Connect with us

Menginspirasi

Nasruddin Dan Sepotong Roti | Cerita Motivasi @ Inspirasi

Published

on


Alkisah, para filsuf, ahli ilmu mantiq, dan ahli hukum semuanya berkumpul di istana. Mereka bergabung untuk menginterogasi Nasruddin Hoja. Perkaranya, Nasruddin telah berbuat kesalahan yang amat serius.

Nasruddin sering kali datang ke berbagai tempat meneriakkan satu khotbah yang sama. Dalam khotbahnya beliau menyebut para ahli ilmu, seperti para ulama, sebagai orang yang bodoh. Tentu saja, khotbah Nasruddin ini dianggap mengganggu ketertiban negara karena mencela para ahli ilmu.

Singkat cerita, mereka yang merasa tersinggung meminta Raja untuk mengadili Nasruddin Hoja. Kemudian digelarlah sebuah pengadilan dengan Nasruddin sebagai terdakwa tunggal.

“Hai, Nasruddin,” ucap Raja.

“Ya, Baginda,” sahut Nasruddin.

“Aku bermurah hati padamu, Engkau mendapat giliran untuk bicara terlebih dahulu sebagai pembelaan atas tindakanmu. Apa alasan dari khotbahmu itu?”

Nasruddin lalu meminta dibawakan beberapa lembar kertas dan pena. Setelah itu beliau berkata, “Tolong bagikan kepada para pakar yang ada di ruangan ini, masing-masing secarik kertas dan sebilah pena.”

Setelah setiap pakar mendapatkan kertas dan pena, Nasruddin berkata lagi, “Aku mohon kepada setiap ahli untuk menuliskan di kertas itu jawaban untuk pertanyaanku ini. Apa yang dimaksud dengan roti?”

Para ahli ilmu, cendekiawan, dan ulama yang ada di tempat itu lalu menuliskan apa yang mereka ketahui tentang roti. Jawaban para pakar itu lalu dikumpulkan dan diserahkan kepada Raja. Raja pun membacanya satu demi satu.

Ahli ilmu pertama menulis, “Roti adalah sebuah makanan.” Ulama kedua menjawab, “Roti adalah tepung bercampur dengan air.” Si filsuf menulis, “Roti adalah karunia Tuhan.” Ahli mantiq selanjutnya menjawab, “Roti adalah terigu yang telah dimasak.” Cendekiawan berikutnya menulis, “Roti merupakan makanan bergizi.” Demikian seterusnya.

Setiap orang yang terkenal ahli ilmu itu menulis jawaban yang berbeda-beda, masing-masing bergantung pada pemaknaan mereka akan sebuah roti.

Setelah mendengar semua jawaban itu, Nasruddin berkata kepada Sang Raja, “Kalian yang hadir di sini adalah ahli ilmu namun tak ada seorang pun yang memiliki jawaban yang sama dari sebuah pertanyaanku tentang roti.”

“Wahai Baginda, ketika mereka tidak dapat memiliki jawaban yang sama tentang apa yang dimaksud dengan roti, apakah mereka berhak menentukan khotbahku benar atau salah? Inilah maksudku, mereka adalah orang-orang yang bodoh.”

Beliau melanjutkan, “Dapatkah Baginda memercayakan urusan penilaian atau keputusan kepada orang-orang seperti ini? Bukankah amat aneh bila mereka tidak sepakat akan sesuatu yang mereka makan setiap hari, tetapi sepakat untuk menentukan bahwa khotbahku salah?”

Nasruddin Hoja memberikan pelajaran filsuf sufi kepada kita semua, bahwa di atas keberagamaan yang terpecah-pecah ke dalam berbagai mazhab itu, terdapat satu keberagamaan yang disepakati.

Seseorang akan menjadi lebih arif apabila ia meninggalkan hal yang dipertengkarkan dan memasuki satu hal yang disetujui bersama.

Tidaklah mungkin bagi kita untuk membuat semua orang memiliki pendapat yang sama tentang bagaimana cara menjalankan keberagamaan yang berbeda dengan benar.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menginspirasi

Sepatu Basah | Cerita Motivasi @ Inspirasi

Published

on

By


Ada seorang customer yang memesan sepatu di Nordstrom seharga 200 dollar atau sekitar 3 juta rupiah.

Saat dia menemukan sepatunya basah kuyup karena ditinggalkan di depan rumah dan hujan deras menerpanya. Siapa yang bertanggung jawab?

Bisa jadi sang customer sendiri atau jasa pengiriman (seperti FedEx, DHL, UPS, atau yang lainnya). Yang pasti bukan Nordstrom.

Ketika kita protes ke Nordstrom apa yang akan dia lakukan? Kemungkinan besar akan meminta kita untuk mengajukan komplain ke bagian jasa pengirimannya bukan?

Akan tetapi ketika orang ini mengontak Nordstrom, jawabannya sungguh di luar dugaan.

Tanpa ragu-ragu, customer servicenya berkata, “Saya minta maaf sekali untuk apa yang terjadi. Saya akan membawa langsung sepatu baru ke sana. Apakah Anda akan ada di rumah dalam 45 menit?”

Amazing. Bagaimana mereka benar-benar mempedulikan perasaan customernya. Langsung memberikan solusi terbaik, tercepat dan dilakukan sendiri.



Sumber Berita

Continue Reading

Menginspirasi

Fokus Kepada Hal Yang Penting

Published

on

By


Di sebuah desa terdapat jembatan yang rusak. Kepala desa sepakat untuk memperbaikinya. Mereka memperkerjakan satu orang tukang untuk itu.

Ketika dalam rapat dibahas, bahwa perlu ada satu orang karyawan untuk membeli kebutuhan sang tukang. Direkrutlah orang untuk belanja.

Karena butuh orang yang memastikan agar pekerja di lapangan bekerja dengan baik direkrutlah seorang petugas pengawas lapangan.

Kemudian dikatakan bahwa untuk keperluan administrasi disepakati bahwa perlu ada seorang akuntan. Ditambahkanlah satu orang akuntan.

Kemudian karena berbicara mengenai akuntabilitas maka diperlukan auditor untuk mengawasi akuntan. Masuklah sang auditor baru.

Karena jumlah timnya cukup banyak dan antar divisi, maka dikatakan perlu tambahan seorang manajer untuk membawahi semuanya.

Setelah proyek berjalan, ternyata budget yang diperlukan membengkak. Dana tidak cukup. Karena itu kepala desa dan jajarannya sepakat untuk memcat sang tukang untuk mengurangi biaya.

Mungkin Anda tertawa, loh, kalau tukangnya dipecat terus yang benerin jembatannya siapa? 😀

Kadang kita juga suka terjerumus dengan hal-hal seperti itu. Kita harus memisahkan mana yang benar-benar penting. Mana yang benar-benar perlu kita prioritaskan. Jangan sampai kita sibuk sekali dengan semua embel-embel ini itu, tapi lupa mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan.



Sumber Berita

Continue Reading

Menginspirasi

Jangan Terlalu Baik | Cerita Motivasi @ Inspirasi

Published

on

By


Baru-baru ini, Doddy mengalami kecelakaan mobil. Karena mobilnya harus diperbaiki di bengkel untuk waktu yang cukup lama, ia terpaksa naik kereta untuk berangkat kerja.

Di stasiun ia menemukan seorang pengemis tua. Karena iba, ia memberikan sedikit uang pada pengemis tua itu. Si pengemis sangat berterimakasih atas pemberian Doddy.

Esoknya, ia menemukan pengemis itu lagi. Kali ini, Doddy mengajak pengemis itu untuk makan siang bersama. Saat makan ia bertanya, ‘Mengapa kau sampai seperti ini?’

Pengemis itu menjawab, ‘Karena menolong orang.’ Doddy bingung dengan jawaban si pengemis tua itu.

‘Dahulu, aku sering menolong orang di sekitarku,’ kata pengemis tua, ‘Entah untuk sesuatu yang benar atau salah, aku selalu berusaha menolong orang. Sampai tanpa terasa aku sudah menghabiskan waktu dan hartaku.’

Steve bertanya, ‘Kau menyesalinya?’

Pengemis tua menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku sedih ketika orang-orang yang kubantu dulu tidak mau membantuku saat membutuhkan bantuan. Nak, kuberi satu nasihat.’

‘Lebih baik mengundang orang kesusahan ke rumahmu, daripada membagikan bata saat kamu membangun rumahmu sendiri,’ kata si pengemis. Doddy memahami kata-kata itu dan berterima kasih atas nasihatnya.

Utamakan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menolong orang lain. Jangan memaksakan dirimu untuk menolong orang, sebab tidak semua orang akan membalas kebaikanmu.

Ada sebuah pepatah dari Tiongkok yang berbunyi, “Terlalu banyak hal yang baik adalah sesuatu yang buruk.” Dalam hal ini, kasusnya adalah menolong orang. Menolong memang merupakan hal yang baik, tapi jika kamu tidak melihat konsekuensi pada diri sendiri maka hasilnya buruk.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved