Masjid Wadi Al Husein, Saksi Islamisasi di Thailand - Bagyanews.com
Connect with us

Perjalanan

Masjid Wadi Al Husein, Saksi Islamisasi di Thailand

Published

on


Masjid Wadi Al Husein adalah Salah satu peninggalan Masjid dalam sejarah penyebaran Islam di Pattani, Thailand bagian selatan. Masjid berada di desa Telok Manok, sekitar 26 kilometer dari Kota Provinsi Narathiwa.

Saya ke Pattani melalui penerbangan ke Kuala Lumpur. Dari sana terbang  ke bandara Hat Yai Propinsi Sonkla. Perjalanan selanjutnya menggunakan mobil selama 2 jam, menempuh jarak 80 km. 

Adalah Wan Husein As-Sanawi Al-Alfathoni pada tahun 1624 membangun masjid itu. Masjid ini sangat unik karena menggunakan arsitektur bergaya lokal Melayu, jauh dari pengaruh Arab dan bahkan dekat dengan model rumah gadang di Padang Sumatera Barat.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Wan Husein sendiri sebagai ulama, khas sebagai seorang pendakwah, memiliki mobilitas yang tinggi. Dia pernah pula mengembara, menyebarkan pengaruh Islam di Pulau Jawa, Madura dan Sumatera. Akhirnya menetap di desa Telok Manok Pattani Darussalam kala itu. Kisah Wan Husein terpahat apik di prasasti berupa lempengan dari Kuningan. Prasasti menggunakan aksara dan bahasa Thai, juga aksara latin berbahasa Inggris. Prasasti ini sesuatu yang masih jarang di masjid-masjid bersejarah yang ada di Indonesia.

Prasasti berbahasa Thai dan Inggris yang berkisah tentang Wan Al Husain (Foto: Abdur Rozaqi)

Masjid Wadi Al Husein kaya dengan lekuk ukiran di pinggiran atas, pintu-pintu dan dinding di dalamnya, juga mengingatkan kita pada masjid-masjid tua di Indonesia. Pola persambungan kayu juga tidak menggunakan paku, namun dengan teknik saling mengunci rapat dalam pertalian yang kokoh. Teknik ini membutuhkan tingkat persisi yang tinggi.

Arsitektur Masjid Masjid Wadi Al Husein yang bernuansa lokal ini menunjukkan pola penyebaran Islam yang sangat adaptif dengan budaya lokal di masyarakat. Arsitektur masjid ini menandakan jejak erat kebearagamaan Islam Nusantara antara Pattani Raya dengan Kepulauan lainnya di Indonesia dan sekaligus persambungan, selain tentu saja naskah-naskah dan silsilah guru.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perjalanan

Jalan-jalan ke Maroko Yuk! Saya Ajak ‘Ngeteh’ ala Warga Maroko

Published

on

By



Negeri Maroko memang dikenal dengan julukan “Negeri seribu benteng“ atau ada yang bilang juga “Negeri matahari terbenam“. Mempunyai pesona alam dan keindahan yang tidak kalah dengan negara-negara eropa. Mempunyai sunset yang sempurna ketika sore hari menjelang waktu maghrib tiba. Bukan hanya kami saja yang menyaksikan dan menikmati keindahan itu, tapi warga lokal pun ikut bersenja ria.

Dari kalangan anak-anak sampai orang tua ikut menikmati pesona alam di pinggir pantai, biasanya dengan minum teh hangat, susu cokelat panas, atau kopi pahit. Ada juga yang menggelar tikar di rerumputan hijau sambil bercengkrama, bercanda tawa dan bahkan bermain musik ala Maroko meskipun iramanya kadang tidak pas dengan lagu, tapi saya tetap menikmatinya.

Di Maroko, kita tidak akan menemukan makanan dengan aroma dan rasa khas Indonesia, di Maroko kita tidak akan menemukan nasi uduk dicampur bakwan panas ditambah siraman sambal dan sayur yang sangat memanjakan lidah kita. Di Maroko tidak akan menemukan teh dicampur batu es yang segar, seperti di Indonesia. Kecuali ada event“ Indonesian day “ atau yang bisa kita sebut dengan pameran budaya Indonesia di beberapa kampus Maroko.

Di Maroko, banyak sekali kafe yang tersebar di kota manapun, mulai dari Casablanca, Marrakech, Rabat, Kenitra, sampai wilayah perbatasan pun pasti ada. Maka tak heran, warga Maroko setiap pagi hari, siang maupun sore bahkan malam pun kafe masih dipenuhi para pengunjung dan penikmat kopi ataupun teh. Sarapan mereka cukup dengan cemilan roti manis (halawiyyat), atau roti yang dibalut dengan cokelat (croissant).

Sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Ada yang sambil menelpon sanak saudaranya, ada yang sambil membaca koran, ada yang sengaja membawa anaknya dan masih banyak lagi keunikan ala warga Maroko lainnya. Maka jangan merasa aneh jika tiba di Maroko kemudian kita ditawarkan bertamu ke rumah mereka, maka teh akan selalu ada menemani.

Tradisi minum teh di Indonesia sangat jarang sekali saya lihat, kecuali pada saat badan tidak merasa nikmat, masuk angin atau ketika kita sakit baru minum teh hangat. Beda dengan Maroko yang setiap waktu bisa kita temukan. Dituang dengan gelas yang kecil mungil, ditambah sedikit gula dan daun-daun herbal yang khusus disajikan untuk teh Maroko ini.

Daun herbal tersebut terbagi menjadi dua macam, ada yang disebut dengan daun “ Na’na’ “. Yang kedua disebut dengan “Syiibah“. Keduanya sudah pernah saya rasakan dan aromanya sangat harum dan hangat di tenggorokan plus ada sedikit pahit-pahit sepat. Awalnya agak aneh ketika meminumnya pertama kali, tapi lama kelamaan rasanya bisa bersahabat qo dengan kita.

Kami biasa menyebutnya adalah “athay bi al-Na’na’” yang menjadi minuman favorit yang membuat candu warga Maroko, tentu keunikan lainnya adalah cara penyajian di beberapa kafe dan rumah-rumah mereka. Penyajian ini hanya bisa dilakukan dengan orang-orang yang profesional dan ahli pada bidangnya, dan enggak sembarangan.

Cara penyajian teh ala Maroko sebagai berikut :

  1. Siapkan satu teko yang bersih untuk memanaskan teh sampai mendidih. Kemudian tuangkan ke dalam gelas kecil yang mungil .
  2. Ulangi cara yang sebelumnya, dengan menambahkan serbuk/daun teh di dalam teko, sambil digerakan ke kanan dan ke kiri sampai aromanya harum.
  3. Letakan daun na’na’ tadi dalam sebuah gelas kecil sambil menunggu teh yang dipanaskan. Tambahkan gula juga sesuai takarannya di dalam teko tersebut.
  4. Setelah teh mendidih dan siap dituangkan, hendaknya kita gerakan tekonya kembali untuk memastikan gulanya merata.
  5. Setelah masing-masing gelas sudah siap dengan daun na’nanya, maka teh siap dituang dan diminum. (sumber: dailymedicalinfo.com)

Begitulah tradisi nge-teh ala Maroko dengan segala keruwetan dan keunikannya, semoga teman-teman semua bisa mampir dan melancong ke Maroko, ya. Slogan yang sering diucapkan warga Maroko mengatakan begini :

” إذا كنتَ في المغرب، فلا تستغرِب ”

Jika kamu sedang di Maroko, janganlah merasa aneh, mari minum teh…

 



Sumber Berita

Continue Reading

Perjalanan

Dari Nunjungan Menebarkan Kelezatan Mi Tek-tek

Published

on

By



Nunjungan adalah nama sebuah dusun yang berada di Desa Ketitang, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dari dusun inilah, sebuah hidangan kuliner tradisional berbahan mi menyebar ke berbagai daerah. Tercatat, ada sekira 200-an warga Nunjungan yang menjadi penjual kuliner yang populer bernama “Mi tek-tek” itu ke berbagai penjuru daerah. Hingga ke Blora, Pati, Kudus, Demak, dan Semarang.

Mie tek-tek boleh jadi nama generik bagi hidangan mi berkuah (ada juga yang versi goreng) yang dijajakan berkeliling dengan menggunakan gerobak dorong.  Nama tek-tek konon berasal dari cara penjualnya yang membunyikan bunyi tek tek tek untuk mengundang pembeli. Bunyi itu diperoleh dari potongan bambu (kentongan) yang diketuk berulang. Sehingga disematkanlah nama “Mi Tek-tek”.

Hampir di setiap daerah memiliki versi resep Mi Tek-tek masing-masing. Seperti halnya Dusun Nunjungan yang punya versi Mi Tek-tek sendiri yang relatif berbeda dengan resep Mi Tek-tek dari daerah lain. Mi Tek-tek khas Nunjungan berbumbu minimalis meliputi: bawang putih, kemiri, dan mrica. Kuahnya menggunakan kaldu ayam, sehingga tone-nya menjadi sangat gurih.

Seporsi Mi Tek-tek sudah termasuk lima tusuk sate ayam sebagai pelengkapnya. Sate ayam yang biasa jadi pendamping Mi Tek-tek, tone-nya gurih manis. Sejak dari rumah, satenya sebenarnya sudah matang dan bisa langsung disantap. Hanya saja, agar lebih sedap, satenya dibakar kembali dengan diberi olesan kecap manis saat ada pembeli.

Cara penyajiannya, Mi Tek-tek (versi kuah atau goreng) ditaruh di atas piring. Lalu lima tusuk sate ayam ditaruh di atasnya. Bagi penyuka pedas level tinggi, disediakan pula lombok dalam sebuah wadah kecil sebagai ceplusan. Atau bisa request ke penjual, irisan lombok disertakan dalam kuah Mi Tek-teknya.

Asal-usul Mi Tek-tek Nunjungan

Menurut cerita, Mi Tek-tek masuk ke Nunjungan dibawa oleh seorang pendatang musiman dari Mranggen (Kabupaten Demak) bernama Mbah Nyaman, pada sekitar tahun 1975. Saat itu, Mbah Nyaman datang ke Nunjungan dan berjualan Mi Tek-tek hanya saat musim panen padi.

Dari situlah kemudian banyak warga Dusun Nunjungan yang mulai belajar dan mendalami cara membuat Mi Tek-tek ala Mbah Nyaman. Hingga akhirnya, setelah menguasai, banyak warga Nunjungan yang memilih berjualan Mi Tek-tek sebagai mata pencaharian. Di samping menggarap sawah bagi yang memiliki sawah.

Saat ini, sekira 200-an warga Dusun Nunjungan berjualan Mi Tek-tek. Tempat yang menjadi lokus jualannya tidak hanya di lokal Kecamatan Godong, namun juga di sudut-sudut strategis di seantero Kabupaten Grobogan. Bahkan juga merambah ke kabupaten lain seperti Pati, Kudus, Demak, dan Semarang.

Di sebuah buku berjudul “Peta Lengkap Wisata  Kuliner di Semarang” (2009) terbitan sebuah penerbit di Yogyakarta, ada disebutkan Mi Tek-tek Godong. Ini menunjukkan bahwa reputasi Mi Tek-tek sudah lintas daerah dan kota. Dari sebuah dusun kecil di Kecamatan Godong bernama Nunjungan, kelezatan Mi Tek-tek disebarkan ke berbagai daerah.

Di Godong, Mi Tek-tek menjadi kuliner malam yang cukup ikonik. Bila di pagi hari kuliner ikoniknya adalah Sega Pager. Maka di malam hari, Godong menyuguhkan kuliner Mi tek-tek. Karena Mi Tek-tek memang hanya bisa dijumpai di malam hari. Dimulai dari lepas Maghrib hingga tengah malam.

Otentisitas Cara Masak

Yang khas sekaligus menjadi keunikan dari Mi Tek-tek khas Nunjungan adalah proses memasaknya yang hingga kini masih mempertahankan secara tradisional menggunakan anglo dan bahan bakarnya  menggunakan bara dari arang kayu. Sehingga cita rasanya tetap terjaga otentik, sejak dahulu hingga kini.

Hampir semua (untuk tidak mengatakan semua) penjual Mi Tek-tek Nunjungan (yang berjualan di mana pun), hampir bisa dipastikan menggunakan cara memasak secara tradisional yang otentik seperti ini. Karena hanya dengan cara inilah, cita rasa Mi tek-tek dapat dipertahankan kelezatannya. Mereka tahu, kalau beralih memakai kompor gas misalnya, meski lebih praktis, cita rasanya akan lain. Tingkat kelezatannya akan turun.

Hanya saja, ada satu yang berubah dari Mi Tek-tek dari awal kehadirannya 40-an tahun yang lalu. Bukan pada Mi Tek-teknya, tapi lebih kepada sate pelengkapnya. Dulu, di awal kehadirannya, sate pelengkapnya menggunakan daging bebek atau menthok. Tapi sekarang hampir semua penjual beralih menggunakan daging ayam, karena dinilai lebih praktis.

Perubahan itu secara relatif memang tidak begitu mengganggu kelezatan Mi Tek-tek. Sate ayam tetap cocok sebagai pelengkap menikmati Mi Tek-tek di malam hari. Hanya bagi mereka yang pernah mengalami awal-awal kehadiran Mi Tek-tek, sehingga pernah mengalami lezatnya menyantap Mi tek-tek dengan sate bebek atau sate menthok, merasa ada secuil “romantisme” yang hilang.

Kerinduan untuk menyantap Mi Tek-tek yang otentik dengan sate bebek atau menthok, terkadang membuncah. Begitu sebagian testimoni yang masuk dari para penggemar awal Mi Tek-tek Nunjungan.

Meski pada awalnya banyak dijajakan secara berkeliling, namun saat ini lebih banyak penjual Mi Tek-tek yang memilih berjualan secara mangkal di sebuah tempat. Meski masih ada juga yang tetap berjualan keliling dengan gerobak dorong.

Memopulerlan (Lagi) Mi Tek-tek Nunjungan

Bagi saya, Mi Tek-tek Nunjungan adalah fenomena, di mana hampir semua warga kampungnya menjadi penjual Mi Tek-tek. Fenomena ini serupa dengan yang ada di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, di mana banyak warganya yang berjualan Lentog Tanjung—menu sarapan pagi khas desa setempat.

Bahkan di Desa Tanjungkarang telah dibangun sentra Lentog Tanjung sebagai pusat wisata kuliner Lentog Tanjung. Adanya sentra Lentog Tanjung menjadikan para penggemar kuliner ini mudah njujug bila menghendaki menyantap kuliner ini saat berada di Kudus.

Selain berjualan di sentra Lentog Tanjung, para penjual lentog dari Tanjungkarang juga menyebar ke seantero Kudus.

Fenomena serupa lainnya juga ada di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang. Di kampung ini ada kuliner khas yang populer dengan nama Lontong Tuyuhan. Kuliner ini juga sudah lama punya sentranya, yaitu di tepi jalan desa beraspal jurusan Lasem-Pandan, tepatnya yang melintas di Desa Tuyuhan.

Baik Mi Tek-tek Nunjungan, Lentong Tanjung, dan Lontong Tuyuhan, ketiganya adalah kuliner khas berbasis lokal (desa). Hanya saja, harus diakui, secara popularitas dan branding, Lentog Tanjung dan Lontong Tuyuhan sedikit lebih maju. Keduanya telah memiliki sentra dan telah menjadi perbincangan nasional di beberapa buku (juga media massa). Boleh jadi secara nasional, Lentog Tajung dan Lontong Tuyuhan memang telah “diakui” dan “masuk” dalam atlas kuliner Indonesia.

Dalam buku 100 Mak Nyus Jalur Mudik – Jalur Pantura dan Jalur Selatan Jawa (2018), Bondan Winarno memasukkan Lentog Tanjung dan Lontong Tuyuhan ke dalam daftar kuliner rekomendasi.  Namun, dalam sebuah buku khusus sajian mi yang berjudul 25 Resep Mi Kuah Khas Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (2003) tidak ada menyebut Mi tek-tek versi mana pun.

Bahkan di buku karya saya sendiri, Kumpulan Resep Masakan Tradisional dari Sabang sampai Merauke yang diterbitkan Media Pressindo Jogjakarta (2009), juga tak menyebut resep Mi Tek-tek. Resep Lentog Tanjung ada saya masukkan. Untuk Grobogan hanya Swike. Karena begitulah realitas yang ada (ketika buku disusun) di jagat perkulineran nasional.

Sejauh yang saya tahu, selain buku yang saya sebut di muka, Mi tek-tek baru disebut di buku karya Moerdijati Gardjito, dkk yang berjudul Kuliner Semarangan, Menikmati Rasa di Sepanjang Pesisir Utara Jawa, Mencecap Lezatnya Kekayaan Cita Rasanya (2019). Itu karena sesungguhnya sejak tahun 2012-an, Mi Tek-tek Nunjungan mulai diperbincangkan oleh banyak netizen lokal Grobogan di media sosial dan masuk dalam daftar salah satu kuliner khas Grobogan yang ditulis di beberapa blog.

Secara lokal, Mi Tek-tek Nunjungan memang sudah diakui dalam lingkup tertentu. Namun secara nasional, Mi Tek-tek Nunjungan masih harus berjuang merebut posisi. Dari sisi potensi, Mi Tek-tek Nunjungan—dengan segala kesederhanaannya sebagai kuliner rakyat, layak diakui dan masuk ke dalam atlas kuliner Indonesia.

Dua Dugaan, Dua Ikhtiar

Belum populernya Mi Tek-tek Nunjungan secara nasional, saya menduga: Pertama; dari sisi nama, nama Mi Tek-tek merupakan nama generik yang juga ditemukan di banyak daerah. Misalnya Mi Tek-tek ala Bandung, Medan, dan Surabaya. Jadi tidak spesifik khas Nunjungan. Sehingga branding-nya menjadi bias. Tidak seperti nama kuliner Lentog Tanjung dan Lontong Tuyuhan—yang asal kampung kuliner tersebut melekat ke dalam nama kulinernya.

Maka, barangkali perlu dipertimbangkan melekatkan nama Nunjungan ke Mi Tek-tek khas Nunjungan agar bisa menjadi diferensiasi dengan Mi Tek-tek dari daerah lain. Sebutlah dengan lengkap: Mi Tek-tek Nunjungan.

Kedua; sejauh ini pihak pemerintah (desa, kecamatan, kabupaten) belum memfasilitasi branding atas Mi Tek-tek Nunjungan. Padahal kuliner ini telah puluhan tahun menjadi tumpuan ekonomi ratusan warganya. Barangkali perlu dipertimbangkan membuat sentra Mi Tek-tek Nunjungan yang bisa menjadi jujugan wisata kuliner sebagaimana sentra Lentog Tanjung dan sentra Lontong Tuyuhan yang ada di kampung masing-masing.

Elok juga bila di depan jalan arah menuju ke Kampung Nunjungan dibuat gapura yang bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Mi Tek-tek Nunjungan” seperti di Desa Tanjungkarang, yang di sebuah sudut jalan masuk ke kampungnya dibuatkan Taman Lentog Tanjung, lengkap dengan patung pikulan yang mengingatkan pada sejarah awal Lentog Tanjung yang dijajakan secara berkeliling.

Semoga dengan ikhtiar seperti itu, kuliner Mi Tek-tek Nunjungan bisa semakin dikenal khalayak lebih luas lagi, hingga ke pentas nasional. Sehingga bukan tidak mungkin menyedot banyak wisatawan untuk berwisata kuliner ke Nunjungan—menikmati lezatnya hidangan rakyat bernama Mi Tek-tek langsung dari kampung asalnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Perjalanan

“Menu Sawah” ala Desa Cingkrong

Published

on

By



Desa Cingkrong merupakan desa di pinggiran Kota Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Namun, data dari sidajateng.id menyebutkan, Desa Cingkrong termasuk kawasan dataran rendah yang rawan banjir saat musim hujan, namun agak kering di musim hujan.

Terdapat embung alami dan saluran sebagai penguat potensi lahan pertanian. Pemerintah Desa setempat sudah memanfaatkan embung alami yang merupakan tampungan air banjir, namun tetap bertahan meskipun kemarau.

Embung alami ini merupakan aset milik Pemerintah Desa. Lokasinya berada di belakang balai desa. Saat ini, embung telah dikembangkan menjadi wahana wisata keluarga dengan nama De Bale Cingkrong.

De Bale Cingkrong diresmikan oleh Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni pada 4 April 2019 sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Grobogan. Kehadirannya cukup diminati. Daya tarik unggulannya antara lain: wisata kuliner (resto), outbound, kolam ciblon, dan spot foto. Objek wisata ini dikelola oleh BUMDes dan mempekerjakan sekitar 40 orang warga desa.

Salah satu yang menarik dari resto di De Bale Cingkrong adalah adanya menu yang disebut sebagai “menu sawah”. Apa itu menu sawah? Menu sawah adalah hidangan yang terinspirasi dari menu-menu yang tempo dulu biasa disajikan oleh warga Desa Cingkrong pada momen-momen tertentu saat para petani atau pekerja menggarap sawah.

Kepala Desa Cingkrong, Jasmi, saat berbincang dengan penulis menyatakan, saat ini generasi muda cenderung (hanya) mengenal makanan-makanan jenis junk food dan fast food. Realitas itu yang kemudian menjadi latar belakang pihaknya menginisiasi mengangkat menu sawah sebagai menu resto di objek wisata De Bale Cingkrong yang digagasnya.

Jadi tujuan mengangkat menu sawah, masih menurut Jasmi, (antara lain) untuk memperkenalkan aneka kuliner khas tempo dulu di kampung yang kini dipimpinnya—yang dulu biasa disajikan untuk para petani dan pekerja sawah.

Sebagai desa wisata berbasis potensi lokal, De Bale Cingkrong memang mengusung tagline: “Fun and Education”. Artinya De Bale Cingkrong tidak hanya sekedar sebagai wahana rekreasi (keluarga), namun juga mengusung misi edukasi. Di antaranya ada edukasi lalu lintas, permainan tradisional jadul, edukasi alat-alat pertanian, dan sebagainya.

Khusus untuk kuliner, De Bale Cingkrong secara khusus memperkenalkan menu sawah sebagai menu unggulan restonya. Ada empat menu sawah yang diperkenalkan oleh resto De Bale Cingkrong, yaitu Menu Ndaut, Menu Tandur, Menu Matun, dan Menu Panen.

Keempat menu itu merujuk kepada istilah-istilah umum dalam pengolahan sawah di kalangan petani di Jawa. Pertama; Ndaut. Ndaut adalah istilah untuk menyebut aktivitas mencabut bibit padi dari tempat persemaian. Ndaut biasanya dilakukan setelah lahan siap ditanami padi dan umur bibit sudah siap tanam.

Hasil dautan bisa langsung dibawa ke sawah—tempat bibit padi akan ditanam. Atau bisa juga dibawa ke rumah terlebih dahulu, untuk diangin-anginkan antara satu hingga tiga hari, agar tumbuh akar baru. Sehingga ketika ditanam, bibit padi dapat tumbuh dengan baik.

Di Desa Cingkrong, menu yang biasa dihidangkan saat Ndaut adalah nasi putih dengan soun nyémék, tahu, tempe, telur, serundeng asin, dan rempeyek. Menu inilah yang kemudian diadaptasi sebagai “Menu Ndaut” di resto De Bale Cingkrong.

Kedua; Tandur. Setelah bibit padi diambil dari persemaian dan telah diangin-anginkan, aktivitas petani selanjutnya adalah Tandur alias menanam padi. Inilah tahap yang memiliki makna filosofis dari akronim kata Tandur yang berarti: nata karo mundur. Menanam dengan cara mundur.

Tradisi petani memang menanam padi secara mundur. Karena kalau secara maju, bibit padi yang sudah ditanam akan terinjak-injak dan rusak. Makna filosofis dari cara ini sering dimaknai sebagai “mundur untuk maju”. Artinya, dalam melakoni kehidupan, tidak melulu harus melangkah maju, namun kadang harus memilih mundur (mengalah) untuk memperoleh hasil yang diinginkan.

Di Desa Cingkrong, menu yang biasa dihidangkan saat Tandur adalah nasi putih, oseng daun kates (pepaya), tempe goreng, sambal, ikan asin, dan rempeyek. Menu inilah yang kemudian diadaptasi sebagai “Menu Tandur” di resto De Bale Cingkrong.

Ketiga; Matun. Setelah Tandur, kemudian Matun, yaitu aktivitas menyiangi rumput beberapa minggu setelah padi ditanam. Tujuannya agar rumput tidak mengambil nutrisi tanaman padi. Sehingga selanjutnya padi bisa tumbuh dengan baik.

Di Desa Cingkrong, menu yang biasa dihidangkan saat Matun adalah nasi putih, urap sayuran (gudangan), oseng geréh lombok ijo, sambal, lalapan, dan tahu. Menu inilah yang kemudian diadaptasi sebagai “Menu Matun” di resto De Bale Cingkrong.

Keempat; Panen. Panen adalah “hari raya”-nya petani. Karena saat inilah mereka memanen apa yang telah mereka tanam dan rawat dengan baik. Dalam khazanah masyarakat desa di Jawa tempo dulu, dalam panen ini ada istilah Derep, yaitu memanen padi dengan menggunakan alat yang bernama ani-ani.

Ani-ani sendiri adalah alat dari sekeping kayu dan bambu kecil dengan sebilah logam di pinggir kayu yang berfungsi sebagai pisau. Pisau inilah yang digunakan untuk memotong bulir padi dari batangnya.

Dikenal juga istilah Ngedos, yaitu proses panen padi dengan cara memotong batang padi menggunakan sabit, lalu dirontokan dengan peralatan tradisional penuh paku yang diputar dengan tenaga kayuh seperti sepeda atau menggunakan tenaga mesin (disel).

Saat ini proses memotong padi dan merontokkan bulir padinya bisa menggunakan mesin traktor modern, sehingga jauh lebih efektif.

Di Desa Cingkrong, menu yang biasa dihidangkan saat Panen adalah menu yang relatif istimewa, yaitu Becek—hidangan berkuah, berbahan daging sapi, dan bercita rasa asam, gurih, dan segar. Taste asamnya diperoleh dari daun kedondong atau daun dayakan. Becek ini adalah memang kuliner khas Grobogan yang lazim disajikan dalam pelbagai pesta hajatan warga, seperti saat pesta pernikahan (walimatul ‘ursy), pesta khitanan (sunatan), serta acara istimewa lainnya.

Menu sawah adalah local genius (kearifan lokal) yang dimiliki Desa Cingkrong dalam bidang kuliner. Menu ini menjadi cerminan kondisi sosial masyarakat Desa Cingkrong yang hidup dalam kesederhanaan khas desa. Juga bentuk gaya hidup sosial budaya pada zamannya.

Di tengah serbuan kuliner modern, mengangkat (kembali) “hidangan ndeso” seperti menu sawah merupakan langkah genial untuk meneguhkan identitas budaya desa yang sarat kearifan dan nilai-nilai adiluhung. Meski tampak sederhana, menu-menu sawah ala Desa Cingkrong adalah potret budaya kuliner khas desa yang layak untuk diuri-uri (dilestarikan).

 



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved