka aku (‘Ali) menjawab: Kawinkah aku dengan Fathimah.

Maka Rasulullah berkata: dan apa yang ada bersamamu (sebagai mahar-pent)? Aku berkata: Kudaku dan baju besiku. Rasulullah berkata: adapun kuda engkau maka tidak boleh tidak bagi engkau daripadanya dan adapun baju besi engkau maka jual olehmu baju tersebut. Maka aku jual baju tersebut dengan 480 (dirham).

Maka aku membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka aku meletakkannya dalam pangkuan beliau, maka beliau menerimanya, lalu berkata: wahai Bilal! Beritahu olehmu kepada Fathimah secara baik, dan perintah olehmu akan mereka supaya mereka mempersiapkan Fathimah.

Maka Bilal membuat  Fathimah ranjang yang dijalin dengan pita, bantal dari sepotong kulit yang diisi didalamnya dengan sabut (jerami atau rumput kering), menimbuni kamar dengan pasir. Dan Rasulullah berkata, apabila Fathimah datang kepada engkau maka jangan engkau ucap apapun kepadanya sehingga aku datang akan engkau.

Maka datanglah Fathimah bersama Ummu Ayman, maka duduklah ia pada sisi kamar, dan aku pada sisi yang lain. Maka datanglah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu berkata: Di sini saudaraku. Maka berkata Ummu Ayman: saudara engkau (yakni ‘Ali) sungguh engkau kawinkan dengan putri engkau (yakni Fathimah).

Maka masuklah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan berkata kepada Fathimah: Bawalah olehmu kepadaku akan air! Maka Fathimah pun berdiri menuju kepada gelas besar di dalam kamar, maka menuangkan ke dalamnya akan air, maka dibawanya air tersebut kepada Rasulullah, maka  Rasulullah meludahi dalam air tersebut, kemudian berkata kepada Fathimah: Luruslah kamu, maka memercikkan ia akan air diantara dua dada Fathimah dan atas kepala Fathimah, kemudian berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk Fathimah dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian Rasulullah berkata kepada Fathimah, berbaliklah engkau (yakni membelakangi Rasul), maka Fathimah pun berbalik, maka Rasulullah memercikkan air diantara dua bahunya, kemudian berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk Fathimah dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian Rasulullah berkata (kepada ‘Ali); bawakan air kepadaku!, maka aku melakukan apa yang dikehendaki oleh beliau, maka aku penuhkan gelas dengan air maka aku bawa kepada Rasulullah, maka Rasulullah mengambil air itu dengan mulutnya, kemudian meludah kembali air tersebut ke dalam gelas, kemudian menuangkan ia di atas kepalaku (kepada ‘Ali), dan di antara dua dadaku, kemudian beliau berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk “Ali dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian ia berkata: Masuklah engkau wahai ‘Ali kepada keluargamu (yakni Fathimah) dengan nama Allah dan Berkat. ( kitab al-Ma’jam Kabir karangan Imam Thabraniy).

Berdasarkan kupasan di atas, tentunya tradisi masyarakat Aceh yang terkenal dengan Peusijuek bukanlah perkara bid’ah, namun mereka yang masih berprinsip sebagai bid’ah tetap mengutamakan beragam alasan untuk pembenaran terhadap bid’ah, minimal sudah di pandang sebagai budaya Aceh saja sudah cukup, tidak perlu untuk berdebat meskipun tidak mengakui sebagai bagian dari perbuatan yang pernah dilakukan baginda Nabi Muhammad SAW. Mari kita melestarikan kearifan lokal yang bernilai religi termasuk tradisi Peusijuek, sudahkah kita melakukannya? Wallahu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Kearifan Lokal Warga Dusun Pandanderek Ponorogo: Dari Slametan hingga Cara Merawat Keberagaman

Published

on

By



Dalam Atlas Wali Songo, almarhum Kiai Agus Sunyoto mengatakan bahwa agama Islam mengalami perkembangan pesat di Nusantara khususnya di Jawa dalam waktu 50 tahun. Padahal sebelumnya selama 800 tahun agama Islam tak bisa berkembang. Berdasarkan penelusurannya, Kiai Agus memberikan kesimpulan bahwa perkembangan pesat Islamisasi di Jawa ialah dari cara metode dakwah yang dibawa oleh Wali Songo.

Bagi masyarakat jawa, khususnya penganut kejawen mereka sangat mengenal Sunan Kalijaga. Bahkan jika dirunut dalam berbagai cerita yang dituturkan nama Sunan Kalijaga tak terkesampingkan. Sunan Kalijaga membawa Islam dengan “laku”, artinya, nilai-nilai Islam dituangkan ke dalam setiap perilaku termasuk dalam kesehariannya sebagai orang jawa.

Dalam merefleksikan hal ini penulis melakukan penelusuran di Dusun Pandanderek berada di Desa Winong Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo. Permulaan Babad dusun ini dimulai pada masa Simbah Arif yang makamnya ada di Dukuh Majasem Desa Madusari. Dalam perkembangan sepuluh tahun terakhir banyak perubahan  di lingkungan Dusun Pandanderek. Roda zaman terus berputar, globalisasi kian menjadi, eksistensi pun terancam terganti. Dalam perkembangan budaya dan tradisi akhir-akhir ini sangat nampak terjadinya pembaharuan secara sadar maupun tidak.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Penulis merefleksikan tradisi slametan yang masih eksis di lingkungan dusun Pandanderek. Meskipun demikian banyak sekali terjadi perubahan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Perubahan itu kini nampak dalam “berkat” yakni makanan yang disuguhkan untuk para tamu yang hadir untuk dibawa pulang. Dahulu berkat itu disuguhkan dalam makanan yang sudah siap santap sedangkan sekarang kebanyakan acara slametan sudah jarang menyuguhkan hidangan siap santap. Sebagai ganti dari hidangan siap santap tersebut diganti isinya menjadi sembako.

Demikian pula dalam tata cara penyelenggaraan slametan yang ada. Dahulu slametan prosesnya demikian rumit yang paling nampak adalah adanya sesi ngajatne. Ngajatne ialah suatu prosesi yang berisi untaian sastra jawa berisi harapan-harapan yang kini disebut doa. Proses ngajatne dipimpin oleh sesepuh. Akan dimulai dengan menyiapkan uborampe berupa macam-macam jenis makanan yang disajikan dengan tata cara tertentu. Kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan istilah istilah lebih tepatnya sanepan dari uborampe yang disiapkan. Sanepan adalah penyampaian suatu pesan dalam simbol-simbol. Misalnya yang kini masih eksis adalah apem, iwel-iwel dan ingkung. Kini proses ngajatne sudah sangat jarang ditemui kecuali pada acara-acara besar. Padahal secara filosofis pesan-pesannya sangat mendalam. Kemudian menjadi seremonial belaka lalu kini diambang kepunahan.

Begitupun pada tradisi puji-pujian yang dilaksanakan diantara adzan dan iqomat. Puji-pujian yang dilantunkan sangat beragam baik yang berbahasa arab maupun berbahasa jawa. Dalam pengamatan sepuluh tahun kebelakang puji-pujian mengalami perkembangan yang dinamis. Dahulu mulanya lebih condong dalam bahasa jawa. Hal tersebut dikarenakan agar nasihat-nasihat bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Kini puji-pujian masih eksis salah satunya di Masjid Al-Iman. Disana masih ditemui puji-pujian baik dilantunkan oleh golongan tua maupun muda. Tentunya ragamnya kini tak sebanyak dulu. Ragam puji-pujian itu diantaranya yang melegenda adalah syair Eling-Eling, yang kini sudah tak ada yang melantunkannya.

Penulis juga mengamati tata letak masjid di dusun Pandanderek. Dalam tata letak masjid kuno lokasi masjid sangat diperhatikan. Misalnya letak masjid-masjid agung diberbagai kota besar di Indonesia seperti Yogyakarta, Solo dan Demak. Masjid agung terletak satu komplek dengan area pemerintahan, pasar, dan alun-alun. Masjid mempunyai dwi fungsi bagi masyarakat sekitar terkait ibadah dan muamalah.

Di dusun Pandanderek terdapat dua masjid yakni Masjid Al-Huda dan Masjid Al-Iman. Masjid Al-Huda letaknya tepat ditengah Dusun Pandanderek. Dalam komplek masjid itu terdapat perempatan pusat, cakruk (poskamling), madrasah, warung dan rumah sesepuh. Berikut adalah gambar saat renovasi cakruk (poskamling) didepan masjid Al-Huda:

Sedangkan masjid Al-Iman berada di Jalan Nasional 3 (Ponorogo Trenggalek) berpapasan dengan jalan utama menuju Desa Ngabar Kecamatan Siman. Dalam komplek masjid Al-Iman terdapat rumah sesepuh, warung, cakruk (poskamling). Letak dari dua masjid ini menjadi sentral atas kegiatan masyarakat terutama terkait ibadah, sosial serta pusat informasi. Hal senada dengan masjid-masjid agung dikota-kota besar terutama masjid kuno di wilayah permulaan penyebaran agama islam.

Dengan menelusuri kembali sejarah terdekat dengan kita serta mengambil pola-pola kearifan para pendahulu maka kemungkinan terjadinya konflik dalam menyampaikan dakwah bisa diredupkan. Dengan begitu tidak akan mudah menyalahkan orang lain dan lebih mengutamakan penyelesaian secara seksama dengan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga peran manusia sebagai khalifah kongkrit menjadi rahmat bagi semesta raya.

Sebagai penutup penulis mengutip dua ayat yakni Tafsir Surat An-Nahl ayat 125 dan Surat Ibrahim ayat 4 dari karya KH Bisri Mustofa dalam kitab Tafsir Al-Ibriz

Siro Muhammad ngajak-ngajako marang agamane Pengeran iro kelawan hikmah lan pitutur kang bagus. Lan ladenono bantahe wong-wong kang podo bantah sarana coro kang bagus. Saktemene Pengeran iro iku pirso marang wong-wong kang sasar sangking dalan-dalane Allah. Lan pirso marang wong-wong kang oleh pituduh

Ingsun Allah ora ngutus utusan kejobo kelawan nganggo bahasane bongsone supoyo utusan mau biso ngertekake marang bongsone. (Bejo-bejone kang oleh pituduh, cilakane kang sasar). Allah ta’ala kuoso gawe sasar marang sopo bae kang dikersakake. Lan kuoso nuduhake marang sopo bae kang dikersakake. Allah ta’ala iku dzat kang menang tur wicaksono

Sekiranya tak bisa diwariskan secara eksistensi, setidaknya literasi cukup untuk menjadi saksi agar generasi kedepan tak terombang-ambing karena gengsi menyoal identitas tanpa mengetahui jati diri.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved