Connect with us

Kilas Balik

Polemik Haji di Indonesia: dari Masa Kolonial hingga Era Pandemi

Published

on



Sudah berabad-abad masyarakat Indonesia akrab dengan kata haji. Kata haji disematkan bagi mereka yang telah melakukan serangkaian ritual di tanah suci. Seiring berjalannya waktu, haji menjadi identitas baru bagi masyarakat, di pelbagai kesempatan orang yang telah naik haji dipanggil Pak Haji atau Bu Haji. Haji pun menjelma menjadi gelar seseorang, misal Haji Misbah, Haji Agus Salim, Kiai Haji Abdurrahman Wahid, dan lain-lain.

Sampai-sampai sang empunya warung sate pun menuliskan di spanduknya “ Warung Sate Haji Sukidi”, saking fenomenalnya kata haji. Kancah perfilman pun tak mau ketinggalan. Mereka membuat serial film dengan judul Tukang Bubur Naik Haji. Film itu pun laris ditonton kaum emak-emak, bapak-bapak, anak kecil hingga orang dewasa. Haji telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia untuk menunaikan ibadah di tanah suci.

Naik Haji tak semudah naik tangga rumah sendiri. Halang rintang harus dilalui. Kita tentunya masih ingat pembatalan haji di tahun 2020 lalu, tatkala pandemi covid mulai menyerang seluruh negeri. Saat itu banyak masyarakat yang tertunda naik haji merasa begitu sedih dan mengharap tahun berikutnya untuk dapat naik haji.  Namun, apesnya ditahun 2021 ini naik haji pun dibatalkan oleh pemerintah.  Publik pun goncang dengan pelbagai isu miring terhadap pemerintah.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Banyak beredar isu  terkait pengelolaan dana haji, gagal lobi dengan pemerintah Arab Saudi, hingga  utang RI ke Saudi. Pemerintah melalui keputusan Menag No 660 Tahun 2021 tentang Pembatalan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1442 Hijriah/2021 Masehi. Adapun pertimbangan pemerintah dalam pembatalan haji tahun ini adalah untuk mengurangi penyebaran Covid 19 yang kini masih mewabah dan belum adanya kepastian dari pemerintah Arab Saudi.

Dikutip dari Detik news Menag Yaqut Cholil Qoumas menepis anggapan masyarakat terkait isu gagal lobi pemerintah dengan Arab Saudi. Ia menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan upaya diplomasi melalui Kemenag, Kemenlu, Kedutaan Besar, dll. Dalam upaya memastikan kuota haji serta jaminan keamaanan dan kesehatan jemaah haji.

Publik pun mulai bertanya-tanya apakah dana haji dialokasikan ke pembiayaan infrastruktur? apakah BPKH melakukan investasi dana tanpa izin pemilik dana? Apakah BPKH gagal investasi?. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH)  Anggito Abimanyu menyangkal tudingan tersebut ia juga menyangkal adanya gagal investasi. Menurutnya Investasi dana haji dilindungi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sehingga terlindungi dari kegagalan lembaga keuangan membayar investasi BPKH. BPKH menjamin bahwa dana haji aman. Meski demikian warga twitter tak mau ketinggalan melalui tagar #AuditDanaHaji menyalurkan aspirasi membahas sana dan sini.

Sejarah Pelarangan Haji

Sejarah pelarangan haji di Indonesia tidak hanya terjadi saat ini namun pernah terjadi era pemerintahan kolonial Belanda. Pada abad ke XVII pemerintah melarang masyarakat Indonesia yang akan melakukan ibadah haji menggunakan kapal milik kompeni dan masyarakat yang ingin berangkat ke Mekkah harus mendapatkan izin dari pemerintah. Hal ini dilakukan karena pemerintah kolonial khawatir terhadap Pan Islamisme yang saat itu sedang didengungkan di Timur Tengah. Mereka cemas jika Pan Islamisme tersebut mempengaruhi jemaah haji pribumi yang kemudian dapat mengancam kekuasaan kolonial.

Pembatasan haji ini diperparah pada abad ke XVIII, pemerintah kolonial menerapkan biaya tinggi untuk keberangkatan haji. Menurut M. Shaleh Putuhena dalam bukunya Historiografi Haji Indonesia (2007:293) Setiap jamaah haji harus mempunyai pas-jalan dengan membayar f110, sementara jamaah haji yang tidak memiliki pas jalan dikenai biaya f220. Pada 1874 jamaah haji diwajibkan memiliki tiket pergi-pulang (PP). Keputusan ini pun memberatkan calon jamaah haji yang notabene merupakan kalangan miskin. Tujuan kebijakan ini adalah tidak lain untuk mengurangi jumlah jamaah haji.

Pada tahun 1872 pemerintah kolonial Belanda membuka konsulat di Jeddah. Pemerintah juga mulai terjun langsung dalam mengelola proses ibadah haji, mulai dari keberangkatan hingga perpulangan. Semua itu dilakukan dalam upaya mempermudah pengawasan terhadap jamaah haji Nusantara.

Pemerintah kolonial memandang haji sebagai sesuatu yang berbahaya sehingga orang yang hendak pergi dan pulang dari Mekkah selalu diawasi. Kecemasan Belanda ini kemudian terjadi, pada tahun 1821-1832 meletus perang Padri. Perang ini dipelopori oleh tiga orang ulama asal Minangkabau yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piambang. Menurut Martin Van Brunessen dalam bukunya Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat (2012) pemberontakan petani Banten (1888) dan Sasak (1892) juga dipelopori oleh pengalaman tokoh-tokoh yang telah belajar di Mekkah.

Dahulu orang berangkat haji tak hanya untuk menunaikan ibadah, namun juga untuk mendalami ajaran agama. Mereka yang setelah belajar di Mekkah banyak yang tidak kembali ke tanah air dan menjadi ulama di sana. Kita mungkin tidak asing dengan Syech Nawawi al Bantani, Syech Mahfudz Al Termasi, Ahmad Khatib Al Minangkabawi mereka diantaranya yang tidak kembali ke tanah air. Dari merekalah jamaah haji Nusantara mendalami agama dan menghasilkan tokoh-tokoh penting bagi perjuangan bangsa Indonesia.

Kini haji kembali diuji lewat pandemi publik pun dituntut untuk legowo sambil berdoa semoga pandemi segera pergi. Pemerintah membatalkan haji sebagai langkah melindungi warganya dari berbagai ancaman pandemi. Alhasil tak ada penyematan gelar haji baru selama dua tahun ini. Kendati demikian semangat masyarakat pun tak pernah luntur untuk menunaikan ibadah haji. Keadaan ini dapat menjadi cerita untuk anak cucu nanti bahwa haji pernah cuti selama dua tahun karena pandemi. Semoga tahun depan warga Indonesia bisa kembali menunaikan ibadah haji. Amin.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kilas Balik

Asal-usul Munculnya Teologi Islam – Kilas Balik

Published

on

By



Diskursus ke-Tuhan-an selalu menjadi hal yang menarik untuk diutarakan dalam suatu komunitas kajian-masa kini- bahkan sejak zaman Herodotus, karena memang pada dasarnya manusia adalah homo religius mahluk yang memiliki naluri religius.

Disebutkan dalam A History of God bahwa manusia sejak dahulu kala telah banyak menyembah Dewa-dewa yang mereka yakini, ini menunjukan bahwa manusia selalu mengamini adanya kekuatan absolut di balik alam semesta ini (Karen Amstrong, A History of God, hal 13).

Masih menururt Amstrong, Agama yang tercatat pertama kali di dunia ini adalah apa yang pernah dibawa oleh Baginda Nabi Ibrahim, dimana Ia manusia yang pertama kali membawa ajaran monoteisme, dan yang menjadi cikal-bakal mewujudnya triagama Yahudi, kristen, Islam. Pada giliran para pemeluk politeistik secara bertahap mulai tersingkirkan, sejalan dengan nalar insan dengan keadaan zamanya yang telah dikehendaki Allah SWT (Abu Daqiqoh, al-Qoul al- Sadid, hal 149).

Dengan mangkatnya Ibrahim, menyisakan satu problematik pada penerus agama Abrahamik-Yahudi, Kristen, dan Islam-yaitu untuk saling mengklaim, bahwa agama mereka adalah yang paling benar di antara para pemeluk masing-masing agama. Mereka saling beradu argumen dengan merumuskan satu konsep yang pada nantinya kita kenal dengan “Teologi” (Teologi Negatif Ibn Arobi, M. Fayyadl, hal 3).

Sebuah tradisi baru pun muncul, semula keimanan yang dihasilkan lewat pencarian mulai dirumuskan dan dibakukan sedemikian rupa, sehingga bisa menjadi satu pedoman utuh dalam membangun dasar keimanan-secara khusus-dan beragama-secara umum-.

Kita kesampingkan teologi selain islam, bahwa teologi dalam islam-Ilmu Kalam-tidak lahir begitu saja, banyak problematik yang mengiringi lahirnya fan ilmu ini. Karena justru problem seperti adanya qodo’dan qodar, pelaku dosa besar, dan ru’yatulloh (melihat Allah) menjadi poin besar dalam tumbuh-kembang ilmu kalam.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Darinya, muncul beberapa kelompok yang mencoba membahas isu-isu tersebut dan mencoba mengklaim bahwa kelompok merekalah yang berhasil memahami isu-isu tersebut dengan benar, tentunya dengan corak metodologisnya masing-masing.

Pada dasarnya, isu krusial ini sudah pernah ada sejak zaman Nabi SAW dan para sahabatnya, namun memuncak ketika dunia islam kehilangan Nabinya. Barulah islam mulai terpecah-belah dan memulai babak baru dalam perkembangan peradaban islam. (Tarek al-Madzahib al-Islamiyah, Muhamad Abu Zahroh, hal 105).

Sejarah berhasil mencatat kelompok Muktazilah-dengan coraknya yang khas rasional murni-yang pertama berhasil mempertahankan posisi islam pada abad ke-2 dari syubhat-syubhat yang coba dilontarkan oleh islam, setelah runtuhnya Bani Umayah dan bergantinya posisi kekhalian dari Damaskus menuju Baghdad. Mereka mencoba menerjemahkan karya-karya filsuf Yunani atas perizinan Khalifah Abu Ja’far al-Mansur, untuk kemudian dijadikan senjata dalam berdialektika dengan musuh-musuh islam pada waktu itu. (Abu al-hasan al-Asa’ry, Dr. Hamudah Ghorobah, hal 42).

Lantas, ketika kekuasaan Abbasiyah dipegang oleh al-Makmun, al-Mu’tasim dan al-Watsiq, kelompok Muktazilah mendapatkan tempat khusus di dalam istana, dan berhasil mendoktrin ajaran-ajaran Muktazilah, sehingga pada waktu itu—otoritas di tangan mereka—banyak orang-orang yang dipersekusi. Dan ini membuat umat muslim membenci kelompok ini.

Tidak lama setelah itu, muncullah kelompok Hanabilah yang khas dengan tekstualis murninya, hadir sebagai antitesis dari Muktazilah. Orang-orang dari kelompok inilah, para Fuqoha’ dan Muhaditsin, menjadi bulan-bulanannya Muktazilah. Yang termasyhur adalah insiden al-Mihnah. Pada taraf inipun umat muslim masih dirundung rasa galau, karena mereka masih mejadi korban kedua dari kelompok Hanabilah yang terlalu mengedepankan teks—tanpa sedikitpun memberikan ruang kepada akal.

Pada masa tersebut, umat Islam mendambakan sosok yang bisa mengelaborasikan antara rasio dan teks, sehingga menjadi suatu metodologi yang moderat yang tidak ekstrem kanan ataupun kiri, bertepatan dengan berakhirnya era Muktazilah dengan kursi kekuasaan dipegang oleh Khalifah al-Mutawakkil. Maka Allah SWT sudah menakdirkan tiga hambanya yang akan mengemban tugas tersebut. Pada giliranya, abad ke-3 menjadi babak baru bagi dunia peradaban islam, dengan Imam al-Asy’ari membawa Asy’airohnya di Basroh, dan Imam al-Maturidy dengan Maturidiyahnya di Samarqond, serta Imam at-Tohawi dengan Aqidah Tokhawiyahnya di Mesir (Islam dan Akal, SAS Center Mesir, hal 78). Wallahhu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Kisah Pilu Wafatnya Khalifah Utsman bin Affan

Published

on

By


Utsman bin Affan adalah khalifah (ketiga) umat Islam setelah Umar bin Khattab. Dia juga termasuk salah satu sahabat sekaligus menantu Rasulullah yang memiliki karakteristik unik di antara sahabat Nabi liannya. Kedermawanannya sangat memukau dan komitmennya terhadap perjuangan dalam menegakkan panji-panji Islam tak bisa diragukan lagi. Dia adalah ikon penting dalam perkembangan dan kemajuan Islam yang pernah dimiliki oleh umat Islam di masanya.

Dalam salah satu riwayat disebutkan, bahwa ia pernah menyumbangkan hartanya 10.000 dinar yang diserahkan langsung kepada Rasulullah saw. untuk kepentingan perang. Rasulullah pun berkata “Apa yang diperbuat oleh Utsman pada hari ini, ia tidak akan merugi (di akhirat).”

Bahkan, tatkala orang-orang membutuhkan air untuk kepentingan diri dan hewan ternaknya, ia membeli sumber mata air di rumah orang Yahudi dan diwakafkan untuk umum seharga 20.000 dirham. Wajar, di kalangan bangsa Arab Utsman tergolong konglomerat (orang kaya). Akan tetapi yang menarik dari dia, adalah perilakunya yang sederhana tak seperti orang kaya lain.

Pada masa pemerintahannya, Utsman sebagai seorang pemimpin dapat menunjukkan wajah Islam pada era paling cemerlang dari periode Islam sebagai negara setelah Khalifah Umar. Syariat Islam (diterapkan) secara penuh pada masa itu. Artinya, di ‘tangan’ Utsman Islam mencapai puncak kejayaan dan menjadi contoh ideal tentang Islam sebagai negara. Kendati demikian, tak bisa dipungkiri bahwa setiap pemerintahan tentu terdapat gejolak. Begitupun pada masa pemerintahan Utsman bin Affan.

Selama pemerintahannya, pelbagai peristiwa politik mulai bermunculan bahkan mengundang polemik di antara para sahabat Nabi. Kebijakan Utsman dinilai tidak populis dan menuai kontroversi. Tak ayal, pemerintahan Utsman menjadi tidak efektif dan banyak mendapat kritik dari kalangan sahabatnya sendiri perihal kebijakan yang oleh mereka dianggap ‘berbau’ nepotisme.

Polemik yang terjadi terus bergulir hingga mencapai puncak, yakni terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan di tangan umat Islam sendiri. Pada saat itu beberapa umat Islam bersepakat untuk memberontak dan mengepung rumahnya. Ironis, terbunuhnya Utsman dianggap telah melegakan hati sebagian umat Islam. Bahkan, permusuhan sebagian umat Islam atas peristiwa tersebut terus berlanjut setelah kematian Utsman.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Al-Thabari misalnya, dalam kitab Tarikh al-Umam wa al-Muluk, menyatakan: “Mayat Utsman harus bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan. Ia ditandu empat orang, yaitu Hakim bin Hizam, Jubair bin Math’am, Niyar bin Makram, dan Abu Jahm bin Huzaifah. Ketika ia disemayamkan untuk disalatkan, datanglah sekelompok orang Anshar yang melarang mereka untuk menyalatkan. Di situ ada Aslam bin Aus bin Bajrah as-Saidi dan Abu Hayyah al-Mazini. Mereka juga melarang untuk dimakamkan di pekuburan Baqi’.

Abu Jahm lalu berkata: “Makamkanlah ia karena Rasulullah dan para malaikat telah bersalawat atasnya.” Akan tetapi, mereka menolak; “Tidak, ia selamanya tidak akan dimakamkan di kuburan orang Islam. Lalu mereka memakamkan di Hisy Kaukab (sebuah areal pekuburan Yahudi). Baru tatkala Bani Umayyah berkuasa, mereka memasukkan areal pekuburan Yahudi itu ke dalam kompleks Baqi. ”

Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika mayat Utsman berada di sebuah pintu, Umair bin Dzabi’i datang meludahi, lalu ia mematahkan salah satu persendiannya. Dalam riwayat lain pula dikatakan, tatkala prosesi penguburan di Hisy Kaukab berlangsung, orang-orang Islam melempari dengan batu sampai-sampai para penandu mesti berlindung di sebuah tembok. Di samping tembok itulah ia kemudian dimakamkan.

Demikian, Khalifah Utsman bin Affan dibunuh oleh orang Islam sendiri. Sanak-famili sahabat Utsman tak dapat memakamkan sampai dua malam. Baru pada hari ketiga mereka dapat memakamkan di pemakaman orang-orang Yahudi, karena jenazahnya tidak diperkenankan dikuburkan di pemakaman umat Islam. Perlakuan semacam ini, sangat tidak lazim bagi umat Islam.

Kemudian yang menjadi pertanyaan: kemarahan seperti apakah yang membuat mereka harus tetap menyerang dan memusuhi seorang pemimpin walau dia tinggal jasad tanpa nyawa nan tak berdaya? Mereka seakan tak mengindahkan kenyataan bahwa Utsman termasuk jajaran orang yang pertama masuk Islam, dia juga termasuk salah seorang sahabat Nabi yang menurut riwayat, telah dijamin masuk surga. Mereka telah melupakan bahwa dia merupakan suami dari salah seorang putri Nabi. Seakan sahabat Utsman diposisikan sebagai orang paling hina dan paling sial di antara umat Islam.

Sumber

Farag Fouda, Al-Haqiqah al-Ghaibah, Terjemah. Kebenaran Yang Hilang Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim, (oleh Democracy Project Yayasan Abad Demokrasi: Jakarta 2008)



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Mari Lupakan Romantisme Islam Masa Lampau

Published

on

By



Tentu kita pernah mendapatkan cerita tentang betapa berkuasanya orang-orang Islam masa lampau dalam buku-buku sejarah. Mereka berkuasa dengan semangat juangnya, dengan kekuatan militernya, dan dengan ketajaman pedangnya. Namun, mengapa kini cerita tersebut hanya sekedar cerita? Apa bisa kita mengembalikan kedigdayaan tersebut?

Sebelum sejarah sosial (aliran sejarah annales) berkembang di abad modern, sejarah politik sangat mendominasi. Bahkan seorang pakar mengatakan bahwa sejarah adalah politik masa lampau, dan politik adalah sejarah masa depan. Sejarah dan politik adalah kerabat dekat.

Dalam sejarah Islam, kemajuan Islam sangat nempel dengan kemajuan politik. Sejarah-sejarah Islam sangat sarat akan kisah penaklukkan dan peperangan berbau politik. Di antaranya penaklukkan Spanyol oleh Thariq bin Ziyad, penaklukkan Yerusalem oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, dan yang paling masyhur penaklukkan Konstantinopel oleh Muhammad II atau Al-Fatih.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kisah-kisah romantis akan keberhasilan umat Islam dalam menaklukkan bangsa lain menjadi doktrin yang menancap kuat di benak para pembaca sejarah masa kini. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang semangat menjadi termotivasi akan kisah heroik para pahlawan penakluk tersebut.

Padahal, kita tidak boleh hanya membangga-banggakan prestasi para penakluk masa lampau dengan melupakan prestasi yang harus dicapai di masa sekarang. Jebakan romantisme kerajaan dan kemajuan masa lampau merupakan lawan yang menghambat kita untuk maju di masa kini.

Salah satu tokoh masyhur yang secara tegas menolak jebakan masa lampau adalah Mustafa Kemal. Tindakannya untuk mengubah negara Turki menjadi negara sekuler adalah keputusan yang tepat. Meskipun beberapa kelompok menentangnya dengan tegas, keputusan Mustafa Kemal adalah yang terbaik dalam rangka untuk menyelamatkan Turki dari belenggu bayang-bayang masa lalu.

Beberapa kelompok bersikeras untuk mengembalikan dominasi Islam terhadap dunia seperti masa lampau, dengan menerapkan sistem khilafah misalnya. Memunculkan kembali khalifah dan mengikat beberapa bangsa ke dalam sebuah sistem Islam yang dipimpin oleh khalifah. Tentu inspirasi ini lahir dari sejarah.

Kita boleh saja bersikeras mengembalikan kemajuan Islam. Namun, bukan berarti kemajuan Islam harus diterjemahkan sama seperti kemajuan yang dicapai orang-orang terdahulu. Kemajuan Islam masa kini tentu berbeda dengan kemajuan Islam masa lampau.

Kini, kemajuan Islam tidak bisa dicapai dengan cara-cara penaklukkan, pendudukan atas sebuah wilayah, atau menumbuhkan kembali sistem monarki dengan kekuasaan penuh berada di tangan raja atau sultan. Kita hidup di zaman yang berbeda.

Meskipun kita tidak melupakan Sholahuddin Al-Ayyubi yang mengalahkan Guy de Lusignan, Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel, dan Thariq bin Ziyad yang menduduki Spanyol. Tetap, cerita kerajaan telah usai. Kisah kedermawanan Harun Al-Rasyid pun telah lewat. Saatnya kelompok Islam masa kini belajar banyak hal tentang bagaimana memajukan Islam dengan cara-cara yang sesuai.

Penolakan terhadap sistem dan perlawanan terhadap konsep negara modern bukanlah cara yang tepat untuk menumbuhkan kembali semangat kemajuan Islam. Islam adalah agama yang sangat dinamis. Maka dengan itu, orang-orang beragama Islam juga harus bersikap demikian.

Ilmuwan zaman modern kebanyakan juga berbicara demikian. Muhammad Abduh mengatakan bahwa kemunduran Islam disebabkan pola pikir yang statis. Ia menamainya dengan kejumudan berpikir. Umat Islam harus membuka wawasan dan belajar lebih banyak lagi tentang berbagai ilmu pengetahuan dan tidak hanya terpaku oleh doktrin-doktrin dan produk masa lampau.

Selain itu, Fareed Zakaria dalam buku Masa Depan Kebebasan juga menyatakan bahwa salah satu aspek yang paling vital dalam menumbuhkan sebuah bangsa dan negara adalah perbaikan dalam sektor ekonomi. Sebuah negara atau bangsa akan menjadi makmur kalau mereka kaya. Namun, tidak berhenti di situ. Kekayaan yang ia maksud bukanlah kekayaan yang datang dari sumber daya alam. Lebih dari itu, yang paling penting untuk menumbuhkannya adalah kekayaan yang lahir karena kualitas dari sumber daya manusia.

Setiap zaman mempunyai anak, dan setiap anak mempunyai zamannya sendiri. Kita kini dihadapkan pada masalah yang berbeda. Teknologi semakin canggih, persaingan antar kelompok dan bangsa kini merujuk pada persaingan kecanggihan teknologi.

Tentu sektor inilah yang seharusnya dikuasai oleh kelompok yang ingin kembali memajukan Islam. Bagaimana tidak, para pencetus teknologi dan penguasa ekonomi kini banyak dikuasai oleh orang lain, bukan dari kita. Bagaimana kalau para inovator teknologi di zaman ini adalah orang-orang Islam? Tentu kita semua akan menguasai zaman dan menggenggam peradaban di tangan kita.

Maka dari itu, mendobrak zona nyaman akibat mengenang kemegahan masa lalu adalah hal yang sekarang harus kita semua lakukan. Orang Islam tidak bisa lagi hanya mengagung-agungkan kedigdayaan masa lampau dan tidak berbuat apapun untuk masa kini dan masa depan. Islam masa kini bergantung pada orang-orang Islam masa lalu, dan Islam masa depan bergantung pada orang-orang Islam masa kini.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved

VERIFIED & SECURED
BY: R3
SSL Valid: Jun 21, 2021 - Sep 19, 2021