Connect with us

News

SEBUAH PESAN DI PENGHUJUNG PETANG – – SastraMagz.com

Published

on

banner 300250


Jadid Al Farisy *
Iqrolibrary, 8 Mei 2020

Diantara ramai lalu lalang kendaraan di jalan kawasan pasar kliwon kota kecamatan, ada hal yang cukup menyita perhatian banyak orang termasuk aku yang sedang memarkir sepeda di tepi jalan karena menunggu istri berbelanja di dalam pasar. Seorang bapak tua tak dikenal tampak membagi-bagikan sesuatu pada setiap orang yang dijumpainya.

Sebenarnya yang membuatnya menjadi pusat perhatian bukan hanya lantaran aktifitasnya itu, tetapi lebih karena penampilannya yang bisa dibilang mirip dengan orang majnun pada umumnya. Berpakaian compang-camping, kumal, ditambah lagi rambutnya yang gimbal dan berkulit legam kusam cukuplah mengesankan bahwa bapak tua itu benar-benar sudah owah pikirannya.

Sekilas jika kuperhatikan, barang yang ia bagi adalah sebuah buntalan kecil plastik warna hitam namun tidak tahu persis apa isinya. Dan karung kumal yang disanggulnya kemana-mana itu sepertinya memuat persediaan barang yang sedang dibagikannya.

Aku masih memperhatikannya dari kejauhan karena posisinya yang memang berada di seberang jalan. Kusulut kretek untuk mengusir bosan karena menunggu. Masih kulihat dengan seksama bapak tua itu. Ia terlihat masih terus membagikan buntalannya meskipun tidak jarang orang yang ditemuinya menolak karena mungkin heran dan takut.

Kejadian itu kontan saja menerbitkan tanda tanya besar di benakku. Siapa sebenarnya bapak tua misterius itu? Apa benar dia orang gila? Jika melihat gelagatnya, tidak salah juga jika orang-orang akan menganggapnya gila. Sesekali tampak ekspresinya yang dingin tanpa bicara seolah sedang menghayati dunianya sendiri. Namun sesekali juga terdengar tawa yang terbahak-bahak lepas seperti tanpa beban dan sesudah itu diam sejenak. Tak lama berselang terdengar suara tangis pilu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

Kini bapak tua itu berada tepat berada di arahku namun masih di seberang jalan. Ia terlihat memberikan buntalannya pada beberapa anak muda yang sedang memasang banner di atas pepohonan. Bapak tua itu masih saja menawari buntalannya. Karena mungkin dirasa mengganggu, para pemuda itu akhirnya membentak dengan kasar dan mengusir orang tua berpakaian rombeng itu.

Tidak terasa sebatang rokokku ternyata telah habis. Kubuang puntungnya sekenanya saja di depanku. Tidak sadar kuarahkan tepat di bawah kaki dekil tak beralas yang tiba-tiba saja muncul di depanku. Betapa kagetnya aku ketika yang kulihat di hadapanku kini adalah si bapak tua pembagi buntalan tadi. Sejak kapan, ia yang baru saja tadi berada di seberang jalan dan dibentak para pemuda, kini sudah berada di depanku dan mengulurkan buntalan plastik hitam padaku. Masih diliputi rasa heran bercampur kaget aku menerima saja pemberiannya.

Kulihat sekilas bapak tua itu. Dan tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya, ia nampak menyunggingkan senyum. Dibalik kulit wajahnya yang hitam dan berkeriput. Terlepas dari penampilannya yang membuat orang berprasangka buruk. Kurasakan ada keteduhan dibalik tatapannya yang dalam. Dan yang lebih mengagetkanku, bapak tua itu mengucapkan salam dengan fasihnya hingga hatiku bergetar sebelum akhirnya ia berlalu dari hadapanku.

Aku masih berdiri mematung. Seperti orang terhipnotis. Selang beberapa saat kemudian barulah aku sadar dan baru bisa menjawab salam bapak tua misterius itu. Kucoba membuka buntalan plastik hitam yang sedang kugengam. Tidak terduga sama sekali ternyata buntalan itu berisi sabun cuci pakaian. Ah, apakah ini hanya kebetulan saja ataukah memang ada pertanda lain yang harus kubaca dari peristiwa ini.

Sambil merenung, kutengadahkan wajahku jauh ke langit. Dan tak sengaja, pandanganku tertuju ke arah tulisan banner di seberang jalan. Kubaca dengan seksama tulisan yang tertera, “Marhaban ya Ramadhan, mari sucikan hati bersihkan jiwa di bulan penuh berkah”. Ah, aku sampai lupa bahwa sore ini adalah penghujung bulan Syaban dan dalam hitungan jam saja akan masuk bulan yang sangat mulia nan penuh berkah.

Babat, 29 Sya’ban 1440 H

*) Jadid Al Farisy, lahir di bantaran Bengawan Solo, Desa Kendal, Sekaran, Lamongan. Menulis puisi, cerpen, esai, geguritan. Beberapa karyanya tersiar di media Republika, Radar Bojonegoro, Iqro.id, Alif.id, Pesantren.id. Puisi dan cerpennya bisa dijumpai dalam antologi bersama: Bocah Luar Pagar, Ini Hari Sebuah Masjid Tumbuh di Kepala, Hikayat Daun yang Jatuh dan Muhasabah Warna. Buku tunggalnya: Kopi Kang Santri (cerpen), Aku Membacamu, Kekasih (puisi), Dialektika Akar Rumput (esai), Kawula Mung Saderma (geguritan). Pendidik di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan, dan MI Ma’arif NU Islamiyah Kendal.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

MERENDAM DENDAM Nur Rofik KS

Published

on

By


 

 

 

 

 

MERENDAM DENDAM Nur Rofik KS

 

Malam memekikkan sunyi

Angan merendam pilu

Hayalan melambung tinggi

Tentang dendam lalu

 

Kemana kaki melangkah pasti

Bila kau jauhkan diri

Dari kepasrahan pada Ilahi

 

Panggul, 17 Juni 2020

 

Bagus. Sudah bagus. Koreksi hanya pafa kata “hayalan”. Menurut kakek seharusnya :khayalan” tapi coba buka KBBI .. mungkin kakek yang salah.

Ayo coba #4334

 

Selamat berlatih.

Source link


[ad_2]
Sumber Berita

Continue Reading

News

TERTIMBUN TANAH | Obrolan Santai – SastraMagz.com

Published

on

By


TERTIMBUN TANAH

Jagat Satria Pasopati

 

Belati menusuk merajam

Lukanya begitu dalam

Jiwa menjadi kelam

Terkapar pada malam

 

Tercecer percikan yang merah

Sungguh menyengat amis darah

Raga mati tertimbun tanah

 

Jateng, 17-06-20

 

Bagus. Tak ada yangh mesti dikoreksi. Silakan coba #4334.

Source link


[ad_2]
Sumber Berita

Continue Reading

News

Puisi-puisi Dody Kristianto termuat di MataPuisi Agustus 2020 – SastraMagz.com

Published

on

By


Kaidah
Diet Ketat

Kau
diusir oleh perjamuan ini

sebab
harus kau tetak segera

raksasa
bersarang dalam

rimba
raya diri.

 

Adab
ini bakal menghalaumu

dari
semua kenikmatan.

Yang
di depanmu andaikanlah

hampa
belaka.

 

Sebab
bila kau kalah

oleh
lipuran pandang,

anasir
suram menyerang

diam-diam
merambah tubuh,

merambani
peraluranmu,

mengunci
liku lenggak gerikmu.

 

Bukankah
perutmu disawang

kian
membubung, melambung.

Bukankah
kau pantang terpikat

gelagat
loba yang tak puas

meski
gunung membentang

telah
tertelan.

 

Tenangkan
nafsumu.

Ikat
hasrat menggelegakmu.

Tekan
simpul-simpul laparmu.

 

Susu
murni biar umpama nanah

yang
jijik di kerongkongan.

Pun
aroma rempah  menguar dari

gulai
dan kari tak lebih kebohongan

di
meja makan.   

 

(2019)

Kantuk

 

Aku
datang dengan sopan.

Kau
jangan berlalu dari

gelanggang
berirama ini.

 

Sudah
kutata kursi, televisi.

Kurapikan
perabot. Tergelar

selimut
panjang sepanjang

 

ranjang.
Maka sandarkan

puisimu,
kendurkan urat

kencang
kata-katamu.

 

Aku
pula maujud rayuan

yang
menggerakkan kelopak

matamu
biar renang ke seberang.

 

Melintasi
palung dangkal ini.

Kian
kusedapkan hawa dingin

dengan
secangkir susu paling

 

suam.
Pulang segera dari segala

jaga.
Simpan ia rapat-rapat

di
lemarimu. Bukankah sebidang

 

kasur
adalah haribaan paling setia

menyandingmu
menyaksikan

gulita
langit malam ini dalam

 

mimpi.
Sebab ia yang paling tak

kau
tunggu, paling kau hindarkan

dari
gelanggang tanpa aran, akan

 

bijak
menyelinap dan memindah

segala
di ruang tamu tanpa

menguar
kidung gaduh.

 

(2019)
 


Pemirsa blog saia yang budiman, setelah empat tahunan lebih saya tidak memutakhirkan blog saia ini, tibalah waktu bagi saia untuk mengaktifkan kembali blog ini. Sembari sambilan pula saya dan kawan-kawan di Kabe Gulbleg mempersiapkan sebuah project. Untuk awalan aktif ngeblog lagi, saia akan suguhkan beberapa puisi saia yang termuat pada medio 2019-2020-an. Berikut adalah dua puisi yang termuat pada zine pdf Matapuisi edisi Agustus 2020 yang digawangi oleh duet penyair Hasan Aspahani dan Dedy Tri Riyadi. Ada tujuh puisi yang tersiar di terbitan Matapuisi Agustus 2020 yang juga secara khusus mengulas almarhum Sapardi Djoko Damono. Ada pun versi lengkapnya, kawan-kawan bolehlah berlangganan Matapuisi dengan menghubungi Bang Hasan Aspahani atau Mas Dedy Tri Riyadi. Terima kasih.   



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved