Connect with us

Kilas Balik

Perpustakaan Mahmudiyyah, Imam Suyuthi Serta Polemik dengan As-Sakhawi

Published

on



Kemudian seiring berjalannya waktu, pengetahuan berkembang cepat. Madrasah-madrasah mulai didirikan. Sejurus itu pula, muncul sebuah kebutuhan pusat referensi yang menopang kegiatan siswa. Konsep perpustakaan ala Bayt al-Hikmah pun banyak diadopsi.

Salah satu madrasah yang getol dalam hal ini adalah Madrasah Mahmudiyyah di Mesir. Sebuah pusat kajian dan pembelajaran Islam yang didirikan oleh Jamaluddin Mahmud bin Ali Al-Astadzar, seorang pejabat setingkat menteri yang mengelola keuangan daerah. Ia menjabat pada masa kekuasaan Sultan Nasheer Faraj bin Barquq (1405-1399 M) dari Dinasti Mamluk. Madrasah ini didirikan ada tahun 797 H atau bertepatan tahun 1395 M.

Madrasah ini bukanlah madrasah generasi awal di Mesir. Jauh sebelum itu, pada masa kekuasan Fathimiyyah al-Azhar (359 H) terlebih dahulu berdiri. Ada juga Madrasah Nashiriah di Kota Fustat.

Saat ini madrasah Mahmudiyyah ini tidak lagi bisa kita jumpai. Namun napak tilasnya masih bisa kita saksikan hingga saat ini. Tempat itu kini beralih menjadi Masjid yang saat ini dikenal sebagai Masjid al-Kurdi. Terkadang disebut juga sebagai Masjid Jamaluddin Mahmud al-Astadar. Masjid ini terletak di kawasan Darb al-Ahmar, Kairo, Mesir.

Pada masa itu, madrasah Mahmudiyyah merupakan salah satu madrasah terbaik di masanya. Karena, banyak sekali pengajar yang diragukan lagi otoritas keilmuannya. Madrasah ini secara spesifik mengajarkan fikih hanafi. Dalam hal ini diampu oleh Syekh Ahmad bin al-Atthar . Selain itu dalam bidang hadis Jamaluddin Mahmud mengangkat Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai pengajarnya.

Selain menyiapkan pengajar yang otoritatif, Jamaluddin Mahmud juga melengkapi fasilitas Madrasah dengan perpustakaan yang cukup besar.

Perpustakaan ini menjadi pusat referensi sarjana muslim kala itu. Sebut saja nama-nama Ibnu Hajar al-Asqalani, As-Suyuthi, Al-Munawi, Al-Bulqini. Mereka semua pernah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menelaah koleksi perpustakaan ini.

Koleksi perpustakaan ini pada mulanya merupakan koleksi pribadi Qadli al-Burhan Ibn Jamaah (w. 675 H) hasil perburuan seumur hidupnya. Kemudian koleksi yang begitu banyak tersebut dibeli oleh Jamaluddin al-Astadar untuk diwakafkan sepenuhnya untuk perpustakaan Madrasah Mahmudiyyah. Dengan syarat, semua koleksi kitab yang ia wakafkan tidak boleh dibawa keluar.

Kitab koleksi perpustakaan Mahmudiyyah  jumlahnya sangat banyak. Pada masa itu, bisa dibilang perpustakaan Madrasah Mahmudiyyah adalah yang paling lengkap. Menurut kesaksian al-Muqrizi, seorang sejarawan klasik Mesir dalam al-Mawâ’idz wa al-‘I’tibâr:

وبهذه الخزانة كتب الإسلام من كل فن

“Perpustakaan ini mempunyai koleksi kitab-kitab Islam dari semua disiplin pengetahuan.”

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Inbâ’ al-Ghumar juga memberikan kesaksian serupa:

إن الكتب التي بها وهي كثيرة جدا من أنفس الكتب الموجودة الآن بالقاهرة

“Kitab-kitab di Perpustakaan Mahmudiyyah ini jumlahnya sangat banyak. Yang mencakup kitab-kitab berharga yang ada di Kairo saat ini.”

Ibnu Hajar mencatat, jumlah koleksi kitab Perpustakaan Mahmudiyyah mencapai 4000 jilid.

Dengan jumlah koleksi yang begitu banyak tersebut, tentu sangat memanjakan pelajar Madrasah Mahmudiyyah. Mereka bisa menelaah referensi-referensi penting di madrasah mereka. Namun mereka terkendala satu hal, mereka tidak bisa mengakses kitab-kitab itu di luar kawasan perpustakaan. Mengingat syarat dari wakaf tersebut adalah tidak boleh dibawa keluar.

Syarat ini, pada kemudian hari memunculkan polemik baru. Karena pada praktiknya, syarat tersebut tidak benar-benar dilaksanakan oleh sang penjaga perpustakaan. Ia dinilai banyak pengunjung ‘tebang pilih’. Ada beberapa ulama yang mendapat akses khusus untuk membawa koleksi perpustakaan di luar kawasan perpustakaan. Seperti yang dilakukan oleh Alamuddin al-Bulqini (w. 868 H) dan al-Hafidz al-Munawi (w. 871 H). Beliau berdua seringkali meminjam kitab kemudian dibawa pulang untuk kepentingan karangannya.

Hal ini tentu menimbulkan kecemburuan di kalangan siswa Madrasah Mahmudiyyah. Mereka pun tidak bisa menerima, karena hal tersebut jelas menyalahi aturan fikih. Seharusnya syarat yang diberikan oleh waqif (orang yang waqaf) haruslah dipenuhi. Sedangkan apa yang dilakukan al-Bulqini dan al-Munawi adalah sebaliknya.

Akhirnya perkara tersebut sampai pada Imam As-Suyuthi. As-Suyuthi sendiri termasuk salah satu pengunjung tetap perpustakaan ini. Ia banyak menulis dan mengambil referensi dari sini.

Menanggapi hal tersebut, As-Suyuthi tampak tenang saja. Ia paham betul, apa yang dilakukan al-Bulqini dan al-Munawi —yang tidak lain adalah gurunya sendiri— tidaklah menyalahi aturan. Mereka punya dalil yang memperbolehkan. Ia pun lantas menulis kitab khusus yang berisi argumen-argumen pembelaan atas tindakan gurunya tersebut. Kitab itu di beri judul Badzl al-Majhûd fî Khizânat al-Mâhmud.

Dalam kitab tersebut Imam Suyuthi memaparkan beberapa argumen yang logis serta dalil-dalil dari para ulama yang dapat dipertanggungjawabkan. Diantaranya adalah beliau memaparkan pendapat dari Imam Ahmad bin Hanbal, yang memperbolehkan syarat wakaf tidak dipenuhi. Sehingga menurut As-Suyuthi, mungkin saja al-Bulqini dan al-Munawi memakai pendapat ini. Dan itu sah-sah saja.

Selain itu, kalau dinalar tujuan Jamaluddin al-Astadar memberikan syarat itu pada wakafnya adalah agar manfaat yang dirasakan bisa lebih luas. Dan keamanan bukunya juga terjaga.

Nah, apabila ada kebutuhan mendesak dari para pembaca untuk mengarang misalnya. Dan  tidak memungkinkan untuk dilakukan di dalam Perpustakaan. Maka, tidak apa-apa untuk membawa koleksi tersebut keluar. Dengan syarat ia dapat dipercaya.

Imam Suyuthi juga memberikan catatan tambahan, bahwa koleksi-koleksi yang dapat dipinjam haruslah koleksi yang langka. Artinya koleksi tersebut hanya ada di Perpustakaan Mahmudiyyah. Jika judul koleksi tersebut sudah banyak beredar, dan mudah ditemui di luar perpustakaan, maka meminjam tidak diperbolehkan. Yang kedua, tenggang waktu meminjam juga harus diperhatikan. Sekira kebutuhan menulis dari referensi tersebut sudah selesai maka ia harus segera mengembalikannya.

Setelah risalah atau kitab kecil ini tersiar. Para pengunjung perpustakaan sudah mulai bisa memahami keadaanya. Kegiatan intelektual di perpustakaan tersebut semakin menggeliat.

Polemik lain juga pernah dialami oleh Imam Suyuthi di perpustakaan ini. Bahkan ia mendapat tuduhan serius. Ia dinilai oleh as-Sakhawi telah melakukan ‘plagiasi’ dalam karya-karyanya. Menurut as-Sakhawi, dalam menulis karyanya Imam Suyuthi hanya menyalin naskah-naskah di Perpustakaan Mahmudiyyah untuk diakui menjadi karyanya.

Memang, pada kenyataannya pada saat itu banyak sekali naskah dan manuskrip kitab di Perpustakaan Mahmudiyyah yang tanpa nama alias tidak disebutkan pengarangnya.

Namun, hal ini dengan cepat dibantah oleh As-Suyuthi. Menurutnya tuduhan itu ngawur dan tidak berdasar. Ia berdalih, mana mungkin ia mengakui kitab orang lain di Perpustakaan Mahmudiyyah, sedangkan aturan disana melarang untuk dipinjamkan keluar. Walaupun sebelumnya, ia memperbolehkan meminjam karena darurat. Namun, ia sendiri tidak pernah membawa keluar koleksi perpustakaan. Kalau butuh referensi, ia akan tekun membaca di dalamnya.

As-Suyuthi kemudian menulis kitab bantahan atas tuduhan as-Sakhawi tersebut. Kitab tersebut ia beri judul “al-Kâwi ‘alâ Târikh as-Sâkhawi”. Lewat kitab itu, As-Suyuthi menegaskan bahwa semua karyanya adalah orisinil. Asli buah pikirannya.

Begitulah dinamika yang pernah terjadi di Perpustakaan Mahmudiyyah. Perpustakaan yang telah memberikan sumbangsih besar dalam khazanah intelektual Islam. Imam Suyuthi saja kalau dihitung karyanya mencapai 600 karya, belum lagi ulama-ulama lain yang pernah mencicipi manisnya ilmu di perpustakaan ini.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kilas Balik

Polemik Haji di Indonesia: dari Masa Kolonial hingga Era Pandemi

Published

on

By



Sudah berabad-abad masyarakat Indonesia akrab dengan kata haji. Kata haji disematkan bagi mereka yang telah melakukan serangkaian ritual di tanah suci. Seiring berjalannya waktu, haji menjadi identitas baru bagi masyarakat, di pelbagai kesempatan orang yang telah naik haji dipanggil Pak Haji atau Bu Haji. Haji pun menjelma menjadi gelar seseorang, misal Haji Misbah, Haji Agus Salim, Kiai Haji Abdurrahman Wahid, dan lain-lain.

Sampai-sampai sang empunya warung sate pun menuliskan di spanduknya “ Warung Sate Haji Sukidi”, saking fenomenalnya kata haji. Kancah perfilman pun tak mau ketinggalan. Mereka membuat serial film dengan judul Tukang Bubur Naik Haji. Film itu pun laris ditonton kaum emak-emak, bapak-bapak, anak kecil hingga orang dewasa. Haji telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia untuk menunaikan ibadah di tanah suci.

Naik Haji tak semudah naik tangga rumah sendiri. Halang rintang harus dilalui. Kita tentunya masih ingat pembatalan haji di tahun 2020 lalu, tatkala pandemi covid mulai menyerang seluruh negeri. Saat itu banyak masyarakat yang tertunda naik haji merasa begitu sedih dan mengharap tahun berikutnya untuk dapat naik haji.  Namun, apesnya ditahun 2021 ini naik haji pun dibatalkan oleh pemerintah.  Publik pun goncang dengan pelbagai isu miring terhadap pemerintah.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Banyak beredar isu  terkait pengelolaan dana haji, gagal lobi dengan pemerintah Arab Saudi, hingga  utang RI ke Saudi. Pemerintah melalui keputusan Menag No 660 Tahun 2021 tentang Pembatalan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1442 Hijriah/2021 Masehi. Adapun pertimbangan pemerintah dalam pembatalan haji tahun ini adalah untuk mengurangi penyebaran Covid 19 yang kini masih mewabah dan belum adanya kepastian dari pemerintah Arab Saudi.

Dikutip dari Detik news Menag Yaqut Cholil Qoumas menepis anggapan masyarakat terkait isu gagal lobi pemerintah dengan Arab Saudi. Ia menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan upaya diplomasi melalui Kemenag, Kemenlu, Kedutaan Besar, dll. Dalam upaya memastikan kuota haji serta jaminan keamaanan dan kesehatan jemaah haji.

Publik pun mulai bertanya-tanya apakah dana haji dialokasikan ke pembiayaan infrastruktur? apakah BPKH melakukan investasi dana tanpa izin pemilik dana? Apakah BPKH gagal investasi?. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH)  Anggito Abimanyu menyangkal tudingan tersebut ia juga menyangkal adanya gagal investasi. Menurutnya Investasi dana haji dilindungi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sehingga terlindungi dari kegagalan lembaga keuangan membayar investasi BPKH. BPKH menjamin bahwa dana haji aman. Meski demikian warga twitter tak mau ketinggalan melalui tagar #AuditDanaHaji menyalurkan aspirasi membahas sana dan sini.

Sejarah Pelarangan Haji

Sejarah pelarangan haji di Indonesia tidak hanya terjadi saat ini namun pernah terjadi era pemerintahan kolonial Belanda. Pada abad ke XVII pemerintah melarang masyarakat Indonesia yang akan melakukan ibadah haji menggunakan kapal milik kompeni dan masyarakat yang ingin berangkat ke Mekkah harus mendapatkan izin dari pemerintah. Hal ini dilakukan karena pemerintah kolonial khawatir terhadap Pan Islamisme yang saat itu sedang didengungkan di Timur Tengah. Mereka cemas jika Pan Islamisme tersebut mempengaruhi jemaah haji pribumi yang kemudian dapat mengancam kekuasaan kolonial.

Pembatasan haji ini diperparah pada abad ke XVIII, pemerintah kolonial menerapkan biaya tinggi untuk keberangkatan haji. Menurut M. Shaleh Putuhena dalam bukunya Historiografi Haji Indonesia (2007:293) Setiap jamaah haji harus mempunyai pas-jalan dengan membayar f110, sementara jamaah haji yang tidak memiliki pas jalan dikenai biaya f220. Pada 1874 jamaah haji diwajibkan memiliki tiket pergi-pulang (PP). Keputusan ini pun memberatkan calon jamaah haji yang notabene merupakan kalangan miskin. Tujuan kebijakan ini adalah tidak lain untuk mengurangi jumlah jamaah haji.

Pada tahun 1872 pemerintah kolonial Belanda membuka konsulat di Jeddah. Pemerintah juga mulai terjun langsung dalam mengelola proses ibadah haji, mulai dari keberangkatan hingga perpulangan. Semua itu dilakukan dalam upaya mempermudah pengawasan terhadap jamaah haji Nusantara.

Pemerintah kolonial memandang haji sebagai sesuatu yang berbahaya sehingga orang yang hendak pergi dan pulang dari Mekkah selalu diawasi. Kecemasan Belanda ini kemudian terjadi, pada tahun 1821-1832 meletus perang Padri. Perang ini dipelopori oleh tiga orang ulama asal Minangkabau yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piambang. Menurut Martin Van Brunessen dalam bukunya Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat (2012) pemberontakan petani Banten (1888) dan Sasak (1892) juga dipelopori oleh pengalaman tokoh-tokoh yang telah belajar di Mekkah.

Dahulu orang berangkat haji tak hanya untuk menunaikan ibadah, namun juga untuk mendalami ajaran agama. Mereka yang setelah belajar di Mekkah banyak yang tidak kembali ke tanah air dan menjadi ulama di sana. Kita mungkin tidak asing dengan Syech Nawawi al Bantani, Syech Mahfudz Al Termasi, Ahmad Khatib Al Minangkabawi mereka diantaranya yang tidak kembali ke tanah air. Dari merekalah jamaah haji Nusantara mendalami agama dan menghasilkan tokoh-tokoh penting bagi perjuangan bangsa Indonesia.

Kini haji kembali diuji lewat pandemi publik pun dituntut untuk legowo sambil berdoa semoga pandemi segera pergi. Pemerintah membatalkan haji sebagai langkah melindungi warganya dari berbagai ancaman pandemi. Alhasil tak ada penyematan gelar haji baru selama dua tahun ini. Kendati demikian semangat masyarakat pun tak pernah luntur untuk menunaikan ibadah haji. Keadaan ini dapat menjadi cerita untuk anak cucu nanti bahwa haji pernah cuti selama dua tahun karena pandemi. Semoga tahun depan warga Indonesia bisa kembali menunaikan ibadah haji. Amin.



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Kepribadian Mulia Rasulullah Sebelum Menjadi Nabi

Published

on

By



Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa keadaan masyarakat arab sebelum datangnya agama Islam merupakan bangsa jahiliyah, yang mempunyai kebiasaan-kebiasaan buruk dan hina. Bahkan, kebiasaan itu tidak bisa diterima oleh akal sehat. Hal itu menjadi tantangan yang sangat besar bagi Rasulullah saw sebagai nabi yang diutus kepada bangsa Arab pada awalnya, dan semua makhluk pada akhirnya.

Kehidupan sosial masyarakat Arab berkelas dan bersuku-suku. Di sana terdapat pemandangan kontras, antara kaum bangsawan dan kaum budak. Kaum bangsawan dengan segala kemewahan, kekayaan, dan kehormatan yang dimiliki. Sementara, kaum budak dengan segala kekurangan dan kehinaannya yang tidak terperi.

Kehidupan antar suku penuh persaingan, sehingga sering berakibat pertikaian karena fanatisme ke-sukuan yang sangat tinggi. Setiap anggota suku pasti membela orang yang satu suku dengannya, mereka tidak peduli tindakan tersebut benar atau tidak. Mereka mempunyai prinsip yang dijadikan pedoman, yaitu:

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

أنصر أخاك ظالما أو مظلوما

Artinya, “Bantulah saudaramu, baik dia berbuat zalim atau dizalimi.

Kebiasaan tidak manusiawi juga menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat Arab, seperti perlakuan terhadap wanita juga sangat zalim. Laki-laki boleh melakukan poligami tanpa batas, bahkan bisa menikahi dua wanita bersaudara sekaligus, kemudian dapat mencerai mereka semaunya.

Sementara itu, perzinahan merupakan hal biasa. Bahkan, ada suami yang menyuruh istrinya tidur dengan laki-laki lain, semata-mata hanya ingin mendapatkan keturunan mulia dari laki-laki tersebut. Kelahiran anak perempuan menjadi aib bagi mereka, bahkan sebagian dari mereka mempunyai istilah wa’dul banat (mengubur anak wanita hidup-hidup).

Tidak berakhir sampai di situ, menurut Syekh Shafiyurrahman, perjudian dan minuman keras merupakan hal yang lumrah di tengah masyarakat Arab. Bahkan, menjadi sumber kebanggaan tersendiri. Kesimpulannya, kondisi sosial yang terjadi di kalangan Arab begitu parah, hingga kehidupan berlangsung tanpa aturan layaknya binatang.

Kebiasaan jelek dan hina bangsa Arab ini menjadi tantangan besar bagi Rasulullah saw secara khusus, juga keberlangsungan ajaran Islam secara umum. Namun, betapa pun jelek dan hina kebiasaan mereka, Rasulullah selalu menyikapi dengan akal sehat agar tidak larut dalam kebiasaan itu. Sebagai pribadi yang sempurna, Rasulullah selalu menghindar dari perbuatan yang tidak berperikemanusiaan.

Akal yang cerdas juga pikiran jernih Rasulullah mampu mengamati bangsanya, membaca kondisi dan kehidupan masyarakat yang ada di sekitar. Rasulullah merasa risih, sehingga tidak bisa menerima adanya kebiasaan yang jauh dari kata baik tersebut.

Semua tindak langkah Rasulullah saat itu, ternyata sudah menjadi kepastian Allah. Sejak awal, Allah SWT telah menyiapkan kehidupan Rasulullah agar bisa menanggung misi besar yang akan dibawa dalam kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, di tengah kerusakan kaumnya, Rasulullah tidak larut, bahkan beliau menampakkan kepribadian sangat mulia sehingga bisa diakui oleh berbagai lapisan masyarakat.

Kerusakan akidah dan tradisi yang jauh dari kemanusiaan pada masa itu tidak sampai ke dalam diri Rasulullah. Sejak kecil, hal yang paling tidak disukai adalah menyembah berhala, Rasulullah enggan menghadiri upacara-upacaranya, dan tidak bersedia memakan daging dari hewan yang disembelih atas nama berhala.

Kerusakan moral pada masa itu tidak membuat jiwa Rasulullah terpengaruh. Sebagai kompensasi, Rasulullah lebih senang menyendiri dengan mengamati kehidupan manusia dan penciptaan alam yang agung. Dalam kehidupan dan pergaulan yang wajar sekira tidak sampai merusak moral kemanusiaan, Rasulullah senang bergaul dengan masyarakat melalui akhlaknya yang terpuji.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa ketetapan Allah SWT yang senantiasa memeliharanya. Jika muncul gejolak nafsu yang mendorong pada kesenangan duniawi, atau ketika ingin mengikuti tradisi yang tidak baik. Allah SWT akan menolongnya dengan memasukkan kesadaran yang  memberikan batas kesadaran antara Rasulullah dan kehendak-Nya.

Syekh Shafiyurrahman dalam kitab ar-Rahiq al-Makhtum menceritakan, bahwa suatu saat Rasulullah pernah terbesit keinginan untuk menghadiri tontonan yang digelar oleh masyarakat Arab. Namun, ketika kakinya hendak melangkah, Allah swt menghalangi keinginan tersebut, dengan menjadikan tertidur hingga keesokan harinya. (Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfury, al-Rahiqu al-Makhtum, [Wazaratul Auqaf, Qatar, 2007], h. 62).

Syekh Imaduddin Abul Fida ad-Dimisqi mengatakan, Rasulullah dibesarkan oleh pamannya Abu Thalib, dan Allah SWT menjaganya dari melakukan perbuatan jahiliyah dan keburukan-keburukannya. Sebab, Allah SWT menghendaki sebagai sosok mulia hingga Rasulullah dewasa dan memiliki keutamaan di atas semua orang dari segi keilmuan, budi pekerti, etika bergaul, sikap baik kepada tetangga, kesabaran, amanah dan kejujuran.

Rasulullah tidak pernah bersenda gurau atau berdebat dengan orang lain. Semua sifat terpuji ada pada diri Rasulullah, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Muhammad al-amin (terpercaya). (Syekh Imaduddin Abul Fida ad-Dimisqi, Fiqhu al-Sirah al-Nabawiyah, [Bairut, Dar al-Ma’rifah, 1976], juz 1, hlm 249).

Saat itu, Nabi Muhammad saw merupakan satu-satunya penduduk yang sangat menonjol di kalangan kaumnya. Ia memiliki keluhuran akhlak, keutamaan budi pekerti serta sifat yang mulia. Rasulullah merupakan orang yang paling utama kepribadiannya, lemah lembut, jujur dalam setiap ucapan, terjaga jiwanya, paling baik amalnya, menepati janji, dan amanah ketika memegang kepercayaan. Maka tidak heran, jika bangsa Arab saat itu memberi gelar al-amin (orang terpercaya), karena dalam diri Rasulullah terdapat segala kebaikan dan kesalehan.

 



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Uzlah Rasulullah di Gua Hira, Bekal dan Strategi Menuju Dakwahnya

Published

on

By



Menjelang usia 40 tahun, Nabi Muhammad saw kerap melakukan uzlah (menyendiri). Allah membuatnya suka menyendiri di Gua Hira, yaitu sebuah bukit yang terletak di arah barat daya Makkah. Nabi Muhammad saw menyendiri dan beribadah di sana selama beberapa malam. Bahkan, terkadang Rasulullah menyepi di sana selama sepuluh malam dan tak sesekali lebih lama lagi hingga sebulan penuh. Di sela-sela itu, Rasulullah pulang ke rumahnya sebentar saja, sekedar mempersiapkan bekal untuk menyepi kembali di Gua Hira. Demikianlah beberapa kali Rasulullah pergi dan pulang ke Gua Hira hingga akhirnya beliau menerima wahyu.

Kegiatan menyendiri yang kerap dilakukan Rasulullah saw ini terjadi menjelang kenabiannya. Ini merupakan pertanda yang sangat agung dan memiliki nilai penting bagi kehidupan kaum Muslim secara umum dan para dai secara khusus.

Aktivitas Nabi Muhammad ini menjelaskan bahwa seorang Muslim tidak sempurna keislamannya, meskipun dia telah menghiasi diri dengan berbagai ibadah, sebelum melakukan kegiatan menyendiri selama beberapa lama untuk mengintropeksi diri dan merasakan pengawasan Allah swt, serta memikirkan fenomena alam berikut bukti-bukti keagungan-Nya. Itu penting dilakukan setiap Muslim yang menghendaki keislaman yang benar, terlebih lagi Muslim yang ingin menjadi dai dan menyeru orang lain untuk mengikuti jalan yang benar. Bahkan, uzlah (menyepi) menjadi pembahasan paling kental dalam kitab0kitab yang menjelaskan keadaan para wali Allah dan ulama tasawuf.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di antara hikmah menyendiri adalah bahwa sesungguhnya dalam jiwa manusia ada kerusakan yang hanya dapat diobati dengan cara menyendiri dari keramaian lalu mengevaluasi diri dalam suasana yang hening dari hiruk-pikuk dunia. Dengan cara itu, seseorang bisa mengurangi bahkan menghilangkan sikap sombong, ujub (mengagumi diri sendiri), dengki, riya, dan cinta dunia. Semua itu merupakan penyakit yang akan merusak jiwa manusia dan menodai kesucian hatinya, dan menghancurkan batinnya meskipun dia banyak melakukan amal saleh dan ibadah yang baik. Semua itu juga tetap akan merusak, meskipun seseorang sibuk berdakwah, menasihati, mengarahkan, dan membimbing banyak orang.

Berbagai kerusakan itu tidak dapat diobati, kecuali jika ia pergi menyendiri untuk mengevaluasi dan merenungi hakikat dirinya, Penciptanya, serta sejauh mana kebutuhannya pada pemeliharaan dan taufik Allah swt. Menyendiri juga dilakukan untuk merenungkan manusia dan ketidakberdayaannya di hadapan Sang Khalik. Jadi, tidak ada gunanya menyanjung atau mencela mereka. Kesendirian juga diperlukan untuk memikirkan fenomena keagungan Allah, hari akhir, hisab dengan segala fenomena yang mengiringinya; merenungkan betapa besar kasih sayang Allah dan betapa berat hukuman-Nya. Setelah proses berpikir yang lama dan berkesinambungan mengenai segala hal itu, terkikislah penyakit dan kerusakan jiwa. Hiduplah hati dengan cahaya makrifat dan bersih dari segala karat dunia.

Hal lain yang juga sangat penting dalam kehidupan kaum Muslim secara umum dan para dai secara khusus adalah pendidikan hati untuk mencintai Allah swt. Sebab, ini merupakan sumber pengorbanan dan jihad serta landasan dakwah yang benar. Lagi pula, cinta kepada Allah Swt. tidak muncul dari dasar keimanan yang hanya bersifat rasional. Sebab, berbagai persoalan rasio semata tidak pernah memengaruhi hati dan perasaan. Andai berpengaruh, tentu para orientalis berada di barisan terdepan orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan pastilah hati mereka dipenuhi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Jalan untuk mencintai Allah setelah beriman kepada-Nya adalah selalu merenungkan limpahan nikmat-Nya dan memikirkan betapa besar keagungan-Nya, kemudian memperbanyak dzikir kepada-Nya dalam hati dan dengan lisan. Semua itu hanya terwujud melalui kegiatan menyendiri dan menjauhi segala kesibukan dan hiruk-pikuk dunia selama waktu tertentu yang sengaja disisihkan secara berkesinambungan.

Dengan menyendiri (sebagaimana ketentuan di atas), niscaya akan tumbuh dalam hatinya kecintaan yang besar kepada Allah, yang membuatnya meremehkan segala yang besar, dan mengabaikan segala godaan, serta menganggap enteng segala penindasan dan siksaan. Dia pun dapat mengatasi berbagai tindakan orang yang memusuhi, menghina, dan mencelanya. Inilah pembekalan penting yang harus dilakukan setiap juru dakwah sehingga dia memiliki senjata ampuh untuk menyeru manusia kepada Allah. Ini pulalah bekal yang dipersiapkan Allah swt bagi kekasih-Nya, Nabi Muhammad saw, sehingga beliau siap memikul beban risalah Islam yang sangat berat.

Pasalnya, motif-motif perasaan, seperti kecemasan, cinta, dan harapan dapat melakukan pelbagai hal yang tidak bisa dilakukan akal.

Imam asy-Syathibi, ketika membedakan motif-motif ini, antara kaum Muslimin yang memikul beban taklif (kewajiban syariat) dengan motif keislaman mereka secara umum, dan kaum Muslimin khusus yang memikul beban taklif dengan motif yang lebih dari sekadar rasio dan pemahaman, menuturkan:

“Keadaan golongan pertama seperti orang yang beramal karena ikatan keislaman dan keimanan tanpa tambahan apa pun. Sementara keadaan golongan kedua seperti orang yang beramal karena didominasi rasa cemas dan harap atau cinta. Rasa cemas tak ubahnya cambuk, rasa harap tak ubahnya kusir yang mengendali, sedangkan cinta tak ubahnya kereta yang mengangkut. Orang yang cemas pasti beramal meskipun ada kesulitan. Karena, rasa cemas atas hal yang jauh lebih sulit akan membuatnya bersabar melakukan hal-hal yang lebih ringan meskipun itu sulit baginya. Begitu juga, orang yang memiliki rasa harap pasti akan beramal meskipun dihadang kesulitan. Karena, rasa harap membuatnya merasa nyaman sehingga dia dapat bersabar menghadapi kesulitan. Dan, orang yang merasa cinta pasti beramal sungguh-sungguh, karena dia merindukan kekasihnya. Dengan cinta, pekerjaan yang sulit menjadi mudah, dan jarak yang jauh menjadi dekat. Segala kekuatan lenyap apabila dia tidak menepati janjinya dengan sang kekasih dan tidak bersyukur atas nikmat.” (Lihat, Al-Muwafaqat li asy-Syathibi, juz 2, hlm, 141)

Kesimpulannya, kegiatan menyendiri yang dipraktikkan Nabi Muhammad saw menjelang kenabiannya merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan motif-motif dalam jiwanya. Kegiatan itu tidak boleh diartikan uzlah, yakni sepenuhnya berpaling dari manusia lalu menjadikan gua-gua dan gunung-gunung sebagai tempat tinggal seraya menganggapnya sebagai keutamaan pribadi. Karena pemahaman seperti itu bertentangan dengan petunjuk Nabi Muhammad dan contoh yang ditampilkan para sahabatnya. Uzlah yang dianjurkan adalah yang bertujuan untuk memperbaiki diri seperti yang telah dijelaskan. Karena kedudukannya sebagai obat, uzlah mestilah sesuai dengan ukuran dan waktu mengkonsumsinya. Jika berlebihan, obat akan berubah menjadi penyakit yang patut dihindari.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved