Connect with us

Feature

Ramadhan di Madinah: Wajib Vaksin dan Tarawih yang Dibatasi Waktunya

Published

on


Madinah adalah salah satu mahkota Islam yang bersinar sepanjang sejarah. Sejak dimulainya peradaban Islam, ia menjadi hulu dari aliran ilmu. Menjadi pangkal dari setiap gerakan. Dan simbol dari keragaman yang hidup dan terus berkembang dengan caranya yang khas.

Sejarah bergulir, begitu pun manusianya. Kepemimpinan berganti warna dari satu menuju lainnya, menjaga roda takdir yang telah Allah tetapkan jauh sebelum kesadaran menjadi sumber kehidupan. Hari ini Madinah dipayungi sebuah sistem kenegaraan yang berbentuk kerajaan sambil tetap memilih Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber dalam setiap pengelolaannya.

Madinah tetaplah Madinah, selalu meninggalkan kesan berbeda pada setiap mata yang menjejaknya. Bagi mahasiswa,  terkhusus mahasiswa indonesia, madinah terasa hampir seramah lingkungan rumah. Apalagi, ketika Bulan Ramadhan mulai masuk dan mengambil bagian.

Rasanya akan sangat aneh dan tak masuk akal jika ada yang kelaparan di kota ini selama bulan Ramadhan. Pasalnya, makanan, terlepas menu ataupun jenisnya, dibagikan hampir di setiap titik keramaian. Di tepi jalan, di gerbang depan masjid, di sekitar asrama, di pedestrian tempat orang ramai berlalu-lalang. Bahkan ada yang mengetuk pintu dari satu kamar ke kamar  lain hanya untuk membagikan makanan. Itu belum dihitung dengan masjid-masjid yang menyediakan hidangan berbuka, makan malam atau sahurnya.

Muhsinin (baca: para dermawan) yang gencar mengirim orang-orangnya untuk membagikan beras, minyak, gula  dan kebutuhan rumah tangga lainnya bagi mahasiswa, terutama yang telah berkeluarga, sangat mudah ditemui di banyak tempat. Ramadhan di Madinah, mungkin hampir sama dengan kota-kota berpenduduk mayoritas muslim lainnya di dunia, selalu punya cara untuk “mengenyangkan” lahir dan batin para penduduknya.

Namun tahun ini, sudah kali kedua euforia Ramadhan dibingkai dalam suasana pandemi covid-19 yang melanda dunia. Tak terkecuali Madinah. Dari sini, banyak hal-hal yang sebenarnya bisa diceritakan. Dan sebagai salah satu Lulusan Corona yang diwisuda lewat sebuah video singkat di media sosial, rasanya sangat disayangkan jika momen Ramadhan terakhir sebagai mahasiswa strata satu di kota cahaya ini hanya dibiarkan berlalu begitu saja. Tak perlu dibahas semuanya. Kita hanya akan memilih segelintir hal yang terasa cukup unik mengingat hal itu hanya terjadi baru-baru ini, sebagai sambutan untuk bulan suci dan pandemi yang datang bergandengan tangan dalam satu momen inti.

Vaksin

Salah satu hal yang membuat Ramadhan-pandemi tahun ini berbeda dengan sebelumnya adalah vaksin. Ya, mengingat sudah lebih dari satu tahun dan akhirnya vaksin sudah mulai dikembangkan dan kelihatannya juga sudah siap digunakan tahun ini. Saudi menjadi salah satu negara yang paling serius menyikapi vaksin dan pandemi. Karena, tentu saja, sebagai tuan rumah umat muslim dunia dalam ibadah haji dan umroh setiap tahunnya, pandemi di Kerajaan Alu Suud generasi ketiga ini menjadi sangat krusial untuk ditangani.

Hal yang menarik adalah, pada awalnya baik penduduk asli maupun pendatang di negeri ini, secara umum tak terlalu mengindahkan himbauan untuk mengambil vaksin. Hal ini terlihat dari data yang dilansir oleh laman ourworldindata.org, dimana jumlah vaksin yang diberikan dari 6 Januari 2021 hingga pertengahan bulan maret hanya mencapai 2.08 juta dosis dari keseluruhan populasi saudi yang saat ini menyentuh angka 35,2 juta jiwa. Namun, hanya dalam waktu kurang dari sebulan setelah itu, angka pemberian vaksin meningkat hingga menembus  7 juta dosis. Atau lebih dari dua kali lipat dari yang telah diberikan sebelumnya. Lantas apa yang membuat kami, para penduduk maupun ekspatriat, begitu semangat mengantri berjam-jam untuk mendapatkan vaksin? Saya pribadi sebagai mahasiswa hanya mampu memikirkan satu alasan utama. Haramain (dua kota Haram: Mekkah dan Madinah).

Seperti yang kita tahu, Ramadhan tahun ini dimulai pada pertengahan April. Dan gelombang keimanan umat berikut semangat ibadah mereka juga kian naik seiring mendekatnya bulan suci. Entah untuk shalat berjamaah di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, beriktikaf, atau berziarah dan umroh. Tak seperti tahun sebelumnya, yang bahkan Masjid Nabawi saja ditutup untuk umum pada bulan Ramadhan, tahun ini kedua situs suci dibuka oleh pihak kerajaan. Tapi, apa jadinya jika kesempatan yang terbuka dan semangat yang kuat ini tiba-tiba dihadapkan pada instruksi resmi kerajaan bahwa “Hanya mereka yang telah diberi vaksin yang diijinkan menginjakkan kaki di Masjid Nabawi ataupun Masjid al-Haram.” Alhasil, sekian juta orang dalam waktu singkat berbondong-bondong menyerbu aplikasi untuk mem-booking pemberian vaksin di setiap kota. Kami sendiri mahasiswa bahkan kesulitan untuk memesannya, karena durasi pemesanan hanya  dibuka beberapa menit dan akses yang selalu ramai oleh para pengguna. Bahkan di antara kami sampai ada yang membuka jasa pemesanan vaksin bagi orang-orang yang menyerah untuk bertarung sendiri lewat aplikasi.

Vaksin menjadi syarat mutlak untuk prosesi ibadah apapun di dua situs suci tahun ini. Belakangan beberapa pelayanan publik juga mulai mensyaratkan vaksin sebelum mengajukan aplikasi. Seperti pengurusan ijazah, atau imigrasi.

Tarawih

Sewaktu di Indonesia, saya dan beberapa remaja yang sebaya punya kebiasaan yang sudah dilestarikan oleh masing-masing keluarga secara turun-temurun: mencari masjid yang shalat tarawihnya paling cepat selesai. Tapi bahkan dengan kebiasaan seperti itu, kami tak pernah menemukan tarawih yang rakaat shalatnya kurang dari delapan (sebelas rakaat ditambah witir). Malah jika dibandingkan, kadang durasi waktu tarawih yang delapan rakaat bisa sama bahkan lebih lama dari yang dua puluh; karena pada akhirnya semua bergantung pada kecepatan dan panjangnya surat-surat al-Quran yang dibawakan imam shalat.

Ketika pertama kali datang ke negri para Anshar ini, kami menemukan hal yang sama seperti di rumah: rakaat tarawih yang delapan dan dua puluh. Yang berbeda adalah, tak ada faktor kecepatan dan panjangnya surat. Karena di Masjid Nabawi kami memulai tarawih sekitar jam sembilan malam dan baru selesai sekitar jam sebelas atau setengah dua belas malam.

Namun, pandemi ternyata membawa hikmah yang unik kali ini. Karena untuk pertama kalinya selama wabah Covid, masjid-masjid dibuka untuk melaksanakan tarawih berjamaah dengan catatan, tak boleh lebih dari satu jam terhitung sejak salat isya dimulai. Ketika membaca instruksi ini, saya dan beberapa teman yang punya pengalaman senada di Indonesia saling menatap dan cengar-cengir sendiri. Tak terbayang, akan seperti apa pendeknya durasi salat tarawih nanti.

Dan benar saja, untuk mematuhi perintah raja, ternyata masjid-masjid lokal melaksanakan tarawih dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda. Mulai dari dua, empat, enam, delapan dan sepuluh (semuanya ditambah witir tiga rakaat). Haram Nabawi dan Makki sendiri melaksanakan salat tarawih sepuluh rakaat, tiga belas dengan witir. Di antara mahasiswa ada yang sempat ragu dan heran dengan panduan atau dasar yang digunakan untuk menentukan jumlah rakaat tarawih yang tak biasa ini, tapi ide itu lantas hilang seiring berjalannya tarawih yang diikuti dari hari ke hari. Jika hal seperti ini terjadi di Indonesia, mungkin akan ramai dan jadi buah bibir banyak orang. Minimal orang-orang yang berbahagia dengan menghabiskan waktunya berselancar bebas di dunia digital.

Zamzam

Bagi yang pernah berumrah ataupun haji ke tanah suci mungkin sempat mengetahui tentang air Zamzam yang berlimpah di kedua masjid Nabi ini. Beberapa jamaah bahkan ada yang sengaja mandi dengan air Zamzam yang dikumpulkan dari masjid. Begitu pula di Masjid Nabawi, Zamzam yang dikirim ratusan ribu kubik setiap harinya dibagikan dalam dispenser yang berjejer rapih di sepanjang selasar masjid. Banyak mahasiswa yang mengisi Zamzam di penghujung hari untuk dikonsumsi pribadi.

Adapun sekarang, untuk mengurangi sentuhan dan kerumunan orang, air Zamzam dikemas oleh pihak pengelola dua masjid suci dalam bentuk botol-botol cantik berukuran 330 ml dan 200 ml. Dan sama seperti sebelumnya, air ini tidak untuk diperjualbelikan sama sekali. Bahkan tak bisa didapat di luar dua masjid utama. Zamzam inilah yang menjadi salah satu daya tarik Haramain sebulan terakhir. Mengingat kemasan edisi terbatas dan juga tak disediakan berlimpah, para jamaah semakin semangat mengumpulkan zamzam ini sepulang dari salat tarawih atau tahajudnya. Ada yang berencana dibagikan untuk keluarga saat pulang ke Indonesia, ada yang hanya menyimpannya untuk diminum saat dibutuhkan tapi sepertinya lebih banyak yang tertarik karena kemasan edisi terbatas yang belum tentu akan dikeluarkan lagi tahun depan.

Bulan yang mengambang di langit subuh ini mulai melengkung tajam. Sebagian besar tubuhnya sudah termakan bayangan gelap dan hanya menyisakan sedikit bidang yang bersinar pucat di tepiannya. Al-Qur’an menggambarkannya seperti pelepah kurma tua yang merunduk begitu rendah menunggu gugur ke atas tanah. Bulan ini sudah tua, tentu saja, karena lebih dari dua pertiga harinya telah berlalu bersama waktu. Menyisakan banyak pertanyaan tentang koreksi diri yang masih begitu jauh dari kata selesai.

Sudah berapa lama mata ini melembari ayat-ayat dalam Al-Qur’an? Sudah berapa kali suara ini merampungkan kitab-Nya? Adakah hikmah yang sudah ditangkap akal ini dari ayat-ayat-Nya sejak memulai tilawah dengan basmalah di hari pertama puasa? Berapa banyak perut lapar yang berhasil ditambal dengan amal kebaikan? Adakah nafsu ini semakin lunak seiring akhir dari bulan mulia yang kian mendekat? (AN)



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Feature

Ziarah ke Makam Sunan Tulub Batam: Berziarah Sambil Menikmati Pemandangan Gedung-gedung Singapura

Published

on

By


Perjalanan menuju makam Sunan Tulub tak seperti ziarah pada umumnya. Jika ziarah Wali Songo, cukup ditempuh dengan rute perjalanan darat, seperti mobil atau bus, ziarah ke makam Sunan Tulub tidak demikian. Untuk sampai ke sana, membutuhkan perjalanan yang lumayan panjang. Dari kota Batam, kita perlu menuju pelabuhan feri Sekupang. Pelabuhan ini biasanya digunakan oleh para penumpang yang ingin menyeberang dari Batam ke Singapura.

Namun, untuk menuju pulau Tulub, kapal yang digunakan berbeda. Biasanya dengan menggunakan kapal sampan kecil, berisi sekitar 10-15 orang. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa satu kapal kisaran 400-450 ribu rupiah, tergantung tawar-menawar antara penumpang dan pemilik kapal. Karena kapal ini tidak akan jalan kecuali penuh, maka disarankan rombongan.  Jika berangkat rombongan, maka biaya sewa kapal tersebut bisa cukup terjangkau, alias 40 ribu/orang.

Selama perjalanan menggunakan kapal kecil, kami melewati beberapa pulau hingga akhirnya sampai di pulay Tulub. Makam Sunan Tulub ini tidak seperti makam biasanya, berada di pulau kecil tengah laut, di ujung perbatasan Indonesia. Sehingga saat menempuh perjalanan ke sana, kita akan disuguhi pemandangan gedung-gedung pencakar langit Singapura. Hotel Sand Marina Bay dengan tower kembarnya serta penghubung ala perahu di atasnya lumayan jelas terlihat, begitu pula tower-tower lain di sekitarnya.

Selama perjalanan, siapkan kameramu, karena banyak pemandangan menarik yang sayang untuk dilewatkan. Perjalanan dari pelabuhan Sekupang ke Pulau Tulub membutuhkan waktu 30-45 menit. Kami beruntung, saat sampai di dermaga pulau Tulub, air masih belum pasang, sehingga kami bisa turun di dermaga. Jika pasang, air bisa sampai di serambi masjid.

Suasana dermaga menuju Makam Sunan Tulub

Setali tiga makam

Di pulau Tulub ada tiga makam auliya dan solihin yang bisa diziarahi. Pertama, makam Syekh Syarif Ainun Naim, yang merupakan saudara Sunan Giri. Makamnya berada di atas bukit pulau Tulub kecil. Di Google maps dinamai sebagai Pulau Senang. Kita perlu menapaki puluhan tangga untuk sampai di sana. Makamnya terletak di bangunan mirip musholla. Menapaki tangga memang menguras banyak tenaga, namun saat sudah sampai di depan bangunan makam ini, rasanya capek dan pegal terbayar. Pasalnya, kita dapat merasakan indahnya berada di tengah laut.

Makam Syarif Ainun Naim, saudara Sunan Giri di bukit pulau Tulub

Makam kedua, adalah makam Syekh Maulana Nuh al-Maghribi yang terletak di samping masjid, tepatnya di samping kiri masjid. Pada nisannya tertulis tahun wafatnya: 437 H. Konon, makam ini ditemukan oleh Habib Luthfi Pekalongan. Saat itu, murid Habib Luthfi bernama K.H Nur Hamim Adlan diminta untuk mencari makam tersebut berdasarkan petunjuk sang habib. Walaupun secara tahun wafat lebih tua, namun makam ini ditemukan belakangan, setelah makam Syekh Syarif Ainun Naim. Sedangkan makam ketiga adalah makam Habib Hasan Al Musawa, terletak di pulau Tulub besar.

Pulau Tulub kecil yang terdapat dua makam di sana hanya dihuni satu keluarga: suami, istri dan satu anak. Sehari-hari nampaknya mereka yang mengelola makam ini. Saat saya berkunjung ke sana, saya hanya bertemu dengan mereka. Sebelumnya ada sekelompok peziarah juga dari kota Batam. Sama seperti saya dan rombongan, biasanya mereka pulang menjelang malam.

Sebelum berangkat ke pulau ini, usahakan bawa bekal sendiri, ya. Karena di pulau ini kamu tidak akan bertemu dengan penjual makanan, apalagi minimarket. Jika ada rejeki lebih, usahakan untuk memberi donasi atau sedekah pada keluarga yang tinggal di pulau kecil ini. (AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Orang Bawean dan Masjid Pertama di Vietnam

Published

on

By


Bagi banyak orang di Indonesia, Bawean sepertinya tidak asing lagi. Nama sebuah pulau yang terletak di utara pulau Madura, Jawa Timur. Tapi mungkin masih sedikit yang mengetahui bahwa mereka termasuk salah satu komunitas Muslim yang berpengaruh dalam geliat perkembangan Islam di kota Ho Chi Minh, kota ekonomi terbesar di negara Vietnam bagian Selatan. Konon, orang Bawean merupakan kelompok yang pertama kali menyelesaikan pembangunan masjid di negara komunis ini.

Saya sendiri baru mendengar kisah mereka sekitar empat tahun lalu saat berkunjung ke kota Ho Chi Minh. Suatu pagi, seorang kawan mengajak saya untuk makan Banh Mi (roti sandwich khas Vietnam) halal di depan sebuah masjid, saat itulah ia menceritakan kisah orang-orang yang bermukim di sekitarnya. Mayoritas mereka adalah Muslim dari Indonesia yang telah memasuki generasi ketiga atau keempat. Termasuk yang menjual Banh Mi dan pemilik warung tenda yang menyediakan makanan halal rumahan di sudut depan masjid.

Masjid ini bernama masjid (Cong Dong Hoi Giao) Al Rahim Malaysia-Indonesia. Beberapa kali saya mengunjungi tempat ini untuk berusaha bertegur sapa dengan saudara sebangsa, tapi tidak satupun yang saya temui bisa bertutur dalam Bahasa Melayu, apalagi Indonesia. Komunikasi saya dengan beberapa orang dibantu terjemahan oleh kawan saya. Menurut mereka, meski keturunan Indonesia, sangat sedikit yang bisa berbahasa melayu, kecuali anak-anak mereka yang sempat bersekolah atau kuliah di Indonesia atau Malaysia.

Orang Bawean

Saya berusaha mencari kisah mereka dalam referensi sejarah, namun ternyata sangat sedikit, untuk tidak mengatakan nihil sarjana Indonesia yang membicarakan tentang keberadaan orang Bawean di kota Ho Chi Minh. Imigrasi mereka dari pulau di utara pulau Jawa ke Semenanjung Indocina diceritakan oleh beberapa sarjana luar yang menulis tentang Islam di Indocina.

Salah satu tulisan penting yang merekam kembali jejak historis bagaimana orang bawean bisa sampai ke Ho Chi Minh dan bagaimana dinamika mereka menjadi diaspora di negara komunis ini, dilakukan oleh Malte Stokhof, seorang antropolog dari Belanda.

Menurut Stokhof (2008), kedatangan mereka termotivasi oleh tiga faktor: pertama, sosial-ekonomi, mereka berusaha mencari pekerjaan yang layak, menjauh dari sistem kerja di masa kolonial Belanda; kedua, budaya merantau; dan ketiga karena faktor agama, orang Bawean yang pergi haji akan transit di Singapura, mereka yang mencari pekerjaan di Singapura, banyak di antaranya yang menaiki kapal yang akan berlayar ke semenanjung Indocina untuk bekerja di bawah pemerintahan Prancis saat itu.

Marcel Ner (1937), mengesahkan dan mengisahkan kemungkinan ini, sekitar tahun 1850an, terdapat 300 orang yang menuju ke Saigon, nama kota Ho Chi Minh dulu, yang berangkat dari Singapura. Saat tiba, mereka menjadi pekerja untuk pemerintahan protektorat Prancis. Mereka yang datang, termasuk orang Bawean dikenal sebagai Malais, orang Melayu. Masa itu, pemerintahan Prancis di Indocina memang dikenal memiliki kebijakan terbuka untuk menerima pekerja dari luar.

Masjid Pertama 

Pada saat itulah, orang Bawean mulai mendirikan masjid untuk kepentingan ibadah komunitas mereka, yang dinamakan Chua Ma Lai, Masjid Malaysia. Rie Nakamura, salah satu sarjana yang menulis sedikit tentang Masjid Al Rahim sebagai masjid pertama di kota Ho Chi Minh, menurutnya, mereka mendahului komunitas India dalam penyelesaian masjid.

Meskipun pada awalnya, masjid ini bernama Masjid Malaysia, namun sekitar tahun 1973 nama masjidnya diubah. Didasari oleh kesadaran orang Bawean adalah orang Indonesia, bukan Malaysia. Walau demikian, tidak ditemukan informasi detail nama masjid setelah perubahan tersebut.

Saat ini, seperti yang tertulis, masjid ini bernama Masjid Al Rahim Malaysia-Indonesia, dibangun sejak 1885. Di kalangan masyarakat muslim di Vietnam, masjid ini juga sering disebut dengan masjid Boyan, dari nama Bawean. Penambahan nama Malaysia-Indonesia, lebih karena masjid tersebut dibangun kembali oleh dua pemerintah: Malaysia dan Indonesia, setelah dipugar pada sekitar tahun 2010.

Jika diamati sekilas, masjid Al Rahim merupakan salah satu masjid yang unik, berbeda dari kebanyakan masjid di kota Ho Chi Minh. Umumnya, masjid-masjid lain memiliki corak arsitektur yang mirip dengan masjid di Asia Selatan, India dan Pakistan, namun Al Rahim tampak lebih mirip masjid di Indonesia dan Malaysia.

Masjid ini terletak di tengah hiruk pikuk aktivitas ekonomi. Lokasinya dekat dengan Saigon Sky Deck, Gedung tertinggi di kota ini. Tidak jauh dari Pasar Benh Than, tujuan belanja dan pusat kegiatan para pelancong. Masjid ini terletak di pinggir jalan raya, sementara kiri kanannya dihimpit oleh pemukiman warga muslim, mereka itulah mayoritas orang Bawean. (AN)

 

Oleh: Khaidir Hasram

Alumni Sps UIN Jakarta, meminati kajian minoritas Muslim dan Islam di Indocina 



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Cerita Jadi Muslimah Bekerja: Tidak Berjilbab Dinyinyirin, Kerja Disuruh Berhenti Jika Ingin Hamil (2-Habis)

Published

on

By


Ia memang memilih untuk tidak berjilbab. Di rumah, ia dan suaminya sepakat untuk berbagi beban. Keduanya juga sama-sama bekerja. Suami juga tidak masalah dengan pilihan istri yang ingin mengejar karir. Tapi, suatu ketika ia berkumpul dengan keluarga besar, eh ada yang nyeletuk.

“Itu Sheena kerja terus, kapan hamilnya?” tukas salah seorang saudara.

Sheena—bukan nama sebenernya tentu saja—awalnya terbiasa bilang ‘belum dikasih’ atau paling banter cuma menjawab‘minta doanya atau selemah-lemahnya Cuma bisa tersenyum. Tapi, itu saja teryata masih belum cukup. Ada komenter yang membuat ia sebal juga.

“Kurang-kuranginlah kerjanya. Perbanyak doa biar hamil. Biarin aja suami yang kerja. Toh hidup sudah cukup.”

Ya ya. Hamil tidak segampang itu, Tante-tante. Begitu komentarnya dalam hati. Toh, orang-orang ini tidak tahu perjuangan ia dan suaminya. Mereka pun tidak tahu cita-cita dan terjalnya hidup yang harus dihadapinya.  

“Mungkin karena masih ‘terbuka’. Mulai aja ditutup itu tubuhnya,” tukas yang lain.

Dan, kalimat itu yang bikin kuping ia panas.

Bukan karena fakta ia memilih tidak berjilbab dengan alasan yang benar-benar ia pahami. Tapi, ia jengkel karena celetukan itu datang dari perempuan, sesama muslimah.  Bukankah harusnya sesama perempuan harus lebih peka?

*

Saat itu ia datang bersama suaminya, kawanku, dan ia menceritakan kisah yang ia alami. Saya pesan susu latte dingin, mereka pesan kopi dan pelbagai kudapan. Obrolan kami memang tidak melulu tentang jilbab, rumah tangga maupun segala pernik kehidupan urban yang kami jalani. Tapi, harus diakui, obrolan ini

“Bayangin saja ya, gue kan memang tidak pandai memasak. Eh ada loh yang nyinyir. Perempuan apaan gak bisa masak. Jadi apa keluarganya,” katanya bersemangat,”y ague jawab ‘ya bisa bayar cicilan kartu kreditlah, bisa lebih sering jalan-jalan’ hahaha,” tambahnya.

Saya tersentak. “Beneran bilang gitu?” tanya saya.

Mereka berdua tertawa. “Mana berani dia,” celetuk suami.

“Hahaha, iye Cuma dalam hati. Mana berani jawab kalau ada so called tante-tante di rumah gue udah gitu. Daripada panjang urusan hahaha,” kelakarnya.

“Pasti lu ngalaminlah,” tukas temanku.

Tentu saja, jawabku, meskipun levelnya mungkin tidak sampai kena nyinyir seperti mereka. Apalagi, istri saya pun tidak berjilbab dan itu berdasarkan pilihan kenyamanan dan teologis. Saya percaya, tafsir tentang jilbab ini tidak tunggal. Kami sering membahas pilihan-pilihan ini dan mendiskusikan pelbagai tafsir terkait muslimah dan jilbab ini.

Saya percaya, manusia punya pilihan bebas dan kehendak atas apa pun pilihan hidup yang akan dijalaninya dan bersiap atas segala konsekwensi. Tak terkecuali muslimah. Mereka dalam Islam mendapatkan begitu banyak penghormatan bahkan dalam hadis lebih harus dihormati tiga kali lebih banyak dari seorang ayah, juga harusnya mendapatkan hak untuk mengekspresikan kebebasannya.

Dalam sejarah Islam toh kita melihat nama muslimah-muslimah yang bebas berkehendak hingga akhirnya tercatat dengan tinta emas sebagai pelopor perkembangan Islam. Mulai dari Siti Khadijah yang menjadi pedagang dan supporter utama Rasulullah hingga saintis seperti Aisyah yang juga menjadi kekasih yang paling dicintai Rasulullah.

Baca juga: Cerita Muslimah Jadi Bekerja, Dinyinyirin Masjid di Kantor

Meski begitu, sayangnya di beberapa sebagian muslim kita masih berpendapat bahwa suara muslimah ini terbatas. Ya, terbatas oleh ajaran tafsir agama dan lingkungan. Bahkan, dengan kecenderungan sekarang ini, mereka yang berbeda pendapat seperti soal jilbab terkadang harus mendapatkan nyinyirin dan mungkin diskriminasi.

Sesuatu yang saya bayangkan tidak akan terjadi jika merek lebih mengenal sosok seperti Khadijah, misalnya. Permasalahan itu kian kompleks ketika Gerakan untuk menertibkan tubuh perempuan dan muslimah mulai santer belakangan ini, khususnya di kota-kota besar.

“Apalagi di Grup WA keluarga, yang muda-muda gini harus siap-siap dah diem aja udah jika sudah ngomongin jilbab,” tuturnya.

“Apalagi  gue disuruh berhenti kerja jika ingin hamil. Apa korelasinya? Gue akan stress kali kalau di rumah dan nggak ada kerjaan,” tambah Istri.

Kami bertiga pun hanya bisa tertawa-tawa. Pilihan menjadi muslimah yang bekerja dan anda belum dikasih karunia berupa kehamilan memang terkadang rumit. Apalagi jika berjumpa dengan lingkungan yang tidak asyik seperti yang kami alami. Padahal, jadi perempuan saja menurutku sudah berat: kamu harus mengalami menstruasi bulanan yang sakitnya saya yakin setara dengan sunat bagi laki-laki.

Bedanya, sakitnya disunat itu cuma sekali seumur hidup bagi laki-laki, tapi sakitnya menstruasi bagi perempuan itu terjadi tiap bulan. Sekali lagi, tiap bulan. Belum lagi jika ia sudah hamil dan melahirkan dan terus bekerja demi menafkahi keluarga, demi merengkuh mimpinya sebagai manusia, sebagai perempuan.

Makanya, pilihan bagi muslimah untuk bekerja dan karir adalah sebuah jalan ninja yang luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukannya. Dan pilihan terbaik bagi kita sebagai manusia adalah menghormatinya dengan sepenuh-penuhnya penghormatan seperti halnya Nabi begitu menghormati sosok Khadijah yang juga bekerja membangun mimpinya.

 

*Feature ini hasil kerja sama Islami.co dan RumahKitaB*



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved