Connect with us

Budaya

Lebaran Jadilah Cahaya, Kita Jadilah Misykatnya

Published

on



Beberapa waktu ini saya memikirkan cahaya. Kadang sekilas, kadang cukup lama. Beberapa bulan lalu, tim Madani International Film Festival tiba pada kesimpulan bahwa tahun ini, tema festival adalah “light”. Di satu sisi, kata ini bisa berarti “cahaya”. Di sisi lain, kata ini juga bisa berarti “ringan”. 

Memang, dalam imaji kita, “cahaya” biasanya dibayangkan sebagai sesuatu yang “ringan”, melayang-layang, lincah menari atau memintas di udara. Cahaya seakan selalu melawan gravitasi. Dan memang, cahaya dan gravitasi memiliki hubungan yang kompleks di alam semesta ini, dan tuntas direnungi Einstein –teori relativitasnya yang masyhur itu berpaut dengan masalah gravitasi dan cahaya. 

Tentu saja, cahaya adalah unsur penting dalam dunia visual, dunia pandang. Cahaya memungkinkan mata melihat, karena mata melihat apa-apa yang dijatuhi cahaya. “Melihat” adalah tak lain dari membangun relasi antara kapasitas di dalam retina dengan perjalanan informasi benda-benda yang mendapat terang cahaya, melalui pantulan cahaya ke mata kita. 

Anehnya, buat saya pribadi, pikiran-pikiran dan ketertarikan pada cahaya didahului oleh ketertarikan saya pada kegelapan. Dalam sebuah adagium terkenal, sedemikian sehingga sekarang sudah seperti “truism”, atau kebenaran yang tak dipertanyakan lagi, tersebut bahwa “kegelapan adalah keadaan tiada cahaya”. Saya tak segera bisa memahami truism ini. 

Sejak kecil, kegelapan terasa lebih nyata buat saya. Saya masih mengalami hidup di Jakarta pinggiran yang kena giliran mati listrik. Ketika malam saya terbangun dalam keadaan mati listrik, kegelapan menyergap seakan secara fisik. Sebuah horor mikro. Malah, sebelum era listrik, saya masih mengalami juga era lampu semprong dan patromak. Di depan rumah petak, kebon seorang Haji Betawi dengan pohon-pohon besar –pohon pisang sarang jin, pohon mangga kwini, dan pohon kecapi nan tinggi, di samping semak-semak entah apa. Kegelapan adalah sesuatu yang lebih dominan daripada terang.

Dan memang, Al-Qur’an menyiratkan keadaan itu –minna dzulumaati ilaa ‘nuur. Dalam terjemah, “dari kegelapan menuju terang”, kata “kegelapan” tak memiliki kejelasan apakah ia jamak atau tunggal. Dalam bahasa Arab, “dzulumaat” adalah bentuk jamak dari “kegelapan”, dan “Nuur” adalah bentuk tunggal. Sebetulnya, jika kita perhatikan, dalam bahasa Indonesia pun tersirat kejamakan gelap itu –terjemah lazim, adalah “kegelapan”. Imbuhan “ke-an” menyiratkan serba-serbi, banyak hal yang berhubungan dengan kata dasar yang diapit imbuhan itu. Sedang “cahaya”, biasanya dipakai sebagai bentuk tunggal. 

Dan semasa kecil itu, saya gandrung sekali membaca rubrik kriminal di majalah Intisari. Juga rubrik kriminal di majalah Zaman. Kisah-kisah pembunuh serial, yang seringkali kejam tak terkira. Atau pembunuhan non-serial, tapi dikisahkan dengan detail sebagai drama manusia. Atau cerita-cerita detektif dari Agatha Christie, serial Imung karya Arswendo Atmowiloto yang tak tergantikan, menonton film seri detektif Mrs. Columbo, Agatha Christie’s Poirot, Alfred Hitchcock’s Present, dan Remington Steele.

Memang, banyak seri itu menutur kisah pembunuhan dengan ringan, kadang bahkan komikal. Tapi, pembunuhan hakikatnya sebuah kisah kegelapan: ada kematian, dan ada jiwa gelap sang pembunuh. 

Jelang lebaran ini, saya lanjut dengan rutin menonton film-film bergenre crime story, misteri pembunuhan, drama kejahatan. Baik yang seri, secara binge watching (menonton terus hingga habis seluruh seri relatif tanpa jeda), maupun film-film lepas untuk bioskop. Saat menulis ini, saya di tengah menonton A Confession, sebuah kisah polisi menangkap seorang pembunuh serial yang prolifik, sembari menghancurkan karirnya sendiri sebagai polisi. Dari kisah nyata. Pada saat yang sama, menonton miniseri yang masih bersambung, Mare of Eastown, dengan peran utama Kate Winslet.

Kedua film seri itu mendekati kisah pembunuhan secara realistik. A Confession bahkan berdasarkan kisah nyata, dengan cerita disusun dari pembacaan dokumen dan wawancara ekstensif seputar peristiwa yang dikisahkan. Kita bisa melihat di situ, dengan pendekatan realisme non-Hollywood, detail kronologi peristiwa. Realisme yang sama, dan cukup menyempal dari pakem film seri produksi Hollywood, juga kita lihat pada Mare of Eastown

Keduanya memusatkan perhatian pada korban, dan orang-orang yang kehilangan. Menjadi mengerikan, jika direnungi, betapa sebuah pembunuhan bisa jadi dilakukan orang di sekitar kita. Betapa gelap jiwa seseorang yang mungkin tampak normal dalam keseharian. Dan betapa tak terperi dampak kejiwaan sebuah keluarga, atau lingkungan, dari seorang yang terbunuh. 

Mungkin, itulah kenapa saya sangat gandrung pada genre detektif, drama kejahatan, dan misteri pembunuhan. Kasus-kasus dipecahkan dengan cara rasional. Deteksi, deduksi, penalaran, adalah senjata untuk memberi terang pada gelap kasus pembunuhan. Jadi, dalam hal kisah-kisah detektif, “dari kegelapan menuju terang” bisa diejawantahkan dalam drama prosedural pemecahan kasus. Tersirat di situ, semacam iman bahwa akal bisa memberi terang pada kegelapan.

Tapi, memecahkan masalah atau misteri “siapa pelakunya” adalah satu hal. Menyelami jiwa pelakunya, adalah hal lain. Menonton miniseri The Serpent tentang kisah nyata pembunuh serial dan penipu ulung, Charles Shobraj, memicu kembali rasa tak nyaman yang bikin penasaran itu. Shobraj sangat masyhur waktu saya kecil, dan saya cukup mengikuti kiprahnya sejak saya SMP. Saya penasaran, bagaimana seseorang bisa segelap itu jiwanya.

Tentu saja, tak perlu kita berada dalam situasi ekstrem itu –drama pembunuhan, untuk merasakan betapa kematian adalah kegelapan. Betapa kehilangan akibat kematian adalah sebuah kekosongan yang bagai berton-ton beratnya. Pandemi memberi itu berlipat-lipat: kematian kawan, saudara, juga kecemasan setiap kali bersentuhan dengan orang asing, atau memasukkan jari ke oxymeter kecil untuk memeriksa kadar oksigen dalam darah kita. Hidup seakan lotere, kematian –lebih dari kapan pun bagi generasi saya ke bawah– semakin akrab. Kita bak hidup dalam terowongan gelap. (O, ya, salah satu drakor pembunuhan, berjudul The Tunnel. Seakan sebuah metafor.)

Tapi, lebih dari kapan pun juga, kita semakin memberi arti pada cahaya, pada yang ringan dan terang, pada kejernihan dan rasa gayeng seperti mengambang di kolam atau air laut dalam sebuah pagi benderang yang sepi. Lebih dari kapan pun, kita jadi belajar memaknai kehilangan sebagai pengingat akan yang masih belum hilang, yang masih ada, yang masih kita punya. Itulah setitik cahaya dalam terowongan kegelapan ini: pemaknaan bahwa hidup masih berharga, baik yang telah lalu maupun masih berjalan. 

Maka, lebaran ini semoga jadi lebaran cahaya. Tidak melulu dengan berjumpa fisik atau mudik, tapi melalui pemerian nilai penuh harga pada apa yang ada dalam hidup kita, sejak kesadaran pertama membentuk kenangan kita hingga kini, di sini, di titik ini.

Lebaran, jadilah cahaya. Dan kita, jadilah misykat-nya –ceruk tempat cahaya berpadu cahaya, mewadahi percikan Cahaya Maha Cahaya, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an surah an-Nuur ayat 35. 



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Adat Budaya Keumaweuh (1): Tradisi Masyarakat Aceh Jelang Kehamilan

Published

on

By



Sejarah telah mencatat bahwa masyarakat Aceh memiliki budaya adat dengan nilai-nilai religius yang identik dengan Islam. Kehidupan budaya adat Aceh dengan Islam tidak dapat dipisahkan. Harmonisasi antara adat dan Islam ini berkembang dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Masyarakat Aceh terbiasa menyesuaikan praktik agama dengan tradisi atau adat istiadat yang berlaku. Hal ini terlihat dalam kehidupan sosial budaya Aceh,  sebagai hasilnya Islam dan budaya Aceh menyatu, sehingga sukar dipisahkan.

Di sini ketentuan syariat Islam merupakan bagian dari adat atau telah diadatkan. Sebaliknya, adat merupakan bagian dari Islam, atau yang telah diislamkan.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Beragam adat Aceh tidak terlepas dari nilai-nilai syariat Islam. Tentunya dalam kaitan dengan hal tersebut, dalam masyarakat Aceh juga berlaku ketentuan bahwa adat itu ada dua yaitu, pertama ketentuan Allah Swt yang tidak berubah sepanjang masa dan kedua adat kebiasaan masyarakat berdasarkan syariat Islam.

Islam dan budaya adat Aceh menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keduanya menyatu dan berkaitan erat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Budaya adat Aceh sangat kental dengan Islam.

Budaya kerap disebut kultur,  dari bahasa Inggris culture. Budaya adalah hasil buah pikir manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan, tempat dan waktu dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan.

Budaya yang dihasilkan manusia ada yang berbentuk sekuler, marxis, atheis, materialis, sosialis, dan sebagainya. Hasil buah pikir itu menjadi adat kebiasaan yang pada akhirnya menjadi sebuah kebudayaan.

Seorang tokoh Aceh, Badruzzaman, lebih sepakat dengan istilah budaya adat Aceh, bukan budaya Aceh. Hal ini karena istilah itu memberi dampak filosofis, historis, dan sesuai dengan cita-cita kami sebagai orang Aceh.

Budaya adat Aceh mengandung nilai-nilai religius dalam bingkai syariat Islam. Jadi, nilai syariat Islam itu mutlak harus dijiwai dalam budaya adat Aceh.

Masyarakat Aceh mempunyai tamsilan adat dengon hukum lagee zat dengon sifeut. Jadi saling ada keterikatan antara adat dengan syariat, bukan seperti budaya yang dikenal dengan istilah culture pada umumnya. (Badruzzaman Ismail, Syariat Islam Menyatu dalam Budaya Adat Aceh, 2018).

Keumaweuh,  Tradisi Tujuh Bulanan

Di antara beragam tradisi budaya adat yang berkaitan dengan nilai-nilai syariat Islam, terdapat satu tradisi budaya adat Aceh yang cukup terkenal, yaitu tradisi keumaweuh.

Tradisi Keumaweuh merupakan tradisi tujuh bulanan di Aceh. Tradisi keumaweuh dilakukan pada saat seorang istri sudah memasuki tujuh bulan atau 28 minggu usia kehamilan anak yang pertama.

Tradisi keumaweuh ini sudah dilakukan secara turun-temurun zaman dulu sampai sekarang. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh khususnya keluarga suami pada saat acara keumaweuh untuk mengantarkan nasi dan buah-buahan bagi istri yang sedang hamil anak pertama.

Masyarakat Aceh sangat memprioritaskan kesehatan ibu hamil dan anak. Keduanya merupakan tumpuan harapan yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan generasi penerus di Aceh, karena itu setiap ibu hamil disambut gembira oleh keluarga suami istri dan diberikan spirit dan kondisi yang menyenangkan.

Masyarakat Aceh dapat memahami pengaruh besar psikologis ibu hamil terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungan. Dengan ini lahirlah petuah–petuah dan pantangan–pantangan yang bertujuan menjaga kehamilan terpelihara dan selamat sampai melahirkan.

Tradisi keumaweuh juga bisa dikatakan sebagai acara syukuran atau rasa syukur kepada Maha Pencipta karena diberi rezeki dengan bertambahnya anggota keluarga yang baru atau juga sang istri sedang mengandung. Namun tradisi keumaweuh hanya diadakan ketika istri mengandung anak pertama.

Sesuai Syariat Islam

Tradisi Keumaweuh dalam perspektif syariat Islam juga mempunyai pandangan spesifik. Allah Swt menciptakan manusia berpasangan, laki-laki dan perempuan. Keberadaan umat yang banyak di dunia menjadi sebuah kebanggaan baginda nabi Muhammad saw.

Islam juga memperbolehkan menikahi empat perempuan selama mampu berlaku adil dan ini sebuah isyarat untuk memperbanyak keturunan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda: “Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu dihadapan umat-umat (yang terdahulu)” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar).

Dalam hadis lain juga disebutkan: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik).

Satu kebahagian bagi mereka yang telah menikah adalah lahirnya buah hati yang menghiasi hidup mereka. Ini semua takdir dan rezeki dari sang Maha Kuasa. Saat seorang istri telah hamil, tentu ini menjadi sebuah kabar gembira dan anugerah bagi keluarganya.

Masyarakat Aceh dalam hal ini  sangat berpartisipasi menyelenggarkan upacara selamatan untuk memanjatkan doa kepada Allah Swt dengan mengharapkan keselamatan. Dalam upacara selamatan tersebut dibacakan Al-Qur’an, surat–surat tertentu, bacaan berzanji, atau tahlil.

Aceh memiliki adat-istiadat yang sangat menghargai dan memuliakan ibu hamil dan anaknya. Mendorong keluarga dan masyarakat saling bekerja sama membantu mengayomi ibu hamil.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Tradisi Peusijuek Masyarakat Aceh dalam Perspektif Syari’at Islam

Published

on

By



Salah satu daerah di penghujung barat Nusantara ini ditempati masyarakat Aceh yang merupakan daerah pertama masuk Islam ke negeri yang bernama Indonesia meskipun adanya kontroversi pendapat berkaitan dengan persoalan tersebut. Masyarakat Aceh dalam kehidupan sehari-hari segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat dan budaya tidak terlepas dari nilai-nilai Syari’at Islam.

Diantaranya seperti adanya bermacam-macam acara dan memulainya dengan doa dan sampenanya yang dikenal dengan sebutan Peusijuek. Kita mengetahui bahwa pada dasarnya Peusijuek (Tepung Tawar) merupakan salah satu adat Aceh yang tidak bisa hilang dari nenek moyang kita dulu.

Peusijuek ini biasanya dilakukan disaat ada acara di Aceh, misalkan ketika menerima tamu, membuka satu usaha, musibah, merayakan kelulusan, khitan, menempati rumah baru, menyambut dan berpergian umroh dan haji. Bahkan bagi orang Aceh, tradisi Peusijuek ini merupakan prosesi yang biasa dilakukan bahkan saat membeli kendaraan baru, namum berbeda dengan masyarakat kota yang modern sekarang Peusijuek hanya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan acara besar saja, misalnya acara perkawinan dan keberangkatan haji.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Nana Noviana dalam tulisannya berjudul “Integritas Kearifan Lokal Budaya Masyarakat Aceh dalam Tradisi Peusijuek” menyebutkan bahwa tradisi Peusijuek pada dasarnya difungsikan untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Namun fungsi Peusijeuk juga dibagi menjadi beberapa jenis di antaranya, pada upacara perkawinan, upacara tinggal di rumah baru, upacara hendak merantau, pergi haji, Peusijuek Keureubeuen (kurban) dan beragam jenis lainnya.

Di samping itu Peusijuek juga dilakukan oleh anggota masyarakat terhadap seseorang yang memperoleh keberuntungan, misalnya berhasil lulus sarjana, memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan masyarakat, memperoleh penghargaan anugerah bintang penghargaan tertinggi, Peusijuek kendaraan baru, dan peusijuek-peusijuek lainnya.

Dalam bukunya identitas Aceh dalam perspektif syariat dan adat mengemukakan bahwa makna dari tahap-tahap yang digunakan dalam Peusijuek adalah pertama membaca basmallah, kedua menaburkan beras dan padi, sifat padi itu semakin berisi semakin merunduk, maka diharapkan bagi yang di Peusijuek agar tidak sombong bila mendapat keberhasilan serta agar mendapatkan kesuburan, kemakmuran, dan semangat seperti taburan beras padi yang begitu semarak berjatuhan, ketiga menyuapi nasi ketan (bu leukat) dan menyuntingnya pada telinga sebelah kanan, dipilih nasi ketan karena mengandung zat perekat, sehingga jiwa raga yang di Peusijuek tetap berada dalam lingkungan keluarga atau kelompok masyarakatnya, Lalu yang terakhir adalah pemberian uang (teumutuep), secara filosofi Teumeutuep memiliki makna sedekah, sedangkan sedekah salah satu pilar dalam mencapai kemakmuran dalam masyarakat. (Nana Noviana, 2018)

Ada kelompok yang menyebut bahwa tradisi Peusijuek tidak mengandung nilai syari’at bahkan menyebutnya sebagai bid’ah yang harus dihindari, namun para ulama terdahulu dan endatu masyarakat Aceh lebih mengerti dan paham mengenai tradisi Peusijuek.

Di antara dalil yang dijadikan referensi Peusijuek itu saat Rasulullah Saw melakukan Peusijuek (tepung tawar) terhadap putrinya Fathimah dan Sayyidina ‘Ali ketika menikah. Kupasan ini sebagaimana dijelaskan salah seorang ulama terkenal bernama Imam Thabraniy dalam kitab al-Ma’jam Kabir berbunyi:

“Telah mengabarkan kepada kami oleh Muhammad bin ‘Abdullah al-Khazramiy, telah mengabarkan kepada kami oleh al-Hasan bin Hammad al-Khazramiy, telah mengabarkan kepada kami oleh Yahya bin Ya’la al Aslamiy, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah dari al-Hasan dari Anas bin Malik berkata ia: Telah datang Abu Bakar kepada Nabi shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka duduk ia dihadapan Nabi, lalu berkata: Ya Rasulallah! Sungguh engkau mengetahui akan menasehatiku dan kakiku dalam Islam, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (di sini Abu Bakar tergagap-pent). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu? Maka Abu Bakar menjawab: Kawinkah aku dengan Fathimah. Maka Rasulullah diam atau berpaling dari Abu Bakar.

Maka kembalilah Abu Bakar kepada ‘Umar, lalu berkata: Celakalah aku, dan Celakalah engkau. ‘Umar berkata: apa itu?. Abu Bakar menjawab: aku meminang Fathimah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka beliau berpaling daripadaku.

Maka ‘Umar berkata: tetap engkau di sini sehingga aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka aku meminta seumpama permintaan engkau, maka datanglah ‘Umar kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka duduk ia dihadapan Nabi, lalu berkata:  Ya Rasulullah! Sungguh engkau mengetahui akan menasehatiku dan kakiku dalam Islam, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (di sini ‘Umar tergagap). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu? Maka ‘Umar menjawab: Kawinkan aku dengan Fathimah. Maka Rasulullah berpaling dari ‘Umar. Maka kembalilah ‘Umar kepada Abu Bakar, lalu ‘Umar berkata: sesungguhnya Rasulullah itu menunggu perintah Allah pada urusan Fathimah.

Berangkat kami kepada ‘Ali sehingga kami perintah ‘Ali untuk meminta apa yang sudah kami minta. Berkata ‘Ali: maka keduanya datang kepadaku sedang aku berada di jalan. Maka keduanya berkata: anak (cucu) perempuan paman engkau itu engkau pinang. Maka keduanya memperhatikan aku satu pekerjaan. Maka aku berdiri sambil menarik ridakku, satu ujung di atas leherku dan satunya lagi pada bumi, sehingga aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka aku duduk dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Maka aku berkata: Ya Rasulullah! Sungguh engkau mengetahui akan kakiku dalam Islam dan menasehatiku, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (disini ‘Ali pun tergagap). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu wahai ‘Ali? Maka aku (‘Ali) menjawab: Kawinkah aku dengan Fathimah.

Maka Rasulullah berkata: dan apa yang ada bersamamu (sebagai mahar-pent)? Aku berkata: Kudaku dan baju besiku. Rasulullah berkata: adapun kuda engkau maka tidak boleh tidak bagi engkau daripadanya dan adapun baju besi engkau maka jual olehmu baju tersebut. Maka aku jual baju tersebut dengan 480 (dirham).

Maka aku membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka aku meletakkannya dalam pangkuan beliau, maka beliau menerimanya, lalu berkata: wahai Bilal! Beritahu olehmu kepada Fathimah secara baik, dan perintah olehmu akan mereka supaya mereka mempersiapkan Fathimah.

Maka Bilal membuat  Fathimah ranjang yang dijalin dengan pita, bantal dari sepotong kulit yang diisi didalamnya dengan sabut (jerami atau rumput kering), menimbuni kamar dengan pasir. Dan Rasulullah berkata, apabila Fathimah datang kepada engkau maka jangan engkau ucap apapun kepadanya sehingga aku datang akan engkau.

Maka datanglah Fathimah bersama Ummu Ayman, maka duduklah ia pada sisi kamar, dan aku pada sisi yang lain. Maka datanglah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu berkata: Di sini saudaraku. Maka berkata Ummu Ayman: saudara engkau (yakni ‘Ali) sungguh engkau kawinkan dengan putri engkau (yakni Fathimah).

Maka masuklah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan berkata kepada Fathimah: Bawalah olehmu kepadaku akan air! Maka Fathimah pun berdiri menuju kepada gelas besar di dalam kamar, maka menuangkan ke dalamnya akan air, maka dibawanya air tersebut kepada Rasulullah, maka  Rasulullah meludahi dalam air tersebut, kemudian berkata kepada Fathimah: Luruslah kamu, maka memercikkan ia akan air diantara dua dada Fathimah dan atas kepala Fathimah, kemudian berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk Fathimah dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian Rasulullah berkata kepada Fathimah, berbaliklah engkau (yakni membelakangi Rasul), maka Fathimah pun berbalik, maka Rasulullah memercikkan air diantara dua bahunya, kemudian berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk Fathimah dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian Rasulullah berkata (kepada ‘Ali); bawakan air kepadaku!, maka aku melakukan apa yang dikehendaki oleh beliau, maka aku penuhkan gelas dengan air maka aku bawa kepada Rasulullah, maka Rasulullah mengambil air itu dengan mulutnya, kemudian meludah kembali air tersebut ke dalam gelas, kemudian menuangkan ia di atas kepalaku (kepada ‘Ali), dan di antara dua dadaku, kemudian beliau berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk “Ali dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian ia berkata: Masuklah engkau wahai ‘Ali kepada keluargamu (yakni Fathimah) dengan nama Allah dan Berkat. ( kitab al-Ma’jam Kabir karangan Imam Thabraniy).

Berdasarkan kupasan di atas, tentunya tradisi masyarakat Aceh yang terkenal dengan Peusijuek bukanlah perkara bid’ah, namun mereka yang masih berprinsip sebagai bid’ah tetap mengutamakan beragam alasan untuk pembenaran terhadap bid’ah, minimal sudah di pandang sebagai budaya Aceh saja sudah cukup, tidak perlu untuk berdebat meskipun tidak mengakui sebagai bagian dari perbuatan yang pernah dilakukan baginda Nabi Muhammad SAW. Mari kita melestarikan kearifan lokal yang bernilai religi termasuk tradisi Peusijuek, sudahkah kita melakukannya? Wallahu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Kearifan Lokal Warga Dusun Pandanderek Ponorogo: Dari Slametan hingga Cara Merawat Keberagaman

Published

on

By



Dalam Atlas Wali Songo, almarhum Kiai Agus Sunyoto mengatakan bahwa agama Islam mengalami perkembangan pesat di Nusantara khususnya di Jawa dalam waktu 50 tahun. Padahal sebelumnya selama 800 tahun agama Islam tak bisa berkembang. Berdasarkan penelusurannya, Kiai Agus memberikan kesimpulan bahwa perkembangan pesat Islamisasi di Jawa ialah dari cara metode dakwah yang dibawa oleh Wali Songo.

Bagi masyarakat jawa, khususnya penganut kejawen mereka sangat mengenal Sunan Kalijaga. Bahkan jika dirunut dalam berbagai cerita yang dituturkan nama Sunan Kalijaga tak terkesampingkan. Sunan Kalijaga membawa Islam dengan “laku”, artinya, nilai-nilai Islam dituangkan ke dalam setiap perilaku termasuk dalam kesehariannya sebagai orang jawa.

Dalam merefleksikan hal ini penulis melakukan penelusuran di Dusun Pandanderek berada di Desa Winong Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo. Permulaan Babad dusun ini dimulai pada masa Simbah Arif yang makamnya ada di Dukuh Majasem Desa Madusari. Dalam perkembangan sepuluh tahun terakhir banyak perubahan  di lingkungan Dusun Pandanderek. Roda zaman terus berputar, globalisasi kian menjadi, eksistensi pun terancam terganti. Dalam perkembangan budaya dan tradisi akhir-akhir ini sangat nampak terjadinya pembaharuan secara sadar maupun tidak.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Penulis merefleksikan tradisi slametan yang masih eksis di lingkungan dusun Pandanderek. Meskipun demikian banyak sekali terjadi perubahan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Perubahan itu kini nampak dalam “berkat” yakni makanan yang disuguhkan untuk para tamu yang hadir untuk dibawa pulang. Dahulu berkat itu disuguhkan dalam makanan yang sudah siap santap sedangkan sekarang kebanyakan acara slametan sudah jarang menyuguhkan hidangan siap santap. Sebagai ganti dari hidangan siap santap tersebut diganti isinya menjadi sembako.

Demikian pula dalam tata cara penyelenggaraan slametan yang ada. Dahulu slametan prosesnya demikian rumit yang paling nampak adalah adanya sesi ngajatne. Ngajatne ialah suatu prosesi yang berisi untaian sastra jawa berisi harapan-harapan yang kini disebut doa. Proses ngajatne dipimpin oleh sesepuh. Akan dimulai dengan menyiapkan uborampe berupa macam-macam jenis makanan yang disajikan dengan tata cara tertentu. Kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan istilah istilah lebih tepatnya sanepan dari uborampe yang disiapkan. Sanepan adalah penyampaian suatu pesan dalam simbol-simbol. Misalnya yang kini masih eksis adalah apem, iwel-iwel dan ingkung. Kini proses ngajatne sudah sangat jarang ditemui kecuali pada acara-acara besar. Padahal secara filosofis pesan-pesannya sangat mendalam. Kemudian menjadi seremonial belaka lalu kini diambang kepunahan.

Begitupun pada tradisi puji-pujian yang dilaksanakan diantara adzan dan iqomat. Puji-pujian yang dilantunkan sangat beragam baik yang berbahasa arab maupun berbahasa jawa. Dalam pengamatan sepuluh tahun kebelakang puji-pujian mengalami perkembangan yang dinamis. Dahulu mulanya lebih condong dalam bahasa jawa. Hal tersebut dikarenakan agar nasihat-nasihat bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Kini puji-pujian masih eksis salah satunya di Masjid Al-Iman. Disana masih ditemui puji-pujian baik dilantunkan oleh golongan tua maupun muda. Tentunya ragamnya kini tak sebanyak dulu. Ragam puji-pujian itu diantaranya yang melegenda adalah syair Eling-Eling, yang kini sudah tak ada yang melantunkannya.

Penulis juga mengamati tata letak masjid di dusun Pandanderek. Dalam tata letak masjid kuno lokasi masjid sangat diperhatikan. Misalnya letak masjid-masjid agung diberbagai kota besar di Indonesia seperti Yogyakarta, Solo dan Demak. Masjid agung terletak satu komplek dengan area pemerintahan, pasar, dan alun-alun. Masjid mempunyai dwi fungsi bagi masyarakat sekitar terkait ibadah dan muamalah.

Di dusun Pandanderek terdapat dua masjid yakni Masjid Al-Huda dan Masjid Al-Iman. Masjid Al-Huda letaknya tepat ditengah Dusun Pandanderek. Dalam komplek masjid itu terdapat perempatan pusat, cakruk (poskamling), madrasah, warung dan rumah sesepuh. Berikut adalah gambar saat renovasi cakruk (poskamling) didepan masjid Al-Huda:

Sedangkan masjid Al-Iman berada di Jalan Nasional 3 (Ponorogo Trenggalek) berpapasan dengan jalan utama menuju Desa Ngabar Kecamatan Siman. Dalam komplek masjid Al-Iman terdapat rumah sesepuh, warung, cakruk (poskamling). Letak dari dua masjid ini menjadi sentral atas kegiatan masyarakat terutama terkait ibadah, sosial serta pusat informasi. Hal senada dengan masjid-masjid agung dikota-kota besar terutama masjid kuno di wilayah permulaan penyebaran agama islam.

Dengan menelusuri kembali sejarah terdekat dengan kita serta mengambil pola-pola kearifan para pendahulu maka kemungkinan terjadinya konflik dalam menyampaikan dakwah bisa diredupkan. Dengan begitu tidak akan mudah menyalahkan orang lain dan lebih mengutamakan penyelesaian secara seksama dengan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga peran manusia sebagai khalifah kongkrit menjadi rahmat bagi semesta raya.

Sebagai penutup penulis mengutip dua ayat yakni Tafsir Surat An-Nahl ayat 125 dan Surat Ibrahim ayat 4 dari karya KH Bisri Mustofa dalam kitab Tafsir Al-Ibriz

Siro Muhammad ngajak-ngajako marang agamane Pengeran iro kelawan hikmah lan pitutur kang bagus. Lan ladenono bantahe wong-wong kang podo bantah sarana coro kang bagus. Saktemene Pengeran iro iku pirso marang wong-wong kang sasar sangking dalan-dalane Allah. Lan pirso marang wong-wong kang oleh pituduh

Ingsun Allah ora ngutus utusan kejobo kelawan nganggo bahasane bongsone supoyo utusan mau biso ngertekake marang bongsone. (Bejo-bejone kang oleh pituduh, cilakane kang sasar). Allah ta’ala kuoso gawe sasar marang sopo bae kang dikersakake. Lan kuoso nuduhake marang sopo bae kang dikersakake. Allah ta’ala iku dzat kang menang tur wicaksono

Sekiranya tak bisa diwariskan secara eksistensi, setidaknya literasi cukup untuk menjadi saksi agar generasi kedepan tak terombang-ambing karena gengsi menyoal identitas tanpa mengetahui jati diri.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved