Connect with us

Menginspirasi

Mencari Jati Diri Sesungguhnya | Cerita Motivasi @ Inspirasi

Published

on


Dahulu kala di kastel nan jauh di tengah hutan, ada tiga remaja yang hidup bersama karena jati diri mereka dirampas oleh Penyihir Bayangan.

Anak lelaki yang terjebak di dalam kotak berkata, “Kita harus menemukan kembali jati diri kita agar tak bertengkar dan hidup bahagia.”

Mereka menaiki mobil kemah untuk mencari jati diri mereka.

Di perjalanan mereka bertemu Ibu Rubah yang sedang menangis di ladang yang dipenuhi salju.

Anak lelaki yang selau memakai topeng menanyakan Ibu Rubah, “Kenapa kau terus menangis?”

Ibu Rubah menjawab, “Aku kehilangan anak di ladang salju ini. Saat menggendongnya di punggungku, aku terlalu sibuk mencari makan.”

Melihat Ibu Rubah terus menangis, sambil memukul-mukul dadanya, anak lelaki pun mulai mengeluarkan air mata yang hangat.

Setelah beberapa lama salju meleleh dan mereka berhasil menemukan anak rubah yang membeku tertimpa salju.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan, dan bertemu dengan badut yang menari tanpa busana di ladang bunga berduri.

Tong Kosong bertanya pada badut itu, “Kenapa kau menari dengan segenap hati di ladang yang penuh duri?”

Badut itu menjawab, “Dengan begini orang-orang akan memperhatikanku.”

Namun orang-orang tetap tidak memperhatikannya. Itu hanya membuatnya kesakitan.

Lalu tong kosong memasuki ladang bunga berduri dan mulai menari bersama sang badut.

“Karena aku adalah tong kosong, tertusuk duri tak membuatku terluka.”

Sesaat setelah Tong Kosong mulai berlari dan menari, terdengar suara yang sangat nyaring dari dalam tubuhnya.

Orang-orang mulai berkumpul setelah mendengar suara itu, lalu menonton mereka menari sambil bertepuk tangan.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan untuk mencari jati diri yang hilang.

Di perjalan, Penyihir Bayangan yang jahat muncul di hadapan mereka.

Lalu dia menculik Anak Bertopeng yang mengeluarkan air mata untuk Ibu Rubah dan Tong Kosong yang menari bersama badut.

“Mulai sekarang kalian tak bisa hidup bahagia,”

Setelah dikutuk, mereka dikurung dalam goa yang gelap.

Anak Kotak menemukan mereka usai beberapa hari. Namun dia tak bisa masuk goa karena pintu masuknya terlalu sempit.

“Bagaimana ini? Jika ingin masuk ke dalam goa, aku harus melepaskan kotak ini.”

Pada saat itu, dari dalam goa terdengar suara anak Bertopeng. “Pergilah yang jauh, jangan mencemaskan kami. Penyihir bayangan akan kembali.”

Namun, Anak Kotak dengan berani melepaskan kotak yang digunakannya dan bergegas memasuki goa yang gelap itu untuk menyelamatkan Anak Bertopeng dan Tong Kosong.

Setelah keluar dari goa, Anak Bertopeng dan Tong Kosong melihat wajah Anak Kotak yang dipenuhi lumpur dan tertawa terbahak-bahak.

Mereka terus tertawa. Topeng milik Anak Bertopeng jatuh setelah dia tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.

Tong kosong yang membebani putri itu juga ikut terjatuh.

Melihat mereka berdua menemukan jati dirinya, anak lelaki yang melepas kotaknya berkata,

“Aku bahagia.”

Apa yang dirampas oleh Penyihir Jahat bukan jati diri mereka yang sesungguhnya. tapi keberanian untuk mencari kebahagiaan.

[It’s Okay to Not Be Okay]



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menginspirasi

Semangat Berbagi Dalam Sepatu | Cerita Motivasi @ Inspirasi

Published

on

By


Pada 2006, Blake Mycoskie, seorang pengusaha sekolah mengemudi melakukan perjalanan ke negara yang sudah lama menjadi incarannya untuk melancong, Argentina.

Sesampainya di sana, dia mengamati rata-rata orang memakai sepatu khas nasional mereka yang dinamai alpargata. Sepatu yang kasual, ringan, dan simpel.

Terlintas ide dalam pikirannya: kalau model sepatu seperti ini dibawa ke pasar Amerika dan sedikit dimodifikasi mungkin akan laku, tetapi dia segera meomotong ide tersebut. Pikirnya, dia sedang ingin berlibur dan tidak sedang ingin berbisnis.

Namun, situasi berubah begitu liburannya akan berakhir. Menjelang akhir liburannya, dia melihat kelompok orang yang sedang mengumpulkan donasi berupa sepatu yang akan diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan. Ternyata di Amerika Latin banyak anak-anak yang tidak bersepatu, termasuk di negara berkembang seperti Argentina.

Hari-hari berikutnya dia keluar masuk desa di sana, dia menyaksikan sendiri memang banyak anak-anak yang tidak bersepatu. Akibatnya banyak yang menderita infeksi, kaki lecet dan melepuh, serta penyakit lain.

Pulang ke Amerika, dia merasa terpanggil untuk mengatasi masalah ini. Dalam pikirannya, mengumpulkan donasi tidaklah efisien dan memiliki banyak keterbatasan.

Muncullah ide di kepalanya: mengapa tidak membuat produsen sepatu for-profit yang akan menjamin keberlangsungan donasi sepatu ini, tapi tetap berjiwa sosial? Idenya adalah dari sepasang sepatu yang terjual, perusahaan akan memberi sepasang sepatu untuk anak yang membutuhkan.

Dia memberi label terhadap idenya ini dengan sebutan One for One.

Perusahannya pun diberi nama TOMS, yang merupakan akronim dari Tomorrow’s Shoes, sepatu untuk esok yang lebih baik.

Selanjutnya sepatu ini pun mendapat sambutan luas. TOMS berkembang pesat karena pilihan bisnisnya yang sangat membawa nilai spiritualitas, membantu orang yang membutuhkan.

Blake ingin orang lain berumbuh kembang. Dia ingin mendapatkan laba, dengan tetap memberi manfaat bagi banyak orang. Sifat cinta kasih dan berbelas kasih begitu terasa.

Belakangan, tidak hanya sepatu, TOMS juga menjual kacamata. Dari setiap kacamata yang terjual TOMS mendonasikan satu kacamata untuk anak yang membutuhkan.

Para pelanggan dan penggemar TOMS juga antusias menyukseskan ajang tahunan yang digelar perusahaan ini, One Day Withous Shoes. Satu hari tanpa sepatu. Ajang ini dibuat agar kita bisa sedikit merasakan kondisi anak-anak kurang beruntung yang sehari-harinya bertelanjang kaki.

Blake telah menentukan pilihan bisnisnya, yang berangkat dari nilai-nilai spiritualitas: membantu sesama. Semua niat baik akan menjadi baik hasilnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Menginspirasi

Tewas Karena Gosip | Cerita Motivasi @ Inspirasi

Published

on

By


Sepulang dari sawah, seekor kerbau rebahan di kandang dengan wajah lelah dan nafas yang berat. Lalu datanglah seekor anjing, kemudian kerbau berkata kepada anjing: “Ah, temanku, aku sangat lelah, kalau boleh besok aku mau istirahat sehari saja.”

Si anjing pergi dan di tengah jalan dia berjumpa dengan kucing, lalu anjing berkata kepada kucing: “Tadi, saya bertemu kerbau, katanya dia besok mau istirahat dulu. Sudah sepantasnya sebab boss kasih kerjaan terlalu berat.”

Si kucing lalu bercerita kepada kambing: “Kerbau komplain boss kasih kerjaan terlalu banyak dan berat, besok dia tidak mau kerja lagi.”

Kambing pun bertemu ayam dan dia bilang: “Kerbau tidak senang kerja dengan boss lagi, mungkin dia sudah ada kerjaan yang lebih baik.”

Ayam pun berjumpa dengan monyet dan dia bercerita: “Kerbau tidak akan kerja lagi untuk boss, dan mau kerja di tempat lain.”

Saat malam tiba, monyet bertemu dengan si boss, dan berkata: “Boss, si kerbau akhir-akhir ini sudah berubah sifatnya, dan mau meninggalkan boss untuk bekerja di tempat boss yang lain.”

Mendengar ucapan monyet, sang boss marah besar. Dan tanpa konfirmasi lagi, dia langsung menyembelih si kerbau karena dinilai telah berkhianat kepadanya.

Padahal ucapan asli si kerbau adalah: “Saya lelah dan besok mau istirahat sehari saja.”

Lewat beberapa teman ucapan ini telah berubah dan sampai kepada sang boss menjadi: “Si kerbau akhir-akhir ini sudah berubah sifatnya, dan mau meninggalkan boss untuk bekerja di tempat boss yang lain.”

  • Sebaiknya satu pembicaraan berhenti cukup sampai di telinga kita saja dan tidak perlu sampai ke telinga orang lain.
  • Jangan menelan mentah atau percaya begitu saja setiap berita atau perkataan orang lain meski itu keluar dari mulut orang terdekat. Kita perlu cek kebenaran sebelum bertindak atau memutuskan sesuatu, konfirmasikan dulu ke sumbernya langsung.
  • Kebiasaan meneruskan perkataan (berita) dari orang lain dengan menambah atau menguranginya bahkan menggantinya dengan persepsi dan asumsi kita sendiri bisa berakibat fatal.
  • Jika ragu dengan ucapan (berita) dari seseorang, sebaiknya kita bertanya langsung kepada yang bersangkutan untuk mengkonfirmasi kebenarannya.



Sumber Berita

Continue Reading

Menginspirasi

Uang Bukan Segalanya, Tapi… | Cerita Motivasi @ Inspirasi

Published

on

By


Seorang ayah dan ibu sangat murka ketika mengetahui anak perempuan mereka hamil.

“Siapa bedebah yang menghamili kamu!” Teriak sang ayah.

Sambil menangis ibunya pun berucap, “Suruh dia datang kesini!”

Sang putri lalu menelepon pria yang menghamilinya.

Setengah jam kemudian sebuah mobil Lamborghini putih berhenti di depan rumah.

Seorang lelaki muda berparas tampan keluar dari mobil, memberi salam lalu masuk ke rumah.

“Perkenalkan.. Saya adalah lelaki yang telah menghamili anak anda. Tapi terus terang saya akan bertanggung jawab. Sekiranya anak anda melahirkan bayi perempuan maka saya akan berikan untuknya sebuah minimarket, sebuah hotel dan uang tunai 10 milyar rupiah. Sekiranya dia melahirkan anak laki-laki maka saya akan berikan untuknya dua buah minimarket, dua buah hotel dan uang tunai 20 milyar rupiah. Tapi sekiranya anak anda keguguran apa yang harus saya lakukan?”

Sang ayah berpikir sejenak dan si ibu berhenti menangis.

Tak lama kemudian sang ayah sambil menepuk bahu anak muda tersebut berkata.. Gapapa, kamu coba lagi ya nak 🙂

Uang itu penting. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya bisa menjadi lebih mudah dengan uang.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved