Orang Bawean dan Masjid Pertama di Vietnam - Bagyanews.com
Connect with us

Feature

Orang Bawean dan Masjid Pertama di Vietnam

Published

on


Bagi banyak orang di Indonesia, Bawean sepertinya tidak asing lagi. Nama sebuah pulau yang terletak di utara pulau Madura, Jawa Timur. Tapi mungkin masih sedikit yang mengetahui bahwa mereka termasuk salah satu komunitas Muslim yang berpengaruh dalam geliat perkembangan Islam di kota Ho Chi Minh, kota ekonomi terbesar di negara Vietnam bagian Selatan. Konon, orang Bawean merupakan kelompok yang pertama kali menyelesaikan pembangunan masjid di negara komunis ini.

Saya sendiri baru mendengar kisah mereka sekitar empat tahun lalu saat berkunjung ke kota Ho Chi Minh. Suatu pagi, seorang kawan mengajak saya untuk makan Banh Mi (roti sandwich khas Vietnam) halal di depan sebuah masjid, saat itulah ia menceritakan kisah orang-orang yang bermukim di sekitarnya. Mayoritas mereka adalah Muslim dari Indonesia yang telah memasuki generasi ketiga atau keempat. Termasuk yang menjual Banh Mi dan pemilik warung tenda yang menyediakan makanan halal rumahan di sudut depan masjid.

Masjid ini bernama masjid (Cong Dong Hoi Giao) Al Rahim Malaysia-Indonesia. Beberapa kali saya mengunjungi tempat ini untuk berusaha bertegur sapa dengan saudara sebangsa, tapi tidak satupun yang saya temui bisa bertutur dalam Bahasa Melayu, apalagi Indonesia. Komunikasi saya dengan beberapa orang dibantu terjemahan oleh kawan saya. Menurut mereka, meski keturunan Indonesia, sangat sedikit yang bisa berbahasa melayu, kecuali anak-anak mereka yang sempat bersekolah atau kuliah di Indonesia atau Malaysia.

Orang Bawean

Saya berusaha mencari kisah mereka dalam referensi sejarah, namun ternyata sangat sedikit, untuk tidak mengatakan nihil sarjana Indonesia yang membicarakan tentang keberadaan orang Bawean di kota Ho Chi Minh. Imigrasi mereka dari pulau di utara pulau Jawa ke Semenanjung Indocina diceritakan oleh beberapa sarjana luar yang menulis tentang Islam di Indocina.

Salah satu tulisan penting yang merekam kembali jejak historis bagaimana orang bawean bisa sampai ke Ho Chi Minh dan bagaimana dinamika mereka menjadi diaspora di negara komunis ini, dilakukan oleh Malte Stokhof, seorang antropolog dari Belanda.

Menurut Stokhof (2008), kedatangan mereka termotivasi oleh tiga faktor: pertama, sosial-ekonomi, mereka berusaha mencari pekerjaan yang layak, menjauh dari sistem kerja di masa kolonial Belanda; kedua, budaya merantau; dan ketiga karena faktor agama, orang Bawean yang pergi haji akan transit di Singapura, mereka yang mencari pekerjaan di Singapura, banyak di antaranya yang menaiki kapal yang akan berlayar ke semenanjung Indocina untuk bekerja di bawah pemerintahan Prancis saat itu.

Marcel Ner (1937), mengesahkan dan mengisahkan kemungkinan ini, sekitar tahun 1850an, terdapat 300 orang yang menuju ke Saigon, nama kota Ho Chi Minh dulu, yang berangkat dari Singapura. Saat tiba, mereka menjadi pekerja untuk pemerintahan protektorat Prancis. Mereka yang datang, termasuk orang Bawean dikenal sebagai Malais, orang Melayu. Masa itu, pemerintahan Prancis di Indocina memang dikenal memiliki kebijakan terbuka untuk menerima pekerja dari luar.

Masjid Pertama 

Pada saat itulah, orang Bawean mulai mendirikan masjid untuk kepentingan ibadah komunitas mereka, yang dinamakan Chua Ma Lai, Masjid Malaysia. Rie Nakamura, salah satu sarjana yang menulis sedikit tentang Masjid Al Rahim sebagai masjid pertama di kota Ho Chi Minh, menurutnya, mereka mendahului komunitas India dalam penyelesaian masjid.

Meskipun pada awalnya, masjid ini bernama Masjid Malaysia, namun sekitar tahun 1973 nama masjidnya diubah. Didasari oleh kesadaran orang Bawean adalah orang Indonesia, bukan Malaysia. Walau demikian, tidak ditemukan informasi detail nama masjid setelah perubahan tersebut.

Saat ini, seperti yang tertulis, masjid ini bernama Masjid Al Rahim Malaysia-Indonesia, dibangun sejak 1885. Di kalangan masyarakat muslim di Vietnam, masjid ini juga sering disebut dengan masjid Boyan, dari nama Bawean. Penambahan nama Malaysia-Indonesia, lebih karena masjid tersebut dibangun kembali oleh dua pemerintah: Malaysia dan Indonesia, setelah dipugar pada sekitar tahun 2010.

Jika diamati sekilas, masjid Al Rahim merupakan salah satu masjid yang unik, berbeda dari kebanyakan masjid di kota Ho Chi Minh. Umumnya, masjid-masjid lain memiliki corak arsitektur yang mirip dengan masjid di Asia Selatan, India dan Pakistan, namun Al Rahim tampak lebih mirip masjid di Indonesia dan Malaysia.

Masjid ini terletak di tengah hiruk pikuk aktivitas ekonomi. Lokasinya dekat dengan Saigon Sky Deck, Gedung tertinggi di kota ini. Tidak jauh dari Pasar Benh Than, tujuan belanja dan pusat kegiatan para pelancong. Masjid ini terletak di pinggir jalan raya, sementara kiri kanannya dihimpit oleh pemukiman warga muslim, mereka itulah mayoritas orang Bawean. (AN)

 

Oleh: Khaidir Hasram

Alumni Sps UIN Jakarta, meminati kajian minoritas Muslim dan Islam di Indocina 



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Feature

Ketika Seorang Ustadz Divonis Mengidap Gejala Depresi

Published

on

By


Apa yang aku ceritakan dalam tulisan ini senyatanya adalah kisah nyata belaka tanpa ada rekayasa. Kalaupun ada dramatisasi, mohon maklumilah, karena sebagai seorang ustadz yang terbiasa harus bisa menghadapi public speaking, sehari-hari memang saya dituntut untuk bisa mendramatisasi persoalan sesederhana mungkin agar tampak semenarik mungkin.

Baiklah, jadi begini ceritanya. Saya divonis mengalami gejala depresi ringan. Ini ketahuan ketika saya menerima vasilitas yang diberikan oleh kantor tempat saya menjadi kontributor. Beberapa hari yang lalu mereka membagikan sembako dan pilihan layanan konsultasi bagi karyawan dan kontributor yang tentu saja terdampak pandemi. Ada dua layanan yang mereka tawarkan. Layanan kesehatan dan layanan psikologi. Karena saya merasa tubuh saya bugar dan tipe orang yang tak mau melewatkan gratisan, maka saya ambil layanan psikolog.

Maka berbincanglah saya dengan seorang psikolog yang jelas bukan abal-abal karena ia telah memiliki izin praktik. Ia bertanya tentang apa yang saya rasakan dan apa yang saya inginkan ke depan. Saya ceritakan bahwa saya merasa kurang produktif di masa pandemi ini dan ingin menjadi lebih produktif. Tentu saja saya tidak akan menceritakan detail obrolan saya dengan psikolog karena itu akan menabrak kode etik psikologi dan mengumbar self problem bisa dianggap “curcol gak mutu” oleh para netizen. Intinya, di akhir sesi sang psikolog pemilik izin praktik itu menyatakan saya mengalami gejala depresi ringan dan menyarankan untuk lebih sering meluangkan waktu buat me-time dan quality time dengan keluarga. Me-time kemudian saya artikan sebagai muhasabah, dan quality time dengan keluarga saya artikan sebagai nafkah batin.

Malam sesudah siangnya saya divonis depresi ringan, jujur saya tidak bisa tidur. Tentu saja bukan karena efek dari gejala depresi yang saya idap tapi karena saya memikirkan kenapa saya bisa depresi. Bahasa sederhananya: “saya depresi karena dianggap depresi”. Pertanyaan besar menggelayut di fikiran saya. Kenapa saya seorang ustadz bisa mengalami depresi.

Mohon izin sebelumnya. Saya tidak bermaksud jumawa. Tapi saya adalah seseorang yang menempuh pendidikan di pesantren sejak saya lahir hingga saya menikah. Dan saya menikah dengan putri seorang pengasuh pesantren sehingga otomatis saya berada lagi-lagi di pesantren. Dan saya tak memiliki opsi profesi yang banyak selain menjadi seorang ustadz.

Dalam pikir saya, bagaimana mungkin saya bisa mengalami gangguan kejiwaan padahal saya sudah khatam baca buku Psikologi Agama Jalaluddin Rahmat yang menyebutkan bahwasanya kesehatan mental merupakan kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara regresi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan).

Saya, tentu sudah pernah mengaji kitab Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali yang menyebutkan bahwa dari sekian banyak nafsu, mukmin sejati hendaknya memiliki nafsu muthmainnah yang lebih dominan. Saya juga tentu saja sering mengulang-ulang ayat QS al-Fajr: 27-28 tentang apa itu nafsu muthmainnah. Bahkan saya juga sering menyitir QS al-Radd: 28 dan mengingatkan jamaah tentang pentingnya berdzikir karena hanya dengan itu hati bisa tentram.

Lantas bagaimana mungkin saya bisa mengalami gangguan mental? Jawabnya adalah mungkin. Sama mungkinnya dengan Bill Gates jatuh miskin. Meskipun kemungkinannya adalah satu banding sejuta milyar, tapi ya tetap saja mungkin.

Masalah kesehatan mental nyatanya bisa dialami oleh siapa saja, terutama di masa modern seperti sekarang ini, ketika apapun bisa dilihat. Ustadz seperti saya misalnya bisa melihat lulusan kampus pertanian tiba-tiba fasih berbicara tentang khilafah islamiyah dan viral disukai banyak orang padahal –hey, bro-, notabenenya itu adalah wilayah akademik saya. Koq bukan saya yang viral?. Btw, ini sekadar contoh ya gaes, bukan berarti rasa iri dengki semacam itu yang saya alami.

Orang yang dikarunia gigi putih bersih tiba-tiba merasa insecure hanya karena melihat orang lain yang giginya jauh lebih putih dan lebih rapi. Tidak memiliki bakat terpendam tiba-tiba membuat seseorang merasa frustasi karena berakibat dia tidak bisa ikut salah satu challenge di media sosial dimana orang-orang membagikan bakat terpendam mereka seperti bisa menggoyangkan telinga, menekuk jari telunjuk hingga menekuk telapak luar atau apapun itu.

Pastinya, ada banyak di luar sana yang bisa menjadi penyebab kita bermasalah secara mental apapun itu jenisnya. Bersyukurnya saya yang mengetahui ini lebih dini sehingga setidaknya saya bisa cari cara untuk menanggulanginya. Pada akhirnya saya merasa perlu mengevaluasi ibadah-ibadah yang sudah saya lakukan. Jangan-jangan selama ini ibadah saya hanya sebatas permukaan dan tidak sampai hati. Kira-kira itu salah satu positif yang bisa aku ambil.

Akhirnya, buat siapapun. Please, waspadalah dengan masalah kesehatan mental kalian. Psssst… ini bukan iklan psikolog atau psikiater whoi… dan siapapun kita, its ok koq kalau kita ternyata punya masalah mental sehingga kemudian kita bisa melakukan beberapa tindakan yang dianggap perlu untuk menyehatkan kembali mental kita. (AN)





Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Alasan Jadi Generasi Sandwich dalam Islam Belum Tentu Berkah

Published

on

By


Menjadi generasi sandwich tidak melulu berkah bagi seorang anak. Bayangkan kondisinya begini: gaji anda kecil, harus membiayai hidup orang tua, adik yang masih sekolah dan tiba-tiba semua pendapatanmu bulan itu habis. Sedangkan, ya sedangkan, saat ini kamu harus menafkahi keluarga kecil yang mulai kamu bangun—lengkap dengan seorang anak kecil yang lucu dan tentunya ia membutuhkan biaya yang begitu besar untuk pendidikan. Hidup jadi begitu susah, himpitan ekonomi senantiasa membebani.

Kamu tentu saja tidak lupa berdoa dan yakin, rizki yang mengalir kepadamu adalah amanah. Tapi, kok merasa ada yang kurang ya?

Mungkin jika kamu ada di posisi ini, ada yang akan berkomentar, ah mungkin kurang bersyukur? Rezeki seret, kurang beri orang tua itu. Bakti kepada orang tua kan wajib, awas loh durhaka. Awas tidak berkah. Belum lagi, mungkin banyak banget cibiran lain yang bakal muncul jika kamu sebagai generasi sandwich mengeluh. Padahal, mengeluh itu manusiawi.

Tenang saja, Kawan. Jika kamu mengalami itu, kamu tidak sendirian kok.

Ada banyak mereka yang jadi roti lapis (sandwich) ini. Tergencet antara menafkahi orang tua, membiayai hidup sendiri dan tanggung jawab terhadap keluarga. Ini istilah yang belakangan jadi tren di kalangan urban dan sebagai muslim kita harus peka dan mulai memikirkan persoalan keuangan ini. Itulah alasan kenapa kita, dalam Islam, dianjurkan untuk kuat secara ekonomi.

Urusan ekonomi ini, anda tahu, adalah dua sisi mata uang yang kerap tidak bertemu. Ia bisa jadi penghancur utama hidupmu atau justru menjadi membuat dirimu bahagia. Kamu bebas kok mau meniru jadi kaya raya dan memperbanya sedekah. Atau ya memilih untuk mengabaikan

Nah, jika ada yang bilang kamu tidak bersykur kamu ngeluh karena jadi sandwich, percayalah, banyak yang tidak tahu bagaimana perjuanganmu membiayai tiga lapis kehidupan yang menggencet dirimu saat ini. Dan untuk itu, kamu berhak untuk sekadar mengeluh, merutuki kehidupan da

Di luar sana, banyak orang yang tidak tahu, bagaimana kamu menangis, lelah dan merasa sendirian. Padahal kamu sudah bekerja dengan keras  untuk menjalankan tugasmu sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, suami/istri yang berusaha sekeras mungkin membahagian dan manusia yang ingin membahagiakan diri.

Jadi, Sandwich itu Berkah atau Beban?

Bagi KH Cholil Navis, menjadi generasi sandwich ini menjadikan kita kesempatan untuk lebih banyak lagi bersyukur. Apalagi jika menyangkut orang tua. “Islam mengajarkan agar selalu berbakti dan bersyukur kepada kedua orang tua sebagaimana bersyukur kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman: ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. (QS. Lukman: 14)’,” tulisnya.

Meskipun begitu, bagi generasi muslim yang terjebak menjadi generasi sandwich tidak serta merta bersyukur lalu segalanya akan baik-baik saja. Tidak sesederhana itu.

Bersyukur adalah sebuah konsep yang ada dalam kepala dan diaplikasikan dalam tindakan sehari-sehari. Menjadi pribadi yang gemar bersyukur ini adalah pintu menuju keberkahan asalkan dilakukan dengan cara-cara yang tepat guna menyingkirkan himpitan generasi sandwich.

Pola pikir adalah hal pertama, menurut KH Cholil Navis, yang harus ditata ulang. Selanjutnya adalah komunikasi dengan orang tua atas segala keterbatasan yang ada dan berusaha memikirkan solusi bersama, dan terakhir adalah menata ulang pos-pos ekonomi yang krusial untuk diamankan terlebih dahulu. Misalnya, soal makanan, rumah dan semacamnya.

Tiga hal ini paling tidak akan membuatmu merasa menjadi generasi sandwich tidak semenyakitkan itu, kok. Segala sesuatu pasti ada solusinya. Itulah pentingnya bagi generasi muslim untuk belajar literasi keuangan. Belajar keuangan akan membantumu untuk keluar dari betapa menakutkannya jadi generasi sandwich dan membuatmu, paling tidak, tidak mewariskan ke anak-anakmu kelak untuk jadi seorang sandwich. Tidak akan membuat anakmu repot di kemudian hari.

Nah, jika mengikuti ilmu keuangan, kita bisa kok keluar dari jeratan generasi sandwich ini. Kamu tinggal googling dan akan banyak sekali cara-cara yang bisa kamu pelajari untuk bisa memutus mata rantai ini.

Dari semua hasil pencarianmu, yakinlah, dari semua hal itu paling tidak ada dua hal krusial yang harus dimulai. Pertama, rencanakan keuanganmu. Ini terlihat sepele tapi sebenarnya mempunya efek yang sangat besar. Cobalah dari hal sederhana, misalnya, untuk membuat pos keuangan. Misalnya, 40% khusus untuk ‘sandwich’ dan sisakan 10% untuk ditabung/investasikan. Sisanya, bisa untuk kebutuhan sehari-sehari seperti cicilan rumah dan lain. Jangan lupa juga untuk zakat ya.

Kedua, investasi dan monitor.  Ini titik krusial. Jika ingin melangkah jauh, kita perlu berinvestasi. Bisa di mana saja, apalagi sekarang ini banyak sekali platform yang menyediakan diri sebagai tempat investasi. Bisa juga mulai berinvestasi ke usaha/bisnis orang yang kamu kenal—ingat, hal ini perlu dihitung dengan cermat lagi.

Investasi ini mungkin tidak terlihat secara cepat. Tapi, percayalah, hasilnya akan tampak dalam beberapa tahun mendatang. Dua hal itu kunci. Variasi dari dua hal itu bisa banyak sekali dan gampang sekali kamu temukan untuk dipelajari. Dan bagi kita sebagai calon orang tua, penting untuk belajar dua hal itu biar nanti anak-anak kita tidak terjebak jadi generasi sandwich. cukup di kamu. Kita harus mempersiapkan yang terbaik bagi generasi mendatang.

Begitulah. Menjadi sandwich dan mengeluh tidak apa-apa kok. Merasa Cepek juga manusiawi. Toh kita tidak pernah tahu hidup kita berkah atau tidak. Biarkan itu jadi urusan Allah. Dan yakinlah, Dia tidak tidur dan senantiasa di sekitar kita. Tugas kita adalah terus berusaha, berdoa dan bersyukur. Insya Allah segalanya akan baik-baik saja.

 

*Artikel ini hasil kerjasama Islami.co dan Celengan Pemuda Tersesat. Anda juga bisa klik di Kitabisa untuk tahu aktivitas dan ikut serta menjadi bagi gerakan kampanye ini





Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Berdamai dengan Mental Health, Sebab di Islam Kita Mengenal Konsep ‘Man Arafa Nafsahu, Arafa Robbahu’

Published

on

By


Seorang teman bercerita, tekanan kerjaan dan lingkungan membuat kepalanya serasa pecah. Efeknya, ia sulit tidur dan sering berantem dengan pasangannya.  Belum lagi, kini ia merasa tidak bergairah melakukan pekerjaan itu, padahal dulu ia tidak begitu. Ia begitu bersemangat.

Di kantor, ia memang baru dipindah-posisikan di bagian yang bukan kapasitasnya. Ia ahli di editing naskah tapi harus pindah ke bagian marketing. Alasan kantor: tim sudah gemuk, ia mungkin berguna di divisi lain.

“Aku bisa saja mempelajari posisi ini, tapi kan butuh waktu. Biasanya kerja lebih sunyi, tim lebih sedikit, saat ini pusing sekali. Riuh banget WA, notifikasi, target macam-macamlah pokoknya,” tuturnya. “Apakah gua kena mental health apa sekadar burn out saja?”

Saya lantas bertanya balik, memangnya sudah begitu parahkah? Ia lalu memberi tahu, ia ingin resign dan lari saja dari dunia ini. Terkadang, ia sempat berpikir untuk menutup segala akses komunikasi terhadnya. Kabur entah ke mana. Namun, ia punya kontrak yang harus dihormati.

Saya sedikit terhenyak. Kawan saya ini kelihatan baik-baik saja—paling tidak di media sosialnya ia masih cerewet seperti biasa, kerap posting vakansi ke tempat-tempat asyik dan makan ragam makanan yang tampak menggoda.

Lantas saya bercerita kepadanya, apa yang ia alami bukanlah mental health. Mental health atau Kesehatan mental  tidak ada yang perlu ditakuti dari istilah ini, justru yang kita harus adalah, mental health adalah bagian dari kita yang dekat. Memahami ini akan membuat kita lebih mengerti diri kita sendiri dan segala hal yang membuat kita berarti.

Mental Health ini mencakupi segala hal tentang diri kita, pemahaman akan lingkungan hingga pengalaman dari seseorang yang memengaruhi hidupnya. Ini sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Untuk itu, kesehatan mental dan kesehatan fisik begitu krusial untuk sama-sama dijaga, begitu penting untuk terus menerus dipahami dan diperkuat.

Jika merunut  pada konsepsi World Health Organization (WHO) mental health ini bahkan merujuk kondisi kesejahteraan individu dan ia mampu mengatur segala emosi, stress dan segala hal yang mungkin akan berpengaruh pada dirinya dalam kehidupan yang normal. Hingga akhirnya ia jadi produktif, menghasilkan sesuatu (kepuasan) bagi dirinya dan berefek a lingkungan sosialnya.

Dalam islam ada konsep yang cukup dekat pemakan itu. Yakni konsep memahami diri kita dengan lebih dekat. Konsep ini bahkan diajarkan oleh Rasulullah sendiri Rasulullah SAW bersabda: من عرف نفسه، فقد عرف ربّه “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu,” artinya: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.

Nah, kesepahaman akan diri sendiri ini sebenarnya bisa jadi titik tolak untuk lebih memahami mental health. Setiap orang, anda tahu, punya titik lemah dan kekuatan masing-masing. Jika ia mengetahui dirinya dengan begitu matang, maka di sana ia berpotensi untuk menemukan cahaya Tuhan dalam dirinya. Cahaya yang termanifestasi dalam pemaknaan yang mendalam terhadap diri sendiri. Hingga ia mampu mengenal dengan sangat baik dirinya.

Lain halnya ketika menyebut istilah ganggual mental (mental illness) dan saya rasa kawan saya mengalami ini.

Dalam pekerjaan, ia mengalami burn out dan merasa segalanya berubah dengan begitu cepat, membuat dirinya lunglai tidak berdaya. Hingga akhirnya kemasan timbul dan overthingking (berpikir terlalu berlebihan hingga membuat cemas dan sakit) dan ingin secepat-cepatnya menjauh dari realitas yang menghantam dirinya. Tubuhnya mungkin tampak sehat, tapi percayalah jauh di dalam dirinya terasa hampa dan mungkin retak.

“Apakah aku tidak memahami diriku sendiri?” tanya kawanku.

Sejujurnya, pertanyaan ini membuat saya kebingungan. Karena jawaban itu justru ada pada dirinya sendiri.

Yang bisa saya katakan kepadanya, agar ia tidak menahan dengan berlebihan (represi) perasaannya saat ini dan mungkin ia bisa cerita ke manajer maupun Human Resource di kantor tentang kondis saat ini. Mungkin ia bisa bicara tentang bagaimana kecemasan yang melanda dirinya dan tekanan pekerjaan yang membuat dirinya tidak bergairah lagi.

“Kalau begitu, apa aku kena mental illness?” tanya dia sekali lagi.

Saya balik bertanya sekali lagi, apakah ini sudah benar-benar menganggu hidupnya? Apakah ia mulai berpikir untuk ‘menyakiti diri’ sendiri? Perubahan drastis dalam hidup; pola makan, hidup dll?

Ia mengangguk.

Maka saya meminta untuk segera menghubungi psikolog, dari sana mungkin ia akan tahu, sejauh apa mental illness ini menggangu dirinya (mental health) dan berpotensi merusak dirinya sendiri.

Hal ini penting untuk dilakukan mengingat fungsi psikolog bukan sekadar sebagai teman bicara semata. Berbicara dengan psikolog mungkin akan membantu dirimu menemukan solusi atas persoalanmu hari ini. Bahkan tidak mungkin, ia bisa memberikan alternatif solusi yang lebih tepat berdasarkan disiplin ilmu yang telah ia pelajari bertahun-tahun. Bisa jadi ia akan merujuk ke psikater apabila kondisinya mengharuskan.

Tidak perlu takut ke psikolog maupun psikiater jika kondisi dirimu sudah separah itu. Kalau toh tidak, penting untuk bertemu dan bicara dengan sahabat/pasangan yang dipercaya. Mungkin sahabatmu itu tidak serta merta memberi solusi jitu atas pelbagai masalah, tapi paing tidak beban yang menggelayut di pundakmu akan sedikit berkurang.

Mental health perlu dipelajari dan dipahami biar tidak terjebak pada kondisi mental illness yang justru membuat kita kehilangan potensi terbaik kita sebagai manusia.

 

*Artikel ini hasil kerjasama Islami.co dan Celengan Pemuda Tersesat. Anda juga bisa klik di Kitabisa untuk tahu aktivitas dan ikut serta menjadi bagi gerakan kampanye ini





Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved