Pergumulan Elit Politik Muslim dalam Sejarah - Bagyanews.com
Connect with us

Kalam

Pergumulan Elit Politik Muslim dalam Sejarah

Published

on


BagyaNews.com Ulama menjadi kelompok sosial utama yang terlibat dalam kehidupan istana kerajaan. Menyandang posisi sebagai penasihat para raja-raja, ulama juga berperan memperkuat pelaksanaan ajaran Islam di kerajaan.

Islam menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pembentukan kerajaan, dan pada gilirannya pembangunan sistem politik dan budaya. Ulama menjadi kelompok sosial utama yang terlibat dalam kehidupan istana kerajaan. Menyandang posisi sebagai penasihat para raja-raja, ulama juga berperan memperkuat pelaksanaan ajaran Islam di kerajaan.

Buku Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elit Politik Muslim Dalam Sejarah Indonesia karya Jajat Burhanudin ini, mengulas secara kompeherensif mengenai sejarah dan peranan ulama dalam diskursus intelektual Islam di Nusantara. Buku ini menelusuri perjuangan ulama melewati berbagai proses perubahan budaya politik kerajaan dari masa awal perkembangan Islam, jaringan dengan Timur Tengah, hingga visi transimisi Islam Makkah ke Islam Nusantara.   

Berkaitan dengan budaya politik yang telah berlangsung lama di Nusantara, yang memandang raja sebagai pusat dari segala aspek kehidupan. Raja tidak hanya dianggap sebagai pemilik tunggal kerajaan dan warganya, tetapi juga diyakini seperti Buddha yang mencerahkan mahluk, Bodhisatwa yang meninggalkan nirwana untuk menetap di bumi dan membantu pembebasan spiritual para pengikutnya.

Dalam hal tersebut ulama memiliki peranan yang sentral dalam perubahan budaya politik. Dalam bingkai budaya politik inilah, merupakan bentuk awal penerjemahan Islam di Nusantara berlangsung. Salah satu isu pokok dalam pembentukan kerajaan adalah perumusan Ideologi politik yang berhubungan dengan meningkatnya jumlah pemeluk Islam di wilayah tersebut. Hasilnya, pandangan politik yang berpusat pada raja mrnjadi basis kultural bagi pembentukan diskursus intelektual Islam sepanjang periode masa awal kerajaan Islam di Nusantara.

Kerajaan Islam dan pembentukan budaya politik Islam

Para sejarawan berkesimpulan kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah kerajaan Samudera Pasai yang berdiri diakhir abad ke-13. Kesimpulan tersebut didasarkan pada nisan Malik al-Saleh, raja Muslim pertama Samudera Pasai, sebagaimana dijelaskan dalam Hikayat Raja-Raja Pasai, Malik al-Saleh digambarkan sebagai raja pertama di kerajaan Samudera Pasai yang memeluk Islam. Diceritakan bahwa Malik al-Saleh bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw, yang memintanya mengucapkan kalimat syahadat. Nabi kemudian memberinya nama Malik al-Saleh yang sebelumnya bernama Marah Silu. Berdasarkan kejadian tersebut, Marah Silu memeluk agama Islam dengan julukan “Sultan”.

Gambaran tentang kerajaan Samudera Pasai memperlihatkan suatu proses integrasi Islam, perdagangan dan politik, yang menjadi karakter penting sejarah awal Islam di Nusantara. Malik al-Saleh masuk Islam tidak lama setelah memangku kekuasaan, dan mentransformasikan Samudera Pasai menjadi kerajaan Islam Melayu terkemuka yang mencapai puncaknya pada abad ke-14.

Dalam teks klasik sejarah melayu menggambarkan sebuah catatan penerjemahan Islam kedalam masyarakat dan budaya melayu. Sebagaimana buku karya Burhanuddin ini mengutip teks sejarah melayu “Kita bukanlah keturunan jin atau peri. Kita adalah keturunan dari raja Iskandar Zulkarnain”. Frase tersebut merupakan frase dari sejarah melayu yang berhubungan dengan genealogi raja-raja Melayu, yang menghadirkan klaim keturunan dari Iskandar Zulkarnain, seorang raja Muslim termashur. Dia memegang kekuasaan politik dari Barat sampai Timur, dia menjalankan kekuasannya berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

Sejarah Melayu memasukan cerita Iskandar Zulkarnain sebagai upaya pelegitimasian politik berbasis agama bagi para raja Melayu. Dalam tradisi politik Melayu, genealogi dipertahankan sebagai tanda kebesaran para raja. Cerita Iskandar Zulkarnain bisa membuat para raja mampu membangun kesan heroik, yang dibutuhkan dalam rangka membangun kekuasaan politik yang berpusat pada raja dalam masyarakat yang terislamkan. Cerita Iskandar Zulkarnain menekankan pada karakteristik supernatural raja. Karenanya, cerita tersebut berfungsi memberi tokoh kerajaan dengan otoritas keagamaan dan juga memberikan fondasi kuat bagi para raja Melayu dalam kekuasaan politik mereka.

Selain klaim genealogi, politik kerajaan berorientasi raja juga diekspresikan dalam konsep politik tertentu yang menunjukkan otoritas politik raja berbasis agama, seperti halnya konsep “daulat”. Konsep tersebut berkembang menjadi konsep politik Islam untuk menandai kekuasaan sebuah dinasti dan akhirnya sebuah kerajaan.

Dalam tradisi politik Melayu, istilah daulat diperkenalkan kedalam tradisi politik Melayu untuk memberi makna baru pada konsep andeka dalam raja-raja Buddha terdahulu yang memiliki makna kekuatan gaib hidup di sekeliling kerajaan dan melindunginya dari pihak-pihak yang secara sembarangan menghina keagungan mereka. Maka, daulat menunjukkan aspek keagamaan dalam politik yang berfungsi membesarkan politik yang berfungsi membesarkan posisi para raja, bahwa mereka memiliki dukungan religius atau juga memiliki sejenis kekuatan anugrah yang diberkahi tuhan yang mampu   menjalankan kekuasaan politik atas rakyatnya.

Munculnya Islam yang berorientasi raja tentunya tidak mengejutkan. Ia berisi gagasan dasar keyakinan sufi tentang “Manusia Sempurna” (Insan Kamil) , dan karenanya memberi kontribusi bagi Islamisasi Nusantara. Karena watak kelenturan sufisme inilah yang membuat Islamisasi berlangsung mulus di wilayah-wilayah kerajaan. Gagasan Insan Kamil menjadi salahsatu pemikiran sufi yang paling terkenal pada awal perkembangan Islam di Nusantara. Karya-karya ulama sufi termasyhur seperti Ibnu Arabi dan al-Jilli, yang kepada mereka konsep sufi tentang Manusia Sempurna dinisbahkan. Ide Manusia Sempurna sesuai dengan gagasan politik berorientasi raja di Nusantara; keduanya mendukung ide tentang raja yang mahakuasa yang kemudian dirumuskan dalam terminologi sufi dan diyakini “menyadari sepenuhnya kesatuannya dengan Tuhan”.  

Meski demikian, bahwa politik berdasarkan ide sufi tentang Manusia Sempurna bukannya tanpa tandingan. Gagasan Islam berorientasi syariat, yang mulai bergema pada abad ke-17, memiliki pengaruh yang sangat kuat. Pergeseran politik berdasarkan ide sufi Manusia Sempurna  digantikan dengan sufisme berorientasi syariat atau neo-sufisme oleh al-Raniri. Akibatnya, budaya politik berorientasi raja menjadi makin Islami. Hal tersebut dimulai ketika pada abad ke-17, bersamaan dengan terbangunnya jaringan Negri Bawah Angin dengan Timur Tengah, khususnya Makkah dan Madinah.

Diskursus Intelektual Islam masa Kerajaan

Hubungan dengan Timur Tengah menjadi lebih kuat di kerajaan Aceh pada abad ke-17. Hubungan ini dibuktikan dengan terbentuknya sebuah jaringan ulama, yang kemudian membuat Makkah memainkan peranan penting dalam diskursus intelektual di Nusantara. Ulama-ulama terkenal pada periode tersebut, Al-Raniri (Wafat 1608), Abdurrauf al-Sinkili (1615-1693), dan Yusuf al-Maqassari (1627-1699), belajar di Makkah. Mereka membentuk “lingkaran komunitas jawi” dengan ulama Makkah yang mengajar mereka, dan kemudian bertanggungjawab dalam mendiseminasikan pemikiran Islam yang berkembang di Makkah masa itu, neo-sufisme, ke Nusantara. Al-Raniri dan al-Sinkili berkarir dikerajaan Aceh, sementara al-Maqassari, membangun karirnya di kerajaan Banten, Jawa Barat. Ulama-ulama tersebut menjadikan kerajaan sebagai tempat untuk melancarkan misi pembeharuan mereka.

Al-Raniri merupakan ulama pertama dalam jaringan dengan Timur Tengah di abad ke-17. Melalui kapasitas intelektualnya dan pengalamannya dalam lingkaran komunitas Jawi di Makkah, al-Raniri telah terkenal di Aceh sebelum kedatangannya ke sana. Terlebih lagi, dia memiliki hubungan dekat dengan elit Aceh yang tengah berkuasa. Al-Raniri dijadikan sebagai kepala Syaikhul Islam dibawah pemerintahan Raja Iskandar Tsani. Di kantor Syaikhul Islam ini, debut intelektual al-Raniri bermula. Dia menjalankan misinya memperbaharui pemikiran Sufi Wahdatul Wujud, menggantinya dengan sufisme berorientasi syariat atau disebut neo-sufisme.

Karya-karya al-Raniri utamanya memuat isu-isu teologis dan sufisme. Hal tersebut tentunya terkait dengan lingkungan intelektual kerajaan Aceh sebelum dia menjadi Syaikhul Islam, dimana sufi Wujudiyah memperoleh supermasinya. Dalam konteks inilah, al-Raniri terlibat upaya melawan sufi Wujudiyah, menuduhnya sebagai tarekat yang mengusung politeisme dan bahkan bid’ah. Al-Raniri menjadi terkenal karena kritik kerasnya, selain karena sejumlah karya polemisnya tentang sufi Wujudiyah. Terkait dengan pendiriannya yang tidak kenal kompromi, al-Raniri kemudian harus berhadapan dengan seorang ulama Minangkabau yaitu Saiful Rijal.

Saiful Rijal melawan pembaharuan neo-sufisme al-Raniri dalam suatu perdebatan tanpa akhir yang melibatkan elit Aceh yang berkuasa. Akan tetapi raja Aceh Tajul Alam Safiatuddin Syah, cenderung mendukung Saiful Rijal. Hasilnya, Saiful Rijal dipanggil ke istana, bergabung dengan lingkaran kerajaan yang sedang berkuasa. Sementara al-Raniri dipaksa meninggalkan Aceh.

Pembaharuan neo-sufisme al-Raniri tidak berhenti begitu saja, visi pemebaharuan tersebut dilanjutkan oleh al-Sinkili. Belajar dari pengalaman al-Raniri, al-Sinkili mengambil pendirian yang kompromis dan toleran dengan sufi Wujudiyah. Dia menerima gagasan dasar Wujudiyah, tetapi dalam sebuah rumusan baru dibawah spirit neo-sufisme. Karena sifatnya yang kompromis dan toleran, raja Aceh Tajul Alam Safiatuddin Syah mengundang al-Sinkili ke kerajaan dan mengangkatnya sebagai hakim agung kerajaan, Kadi Malikul Adil. Kedudukan tersebut membuat al-Sinkili masuk ke jantung kehidupan intelektual Nusantara.

Sebagai Kadi Malikul Adil, al-Sinkili mulai tampil di pentas intelektuak Nusantara. Al-Sinkili menulis sekitar dua puluh dua karya (kitab) yang membahas berbagai bidang ilmu pengetahuan Islam. Al-Sinkili terus menyeruakan pembaharuan neo-sufisme dengan caranya sendiri yang telah diletakkan dasarnya oleh al-Raniri. Ajaran-ajaran mistik al-Sinkili secara kuat menekankan penerapan syariat, yang melaluinya jalan bagi pencapaian mistik dalam realitas (haqiqah dan ma’rifah) dapat dicapai. Dia menganjurkan praktik-praktik ritual Islam (ibadah), khususnya dzikir (mengingat Tuhan), menjadi fondasi untuk mencapai kesatuan spiritual dengan Tuhan. Selain dikenal dengan karya-karyanya, al-Sinkili juga dikenal luas sebagai pemimpin tarikat Syattariyah di Nusantara.

Dari pengalaman al-Raniri dan al-Sinkili tersebut, jaringan dengan ulama Timur Tengah berkontribusi membuat Islam di Negri Bawah Angin makin terintegrasi dengan pusat Islam. Pembaharuan neo-sufisme berbasis Makkah muncul sebagai diskursus intelektual Islam yang penting di Nusantara pada abad ke-17.

Makkah dan Visi Transmisi Islam

Pada abad ke-17 terdapat perubahan pemaknaan dan persepsi Makkah mulai mengemuka. Berbeda dari teks-teks kerajaan yang menghadirkan pandangan berorientasi kerajaan tentang haji yang dimana Makkah menjadi kekuatan spiritual bagi legitimasi politik raja. Ulama pesantren memahami haji tidak hanya sebagai salah satu pilar dasar Islam yang wajib dijalankan oleh kaum muslim tetapi juga, sebagai perjalanan keagamaan untuk mencari pengetahuan Islam. 

Munculnya institusi-institusi pendidikan pesantren menjadi latar historis bagi perubahan persepsi terhadap Makkah. Hal tersebut berkaitan dengan transformasi posisi ulama menyusul runtuhnya kerajaan-kerajaan maritim. Ulama berubah dari pejabat kerajaan, sebagai kepala Syaikhul Islam dan pengadilan agama (Kadi), menjadi guru agama dipesantren.  

Otoritas keagamaan tidak lagi bisa dibangun hanya berdasarkan hubungan ekslusif dengan elite yang berkuasa, sebagaimana terjadi pada jabatan di kerajaan. Justru, ulama sendiri menjadi fondasi bagi otoritas keagamaan mereka ditengah-tengah umat Islam dengan Pesantrennya. Pada titik inilah, Makkah memegang peranan penting bagi para ulama. Pengalaman belajar di Makkah dipercaya meningkatkan otoritas dan pengaruh intelektual ulama di tengah-tengah umat Islam.

Ulama pesantren menjadi aktor utama dalam jaringan dengan Timur Tengah, dan pada gilirannyabertanggungjawab mendifinisikan ulang Makkah dalam diskursus intelektual Islam di Nusantara. Pada akhir abad ke-19 di Makkah meningkatnya “Komunias Jawi”, yang tinggal dan belajar di Makkah, hal tersebut membuktikan bahwa semangat thalab al-‘ilm menjadi salah satu aspek utama perkembangan intelektual Islam di Nusantara.

thalab al-‘ilm merupakan salah satu bagian terpenting dari pengalaman menjadi komunitas Jawi di Makkah, selain melaksanakan ibadah haji. Perjalanan thalab al-‘ilm menjadi suatu konsep agama bagi umat muslim Nusantara. Komunitas Jawi memegang peranan penting dalam mengembangkan diskursus keIslaman di Nusantara. Salah satu ulama Jawi terkemuka yaitu Syekh Nawawi Al-Bantani.

Syekh Nawawi mengarahkan kapasitas intelektualnya untuk memberi komentar terhadap kitab-kitab standar karya ulama Makkah yang berisi berbagai bidang  Pengetahuan Islam bagi umat muslim Nusantara. misalnya dalam bidang fiqih, beliau menulis  Al-Taushih, merupakan karya anotasi dari Fath Al-Qarib karya Muhammad bin Al-Qasim Al-Ghazali, yang merupakan sebuah komentar dari Taqrib (Al-Ghayah wa Al-Taqrib) karya Abu Abu Shuja’ Al-Isfahani.

Kitab fiqih lainnya karya Nawawi adalah Kashifah Al-Saja, berupa komentar dari Safinah Al-Naja. Beberapa komentar dalam bidang Aqidah,seperti Tijan al-Darari atas Risalah Fi’ilm al-Tauhid karya Syekh Ibrahim Al-Bajuri. Hal tersebut dilakukan oleh Nawawi untuk mempermudah memahami sumber-sumber pembelajaran Islam yang lebih mudah dicerna.

Nawawi menghadirkan sebuah contoh transmisi Islam, berupa kontekstualisasi Islam kepada budaya lokal. Kemudian pola transmisi ini juga dinisbahkan kepada ulama jawi lain dari abad Ke-19. Nawawi memiliki memiliki kedudukan penting dalam geanologi intelektual jaringan ulama di Nusantara. Jika kita membaca kitab, kita akan melihat tulisan matan dan syarah yang merupakan ciri khas kitab pra modern, terdapat syarah dan matan yg merupakan bagian inheren dari budaya ulama pra modern sebagai media diskursus intelektual Islam.

Syarah merupakan elaborasi interpretatif dari teks asli (matan). Elaborasi tersebut ditranformasi menjadi diskursus intelektual islam dan pada akhirnya pembentukan kehidupan keagamaan muslim. Dengan demikian, syarah menjadi bagian inheren dari matan yang diinterpretasikan dan dielaborasikan.

Akhirnya proses tersebut menjadi unsur intelektual utama dalam transmisi Islam di Nusantara. Karya-karya Nawawi menjadi sumber pembelajaran Islam di Nusantara, seperti Tijan Al-Darari telah dicetak berulang-ulang setelah diterbitkan di Kairo dan kemudian di Makkah, dan karya ini masih digunakan sebagai salah satu sumber pengajaran Islam di pesantren Indonesia.

Data Buku

Judul Buku                  : Ulama dan Kekuasaan Pergumulan Elit Politik Muslim Dalam Sejarah Indonesia

Penulis                         : Jajat Burhanuddin

Penerbit                       : Mizan

Cetakan                       : Cetakan I, Juni 2012

Tebal                           : 481 halaman

ISBN                           : 978-979-433-691-5

*Resensi kiriman dari Fadlu Muhamad An’imullah, Mahasiswa IAIN Surakarta.



Sumber Berita harakah.id

#Pergumulan #Elit #Politik #Muslim #dalam #Sejarah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved