Connect with us

Feature

Kisah Sriwanti dari Kaki Semeru, Melunakkan Hati Narapidana Terorisme dengan Cinta Layaknya Seorang Ibu

Published

on


Bayangkan jika Anda memiliki keluarga, seorang pemuda yang baik, cerdas dan tampak memiliki masa depan yang cerah. Tiba-tiba saja ia menghilang, keluarga sudah mencari ke segala penjurudan beberapa bulan berikutnya ada kabar mengejutkan: pemuda itu, keluargamu yang hilang itu, dikabarkan tertangkap polisi dan harus diadili karena terlibat jaringan terorisme. Ia adalah salah satu yang orang yang terbukti membantu peledakan sebuah gereja.

Lalu, coba bayangkan perasaan ibu yang melahirkan pemuda itu. Hati ibu siapa yang tidak hancur melihat peristiwa ini? Apalagi, selama ini yang ibu itu tahu, anaknya seperti pemuda lainnya: terbiasa ke masjid, sekolah seperti biasa dan tidak terlalu neko-neko. Meskipun belakangan, katanya, ia gemar ikut kajian dan mulai tertutup. Beberapa kali pula mereka berdebat, tapi ia merasa sikap anaknya itu masih dalam kadar yang bisa tertoleransi.

Inilah bayangan yang dialami Ibu dari Alamsyah—bukan nama sebenarnya—ketika mendapati kabar anaknya harus dijebloskan ke penjara atas fakta yang menyesakkan dada itu. Anaknya adalah simpatisan Bom Samarinda pada tahun 2016 dan tertangkap dan kini harus menjalani beratnya hidup jadi napiter dengan segala cap buruk yang melekat di tubuhnya.

Hidup dengan cap teroris—meskipun ia sudah tobat, misalnya—sungguh perkara yang mudah, apalagi jika harus  kembali ke masyarakat. Kini, anaknya itu harus sendirian menghadapi beratnya mendapatkan cap itu. Kesendirian, anda tahu, begitu memudahkan orang untuk terjebak pada lubang kesedihan yang sama dan di level tertentu, bisa jadi ia akan merasa tersingkirkan oleh dunia dan mungkin akan memilih jalan yang sama seperti terdahulu. Jalan berjejaring dengan para ekstremis untuk menebar ketakutan dan merasa paling benar. Dan salah satu paling penting ketika bersama jaringan itu, ia tidak lagi sendirian. Eksistensinya diakui, pikiran masa mudanya pun tersalurkan.

Untung saja, di tempat ia diasingkan untuk menerima segala konsekwensi dari perbuatan buruk yang telah ia lakukan, Alamsyah yang kini sudah menginjak 20-an tahun, sedikit bersyukur karena mendapatkan sosok yang penuh cinta seperti ibunya.

Sosok itu ia dapatkan dari perempuan biasa, seorang yang mungkin juga akan anda temukan di sekitar kita, tapi dengan kebesaran hati yang paripurna bernama ibu Sriwanti. Sosok yang kerap ia panggil ‘Bunda Wanti’, seorang penyuluh dari kota di bawah Kaki Gunung Semeru, Kota Lumajang, di Jawa Timur.

 Penyuluh Perempuan dari Kaki Gunung Semeru

Sriwanti (46th) atau yang biasa dipanggil Bunda Wanti, mungkin tidak akan pernah berpikir akan berjumpa dengan sosok Alamsyah dan para napiter-napiter lain. Orang-orang yang ia anggap sebagai manusia lainnya sama seperti kita, hanya saja menurut dia, mereka sedang terjebak atau salah menapaki jalan hidup.

Bunda Wanti memang sejak lama terjun di masyarakat secara langsung di lapangan.  Perempuan yang aktif sebagai penyuluh dari Kementerian Agama itu sedari dulu terbiasa aktif mengurusi anak-anak jalananan. Sejak mahasiswa hingga jenjang master, ia juga terbiasa bergaul langsung dengan pelbagai orang dengan latar belakang berbeda. Dari situ pula, melalui pengalaman-pengalaman dari ragam organisasi, ia akhirnya berani untuk mengambil profesi yang mungkin bagi sebagian orang cukup berisiko: menjadi penyuluh napiter.

Menjadi penyuluh, apalagi urusan napiter, tentu saja kerap membuat kita orang-orang biasa mungkin takut. Betapa tidak. Anda bisa berhadapan langsung dengan orang-orang yang bisa dengan gampang melakukan kekerasan hanya karena berbeda paham/aliran. Belum lagi, orang-orang ini mungkin punya metode untuk brainwash (cuci otak) yang mungkin canggih. Bisa jadi ia punya metode-metode subliminal message (pesan tersembunyi) yang tidak disadari oleh manusia biasa. Metode yang hanya membutuhkan obrolan dan mudah untuk menarikmu dalam kesimpulan-kesimpulan yang ia inginkan.

Dalam budaya populer, kita mengenal kisah Joker dalam Komik Batman yang mampu membuat penyuluhnya di penjara, Harley Quin, akhirnya ikut dalam gerombolan ekstremis hanya dengan obrolan-obrolan di penjara.  Siapa yang bisa menjamin kisah ini tidak dialami oleh para penyuluh Napiter seperti Bunda Wanti. Siapa yang tidak bergidik dengan fakta ini?

Keluarga dari Bunda Wanti pun awalnya juga khawatir. Bahkan, anak-anaknya pun kerap mempertanyakan keputusan itu, suaminya pun pernah mempertanyakan. Tapi, ia yakin, keputusan ini sudah melalui pelbagai pertimbangan. Ia juga berpikir, siapa lagi yang mengajak bicara mereka? Bagaimana napiter ini mau berubah jika tidak ada yang mau mendengarkan mereka?

“Penyuluh itu identik dengan lapangan, di tengah masyarakat langsung. Keluarga saya, rasa khawatir itu pernah. Manusiawi. Keluarga juga tanya, suami dan anak-anak pun. Lambat laun, Mamah, kata anak-anak pasti bisa. Mereka akhirnya mengerti,” tutur Bunda Wanti dalam obrolan dengan teman-teman peneliti PUSAD Paramadina.

Dukungan dari keluarga ini pula yang membutnya kian yakin untuk menempuh jalan sebagai penyuluh dan terjun langsung ke masyarakat. Apalagi, ia memiliki metode dan kerangka berpikir yang membuatnya mampu untuk jadi pelayan masyarakat. Belum lagi satu hal yang menjadikannya bisa mendekati siapa pun dengan pendekatan hati yang ia miliki.

Iya, anda tidak salah baca. Pendekatan hati adalah metode yang ia percaya bisa membuat orang untuk bercerita dan lebih terbuka. Karena ia yakin, pendekatan ini akan mampu masuk ke dalam sanubari manusia—siapa pun itu—dan memasuki sisi terdalam manusia yang paling tidak kelihatan: hati. Ketika seorang sudah tersentuh hatinya, sisi kemanusiaan dari orang paling gelap pun akan mulai sedikit demi sedikit terbuka. Sebuah nyala terang dari kejujuran manusia.

Apalagi, pendekatan hati ini ditambah dengan dua hal yang dimiliki Bunda Wanti: ia adalah perempuan dan seorang ibu. Seorang anak akan selalu mendengarkan ibunya.

Saya Seorang Ibu, Napiter itu Punya Hati, Kita Punya hati

Pendekatan hati yang dilakukan tampaknya saja mudah, tapi sebenarnya begitu sulit diterapkan. Bu Wanti sadar betul itu. Apalagi ketika ngobrol dengan napiter Alamsyah yang secara suku juga berbeda dan memiliki pandangan keagamaan yang berbeda darinya.

Untuk itulah, katanya, ketika mulai untuk berbicara dengan Alamsyah ia tidak pernah mengawali dengan menyudutkan pilihan-pilihannya atau mungkin tafsir keagamaan yang ia percayai. Ia lebih banyak mendengarkan dan bertanya hal-hal sepele seperti ‘kamu tidak kangen ibumu’ atau sekadar membawakan makanan untuknya ketika mengunjungi tempat Alamsyah di penjara.

Proses ini membutuhkan ketabahan dan ketahanan yang tentu saja tidak mudah. Namun Bunda Wanti percaya, manusia bisa berubah. Tak terkecuali mereka yang sudah terjerambab dalam lubang kebencian memakai bahan bakar agama.

“Awalnya pun tidak semudah itu. Tidak pernah sekalipun kami membahas soal agama. Orang seperti Alamsyah akan susah diajak kalau (agama) disentuh. Lalu, akhirnya kita bisa hal-hal sederhana, bicara dari hati ke hati. Membincangkan keluarga, kehidupan dia dan lain-lain. Akhirnya ia mulai membuka diri, ia mulai nyaman,” tambahnya.

Ketika menceritakan itu, Bunda Wanti tampak begitu semangat. Aura optimisme pun terpancar dari sorot matanya yang tajam tapi dengan nada bicara yang tetap lembut. Saya bisa membayangkan, ketika berbicara dengan Bunda Wanti, ia bisa jadi teringat ibunya yang berada di ratusan kilometer dari Lumajang itu. Ibu yang telah melahirkan dirinya dan mungkin saat ini begitu sedih mencari anaknya yang entah ke mana.

Apalagi, menurut keterangan Bunda Wanti, Alamsyah memang sempat tercuci otaknya. Ia diajak oleh temannya ikut kajian hingga membuat orang tuanya pun dikafir-kafirkan. Bahkan, ia sempat akan dikirimkan ke Suriah untuk berjihad tanpa sepengetahuan orang tuanya.

 “Ketika saya kontak orang tuanya. Saya bilang, saya pengganti Ibu di sini, saya sekarang menemani Alamsyah, membina anak ibu. Ketika dikabarin itu, orang tuanya pun kaget, dan menangis-nangis sejadi-jadinya,” tuturnya.

Salah satu titik poin yang membuat Alamsyah berubah adalah ketika terjadi peristiwa pemboman serupa yang membuat anak-anak kecil menjadi korban. Perempuan yang jadi ketua Pokjalu Kab. Lumajang itu akhirnya mengajak bicara Alamsyah tentang peristiwa itu.

“Bukalah hatimu, Alamsyah. Ini anak kecil, ada banyak korban tidak bersalah dari terorisme,” tambahnya.

Akhirnya, Alamsyah pun menangis sejadi-jadinya. Sentuhan hati dari seorang ibu mampu membuat dinding hati dari napiter itu pun bergetar dan akhirnya runtuh. Sisi manusiawi dari Alamsyah pun terketuk. Seorang yang awalnya membenci orang yang berbeda dengan dirinya, seorang yang awalnya selalu mengutuk agama yang berbeda, seseorang yang merasa orang lain yang berbeda adalah sosok yang harus dibinasakan.

Kini Alamsyah pun mulai berubah. Bahkan, ketika nanti ia sudah lepas dari penjara, ia meminta Bunda Wanti untuk dimasukkan saja ke pesantren untuk lebih memahami agama dengan benar, tafsir agama yang lebih damai dan lebih humanis.

“Saya seorang ibu, saya percaya napiter itu juga manusia dan bisa dijak dari hati ke hati,” tutupnya.

Bunda Wanti telah memberi contoh bagaimana pendekatan hati ternyata mampu menjadi alat yang efektif untuk mendekati manusia dan mampu mengubah manusia yang keras jadi lebih lembut. Sebuah pendekatan yang harusnya lebih banyak digunakan untuk lebih memahami manusia yang terjerat terorisme yang kompleks itu.

 

*Feature ini hasil kerjasama Islami.co dengan PUSAD Paramadina-Guyub UNDP*



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Feature

Ziarah ke Makam Sunan Tulub Batam: Berziarah Sambil Menikmati Pemandangan Gedung-gedung Singapura

Published

on

By


Perjalanan menuju makam Sunan Tulub tak seperti ziarah pada umumnya. Jika ziarah Wali Songo, cukup ditempuh dengan rute perjalanan darat, seperti mobil atau bus, ziarah ke makam Sunan Tulub tidak demikian. Untuk sampai ke sana, membutuhkan perjalanan yang lumayan panjang. Dari kota Batam, kita perlu menuju pelabuhan feri Sekupang. Pelabuhan ini biasanya digunakan oleh para penumpang yang ingin menyeberang dari Batam ke Singapura.

Namun, untuk menuju pulau Tulub, kapal yang digunakan berbeda. Biasanya dengan menggunakan kapal sampan kecil, berisi sekitar 10-15 orang. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa satu kapal kisaran 400-450 ribu rupiah, tergantung tawar-menawar antara penumpang dan pemilik kapal. Karena kapal ini tidak akan jalan kecuali penuh, maka disarankan rombongan.  Jika berangkat rombongan, maka biaya sewa kapal tersebut bisa cukup terjangkau, alias 40 ribu/orang.

Selama perjalanan menggunakan kapal kecil, kami melewati beberapa pulau hingga akhirnya sampai di pulay Tulub. Makam Sunan Tulub ini tidak seperti makam biasanya, berada di pulau kecil tengah laut, di ujung perbatasan Indonesia. Sehingga saat menempuh perjalanan ke sana, kita akan disuguhi pemandangan gedung-gedung pencakar langit Singapura. Hotel Sand Marina Bay dengan tower kembarnya serta penghubung ala perahu di atasnya lumayan jelas terlihat, begitu pula tower-tower lain di sekitarnya.

Selama perjalanan, siapkan kameramu, karena banyak pemandangan menarik yang sayang untuk dilewatkan. Perjalanan dari pelabuhan Sekupang ke Pulau Tulub membutuhkan waktu 30-45 menit. Kami beruntung, saat sampai di dermaga pulau Tulub, air masih belum pasang, sehingga kami bisa turun di dermaga. Jika pasang, air bisa sampai di serambi masjid.

Suasana dermaga menuju Makam Sunan Tulub

Setali tiga makam

Di pulau Tulub ada tiga makam auliya dan solihin yang bisa diziarahi. Pertama, makam Syekh Syarif Ainun Naim, yang merupakan saudara Sunan Giri. Makamnya berada di atas bukit pulau Tulub kecil. Di Google maps dinamai sebagai Pulau Senang. Kita perlu menapaki puluhan tangga untuk sampai di sana. Makamnya terletak di bangunan mirip musholla. Menapaki tangga memang menguras banyak tenaga, namun saat sudah sampai di depan bangunan makam ini, rasanya capek dan pegal terbayar. Pasalnya, kita dapat merasakan indahnya berada di tengah laut.

Makam Syarif Ainun Naim, saudara Sunan Giri di bukit pulau Tulub

Makam kedua, adalah makam Syekh Maulana Nuh al-Maghribi yang terletak di samping masjid, tepatnya di samping kiri masjid. Pada nisannya tertulis tahun wafatnya: 437 H. Konon, makam ini ditemukan oleh Habib Luthfi Pekalongan. Saat itu, murid Habib Luthfi bernama K.H Nur Hamim Adlan diminta untuk mencari makam tersebut berdasarkan petunjuk sang habib. Walaupun secara tahun wafat lebih tua, namun makam ini ditemukan belakangan, setelah makam Syekh Syarif Ainun Naim. Sedangkan makam ketiga adalah makam Habib Hasan Al Musawa, terletak di pulau Tulub besar.

Pulau Tulub kecil yang terdapat dua makam di sana hanya dihuni satu keluarga: suami, istri dan satu anak. Sehari-hari nampaknya mereka yang mengelola makam ini. Saat saya berkunjung ke sana, saya hanya bertemu dengan mereka. Sebelumnya ada sekelompok peziarah juga dari kota Batam. Sama seperti saya dan rombongan, biasanya mereka pulang menjelang malam.

Sebelum berangkat ke pulau ini, usahakan bawa bekal sendiri, ya. Karena di pulau ini kamu tidak akan bertemu dengan penjual makanan, apalagi minimarket. Jika ada rejeki lebih, usahakan untuk memberi donasi atau sedekah pada keluarga yang tinggal di pulau kecil ini. (AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Orang Bawean dan Masjid Pertama di Vietnam

Published

on

By


Bagi banyak orang di Indonesia, Bawean sepertinya tidak asing lagi. Nama sebuah pulau yang terletak di utara pulau Madura, Jawa Timur. Tapi mungkin masih sedikit yang mengetahui bahwa mereka termasuk salah satu komunitas Muslim yang berpengaruh dalam geliat perkembangan Islam di kota Ho Chi Minh, kota ekonomi terbesar di negara Vietnam bagian Selatan. Konon, orang Bawean merupakan kelompok yang pertama kali menyelesaikan pembangunan masjid di negara komunis ini.

Saya sendiri baru mendengar kisah mereka sekitar empat tahun lalu saat berkunjung ke kota Ho Chi Minh. Suatu pagi, seorang kawan mengajak saya untuk makan Banh Mi (roti sandwich khas Vietnam) halal di depan sebuah masjid, saat itulah ia menceritakan kisah orang-orang yang bermukim di sekitarnya. Mayoritas mereka adalah Muslim dari Indonesia yang telah memasuki generasi ketiga atau keempat. Termasuk yang menjual Banh Mi dan pemilik warung tenda yang menyediakan makanan halal rumahan di sudut depan masjid.

Masjid ini bernama masjid (Cong Dong Hoi Giao) Al Rahim Malaysia-Indonesia. Beberapa kali saya mengunjungi tempat ini untuk berusaha bertegur sapa dengan saudara sebangsa, tapi tidak satupun yang saya temui bisa bertutur dalam Bahasa Melayu, apalagi Indonesia. Komunikasi saya dengan beberapa orang dibantu terjemahan oleh kawan saya. Menurut mereka, meski keturunan Indonesia, sangat sedikit yang bisa berbahasa melayu, kecuali anak-anak mereka yang sempat bersekolah atau kuliah di Indonesia atau Malaysia.

Orang Bawean

Saya berusaha mencari kisah mereka dalam referensi sejarah, namun ternyata sangat sedikit, untuk tidak mengatakan nihil sarjana Indonesia yang membicarakan tentang keberadaan orang Bawean di kota Ho Chi Minh. Imigrasi mereka dari pulau di utara pulau Jawa ke Semenanjung Indocina diceritakan oleh beberapa sarjana luar yang menulis tentang Islam di Indocina.

Salah satu tulisan penting yang merekam kembali jejak historis bagaimana orang bawean bisa sampai ke Ho Chi Minh dan bagaimana dinamika mereka menjadi diaspora di negara komunis ini, dilakukan oleh Malte Stokhof, seorang antropolog dari Belanda.

Menurut Stokhof (2008), kedatangan mereka termotivasi oleh tiga faktor: pertama, sosial-ekonomi, mereka berusaha mencari pekerjaan yang layak, menjauh dari sistem kerja di masa kolonial Belanda; kedua, budaya merantau; dan ketiga karena faktor agama, orang Bawean yang pergi haji akan transit di Singapura, mereka yang mencari pekerjaan di Singapura, banyak di antaranya yang menaiki kapal yang akan berlayar ke semenanjung Indocina untuk bekerja di bawah pemerintahan Prancis saat itu.

Marcel Ner (1937), mengesahkan dan mengisahkan kemungkinan ini, sekitar tahun 1850an, terdapat 300 orang yang menuju ke Saigon, nama kota Ho Chi Minh dulu, yang berangkat dari Singapura. Saat tiba, mereka menjadi pekerja untuk pemerintahan protektorat Prancis. Mereka yang datang, termasuk orang Bawean dikenal sebagai Malais, orang Melayu. Masa itu, pemerintahan Prancis di Indocina memang dikenal memiliki kebijakan terbuka untuk menerima pekerja dari luar.

Masjid Pertama 

Pada saat itulah, orang Bawean mulai mendirikan masjid untuk kepentingan ibadah komunitas mereka, yang dinamakan Chua Ma Lai, Masjid Malaysia. Rie Nakamura, salah satu sarjana yang menulis sedikit tentang Masjid Al Rahim sebagai masjid pertama di kota Ho Chi Minh, menurutnya, mereka mendahului komunitas India dalam penyelesaian masjid.

Meskipun pada awalnya, masjid ini bernama Masjid Malaysia, namun sekitar tahun 1973 nama masjidnya diubah. Didasari oleh kesadaran orang Bawean adalah orang Indonesia, bukan Malaysia. Walau demikian, tidak ditemukan informasi detail nama masjid setelah perubahan tersebut.

Saat ini, seperti yang tertulis, masjid ini bernama Masjid Al Rahim Malaysia-Indonesia, dibangun sejak 1885. Di kalangan masyarakat muslim di Vietnam, masjid ini juga sering disebut dengan masjid Boyan, dari nama Bawean. Penambahan nama Malaysia-Indonesia, lebih karena masjid tersebut dibangun kembali oleh dua pemerintah: Malaysia dan Indonesia, setelah dipugar pada sekitar tahun 2010.

Jika diamati sekilas, masjid Al Rahim merupakan salah satu masjid yang unik, berbeda dari kebanyakan masjid di kota Ho Chi Minh. Umumnya, masjid-masjid lain memiliki corak arsitektur yang mirip dengan masjid di Asia Selatan, India dan Pakistan, namun Al Rahim tampak lebih mirip masjid di Indonesia dan Malaysia.

Masjid ini terletak di tengah hiruk pikuk aktivitas ekonomi. Lokasinya dekat dengan Saigon Sky Deck, Gedung tertinggi di kota ini. Tidak jauh dari Pasar Benh Than, tujuan belanja dan pusat kegiatan para pelancong. Masjid ini terletak di pinggir jalan raya, sementara kiri kanannya dihimpit oleh pemukiman warga muslim, mereka itulah mayoritas orang Bawean. (AN)

 

Oleh: Khaidir Hasram

Alumni Sps UIN Jakarta, meminati kajian minoritas Muslim dan Islam di Indocina 



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Cerita Jadi Muslimah Bekerja: Tidak Berjilbab Dinyinyirin, Kerja Disuruh Berhenti Jika Ingin Hamil (2-Habis)

Published

on

By


Ia memang memilih untuk tidak berjilbab. Di rumah, ia dan suaminya sepakat untuk berbagi beban. Keduanya juga sama-sama bekerja. Suami juga tidak masalah dengan pilihan istri yang ingin mengejar karir. Tapi, suatu ketika ia berkumpul dengan keluarga besar, eh ada yang nyeletuk.

“Itu Sheena kerja terus, kapan hamilnya?” tukas salah seorang saudara.

Sheena—bukan nama sebenernya tentu saja—awalnya terbiasa bilang ‘belum dikasih’ atau paling banter cuma menjawab‘minta doanya atau selemah-lemahnya Cuma bisa tersenyum. Tapi, itu saja teryata masih belum cukup. Ada komenter yang membuat ia sebal juga.

“Kurang-kuranginlah kerjanya. Perbanyak doa biar hamil. Biarin aja suami yang kerja. Toh hidup sudah cukup.”

Ya ya. Hamil tidak segampang itu, Tante-tante. Begitu komentarnya dalam hati. Toh, orang-orang ini tidak tahu perjuangan ia dan suaminya. Mereka pun tidak tahu cita-cita dan terjalnya hidup yang harus dihadapinya.  

“Mungkin karena masih ‘terbuka’. Mulai aja ditutup itu tubuhnya,” tukas yang lain.

Dan, kalimat itu yang bikin kuping ia panas.

Bukan karena fakta ia memilih tidak berjilbab dengan alasan yang benar-benar ia pahami. Tapi, ia jengkel karena celetukan itu datang dari perempuan, sesama muslimah.  Bukankah harusnya sesama perempuan harus lebih peka?

*

Saat itu ia datang bersama suaminya, kawanku, dan ia menceritakan kisah yang ia alami. Saya pesan susu latte dingin, mereka pesan kopi dan pelbagai kudapan. Obrolan kami memang tidak melulu tentang jilbab, rumah tangga maupun segala pernik kehidupan urban yang kami jalani. Tapi, harus diakui, obrolan ini

“Bayangin saja ya, gue kan memang tidak pandai memasak. Eh ada loh yang nyinyir. Perempuan apaan gak bisa masak. Jadi apa keluarganya,” katanya bersemangat,”y ague jawab ‘ya bisa bayar cicilan kartu kreditlah, bisa lebih sering jalan-jalan’ hahaha,” tambahnya.

Saya tersentak. “Beneran bilang gitu?” tanya saya.

Mereka berdua tertawa. “Mana berani dia,” celetuk suami.

“Hahaha, iye Cuma dalam hati. Mana berani jawab kalau ada so called tante-tante di rumah gue udah gitu. Daripada panjang urusan hahaha,” kelakarnya.

“Pasti lu ngalaminlah,” tukas temanku.

Tentu saja, jawabku, meskipun levelnya mungkin tidak sampai kena nyinyir seperti mereka. Apalagi, istri saya pun tidak berjilbab dan itu berdasarkan pilihan kenyamanan dan teologis. Saya percaya, tafsir tentang jilbab ini tidak tunggal. Kami sering membahas pilihan-pilihan ini dan mendiskusikan pelbagai tafsir terkait muslimah dan jilbab ini.

Saya percaya, manusia punya pilihan bebas dan kehendak atas apa pun pilihan hidup yang akan dijalaninya dan bersiap atas segala konsekwensi. Tak terkecuali muslimah. Mereka dalam Islam mendapatkan begitu banyak penghormatan bahkan dalam hadis lebih harus dihormati tiga kali lebih banyak dari seorang ayah, juga harusnya mendapatkan hak untuk mengekspresikan kebebasannya.

Dalam sejarah Islam toh kita melihat nama muslimah-muslimah yang bebas berkehendak hingga akhirnya tercatat dengan tinta emas sebagai pelopor perkembangan Islam. Mulai dari Siti Khadijah yang menjadi pedagang dan supporter utama Rasulullah hingga saintis seperti Aisyah yang juga menjadi kekasih yang paling dicintai Rasulullah.

Baca juga: Cerita Muslimah Jadi Bekerja, Dinyinyirin Masjid di Kantor

Meski begitu, sayangnya di beberapa sebagian muslim kita masih berpendapat bahwa suara muslimah ini terbatas. Ya, terbatas oleh ajaran tafsir agama dan lingkungan. Bahkan, dengan kecenderungan sekarang ini, mereka yang berbeda pendapat seperti soal jilbab terkadang harus mendapatkan nyinyirin dan mungkin diskriminasi.

Sesuatu yang saya bayangkan tidak akan terjadi jika merek lebih mengenal sosok seperti Khadijah, misalnya. Permasalahan itu kian kompleks ketika Gerakan untuk menertibkan tubuh perempuan dan muslimah mulai santer belakangan ini, khususnya di kota-kota besar.

“Apalagi di Grup WA keluarga, yang muda-muda gini harus siap-siap dah diem aja udah jika sudah ngomongin jilbab,” tuturnya.

“Apalagi  gue disuruh berhenti kerja jika ingin hamil. Apa korelasinya? Gue akan stress kali kalau di rumah dan nggak ada kerjaan,” tambah Istri.

Kami bertiga pun hanya bisa tertawa-tawa. Pilihan menjadi muslimah yang bekerja dan anda belum dikasih karunia berupa kehamilan memang terkadang rumit. Apalagi jika berjumpa dengan lingkungan yang tidak asyik seperti yang kami alami. Padahal, jadi perempuan saja menurutku sudah berat: kamu harus mengalami menstruasi bulanan yang sakitnya saya yakin setara dengan sunat bagi laki-laki.

Bedanya, sakitnya disunat itu cuma sekali seumur hidup bagi laki-laki, tapi sakitnya menstruasi bagi perempuan itu terjadi tiap bulan. Sekali lagi, tiap bulan. Belum lagi jika ia sudah hamil dan melahirkan dan terus bekerja demi menafkahi keluarga, demi merengkuh mimpinya sebagai manusia, sebagai perempuan.

Makanya, pilihan bagi muslimah untuk bekerja dan karir adalah sebuah jalan ninja yang luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukannya. Dan pilihan terbaik bagi kita sebagai manusia adalah menghormatinya dengan sepenuh-penuhnya penghormatan seperti halnya Nabi begitu menghormati sosok Khadijah yang juga bekerja membangun mimpinya.

 

*Feature ini hasil kerja sama Islami.co dan RumahKitaB*



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved