Connect with us

Perjalanan

Merawat Ingatan: Menjumpai Syekh Mansyur Ulama Karismatik Dompu

Published

on



Kendaraan kami hidupkan dan mulai menyusuri jalan yang berliku. Sebagaimana topografi pulau Sumbawa pada umumnya, Dompu dikelilingi oleh pengunungan yang berjejer, hampir tak ada celah. Akibatnya, kami harus melintasi punggung gunung untuk sampai di sana. Kendaraanpun tak jarang harus menghadapi tanjakan terjal dan meliuk di ujungnya mengikuti lekuk pegunungan. Di saat musim hujan datang, lereng pegunungan tampak menghijau sejauh mata memandang. Bila pagi dan sore tiba semburat rona jingga di ufuk sana kian menambah keindahan dan memanjakan mata yang memandang.

Kendaraan terus kami pacu. Beberapa kali harus melewati bekas kubangan lumpur yang mengering. Di balik keindahan bentang alam, bila musimnya tiba, hujan yang jatuh melewati lekuk pengunungan tumpah di jalanan bercampur sampah dan lumpur, menjadi banjir dan memaksa siapa saja yang melintas mengurangi laju kendaraan bahkan harus berhenti. Ini adalah fenomena alam yang tidak terputus dari ulah manusia.

Hutan yang berfungsi sebagai resapan air sejak lama telah menjadi objek ekploitasi, tepatnya kala Orde Baru mulai berkuasa aktifitas penebangan kayu telah dilakukan bahkan hingga saat ini. Ditambah lagi dengan pembukaan hutan secara besar-besaran demi penanaman jagung. Semuanya kian memperburuk situasi yang ada. Baru beberapa waktu lalu media bahkan ramai dipenuhi dengan informasi banjir bandang yang melanda wilayah ini.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bila fenomena alam semacam itu terjadi, dia tidak pandang bulu. Siapapun bisa menjadi korban, bukan hanya mereka yang jahil karena merusak alam tapi mereka yang bahkan menjaganya sekalipun. Begitulah alam bekerja, mereka yang mengeruk dan mengeksploitasinya, orang lain pun ikut celaka. Beruntung saat melakukan perjalanan ini, musim tengah mengalami transisi sehingga hujanpun mulai jarang turun. Tapi, sisa kubangan lumpur yang mengering masih terdapat di sana-sini.

Memasuki kabupaten Dompu, kami mulai mengurangi laju kendaraan hawatir jika tempat yang kami tuju, pusara Syekh Mansyur, terlewati. Karena kebingungan, kami menghentikan kendaraan di pinggir jalan, menemui beberapa warga yang sedang berkerumun untuk memeroleh informasi. Tidak sesuai harapan, mereka ternyata tak mengetahui sama sekali tokoh yang kami maksud. Bahkan hingga berulang kali kami berhenti bertanya, tak satupun memberi jawaban pasti. Mungkinkah senggang waktu yang cukup lama antara masa hidup tokoh tersebut dengan masa sekarang mengakibatkan banyak orang tak tau tentang mereka? Ya, itu bisa saja terjadi. Tapi, apakah senggang waktu itu lantas kita jadikan alasan tak mau tau tentang mereka?

Walaupun tak kunjung menemukan informasi yang pasti, kami terus menelusuri di mana Syekh Mansyur meninggalkan jejak terakhirnya. Bahkan kami sempat menaiki bukit karena mengira di sanalah makam beliau berada. Tak diduga-duga di atas bukit tersebut, kami justru menemukan makam tokoh Dompu yang lain, yakni Syekh Abdurrahman. Semoga di lain kesempatan, saya dapat menuliskan sedikit tentang siapa Syekh Abdurrahman yang kondisi makamnya memperihatinkan karena ditutupi semak belukar sampai-sampai hampir tak kelihatan.

Perjalanan berlanjut, kami meninggalkan makam tersebut dan berusaha kembali menemukan makam Syekh Mansyur. Akhirnya, setalah lama memacu kendaraan, kami menemukan orang yang tepat. Sesaat setelah kami menyapanya dan bertanya sambil tersenyum dia mengatakan, “Syekh Abdul Ghani”. “Ya betul Syekh Abdul Ghani. Dia adalah anak dari Syekh Abdul Ghani”, saya membalas. Dia lalu mengarahkan telunjuknya ke sebelah barat dan kamipun bergegas ke arah sana. Tak jauh dari sana terdapat masjid yang tidak terlalu besar, namanya Masjid Abdul Ghani. Sesuai petunjuk orang yang kami jumpai, sepertinya kami telah menemukannya. Kami merasakan rasa puas yang hebat saat melihat bagian belakang masjid. Ternyata, di sanalah pusara Syekh Masyur berada di kelilingi oleh makam-makam lain.

Syekh Masyur yang saya kunjungi kali ini merupakan anak dari Syeh Abdul Ghani Bima yang tinggal di Dompu dan melanjutkan dakwah ayahnya di sana hingga kemudian meninggal di sana. Dalam sejarahnya, Syekh Mansyur pernah dijadikan sebagai qadi (hakim) pada masa kesultanan Dompu. Dari Syekh Mansur inilah kemudian lahir Syekh Muhammad dan Syekh Mahdali atau dikenal dengan julukan Sehe Boe yang sempat saya kunjungi pusaranya beberapa waktu lalu dan berjumpa dengan salah satu putrinya. Pusara Syekh Mansyur terletak di kelurahan Potu, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat tepat di belakang sebuah masjid yang diberi nama Masjid Abdul Ghani.

Mengunjungi pusara tokoh-toko apalagi ulama semacam itu bagi saya bukan hanya mengharap barkah sebagaimana sering disampaikan. Barakah memang menurut saya tak perlu diharap-harapkan. Ibarat orang memberi tak perlulah mengharapkan imbalan.

Hal penting lainnya ialah, pusara semacam itu adalah fakta sejarah. Iya menjadi bukti bahwa dahulu pernah ada orang yang berjuang membangun sebuah wilayah terutama dalam konteks membangun jiwanya. Sebab, para ulama memang bukan hanya memoles fisik. Ia terutama membangun jiwa masyarakatnya. Pusara orang arif sebagaimana keturunan Syeh Abdul Ghani, Syekh Mansyur dan Syekh Mahdali, membawa saya melihat kembali ke masa lalu. Sebuah ingatan yang membuat saya melihat sisi lain dari daerah ini. Di tengah sikap pragmatis dan geliat pembangunan fisik yang terus digalakkan, dahulu ada orang yang pernah berjuangan dengan tulus membangun jiwa masyarakat daerah ini.

Itu sebabnya, saya terkadang merasa sangat nyaman saat mengunjungi makam orang-orang yang berpengaruh, seperti ada kepuasan spiritual tersendiri yang sulit diungkapkan. Tidak jarang, mereka yang telah terbujur kaku di dalam tanah selama puluhan bahkan ratusan tahun leblih banyak memberi pelajaran dibandingkan dengan banyak manusia dewasa ini. Ini bukan berarti saya sama sekali tak menaruh kepercayaan pada manusia moderen saat ini. Semoga perjumpaan saya dengan keturunan ulama ternama dari daerah ini menuntun saya berjumpa dengan tokoh-tokoh lainnya.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perjalanan

Sejarah Benteng Nassau Banda Neira dan Saksi Kekejaman Kolonialisme

Published

on

By



Siapa yang tak mengenal benteng, benteng merupakan bangunan yang umumnya berbentuk persegi atau semacamnya. Benteng sudah ada sejak berabad-abad. Dahulu benteng digunakan untuk melindungi sebuah kerajaan dari serangan musuh. Kita bisa melihat benteng di bekas kerajaan Mataram misalnya, seperti bekas Keraton Kartasura disana masih terdapat sisa benteng yang terbuat dari batu bata atau di Keraton Surakarta.  

Benteng pernah menjadi hiburan masyarakat Indonesia era tahun 2000-an. Melalui tayangan televisi berjudul Benteng Takeshi, acara ini sempat menjadi primadona publik Nusantara. Tentu kita masih ingat acara tersebut yang biasanya ditonton bareng keluarga, teman ataupun saudara. Benteng mengingatkan kita pada kolonialisme bangsa Belanda. Di pelbagai kota Belanda membangun sebuah benteng, misal benteng Vasternburg di Surakarta, Benteng Pendem di Cilacap, Benteng  Fort Rotterdam di Makasar dan masih banyak lagi benteng-benteng bikinan Belanda.

Pada era kolonial benteng berfungsi sebagai sistem pertahanan dan juga ruang tahanan bagi kaum pribumi. Berbagai peristiwa keji pernah terjadi pada sebuah benteng milik kompeni. Tak ubahnya benteng menjelma menjadi tempat esekusi. Bagi pecinta sejarah tentunya tidak asing dengan Benteng Nassau yang berada di Banda Neira. Benteng ini pun pernah menjadi saksi kekejaman kolonialisme Belanda pada abad ke XVI.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kepulauan Banda Naira terletak di Provinsi Maluku terbentang di laut Banda, di tenggara Pulau Ambon dan di selatan Pulau Seram. Sebagian besar penduduk pulau ini bermukim di Naira.  Pada zaman dulu provinsi Maluku merupakan jalur perdagangan yang sering dilewati dan disinggahi kapal-kapal berbagai bangsa, Cina, Arab, Portugis, Inggris, dan Spayol. Kepuluan ini banyak menghasilkan komoditi rempah seperti pala, fuli, cengkeh dll.

Pada abad ke XV Portugis mulai mengirim ekspedisinya ke kepulauan rempah ini. Tujuan utama ekspedisi ini adalah untuk mencari rempah dan berniaga dengan penduduk lokal. Setelah Portugis, Spanyol kemudian menyusul dengan menguasai perdagangan di wilayah Malaka. Kepulauan Banda pun menjadi buronan bangsa Eropa berkat kekayaan rempah yang melimpah.

Pada abad ke XVI pala menjadi buruan orang Eropa, sampai-sampai harga komoditi pala tersebut setara dengan emas. Kemudian persekutuan dagang Belanda atau dikenal dengan nama Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC), mengirim ekspedisi pertamanya ke kepulauan Banda. Ekspedisi ini dipimpin oleh Verhoeven dengan tujuan dagang.  Sesampainya di Banda Verhoeven mendirikan pos dagang di pelabuhan, namun ia tidak senang dengan penduduk lokal yang lebih senang berdagang dengan Inggris dibanding dengan VOC. Akhirnya Verhoeven mengajak tokoh masyarakat setempat untuk mengadakan perjanjian. Namun ia dikhianati dan mati terbunuh bersama sebagian pengikutnya.

Abad ini benteng berperan penting bagi VOC, mereka mulai membangun Benteng Nassau sebagai upaya pertahanan dari serangan penduduk lokal dan bangsa Eropa lain. Melalui benteng ini VOC memonopoli perdagangan pala. Benteng ini juga menjadi saksi pembantaian masal yang dilakukan VOC dibawah kepemimpinan Jan Pieterzoon Coen. Puluhan tokoh Banda Neira yang dijuluki orang kaya pernah dibantai sebagai upaya Coen dalam memonopoli perdagangan pala di pulau tersebut.

Dalam buku karangan Des Alwi yang berjudul Sejarah Maluku, Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon (2005) diceritakan kekejaman Belanda terhadap rakyat Banda abad ke XVI. Pada tahun 1622 sekitar 44 orang kaya di Banda diesekusi mati oleh Jan Pieterszoon Coen. Ia menyewa ronnin (samurai Jepang) untuk mengesekusi orang kaya Banda. Kepala mereka dipenggal dan bagian tubuhnya di potong menjadi 4 bagian dan dilempar ke segala penjuru. Kepala yang telah dipenggal tersebut lalu ditancapkan diatas tiang bambu dan dipertontonkan kepada semua orang. Oarang-orang kaya tersebut mati tanpa perlawanan namun ada yang sempat berkata “Tuan-tuan, tidak adakah merasa berdosa?”.

Benteng Nassau terletak di Desa Nusantara, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Benteng ini dibangun pada tahun 1607 dibawah pimpinan Verhoeven. Sebelumnya VOC membangun benteng ini di bagian lain namun karna tanahnya amblas lalu pindah ke bekas benteng Portugis yang belum terselesaikan. Artinya benteng Nassau dibangun diatas pondasi benteng Portugis. Hingga kini benteng tersebut masih berdiri dan menyisakan tragedi.

Penaklukan Banda Naira oleh Coendiperkirakan telah memakan korban rakyat Banda sekitar 12 ribu jiwa. Hal tersebut berawal dari rempah dan pembangunan benteng yang berujung penaklukan. Benteng pernah menjadi peristiwa berdarah di negeri penuh rempah. Orang-orang yang serakah membuat benteng untuk merebut kekayaan Nusantara yang melimpah. Dari benteng kita belajar bahwa kolonialisme tak semestinya dilakukan oleh siapapun dan bangsa manapun.



Sumber Berita

Continue Reading

Perjalanan

Masjid Wadi Al Husein, Saksi Islamisasi di Thailand

Published

on

By


Masjid Wadi Al Husein adalah Salah satu peninggalan Masjid dalam sejarah penyebaran Islam di Pattani, Thailand bagian selatan. Masjid berada di desa Telok Manok, sekitar 26 kilometer dari Kota Provinsi Narathiwa.

Saya ke Pattani melalui penerbangan ke Kuala Lumpur. Dari sana terbang  ke bandara Hat Yai Propinsi Sonkla. Perjalanan selanjutnya menggunakan mobil selama 2 jam, menempuh jarak 80 km. 

Adalah Wan Husein As-Sanawi Al-Alfathoni pada tahun 1624 membangun masjid itu. Masjid ini sangat unik karena menggunakan arsitektur bergaya lokal Melayu, jauh dari pengaruh Arab dan bahkan dekat dengan model rumah gadang di Padang Sumatera Barat.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Wan Husein sendiri sebagai ulama, khas sebagai seorang pendakwah, memiliki mobilitas yang tinggi. Dia pernah pula mengembara, menyebarkan pengaruh Islam di Pulau Jawa, Madura dan Sumatera. Akhirnya menetap di desa Telok Manok Pattani Darussalam kala itu. Kisah Wan Husein terpahat apik di prasasti berupa lempengan dari Kuningan. Prasasti menggunakan aksara dan bahasa Thai, juga aksara latin berbahasa Inggris. Prasasti ini sesuatu yang masih jarang di masjid-masjid bersejarah yang ada di Indonesia.

Prasasti berbahasa Thai dan Inggris yang berkisah tentang Wan Al Husain (Foto: Abdur Rozaqi)

Masjid Wadi Al Husein kaya dengan lekuk ukiran di pinggiran atas, pintu-pintu dan dinding di dalamnya, juga mengingatkan kita pada masjid-masjid tua di Indonesia. Pola persambungan kayu juga tidak menggunakan paku, namun dengan teknik saling mengunci rapat dalam pertalian yang kokoh. Teknik ini membutuhkan tingkat persisi yang tinggi.

Arsitektur Masjid Masjid Wadi Al Husein yang bernuansa lokal ini menunjukkan pola penyebaran Islam yang sangat adaptif dengan budaya lokal di masyarakat. Arsitektur masjid ini menandakan jejak erat kebearagamaan Islam Nusantara antara Pattani Raya dengan Kepulauan lainnya di Indonesia dan sekaligus persambungan, selain tentu saja naskah-naskah dan silsilah guru.



Sumber Berita

Continue Reading

Perjalanan

Kisah Petualangan George Quinn Menziarahi Makam Wali Nyentrik di Tanah Jawa

Published

on

By


“Bapak tahu kalimah syahadat, kan?” “Tahu.” “Dalam bahasa Arab?” “Ya.” “Lantas mengapa tidak Bapak ucapkan? Mengapa Bapak tidak pindah agama saja?”

Kutipan dialog ini merupakan pembuka dalam bab pertama yang mengulas pengalaman ziarah sang penulis di Makam Sunan Kalijaga.

Permintaannya blak-blakan, tetapi ramah. Tutur George Quinn, penulis buku Wali Berandal Tanah Jawa ini mengomentari kisahnya sendiri saat diajak masuk Islam oleh sesama peziarah.

Buku berjudul asli “Bandit saints of Java: How Java’s Eccentric Saints are Challenging Fundamentalist Islam in Modern Indonesia” ini ditulis oleh seorang dosen senior di Australian National University (ANU) kelahiran Te Kuiti, New Zealand. Dalam menuliskan buku ini ia melakukan riset cukup (sangat) lama.  Penulis yang fasih berbahasa Indonesia dan Jaw aini berkeliling dari satu makam ke makam lainnya. Dari satu kota ke kota lainnya. Ia tidak hanya menceritakan saat berziarah dan mewawancari juru kunci (kuncen) makam yang ia ziarahi, melainkan juga mengisahkan pengalamannya saat naik dan turun bus umum. Ia menumpahkannya dengan sangat rinci, mengalir, dan enak di baca. Misalnya saat ia naik Bus dari Surabaya menuju Sumenep berikut ini:

Pada Oktober 2015, saya naik bus di terminal Bungurasih Surabaya, berharap-harap bisa selamat menempuh empat sampai lima jam perjalanan yang berguncang-guncang ke Sumenep. Saya mendapat tempat duduk tepat di belakang kursi sopir. Di bawah, mesin diesel bergetar lirih. Bus baru berangkat ketika penumpang sudah penuh.  

Pedagang asongan berjalan mondar-mandir di Lorong bus, meletakkan barang dagangan di pangkuan penumpang, lalu dengan sabar mengambilnya Kembali beberapa menit kemudian. Satu paket kaus kaki laki-laki jatuh di atas lutut saya, diikuti songkot “taqiyah” (kopiah?) putih, dan bungkusan kecil berisi kacang. Saya biarkan, dan beberapa saat kemudian, barang-barang itu menghilang.

Konten Buku

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Review atas buku ini yang ditulis secara akademik dan dimuat di sejumlah jurnal terkemuka sudah cukup banyak. Sekurangnya ada yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang diulas dalam jurnal Studia Islamika, bahasa Inggris oleh Tim Hannigan di asianreviewofbooks.com, dan bahasa Prancis oleh peneliti-Indonesianis kawakan asal Prancis Henri Chambert-Loir yang dimuat dalam Archipel. Kendati demikian, perbincangan atas buku yang edisi bahasa Indonesianya baru saja terbit ini saya kira akan terus dilakukan.

Sebagaimana anak judul yang disematkan penulisnya dalam judul aslinya “Bandit saints of Java: How Java’s Eccentric Saints are Challenging Fundamentalist Islam in Modern Indonesia”, hampir semua tinjauan atas buku tersebut mengurai sisi bagaimana tradisi ziarah yang telah mengakar di dalam masyarakat Jawa terus berkembang bahkan terus menguat, yang alih-alih tergerus oleh kelompok Islamisme yang cukup marak belakangan ini.

Oleh karena itu, dalam artikel yang ditulis oleh Endi Aulia Garadian, yang dimuat dalam jurnal Studia Islamika misalnya, saya hampir-hampir tidak menemukan kritik yang mempertanyakan ulang isi buku ini. Pertanyaan mendasar yang layak diajukan adalah misalnya apa definisi wali yang dimaksud dalam buku ini? Jika yang dimaksud wali nyentrik atau berandal adalah orang-orang yang memiliki masa silam sebagai perampok, lalu mengapa dan atas dasar apa (keberandalan yang mana) ia memasukkan nama Mbah Priok dalam buku ini, misalnya?

Buku ini terdiri dari sepuluh bab utama ditambah prolog dan epilog oleh penulisnya sendiri. Bagian prolog ini sepertinya dimaksudkan untuk memberikan kerangka atas keseluruhan buku ini. Hal ini tercermin dari judul yang dipilih dalam pembukaan buku ini: Nusantara dalam Jagad Batin Jawa. Ia membukanya dengan kisah ziarahnya ke salah satu gunung yang ramai diziarahi masyarakat jawa yang sekaligus cukup mistis: Gunung Lawu.

Ia mengisahkan bahwa perjalanan ziarahnya ke Gunung Lawu dilakukannya pada tahun 2001. Tepatnya pada malam 1 Muharram (Jawa: Suro). Gunung Lawu pada malam hari tanggal tersebut, menurutnya, dipenuhi oleh para peziarah laki-laki dan perempuan. “Saya perkirakan, antara 5000 sampai 10.000 orang”, tulisnya.

George Quinn megawali lembaran isi buku ini dengan mengajak para pembaca menelusuri ritual ziarah di makam Sunan Kalijaga. Mungkin penempatan ulasan Raden Mas Said di awal pembahasan buku ini bukan kebetulan dan tanpa alasan. Penulisnya ingin meneguhkan bahwa buku Wali Berandal Tanah Jawa ini dimulai dengan mengulas Sang Berandal Lhokajaya, sebutan lain Sunan Kalijaga.

Dari Sunan Kalijaga, ia kemudian mengulas Sunan Bonang. Ia lalu bergeser ke Kediri dengan menyajikan kisah ziarahnya ke petilasan Jayabaya dan “legenda” hubungannya dengan Syekh Washil Kediri. Dari Kediri ia pindah ke Makam Ki Ageng Balak, Solo. Kemudian ke Tegal dengan menziarahi Sunan Panggung yang lalu dilanjutkan kisahnya saat menziarahi Makam Mbah Priok di ibukota Jakarta. Seusai mengisahkan pernak-pernik Makam Mbah Priok beserta penuturan tragedi tahun 2010 yang sempat menghebohkan negeri ini ihwal kerusuhan saat rencana penggusuran makam tersebut, ia pindah menuturkan kunjungannya ke wali penjaga Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Baik saat Mbah Maridjan masih hidup maupun ziarahnya ke Makamnya. Ia berpetualang bukan hanya di Jawa sebagaimana judul bukunya, melainkan hingga ke Asta Tinggi Sumenep.

Rentangan masa hidup antar satu tokoh dengan tokoh lainnya yang dibahas dalam buku ini juga sangat panjang. Dari petilasan Jayabaya dan Syekh Washil Setono Gedong (abad 13) hingga Mbah Maridjan yang paling belakangan (abad 20 atau 21). Saya sendiri tiak menemukan penjelasan mengapa yang dipilih adalah orang-orang tersebut? Tak hanya itu, George Quinn juga memasukkan sejumlah petilasan-petilasan tokoh yang secara historis sebenarnya susah ditemukan sisi “kewalian”-nya seperti petilasan Jayabaya misalnya. Apa benang merah yang menghubungkan dan mengaitkan satu tokoh/makam dengan lainnya dan kemudian ia simpulkan buku ini dengan judul “Wali Berandal tanah Jawa?”

Jika saya boleh mereka-reka, mungkin yang dimaksud Wali Berandal oleh George Quinn dalam buku ini adalah sejumlah tempat ziarah yang dikeramatkan oleh sejumlah Muslim Jawa. Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa di tengah arus purifikasi ajaran agama yang digelorakan oleh sebagian kelompok Muslim di tanah air ini tidak akan mampu menandingi kehadiran Islam toleran, adaptif dan asimilatif yang dilakukan sebagian masyarakat Jawa yang ditandai dengan terus berkembangnya tradisi ziarah dari tahun ke tahun.

Ala kulli hal, buku ini sangat unik dan menarik. Di satu sisi bisa dijadikan semacam “travel guide”, di sisi lain bernilai akademik karena selain melakukan wawancara mendalam ala etnografi juga sarat dengan rujukan-rujukan akademik.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved

VERIFIED & SECURED
BY: R3
SSL Valid: Jun 21, 2021 - Sep 19, 2021