Connect with us

News

Puisi-Puisi Badaruddin Amir – – SastraMagz.com

Published

on

banner 300250


MALAM LEBARAN

Kucoba cari bulan di atas kuburan
Yang kutemui suara-suara takbiran

Menggema bersileweran di atas angkasa
Memekikkan kenangan dari masa ke masa

Pada kedamaian hati kutangisi kepergianmu
Berharap kelak kita masih dapat bertemu

Ada dentun mercon dan percik kembangapi
Anak-anak di jalanan ramai mengusir sepi

Ramadhan yang datang membawa kedamaian
Ramadhan yang pergi meninggalkan kenangan

Tak ada bulan dan lelatupun telah padam
Dalam diam Ramadhan mengucap salam.

MAGRIB

Kulewati magrib-Mu dalam sholat yang sederhana
Aku imam dan anak istriku makmunnya
Sehabis salam aku berdoa tanpa getar suara :
Ya Allah ampunilah kami dari segala dosa dan salah
Dan anak istriku mengaminkannya.

MALAM

apa yang lebih gelap dari malam ?
adalah hati yang risau katamu
tapi malam dan hati risau bisa berdamai
hati yang risau bisa menjadi terang
sehabis kau bersimpuh
di atas sajadah malam.

MASSIARA *

selepas lebaran
anak-anak yang lugu itu
berombongan mendatangi rumah penduduk
dari pintu ke pintu
“Maasiaraaa !” teriak mereka di pintu

mereka tak perlu masuk sebagai tamu
karena mereka hanyalah para “pensiarah”
mereka tak perlu hidangan yang disiapkan
karena mereka hanya butuh uang
: uang receh pecahan 2000-an

anak-anak yang lugu itu
menikmati hari lebaran dengan sumrigah
lihatlah wajah-wajah mereka ceriah
mengharap pecahan 2000-an
lepas dari tanganmu

mereka bukanlah para pengemis
baju dan celana mereka masih baru
demikian juga dengan sandal dan kopiah
baru dibeli di pasar kemarin menjelang lebaran

anak-anak yang lugu itu
mendatangi rumahmu dari pintu ke pintu
jangan tolak kebahagiaannya
berilah mereka recehan 2000-an
dan ajari mereka mengucapkan terimakasih

anak-anak yang lugu itu
adalah kita di masa lalu
yang menikmati kebahagiaan hari lebaran
membayangkan betapa bijak orang-orang dewasa
yang memberi sedekah di hari lebaran
dengan receh uang 2000-an

“maassiara !” teriak mereka dari pintu ke pintu
Jangan ada kata “maaf, nak kunci lemari patah !”

___
• Massiara adalah tradisi anak-anak etnis Bugis pasca lebaran untuk mendapatkan hadiah lebaran, semacam ‘ampao’di perayaan Imlek bagi etnis Cina.

KURINDUKAN SEBUAH GUA TEMPAT AKU
BERDIAM DIRI SEPERTI DIRIMU MUHAMMAD
DI GUA HIRA DULU

kurindukan sebuah gua tempat aku berdian diri
seperti dirimu Muhammad di gua hira dulu
aku tak ingin diganggu karena barangkali diriku
segera jadi gila diusik oleh galau zaman dan
gelombang pancaroba

hari yang berlari demikian cepatnya tak terkejar
juga meski aku telah menunggangi cahaya, maka
kurindukan sebuah gua tempat aku berdiam diri
melebur jagadrayaku dan jagadkecilku dalam zikir
yang tertatih

maka ajari aku bagaimana dulu kau menerima wahyu
menatingnya tanpa aksara dan menghafalnya luar kepala
karena aku rindu lempengan-lempengan cahaya
yang segera akan kutulis dalam bait-bait puisi cinta
sebagai sembahsujudku pada-Nya

barangkali mataku akan buta merindu jatuhnya cahaya
dalam sebuah gua, tapi aku akan siap dengan sepasang
telinga menyimak galau zaman dengan kalam
dan kitab di tangan.

___________
*) BADARUDDIN AMIR lahir di Barru, Sulawesi Selatan, 4 Mei 1962. Pendidikan S1 diselesaikannya di FPBS IKIP Ujung Pandang tahun 1999, sedang Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dirampungkannya di Unimuh Makassar tahun 2010. Sejak 1981 mengabdi sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia di beberapa SMP Kabupaten Barru, dan sejak 2013 dipercaya sebagai Kepala SMP Negeri di salah satu SMP di Kabupaten Barru. Tahun 2017 diangkat sebagai Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Barru. Di samping itu sebagai wartawan dan Kepala Biro Majalah Dunia Pendidikan Dinas Pendidikan Propinsi Sulawesi Selatan, dan pernah menjadi wartawan di beberapa mingguan yang terbit di Makassar dan tabloid yang terbit di Kalimantan.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

MERENDAM DENDAM Nur Rofik KS

Published

on

By


 

 

 

 

 

MERENDAM DENDAM Nur Rofik KS

 

Malam memekikkan sunyi

Angan merendam pilu

Hayalan melambung tinggi

Tentang dendam lalu

 

Kemana kaki melangkah pasti

Bila kau jauhkan diri

Dari kepasrahan pada Ilahi

 

Panggul, 17 Juni 2020

 

Bagus. Sudah bagus. Koreksi hanya pafa kata “hayalan”. Menurut kakek seharusnya :khayalan” tapi coba buka KBBI .. mungkin kakek yang salah.

Ayo coba #4334

 

Selamat berlatih.

Source link


[ad_2]
Sumber Berita

Continue Reading

News

TERTIMBUN TANAH | Obrolan Santai – SastraMagz.com

Published

on

By


TERTIMBUN TANAH

Jagat Satria Pasopati

 

Belati menusuk merajam

Lukanya begitu dalam

Jiwa menjadi kelam

Terkapar pada malam

 

Tercecer percikan yang merah

Sungguh menyengat amis darah

Raga mati tertimbun tanah

 

Jateng, 17-06-20

 

Bagus. Tak ada yangh mesti dikoreksi. Silakan coba #4334.

Source link


[ad_2]
Sumber Berita

Continue Reading

News

Puisi-puisi Dody Kristianto termuat di MataPuisi Agustus 2020 – SastraMagz.com

Published

on

By


Kaidah
Diet Ketat

Kau
diusir oleh perjamuan ini

sebab
harus kau tetak segera

raksasa
bersarang dalam

rimba
raya diri.

 

Adab
ini bakal menghalaumu

dari
semua kenikmatan.

Yang
di depanmu andaikanlah

hampa
belaka.

 

Sebab
bila kau kalah

oleh
lipuran pandang,

anasir
suram menyerang

diam-diam
merambah tubuh,

merambani
peraluranmu,

mengunci
liku lenggak gerikmu.

 

Bukankah
perutmu disawang

kian
membubung, melambung.

Bukankah
kau pantang terpikat

gelagat
loba yang tak puas

meski
gunung membentang

telah
tertelan.

 

Tenangkan
nafsumu.

Ikat
hasrat menggelegakmu.

Tekan
simpul-simpul laparmu.

 

Susu
murni biar umpama nanah

yang
jijik di kerongkongan.

Pun
aroma rempah  menguar dari

gulai
dan kari tak lebih kebohongan

di
meja makan.   

 

(2019)

Kantuk

 

Aku
datang dengan sopan.

Kau
jangan berlalu dari

gelanggang
berirama ini.

 

Sudah
kutata kursi, televisi.

Kurapikan
perabot. Tergelar

selimut
panjang sepanjang

 

ranjang.
Maka sandarkan

puisimu,
kendurkan urat

kencang
kata-katamu.

 

Aku
pula maujud rayuan

yang
menggerakkan kelopak

matamu
biar renang ke seberang.

 

Melintasi
palung dangkal ini.

Kian
kusedapkan hawa dingin

dengan
secangkir susu paling

 

suam.
Pulang segera dari segala

jaga.
Simpan ia rapat-rapat

di
lemarimu. Bukankah sebidang

 

kasur
adalah haribaan paling setia

menyandingmu
menyaksikan

gulita
langit malam ini dalam

 

mimpi.
Sebab ia yang paling tak

kau
tunggu, paling kau hindarkan

dari
gelanggang tanpa aran, akan

 

bijak
menyelinap dan memindah

segala
di ruang tamu tanpa

menguar
kidung gaduh.

 

(2019)
 


Pemirsa blog saia yang budiman, setelah empat tahunan lebih saya tidak memutakhirkan blog saia ini, tibalah waktu bagi saia untuk mengaktifkan kembali blog ini. Sembari sambilan pula saya dan kawan-kawan di Kabe Gulbleg mempersiapkan sebuah project. Untuk awalan aktif ngeblog lagi, saia akan suguhkan beberapa puisi saia yang termuat pada medio 2019-2020-an. Berikut adalah dua puisi yang termuat pada zine pdf Matapuisi edisi Agustus 2020 yang digawangi oleh duet penyair Hasan Aspahani dan Dedy Tri Riyadi. Ada tujuh puisi yang tersiar di terbitan Matapuisi Agustus 2020 yang juga secara khusus mengulas almarhum Sapardi Djoko Damono. Ada pun versi lengkapnya, kawan-kawan bolehlah berlangganan Matapuisi dengan menghubungi Bang Hasan Aspahani atau Mas Dedy Tri Riyadi. Terima kasih.   



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved